Home Blog Page 13933

Komisi D Minta BPK Segera Audit Dishub

Dugaan Korupsi Dishub Medan Rp24 M

MEDAN-Dugaan korupsi retribusi parkir Dinas Perhubungan (Dishub) Medan 2010-2011 sebesar Rp24 miliar yang tengah ditangani Kejatisu menggelitik  DPRD Me dan. Melalui Komisi D, Senin (6/2), DPRD Medan memanggil Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Medan Syarif Armansyah Lubis alias Bob. Namun Bob hanya mengutus Kepala Bidang Perparkiran Dishub Medan, Pahmi Harahap. Bob sendiri tidak datang tanpa alasan yang jelas.

Dalam rapat tersebut, indikasi dugaan penggelapan retribusi parkir pun semakin jelas. Pejabat Dishub Medan tersebut tak bisa menunjukkan data konkret berapa besaran retribusi parkir yang dipungut setiap harinya. Dokumen lain yang diminta Komisi D, juga tak bisa ditunjukkan. Komisi D pun kemudian meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Sumut untuk segera melakukan audit dana retribusi parkir.

Rapat kemarin berlangsung panas. Karena jawaban Pahmi sama sekali tak memuaskan anggota Komisi D. Bahkan rekomendasi rapat dengar pendapat (RDP) soal retribusi parkir pada akhir tahun lalu, sampai kemarin tidak pernah ditindaklanjuti. Tak cuma itu, petugas parkir di lapangan juga banyak yang tidak terdaftar. Ini dibuktikan dari tidak bisanya Dishub Medan menunjukkan surat perintah tugas (SPT) petugas parkir. Padahal, surat tersebut sudah diminta Komisi D sejak tahun lalu.

“Bagaimana mungkin sampai sekarang tidak bisa ditunjukkan data parker. Padahal sejak tahun lalu kami sudah memintanya. Jelas ada sesuatu di sini,” kata anggota Komisi D, Godfried Lubis dalam rapat tersebut.

Godfried semakin naik darah saat Pahmi Harahap tak bisa menjelaskan berapa pendapatan parkir  Dishub Medan setiap hari, bulan, bahkan tahun. Pahmi mengatakan, banyak petugas parkir di lapangan yang menunggak, namun dia tetap tak bisa menunjukkan SPT petugas parkir. Padahal dari SPT bisa diketahui berapa tunggakan dan siapa saja yang menunggak. “Pemaparan Dishub tidak jelas datanya. Jadi sulit mengetahui pasti berapa besar pendapatan Dishub dari perparkiran,” ucapnya.

Berdasarkan pemaparan Syarif Armansyah Lubis beberapa waktu lalu, terang Golfried, bahwa disebutkan potensi parkir di kota ini cukup tinggi jika pengelolaannya dilakukan langsung oleh dinas. Namun setelah dialihkan ke dinas, pengelolaannya juga tidak maksimal. Kalau sudah begitu, lebih baik pengelolaannya dikembalikan ke pihak ketiga lagi. “Kalau pengelolaannya dialihkan ke pihak ketiga, mungkin pendapatannya lebih tinggi dari sekarang. Tidak seperti sekarang ini, pengelolaannya juga rendah dan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Sekretaris Komisi D, Muslim Maksum, juga menyatakan hal yang sama. Menurutnya dengan pertumbuhan lahan parkir dan kendaraan di kota ini, seharusnya pendapatan parkir meningkat setiap tahun.  Sementara berdasarkan data realisasi retribusi parkir pada 2011 hanya tercapai Rp12 miliar atau 32% dari target yang ditetapkan sebesar Rp34 miliar pada awal tahun.  Pencapaian ini sama dengan realisasi tahun lalu sebesar Rp12 miliar dari target sebesar Rp16 miliar.  “Jelas terlalu rendah jika dibandingkan dengan potensi parkir yang ada sekarang ini. Tidak mungkin realisasi sama dengan tahun lalu dengan bertambahnya luas lahan parkir dan kendaraan sekarang ini,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Medan, CP Nainggolan, banyak pelanggaran yang dilakukan petugas parkir di lapangan. “Pengelolaan parkir berantakan. Penarikan retribusi tanpa karcis. Jadi jelas menyalahi aturan. Hal ini sering dijumpai di lapangan. Ini harus dilihat kembali,” ucapnya.
Menanggapi pertanyaan Komisi D, Kepala Bidang Perparkiran, Pahmi Harahap, hanya mengatakan, selama ini pihaknya telah berusaha maksimal.  “Datanya memang tidak bisa ditunjukkan. Saya sudah minta petugas untuk datang (dalam rapat, Red) untuk membawa datanya, ternyata tidak datang juga,” pungkasnya.

Pantauan wartawan koran ini, Pahmi tampak kebingungan melayani pertanyaan dari anggota dewan. Sambil mengangguk-anggukan kepalanya di hadapan anggota Komisi D, kedua kakinya juga bergoyang-goyang. Dia  menjawab semua pertanyaan anggota dewan tanpa berpedoman dengan data yang seharusnya dibawa dalam rapat tersebut. Dalam rapat tersebut Pahmi juga dengan percaya diri (PD) mengatakan, tidak berwenang memberikan jawaban dan data terkait retribusi parkir. “Seharusnya yang memberikan keterangan ini kepala dinas, bukan saya. Saya pun binggung ini,” ketusnya. (adl)

Fajar Lazuardi di Bahtsul Masail Gula Legi

Oleh : Dahlan Iskan
Menteri BUMN

HAMPIR seribu orang berkumpul di gedung Empire Palace, Surabaya, Minggu pagi kemarin. Semua berkaus sama: kaus putih bergambar tebu, sepeda, dan sedikit hantu. Tidak peduli karyawan biasa, kepala bagian, kepala pabrik, maupun direksinya. Saya pun diminta mengenakan kaus yang sama
entah apa maksud gambar hantu di situ. Tujuan pertemuan itu memang hanya satu: memajukan pabrik-pabrik gula milik BUMN?

Di antara 179 pabrik gula milik negara yang pernah ada, kini tinggal 51 yang masih tersisa. Itu pun separonya dalam keadaan sulit dan sangat sulit. Zaman memang sudah berubah. Kejayaan industri gula sudah lama berlalu. Kalau dulu harga gula 2,5 kali harga beras, kini harga dua komoditas itu sudah praktis sama. Maka, minat menanam tebu pun tentu tidak sebesar dulu lagi. Kini begitu banyak tanaman lain yang lebih menjanjikan. Apalagi, untuk menanam tebu, diperlukan waktu tiga kali lipat lebih lama daripada tanaman padi.

Saat produksi gula mengalami kesulitan seperti itu, orang masih terus membeli gula. Kian tahun, konsumsi gula kian tinggi, termasuk oleh mereka yang terkena sakit gula sekali pun. Akibatnya, impor gula harus digalakkan. Pabrik gula dalam negeri kian bertambah-tambah sulitnya.

