24 C
Medan
Friday, January 23, 2026
Home Blog Page 14009

Penerima Raskin Sumut 383.363 RTS

MEDAN- Bulog (Badan Usaha Logistik) Divre I Sumut akan memberikan pagu raskin (beras miskin) 150.000 ton kepada 383.363 rumah tangga miskin di tahun 2012 untuk seluruh Sumut dengan harga Rp1.600 per kilogram.
“Tidak ada perbedaan pemberian beras miskin tahun ini dengan tahun sebelumnya (2011),” ujar Humas Bulog Divre I Sumut Rusli.

Menurutnya, pemberian pagu raskin ini berdasarkan petunjuk pusat, sesuai data raskin yang lama (2011), karena data pagu raskin tahun ini belum valid. “Kalau menunggu data raskin terbaru, akan memakan waktu lama,” sebutnya.
Rusli juga menjelaskan, tiap bulannya Bulog Sumut menerima raskin sebesar 12.575 ton untuk penyaluran 12 bulan. Sedangkan penyaluran untuk raskin 2011 sebanyak 13 bulan. Hal ini dikarenakan pemerintah yang mengharuskan percepatan penyaluran, sehingga harga beras dipasaran tetap stabil.

“Pagu yang ditetapkan untuk kita sebanyak 150 ribu ton, tetapi pada 2011 lalu, kita menerima lebih dari 163 ribu ton,” tambah Rusli.

Dan sekitar 99,88 persen dari penerimaan raskin tersebut telah disalurkan ke rumah tangga sasaran (RTS). (ram)
“Sebenarnya, penyaluran raskin ini sudah 100 persen, tetapi karena percepatan penyaluran jadi tinggal 0,12 persen lagi,” tambah Rusli.

Untuk tahun ini, pemerintah pusat sudah menetapkan jumlah pagu dan RTS Sumut seperti tahun sebelumnya dengan jumlah 383.363 RTS dengan jumlah beras 150 ribu ton, “Saat ini kita sedang menunggu keputusan hasil rapat penetapan pagu raskin kabupaten/kota yang akan digelar minggu depan, jadi minggu depan raskin sudah bisa disalurkan,” ungkap Rusli.

Walau tahun ini pagu serta RTS yang menerima tetap, tetapi menurut Rusli, pada Juni 2012 akan ada perubahan. “Bulog akan menggunakan data RTS baru, sehingga penyaluran raskin benar-benar tepat sasaran,” tambah Rusli.
Untuk saat ini, stok beras Sumut lebih dari 100 ribu ton, dan jumlah tersebut dapat memenuhi alokasi beras selama 8 bulan kedepan, dan saat ini Bulog juga sedang menunggu tambahan pasokan beras impar dari Vietnam. Sedangkan beras impor yang sudah masuk ke Sumut selama tahun 2011 berjumlah 373 ribu ton dari Vietnam dan Thailand dalam 2 kali pengiriman.

Pada akhir 2010 hingga Maret 2011 sebesar 282 ribu ton, September sebanyak 91 ribu ton.

Pengamat Ekonomi yang juga Dekan Ekonomi USU Jhon Tafbu Ritonga mengatakan, saat ini Sumut memang masih membutuhkan raskin dikarenakan masih banyak penduduk miskin sebesar 10 persen dari jumlah penduduk. Sedangkan menurutnya, tidak adanya kenaikan RTS dan pagu dikarenakan jatah pemerintah yang sudah tetap. “Untuk mengentaskan kemiskinan tidak hanya melalui raskin, BLT (Bantuan Langsung Tunai), tetapi melalui infrastruktur ekonomi, sumber daya ekonomi dan struktur masyarakat,” ujar Jhon.

Terkait dengan penyaluran, menurutnya sudah sesuai dan mencukupi, tetapi penyaluran juga harus diawasi, sehingga terbebas dari oknum yang tidak bertanggung jawab. “Penyaluran harus diperhatikan, jangan sampai dijadikan lahan korupsi,” ungkap Jhon. (ram)

Ditolong Injury Time

Lazio VS Verona

ROMA- Lazio akhirnya mengunci tiket ke perempat final Coppa Italia. Tetapi klub berjuluk Biancocelesti tersebut tidak mendapatkannya dengan mudah. Mereka bertarung habis-habisan untuk menang 3-2 (1-0) atas  klub Serie B Hellas Verona, kemarin dini hari (11/1).

