30 C
Medan
Thursday, January 22, 2026
Home Blog Page 14022

Aceh Diobok-obok, Mirip Masa DOM

Polda Kejar Pemesan Senjata

LHOKSEUMAWE-Kasus penembakan di Aceh hingga ditangkapnya penyelundupan senjata mencuatkan beragam pernyataan. Prediksi, analisis, hingga wacana muncul. Kasus belum selesai, teror lain malah muncul.
Terbaru, tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (Sutet) LSW-IDI 354, di Desa Matang Sijuek Barat, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara mendadak tumbang.

Menara tersebut digergaji oleh orang tak dikenal (OTK), Minggu (8/1) dini hari sekira pukul 02.30 WIB. Akibat kejadian ini, suplay listrik dari Belawan-Sumatera Utara ke sebagian pelanggan PLN di tujuh kabupaten/kota jadi terganggung.

“Sekarang barang bukti itu sudah kita amankan di Polres Aceh Utara.  Selain barang tersebut, di lokasi yang berlumpur juga terlihat jejak kaki yang diduga milik para pelaku. Pelaku kita duga lebih dari satu orang,” terang Kasat Reskrim Polres Aceh Utara AKP Marzuki kepada Rakyat Aceh (grup Sumut Pos).

Aksi brutal tersebut, dinilai oleh seorang warga saat melihat kondisi tower yang berada di pertengahan tambak petani merupakan tindakan menyengsarakan umat. “Ini ada upaya mengobok-obok Aceh seperti masa darurat militer (DOM, Red) dahulu. Tentu saja imbasnya terhadap perekonomian masyarakat terganggu, terutama yang berada di pedesaan akibat arus listrik lumpuh total,” cecar Mursidin dengan nada gemas.

Akibat tumbangnya tower interkoneksi yang berjarak  40 km arah barat Kota Lhokseumawe  atau 10 km arah utara ibu kota Aceh Utara, Lhoksukon, secara langsung masyarakat dari Panton Labu hingga Banda Aceh, mengalami gangguan.
“Untuk memperbaiki secara darurat tower yang tumbang ini paling tidak memerlukan waktu seminggu. Dan, biaya satu tower pun cukup mahal yaitu mencapai satu miliar,” jelas pihak PLN cabang Lhokseumawe, ranting Geudong, M Nasir.

Sementara itu, sebanyak 35 warga Jawa yang bermukim di Aceh memilih pulang kembali ke kampung halaman mereka. Ke-35 warga Kebumen, Jawa Tengah itu tiba di pool bus PMTOH di Ring Road, Medan. Selanjutnya, ke-35 warga Kebumen, Jawa Tengah itu kembali ke kampung halamannya di Kebumen, Jawa Tengah, pada pukul 10.00 WIB kemarin.

“Saya dan beberapa teman-teman di Aceh tinggal di Pango Raja dan saya sudah tinggal tiga bulan di Aceh. Kami terpaksa mengundurkan diri untuk sementara waktu menunggu keadaan di Aceh kembali tenang. Saya sehari-harinya bekerja sebagai kernet bangunan di sana,” kata Daryono (33).

Warkum (36), warga Sempor, Kebumen, Jawa Tengah ini juga mengatakan hal serupa. Warkum mengaku, bahwa yang ditembak itu kebanyakan warga Banyuwangi. “Kami berada di Aceh untuk mengerjakan proyek pembangunan gedung kantor kecamatan di Ulee Kareeng, Banda Aceh,” tuturnya.

Suyono (56), warga Dusun Candirenggo, Kebumen, Jawa Tengah juga menyuarakan isi hatinya. Mereka terpaksa memilih pulang demi keamanan dan kenyamanan, situasi di Aceh sudah tidak kondusif lagi. “Kita senang bisa tiba di Medan ini dengan selamat. Kita memilih pulang karena takut menjadi korban penembakan di Aceh,” tegasnya.
Menyikapi berbagai masalah di Aceh, analis politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Warjio kepada Sumut Pos menyatakan, apa yang terjadi merupakan ajang mencari keuntungan dari pihak-pihak tertentu. “Ini harus segera diungkap, jangan sampai menjadi hal yang merugikan bagi kelompok tertentu kendati ini sudah menjadi rahasia umum dari yang lalu-lalu,” ulasnya.

Warjio juga menilai, kepentingan yang sarat dalam insiden berdarah di Aceh ini, tidak terlepas dari akan segera diselenggarakannya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Aceh beberapa waktu ke depan.