Tapi, benarkah pabrik gula harus sulit? Mengapa masih ada pabrik gula yang baik? Mengapa masih ada pabrik gula yang maju? Mengapa minat swasta membangun pabrik gula tetap tinggi? Mengapa di beberapa negara, produksi gulanya terus meningkat, bahkan mampu ekspor?

Dalam forum seribu orang itu, semua pertanyaan harus terjawab. Agar pertemuan tidak seperti sekadar seminar atau rapat kerja, semua pembicara harus ngomong to the point, tidak ada basa-basi, tidak boleh bicara lebih dua menit, dan harus fokus per topik. Tidak ada upacara pembukaan atau penutupan. Juga tidak ada pemimpin rapat. Yang ada hanya moderator yang diserahkan kepada saya. Yang hadir pun sangat bervariasi sehingga tidak mungkin ada persoalan yang tidak tahu jawabnya.

Di samping direksi, hadir di forum itu semua kepala pabrik, semua kepala bagian, dan peserta khusus. Peserta khusus adalah generasi muda berprestasi di sebuah pabrik gula tanpa memandang sudah punya jabatan atau belum. Tiap-tiap pabrik gula mengirimkan sepuluh orang generasi muda berprestasi. Saya jadi teringat pidato Bung Karno: Berikan kepada saya sepuluh orang pemuda, akan saya ubah dunia! Saya berharap sepuluh generasi muda di situ pun bisa menjadi champions untuk perubahan di pabrik gula masing-masing.

Tempat duduk di forum yang secara informal dinamakan ‘bahtsul masail kubro’ itu juga diatur secara khusus. Peserta dari pabrik-pabrik yang sudah maju disandingkan dengan peserta dari pabrik-pabrik yang lagi sulit. Peserta dari pabrik-pabrik yang maju sering diminta tampil untuk menceritakan kiat-kiat mereka di topik-topik tertentu.

Maka, 17 topik yang selama ini menjadi penyebab sulitnya pabrik gula itu bisa dibicarakan secara tuntas. Topik-topik tersebut, misalnya, mengapa petani tidak berminat menanam tebu di suatu wilayah pabrik, mengapa ada pabrik yang lebih dekat tetapi petani mengirim tebunya ke pabrik yang lebih jauh, mengapa ketidakefisienan pabrik ikut dibebankan kepada petani, mengapa tebu dari jauh diberi insentif ongkos angkut sementara tidak ada insentif kepada petani yang dekat dengan pabrik, apa yang harus dilakukan untuk merebut kepercayaan petani kepada pabrik gula setempat, seberapa besar pengaruh kekompakan para kepala bagian di dalam suatu pabrik terhadap keberhasilan pabrik gula, bagaimana agar pembakaran ketel tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak, mungkinkah dilakukan sistem beli putus ‘petani kirim tebu dan langsung dibayar saat itu’, bagaimana mengatasi semakin sulitnya mencari tenaga untuk menebang tebu, dan seterusnya.

Topik yang paling panjang tentu yang satu ini: Bagaimana merebut kepercayaan petani. Agar mereka mau menanam tebu. Agar mereka mengirim tebu ke pabrik terdekat. Agar pabrik tidak kekurangan tebu. Agar petani merasakan keadilan dan kesejahteraan.

Mencari jawabnya tidak sulit. Sudah ada contoh yang sangat berhasil. Pabrik gula Pesantren Baru di Kediri atau pabrik gula Ngadirejo di Malang sudah menerapkannya dengan sukses. Demikian juga delapan pabrik gula lain, termasuk yang berada di Lampung dan Palembang. Sejak empat tahun lalu, kelompok 10 itu tidak pernah lagi mengalami kesulitan bahan baku. Bahkan, sampai berlebihan. Kuncinya satu: keterbukaan manajemen kepada petani tebu.

Di pabrik-pabrik tersebut tiap hari (di masa giling) diumumkan pada papan pengumuman petani siapa memperoleh rendemen (kandungan gula) berapa persen. Mereka yang setor tebu ke pabrik biasanya mampir ke papan pengumuman itu. Sejak sistem tersebut diterapkan, tidak ada lagi kecurigaan dari petani. Padahal, dulu pabrik selalu dicurigai mempermainkan rendemen petani. Sampai-sampai petani meminta dibentuk tim independen untuk mengikuti keterbukaan model Pesantren Baru atau Ngadirejo. Tim seperti itu tidak diperlukan lagi.

Yang juga mendapat banyak tepuk tangan adalah ketika sepasang kepala bagian diminta naik ke panggung. Dia adalah Surya Wirawan, kepala bagian teknik, dan Fajar Lazuardi, kepala bagian pengolahan. Keduanya dijadikan contoh betapa bila dua orang kepala bagian di suatu pabrik kompak, hasilnya luar biasa. Ketika keduanya bekerja di posisi tersebut, pabrik gula Prajekan, Situbondo, mengalami kemajuan 100 persen dalam produksinya. Oleh direksi PTPN XI, keduanya kini diminta tetap berpasangan untuk membenahi pabrik gula Semboro di Jember. Mereka pun optimistis bisa kembali menghidupkan pabrik gula Semboro yang semula sulit itu.

“Kami ini bukan lagi seperti rekan sejawat, tapi sudah seperti bersaudara,” ujar Surya Wirawan yang jadi kepala bagian teknik. “Saya selalu panggil dia kid dan dia panggil saya sam,” tambah dia. Bagi orang Malang, tidak ada panggilan yang bisa menunjukkan kekentalan persahabatan melebihi panggilan kid dan sam itu. Orang Ngalam, eh orang Malang, memang biasa mengucapkan suatu kata dari huruf paling belakang.

Biaya memproduksi uap memang sangat besar di suatu pabrik gula. Bagian teknik yang memproduksi uap melalui ketelnya (boiler) harus erat berhubungan dengan bagian pengolahan yang menggunakan uap tersebut. Kalau produksi uap kurang cukup, sudah seharusnya bagian pengolahan menjerit. Sebaliknya, kalau bagian pengolahan terlalu boros menggunakan uap dalam pembuatan gulanya, sudah sewajarnya bagian teknik menjerit.
Dalam hal tim yang tidak kompak, bisa saja terlalu banyak bahan bakar yang terbuang karena penggunaan uap yang berlebihan. Sebaliknya, kalau produksi uap tidak lancar, bisa jadi banyak gula yang kualitasnya jelek.

Dengan berbagai langkah yang sudah dilakukan para pengelola pabrik gula selama tahun-tahun terakhir, setidaknya sudah banyak best practice yang terjadi. Banyak sekali cerita keberhasilan dan kiat kesuksesan yang bisa diceritakan di forum kemarin. Kini tinggal bagaimana manajemen bisa menularkan semua itu kepada pabrik yang masih sulit.

