28 C
Medan
Tuesday, January 27, 2026
Home Blog Page 13946

Ratna Galih Nggak Pede Jadi Model

Ratna Galih mengaku sangat peduli dengan rambutnya. Bahkan ia mengaku lebih menyayangi mahkotanya itu ketimbang wajahnya. “Aku sayang banget sama rambut aku,” ujarnya.

Mantan kekasih Raffi Ahmad itu menilai, rambut adalah mahkota yang terpenting bagi seorang wanita. Karena itu, Ratna lebih banyak memiliki alat-alat perawatan rambut dibanding alat perawatan wajah di rumahnya.

“Karena banyak yang bilang rambut adalah mahkota wanita,” jelasnya.

Pemilik rambut panjang terurai itu pun mengaku rajin merawat mahkotanya itu. Dalam seminggu, dia bisa dua hingga tiga kali berkunjung ke salon.
Baru-baru ini, pesinetron ini berlenggak-lenggok ala model profesional di grand opening Salon T2. Meski bukan di atas catwalk, ia tampak luwes memamerkan busana dan rambutnya. Bagi Ratna, berlenggak-lenggok ala model merupakan pertama kalinya ia lakukan. “Kalau diajak acara gini aku malu,” aku Ratna.

Meski menyukai dunia fesyen, namun Ratna tak percaya diri memperagakan busana atau rambut seperti layaknya model profesional. “Pertama aku kurang tinggi. Aku nggak pede juga. Aku takut jatuh tapi untung berhasil tadi,” tandasnya. (rm/jpnn)

Pujakesuma Harus Mendunia

Perkenalan Pengurus Pusat dan Pelantikan Pengurus Wilayah Sumut

Organisasi Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma) harus mampu mendunia. Dalam arti kata, kemanfaatan yang diberikan jangan hanya untuk kalangan sendiri, tapi untuk Indonesia dan bahkan untuk dunia. Untuk mencapai hal itu dibutuhkan kerja keras dan keuletan, supaya apa yang diharapkan segera terealisasi dalam waktu yang tidak relatif lama.

Itulah pesan yang disampaikan Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat Pujakesuma Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Drs Oegroseno SH, saat memberikan kata sambutannya dalam acara Perkenalan Pengurus Pusat Pujakesuma serta Pelantikan Pengurus Wilayah (PW) Pujakesuma Sumut, PW Wanita Pujakesuma Sumut dan PW Pemuda Pujakesuma Sumut Masa Bhakti 2011-2016 di Aula Madinatul Hujjaz, Asrama Haji Medan, Minggu (22/1).
Pada kesempatan itu, jenderal bintang tiga yang menjabat Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian Republik Indonesia (Kalemdikpolri) tersebut mengingatkan, semua anggota Pujakesuma untuk saling rukun, raket, regeng dan rumekso.

Itu dimaksudkan agar segenap pengurus dan anggota Pujakesuma, baik di Sumut maupun di daerah lainnya seperti, Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau (Kepri) dapat bersatu dan menjaga silaturahmi serta menjaga keakraban.

Dalam kesempatan itu, Oegroseno juga mengingatkan kepada segenap pengurus Pujakesuma Sumut, untuk tidak menjadi orang yang sombong. Karena pada prinsipnya, jabatan yang disandangnya adalah sebuah amanah.

“Apa yang melekat, ketika kita sudah meninggal tidak dibawa. Setiap kita punya hati nurani. Dan hati nurani itu, tidak bisa dibayar, tidak bisa dihajar dan tidak bisa dihancurkan,” ungkapnya.

Sementara, Ketua Majelis Pembina Pujakesuma Sumut Drs H Kasim Siyo menuturkan, visi Pujakesuma merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, yang diambil dari filosofi tubuh manusia.

“Filosofi tubuh manusia itu menyiratkan sebuah kerukunan, dimana tidak mungkin antara tangan kiri dengan tangan kanan saling melukai. Raket, tidak mungkin mulut akan menceritakan kejelekan anggota tubuh lainnya. Regeng, anggota tubuh tidak akan menyalahkan anggota tubuh lainnya dan rumekso tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya,” ungkapnya.

Sebelumnya, Penasehat Pujakesuma Pusat yang juga mantan Menteri Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Adi Sasono memotivasi, Pujakesuma harus menjadi bagian dari masyarakat. Harus memegang prinsip jujur, mengasihi dan membantu masyarakat.

Dan Pujakesuma juga harus menjadi laboratorium sosial, untuk menyelesaikan masalah-masalah keadilan, kemiskinan dan sebagainya.
Beberapa hal yang ditawarkannya demi kemajuan Pujakesuma adalah Pujakesuma harus menjadi barometer perbaikan dunia pendidikan dan harus mampu menumbuhkembangkan dunia perekonomian.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Sumut Chaidir Ritonga yang hadir pada kesempatan itu mengemukakan, etnis Jawa di Sumut memiliki jumlah yang signifikan. Sekitar 40 persen dari 14 juta jiwa penduduk Sumut. Jika ini dimaksimalkan, terorganisir secara baik maka akan memberikan hal positif, bukan hanya bagi Sumut tapi juga bagi Indonesia dan dunia.

Adapun Pengurus Wilayah (PW) Pujakesuma Sumut yang dilantik berdasarkan SK No.01/SK/Formatur/Mubes/III/PJK-K/2011/Tanggal 19 November 2011 antara lain, Ketua, Komisaris Polisi (Kompol) Drs H Joko Susilo. Sekretaris Rusmayadin Spd. Bendahara Drs Indra Bhakti Lubis.
Selain pengurus Pujakesuma Sumut, turut dilantik PW Pemuda Pujakesuma Sumut yakni ketua Danu Prayitno SE MM, sekretaris Bobby Oktavianus SE dan Bendahara Bambang W SE.

Sedangkan PW Wanita Pujakesuma Sumut diketuai Hj Nuraida Ngogesa Sitepu, Sekretaris Hj Sri Madonna SSos dan Bendahara Fitri Syam Sumarno. Turut hadir sejumlah tokoh Sumut dan bahkan tokoh nasional.(ari)

Ashraff Maklumi Foto Dugem Istri

Bunga Citra Lestari

Bunga Citra Lestari (BCL) siap kembali beraksi di panggung musik Tanah Air. Seiring dengan kesibukannya yang mulai padat, BCL justru menjadi perhatian karena foto-foto dugemnya di internet.