Sehingga, ada kelompok-kelompok yang mencari-cari isu yang kemudian dicuatkan sehingga menjadi perhatian publik. Kemudian, orang-orang yang memainkan isu mendapat keuntungan dari insiden yang sengaja diciptakan itu.
Selain itu pula, untuk mengungkap kejadian itu, sambungnya, bukan hanya menangkap pelaku di belakang layar sekaligus pelaku penembakannya saja, tapi juga meredam perederan senjata api ilegal di Aceh yang sangat marak, dimana pasokannya juga dari sejumlah daerah seperti Malaysia, Filipina termasuk juga dari Sumut.

“Ini juga harus segera diungkap. Semuanya ada aktornya. Kita minta pemerintah segera menuntaskan kasus ini, jangan berlarut-larut dan jangan sampai nantinya merugikan kelompok atau etnis tertentu,” tegasnya.

AC Manullang: Ada Permainan CIA

Pengamat intelijen DR AC Manullang menilai, kasus penembakan beruntut yang terjadi di Aceh dilatarbelakangani sejumlah persoalan. Menurut mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) itu, ada sejumlah kemungkinan terkait siapa aktor yang bermain di belakang masalah ini.

Pertama, dilihat masih tampaknya faksi yang terdapat di tubuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Besar kemungkinan terjadi gejolak di Bumi Serambi Mekkah ini merupakan bentuk pertarungan antara faksi GAM yang tetap kukuh menghendaki Aceh Merdeka, dengan faksi yang sudah menerima model otonomi khusus.

“Jadi, ini masih ada kaitannya dengan MoU Helsinki. Pertarungan antara GAM lama yang maunya merdeka, dengan GAM baru yang menerima otonomi khusus. Irwandi Yusuf itu GAM baru yang menerima otonomi khusus Aceh,” ujar AC Manullang saat dihubungi Sumut Pos, Minggu (8/1).

Kemungkinan kedua, berdasarkan pengamatan AC Manullang, intelijen asing yakni Central Intelligence Agency (CIA), ikut mendompleng persoalan yang muncul di Aceh. Menurutnya, AS selalu memainkan isu-isu yang berbau Islam untuk menguji panas dinginnya politik di Indonesia.

Menurut Manullang, mulai dari benturan jamaah Ahmadiyah dengan warga di Cikeusik, hingga persoalan konflik pembakaran Ponpes Syiah di Madura, merupakan bagian dari permainan CIA. “Islam diadu dengan Islam, termasuk di Aceh yang selalu diisukan akan menjadi negara Islam di Indonesia. Jadi, saya mohon rakyat Aceh sadar, tidak mudah terpancing,” ujarnya.

Pola penyusupan intelijen CIA ini, lanjutnya, sudah menggunakan penduduk setempat untuk menggerakkan operasinya. Para penyelundup senjata, termasuk yang tertangkap di Langkat, menurut Manullang, juga diatur oleh intel asing. “Penyelundup-penyelundup itu diatur oleh mereka. Operasi intelejin asing ini menggunakan penduduk setempat, bahkan tidak tertututup kemungkinan orang-orang dari Jakarta. Mereka terlatih, bukan orang-orang sembarangan, terorganisir rapi,” urainya.

Kemungkinan ketiga, yang kait-mengkait dengan kemungkinan pertama dan kedua, adalah urusan politik di dalam negeri. Manullang mensinyalir, ada kekuatan politik yang menjadikan Aceh sebagai barometer untuk mengukur tensi politik di tanah air. “Ini daerah dijadikan daerah percobaan, bisa panas, bisa dingin. Ini urusannya pemilu 2014, sekarang sudah 2012. Aceh dijadikan kuda troya,” katanya.

Manullang menampik kemungkinan oknum petinggi militer ikut bermain dengan tujuan ada anggaran untuk operasi pengamanan. “Bohong itu, tidak mungkin militer. Bohong, karena Aceh itu strategis,” cetusnya.

Polda Kejar Pemesan Senjata

Sementara itu, tertangkapnya 2 pria penyelundup senjata api ilegal di Langkat, Sumatera Utara, akan dikembangkan pihak Polda Aceh yang bekerjasama dengan Poldasu. Seorang pelaku disinyalir sebagai pemesan senpi tersebut sedang dilacak. Menurut Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Gustav Leo, petugas telah berkoordinasi untuk mengejar kawanan pemesan senpi di Wilayah Aceh Timur. “Kami sedang menyelidiki dan mendalami serta mengejar, seseorang yang dikatakan kedua tersangka penyelundupan senjata api ilegal itu. Ada yang memesannya dari Aceh Timur,” tukasnya kepada Metro Aceh (grup Sumut Pos).

