27 C
Medan
Tuesday, January 27, 2026
Home Blog Page 13949

Rusuh Berlanjut, Sudah 24 Tewas

KANO- Rentetan pengeboman dan penembakan di Nigeria sedikitnya menewaskan 24 orang. Peristiwa berdarah itu terjadi di Kano, kota terbesar kedua di Nigeria.

Menurut saksi mata menuturkan seperti dilansir AFP, Sabtu (21/1), mayat-mayat bergelimpangan di jalanan kota itu. “Di antara rumah saya dan markas kepolisian sepanjang jalan ini, saya telah menghitung 16 jenazah yang berserakan di jalanan, enam di antaranya polisi,” kata Naziru Muhammad, yang tinggal di Kano dekat markas kepolisian, salah satu target serangan.

Kekacauan terjadi di Kano pada Jumat, 20 Januari malam waktu setempat. Sekitar 20 ledakan terdengar dan suara-suara tembakan terdengar beberapa kali. Serangan-serangan itu menargetkan polisi dan petugas imigrasi atau warga setempat.

Sejauh ini belum jelas siapa yang berada di belakang serangan-serangan itu. Namun pada serangan-serangan sebelumnya, kelompok Boko Haram dituding sebagai pelakunya.

Sebanyak delapan orang lainnya tewas dalam insiden- insiden terpisah. Kepolisian setempat menyatakan belum bisa memberikan jumlah korban tewas secara spesifik. Namun dikatakannya jumlah yang tewas mencapai puluhan.(net/jpnn)

Warga Dua Desa dan PT Tanjung Siram Berdamai

8 Tersangka Dibebaskan

TAPSEL- Warga Aek Kanan dan Padangmatinggi, Kecamatan Dolok Sigompulon, Kabupaten Padang Lawas Utara dan PT Tanjung Siram, sepakat berdamai, Sabtu (21/1). Delapan tersangka yang sempat ditahan atas tuduhan membakar belasan rumah karyawan juga dibebaskan. Perusahaan juga menuruti sejumlah permintaan warga.

Proses kesepakatan berlangsung di aula Mapolres Tapsel. Dan, isi perdamaian ditandatangani Direktur Utama PT Tanjung Siram Memet Siregar, General Manager M Syafeii sebagai pihak pertama. Lalu, H Sati Rambe, H Abdul Hakim, Ahmad Harahap dari Aek Kanan dan H Samsir Rambe, Bahrum Hasibuan, dan Suroso dari Padangmatinggi sebagai pihak kedua.

Kedua belah pihak sebagai tetangga sepakat untuk menjalin hubungan baik. Pihak kedua telah menyadari sepenuhnya kesalahan dan kekeliruan atas aksi pembakaran dan pengerusakan aset milik PT Tanjung Siram. Mereka menyatakan permohonan maaf atas tindakan tersebut dan permohonan maaf diterima pihak pertama.

Selanjutnya, pihak kedua menyatakan sungguh-sungguh dengan perjanjian ini dan tidak akan mengulang perbuatan yang sama ke depannya. Pihak pertama menyatakan kesediaan mencabut laporan dan tidak akan dilanjutkan penyidikannya jika tidak melanggar perjanjian dan jika dilanggar maka proses hukum akan kembali berlanjut.

Pihak pertama juga bersedia memberikan kontribusi sebesar Rp12 juta setiap bulannya kepada koperasi atau badan usaha yang dibentuk bersama oleh kedua desa selama perusahaan beroperasi di desa tersebut. Dan, mulai disalurkan Februari ini.

Kemudian, pihak pertama atau perusahaan tidak akan menghapuskan atau menghalangi tanah kuburan seluas setengah hektare di dalam areal perusahaan. Dan, mulai Senin (23/1), pihak pertama sudah bisa melaksanakan aktivitas operasional perusahaan. Lalu, pihak kedua atau masyarakat akan membersihkan semua aktivitas penduduk di areal perusahaan dan ke depannya akan menjalin hubungan yang lebih baik.

Kapolres Tapsel AKBP Subandriya dalam kesempatan tersebut mengucapkan terima kasih kepada unsur muspida yang sudah ikut memediasi persoalan antara PT Tanjung Siram dengan warga Aek Kanan dan Padangmatinggi.

Kapolres menegaskan, atas permintaan warga dan perdamaian antara kedua belah pihak, maka delapan tersangka yang ditahan, dibebaskan dan proses hukumnya ditangguhkan, sepanjang isi perjanjian tidak dilanggar. Namun, jika dilanggar maka proses hukumnya akan tetap dilanjutkan sesuai dengan ketentuan aturan hukum yang berlaku.

“Delapan tersangka yang ditahan kita bebaskan dan diizinkan pulang ke rumah. Tapi jika perjanjian perdamaian ini dilanggar maka proses hukumnya akan kembali dilanjutkan.

Jika ada yang mempertanyakan mengenai pembebasan kalian semua, biar saya yang menjawabnya.

Dan, saya minta kepada warga begitu sampai tidak usah woro-woro dan menggemborkannya ke manamana.