Di akhir pertemuan, 22 pimpinan pabrik gula yang masih sulit dan sangat sulit naik ke panggung. Urutan jejernya pun sudah seperti otomatis: yang paling sulit di ujung kanan dan kian ke kiri kian kurang sulitnya. Mereka sudah mendengar sendiri kiat-kiat sukses pabrik lain. Di antara 22 pabrik yang sulit dan amat sulit itu, ternyata masih memberikan hope yang besar: 12 pabrik di antaranya siap keluar dari ‘neraka’ akhir tahun ini.

Banyak sekali rencana yang akan mereka lakukan setelah pertemuan itu. Bahkan, di antara mereka ada yang sangat detail. Misalnya, ada yang akan menjaga agar mesin pengolahannya selalu dibersihkan dengan sangat-sangat bersih. Itu tidak hanya dilakukan demi kerapian atau kesehatan, ternyata juga sangat erat dengan peningkatan produksi. Dia menceritakan secara detail reaksi-reaksi kimiawi dari semua instalasi pengolahan yang kurang dibersihkan secara benar-benar bersih dengan produktivitas gula.

Dengan sangat menyindir, dia berucap, “Kalau Bapak mengatakan ruang tunggu bandara harus lebih nyaman daripada ruang kerja direksi bandara, saya akan bikin doktrin instalasi pengolahan di pabrik gula saya harus dibersihkan lebih bersih daripada piring yang saya pakai makan!”

Alhamdulillah. Dengan demikian, bila Tuhan mengizinkan, akhir tahun ini tinggal sepuluh lagi pabrik gula yang masih sulit. Berarti, masih 20 persen lagi. Tentu tidak mudah memecahkannya. Meski tinggal sepuluh pabrik gula, tapi pastilah itu yang paling sulit di antara yang tersulit-sulit.

Untuk membaca seberapa sulitkah kesulitan yang sulit itu, pimpinan sepuluh pabrik gula tersebut diminta menyebutkan tiga penyebab utama kesulitan itu. Yang satu, yang di Klaten itu, menyebutkan bahwa kesulitan utamanya hanya satu: Pabrik tersebut menggunakan banyak sekali boiler yang semuanya berukuran kecil-kecil. Kalau apa yang dia kemukakan itu benar, tentu tidak sulit memecahkannya: ganti boiler. Satu saja, tapi yang besar. Satu saja, tapi bahan bakarnya jangan minyak. Satu saja, tapi bayarnya nyicil.

Satu pabrik lagi di Probolinggo beralasan bahwa pabriknya sudah terlalu tua. Sudah 166 tahun. Kalau itu benar, masih tetap bisa diatasi. Sebab, pabrik gula pada prinsipnya adalah mekanik. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan mudah untuk peralatan yang sifatnya mekanik.
Satu pabrik lagi di Jateng, penyebabnya agak unik: kalah bersaing dengan pabrik gula Jawa yang jumlahnya sampai 300 buah di sekitar pabriknya. Tidak ada petani yang mengirim tebu ke pabrik karena tebu diolah sendiri-sendiri. Tentu alasan seperti itu terlalu klasik untuk sebuah bisnis. Bukan alasan yang kuat. Karena itu, sampai ada peserta yang memberikan jalan keluar secara bergurau: Bagaimana kalau pabrik gula ini sekalian saja memproduksi gula Jawa?

Intinya, semuanya berkaitan dengan kurangnya pasokan tebu sebagai bahan baku utama. Intinya lagi, petani kurang tertarik menanam tebu atau mengirim tebu ke pabrik. Lebih inti lagi, petani kehilangan kepercayaan kepada pabrik gula BUMN. Maka, khusus sepuluh pabrik gula itu akan bertemu lagi sebulan mendatang. Tentu dengan usul dan jalan keluar yang sudah lebih nyata. Kalaupun tahun ini belum bisa teratasi, setidaknya tahun depan harus beres. Atau, hi hi hi, menjadi seperti hiasan di kaus yang kemarin mereka kenakan itu! (*)

Pedrosa Keluhkan RC213V

AALST – Rider Honda, Dani Pedrosa telah melewati sesi tes di Sepang dengan hasil yang bagus. Dia juga mengaku ada perbedaan yang mencolok dari berat kuda besi terbarunya itu.

Pasalnya dengan penambahan kecepatan dari 800cc menjadi 1000cc menjadikan berat motornya juga bertambah empat kilogram, yang semula 153 kg menjadi 157 kg. Pastinya akan menjadi perhatian khusus untuk pembalap bertubuh mungil ini.

“Tes berjalan lancar. Kami mampu mencoba banyak hal setelah kembali turun ke aspal untuk pertama kalinya bagi kami. Jelas motor lebih kuat dan tentunya lebih menguras fisik kami, sehingga saya begitu lelah mengakhiri tes hari ketiga,” ujar Pedrosa, seperti disitat Crash, Minggu (5/2).
Seperti diketahui, Pedrosa memiliki ‘oleh-oleh’ di musim lalu, yaitu berupa cedera di bahunya yang bisa menyulitkan dirinya dalam menunggangi motor terbarunya, yaitu Honda RC213V.

“Motor 1000cc adalah motor yang begitu tangguh. Saya harus memperkuat bahu saya setelah cedera di musim lalu. Saya telah mencoba mendapatkan fondasi fisik yang bagus untuk mengangkat beban tersebut. Saya butuh beradaptasi untuk membiasakan diri dengan motor baru ini,” jelasnya.
Menurut pembalap Spanyol itu, perbedaan tersebut mencolok ketika melakukan pengereman dan pada saat mengubah arah motor. Kemudian aspek positifnya terjadi pada perubahan kapasitas silinder. “Perbedaan lainnya pada saat melakukan pengereman yang lebih lambat. Namun dibandingkan musim lalu tidak begitu banyak berubah,” tandasnya. (net/jpnn)

Griffin Benam Wizards

WASHINGTON – Forward Los Angeles Clippers Blake Griffin memimpin perolehan poin timnya saat mengalahkan tuan rumah Washington Wizards dengan skor cukup telak 107-81 di Verizon Center, Sabtu (4/2) malam waktu setempat.

Griffin yang baru terpilih masuk tim NBA All Star untuk wilayah barat ini mencetak double-double dengan raihan 21 poin, 11 rebound dan delapan assist. Griffin nyaris mencetak triple-double kedua dalam kariernya kendati dia tidak dimainkan di kuarter keempat karena Clippers mengistirahatkan starter mereka.

Sementara itu, bintang Clippers lainnya, DeAndre Jordan ikut menyumbang 18 poin dan 11 rebound. Tak ketinggalan, Mo Williams menambahkan 17 poin untuk Clippers yang mencatatkan hasil bagus dengan meraih lima kemenangan dari enam pertandingan terakhir.
Duet bintang Wizards, Nick Young dan John Wall masing-masing menyumbang 14 poin untuk timnya. Namun, raihan tersebut tak cukup membantu timnya menghindari kekalahan keempat mereka secara berturut-turut.