Bertanding di Stadion Olimpico, Roma, tuan rumah Lazio baru bisa memastikan kemenangan melalui gol playmaker asal Argentina Hernanes pada injury time. Sepakan bebasnya dari jarak 18 meter berbuah gol ketiga Lazio.

Sebelumnya, skor imbang 2-2. Lazio lebih dulu unggul 2-0 melalui gol Andre Dias pada menit ke-44 dan Tomasso Rocchi pada menit ke-57. Sayang, setelah itu Lazio mengendur dan Verona menemukan ritme permainannya.
Hanya berselang empat menit dari gol kedua Lazio, Verona memperkecil ketertinggalan melalui striker pengganti Emanuele Berrettoni. Kemudian, pada menit ke-74 Marco D’Alessandro menyamakan skor dan membuat kalut tifosi Lazio, sebelum akhirnya Hernanes jadi penyelamat.

Kemenangan itu mengantarkan mereka melaju ke perempat final Coppa Italia. Berikutnya, mereka tinggal menunggu lawan, yakni pemenang antara AC Milan dengan Novara.

Lazio sendiri merupakan tim ketiga yang memastikan diri melaju ke perempat final. Sebelumnya Juventus dan Siena sudah lebih dulu mengunci tiket. Juve menyisihkan Bologna 2-1 melalui perpanjangan waktu (8/12) dan Siena menyingkirkan Palermo melalui adu penalti (13/12).

Terlepas dari tiket lolos ke perempat final Coppa Italia, kemenangan itu juga mengakhiri paceklik kemenangan Lazio dalam tiga pertandingan sebelumnya di semua ajang. Paling parah adalah kekalahan 0-4 dari Siena pada pekan ke-17 Serie A (7/1).

“Itu kekalahan yang buruk. Saya tidak melihat Lazio yang sebenarnya di lapangan. Tetapi, kami cepat memperbaiki diri. Kami membuktikannya dengan kemenangan di Coppa Italia, meski sulit kami dapatkan,” kata Edoardo Reja, pelatih Lazio, seperti dikutip Soccernet.

Menurut dia, menurunnya performa Lazio pada akhir tahun lalu dan juga kekalahan dari Siena disebabkan menurunnya motivasi. Makanya, dengan kemenangan atas Verona itu bisa kembali mendongkrak motivasi Tomasso Rocchi dkk. (ham/jpnn)

Harga Ikan Laut Melonjak

TEBING TINGGI- Harga ikan laut mengalami kenaikan sejak sepekan terakhir disebabkan cuaca ekstrim disertai badai membuat para nelayan tidak melaut, sehingga berimbas pada penjualan ikan di sejumlah pasar tradisional.
Pantauan wartawan Sumut Pos di sejumlah pasar tradisional  di Kota Tebing Tinggi, seperti Pasar Inpres, Gambir, Senangin dan Pasar Sakti, harga ikan laut kian mahal dan hilang dipasaran karena tidak mendapatkan pasokan ikan dari agen di Sibolga.

“Laut sekarang sedang tidak bersahabat dengan nelayan, cuaca ekstrim dengan ombak yang tinggi, membuat nelayan tak melaut, jadi pasokan ikan ke Kota Tebing Tinggi berkurang, sementara kebutuhan warga tinggi,” jelas Butet, penjual ikan yang mangkal di Pasar Gambir, Kota Tebing Tinggi, Rabu (11/1).

Masih Butet, sejumlah ikan laut yang mengalami kenaikan dan susah mendapat pasokan adalah ikan tongkol, sebelumnya Rp18.000 per kilogram kini menjadi Rp25.000 per kilo, gembung kuring biasa Rp20.000 menjadi Rp30.000 per kilo, ikan dencis (klotok) biasa Rp20.000 menjadi Rp30.000 per kilo, ikan salem biasa Rp18.000 menjadi Rp25.000 per kilo. “Untuk dua hari ini, ikan jenis tuna, pari, mayung,cumi, kepiting, kakap, udang dan ikan cekalang tidak ada masuk, sementara banyak rumah makan kecewa dengan menghilangnya sejumlah pasokan ikan laut tersebut,” kata Butet.