Disinggung apakah dua orang yang diduga menyelundupkan senjata, ada kaitannya dengan rentetan aksi penembakan brutal di sejumlah tempat di Aceh, Kabid Humas Polda Aceh belum bisa memastikan keterlibatan tersebut.
Dikatakannya lagi, kedua tersangka yang membawa dua pucuk senjata dan 18 butir peluru yang tertangkap tangan oleh kepolisian Langkat, tidak dipindahkan atau dikirim ke Polda Aceh. Pasalnya, ujar Gustav Leo, lokasi penangkapan di Sumut, jadi pemeriksaan dan proses hukumnya juga di daerah tersebut.

Hanya saja, ucapnya, pihaknya akan membantu Poldasu mengejar seseorang yang memesan senjata dari kedua tersangka. Selain itu, tetap menyelidiki dan menindaklanjuti apakah keduanya memiliki keterkaitan dengan sejumlah aksi kekerasan menggunakan senjata api, dua bulan terakhir ini. (agt/ung/ian/jpnn/sam/ari/jon)

AC Manullang:  Ada Permainan CIA

Pengamat intelijen DR AC Manullang menilai, kasus penembakan beruntut yang terjadi di Aceh dilatarbelakangani sejumlah persoalan. Menurut mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) itu, ada sejumlah kemungkinan terkait siapa aktor yang bermain di belakang masalah ini.

Pertama, dilihat masih tampaknya faksi yang terdapat di tubuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Besar kemungkinan terjadi gejolak di Bumi Serambi Mekkah ini merupakan bentuk pertarungan antara faksi GAM yang tetap kukuh menghendaki Aceh Merdeka, dengan faksi yang sudah menerima model otonomi khusus.

“Jadi, ini masih ada kaitannya dengan MoU Helsinki. Pertarungan antara GAM lama yang maunya merdeka, dengan GAM baru yang menerima otonomi khusus. Irwandi Yusuf itu GAM baru yang menerima otonomi khusus Aceh,” ujar AC Manullang saat dihubungi Sumut Pos, Minggu (8/1).

Kemungkinan kedua, berdasarkan pengamatan AC Manullang, intelijen asing yakni Central Intelligence Agency (CIA), ikut mendompleng persoalan yang muncul di Aceh. Menurutnya, AS selalu memainkan isu-isu yang berbau Islam untuk menguji panas dinginnya politik di Indonesia.

Menurut Manullang, mulai dari benturan jamaah Ahmadiyah dengan warga di Cikeusik, hingga persoalan konflik pembakaran Ponpes Syiah di Madura, merupakan bagian dari permainan CIA. “Islam diadu dengan Islam, termasuk di Aceh yang selalu diisukan akan menjadi negara Islam di Indonesia. Jadi, saya mohon rakyat Aceh sadar, tidak mudah terpancing,” ujarnya.

Pola penyusupan intelijen CIA ini, lanjutnya, sudah menggunakan penduduk setempat untuk menggerakkan operasinya. Para penyelundup senjata, termasuk yang tertangkap di Langkat, menurut Manullang, juga diatur oleh intel asing. “Penyelundup-penyelundup itu diatur oleh mereka. Operasi intelejin asing ini menggunakan penduduk setempat, bahkan tidak tertututup kemungkinan orang-orang dari Jakarta. Mereka terlatih, bukan orang-orang sembarangan, terorganisir rapi,” urainya.

Kemungkinan ketiga, yang kait-mengkait dengan kemungkinan pertama dan kedua, adalah urusan politik di dalam negeri. Manullang mensinyalir, ada kekuatan politik yang menjadikan Aceh sebagai barometer untuk mengukur tensi politik di tanah air. “Ini daerah dijadikan daerah percobaan, bisa panas, bisa dingin. Ini urusannya pemilu 2014, sekarang sudah 2012. Aceh dijadikan kuda troya,” katanya.

Manullang menampik kemungkinan oknum petinggi militer ikut bermain dengan tujuan ada anggaran untuk operasi pengamanan. “Bohong itu, tidak mungkin militer. Bohong, karena Aceh itu strategis,” cetusnya. (sam)

Duel Klasik

PERSIB vs PSMS

BANDUNG-PSMS Medan terakhir kali bertemu dengan Persib Bandung di ajang Liga Super Indonesia 13 Mei 2009 lalu. Persib yang bertindak sebagai tuan rumah unggul 2-0 atas tim PSMS Medan. Setelah itu, Persib dan  PSMS tak pernah lagi bertemu karena PSMS Medan terdegradasi ke Divisi Utama PSSI.

Tapi, pertemuan klasik tim sejak era perserikatan itu kembali tersaji kembali di ajang Indonesian Super League (ISL), di Stadion si Jalak Harupat Soreang, Bandung, Senin (9/1) petang nanti.

Kepercayaan tinggi skuad PSMS memang sedang menyala pasca sukses menahan imbang Pelita Jaya di laga sebelumnya. Tapi, ada yang menganggu yakni terlambatnya pembayaran gaji pemain. Selain itu PSMS juga baru kehilangan dua andalannya Arie Supriatna dan Zainal Anwar, karena akumulasi kartu kuning.