Di pertandingan lain, Philadelphia 76ers mampu tampil dominan sekaligus mengakhiri perlawanan tuan rumah Atalanta Hawks dengan kemenangan 98-87 pada Sabtu (4/2) malam waktu setempat dalam lanjutan kompetisi NBA.

Meski ditinggal bintang mereka, Elton Brand yang masih cedera ibu jari, forward Sixers lainnya yang sekaligus Rookie musim ini, Nikola Vucevic mencetak 15 poin yang merupakan raihan tertinggi dalam kariernya sejauh musim ini bersama Sixers.
Pemain Sixers lainnya, Thaddeus Young dan Lou Williams masing-masing mencetak 14 poin. Sementara itu, meski mencetak poin tertinggi dalam pertandingan ini dengan sumbangan 21 poin, Jeff Teague tetap tak mampu menyelamatkan timnya. (bbs/jpnn)

Beckham Ngotot Anunya dan Ingin Tambah Anak

Penampilan  David Beckham saat dalam iklan celana dalam Armani dan H&M memang membuat banyak orang terkejut dan heran. Pasalnya, ayah empat anak menunjukkan tonjolan yang lumayan besar dari balik celana dalam yang dikenakannya. Alhasil banyak pihak yang menilai iklan itu palsu.
Spekulasi itu berawal dari aksi komedian James Corden yang memparodikan iklan tersebut dengan menggunakan kemaluan palsu. James yang memparodikan David saat syuting iklan tersebut sengaja menyumpelkan kaos kaki di balik celana dalam agar tonjolan buah zakarnya tampak sebesar yang ditampilkan David.

Kini, David secara langsung menyangkal bahwa dia melakukan hal yang sama seperti James. “Saya tak pernah, benar-benar tak pernah melakukan apa yang dilakukan James, menggembungkan celana atau bahkan menyumpelkan kaos kaki. Aku tidak melakukan apapun untuk pemotretan itu, karena kukira memang tidak perlu. Yah, katakanlah aku memang tidak perlu bantuan apa-apa untuk itu. Kukira aku memang sudah OK!” ungkapnya.

Selanjutnya, ayah empat anak ini mengungkapkan bahwa walaupun iklan celana dalam tersebut sangat terkenal, namun secara pribadi istrinya lebih suka melihatnya memakai celana dalam biasa. Menurut Victoria, David tampak lebih baik dengan long johns (celana dalam panjang).

Selama beberapa lama, David memang menimbulkan kehebohan gara-gara anunya yang tampak besar tersebut. Beberapa waktu lalu, H&M malah membuat patung David yang berpose hanya mengenakan celana dalam. Patung itu benar-benar mirip dengan aslinya, termasuk ukuran tubuh dan kemaluan David.
Selain membeberkan keaslian anunya itu, Beckham juga menegaskan bahwa dirinya ingin punya anak lagi, meski saat ini dia telah memiliki empat anak. Brooklyn (12), Romeo (9), Cruz (6) dan Harper (7 Bulan). (bbs/jpnn)

Lentera Doa Penuhi Langit Cemara Asri

Melihat Perayaan Cap Go Meh di Medan

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Imlek bagi komunitas kaum migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama.  Saat itu juga merupakan bulan penuh pertama dalam Tahun Baru tersebut. Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Bagaimana dengan di Kota Medan?

Kesuma Ramadhan, Medan

Lagi-lagi, warga Thionghoa di Medan lebih banyak memilih memeriahkan malam Cap Go Me di Maha Vihara Maitreya, Jalan Boulevard Utara No 8, Komplek Cemara Asri Medan, Senin (6/2).

Saat wartawan koran ini menyambangi lokasi ini, sejak pukul 20.00 WIB, sedikitnya ribuan masyarakat dari seluruh lapisan menyaksikan atraksi barongsai sebagai pembuka acara perayaan Cap Go Meh.

Dalam perayaan itu juga digelar berbagai acara kesenian berupa persembahan nyanyian, tarian, senam kasih semesta, band performance, drama parodi, dan kuis di panggung acara serta puluhan stand bazar yang memenuhi nuansa kemeriahan acara. Bahkan, bertempat di Graha Sakyamuni juga diadakan kegiatan pelita doa. Di depan graha, ribuan lembar kertas bertuliskan doa melebatkan pohon harapan Maha Vihara.

Hampir sama perayaan Imlek, di malam Cap Go Meh juga menerbangkan ribuan lentera dengan harapan doa. Lentera itu menerangi langit di sekitar vihara. “Tidak ada doa bersama untuk perayaan Cap Go Me, hanya saja banyak yang melakukan doa secara pribadi persembahan pelita, penggantungan kertas doa di pohon harapan, penggantungan kertas di sebuah lentera atau disebut lentera berkah,” ujar Humas Maha Vihara Maitreya, Henny Suryanti (Yi Ling) didampingi Marisa (Li Sman) ketua informatika saat ditemui di lokasi perayaan Cap Go Meh.

Menurut Marisa, konsep perayaan Cap Go Me tahun ini lebih ditekankan kepada jam kebahagiaan dunia, dimana pada tahun sebelumnya waktu adalah uang namun tahun ini waktu adalah kebahagiaan. “Motivasi bagi diri sendiri, tidak hanya sebatas menunjukkan waktu, namun memberikan keadaan sesuai keterangan waktu yang diinovasi oleh sebuah organisasi yang sifatnya universal. Untuk jamnya sendiri dicetuskan oleh De Miao Guang (Taiwan) oleh Mr Wang yang tersedia dengan harga yang bervariasi dari 500 ribu hingga 20 juta sesuai bentuk dan tergantung negara produksinya” terangnya.
Kegiatan tradisi ini dirayakan oleh etnis Tionghoa dari berbagai kepercayaan. Tak pelak, kesan yang muncul adalah kesan yang begitu mewah dan penuh kekeluargaan. “Imlek dan Cap Go Meh tidak ada hubungannya dengan agama Budha tapi lebih kepada tradisi Tionghoa saja,” jelas Marisa.

Semua lapisan usia dan etnis dan agama cukup antusias menyaksikan perayaan tersebut meskipun harus berhimpitan dan berdesakan akibat banyaknya jumlah pengunjung.   Namun, tampak jelas di wajah mereka rona kebahagian dan penuh pengharapan memeriahkan malam Cap Go Meh. “Senang dan bahagia rasanya. Saya berdoa penuh harap agar semua impian saya bisa terwujud,” ujar Lie Acien, warga Perumahan Cemara Asri.

Tapi, kebahagian malam Cap Go Meh tidak dirasakan sejumlah masyarakat Tionghoa yang berada di Kawasan Jalan Sukaramai Gang Bakung. Ratusan warga Tionghoa yang berdomisili di kawasan tersebut harus merelakan melewati malam perayaan Cap Go Meh di atas puing-puing rumahnya yang hangus akibat kebakaran.