Lanjutnya, untuk ikan jenis air tawar juga mengalami kenaikan harga seperti harga ikan lele sebelumnya Rp13.000 menjadi Rp20.000 per kilo, ikan emas biasa Rp25.000 menjadi Rp28.000 per kilo.
Sementara menurut beberapa agen penjual ikan di Pasar Gambir, kurangnya pasokan ikan laut sekarang ini disebabkan karena 80 persen pasokan ikan dari Kota Sibolga tidak masuk ke Kota Tebing Tinggi karena cuaca yang tidak mendukung. “Untuk memenuhi kebutuhan warga Tebing Tinggi akan ikan, kita memasok ikan laut dari Pagurawan, Sialangbuah, Tanjung Balai, tetapi itu belum bisa memenuhi kebutuhan ikan warga akan ikan laut,” jelas sejumlah agen ikan di pasar Gambir.(mag-3)

Bermula dari Paparan hingga Pekerjakan Ribuan Karyawan

Jalan-jalan ke Pabrik Peleburan Aluminum PT Inalum di Kuala Tanjung Batubara

Di Asia Tenggara, PT Inalum adalah the only one perusahaan yang fokus membuat aluminium. Sejak 36 tahun perusahaan ini berdiri. Konon, Malaysia tak mau kalah membangun proyek peleburan alumunium di Serawak.

SYAIFULLAH/TRIADI WIBOWO– KUALA TANJUNG

BELAKANGAN, PT Inalum memang bak naik daun. Pembicaraan menyangkut PT yang berdiri sejak 6 Januari 1976 ini bahkan melibatkan Presiden, menteri dan tentu saja orang Jepang. Ya, PT Inalum merupakan kependekan dari PT Indonesia Asahan Aluminium kini sedang dalam proses lobi-lobi tingkat tinggi. Apakah akan terus dikelola Jepang-Indonesia (Tentu dengan mayoritas saham dipegang Jepang), atau dikelola mandiri oleh bangsa ini? Untuk kenal lebih dekat, mari sejenak bicara sejarah singkat PT Inalum.

Suatu hari di awal 70-an, pemerintah menerima laporan Nippon Koei; sebuah perusahaan konsultan Jepang yang memapar laporan tentang kelaikan Proyek PLTA Asahan dan Alumunium Asahan. Laporan itu menjelaskan dua mega proyek itu layak dibangun sebuah peleburan aluminium sebagai pemakai utama dari listrik yang dihasilkan PLTA .
Tiga tahun berselang, digelar pertemuan tingkat tinggi di Tokyo untuk membahas proses pendirian dua proyek tadi. Lewat perundingan dan bantuan dan dari Jepang, Republik Indonesia plus 12 perusahaan penanam modal Jepang seperti Sumitomo Chemical Company, Sumitomo Shoji Kaisah, Nippon Light Metal, C Itoh & Co, Nissho Iwai, Nichimen, Showa Denko, Marubeni Corporation, Mitsubishi Chemical Industries, Mitsubishi Corporation, Mitsui Aluminium, dan Mitsui & Co, akhirnya menyepakati kerjasama.

Lantas 12 perusahaan tadi bersama pihak Indonesia sepakat membentuk usaha bersama di Jakarta. Nama usaha itu adalah Nippon Asahan Aluminium Co. Ltd (NAA) yang berkedudukan di Tokyo yang sah berdiri pada 25 November 1975.

Setahun kemudian, tepatnya 6 Januari 1976 NAA bersama Indonesia sepakat mendirikan PT Inalum. Inalum adalah perusahaan yang membangun dan mengoperasikan Proyek Asahan sesuai dengan perjanjian induk.

Perbandingan saham sejak awal hingga kini terus berevolusi. Awal didirikan, saham mayoritas 90 persen dipegang Jepang. Lalu sejak 1998, pembagian saham 58,88 persen (Jepang)  dan 41,12 persen (Indonesia).

Di masa itu, Inalum tercatat sebagai pelopor dan perusahaan pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang industri peleburan aluminium dengan investasi mencapai 411 miliar yen.