Namun Arsitek PSMS asal Malaysia Raja Isa, selalu menganggap hal itu bukan masalah besar. Pengganti kedua pemain sudah dibebankan kepada striker muda, Yoseph Niko Ostaniko.

“Kehilangan dua pemain tak boleh jadi suatu masalah. Sepak bola adalah kerja tim, dan di PSMS semua pemain siap kapan saja diturunkan,” beber Raja Isa.

Raja Isa juga mengaku sudah meracik taktik khusus untuk meredam aksi tuan rumah. Taktik ini dianggapnya bakal mengejutkan sekaligus membuyarkan sistem permainan moderen Maung Bandung.

“Seperti sering disebut-sebut banyak orang, sistem permainan Persib selama ini cenderung monoton. Tapi memang itulah sistem sepakbola moderen yang bisa diterapkan Drago Mamic di Persib. Persib nggak mungkin main kayak Persipura,” ujar Raja Isa di sela-sela latihan di Stadion Si Jalak Harupat, Minggu (8/1).

Soal seperti apa taktik yang disiapkannya buat menghadang Maung Bandung, Raja Isa enggan membeberkan secara terperinci dengan alasan sangat tergantung pada dinamika permainan di lapangan besok. Memang, kata dia, formasi dasar permainan Ayam Kinantan, julukan PSMS, tak jauh berbeda dengan Persib yakni sekitar 4-4-2 dan 4-2-3-1.
“Tapi prakteknya nanti seperti apa sangat tergantung pada perkembangan di lapangan. Pemain yang bisa menyerang ke depan juga nanti bisa siapa saja,” katanya.

“Jadi karena saya ini pelatih kampung, besok (hari ini) juga saya siapkan permainan total footbal kampung. Tak penting permainan cantik, hasil (skor) akhir lebih penting,” ujarnya.

Raja Isa melanjutkan, dia sudah menginstruksikan agar anak asuhnya tampil sabar dan lepas, tapi tetap konsentrasi penuh menjalankan taktik pelatih selama 90 menit pertandingan.

Raja Isa pun optimistis anak-anak Medan bakal mampu meredam aksi para pemain kunci Maung seperti Miljan Radovic, M Ilham, Airlangga, juga Moses Saakyi. Raja Isa juga menambahkan, secara kualitas anak asuhnya di bawah pemain Persib yang bertabur bintang. Belum lagi pendukung fanatik Bobotoh yang mengganggap PSMS seteru abadi tentu akan memberikan tekanan mental bagi Markus Horison dan kawan-kawan. Meski kualitas pemain Persib rata-rata di atas pemain PSMS, Raja Isa yakin tim kebanggaan warga Medan itu akan membuat kejutan di kandang Persib.

Sementara bagi Maung Bandung melawan PSMS akan menjadi ajang pembuktian kualitas permainan.
“Pertandingan besok (hari ini, Red) harus maksimal karena kemarin hanya 1 gol dari 17 peluang yang ada. Persib harus membuktikan bahwa kita bisa menang besok,” ungkap Pelatih Persib, Drago Mamic kepada wartawan, Minggu (8/1).
Tapi, Persib bakal timpang karena pemain andalannya Zulkifli Syukur terpaksa absen akibat akumulasi kartu. Sehingga Drago Mamic memutuskan untuk menurunkan Muhammad Nasuha.

“Saya mencoba mengganti posisi Zulkifli dengan Nasuha untuk di sebelah kiri. Ini tentu akan mengubah pola permainan tapi saya yakin mereka bisa kompak bermain,” ungkap Mamic.

Keputusan wasit sangat berpengaruh terhadap permainan. Apalagi untuk pertandingan melawan PSMS Medan yang terkenal dengan permainan kerasnya.

“Pertandingan itu harus diikuti dengan trik bila mereka memang memiliki permainan keras,” tambahnya.
“Target kami jelar meraih point penuh pada pertandingan besok (hari ini, Red), dan kami sudah menyiapkan strategi untuk mengatasi karakter permainan PSMS,” pungkas Drago Mamic.

Dari rekor pertemuan di ajang kompetisi sepakbola tertinggi di tanah air, tim Maung Bandung masih unggul atas tim Ayam Kinantan. Sejak pelaksanaan Liga Indonesia pertama tahun 1995 (saat itu masih bernama Divisi Utama) hingga 2009 saat liga bernama Liga Super Indonesia (LSI), Persib Bandung bertanding sebanyak 22 kali menghadapi tim PSMS Medan. Dari total pertemuan di liga tersebut, Persib membukukan tujuh kali kemenangan, 9 kali hasil seri dan enam kali kalah atas PSMS. (ful/rbd/jpnn)

Menghibur dan Penuh Tawa

Minggu Sehat bersama Sumut Pos

MEDAN-Program Minggu Sehat bersama Sumut Pos kembali digelar, Minggu (8/1). Kali ini kawasan yang dipilih adalah Lapangan Reformasi, Desa Bandar Klippah, Kecamatan Percut Seituan.