Tangisan pilu dan ratapan sedih terpancar dari sejumlah pemilik rumah yang tengah mencari puing-puing sisa rumah yang diharapkan bisa ditukar dengan uang.

Salah satu pengakuan disampaikan Devi (21) warga sekitar yang menjadi korban keberingasan si jago merah. “Aku dapat kabar dari orangtuaku kalau tempat tinggal kami kebakaran. Karena dapat berita itu aku langsung pulang dan kulihat rumah keluargaku udah hangus dan rata dengan tanah,” sebutnya dengan nada penuh haru sembari mengais barang sisa kebakaran di kediamannya.

Dari penuturan anak keempat dari enam bersaudara ini, sebelumnya mereka sekeluarga telah berencana untuk merayakan Cap Go Meh seperti tahun-tahun sebelumnya dengan melaksanakan ritual sembahyang di Vihara dan selanjutnya makan malam di luar bersama keluarganya. Namun apalah daya nasib berkata lain, atas kejadian yang telah menimpa keluarganya, Devi mengaku hanya berpikir bagaimana bisa bertahan untuk ke depannya.
Hal senada juga dirasakan Ayen. Pria dengan empat anak ini tak mampu berbuat apapun kecuali pasrah dengan keadaan yang telah menimpanya. “Seharusnya kami bahagia menyambut malam Cap Go Meh. Tapi apa daya, Tuhan punya rencana lain buat kami. Bukan kami saja yang merasakan pilu ini, tapi juga teman-teman yang rumahnya hangus terbakar,” ujarnya.

Beruntungnya wujud solidaritas yang tinggi sesama etnis Tionghoa ditunjukkan oleh Departemen Sosial Mapanbumi (Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia) yang secara khusus membuka poski bantuan di Maha Vihara Maitreya Cemara Asri. Selain itu Mapanbumi juga membuka posko bantuan dan dapur umum di dua tempat lainnya yakni Vihara Maha Maitreya Jalan Gandi dan Vihara Suttha Maitreya Jalan Industri. (*)

McLaren Siap Meraung

LONDON- Pembalap McLaren Mercedes, Jenson Button, menyambut antusias tunggangan terbaru yang akan digunakan sepanjang Grand Prix Formula 1 2012.

Pembalap berkebangsaan Inggris itu berani mengklaim, desain MP4-27 takkan ada bandingannya. Kubu McLaren telah resmi merilis MP4-27 pada Rabu, 1 Februari 2012.

Tunggangan terbaru Button dan rekan timnya, Lewis Hamilton, itu merupakan revolusi dari MP4-26, yang mereka geber pada musim lalu.
Menatap musim 2012, tim yang bermarkas di Woking, Inggris, itu mengembangkan mobil kedua pembalapnya. Pasalnya, Button dan Hamilton masih mengemban misi merebut gelar juara dunia yang dipertahankan jagoan Red Bull, Sebastian Vettel, dalam dua musim terakhir.

Dari seluruh perbaikan yang dilakukan tim mekanik McLaren, Button mengaku sangat menyukai desain terbaru tunggangannya itu. “Ini mobil yang indah. Mobil mereka (tim-tim lain) yang Anda lihat tidak akan bisa seperti ini,” ujarnya seperti dikutip dari Crash, Jumat 3 Februari 2012.

“Menurut saya, perubahan peraturan cukup baik bagi para ahli mesin dan aerodinamis, untuk benar-benar leluasa mengembangkan mobil di tahun ini. Ada perubahan di bagian depan, terutama bobot hidung mobil. Keindahan sudah pasti kami miliki dan itu penting,” paparnya.
Di klasemen akhir musim lalu, Button tertahan di posisi runner-up dan terpaut cukup jauh dari Vettel, yakni 122 poin. Sedangkan Hamilton berada di peringkat lima dengan raihan 227 poin.

Menatap musim ini duet Button dan Hamilton akan mencoba mobil mereka Rabu (8/2) hingga Jumat (10/2) di sirkuit Jerez, Spanyol.  (bbs/jpnn)

Tempat Bersandar Harus Kukuh

Manufacturing Hope 7

Oleh: Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Tentu ini bukan rahasia negara, karena yang saya kemukakan hanya suasananya. Dalam beberapa sidang kabinet belakangan ini, Presiden SBY begitu keras -dalam ucapan maupun mimik wajahnya. Terutama ketika menyangkut pelaksanaan program-program kabinet yang lambat. Bahkan, Presiden SBY sampai masuk ke persoalan detail. Belum pernah presiden memimpin rapat kabinet begini keras dan detail.

Misalnya, ketika membahas birokrasi yang menurut penilaian presiden ternyata menjadi salah satu penyebab utama keterlambatan banyak program. Dalam hal kelambanan birokrasi ini boleh dibilang presiden sudah sampai tahap marah -benar-benar marah.

Misalnya, begitu banyak pejabat pusat dan di daerah yang mengatakan, rancangan keputusan sudah di meja presiden. Padahal, masih entah di mana. Ini bisa menimbulkan anggapan presiden yang lambat.

Walhasil, keterlambatan birokrasi seperti itu tidak boleh lagi terjadi pada 2012. Bahkan, entah sudah berapa kali presiden meminta agar para menteri “bekerja dan berpikir dan bertindak out of the box”. Tidak boleh lagi bekerja seperti biasanya dan mengambil jalan yang biasa. Bahkan, presiden sendiri seperti menantang birokrasi untuk beradu cepat. “Hari ini sampai di meja saya, esok harinya sudah saya tanda tangani,” tegas beliau.

Tentu kemarahan presiden seperti itu tidak akan sampai terlihat di publik. Presiden terlalu santun untuk urusan seperti ini. Tapi, ke dalam, terlihat jelas bahwa Presiden SBY berubah. Dia ingin mewujudkan ucapannya di depan publik beberapa waktu lalu bahwa gaya kepemimpinannya akan lebih tegas dan cepat.

Perubahan itu juga terasa saat melakukan perjalanan dengan naik kereta api ke Cilacap pada 28 Desember lalu. Itulah perjalanan darat 6,5 jam untuk meresmikan pembangunan kilang minyak Pertamina. Inilah pembangunan kilang minyak pertama dalam masa setelah Orde Baru.

Sepanjang perjalanan itu berbagai agenda dibahas. Mirip rapat kabinet terbatas yang sangat intensif. Soal kemiskinan, energi, pangan, teknologi, perdagangan, sampai ke soal konsep mendasar perlunya Polri menyesuaikan diri dengan tantangan baru: terjadinya ketegangan di masyarakat seperti di Mesuji dan Bima. Sudah tentu dibahas pula program BUMN -termasuk perlunya struktur beberapa BUMN diubah.