Hingga kini menjelma menjadi perusahaan mapan yang memiliki ribuan karyawan. Keuntungan pertahun stabil. Maka, kesempatan keliling pabrik tentu kesempatan emas. Ditemani Staf Humas, Julian Faisal menuju pabrik jaraknya sekitar 17 Km dari Komplek Perumahan Karyawan di Tanjung Gading.  (bersambung)

Pukul 09.00 WIB kami berangkat. Di pabrik, kami disambut Senior Manager Humas Ir H Subagiyo Ibnoe dan Manager Humas Moranta Simanjuntak. Dari keduanya mengalir sejumlah kisah. Tak lama di ruangan keduanya, kami diajak keliling oleh Julian Faisal. Helm dan kemeja lengan panjang wajib kami kenakan. Saftey Firts.

Darinya didapat ‘wisata pabrik aluminium’ yang kami lakoni dengan antusias. Awalnya kami menjelejah bagian luar pabrik. Yang mayoritas terlihat di sana adalah instalasi listrik. Ada juga tabung-tabung berukuran besar. Pabrik ini dibangun menghadap Selat Malaka.

Kami berkeliling naik mobil, karena luas area mencapai 200 hektar. Itupun tak semua kami jelejahi. Bahkan ada titik-titik yang kurang bersahabat dengan barang elektronik, kami enggan turun di titik itu. Pabrik ini mampu  menghasilkan rata-rata 225.000 ton aluminium per tahun. Jadi, tugas utama pabrik ini adalah mereduksi alumina (serbuk aluminium) menjadi aluminium dengan menggunakan alumina, karbon, dan listrik. Pabrik ini memiliki tiga pabrik utama yakni pabrik karbon, pabrik reduksi dan pabrik penuangan.

Yang ingin kami lihat tentu saja proses pembuatan hingga tercipta ingot aluminium. Ditemani Rahmad salah satu pengawas peleburan, kami berkesempatan melihat-lihat ingot aluminium yang siap diekspor. Beratnya mencapai 22,7 Kg per batang ingot.

Ngomong-ngomong, perusahaan ini bakal ‘free’ pada 2013. Kontrak jangka panjang pihak Jepang dan Indonesia tadi bakal berakhir tahun depan.

Proses ambil-alih tadilah yang kini jadi isu nasional. Semua pihak, apalagi karyawan pasti tahu soal ini meskipun pada kenyataannya mereka tak begitu terganggu. Geber hasil produksi maksimal; hanya itulah yang ada di benak karyawan.
“Saat ini kita masih menunggu proses itu. Kita lihat saja nanti,” kata Ibnoe singkat.

Jalan-jalan di pabrik pun berakhir. Dengan wajah sumringah, awak koran ini bersiap meliput agenda lain: Turnamen Inalum Cup 2012, yang merupakan bagian dari perayaan ulang tahun ke-36 PT Inalum. (*)

Rematch Ditonton Anak-anak

AMSTERDAM- Janji KNVB (asosiasi sepak bola Belanda) menggelar rematch alias tanding ulang Ajax Amsterdam versus AZ Alkmaar pada babak 16 besar Piala Belanda akhirnya dipenuhi. Pertandingan diulang secara penuh.
Rencananya, pertandingan itu akan dilangsungkan di Amsterdam Arena, markas Ajax, pada 19 Januari nanti. Semula akan ditutup untuk penonton, tapi KNVB akhirnya mengubah keputusannya dengan tetap membolehkan adanya penonton. Syaratnya hanya penonton anak-anak.

“Pertandingan Piala Belanda pada 19 Januari nanti di Amsterdam Arena antara Ajax dengan AZ akan disaksikan para penonton anak-anak,” begitu keterangan di situs resmi KNVB, seperti dilansir Associated Press.
“Keputusan itu diambil dengan hanya memberikan akses kepada anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun. Hal itu dilakukan agar mereka mendapatkan pelajaran secara alami tentang pertandingan sepak bola,” lanjutnya.
Berubahnya keputusan KNVB itu tidak lepas dari permintaan Ajax. Sebenarnya, mereka juga meminta agar wanita dan anak-anak yang boleh menonton, tetapi yang diloloskan hanya anak-anak. Mereka juga bisa menyaksikan laga itu gratis.