Saya berpesan kepada kita semua untuk menjaga suasana kondusif di kedua desa. Jika ada kesempatan saya akandatanguntukmelakukansyukurandikeduadesaataskeberhasilan perdamaian ini,” tuturnya.

Tokoh Masyarakat Desa Aek Kanan H Sati Rambe mewakili masyarakat mengucapkan terima kasih kepada Kapolres Tapsel dan muspida plus yang sudah bersusah payah melakukan mediasi antara dua desa dengan PT Tanjung Siram.

Pantauan wartawan, warga tampak senang setelah kembali ke kampung halamannya. Begitu juga dengan delapan tersangka yang sempat ditahan selama empat hari Mapolres Tapsel. Sebelumnya, ratusan warga dari Desa Aek Kanan dan Desa Padang Matinggi, Kecamatan Sigompulon, Padang Lawas Utara (Paluta) membakar 24 rumah karyawan dan truk milik PT Tanjung Siram, di Sei Kanan Labuhanbatu yang berbatasan dengan Desa Padang Matinggi Paluta, Selasa (17/1) sekira pukul 10.00 WIB.

Aksi tersebut dipicu sengketa lahan antara warga dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut. Informasi dirangkum, Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Tanjung Siram telah habis tahun 2010 lalu. Sementara ratusan warga di dua desa mengaku mereka sebagai pemilik awal lahan yang dijadikan areal perkebunan kelapa sawit tersebut.

Berbeda dengan kondisi di Padang Lawas. Dalam tiga hari ini, warga di 21 desa yang tersebar di Kecamatan Luat Huristak, Kabupaten Padang Lawas, akan menduduki lahan yang jadi permasalahan antara masyarakat dengan PT Barapala.

Ancaman ini bentuk kekecewaan warga dengan Pemkab Palas yang kurang pro aktif dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Padahal, warga sudah berulang-ulang melakukan aksi sejak tahun 2010.

Demikian ditegaskan Kepala Desa Ganal, Parlaungan Siregar didampingi Kepala Desa Pasir Lancat Lama, Abdul Azis Hasibuan dan beberapa tokoh masyarakat kepada wartawan.

(amr/jpnn)

Stres, Terjunkan Mobil ke Dam

BATAM – Sebuah mobil Toyota Avanza BP 1781 yang dikemudikan oleh M Fadli Hakim alias Anggimenabrak pagar besi pembatas jembatan sebelah kanan jalan dan terjun bebas ke dalam Dam di Sei Ladi Baloi Sabtu (21/1) sekitar pukul 06.00 WIB. Untungnya tak ada korban jiwa dalam kecelakaan tunggal itu.

Kecelakaan ini cukup mengundang perhatian warga yang kebetulan melintas dengan kendaraan mereka. Bahkan mereka rela berhenti untuk mengetahui apa yang sedang terjadi sehingga menyebabkan macet panjang disekitar jembatan tersebut. Pagar pembatas jembatan sekitar 4 meter rusak dihantam mobil itu.

Menurut saksi mata bernama Eko, Anggi saat itu tak sendirian berada didalam mobil yang di kemudikan pagi itu. Pria berbadan berisi ini berangkat berdua dengan orang yang disebut-sebut sebagai ayahnya dan melaju dari arah Simpang jam Baloi menuju arah Tiban. Sempat terjadi pertengkaran diantara mereka berdua. Karena emosi Anggimembanting stir mobilnya ke arah dam dengan kecepatan tinggi.

“Kata orang dia lagi bertengkar dengan bapaknya lalu menabrak mobil ke pembatas jembatan,” ungkapnya.

Sekitar pukul 07.30 WIB anggota Satpol Polresta Barelang datang untuk mengevakuasi korban yang didalam air. Tapi saat itu Anggi tetap tak mau untuk naik ke atas jembatan dan meminta petugas untuk memangil orang tuanya yang sedang berada diatas jembatan tersebut.

“Suruh bapak turun kebawah, biar dia tahu. Saya tetap tak mau naik keatas sebelum dia ke sini,” ujar anggi sambil berteriak.

Dari atas jembatan, terlihat petugas membujuk Anggi, tapi pria berkulit kuning tersebut tetap tak mau untuk naik ke atas dan tetap meminta ayahnya untuk turun. Setelah kehabisan akal untuk membujuk, petugas pun akhirnya memaksa Anggi untuk naik dengan cara tangan diborgol terlebih dahulu.

Anggota polisi yang enggan namanya disebut mengatakan kalau Anggi sempat melapor ke Polresta Barelang karena diikuti orang tak dikenal. “Dalam laporannya dia diikuti orang. Padahal setelah kami cek tak ada. Diduga dia stress dengan pekerjaannya,” katanya. (jpnn)

AY Nasution Cagubsu, Gatot Jadi Wakil

Prediksi Kiprah Partai Demokrat di Pilgubsu 2013

MEDAN-Secara tersembunyi, Panglima Kostrad Mayjen TNI Azmyn Yusri Nasution masuk dalam posisi teratas untuk diusung menjadi Calon Gubernur Sumatera Utara (Cagubsu) periode 2013-2018 dari Partai Demokrat. Sementara untuk posisi wagub, partai berlambang segitiga biru itu disebut-sebut akan meminang incumbent, Gatot Pujo Nugroho.