Gambar-gambar tersebut memperlihatkan BCL yang sedang menghabiskan waktu di sebuah klub bersama dengan teman-teman prianya.
Bagaimana komentar BCL soal foto-foto itu? “Buat aku kesal tapi gimana ya, mau marah juga gimana. Aku pilih nggak mempedulikannya,” katanya.
Pelantun Tentang Kamu ini tak mau terlalu memikirkan foto dugem. BCL menganggap itu bagian dari masa lalunya sehingga tak perlu dibesar-besarkan lagi.
“Setiap orang punya fase-fase dalam hidupnya. Itu juga udah lama jadi ya biasa saja,” ucap ibu satu anak ini.

Ditanya apakah dia sakit hati dengan orang yang telah menyebarkan foto-fotonya, BCL menjawab, “Aku lihat positifnya saja. Aku baru mau comeback, malah orang sibuk bicarakan aku.”

Beruntung, beredarnya foto-foto dugem itu tak membuat suaminya, Ashraff  Sinclair marah dan jadi perkara rumah tangga. “Keluarga sih menanggapinya biasa aja. Suami aku tahu itu masa lalu,” ujar BCL.

Bicara rumah tangga, sama-sama sibuk dan telah memiliki anak, nyatanya tidak mengurangi kemesraan BCL dan Ashraff. Keduanya selalu berusaha meluangkan waktu khusus. Mereka biasanya memilih kencan di tengah malam.  “Waktu pacaran sama Ashraff pasti ada. Kalau malam kosong, ya kita pacarannya midnight. Sejam atau dua jam, cukup,” kata BCL.

Meski cuma kencan sesaat, BCL dan Ashraff merasakan manfaat kebersamaan mereka. Keduanya tidak mengharuskan kencan di tempat mahal atau keluar rumah. (rm/jpnn)

Selamat Hadir Sang Naga Air

Gong Xi Fa Cai

Apa itu Imlek? Imlek tak ubahnya seperti tahun baru masehi atau tahun baru Hijriah bagi umat Islam. Imlek adalah Tahun Baru Cina. Pada umumnya, yang banyak merayakan Imlek adalah warga Tiongha. Namun bagi umat lain yang beraliran sama juga bisa merayakan Hari Raya Imlek. Tahun ini jatuh pada Senin, 23 Januari 2012 atau Imlek 2563 bagi orang Cina.

IMLEK di berbagai belahan manapun dimaknai sebagai tradisi pergantian tahun. Sehingga yang merayakan Imlek ini seluruh etnis Tiongha apapun agamanya. Setidaknya pengakuan itu disampaikan Sidharta, Ketua Walubi, masyarakat Tiongha Muslim yang juga merayakan Imlek.

Imlek disebut dengan Chung Ciea yang berarti Hari Raya Musim Semi. Hari Raya ini jatuh pada akhir bulan Januari dan bila di negeri Tiongkok, Korea dan Jepang ditandai dengan berakhirnya musim dingin. Dulunya, negeri Tiongkok dikenal sebagai negara agraris. Setelah musim dingin berlalu, masyarakat mulai bercocok tanam dan panen. Tibanya masa panen bersamaan waktunya dengan musim semi, cuaca cerah, bunga-bunga mekar dan berkembang.

Lalu musim panen ini dirayakan oleh masyarakat. Kegembiraan itu tergambar jelas dari sikap masyarakat yang saling mengucapkan Gong Xi Fa Cai, kepada keluarga, kerabat, teman, dan handai taulan. Gong Xi Fa Cai artinya selamat dan semoga banyak rezeki.

Adat ini kemudian dibawa oleh masyarakat Tiongha ke manapun dia merantau, termasuk ke Indonesia. Dulunya, pada masa Bung Karno, perayaan ini boleh dirayakan tapi ketika masa Orde Baru, perayaan Imlek dibatasi. Presiden Soeharto mengeluarkan SK yang isinya mengizinkan, namun dirayakan di tempat tertutup.

Sejak orde reformasi Imlek mengalami masamasa keterbukaan hingga sekarang. Imlek tak lagi sebatas dinikmati komunitas Tionghoa, namun melebar ke seluruh kota, berikut pernikperniknya: dodol, baju merah, angpao, dan tarian Barongsai. (Baca juga: Lebih Dekat dengan Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha Binjai) Kenapa Barongsai? Sejumlah literatur mengungkapkan tarian Barongsai sering ditampilkan dalam perayaan hari-hari besar Tionghoa, salah satunya saat perayaan Imlek. Menurut bahasa Cina, Sai artinya Singa dan dianggap sebagai ‘’raja binatang’’. Ceritanya dulu di Negeri Tiongkok, di setiap rumah pejabat tinggi ada dua patung Singa. Di samping untuk menjaga keselamatan, patung Singa dinilai membawa kemegahan, sekaligus juga membawa kebahagian dan rezeki. Entah apa sebabnya, Barongsai menjadi tarian pada setiap keramaian yang sifatnya agung.

*** Peringatan Imlek juga mempunyai beragam ornamen dan tradisi khas yang unik dan menarik.

Namun, bukan hanya sekadar tradisi turun- temurun, berbagai ciri khas Imlek ternyata memiliki filosofi tersendiri.

“Setiap kegiatan persiapan menjelang Imlek dan ketika Imlek, serta kuliner dan ornamen khas Imlek bukan tanpa alasan. Semua hal tersebut memiliki falsafah tersendiri,” kata Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Medan, Lily Tan kepada Sumut Pos, Rabu kemarin.

Misalnya, kata Lily, tradisi bersih-bersih rumah sejak seminggu sebelum perayaan Imlek.

“Bersih-bersih rumah ini dimaksudkan untuk menyambut kedatangan para dewa, seperti dewa rezeki dan dewa dapur,” ujarnya. Bahkan, lanjutnya, warga Tionghoa mengoleskan madu di mulut patung dewa yang ada di dapur (dewa dapur). “Madu itu kan manis. Hal ini bertujuan agar dewa dapur yang sudah datang akan memberitahukan berita yang baik-baik saja dalam rumah tersebut,” tutur Lily ramah.

Uniknya, ketika Imlek, warga Tionghoa justru dilarang untuk menyapu. “Makanya, bersihbersih harus dilakukan sejak seminggu sebelumnya.

Karena jika menyapu saat Imlek, rezeki yang sudah masuk ke dalam rumah tersebut, dikhawatirkan akan hilang,” kata Lily menjelaskan.

Sementara berbicara soal kuliner, Lily menyebutkan, kue keranjang sebagai salah satu panganan wajib ketika Imlek. “Kue dodol atau kue keranjang adalah makanan wajib ketika Imlek.

Pemilihan kue ini pun bukan tanpa alasan.

Menurut orang Cina, untuk merayakan tahun yang baru dengan makanan manis dipercaya sebagai pertanda baik untuk menjalani harihari selanjutnya,” ujarnya.