Tepat pukul 06.30 WIB, lantunan musik pengiring senam dalam program tersebut dibunyikan. Masyarakat setempat yang datang satu per satu atau pun bergerombol, langsung membuat barisan untuk mengikuti gerakan-gerakan senam yang dipandu instruktur senam dari Sumut Pos yakni Mei Lan, Eci dan Wiwik.

Tahapan-tahapan senam dari pemanasan, senam utama hingga  pendinginan diikuti dengan antusias oleh para peserta senam tersebut. Ketiga instruktur senam yang memandu terlihat atraktif dan interaktif sehingga suasana semakin meriah.

Buktinya, Camat Kecamatan Percut Sei Tuan Darwin Zein Harahap SSos dan Kepala Desa Bandar Klippah Suripno SH, larut dalam gerakan-gerakan senam yang dipandukan ketiga instruktur tersebut.

Selain itu, puluhan anak-anak Sekolah Sepak Bola (SSB) Garuda juga turut larut dalam irama senam tersebut, sebelum mereka menggelar latihan rutin di lapangan itu. Warga-warga yang tengah berseliweran melintasi Jalan Besar Tembung, juga banyak yang tiba-tiba berhenti dan menonton kegiatan tersebut.

Sesekali gelak tawa pecah, manakala peserta senam sehat Sumut Pos yang juga disponsori Asosiasi Instruktur Senam dan Fitnes (ASIAFI) Sumatera Utara, Durol, Holtis Care, Akademi Kebidanan Delima, Kumbang Mas Elektronik, Sindo Radio, Asiafi Sumut, Radio Dangdut Indonesia, dan Radio Sonya FM tersebut, ketika instruktur senam menunjukkan  gerakan-gerakan goyang pinggul.

Terutama saat sesi pendinginan, yang dibarengi lantunan musik dangdut berjudul Pacar Lima Langkah. Para peserta senam terlihat senyum-senyum dengan teman yang di samping mereka. Begitu pula dengan para Mahasiswa Akademi Kebidanan (Akbid) Delima Bandar Klippah, yang tampak malu-malu mengikuti gerakan senam berlatar musik dangdut tersebut. “Malu-malu orang itu,” ucap panitia, Adnan C Nainggolan.

Terlepas dengan suasana yang meriah itu, pada kesempatan itu Adnan menuturkan, selain kegiatan senam, acara tersebut juga dimeriahkan lucky draw seperti handphone, kompor gas, blender, dispenser, sertika dan lainnya. Untuk mendapatkan hadiah undian tersebut, peserta diwajibkan untuk mengisi formulir Minggu Sehat Sumut Pos dan meletakkannya ke kotak undian yang telah disediakan.

“Camat Percut Sei Tuan sangat antusias dengan kegiatan ini, dan terus menghadiri acara senam sehat hingga yang ketiga kali ini. Kita mengucapkan terima kasih atas apresiasi aparat pemerintahan kecamatan dan desa, “ ungkap Adnan.

Dikatakannya, even kali ini, Camat Percut Sei Tuan Darwin Zein Harahap SSos memberikan sebuah handphone untuk dibagikan dalam tahapan undian seusai kegiatan senam tersebut. “Sekali lagi, kita panitia berterimakasih atas perhatian aparat pemerintahan kecamatan dan desa,” cetusnya.

Sementara itu, salah seorang instruktur senam Mey Lan kepada Sumut Pos menyatakan, kegiatan-kegiatan seperti ini sepatutnya menjadi rutinitas. Karena sangat memberi banyak manfaat, terutama bagi kesehatan masyarakat.  “Sebaiknya rutin dilakukan dan juga digelar di daerah-daerah lain. Karena ini sangat bermanfaat, untuk kesehatan masyarakat,” katanya yang didampingi teman instrukturnya, Eci.(ari)

Sandal, Polisi, Monyet

Oleh: H Affan Bey Hutasuhut
Wakil Pemimpin Umum Sumut Pos

Ketika musibah anak maling sandal di Palu berguncang keras,  kupikir polisi di negeri ini pada meriang berat. Soalnya , khalayak yang serempak mencibir polisi cukup keras mencerca. Masak hanya mencuri sandal mesti ke pengadilan. Entah siapa punya pun sandal itu, mestinya didamaikan sajalah. Jangan korbankan masa depan anak.