Pada posisi yang sama, Ketua DPD Partai Demokrat Sumut, HT Milwan semula digadang-gadang menjadi Cagubsu harus menelan ludah. Pasalnya, DPP Partai Demokrat menganggap mantan Bupati Labuhan Batu tersebut memiliki pandangan lain pada Musyawarah Nasional (Munas) lalu.

Pengamat politik, Drs Nuzirwan Lubis MSP membeberkan, benar nama AY Nasution masuk dalam bursa, bahkan posisinya teratas dibandingkan sejumlah tokoh lainnya di Sumut Hal itu dikarenakan AY Nasution memiliki hubungan langsung dengan pengurus Partai Demokrat di pusat.

Dia menyebutkan, restu AY Nasution untuk maju sebagai Cagubsu dari Partai Demokrat berasal dari sosok penentu Partai Demokrat. Dengan mengantongi tiket itu, AY Nasution, tinggal memantapkan pencitraan ke seluruh masyarakat.

“Restunya sudah lebih 50 persen AY Nasution maju ke Cagubsu, bahkan sekarang sudah ada beberapa tim-nya bekerja di Sumut,” kata dosen USU, Jumat (20/1).

Nuzirwan membeberkan, HT Milwan yang sebelumnya disiapkan untuk maju menjadi Cagubsu, kini hanya sebatas menunggu kebijakan baru di partai berkuasa itu. HT Milwan disebut tak akan dicalonkan pada Pilgubsu, bahkan untuk posisi wakil pun tidak. “Itu karena track record dan hubungannya secara pribadi dengan DPP Partai Demokrat,” sebutnya.

Ketika ditanya mengenai siapa Cawagubsu yang dipaketkan dengan AY Nasution, Nuzirwan menyebutkan, kemungkinan besar tokoh dari suku Jawa. Paket itu seperti pembahasan yang dihitung berdasarkan jumlah masyarakat dari sisi etnis. “Jadi pasangannya tetap dari suku Jawa,” tegas.

Beberapa waktu lalu, paparnya AY Nastion sempat melamar T Erry Nuradi sebagai wakilnya, namun itu kembali dimentahkan karena ada pembicaraan lain yang tidak klop. Sedangkan dengan Gatot Pujo Nugroho ada kemungkinan, tapi masih relatif kecil persentasenya. “Biasanya untuk posisi wakil akan diputuskan langsung oleh ketetapan partai pengusung,” katanya.

Lebih lanjut, dia menyebutkan sekarang ini sudah ada gerakan untuk persiapannya. Selain tim sudah mulai dibentuk dan bergerak, tokoh lainnya juga sudah menebar pesona melalui sejumlah posternya. Lihat saja, Gatot Pujo Nugroho sudah memajang wajahnya melalui spanduk dan baliho mulai Langkat hingga Labuhan Batu Selatan. “Jadi sekarang ini sudah mulai muncul sejumlah tokoh untuk maju, tapi secara kekuatan angkanya masih relatif sama.

Termasuk Gatot yang sudah menjadi Plt Gubsu,” sebutnya
Ketika disinggung nama Rahmat Shah, Nuzirwan menyatakan, justru sangat kecil kemungkinannya. Walaupun dianggap pernah membuktikan membawa SBY menang di Sumut.

Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat, Sutan Bathoegana mengatakan, belum ada keputusan AY Nasution menjadi Cagubsu dari Partai Demokrat. Silahkan menyebut dan isu bersebaran, tapi Partai Demokrat tetap melalui poling dan survey dalam memutuskan siapa yang akan dicalonkan.

“Bisa incumbent, pihak eksternal ataupun kader sendiri. Tapi untuk kader belum ada sampai sekarang ini karena belum mampu,” katanya.
Dia menambahkan, bila AY Nasution dari poling menonjol populeritasnya, maka ditunjuk. Tapi, bisa jadi incumbent yang akan diusung. “Itu tergantung hasil poling,” tegasnya.

Sutan menegaskan, Partai Demokrat tetap menginginkan Gubsu periode 2013-2018 merupakan Gubsu bersih, berani dan merakyat (BBM). “Karena kita sudah punya presiden yang BBM, jadi Gubsu mendatang harus BBM,” sebutnya.

Di antara sejumlah nama yang muncul tersebut, ada beberapa nama yang dianggap berjasa kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), seperti anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Rahmat Shah. Pengusaha yang belakangan jadi politisi, dianggap bisa menggeser AY Nasution.

“Belum, nanti di bulan Maret kami buat survey terlebih dahulu baru dilakukan penerimaan,” kata Sutan. (ril)

PDI P Sumut: Jangan Lantam!

Sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjua ngan (PDI P) DPRD Sumut, jengah dengan pernyataan Ketua Fraksi PDI P DPRD Sumut Budiman Nadapdap di media. Letak persoalannya adalah keberadan Budiman Nadapdap, yang memberi pernyataan mengatasnamakan dirinya sebagai Pelakasana Tugas (Plt) Ke tua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI P Sumut.