Pertandingan ulang digelar karena AZ mogok pada laga yang berlangsung 21 Desember lalu. Ketika pertandingan berlangsung 37 menit dan Ajax unggul 1-0, AZ mundur. Alasannya, karena kipernya Esteban Alvarado diusir dari lapangan.

Yang menjadi masalah, pengusiran itu bermula karena tindakan membela diri Alvarado. Semuanya bermula dari serangan seorang fans Ajax yang belakangan diketahui bernama Wesley van W ke dalam lapangan.
Fans nekat mendatangi Alvarado dan hendak menyerangnya. Dengan sigap, Alvarado juga melepas tendangan ke arah fans nekat itu. Akibatnya, fans itu terkapar dan Alvarado kemudian melanjutkan tendangannya.(ham/jpnn)

Target Jual TV Flat 1,3 Juta Unit

JAKARTA- Market televisi panel layar datar (flat panel display) dalam negeri kian gurih. Harga yang makin terjangkau mendorong konsumen memilih produk tersebut timbang televisi tabung (cathode ray tube).
Karena itu, PT LG Electronics Indonesia (LGEIN) makin serius menggarap pasar tersebut. Tahun ini, perusahaan elektronik yang berpusat di Korea Selatan itu menargetkan mampu menjual televisi panel layar datar sebanyak 1,3 juta unit.

Marketing Director PT LGEIN David Tjokro mengatakan tahun ini pihaknya akan lebih agresif untuk memperkuat penjualan televisi layar datar.

“Kami menyadari tahun ini penuh tantangan, tapi pasar diprediksi akan bergerak positif. Karena itu kami yakin bisa mencapai target pertumbuhan. Selain dari sisi produk, dengan adanya layanan purna jual kami bisa memenangkan pasar televisi layar datar,” katanya, kemarin (11/1).

Menurut data Growth for Knowledge (GfK) realisasi penjualan televisi kategori layar datar 2011 lalu sejumlah 2,496 juta unit. Sedangkan diperkirakan tahun ini mengalami peningkatan menjadi 3,718 juta unit atau mengalami kenaikan 48,9 persen.

Kategori televisi layar datar terbagi atas televisi dengan teknologi Liquid Crystal Display (LCD), Light Emitting Display (LED), Plasma TV dan 3D TV.

Tahun ini, LGEIN mematok target bisa mengambil ceruk pasar televisi layar datar sejumlah 1,3 juta unit.

Angka penjualan tersebut ditargetkan bisa mendongkrak pangsa pasar televisi layar datar menjadi 35 persen pada tahun ini. Sementara tahun lalu, mereka membukukan penjualan sebesar 800 ribu unit. Dikatakan, selama tiga tahun terakhir sejak 2009 lalu pihaknya memimpin pasar dengan market share rata-rata 30 persen tiap tahun.

Untuk memenangkan pasar, LGEIN memiliki sejumlah produk sebagai andalan di antaranya produk 3D TV dan Smart TV. Mereka menargetkan bisa menjual 6.000 unit 3D TV tiap bulan. Apalagi, GfK memprediksi pasar 3D TV akan mengalami peningkatan signifikan sampai 200 ribu unit dibandingkan tahun lalu dengan total penjualan sekitar 60 ribu unit saja. “Pencapaian tahun lalu menjadi modal bagi kami mencapai target,” tutur product manager flat panel display PT LGEIN Eko Adhi Suyitno.

Naiknya permintaan 3D TV dapat mendongkrak penjualan LED TV. Karena, LED TV sebagai basis teknologi yang diterapkan 3D TV. GfK memperkirakan penjualan LED TV bisa menyentuh 60 ribu unit tiap bulan. Dari sisi kontribusi, 3D TV bisa menyumbang penjualan terhadap LED TV sebesar 30 persen.

Kendati menetapkan target tinggi untuk penjualan televisi layar datar, pihaknya tidak melakukan penambahan investasi. “Kapasitas produksi bertambah sampai 70 persen, tapi kami tidak melakukan penambahan investasi. Karena, melakukan pengalihan line production dari televisi tabung ke LCD. Selain untuk pasar dalam negeri, penambahan ini juga untuk memenuhi pasar ekspor,” tambah Eko. (res/jpnn)

2011, Laba PTPN 3 Rp1,6 Triliun

MEDAN- Hingga akhir 2011, PTPN 3 mendapatkan laba sebesar Rp1,6 triliun (belum pajak). Perolehan laba yang diterima perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit dan karet ini, karena harga pasaran sawit dan karet yang tinggi dan produktivitas mencapai target.