Kecaman yang berkumandang dari berbagai pelosok negeri masuk akal. Celakanya, belum lagi reda kasus sandal,  entah karena pekak, masalah ini tetap saja dianggap kecil sampai gak kelihatan tuh oleh sejumlah polisi.

Kali ini Fahmi djadikan pula tersangka oleh Polresta Medan. Anak berusia 12 tahun itu diadukan Iptu Hutajulu, ayah lawannya berkelahi belum lama ini.  Ali Nur ayah Fahmi pun panas dingin. Dia berang karena ayah anak itu dituduhnya ikut ikutan memukul anaknya. Sudah itu dijadikan lagi tersangka. Iptu Hutajulu dan anaknya pun dilaporkan juga ke polisi.

Belakangan polisi menganjurkan kedua belah pihak untuk berdamai. Langkah ini sudah benar, cuma terdengar sumbang. Kalau sejak awal polisi arif, patutkah anak-anak berkelahi dijadikan tersangka dan kemudian dipidana. Anak-anak itu biasa berkelahi dan habis itu tertawa-tawa.

Kalau polisi dan jaksa begitu gampangnya membawa kasus ini  ke meja hijau, bakal sesak anak-anak di kursi pesakitan dan sebaliknya sepi bangku sekolah. Hampir tiap hari anak-anak berkelahi.

Seorang mantan hakim di Pengadilan Negeri Tarutung pernah membuat vonis yang menyejukkan hati. Sang hakim memvonis mengembalikan seorang anak siswa SD untuk dibina oleh orangtuanya. Padahal anak itu terbukti membunuh ayah kandungnya di Pangururan Samosir di pengujung 1980 lalu.

Musibah itu berawal saat sang ayah pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Rupanya begitu istrinya membuka pintu, entah apa pasalnya marah-marah. Kendati istrinya diam, tapi kelakuan si ayah makin garang. Dia memukuli istrinya seraya mengomel.

Tak tahan dipukuli, sang istri berlari keluar rumah di malam gulita. Di sinilah musibah terjadi. Saat istrinya hendak di dorong ke tepi lembah, si anak segera bergegas mengambil pisau di dapur dan seketika itu pula menikam ayahnya hingga tewas.

Bagi sang hakim, anak itu memang terbukti membunuh ayahnya. Tapi itu dilakukan secara spontanitas dan didorong oleh kecintaan kepada ibunya yang sering dianaya oleh sang ayah. Apalagi, malam itu memang terancam jiwa ibunya kalau sampai jatuh terlempar.

Makanya, ketika jaksa menuntut anak itu empat tahun menjadi anak Negara, hakim berbeda pendapat. Dia tak menangkal kalau anak dibina menjadi  Anak Negara itu bisa berhasil. Tapi dia lebih yakin, bahwa hanya orang tua lah yang paling tepat untuk mendidik anak-anaknya.

Nah, lho. Gak usah ngototlah membawa anak berkelahi ke pengadilan. Sebaiknya polisi lebih baiklah bertugas. Ada yang bilang, semakin tinggi monyet naik di pohon, semakin kelihatan pula bokongnya. (*)

Mafia BBM Bakal Mengganas

JAKARTA-Kebijakan pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi diprediksi bakal memberikan peluang bagi para mafia BBM untuk mengeruk keuntungan. Di sisi lain, para pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bakal semakin pening.

Anggota Komisi VII DPR Dewi Aryani Hilman menyatakan, selama ini saja pemerintah tidak mampu mengatasi para mafia BBM.  “Pengusaha (SPBU) yang mendapatkan margin dari BBM bersubsidi pas-pasan akan makin mengalami kemunduran. Akibatnya pelayanan kepada rakyat tentunya akan terabaikan. Belum lagi mengatasi para mafia BBM yang hingga kini tidak ditangani dengan serius. Masih saja dimana-mana terjadi kebocoran,” terang Dewi Aryani kepada koran ini di Jakarta, kemarin (8/1).

Seperti diberitakan, pemerintah berencana menghapus penggunaan BBM bersubsidi bagi kendaraan pribadi. Konsekuensinya, pengusaha SPBU harus membangun tangki dan fasilitas khusus BBM nonsubsidi.Penasehat Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Sumut, Datmen Ginting, menyebutkan, minimal butuh Rp600 juta untuk membangun tangki khusus ini.

Menurut Ginting, bila kebijakan ini diberlakukan justru berpotensi menimbulkan masalah baru. Selain karena harga BBM nonsubsidi yang mahal dan stok yang tidak tersedia di semua SPBU, BBM bersubsidi masih tetap beredar di masyarakat. BBM bersubsidi yang khusus diperuntukkan bagi angkutan dan jasa, sangat mungkin diselewengkan oknum tertentu dan dijual ke pemilik mobil pribadi dengan harga yang sedikit lebih mahal.