“Ini nggak beres. Ada apa-apa ini. Jangan lantam-lantam, mengaku jadi Plt. Belum ada yang jadi Plt. Semua ada mekanismenya Jangan karena saya anggota, tidak bisa melaporkan ini ke pusat. Sini kalau ada rekamannya, biar saya laporkan ke pusat. Saya juga punya link ke pusat,” tegas anggota Fraksi PDI P DPRD Sumut Effendi S Napitupulu, ketika berbincang dengan Sumut Pos di ruang anggota Fraksi PDI P lainnya, Brillian Moktar.

Mengenai sosok yang akan diusung PDI P, Effendi menegaskan, belum ada keputusan siapa yang akan diusung. Karena sejauh ini, PDI P masih akan membuat penjaringan.

“Belum ada siapa orangnya. Belum ada keputusan DPD,” ungkapnya.
Mengenai hal itu, politisi senior PDI P Syamsul Hilal juga menilai, jika Budiman Nadapdap menyatakan, dirinya Plt Ketua DPD adalah hal yang keliru.
“Belum, belum. Dia (Budiman Nadapdap, red) masih wakil ketua. Ketua masih Panda Nababan, dan saya Ketua Dewan Pertimbangan Sumut. Keliru itu. Budiman masih wakil ketua,” tegas Syamsul.

Jadi siapa yang nantinya akan diusung PDI P? Mengenai hal itu, Syamsul Hilal juga menegaskan, belum ada sosok yang diusung karena PDI P belum membuka pendaftaran calon untuk Pilgubsu. “Belum dibuka pendaftaran.

Kita punya harga diri, begitu juga dengan partai-partai lain. Tidak begitu saja melirik atau meminang. Calon-calon itu yang datang ke kita, bukan kita yang meminang,” katanya.
Sosok yang seperti apa yang menurutnya layak maju dan didukung?

Berdasarkan pandangannya, sosok yang layak maju menjadi Gubsu adalah sosok yang memiliki concern penuh terhadap masalah-masalah yang dihadapi rakyat Sumatera Utara, misalnya masalah tanah dan petani.
Bagaimana dengan Rahmat Shah yang relatif memiliki perhatian dengan masalah tanah?

Menurutnya, Rahmat Shah sejauh ini masih lebih terkesan formalisme. Tapi, jika memang benar Rahmat Shah concern untuk menyelesaikan masalah tanah di Sumut, maka Rahmat Shah layak untuk menjadi Gubsu.

Gatot? Untuk sosok yang saat ini menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu, menurutnya, juga tidak layak untuk menjadi Gubsu. “Dari kebutuhan Sumatera Utara, Gatot nggak layak. Dia hanya menyelesaikan masalah tanah, dari sisi adminitrasi. Ini kan persoalan besar,” ungkapnya.

Secara terpisah, Ketua Fraksi PDI P Sumut Budiman Nadapdap yang dikonfirmasi Sumut Pos via telepon menyatakan, pernyataannya mengenai sosok yang “katanya” dilirik PDI P mengatakan, apa yang dikemukakannya adalah sebatas membaca peta kekuatan calon-calon yang ada. “Itu sebatas membaca peta politik calon-calon yang akan maju. Karena memang belum ada keputusan DPD,” jawabnya.

Bagaimana dengan jabatannya, yang juga “katanya” sudah menjadi Plt Ketua DPD PDI P? Terkait hal itu, Budiman tetap menyatakan, dirinya telah menjabat Plt Ketua PDI P. “Saya yang melaksanakan tugas. Kalau Plt di partai ini, tidak seperti pejabat pemerintahan yang pakai surat dan sebagainya,” tambahnya.
Sementara itu, untuk mengajukan satu pasangan calon, maka satu partai mesti memiliki 15 persen suara atau dengan kata lain memiliki 15 kursi di legislatif.

Nah, dengan aturan itu berapakah jumlah uang untuk membeli satu kursi, bila ingin mengajukan satu pasangan calon yang diusung pada Pilgubsu 2013 mendatang, khususnya bagi partai yang harus berkoalisi dengan partai lain.
Menyikapi hal itu, berdasarkan penuturan Ketua Dewan Pertimbangan DPD PDI P Sumut Syamsul Hilal, pada tahun 1998 dan 2003, berdasarkan informasi yang diperoleh untuk satu kursi dihargai Rp500 juta.

Apakah di Pilgubsu 2008 lalu, harga satu kursi dibanderol antara Rp500 juta hingga Rp2 miliar? “Kalau di tahun 2009 lalu, pemilihan secara langsung. Pemilihan melalui dewan tahun 1998 dan 2003, isunya satu kursi setiap DPRD itu dapat Rp500 juta. Kalau tahun 2008 lalu, secara langsung. Ya mungkin-mungkin saja,” jawabnya.(ari)

Mengaku Atheis, PNS Sumatera Barat Ditahan

DHARMASRAYA-Seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Dharmasraya, Alexander Aan (30) resmi ditahan, Jumat (20/1). Sebelumnya, Alexander mengaku sebagai atheis dalam sebuah akun Facebook yang ternyata meresahkan masyarakat.