Lily menganalogikan Imlek Tiongkok atau Festival Musim Semi sama seperti Hari Natal di Barat adalah hari raya tradisional yang paling besar di Tiongkok. Meskipun seiring dengan perubahan zaman, isi yang terkandung dalam Imlek dan cara merayakannya sudah berubah, tapi Imlek dalam kehidupan rakyat Tiongkok tetap berposisi penting tak tergantikan.

Sebagai gambaran, Imlek Tiongkok konon sudah bersejarah 4.000 tahun lebih. Tapi pada permulaan, hari raya itu tidak disebut sebagai Imlek, dan juga tidak dirayakan pada hari yang tetap. Kira-kira pada tahun 2100 Sebelum Masehi, rakyat Tiongkok pada waktu itu menyebut rotasi Bintang Jupiter sebagai “Sui”, yakni satu tahun, maka Imlek pada waktu itu disebut sebagai “Sui”. Pada tahun 1000 Sebelum Masehi, rakyat pada waktu itu menamakan Imlek sebagai “Nian”, dengan artinya panen.

‘’Menurut adat istiadat, Imlek dalam arti makro dimulai dari tanggal 23 bulan 12 Imlek, dan berlangsung sampai hari Cap Goh Meh yang jatuh pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, dengan masa perayaan berlangsung selama tiga minggu,’’ tutur perempuan cantik yang juga anggota DPRD Kota Medan tersebut.

Lain tempat, lain adat istiadatnya. Memang rakyat di berbagai daerah di Tiongkok mempunyai kebiasaan perayaan Imlek yang tidak sama, tapi tradisi seisi keluarga berkumpul untuk menyambut kedatangan Imlek pada malam tanggal 30 bulan 12 Imlek, yaitu malam menjelang Imlek adalah kebiasaan yang sama baik bagi penduduk di bagian utara maupun di selatan.

Memasang kuplet dan gambar tahun baru serta lampion berwarna-warni adalah kegiatan yang sangat digemari dalam menyambut Imlek.

Seiring dengan meningkatnya taraf hidup rakyat, perayaan Imlek pun lebih bervariasi.

Berpelesiran ke luar negeri menjadi pilihan bagi rakyat Tionghoa yang punya uang berlebih.

Menyambut Imlek 2563 pun semarak di Kota Kisaran. Warga Tionghoa gotong-royong membersihkan lokasi ibadah, termasuk belanja pernak- pernik Imlek hingga memasang lampion merah di pertokoan.

Penjual pernak-pernik Imlek, A Hun kepada METRO (Sumut Pos Grup), Rabu (18/1) mengungkapkan tahun ini lampion Naga menjadi idola karena tahun ini bertepatan dengan tahun Naga Air. Pedagang pun berlomba menjual aksesori bersimbol Naga. Lampion Naga yang diimpor dari Cina itu diperolehnya dari agen di Medan dengan rata-rata harga Rp150 ribu per buah.

“Mendekati Imlek toko kami banyak dikunjungi pembeli dari Tanjungbalai, Batubara, dan Rantauprapat. Trennya memang lampion besar berujud patung Naga,” ujarnya.

A Hin (43), pelanggan yang rutin berbelanja aksesoris Imlek di toko A Hun, mengatakan, pernak-pernik Imlek di toko itu tergolong lengkap, termasuk alat-alat kebutuhan sembahyang, seperti Hio Kwan Im atau hio berbau wangi dengan harga bervariasi, mulai dari Rp48 ribu per kilogram hingga Rp23 ribu per buah. A Hin mengaku bersyukur perayaan Imlek kini sudah lebih lepas dan bebas ketimbang sebelumnya.

‘’Apalagi pemerintah sudah menetapkan hari Imlek menjadi hari libur nasional. Jadi kantor juga libur,’’ katanya tersenyum.

Di Tebing Tinggi, masyarakat etnis Tionghoa juga mulai sibuk menjelang perayaan Imlek.

Paling sibuk berbenah tentu saja Vihara Avalokites Vara. Vihara di Jalan Tengku Hasyim, Tebung Tinggi yang sudah berdiri sejak 100 tahun lalu itu terus bersolek menyambut tahun Naga Air 2563.

Tiga bangunan utama menyangga vihara tersebut yaitu, bangunan tempat beribadah, tempat penyimpanan abu jenazah, serta bangunan pagoda dengan ketinggian 35 meter. Ada pula bangunan khusus yang diperuntukan sebagai panti jompo dan klinik gratis. Menurut Suhu Dharma Surya, pengelola Vihara Avalokites Vara, panti jompo menerima siapa saja tanpa memandang suku, agama, dan ras. Begitu pula balai pengobatan alias klinik yang dibuka kepada siapa saja yang membutuhkan pengobatan secara gratis.

“Vihara Avalokites Vara ini terbuka untuk umum, maksudnya terbuka untuk bagi siapa saja yang ingin melihat lebih dekat vihara ini,” ungkap Suhu Dharma Surya kepada Sumut Pos.

Soal barang-barang bersejarah di vihara, Suhu Dharma menjelaskan, ada berbagai barang peninggalan yang berumur lebih dari 120 tahun dan dibawa langsung dari Tiongkok. Misalnya saja arca Dewa Kwanti Kong, kecapi, tambur, topi, alat musik gesek Rebab, alat tulis kuno, gigi ikan hiu gergaji yang sebagian barang itu ditempatkan di kaca agar dapat dilihat langsung oleh pengunjung.

Menyambut malam Imlek, menurut Suhu Dharma, vihara menggelar pertunjukan Barongsai dan melepaskan 108 buah lilin dalam lampion. Jumlah 108 itu melambangkan jumlah biji dalam tasbih umat Buddha, sedangkan makna pelepasan lampion adalah doa agar Tuhan memberikan kedamaian bagi seluruh umat beragama di dunia.

“Imlek tahun ini bertepatan dengan tahun Naga Air. Saya berpendapat negara ini akan subur dan setiap usaha pasti berjalan sukses,’’ yakin Suhu Dharma yang juga tercatat sebagai ketua Ontel Pedati Kota Tebing Tinggi. Harapan kita pun begitu. Semoga yang diyakini Suhu Dharman benar adanya. Gong Xi Fa Cai. Selamat hadir Naga Air ! (val/tms/adl/sus/spy)

Sembilan Tahun Juara Lokal, Kini Jawara di Kancah Internasional

Lebih Dekat dengan Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha Binjai

Tarian Barongsai jelas tidak asing lagi di telinga kita. Ya, Barongsai bisa juga dikatakan tarian singa atau tarian khas warga etnis Tionghoa. Bagi etnis ini Barongsai memiliki sejumlah makna filosofis. Dari ribuan tahun lampau hingga hari ini kesenian Barongsai bukan sekadar mengikat kebudayaan, namun kerap diperlombakan hingga ke perhelatan internasional.