Dewi menyebut, penyelewengan dalam skala besar bakal dilakukan mafia BBM. Kekhawatiran ini, menurut politisi dari PDI Perjuangan itu, didasarkan pada kinerja Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) yang masih buruk.

“Peran BPH Migas yang seharusnya menjalankan fungsi distribusi dan pengawasan saya lihat belum maksimal. Komite BPH Migas yang baru belum mulai bekerja sementara BPH yang lama meninggalkan banyak masalah yang tidak teratasi,” ujar kandidat Doktor Administrasi Kebijakan Publik dan Bisnis, Universitas Indonesia (UI) itu.

Menurut Dewi, pemerintah tidak menghitung secara cermat risiko-risiko yang akan muncul dari kebijakan ini. Padahal, ujung-ujungnya rakyat yang akan menjadi korban kebijakan serampangan.

“Kearifan pemerintah saat ini ibarat barang langka, makin dibutuhkan makin nggak bisa didapat. Lagi-lagi rakyat sebagai korban, yang seharusnya rakyatlah yang harusnya diprioritaskan mendapatkan pelayanan. Birokrasi yang melayani belum terwujud di negeri tercinta ini,” ujar perempuan yang juga Duta Gerakan Birokrasi Bersih itu.

Hal senada juga disampaikan pengamat ekonomi di Medan, Parulian Simanjuntak. “Jika kebijakan ini diterapkan, praktik kecurangan bisa merajalela bila tidak adanya pengawasan ketat. Contoh kecilnya, warga yang memiliki dua unit mobil pribadi satu diantaranya tahun pembuatan 2005 ke bawah bisa mengisi penuh tangkinya, kemudian diambil untuk mengisi tangki mobil tahun pembuatan 2005 ke atas. Segala modus terkecil harus diantisipasi,” sebutnya.

Untuk memudahkan pengawasan, kata Parulian, pemerintah dalam hal ini Pertamina harus memiliki data kendaraan roda empat sebelum kebijakan itu berjalan. “Masalahnya bisa tidak Pertamina melakukan hal itu sebelum kebijakan ini dijalankan,” ungkapnya.

Sementara, soal pembatasan BBM bersubsidi langsung mendapat kecaman dari anggota DPRD Sumut Fraksi Golkar Richard Eddy M Lingga. “Peraturannya membingungkan karena tidak disertai klasifikasi yang jelas. Paradigma di masyarakat, yang memiliki mobil adalah orang kaya. Nah, batasan orang kaya di sini tidak jelas,” katanya.

DPRD Sumut lainnya, Arifin Nainggolan, malah menganggap pemilik mobil diwajibkan menggunakan pertamax daripada bensin adalah hal yang baik dan semestinya sudah diberlakukan dari waktu-waktu lalu. Bahkan, menurutnya, semua mobil dinas pemerintahan sebaiknya menggunakan pertamax. Bagaimana dengan para anggota dewan? Saat ditanya itu, dengan tertawa terbahak-bahak, Arifin Nainggolan juga menegaskan, para anggota dewan dari semua hirarki yang ada baik DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Tingkat I dan DPR RI harus pakai pertamax. (sam/uma)

Dari Bogor Butuh 18 Jam Sampai di Medan

Mayor Penerbang Sonny, Pilot Helikopter Basarnas untuk Pemprovsu

Hidup berpindah-pindah dan meninggalkan keluarga memang sudah menjadi risiko prajurit. Seperti yang dialami Mayor Penerbang (Pnb) Sonny, gara-gara helikopter milik Badan SAR Nasional (Basarnas) berpindah tangan ke Pemprovsu, dia pun harus tinggal di Medan selama sebulan.

Ari Sisworo, Medan

Kehadiran Sonny di Medan diawali oleh kesepakatan yang dibuat Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho dengan Basarnas. Dari kesepakatan itu, Pemprovsu mendapatkan sebuah helikopter Bo-105 No Registrasi HR 1519 buatan Jerman sebagai sarana pendukung manakala terjadi bencana di wilayah Sumut.

Masalahnya, helikopter tak mungkin terbng tanpa awaknya. Nah, untuk itulah Sonny hadir di Medan. Selain Sonny, co pilot Lettu Pnb Boy Nanang, engineer Peltu Asep DH, dan avionic Sertu Hadi P juga turut hadir. Mereka berempat berasal dari Lapangan Udara (Lanud) Atang Senjaya, Bogor.