“Tahun ini, laba kita sekitar Rp1,6 T sebelum dipotong pajak. Dan ini merupakan kebanggaan bagi kita, karena produktivitas mencapai target,” ujar Direktur Utama PTPN3 Amri Siregar, baru-baru ini.
Pencapaian laba tersebut, paling besar disumbang oleh sawit, dari 73.000 ha menghasilkan 23.000 ton/ha pertahun. Sedangkan dari karet, dengan lahan 24.000 ha, menghasilkan 1620 kg/ha. “Perkebunan PTPN3 mayoritas dari sawit, dengan presentasi 70 persen untuk sawit dan 30 persen untuk karet,” ujar Direktur Perencanaan dan Pengembangan, Khairul Muluk.

Dengan pendapatan laba tersebut, untuk tahun 2012 ini, PTPN3 akan menambah target hasil perkebunan, baik untuk sawit maupun karet. Untuk sawit, dengan lahan 73.000 ribu, ditargetkan dapat menghasilkan tandan buah segara (TBS) sebanyak 23.200 kg/ha. Sedangkan untuk karet, dengan luas lahan yang sama pada 2011, dapat menghasilkan karet sebanyak 1650 kg/ha.

Diakui Khairul Muluk, tidak mudah menambah produktivitas dengan luas lahan yang sama, tetapi PTPN3 optimis akan tercapai. “Kita akan memperbaiki tekhnik sadap karet, sementara untuk sawit, akan pada tahun ini (2011) kan sudah mulai ada pohon yang berbunga, jadi dipastikan menambah produksi tahun 2012,” ungkap Khairul.

Diakuinya, pendapatan laba yang diterima PTPN3 termasuk tinggi, bila dibandingkan dengan PTPN lainnya, hal ini dikarenakan harga sawit dipasaran yang stabil, didorong dengan produktifitas yang terus meningkat.
Dalam penjualanannya, PTPN3 menggunakan jasa Kantor Pemasaran Bersama (KPB) di Jakarta. Hal ini, untuk menghindari persaingan harga antara PTPN yang menanam sawit. “Kalau kita jual secara individu, nanti kita dibilang kanibal, jadi kita jual melalui jasa lelang di KPB Jakarta,” ungkap Muluk.

Selain itu, dengan sistem lelang, penjualan sawit akan lebih fair dan transparan, sehingga tidak ada monopoli harga dipasaran nasional.(ram)

Foton Bangun Lahan 100 Ha untuk Pabrik Truk

Produsen mobil asal Tiongkok, Beiqi Foton motor Co. Ltd, positif menjadikan Indonesia sebagai pusat bisnisnya untuk kawasan Asia. Selain sedang membangun kantor di kawasan Sudirman, Jakarta, pabrikan yang fokus pada kendaraan komersial itu segera membangun pabrik truk di atas lahan seluas 100 hektar.

Chief Executive Officer PT Foton Mobilindo, Hendry Marzuki, sebagai agen tunggal pemegang merek (ATPM) di Indonesia, mengatakan, pembangunan pabrik truk Foton dijadwalkan pada tahun ini juga.
“Survei sudah sejak tahun lalu, kita sudah rekomendasikan di Cikande (Banten) tapi mereka butuh 100 hektar dan akhirnya survei ke lokasi lain. Tahun ini sudah mulai dibangun,” ujarnya saat peluncuran Foto View Highroof, di Jakarta, kemarin (11/1).

Hendry enggan menyebut lokasi mana yang akhirnya dipilih prinsipal Foton, termasuk biaya investasi total untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat bisnisnya. Yang pasti, menurutnya, pabrik baru akan difokuskan kepada produksi truk-truk ringan (kategori 2) dan truk berat (kategori V) yang pasarnya dinilai terus tumbuh. “Untuk truk berat juga permintaannya masih tinggi terutama untuk pertambangan. Tahun 2010, penjualan truk Foton sebanyak 700 ribu unit, terbesar di dunia,” ungkapnya.