Laporan: HAMDANI, Binjai

ITU pula kenapa Sumut Pos begitu antusias menyambangi kelompok Tarian Barongsai di Binjai yang diberi nama Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha. Kelompok ini biasa berlatih di Jalan Tengku Syehrukun, Binjai Kota. Jalan masuk yang kecil rupanya buka penghalang bagi kelompok kesenian ini untuk menorehkan prestasi besar hingga ke dunia internasional. Pintu gerbang bercat hijau menyambut kedatangan Sumut Pos di tengah suara dentuman piringan dan genderang para pemain yang tengah latihan.

Begitu memasuki areal latihan mata tertumbuk pada sebaris tulisan besar di dinding gedung latihan: “Kita Mau, Kita Bisa”. Inilah kalimat sakti yang menjadi cambuk bagi para pemain Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha hingga mengantarkan mereka sembilan kali juara tingkat Sumatera Utara.

‘’Tak akan ada prestasi tanpa latihan serius,’’ ujar Salimin Lie, pimpinan pelaksana Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha, menjelaskan filosofi kalimat di dinding bangunan tersebut. Dia pun mengawali percakapan sore itu dengan menceritakan kembali sejarah berdirinya Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha, kelompok Barongsai kebanggaan etnis Tionghoa di Binjai.

Sekilas dia mengingatkan bahwa tarian Barongsai dulunya dinikmati oleh kalangan raja yang ingin menggelar acara pesta, seperti pernikahan atau memberi nama anak. Tapi, kini Barongsai adalah kesenian milik masyarakat berbagai lapisan. Malahan, tarian Barongsai sudah menjadi seni dan olahraga.

“Barongsai menurut kepercayaan etnis Tionghoa bisa mengusir roh jahat, serta mendatangkan rezeki dan keberuntungan,” ungkapnya.

Itu pula spirit yang melatari kenapa sejumlah tokoh masyarakat etnis Tionghoa Binjai getol ingin membentuk Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha ini pada 1999 silam. “Karena dibentuk di Vihara Setia Budha, maka kelompok ini sepakat dinamai Grup Naga Barongsai Setia Budha Binjai,” ungkap Salimin, yang mengaku bergabung dengan kelompok tarian ini sejak tahun 2002. Selepas dibentuk deretan prestasi ditorehkan kelompok ini. Di tahun ketiga pembentukannya Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha menyabet nomor terbaik di salah satu perlombaan tingkat Sumatera Utara. Tak cuma merebut posisi terbaik, namun kelompok tarian ini tidak pernah melepaskan penghargaan nomor satu tersebut hingga sembilan tahun kemudian. Di tahun ke-10, kelompok ini memutuskan tidak ikut perlombaan untuk memberikan jalan bagi kelompok lain menikmati juara pertama.

“Usia kelompok ini terbilang muda saat juara pertama kali di Sumut. Kami pegang predikat juara pertama dari tahun 2002 hingga 2011. Tahun 2012 ini kami tak ikut biar yang lain juga bisa menikmati enaknya juara,” tukas Salimin tertawa.

Dia mengingat saat menjadi juara di tahun pertama dan kedua tidak ada tempat latihan yang permanen untuk kelompok tersebut. Melihat prestasi anak-anak Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha, baru pada tahun 2004 sejumlah pengurus sepakat mendirikan tempat latihan yang menetap . Sejak itu kelompok ini semakin berlatih rutin dan serius hingga mendatangi berbagai tempat di dalam dan luar negeri. “Para pemain Barongsai kami sempat dilatih di Padang oleh Grup Himpunan Persatuan Teguh (HPT) pada tahun 2004, dan tahun 2005 dilatih di Malaysia oleh Grup Kong Sang Keng (KSK) yang pernah menjadi juara dunia,” Salimin menambahkan.

Tak puas dengan predikat juara satu di tingkat lokal, kelompok tarian ini lantas berpikir merambah kancah internasional. Atas sponsor dari berbagai pihak yang peduli kesenian tradisional, pada tahun 2006 Grup Naga Barongsai Vihara Setia Budha berangkat ke Singapura. Di negeri Singa itu pengalaman pertama berlaga di kancah internasional dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai pembakar semangat. “Keberangkatan kami ke Singapura memang untuk menambah pengalaman saja. Tapi kami cukup senang dapat urutan tujuh dari 12 tim yang bertanding,” katanya.

Sejak kepergian pertama ke Singapura, Salimin menceritakan, perjalanan kelompok tarian Barongsai yang diasuhnya itu di even internasional, mulai sulit dihitung dengan jari. Menurut Salimin, kelompok tarian itu sudah bolak-balik bertanding ke luar negeri. Mulai dari Singapura, Malaysia, Hongkong, Thailand, hingga ke Makao. Catatan prestasi yang ditorehkan setahun terakhir adalah juara dua dari 22 tim di Singapura dan juara tiga dari 14 tim dalam kompetisi Barongsai di Jakarta.

Sembari memamerkan foto-foto pertandingan sebelumnya, Salimin mengingatkan, kelompok Barongsai asuhannya akan mentas pada perayaan Imlek tahun 2563 ini. “Makanya sekarang anak-anak itu berlatih. Kami sekalian mempersiapkan alat-alat,” ujar Salimin seraya menginformasikan kelompok itu sudah memiliki koleksi 60 ekor Barongsai.

Sebagai kaderisasi pemain, Salimin mengatakan, kelompok itu juga rutin mengirimkan sejumlah pemain untuk berlatih di luar negeri. Terakhir kali ada pemain yang dikirim ke Malaysia untuk dilatih di pusat pembinaan Barongsai di sana.

Langkah besar di tahun 2013 mendatang adalah terbang ke Cina. Sebelumnya kelompok ini juga sempat mendapat undangan bertanding ke Honolulu, Amerika Serikat, namun gagal akibat ketiadaan dana.

Disinggung soal suppor Pemko Binjai, Salimin menggelengkan kepala. Dia berkata perhatian justru diberikan oleh Bupati Langkat saat mereka hendak berangkat ke Hongkong beberapa waktu lalu. “Karena kami didanai Pemkab Langkat ya, kami putuskan mengibarkan nama Langkat di even tersebut.

Padahal di berbagai kejuaraan internasional kami selalu membawa nama Binjai meskipun tak ada perhatian dari Pemko,’’ katanya.