Dalam hal kemiskinan juga dibahas kondisi berbagai daerah. Saya sempat menyampaikan terobosan yang dilakukan beberapa bupati dari daerah tertinggal. Misalnya, Bupati Lebak yang berambisi menuntaskan ketertinggalannya pada 2013. Juga Bupati Ngada di Flores yang sampai mengancam mengundurkan diri kalau DPRD-nya menolak pengalokasian dana APBD untuk program pemberian sapi bagi 18.000 penduduk miskin di kabupaten itu.
Bupati ini memang istimewa. Mobil dinasnya Kijang tua karena dia memilih APBD untuk mengurangi kemiskinan daripada untuk membeli mobil dinas baru.

“Rapat sambil menyusuri rel kereta api” itu juga berlangsung sangat intensif karena kami berada dalam satu gerbong yang tempat duduknya berhadap-hadapan. Waktunya juga sangat cukup. Tidak diburu acara lain. Siang itu peralatan karaoke yang ada di gerbong tersebut tidak laku. Presiden seperti tidak kehabisan agenda untuk dikemukakan. Presiden seperti tidak sabar ingin menuntaskan semua program besar kabinet.

Setelah mengikuti beberapa kali sidang kabinet dan juga perjalanan ke Cilacap ini, tampaknya reformasi birokrasi akan jadi salah satu fokus presiden. Tampaknya, reformasi birokrasi tidak bisa ditawar lagi. Presiden terlihat tidak puas mengapa reformasi birokrasi selama ini lebih banyak dikaitkan dengan perubahan sistem gaji.

Mengingat reformasi birokrasi akan menjadi salah satu agenda utama 2012, reformasi birokrasi di BUMN juga harus berjalan, bahkan lebih cepat. Tak boleh BUMN yang sifatnya lebih korporasi tertinggal oleh kementerian lain yang orientasinya bukan korporasi. Kalau birokrasi yang instansional saja bertekad melakukan reformasi, apalagi BUMN yang korporasional.

Wajah korporasi jelas harus lebih cair dari wajah instansi. Masa lalu BUMN yang lebih dekat dengan sifat instansional benar-benar harus berubah. Itulah sebabnya, pelimpahan begitu banyak wewenang menteri kepada setiap korporasi menjadi jantung dari reformasi birokrasi di BUMN. Dengan reformasi kewenangan itu, rentetannya akan panjang: komisaris tidak bisa lagi asal-asalan, direksi tidak bisa lagi main politik dan kehilangan peluang untuk menjilat.

Persetujuan dewan komisaris, misalnya, kini harus tegas: setuju atau tidak setuju. Tidak bisa lagi ada dewan komisaris yang memberikan persetujuan dengan catatan.

Secara berseloroh sering saya kemukakan, sifat persetujuan dewan komisaris itu harus seperti wanita yang habis bercinta: hamil atau tidak hamil. Tidak ada istilah “agak hamil” dalam kamus wanita. Karena itu, ke depan persetujuan dewan komisaris harus tegas: setuju atau tidak setuju. Tidak ada istilah “agak setuju”.

Bagi saya, disetujui atau tidak disetujui tak masalah. Yang penting keputusan itu diberikan dalam waktu cepat. Korporasi memerlukan kecepatan. Speed. Banyak sekali peluang yang lewat karena unsur speed diabaikan. Pengadaan MA 60 Merpati menjadi contoh nyata hilangnya kesempatan itu.

Katakanlah dewan komisaris tidak setuju atas usul program direksi. Kemungkinannya masih banyak. Direksi merevisi usulnya, direksi menyadari, usulnya memang kurang bagus, atau direksi tetap merasa usulnya sangat bagus. Dalam hal yang terakhir itu direksi diberi peluang untuk appeal ke Kementerian BUMN. Kementerian BUMN-lah yang akan memberikan penilaian siapa yang sebenarnya kurang entrepreneur. Kementerian tidak akan memberikan kata putus karena kementerian tidak boleh intervensi kepada korporasi. Tapi, kementerian bisa mengambil kesimpulan untuk menilai personalia di kepengurusan BUMN tersebut.

Tentu tidak hanya jantungnya yang berubah. Kulit-kulitnya juga perlu berubah. Karena itu, saya sangat menghargai langkah Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI) I Jonan, yang pada 2012 ini akan mengubah seragam karyawan PT KAI agar tidak lagi sama dengan seragam pegawai negeri Kementerian Perhubungan.

Soal seragam, sebenarnya tidak terlalu penting. Ini hanya kulit-kulitnya. Tapi, soal kulit kadang lebih menarik daripada isinya. Sewaktu di PLN pun saya pernah menghapus baju seragam. Ini gara-gara baju seragam dinilai dijadikan objek korupsi. Toh, kinerja tidak terpengaruh oleh atau tanpa baju seragam. Saya tidak antibaju seragam. Silakan berseragam, hanya jangan dijadikan objek korupsi!

Gaya-gaya instansional BUMN yang lain juga harus berubah. Dan, ini akan lebih banyak ditentukan oleh CEO-nya, oleh direktur utamanya. Sangat tidak bernada korporasi kalau dalam acara-acara intern pun direktur utama memberikan sambutan dengan membaca teks. Berpidato dengan membaca hanya boleh untuk acara yang melibatkan pihak di luar perusahaan.

Karena itu, tim yang pekerjaannya membuatkan pidato direktur utama sebaiknya juga dibubarkan. Tidak pantas di BUMN ada pegawai yang pekerjaannya membuatkan pidato direktur utama -seolah-olah sang direktur utama tak menguasai masalah perusahaan.

Demikian juga dengan direktur utama. Direktur utama haruslah orang yang paling ahli di perusahaan itu. Saya tahu tidak semua Direktur Utama BUMN memiliki staf ahli. Saya juga tahu, banyak staf ahli yang sebenarnya tidak ahli, melainkan hanya sebagai penampungan para senior yang harus ditampung.
Saya sendiri akan menghapus staf ahli Menteri BUMN tahun ini. Kebetulan beberapa staf ahli memang memasuki masa pensiun. Saya tidak akan mengisi lowongan itu dengan orang baru. Penghapusan staf ahli Menteri BUMN ini merupakan langkah kedua. Langkah pertama sudah saya lakukan dua bulan lalu: menghapus jabatan staf khusus Menteri BUMN. Meski tak ada staf khusus, rasanya tak ada yang hilang.

Memang, masih ada satu orang yang selalu bersama saya, yakni A Azis. Tapi, dia bukan staf khusus. Tidak adanya staf khusus menteri BUMN ini perlu diketahui -agar masyarakat jangan sampai ada yang tertipu. Kementerian BUMN memang harus agak berbeda. Kementerian ini harus lebih bernuansa korporasi.

Setelah tidak ada staf ahli dan staf khusus, saya akan lebih bersandar kepada wakil menteri dan para deputi. Saya harus memercayai struktur sepenuhnya sampai personalia di struktur itu diketahui tidak bisa dipercaya. Deputi-lah staf ahli dan staf khusus saya yang sebenar-benarnya.