Kapolres Dharmasraya, Komisaris Besar Polisi Chairul Aziz mengatakan bahwa Alexander ditahan atas tuduhan penistaan agama. Jika terbukti dia bisa menerima hukuman penjara selama lima tahun Sebelumnya, Kamis (19/1), Chairul berpendapat bahwa setelah menginterogasi Alexander, dia tidak melakukan pelanggaran apapun dengan menjadi atheis. “Tapi  dia salah tempat, dia tidak bisa bebas untuk menganut kepercayaan karena Indonesia ini negara ber-Ketuhanan Yang Maha Esa,” ujar Chairul.

Alexander, yang berdinas di Bappeda kabupaten Dharmasraya, pada Rabu (18/1) didatangi oleh sekelompok masa yang diduga kesal karena pengakuannya sebagai atheis. Dia diketahui mengelola laman Facebook yang dinamai Atheis Minang. Laman itu kini telah dihapus.

“Dia awalnya buka akun Facebook perorangan atas nama Alexan. Lalu membuat grup Atheis Minang. Di grup itu dia adminnya,” ujar Chairul Aziz, Jumat (20/1).

Grup itu menulis identitas sebagai Urang Minang nan indak picayo ka tuhan, malaikat, setan, jin, antu balau, sarugo jo narako, sarato mitos-mitos apapun juga.

Kepada polisi, Alexander hanya mengatakan bahwa dia tidak mempercayai Tuhan karena banyak hal buruk yang terjadi di mana-mana. Menurutnya, bila Tuhan memang benar ada, pengasih, dan penyayang maka hanya hal-hal baik yang terjadi.

Alexander lahir sebagai penganut Islam. Namun ketika dia  memasuki bangku sekolah dasar, dia mulai meninggalkan kepercayaan dan ibadahnya lalu memutuskan untuk menjadi seorang atheis.

Chairul Aziz menambahkan, akan menyelesaikan kasus ini dan menyerahkan berkasnya kepada kejaksaan dalam waktu sekitar dua minggu. “Kira-kira dalam waktu seminggu lebih sedikitlah kami akan serahkan kepada kejaksaan,” katanya.

Meski resmi ditahan, Pemkab Dharmasraya belum mengambil sikap. “Kita saat ini menunggu proses hukum dan menghormati proses hukum, setelah itu baru diproses sesuai aturan yang ada untuk PNS. Jika ia dinyatakan bersalah atau melanggar hukum tersebut, maka Pemkab Dharmasraya akan mengambil sikap,” ungkap Bupati Dharmasraya H Adi Gunawan, ketika membesuk Aleksander Aan di Mapolsek Pulaupunjung, Kamis (19/1).

Adi Gunawan mengatakan, kasus seperti baru pertama kali terjadi di Kabupaten Dharmasraya. Maka masalah ini dijadikan introspeksi diri: kenapa ini bisa terjadi pada CPNS.

“Apakah sistem rekrutmen terhadap CPNS selama ini yang salah atau bagaimana? Secara kasat mata, saya melihat,  psikologis oknum tersebut sudah terganggu,” kata Adi Gunawan.
Sebelumnya, Alexander diamankan Polsek Pulaupunjung. Dia diamankan dari amuk massa yang tidak menyukai keyakinannya sebagai seorang atheis.

Menurut Kapolsek Pulaupunjung AKP Nofrial SE, pengamanan diawali laporan masyarakat bahwa ada kericuhan di dekat kantor Bappeda Dharmasraya. “Saat anggota kami ke lokasi, dia sudah dikerumuni orang-orang. Makanya kami mengamankannya ke Mapolsek,” ujarnya, Kamis (19/1).

Saat ini Alexander, menurut Nofrial, sudah dijadikan tersangka, sesuai dengan laporan Majelis Ulama Indonesia setempat. “Facebook yang dikelolanya itu sudah lama meresahkan warga,” ujarnya.

Alexander diduga melakukan penistaan agama. Dia bisa dituntut Pasal 156 KUHP dengan pidana penjara maksimal 5 tahun.
“Pada handphone Aleksander juga ditemukan hasil komunikasi dengan temannya sesama atheis di Timur Leste dan saat ini HP yang bersangkutan sudah disita,” kata Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Pandham Mulyadi.

Aleksander merupakan putra pertama dari empat bersaudara pasangan Armas dan Nuraina. Armas adalah PNS yang tercatat di Pemkab Solok Selatan dan Nuraina berdagang. Memang, kata Armas, anaknya tersebut semenjak kuliah di Bandung sedikit pendiam dan tidak terbuka. “Namun hal itu tidak menjadi perhatian khusus darinya dan ia beranggapan positif saja,” kata Armas.

Keputusan polisi yang cepat menetapkan Alexander sebagai tersangka disayangkan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. “Kami ingin mengingatkan kepada polisi untuk berhati-hati dalam kasus ini,” kata anggota Komnas HAM, Johny Nelson Simanjuntak. “Dari segi HAM sebenarnya menentang orang yang tidak percaya Tuhan itu tidak dibenarkan juga,” tambahnya.