Kelompok tarian Barongsai yang malang-melintang di perhelatan nasional dan internasional ini akhirnya mendapatkan dukungan dana dari Pemko Binjai dalam tahun-tahun terakhir. ‘’Itu pun setelah tahu Bupati Langkat mendanai kami.

Padahal di hati ini kami ingin sekali menjulangkan nama kota Binjai hingga orang=orang dari luar tertarik datang ke sini,” ucapnya. (*)

Kasus Amuk Penumpang, Heru-Lion Air Berdamai

Polisi Curiga Ada Unsur Pemaksaan

MEDAN- Kasus pemecahan kaca outlet Lion Air oleh Heru Frans Ziko Silaban (30) warga Komplek BP2IP, Sukadiri, Tangerang berujung damai. Kedua belah pihak tidak saling menuntut dan saling mengganti kerugian.

“Pihak Lion Air sudah mengganti kembali tiket Heru dan tidak ada dipungut biaya apa pun, hanya saja Heru harus mengganti kaca yang dipecahkannya karena itu milik BUMN, sedangkan biaya perobatan Heru akibat memukul kaca ditanggung bersama antara kedua belah pihak,” kata Staff Duty Manager OIC Bandara Polonia Medan, Ali Sofyan, di ruang kerjanya, Sabtu (21/1).

Menurut Ali, usai perdamaian, Heru kembali pulang malam itu juga dengan tiket yang diberikan Lion Air.”Heru sudah pulang tadi malam (Jumat, 20/1, Red) pukul 20.15 WIB ke Tangerang,” jelasnya.

Bagimana tentang laporan Lion Air di Polsekta Medan Baru? Menurut Staff Lion Air Polonia Medan, Yuzar Amrizal yang secara terpisah ditemui Sumut Pos mengatakan karena sudah terlanjur mengadu maka sepenuhnya diserahkan ke Polsekta Medan Baru. “Kasusnya memang sudah sempat dilaporkan ke Mapolsekta Medan Baru, Jumat (20/1) sore 14.30 WIB, tapi kan sudah ada perdamaian dengan Heru dengan Lion Air, kalau tindaklanjutnya silahkan tanya ke Pak polisinya saja bang,” bilangnya.

Kapolsekta Medan Baru, Kompol Dony Alexander SIk mengakui bahwa pihak Lion Air sudah melaporkan Heru ke Polsekta Medan Baru, Jumat sore sekitar pukul 14.30 WIB.

Saat ini, tambah Dony, pihaknya sudah memintai keterangan sejumlah saksi termasuk Heru, sendiri. “Semua sudah kita mintai keterangan dan kedua belah pihak sudah ada titik temu,” pungkasnya.

Bagimana dengan perdamaian kedua belah pihak, apakah kasus tetap lanjut? Mendengar pertanyaan wartawan koran ini, Dony kaget. “Wah, saya saja baru tahu dari kamu,” jawab perwira yang baru naik pangkat satu melati ini.

Kata Dony jika kedua belah pihak sudah berdamai, maka masalahnya selesai. Hanya saja, lanjut Dony, pihaknya berhak menyelidiki bentuk perdamaian yang dilakukan antara Lion Air dengan Heru.

“Kita dulu lihat bentuk perdamaiannya ada unsur paksaan atau tidak,” tegasnya sambil menutup pembicaraan.

Menanggapi amuk Heru yang meninju loket penjulan tiket Lion Air karena telat berangkat, Direktur Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK) Farid Wajdi angkat bicara. Menurut Farid dalam permasalahan maskapai penerbangan, konsumen selalu dalam pihak yang terkalahkan. “Maskapai selalu diskriminasi terhadap konsumen. Mereka berlindung dengan aturan-aturan (SOP) yang sebenarnya dilanggar sendiri. Penumpang selalu saja dikalahkan dengan aturan yang dibuat mereka,” ucap Farid.

Dekan Fakultas Hukum UMSU ini menganjurkan konsumen yang merasa dirugikan seharusnya melakukan gugatan dengan mengadu ke badan penyelesaian sengketa konsumen (BPSK). “Setiap warga sebagai konsumen yang merasa dirugikan punya hak untuk melayangkan gugatan dan mengajukannya ke BPSK,” jelas Farid.

Dirinya juga mengungkapkan sistem perjanjian antara konsumen dan perusahaan maskapai banyak merugikan penumpang.

Dalam permasalahan ini, kata Farid, seharusnya pemerintahan mengambil sikap, sehingga warga yang menjadi konsumen mempunyai hak sewajarnya. “Pemerintah harus mengambil sikap dengan perjanjian antara calon penumpang dengan maskapai, agar penumpang mempunyai hak sewajarnya,” katanya. (jon/gus)

Tagih Utang Rp21 Juta Pegawai Panglong Digebuki Bos

MEDAN- Jui Siung alias Asiong (35) warga Jalan Pertempuran Lingkungan VI, Medan Barat dianiaya oleh bos kerjanya berinisial LJ di Jalan Pancing, Jumat (21/1). Asiong mengalami luka pada tangan, kaki, badan biru dan kepala bengkak akibat dipukul dengan benda tumpul.

Menurut Asiong penganiayaan yang dialaminya terjadi karena ia memiliki utang sebesar Rp21 juta pada LJ.

“Saya memang punya utang Rp21 juta kepada bos saya itu, tapi bukan seperti ini caranya, utang saya tetap saya bayar dan harapan saya agar pelaku diberikan hukuman sesuai dengan perbuatan mereka karena kasus ini sudah saya laporkan ke Polresta Medan,” ratapnya saat di temui wartawan di lantai IV kamar 45 ruang Pavililon RSU dr Pirngadi Medan yang ditemani istrinya, Susi (34), Sabtu (21/1).

Sebelum kejadian, Kamis siangnya Asiong sempat ditelepon LJ untuk datang ke panglong guna membayar utang. Asiong menuruti perintah LJ, namun setibanya di Jalan Pancing ia kembali disuruh LJ untuk ke Hamparan Perak karena LJ menunggu di sana.”Sampai di Hamparan Perak dipukuli, saya gak terima kejadian ini,” kata korban.

Asiong juga mengaku bahwa dirinya sempat disekap dalam mobil. Ia diintrogasi sambil dianiaya. Belum puas dengan itu, Asiong kemudian diboyong pelaku ke Tanjung Morawa ke rumah saudara LJ, yakni LM. “Saat di rumah LM, di sana saya juga dianiaya pelaku lainnya selain LJ, LM ada lagi Aw dan Isk. Saya bahkan diancam mau dibunuh mereka,” sambungnya.

Dirinya lolos setelah empat pelaku menghubungi istri Asiong, Susi.