Sementara Thailand kebagian untuk memeroduksi Foton pick up dan double cabin. (gen/jpnn)
Sebab, kata Hendry, penjualan mobil segmen ini di sana sangat tinggi dengan market sekitar 350 ribu unit tahun lalu. “Tapi kalau market alat berat seperti truk, paling banyak di Indonesia. Cina dan Fotonnya sudah sangat serius ekspansi di sini,” tegasnya.

Tahun ini, PT Foton Mobilindo menargetkan penjualan 850 unit dari beberapa varian khususnya truk dari berbagai kategori ditambah mobil penumpang (mikrobus) Foton View Highroof yang menyasar perusahaan travel. Pada peluncurannya kemarin, Foton View Highroof mendapatkan perjanjian pembelian dari perusahaan transportasi, Trans Sulawesi, sebanyak 50 unit.(gen/jpnn)

Menata Taman Harmoni

Oleh:  Sunlie Thomas Alexander

TAMAN Jepang, kata Yasunari Kawabata dalam pidato Nobelnya 1968, “Jepang, Keindahan, dan Diriku”, mencerminkan alam yang terbentang. Lanskap taman yang tertata dengan batu-batu itu, konon menimbulkan ekspresi gunung dan sungai yang tak hadir di sana secara fisik, bahkan sugesti gelombang samudera yang pecah membentur karang. Sehingga dengan pemadatan sampai tingkat tertinggi, ia pun menjadi taman bonsai, atau bonseki, versi mini dari alam luas. Berbeda dengan taman di Barat yang cenderung simetris, taman Jepang yang asimetris, menurut Kawabata justru memiliki kekuatan lebih besar dalam melambangkan keanekaragaman dan keluasan karena sifat asimetrisnya bersandar pada keseimbangan yang ditentukan kebijaksanaan lembut.

Di sinilah, kita melihat bagaimana sebuah imaji tentang Timur yang harmonis hadir dengan agak fanatik dan bersitegang dengan modernitas Barat. Dalam Kawabata, keduanya memang seolah dua kutub yang sulit bersanding. Dan menjelma jadi apa yang dilambangkan Sanusi Pane: Timur sebagai Arjuna dan Barat sebagai Faust. Di mana sifat Barat oleh Sutan Sjahrir disimpulkan “kehidupan yang menggelora, kehidupan yang mendesak maju, kehidupan dinamis yang tak dimiliki Timur”.

Dalam karya-karya Kawabata—yang diakuinya sangat dipengaruhi filsafat Timur dan estetika Zen—kita memang selalu menemukan indahnya harmoni antara manusia, alam, dan kehampaan, bahkan bagaimana kematian disikapi dengan elok. Tentu, kehampaan di sini adalah dalam konsep Timur yang memiliki landasan spiritual berbeda dengan nihilisme Barat.

Renaisans tak hanya mengantar masyarakat Barat mencapai kemajuan sains dan teknologi yang mendorong mereka mengembangkan ekspansi dan imperialisme, tapi juga menjadikan mereka sekuler, rasional, materialis, dan pragmatis. Sementara alam Timur yang subur melahirkan manusia kontemplatif yang senantiasa menimbang sisi intuisi di balik dunia empiris. Karena itu, dalam percakapan antara Tuan Takichiro dengan anaknya Chieko tentang bunga-bunga tulip di novelnya “Ibukota Lama” (1962), Kawabata dengan lugas mengungkapkan bahwa: “Bunga-bunga dari Barat memang tampak bercahaya, tapi aku bosan melihatnya. Tentu ayah paling suka dengan rumpun bambu.”
Tentunya ini juga persoalan identitas, tatkala sebuah perjumpaan mempertajam kesadaran teritorial dalam pengertian ruang maupun kebudayaan.

Prosa Kawabata adalah sebuah sikap pertahanan ketika Barat merasa begitu yakin dengan misinya memodernkan dunia. Di sinilah tampak yang dikatakan Said dalam bukunya “Culture and Imperialism” dengan mengutip Matthew Arnold (1860) bahwa kebudayaan adalah sebuah konsep yang mencakup suatu unsur penyaring dan pengangkat, gudang terbaik yang dimiliki setiap masyarakat yang telah dikenal dan dipikirkan. Ia berfungsi meredakan, sekaligus menetralkan kerusakan-kerusakan eksistensi urban yang modern, agresif, berbau dagang dan kejam.