Dia menambahkan, lembaganya akan mengkaji kasus ini dan berencana untuk bertemu dengan polisi yang menangani kasus tersebut.
“Kita akan melakukan penyelidikan soal itu agar lebih jelas. Saya akan minta klarifikasi kepada polisi apakah dia memang memprovokasi orang supaya tidak bertuhan ataukah apakah kegiatannya sehingga dia ditangkap,” tegasnya. (bbs)

Dua Kubu Masyarakat Nyaris Bentrok

Rebutan Lahan Eks HGU PTPN 2 Sei Semayang

BINJAI-Arahan dari pihak Polsek Binjai Timur dan Lurah Tunggurono ternyata tak mampu menahan gejolak warga di sekitar lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN 2 Sei Semayang. Dua kubu masyarakat di kelurahan itu tetap bersikeras untuk menguasai lahan di areal yang sama. Akibatnya, bentrok fisik nyaris kembali terjadi, Jumat (20/1), sekitar pukul 12.00 WIB.

Keterangan dihimpun Sumut Pos di lokasi lahan yang diperebutkan, ketegangan berawal saat anggota Parlin, selaku ketua kelompok tani Setiakawan, kembali memasuki lahan eks HGU PTPN 2.  Saat dirinya masuk ke areal lahan yang tak jauh dari rumahnya itu, puluhan masyarakat Tunggurono yang disebut-sebut diketuai oleh Cetut ternyata juga sudah berada di lahan tersebut.

Spontan, puluhan masyarakat yang sedang bercocok tanam di atas lahan eks HGU PTPN 2 langsung berang. Pasalnya, Parlin serta puluhan anggotanya sebelumnya sudah diusir oleh warga.

Beruntung, petugas Polsek Binjai Timur, yang sejak awal sudah mengetahui langkah Parlin langsung melakukan pengamanan. Bahkan, Kapolsek Binjai Timur, AKP Ismui, juga turun ke lokasi. Tak lama setelah itu, Parlin menarik mundur puluhan anggotanya dan berkumpul di sebuah rumah warga tak jauh dari lokasi lahan yang direbutkan itu.

Kapolsek Binjai Timur, AKP Ismui, kepada Sumut Pos menerangkan, bahwa kedua  kubu warga itu sudah sering dipertemukan untuk tidak bentrok saat memasuki lahan. “Untung saja kejadian ini diketahui oleh anggota kita. Kalau tidak, adu fisik pasti terjadi,” ujar AKP Ismui.

Lebih jauh dikatakan AKP Ismui, untuk kasus lahan eks HGU PTPN 2 ini, pihaknya hanya berharap agar kedua kubu masyarakat dapat bersatu. “Kalau ingin menanami, ya tanamilah. Kalau memang mau ambil upahan, ya masing-masing kelompok hendaknya saling berkoordinasi agar tidak ada bentrok fisik yang terjadi. Sehingga, situasi di Binjai tetap kondusif,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris Lurah Tunggurono, Sabar Harahap, yang juga ikut turun bersama Kapolsek Binjai Timur, menerangkan, kalau masyarakatnya sangat sulit untuk diimbau. “Saat ini masyarakat bersikeras untuk tetap menguasai lahan ini tanpa memberikan kelompok atau warga lain di luar Lurah Tunggurono ini,” kata Sabar Harahap.

Sedangkan dari langkat, segenap karyawan PTPN 2 Kebun Batang Serangan Kecamatan Batang Serangan meminta Kapolres Langkat, AKBP H Mardiyono, merekomendasikan pencopotan Kapolsek Padang Tualang AKP Azhari ke Mapoldasu. Pasalnya, pejabat kepolisian itu dinilai berlaku tidak adil dalam penyelesaian kasus.

Manajer kebun, Rusdi Yunus Harahap, ketika mengomandoi segenap karyawan maupun serikat pekerja kebun (SPBUN) kepada Kapolres Langkat AKBP H Mardiyono didampingi Kabag Ops Kompol Suyudi, Kasat Reskrim AKP Aldi S dan Kasat Intelkam AKP Asril dalam pertemuan di aula Mapolres, Jumat (20/1), keluhkan kinerja Kapolsek karena diduga berpihak kepada kelompok mafia getah.

“Karyawan kami menjadi korban penyerangan, bukan hanya rumah dihancurkan serta hartanya disikat tetapi berimbas juga kepada keluarganya yang merasa cemas ketakutan dihantui penyerangan itu. Anehnya malah menjadi tersangka, padahal berupaya membela diri dari penyerangan ketika itu,” kata Manajer Kebun Batang Serangan, Rusdi Yunus Harahap, di Aula Mapolres Langkat, Jumat (20/1).

Dikisahkan, kronologi penyerangan terhadap Samino (42) warga Dusun Jati Mulyo Desa Sei Banban Kecamatan Batang Serangan dilakukan sekelompok orang diduga mafia getah dipimpin KG. Permintaan kelompok tersebut, agar getah dijual kepada mereka ditolak Samino dan itu menjadi pemicu penyerangan terhadap korban serta keluarga.

“Kami minta tangkap pelaku pengrusakan rumah Samino, kenapa pengaduan pelaku langsung ditanggapi Kapolsek, sementara laporan korban setelah rumahnya diserang dan dihancuri dibiari saja,” ditambahkan dia.