“Saya dipulangkan setelah saya berhasil mengambil heandpone saya yang sempat mereka simpan dan saya telepon istri saya. Saya pun dipulangkan mereka dan istri saya pun membawa saya ke RSU Pirngadi,” ungkapnya.

Susi memang terlihat mendampingi Asiong selama dalam perawatan Petugas Polresta Medan tampak menjaga pintu masuk kamar perawatan Asiong . “Tanyakan Kasat Reskrim saja untuk lebih pastinya bang. Saya di sini hanya bertugas menjaga saja,” kata petugas yang enggan namanya disebutkan.

Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol M.Y.Marzuki SiK tiba di RS Pirngadi.

Disinggung kedatangannya berkaitan dengan kasus Asiong, Yoris enggan berkomentar panjang. “Tidak ada apa-apa,” katanya. (jon)

Warga Protes Pembangunan RS Unpri

MEDAN-Warga Jalan Belanga Kelurahan Sei Putih Tengah Kecamatan Medan Petisah menggelar aksi protes terhadap pembangunan Universitas Prima Medan milik dr Nyoman. Massa menilai proyek pembangunan rumah sakit kedokteran gigi dan umum yang dikelola Universitas Prima (Unpri) di Jalan Belanga itu telah mencaplok sebagian tanah warga. Seperti memakan badan jalan dengan mendirikan tiang beton pagar demi perluasan halaman kampus.

Menurut warga tempat didirikannya tiang beton pagar itu adalah jalan umum yang menjadi sarana masyarakat Jalan Belanga Medan.

“Sejak tahun 1960, ini gang ini (Jalan Belanga) sudah ada sebelum lagi universitas ini beridri, bahkan sejak berdiri universitas ini parit yang seharusnya ada sekarang sudah tidak ada lagi, akibatnya jalan menjadi banjir apabila hujan, karena sudah ditutup mereka,” ujar warga bermarga Simbolon, pada wartawan Sabtu (21/1).

Simbolon pun menanyakan dari mana asal muasal tanah di jalan Belanga ini sehingga RS Unpri senaknya menyaplok tanah warga. Masyarakat mengancam, bila pembangunan beton pagar dilanjutkan maka mereka akan melakukan aksi di depan kampus.

“Dari mana dia (dr Nyoman) mengklaim tanah itu miliknya, dan bawa-bawa BPN pula. Kami akan ribut, selama ini kami diam saja atas pembangunan proyek yang dilakukan Nyoman, dari mulai pembangunan jembatan penghubung kampus sampai mencoba mencaplok jalan,” tegas warga yang lain bermarga S Simamora.

Sementara pihak RS Unrip mengaku bahwa lahan Jalan Belanga adalah lahannya, berdasarkan sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh BPN Medan. (rud)

Parasit

Cerpen Ester Pandiangan

Kubanting keras tumpukan piring dan gelas di bak cuci piring. Dengan ekor mata, kulirik abangku yang tergolek kekenyangan di depan televisi. Sepiring ikan teri sambal dan semangkuk daun ubi tumbuk hasil masakanku yang rencananya untuk makan siang dan malam, kini habis kandas.

BAHKAN bagian koko—suamiku juga ludes. Ugh, kesal bukan main! Martua memang abangku tapi seharusnya dia sadar diri dong, kan aku sudah bilang lauk yang kumasak ini untuk siang dan malam. Mau tak mau aku membanting kembali peralatan makan tersebut.

Prang! Untung tidak pecah. Mataku masih membuntuti gerakannya. Perlahan dia bangkit dan berjalan ke teras depan.

Apalagi kalau bukan untuk merokok! Martua sudah dua bulan tinggal di rumah kami di Jakarta. Dulunya dia menetap di Medan. Namun karena suatu hal, Martua sempat menjadi penghuni penjara. Setahuku karena masalah penggelapan peralatan kantor di tempat kerjanya.

Terpaksa abang keduaku itu menjadikan dinginnya semen penjara sebagai alas tidurnya.

Sembari mencuci piring aku mengingat kejadian dulu. Betapa peristiwa itu membuat keluarga kami shock. Untung saja bapak dan mamak tak ada lagi. Kalau masih bernafas apa kata mereka menyaksikan salah satu anaknya menyandang status napi? Enam bulan dia menjadi penghuni tetap penjara akhirnya dia keluar menghirup udara bebas. Itu pun setelah membayar uang damai Rp10.000.000. Tadinya jaksa meminta Rp20.000.000. Karena angka tersebut begitu mencekik leher dengan ‘baik hati’ si jaksa memberikan korting. Saat kami mau minta kurang lagi jaksa bilang uang tersebut mau dibagi lagi dengan hakim.

Jadi, Rp10.000.000 sudah harga mati.

Weleh-weleh…setelah korek sana-sini, kami—lima orang bersaudara- berhasil mengumpulkan jumlah uang yang diminta.

Ternyata belenggu penjara bukan menjadi jaminan bagi Martua untuk benar-benar menghirup udara bebas. Pasalnya dia harus berkelat-kelit menghindari kejaran para penagih kartu kredit.

Demi menghindari itu jualah Martua pun melarikan diri ke Batam ke tempat saudara tertua kami tinggal. Hanya beberapa bulan Martua tinggal di Batam, istri abangku Ci Lilis tak tahan dengan gelagat Martua yang dirasa kurang berkenan di hatinya.

Mulai dari malas-malasan, tak ada inisiatif membantu. Duduk, makan dan merokok.

Itu saja kerjanya. Saat mendengar kesahnya sempat terpikirku itu ada-adanya Ci Lilis saja. Karena dia tak mau rumah tangganya diganggu dengan urusan adik ipar.

Beberapa bulan mengecap hidup di Batam, Martua dioper ke Palembang. Tempat saudara ketiga kami. Pun di Palembang, Martua sempat bekerja di perusahaan dimana Rusman, suami Martha saudara kami bekerja. Tak lama berselang. Hanya seumur jagung saja, dengan sedikit dibumbui pertengkaran Rusman meminta Martua untuk angkat kaki dari rumahnya. Katanya Martua tak bisa diatur. Maunya langsung dapat pekerjaan enak dan sejuta alasan lain.

Dengan sebab itulah akhirnya Martua pindah lagi ke Jakarta. Ternyata apa yang dibilangkan para kakak ipar tercinta benar adanya. Di rumahku, Martua juga berkelakuan sama. Dan yang buat kesalnya lagi sudah numpang di rumah orang, Martua suka mengomentari kalau-kalau ada hal kurang sesuai dengan seleranya. Seperti soal sarapan ada saja komentarnya. Memang tidak marah atau ngomel. Tapi ada saja celetukannya yang menohok hati.