Tentu saya juga lebih bersandar kepada para direksi dan komisaris. Terutama kepada direktur utama dan komisaris utama. Saya harus percaya sepenuhnya kepada mereka dan mengandalkan sesungguh-sungguhnya mereka. Lantaran merekalah tempat sandaran yang utama, orangnya harus kukuh. Harus bisa diandalkan sebagai tempat bersandar. Tempat bersandar yang rapuh hanya akan membuat orang yang bersandar kepadanya, seperti saya, ikut roboh.

Maka, tidak ada pilihan lain. Begitu saya mengetahui tempat sandaran saya itu ternyata tidak kukuh, pilihannya tinggal dua: membiarkan diri saya ikut roboh atau saya mengganti sandaran tersebut dengan sandaran lain yang lebih kukuh. Prinsip out of the box memang sudah waktunya benar-benar dilaksanakan. (*)

Penulis adalah Menteri BUMN

30 Ribu Massa Siap Bergerak

Konflik Tanah di Sumut Diprediksi Memuncak

MEDAN-Konflik lahan di Sumut sudah pada level berbahaya. Jika Ketua Komisi A DPRD Sumut, Ahmad Ikhyar Hasibuan menyebut konflik terbuka bakal pecah Maret 2012, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Rahmat Shah malah memprediksi, ledakan bisa lebih cepat lagi, bisa dalam bulan-bulan inin
Pernyataan Rahmat tidaklah sembarangan. Dia mengatakan, sudah ada 30 ribuan massa yang setiap saat siap bergerak anarkis. Rahmat mengaku, selama ini dirinya senantiasa meminta agar massa jangan bergerak.

“Kalau ada yang mengatakan Maret, saya percaya. Bahkan bisa lebih cepat, kapan saja bisa meledak. Saya sudah tahan-tahan 30 ribuan massa. Saya katakan jangan, karena saya berkomitmen untuk mencarikan solusi. Tapi sampai kapan saya bisa menahan?” ujar Rahmat Shah kepada koran ini di Jakarta, kemarin (6/2).

Dari mana saja massa yang berjumlah 30 ribuan itu? Rahmat tidak mau menyebut secara spesifik. Tapi dia katakan, ini menyangkut konflik tanah eks HGU PTPN II dan tanah Sari Rejo, Medan Polonia. “Mereka tidak mendapatkan keadilan. Mereka mau menduduki, saya katakan saya tak mau anarkis. Kalau sampai anarkis, saya mundur. Kalau bulan ini saja tidak selesai, saya mundur saja,” tegas Ketua Pansus Agraria DPD itu.

Dia menyarankan Pemprovsu dan pemko/pemkab yang wilayahnya terdapat konflik lahan, bisa cepat bergerak. “Termasuk juga tokoh-tokoh masyarakat, harus ikut membantu memfasilitasi penyelesaiannya,” imbuhnya.

Dia juga menyatakan, masalah tanah ini merupakan tantangan Plt Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho. “Berhasil tidaknya gubernur, cukup dilihat berhasil tidaknya dia menyelesaikan konflik tanah,” cetus Rahmat.

Rahmat juga menyebut Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagai biang persoalan. BPN dinilai tidak mampu melakukan pemetaan tanah secara benar dan berkeadilan. “BPN hanya memberikan izin kepada pengusaha besar, tapi tidak mau peduli kepada warga. Kalau kepala BPN tidak diganti pada bulan-bulan ini, akan muncul gejolak. Saya berharap pemerintah pusat dan pemerintah daerah, menggunakan hati nurani dalam melihat persoalan ini,” kata Rahmat.
Dia mengaku sangat heran, tatkala sudah ada putusan hukum yang memenangkan warga, tapi tetap saja hukum diabaikan. Ini terkait kasus tanah Sari Rejo, yang sebenarnya secara hukum sudah jelas karena sudah ada putusan Mahkamah Agung (MA) tanggal 18 Mei 1995, yang menyatakan tanah-tanah sengketa adalah tanah garapan penggugat. Karena sudah ada putusan MA, warga berharap BPN menerbitkan sertifikat kepemilikan tanah mereka. Nyatanya, tak ada sertifikat itu.

“Putusan hukum saja tak dihormati, ya sudah BPN saja yang mengurus negeri ini. Mengapa rakyat harus ribut dulu untuk memperoleh haknya? Pemerintah harus sadar!” cetusnya dengan nada tinggi.

Kecewa Terhadap Gatot

Sejauh ini konflik tanah di Sumut belum terselesaikan. Dari 700 konflik lahan sebagaimana data DPRD Sumut, tak satupun yang terselesaikan. Mulai kasus penggarapan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Langkat, Kebun Limau Mungkur di Deliserdang hingga Sarirejo.
Anggota Komisi A DPRD Sumut, Akhmad Ikhyar Hasibuan, potensi rusuh terkait persoalan tanah di Sumut pada Maret ini masih berpeluang terjadi. Pasalnya, belum ada hasil konkret dari upaya yang dilakukan Plt Gubsu, Gatot Pudjonugroho. Diketahui Gatot hanya bertemu dengan Forum Rakyat Bersatu dan anggota DPD RI asal Sumut.

“Latar belakangnya tidak lain dan tidak bukan adalah memuncaknya kekecewaan masyarakat terhadap Plt Gubsu, Gatot Pujo Nugroho, yang tidak mampu menyelesaikan persoalan tanah di Sumut,” katanya.

Di tempat terpisah, Kapoldasu Irjen Pol Drs H Wisjnu Amat Sastro melalui Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Raden Heru Prakso meminta seluruh kepala daerah dan instansi terkait bertindak cepat mengantisipasi potensi kerusuhan tersebut.
Menurutnya, dalam permasalahan tanah, polisi hanya sebagai pelayan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat. “Kita tidak ada berpihak, bila ada gangguan kamtibmas yang diakibatkan atas persoalan ini kita harus turun. Begitu juga saat eksekusi. Pengadilan minta untuk melakukan pengamanan atas keputusan eksekusi, kita wajib melakukan pengamanan,” ujarnya.

Ratusan Warga Tanam Pohon Pisang

Di Binjai, ratusan warga Jalan Samanhudi, Kelurahan Bhakti Karya, Kecamatan Binjai Selatan, yang tergabung dalam bebarapa kelompok tani kembali turun ke lahan eks hak guna usaha (HGU) PTPN II Sei Semayang, Senin (6/2). Mereka menanam ratusan pohon pisang di areal tersebut.
Aksi tanam pohon pisang itu dilakukan di areal kebun tebu yang baru saja dipanen PTPN II. Warga langsung menggarap lahan karena merasa PTPN II tak berhak lagi beraktivitas di areal tersebut.