Kasat Reskrim, AKP Aldi Subartono, kepada karyawan ini mengaku permasalahan dihadapi polisi karena tidak adanya saksi bersedia memberikan keterangan. “Memang penanganan kasus ini di Polsek Padang Tualang, bukan disini. Tetapi info kita terima, kendala dihadapi petugas karena kurangnya saksi pihak Samino jadi perkaranya terkendala. Sementara itu, pihak pelapor memiliki saksi yang mendukung dan karena itulah berkas perkaranya Samino lengkap,” jelas Aldi.

Namun demikian, sebut Aldi, direncanakan gelar perkara dilaksanakan Rabu (25/1) mendatang, sekaligus mengundang kesediaan karyawan menghadirinya di Mapolres. Aldi menegaskan, polisi tidak berpihak kepada mafia seperti dugaan sebelumnya. “Kita tidak ada kompromi dengan yang namanya mafia, kalau salah kita sikat. Kita tidak perduli itu, siapapun,” tegas Kasat.

Kapolres Langkat, AKBP H Mardiyono, mengutarakan pihaknya terbuka menerima informasi tentang keterlibatan personel (Polres) memback-up aksi dugaan mafia dimaksud.  “Kalau memang ada anggota Polres membekingi atau terlibat dibarisan mafia itu, langsung beritahukan maka saya akan langsung turun ke sana,” pinta Kapolres. (ndi/mag-4)

Diancam Mati Eks Kapolda

Shinta Bachir

Merasa keselamatan jiwa dan keluarganya terancam, Shinta Bachir bikin pengakuan mengejutkan. Spesialis film horor ini katanya telah diancam bunuh oleh eks Kapolda Metro Jaya. Ancaman yang seperti nya terkait skandal asmara. Tapi sayang, Shinta enggan jelas mengungkap siapa eks Kapolda itu. Cuma diberi clue, dirinya sudah lama intim dengan sang jenderal.

“Yang jelas, saya kenal beliau cukup lama. Sudah dekat sekitar dua tahun,” ujar Shinta. Sudah tiga minggu terakhir Shinta diteror. Bahkan keluarganya pun turut mendapat ancaman yang sama.
“Namanya diancam kan semua juga tidak nyaman. Ini kan bukan hal biasa. Ini serius,” ujarnya.

“Saya bisa membunuh keluarga kamu’ demikian salah satu ancaman yang diterima Shinta baik lewat sms dan telepon. Karena terus mendapat ancaman, perempuan asal Wonosobo itu berkonsultasi dengan pengacara.

“Saya ke kantor Pak Rifai karena merasa saya dan keluarga terancam kenyamanan dan keselamatan. Saya butuh perlindungan,” ungkap Shinta.
Rifai belum bisa mengambil kesimpulan pasti mengenai kasus ini. Dia menduga motif ancaman lantaran si eks Kapolda merasa di kecewakan oleh Shinta.
“Kecewa ya mungkin pastinya. Mungkin kita belum membuka dahulu motivasinya pengancam ini. Masalah ada apa sebenarnya itu bukan domain kita,” beber Rifai.

Pastinya, Rifai segera menindaklanjuti ancaman mati ini. Dia siap membawa kasus ini ke jalur hukum. “Ini kan tindak pidana. Kejahatan IT (teknologi informasi) juga. Makanya kami akan mempelajari karena menakut-nakuti orang itu kan jelas pidana. Disayangkan mantan penegak hukum di Indonesia mengancam. Sangat aneh,” pungkasnya. (bcg/jpnn)

Ulos, Identitas dalam Sebuah Kain

Dihadiri oleh sosialita Kota Medan, fashion show yang mengangkat ulos sebagai kain tradisional Batak kembali digelar. Pagelaran yang dilaksanakan di salah satu ikon Kota Medan, Rumah Tjong A Fie yang terletak di Jalan Ahmad Yani Medan ini, juga turut dihadiri oleh Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Meutia Hatta.

Selain peragaan busana, dalam pameran yang diadakan oleh Torang Sitorus ini juga menampilkan berbagai jenis ulos yang merupakan koleksinya. “Bajunya untuk menunjukkan bahwa ulos dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, sedangkan pameran ulos ini untuk menunjukkan banyaknya jenis ulos dengan berbagai corak yang melambangkan sebuah makna tertentu,” ujar Torang.
Pangelaran yang dilakukan pada Jumat (20/1) kemarin ini menimbulkan decak kagum dari Meutia Hatta, bagaimana tidak, anak muda berani ber gerak untuk mengembalikan kebudayaanya.

“Saya sangat antusias dengan apa yang dilakukan Torang, jiwa muda tetapi tidak western, bahkan bisa dibilang sangat mencintai kebudayaannya,” ujar Meutia.

Menurut Meutia, untuk menjadi seorang Torang, bukan hanya dibutuhkan uang dan waktu. Tetapi juga semangat agar tidak gampang menyerah. “Semangat Torang sebagai anak muda patut diacungi jempol, kalau dia konsisten kita pastikan ulos tidak akan hilang dimakan zaman,” ujar Meutia.