Misalnya saja seperti beberapa hari lalu.

Aku hanya menyiapkan nasi putih dan telor mata sapi sebagai sarapan. Dia yang bangun sudah hampir tengah hari membuka tudung saji sembari berkata, “Yang namanya sarapan itu kalau nggak lontong ya nasi gurih,” cetusnya. Aku yang saat itu sedang menggiling cabe rasanya ingin menowel bibirnya pakai ulekan sambal begitu mendengar omongan tersebut.

Hal ini sempat kukeluhkan pada Koko suamiku. Untungnya si Koko dapat lebih sabar. Justru aku saudara kandung, setali sedarah yang makan hati. “Sudahlah itu kan abangmu mungkin dia lagi stress karena baru keluar dari penjara itu,” koko coba mengademkan hatiku yang panas.

“Iya Ko tapi tingkah lakunya itu bikin makan hati,” seruku kesal sembari memilin-milin daster kucel yang belum kuganti sedari pagi. “Aduh, Mama kalau marah tambah manis deh,” rayunya sembari mengelus pipiku.

Rayuan-rayuan manis Koko memang menenangkan hatiku. Tapi, hanya sementara.

Setelah hari berganti, tumpukan kekesalan yang baru, kembali dituangkan oleh Martua.

Pakaian-pakaian kotor yang menggunung dan tak dicuci-cuci, setoran lima ribu yang harus kuberikan kepada Martua untuk uang rokoknya belum lagi rentetan kerepotan- kerepotan lain yang timbul semenjak abangku tinggal di rumah kami. Aduh! Aku memijit-mijit kepala mencoba mengurangi nyut-nyutan yang kurasa. Beginilah rasanya makan hati karena parasit.

*****
Kuhembuskan asap rokok kuat-kuat ke udara. Dua siswi SMP yang lewat di depanku mengipas-ngipas tangannya tanda terganggu karena asapku. Prang-prang! Bukan tak kudengar adu piring dan gelas yang dicampakkan kuat-kuat ke bak cuci piring oleh Maria.

Mencuci piring. Akh! Dulu aku sempat melakoni pekerjaan itu kala di penjara dulu.

Tanpa kuinginkan, sekelebat kenangan yang ingin kukubur dalam-dalam sejenak mengambang meminta untuk dibaca kembali.

Dapur umum tersebut demikian luas. Samar- samar terdengar puluhan pasang sendok dan garpu yang diadu dalam piring.

Tumpukan piring kotor dan gelas-gelas plastik tak ubahnya gunung yang kian lama kian meninggi. Aku menelan ludah kala piring kotor yang datang lebih banyak dari jumlah piring yang kucuci. Entah kenapa semakin cepat aku mencuci semakin cepat juga piring-piring kotor dari para napi masuk ke bak cuciku.

Aku mendesah, mengelap keringat sejenak.

“Cepat-cepat kau kerja!” tegur Bang Ucok, Kepala Dapur Umum menyela jedaku.

“I… iya Bang,” tukasku.

Aku harus cepat-cepat kalau tidak Bang Ucok tak akan mau lagi menerima aku bekerja disini. Tumpukan piring ini lebih baik dari pada harus…. Ingatanku kembali ke hari pertama aku menjadi penghuni tetap rumah tahanan ini: Sembari petugas mengantarku ke sel, teriak yel-yel para tahanan menyambut tahanan baru membahana, menggaungi telingaku. Seorang tahanan berwajah berewok memberikan seringai keji kepadaku.

Tak ubahnya monyet di kebun binatang, dia memegang terali penjara dan menempelkan mukanya di batang jeruji tersebut.

Tak hanya si berewok, beberapa tahanan lain memberikan pandangan selamat datang yang berbeda. Seperti yang dilakukan tahanan bertampang klimis yang hanya dua sel bedanya dari si brewok. Dia memandangku demikian tajam. Tatapannya seakan melucuti pakaian yang kukenakan.

Dari yang duduk, dia bangkit dan berjalan mendekat. Kemudian sepasang tangan berbulu miliknya menggayuti jerujijeruji kamar tahanannya. Sebelum aku memasuki sel yang menjadi tempat tinggalku— selama entah berapa lama—sudut mataku sempat menangkap kedipan mata yang diiringi sapuan lidah di bibirnya. Untukku….

*****
“Ko aku minta uang belanja ya!” “Lho, bukannya semalam udah saya kasih, Ma?” sejenak saya menghentikan aktivitas mengenakan pakaian dan memandangnya.

“Iya,” Mama merapikan sudut seprei lalu menambahkan, “Tapi kurang Ko, udah habis!” sambungnya.

Saya menatapnya heran. Bukannya tiga hari yang lalu saya ngasih Rp100.000 untuk uang belanja seminggu. Ini masih berapa hari. Saya mengecek kalender di dinding siapa tahu saja hitung-hitungan saya salah.

Lah iya betul kok! Tampak lingkaran merah menandai tanggal lima.

“Biasanya juga Rp100.000 untuk seminggu Ma. Ini belum seminggu kok sudah habis,” saya menatapnya lelah campur bingung.

Lelah karena pekerjaan hari ini. Bingung karena dapat uang darimana untuk menambahi uang belanja si Mama.

“Saya baru bayar gaji anak buah untuk minggu ini Ma, tagihan belum datang. Lagian Mama kok cepat sekali uang habis,” tanyaku tanpa maksud curiga.

Alis matanya sontak menyatu, “Habis gimana? Pengeluaran kita ya ke situ-situ aja Ko! Ini karena abang tinggal disini makanya ada pengeluaran tambahan,” tukasnya keras.

Saya mendeliknya, “Ssst..jangan keraskeras nanti abang dengar gimana?” Saya jadi bingung Martua ini abangnya atau abang saya. Kenapa jadi saya yang harus nggak enak hati kalau Martua sampai mendengar perdebatan ini.

Mama menghela nafas, “Tiap hari aku harus kasih abang Rp5.000 untuk uang rokoknya. Belum lagi tambahan yang lain-lain. Bang Martua kuat makan, Ko.

Mau nggak mau, lauk siang dan malam harus ditambahin banyak untuk abang.

Itu kan pengeluaran juga, Ko,” tatapannya mulai mengendur.

Kini giliran saya mengeluh dalam hati.

Aduh, uang darimana? Mau tak mau saya jadi mengingat tingkah-pola Martua yang membuat kesal. Aktivitasnya yang hanya makan tidur. Tak ada semangat untuk mencari kerja. Malas mengerjakan apa pun. Untuk mencuci pakaiannya sendiri dia pun enggan. Mau tak mau saya jadi merutuk dalam hati. Dasar parasit!
*****
Dia melenguh. Nafasnya memburu. Aku melengkungkan tubuh berusaha melawan.