Aktivitas yang dilakukan warga terhenti saat Kapolres Binjai, AKBP Musa Tampubolon dan anak buahnya mendatangi lokasi. Sempat terjadi ketegangan antara warga dan Kapolres. Pasalnya, Kapolres meminta warga menghentikan aktivitas tersebut dan mengimbau warga tak menggarap lahan tebu itu.
“Saya hanya sarankan agar masyarakat dapat berjuang melalui jalur hukum. Sebab, apapun ceritanya tanah ini akan kembali ke negara. Kalau bapak ibu sudah memegang putusan dari Pengadilan Negeri (PN). Maka, ada harapan lahan ini akan kembali ke pangkuan bapak ibu sesuai hak yang dimiliki masing-masing,” katanya.

Musa Tampubolon juga mengatakan, masyarakat harus mematuhi hukum yang berlaku. “Kalau memang HGU ini masih ada, maka masyarakat harus patuh dengan hal itu. Kalau HGU tidak ada, maka berjuanglah. Tapi berjuang sesuai aturan hukum yang ada,” katanya lagi. Kepada warga, Musa memastikan, dia tidak akan tergiur dengan tawaran ‘kerjasama’ dari pihak manapun.

Tak lama kemudian Kapolres meninggalkan lokasi. Warga kemudian membubarkan diri. Menanggapi ucapan Kapolres Binjai, Paino, salah seoroang warga yang tergabung dalam kelompok tani Sei Bingai mengatakan, polisi adalah anak negara yang digaji oleh rakyat. “Jadi dalam masalah lahan ini, polsi jangan terlalu ikut campur. Sebab, tidak ada wewenang polisi dalam hal ini. Kalau polisi terlalu ikut campur, masalah ini semakin rancu dan rumit,” ujarnya.

Menurutnya, tugas polisi sebagai pelayan, pengayom dan pelindung masyarakat. “Jadi dalam hal konflk lahan ini, polisi hanya menanggapi tindakan pidananya saja. Kalau polisi sudah terlalu jauh ikut campur, tentunya itu menjadi tanda tanya besar. Jangan-jangan, sejumlah oknum polisi sudah mendapat upeti dari PTPN II,” tambahnya.

Selain itu, Paino juga meminta kepada pemerintah khususnya Pemerintah Kota (Pemko) Binjai, untuk membela masyarakat dengan memberikan lahan ini . “Tanah ini tentunya milik negara. Tapi, diperuntukan sebaik-baiknya untuk kemakmuran rakyat. Jadi, jika sudah ada penyelesaian, segera berikan lahan ini kepada rakyat, bukan kepada pengusaha dan konglomerat,” harapnya.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Mekar Jaya, Zaini Sembiring mengatakan, di Kota Binjai sudah tidak ada lagi yang namanya lahan perkebunan, sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 40 tahun 1996. “Untuk itu saya minta ketegasan dari wakil rakyat dan Pemko Binjai, agar segera memberikan lahan ini kepada rakyat. Sebab berdasarkan undang-undang, tanah ini milik negara, yang diperuntukan sebaik-baiknya untuk kemakmuran rakyat,” ujar Zaini. (sam/ari/mag-5/dan)

Gugat Webb

LONDON – Sempat sumringah di babak pertama dan menit-menit awal babak kedua, Andre Villas-Boas (AVB) akhirnya harus bersungut, ketika melihat papan skor yang menunjukkan angka 3-3 di akhir pertandingan. AVB pun menuding adanya konspirasi menentang timnya.

The Blues sempat digdaya sampai awal-awal babak kedua. Tapi nasib pun berbalik ketika wasit Howard Webb memberi hadiah penalti untuk Manchester United. Tak hanya sekali, tapi dua kali dan itu amat merugikan Chelsea.

Memang gol ketiga yang ditorehkan Javier ‘Chicharito’ Hernandez, tak dipermasalahkan AVB, karena memang yang terjadi adalah gol yang murni. Begitupun dengan penalti yang pertama, di mana AVB mengakui Daniel Sturridge memang melanggar Patrice Evra.

Tapi yang sampai tidak diduga, wasit kembali menunjuk titik putih ketika Danny Welbeck dianggap terlanggar oleh Branislav Ivanovic. Padahal, jika melihat tayangan ulang pertandingan, hampir bisa dipastikan Welbeck sengaja mengenai kaki Ivanovic dan kemudian menjatuhkan diri.
“Terdapat sejumlah keputusan yang ganjil hari ini. Hal seperti ini selalu saja terjadi. Saya mengakui penalti pertama mereka. Tapi penalti kedua yang mereka dapat, amat menguntungkan mereka. Saya tidak terlalu yakin apakah (wasit) Howard Webb memberi kompensasi,” keluh AVB.
Kenapa AVB begitu yakin jika Howard Webb main mata dengan United. Siapa sebenarnya Webb?

Howard Webb merupakan wasit berlisensi FIFA yang karirnya sedang menanjak.  Yang mungkin tak bisa dilupakannya adalah ketika FIFA menugaskannya memimpin laga final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, antara Belanda versus Spanyol.

Sebelum melangkah ke puncak karirnya itu, pria plontos berusia 40 tahun itu merupakan seorang polisi.
Ya, Webb sempat bertugas di Kepolisian  Yorkshire Selatan, Inggris. Dibesarkan di kota Rotherdam Yorkshire, Webb memang ingin jadi polisi sejak kecil. Namun ketika mulai terjun ke dunia sepak bola, khususnya menjadi pengadil sejak 2005, Webb mulai kerasan.

Hanya lima tahun berkarir di korps perwasitan, Webb sanggup melejit hingga akhirnya dipercaya memimpin partai sekelas final Piala Dunia. Pria kelahiran 14 Juli 1971 itu, memulai memimpin laga di turnamen besar pada 2006, ketika Ia dipercaya menjadi salah satu pemimpin pertandingan di turnamen UEFA Cup U-21 2006. Kemudian berlanjut di Piala Dunia U-20 FIFA 2007. Setahun kemudian memimpin UEFA Cup 2008. Piala Konfederasi FIFA 2009, Piala Dunia U-17 2009, dan Piala Dunia 2010.

Sejak awal jadi wasit, Webb memang terkenal kontroversial. Yang masih jadi bahan kritikan hingga kini adalah final Piala Dunia 2010, ketika dia mengeluarkan 13 kartu kuning dan satu kartu merah. Sebelum laga itu, Webb memang sudah tak sabar ingin segera memimpin pertandingan. Dia berjanji akan memberi keputusan terbaik, tapi dia juga tak menampik bakal ada kejadian yang mungkin bisa buat seorang wasit kelas dunia keliru mengambil keputusan.

“Piala dunia merupakan peristiwa besar, dan tentu saya tak sabar menjadi bagian dari itu,” kata Webb sebelum turnamen akbar tersebut seperti dilansir Goal.

“Jelas saya akan menjaga konsentrasi agar pertandingan di bawah kendali. Saya akan berusaha mengambil keputusan besar yang benar. Tapi kadang Anda gagal melihat beberapa momen pelanggaran seperti tekel yang mungkin tersilap. Dan bagi pemain yang berhasil melakukannya, mungkin Anda bisa mengucapkan selamat kepadanya,” tambahnya kala itu. (ful)