Pelebaran sayap yang dilakukan Torang bukan hanya di Indonesia, bahkan Eropa seperti Perancis sudah melihat secara langsung koleksi ulos Torang. “Kemarin kita buat pameran di Paris, untuk memperkenalkan kepada dunia, dunia mode tentunya tentang ulos,” tambah Torang.

Torang, sebagai kolektor menyatakan bahwa Ulos cocok digunakan oleh siapa saja dan kapan saja, karena pada dasarnya, suku Batak menggunakan ulos untuk dikenakan dalam sehari-hari. “Saya hanya ingin meyakinkan masyarakat, ulos dapat digunakan oleh siapa saja dan kapan saja karena ulos merupakan pakaian sehari-hari pada masa dulu,” tambah Torang.

Sebanyak 20 pakaian yang dipamerkan, semuanya sangat serasi bila disanding dengan ulos. Bukan hanya itu, kesan elegan terpancar dari kain ini. Karena pada dasarnya, warna ulos menggunakan warna gelap, maka sangat cocok untuk dipadu padankan dengan berbagai warna. “Sangat cocok dipadu dengan berbagai warna, karena pada dasarnya, warna gelap sudah mendominasi,” tambah Torang.

Nah, bagi yang berminat untuk memiliki baju dan ulos dari Torang Sitorus, maka dapat dengan harga mulai dari Rp3 juta hingga Rp10 juta. “Dalam pangelaran ini, harga baju yang kita tawarkan mulai dari Rp3 juta hingga Rp10 juta,” ungkap Torang. (ram)

Seperti Dangdut, Banyak yang Suka, tapi Malu-Malu

Upaya Membawa Es Cendol Jadi Minuman Nasional

Minuman cendol sudah sangat merakyat. Lewat terobosan kreatif, manajemen Es Cendol Elizabeth berambisi menjadikan minuman tersebut makin populer hingga tingkat nasional.

AGUNG PUTU-THOMAS K, Jakarta

Stan Es Cendol Elizabeth di pergelaran Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang diadakan Bank Mandiri di Jakarta Convention Center (JCC) kemarin (20/1) terlihat ramai. Beberapa orang mengantre di stan dengan dominasi warna hijau tersebut. Mereka penasaran dengan es yang warna hijau cendolnya dibuat dari ramuan daun suji dan pandan tersebut.

Sama dengan sebagian besar wirausaha di JCC, Es Cendol Elizabeth juga menggunakan model waralaba. Tetapi, mereka tidak mau mematok harga terlalu tinggi. Hanya Rp6,5 juta. Itu sudah termasuk booth dan peralatan membikin minuman segar tersebut.

“Kami tidak mau memasang harga tinggi. Yang penting bisa masal biar es cendol semakin populer. Kalau terlalu mahal, nanti orang tidak segera buka usaha. Harganya segitu karena kami tidak mematok royalty fee,” kata Abdul Gani, salah seorang direktur di Es Cendol Elizabeth.

Es Cendol Elizabeth saat ini sedang berupaya membawa minuman tradisional tersebut agar populer di kalangan anak muda Mereka ingin es cendol populer seperti minuman berenergi yang banyak digemari. Caranya, memperbaiki packaging dan persepsi masyarakat tentang es cendol.

“Es cendol ini banyak yang suka, tapi malu-malu. Seperti orang suka dangdut. Mereka sungkan kalau ketahuan suka, padahal diam-diam dengerin dangdut. Nah, kita berusaha agar orang minum es cendol dengan bangga,” kata Abdul Gani lantas terkekeh.

Saat ini Es Cendol Elizabeth memiliki 60 gerai. Mereka menargetkan bisa menguasai penyebaran es cendol ke seluruh Jawa. Perusahaan keluarga yang berasal dari Bogor, Jawa Barat, itu juga mulai membuat produk-produknya lebih variatif. Di antaranya dengan mencampurkan wortel, buah-buahan, dan beberapa sayuran ke cendol. Dengan inovasi tersebut, cendol yang diminum bisa sangat baik karena mengandung vitamin dan sarat serat.

Dengan strategi diferensiasi pasar, kata Abdul Gani, mereka berupaya menghapus citra es cendol sebagai minuman jalanan. Mereka juga akan masuk ke hotel-hotel berbintang lima dan beberapa restoran. Tujuannya, cendol bisa sejajar dengan minuman-minuman berkarbonasi yang sudah lebih dulu populer di Indonesia.

Abdul Gani juga berupaya agar es cendol menjadi minuman andalan nasional. Sebab, saat ini sudah terlalu banyak minuman impor. Padahal, kebanyakan minuman tersebut tidak baik untuk kesehatan. “Minuman tersebut juga belum tentu membuat mereka bugar dan berenergi,” katanya.

Minuman berkarbonasi mengandung banyak gula. Tetapi, gula yang terkandung tidak baik untuk kesehatan. Akibatnya, mereka yang gemar minuman soda tersebut gampang obesitas. Nah, di es cendol, gula yang digunakan adalah gula khusus. Yakni gula Jawa yang  dibuat dari mengumpulkan tetes-tetes pohon aren. “Kami juga sedang berusaha agar es cendol tidak pakai es. Tapi disajikan hangat seperti wedang,” katanya. (*)