Tapi dia begitu kuat. Aku merasakan rambut tangannya menggelitik punggungku yang polos. Aku menggigit bibir berusaha menahan jeritan kala sesuatu memasuki belakang tubuhku. Rasanya begitu sakit, menjijikkan.

Aku berusaha menghilangkan aroma memuakkan yang melingkupiku. Dia bergerak naik turun seperti komidi putar.

Aku coba membayangkan masa-masa aku mengajak keponakanku bermain komidi putar. Tapi itu justru makin memperburuk perasaan. Aku hanya merusak kenangan indah bersama keponakanku dengan menyamakannya dengan kondisiku sekarang.

Sepertinya dia sudah selesai. Dengan kasar dia membalikkan badanku. Aku menutup mata. Enggan untuk membukanya. Usapan kasar dan basah menyentuh pipiku. Aku memaksa membuka kelopak mata dan memberinya tatapan acuh -seolah tak terjadi apa-apa.

Dan dia memberikan pandangan itu. Kedipan mata dan jilatan di bibir hitamnya. Sebelum beranjak dan mengancingkan celananya, dia menepuk kuat pipiku sembari menyeringai puas.

Aku menangkupkan kedua tanganku ke wajah. Kalau-kalau saja ingatan itu akan berlalu. Samar kudengar percakapan Maria dan adik iparku.

“Habis gimana pengeluaran kita ya ke situ-situ aja Ko. Ini karena abang tinggal disini makanya ada pengeluaran tambahan!” “Ssst..jangan keras-keras nanti abang dengar gimana?” Aku bangun dari tempat tidur. Membuka kaos yang basah karena keringat. Setiap mengingat penggalan kejadian-kejadian di penjara membuat peluhku mengucur tiada henti. Nafsu makanku jadi memuncak.

Rasa-rasanya setiap makanan yang masuk ke mulut membuatku sejenak melupakan apa yang tak mau aku ingat.

Aku membuka pintu kamarku perlahan.

Aku masih mendengar percakapan antara Maria dan suaminya. Namun lebih menyerupai bisikan. Aku melangkah menuju meja dapur. Mencoba melihat kalau-kalau ada makanan sisa yang dapat kujejalkan ke mulut. Perlahan kubuka tudung saji.

Hanya ada sepiring nasi, sepotong ikan dan mangkok dengan beberapa batang bayam mengapung pada kuahnya, sisa makan malam.

Tanpa babibu segera saja kujejalkan makanan setengah dingin itu ke mulut. Entah apa rasanya. Aku tak peduli. Aku hanya berharap, setiap suapannya membuatku lupa pada kedipan mata, jilatan bibir dan seringai puas yang selama ini menjadi hantu dalam batinku. Walau hanya sekejap….(*)

Djokovic, Ana dan Zheng Jie Melaju

MELBOURNE- Petenis nomor satu dunia, Novak Djokovic melenggang ke babak empat Australian Open tanpa hambatan berarti. Nicolas Mahut, lawan yang dihadapi Djokovic di babak ketiga sama sekali bukan lawan sebanding.

Djokovic tidak memberikan sedikitpun kelonggaran kepada petenis Prancis itu untuk sekedar menghela napas. Meski levelnya jauh di atas Mahut, Djokovic mengeluarkan semua pukulan terbaiknya untuk segera mengakhiri pertandingan. Djokovic seperti tidak peduli sekarang hari ulang tahun Mahut yang ke-30.

Di set pertama, Djokovic menyabet seluruh game sehingga menutup set pembuka itu dengan 6-0. Di dua set selanjutnya, Djokovic hanya melepas satu game, 6-1 6-1. Pertandingan pun berakhir hanya dalam tempo 74 menit.

Di partai selanjutnya, Djokovic bakal ditantang petenis tuan rumah, Lleyton Hewitt atau petenis Kanada Milos Raonic. Mahut memang kurang fit menghadapi turnamen kali ini. Peringkat 81 dunia yang pernah bertarung 11 jam dengan John Isner di Wimbledon pada 2010 ini, kali ini bergelut dengan cedera di kaki kirinya.

Di tempat terpisah petenis Ana Ivanovic juga sukses menggulung perlawanan Vania King di babak ketiga Australian Open. Di babak selanjutnya, Ivanovic sudah ditunggu Petra Kvitova yang baru saja mengandaskan Maria Kirilenko.

Ivanovic tampil menawan sejak set pertama.

Setelah mengantongi game pertama, juara Commonwealth Bank Tournament of Champions dua kali ini kembali mematahkan perlawanan Vania dengan mengantongi break di game kedua.

Tertinggal 0-3, membuat Vania berusaha keras membaca permainan Ivanovic. Usahanya tidak sia-sia. Setelah mengunci Ivanovic di game ke empat, Vania King gantian meraup break di game ke lima kemudian menyamakan skor menjadi 3-3.

Sayangnya, ikhtiar King merebut set pertama, seolah buntu di game selanjutnya. Karena di sisa set pertama, Ivanovic membuatnya tak banyak berkutik. Dengan sebuah forehand, Ivanovic menyegel set pertama 6-3.

Di set selanjutnya, petenis peringkat 65 dunia itu masih belum sulit menembus pertahanan ivanovic yang bermain sabar dan unggul dalam variasi pukulan.

Meski begitu perlawanan sengit tetap dipertahankan.Buktinya,Ivanovic tidak bisa begitu saja mengantongi game demi game. Di saat skor 3-5 Ivanovic bahkan sering melakukan kesalahan sehingga King sempat merapatkan skor 4-5.

Tapi situasi ini segera dibenahi oleh Ivanovic dan menyudahi perlawanan petenis Amerika itu dengan backhand yang tidak bisa dikembalikan sempurna oleh King sehingga set kedua berakhir 6-4 untuk Ivanovic.

Demikian juga dengan Zheng Jie. Dia juga menang atas lawannya Marion Bartoli di babak ketiga Australian Open dua set langsung 6-3 6-3.

Dia mengaku terinspirasi dengan kesuksesan rekan senegaranya Li Na di French Open tahun lalu. Jika Li Na bisa melakukannya, dia juga merasa bisa.Begitu lah keyakinan Zheng Jie.

Bagi Zheng, pencapaian Li Na menjadi pemacu semangat bukan hanya anak-anak di China, tapi juga dirinya, bahwa dia juga bisa menjadi juara di turnamen besar.(bbs/jpnn)