Tapi pasca Perang Dunia II, Jepang—menyitir Kenzaburo Oe—terbelah menjadi dua kutub ambiguitas saling berlawanan setelah modernisasinya mengarah kepada pembelajaran dan peniruan modernisasi ala Barat. Kondisi inilah yang syahdan memicu pengarang Jepang lainnya Yukio Mishima melakukan seppuku pada 1970. Jepang, menurut Mishima, telah tenggelam dalam rutinitas politik dan ekonomi modern, tanpa keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan. Konon modernisasi ala Barat memudarkan rasa keindahan dan kepekaan manusia terhadap alam dalam masyarakat tradisional Jepang, membuat kebudayaannya kehilangan harmoni di tengah kemakmuran.

Kawabata bicara tentang ilmu kebatinan unik yang tak hanya dimiliki alam pemikiran Jepang, namun alam pemikiran bangsa Timur yang lebih luas dengan kecenderungan ke arah Zen Buddhisme. Tentang bagaimana sajak para biarawan Zen Abad Pertengahan secara intens mengekspresikan alam, pergantian musim, dan hubungannya dengan tradisi upacara minum teh.

Ia mengajak kita merenungi kembali nilai-nilai Asia, juga ragam khazanah klasik Timur yang meletakkan harmoni sebagai dasar epistemologinya dalam upaya menjaga keseimbangan antara Langit dan Bumi, yang di sini berarti kedamaian hakiki. Contohnya, ilmu medis tradisional Cina yang menggunakan konsep yin-yang dengan lima unsur alam untuk mendiagnosa penyakit.

Sehingga kita mafhum, kenapa di tengah kemajuan, modernitas, dan rasionalitasnya, Singapura mencoba menghidupkan ruh Konghuchu sebagai tindakan strategis menghadapi efek samping modernisasi yang mengancam dengan bayang-bayang masa depan tanpa rohani dan hati.

Bagaimana dengan kebudayaan Indonesia yang notabene juga memiliki konsep harmoni dalam kosmologinya? Jika berpaling ke masa lalu memang merupakan salah satu strategi paling umum untuk menafsirkan masa kini, adakah kita harus menoleh pada masa Majapahit atau Sriwijaya yang berhasil membangun kejayaan negeri maritim? Atau cukup puas masih memelihara ritual melarungkan sesajen ke Laut Kidul sebagai semacam syarat memelihara harmonisasi dengan alam?

Kita barangkali masih punya taman untuk ditata ulang lagi. (*)

Sunlie Thomas Alexander, Cerpenis dan Periset Parikesit Institute Yogyakarta

Wapres Nilai Sektor Pertanian Stagnan

JAKARTA – Wakil Presiden Boediono menilai sektor pertanian di Indonesia mengalami kemunduran sejak tahun 2000-an dan cenderung stagnan akhir-akhir ini. Padahal anggaran yang disalurkan pemerintah untuk menunjang sektor vital ini terus meningkat setiap tahun.

“Sejarah kemajuan bangsa-bangsa di dunia ini, terutama dalam bidang ekonomi, jelas-jelas bertumpu pada kemajuan dan keberlanjutan produktivitas pertanian,” ujar Wapres Boediono saat membuka Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian 2012 kemarin (11/1).

Wapres menyebutkan, pada periode 1970-an hingga 1990-an, sektor pertanian Indonesia menunjukkan peningkatan produktivitas rata-rata sebanyak 2,4 persen per tahun.

“Peningkatan ini diperoleh dari peningkatan sejumlah input seperti peningkatan luas lahan, peningkatan penggunaan pupuk dan hal-hal penunjang lain yang digerakkan bersama-sama selama dua dasawarsa,” ungkapnya.
Namun, lanjutnya, menjelang akhir 1990 an, tren ini membalik dengan penurunan produktivitas rata-rata sebesar 0,6 persen setahun yang terjadi hingga 2001. Tren yang terjadi setelah itu adalah stagnasi atau malah menurun atau naik hanya sesekali.

“Padahal, dari segi anggaran pendukung pemerintah yang dikeluarkan untuk sektor pertanian sesungguhnya justru telah meningkat pesat dari tahun ke tahun,” cetusnya.(wir/jpnn)