Sonny ketika ditemui Sumut Pos di Mess Pemprovsu, Jalan T Daud Medan, Jumat (6/1), sekira pukul 16.00 WIBn

terlihat segar bugar. Berbalut kaus warna hijau yang sering dikenakan tentara dan celana ponggol jins warna biru dongker, Sonny ramah menyambut. Pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah, 26 Mei 1977 silam ini pun langsung mempersilahkan Sumut Pos untuk duduk di kursi yang tersedia di depan kamarnya.
“Ooh, silahkan mas,” sambutnya.

Pelan namun pasti, perbincangan mulai dibuka. Berawal dari kedatangannya dengan menerbangkan heli Basarnas dari Bogor ke Medan, hingga sedikit pengalamannya menerobos angkasa dari satu daerah ke daerah lainnya di Indonesia.
Suami Dwi Handayani (31) dan ayah dari Sekar Arum Kinanti (9) dan Bagas Arya Sena (6) tahun ini bertutur, untuk menerbangkan heli dari Bogor ke Medan ini, dibutuhkan waktu terbang selama lebih kurang 18 jam 15 menit.
“Itu untuk waktu terbangnya. Tapi, dari Bogor ke Medan, kami sempat transit selama empat kali. Satu kali transit sekitar 30 menit,” ungkapnya.

Empat daerah yang menjadi transit ke empat awak heli Basarnas tersebut yakni di Bandara Tanjung Karang, Lampung. Kemudian, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (Palembang), Bandara Sultan Taha (Jambi), dan terakhir di Bandara Sultan Syarif Kasim (Pekanbaru).

Dalam penerbangan dari Bogor ke Medan, tidak serta merta tanpa hambatan. Untungnya, hambatan yang ada tidak terlalu berisiko, sehingga keempat awak bisa sampai ke Bandara Polonia Medan, pada Kamis (5/1) lalu dengan selamat. Menurutnya, kawasan yang relatif menjadi hambatan yakni penerbangan Jambi-Pekanbaru dan Pekanbaru-Medan.
Untuk rute ini, mereka mesti berjibaku dengan kabut asap yang relatif tebal. “Ya, karena ada kebakaran hutan,” urai pria yang telah memiliki jam terbang selama 1.800 jam tersebut.

Pembicaraan mulai melantur ke secuplik manfaat heli tersebut. Heli buatan Jerman itu, memiliki daya tampung untuk lima orang. Empat awak dan satu penumpang. Jika digunakan untuk kondisi bencana, heli tersebut bisa diawaki dua orang saja dan tiga korban.

“Kalau beban yang bisa diangkut, antara 600-800 kilogram,” beber pria yang telah beberapa kali menginjakkan kakinya di Sumut dan terakhir saat evakuasi korban pesawat Cassa yang jatuh di Bahorok, Langkat beberapa waktu lalu itu.

Kelebihan Heli tersebut, tuturnya, memiliki kemampuan hoisting (pengambilan korban di perairan maupun darat), rafling (menurunkan personel ke area bencana), free jump (menjatuhkan personel), dan air dropping (menurunkan bahan makanan).

“Banyak manfaat heli ini dalam misi SAR. Tapi terpenting, pesawat ini akan stay atau tinggal di Sumut diperuntukkan untuk penanggulangan bencana. Kalau kami ini akan dirotasi selama sebulan sekali dengan personel lainnya dari Lanud yang sama. Satu bulan ke depan, kami kembali ke Lanud Bogor,” cetusnya.

Perbincangan mengalir ke pengalamannya. Sonny yang juga pernah menerbangkan pesawat Super Puma mengaku, sepanjang dia menjadi penerbang di TNI AU, area yang menurutnya paling rawan adalah ketika terbang ke Papua. Hal itu dikarenakan Papua dilingkupi pegunungan dan hutan, kawasan seperti itu sering terjadi lost contact. Belum lagi cuaca yang begitu cepat berubah, sehingga terkadang mengganggu penerbangan.

“Ada banyak area yang blank spot. Kalau HP biasanya tidak ada signal. Kalau sudah memasuki daerah itu, dibutuhkan konsentrasi yang tinggi,” paparnya.Bukan berarti di Sumut tidak memiliki risiko yang tinggi. Sonny menuturkan, salah satu daerah rawan di Sumut adalah di area Langkat, terutama saat evakuasi pesawat Cassa beberapa waktu lalu. “Daerahnya bergelombang. Relatif susah dalam penerbangan apalagi saat evakuasi kecelakaan pesawat beberapa watu lalu itu,” terangnya.

Tak berapa lama dia menelepon ketiga rekannya. Satu per satu muncul dengan mengenakan pakaian penerbang mereka masing-masing. Suasana semakin meriah, pembicaraan diselingi sekilas senyum dan tawa kecil.
Sonny juga sempat bercerita, dalam menjalani profesi sebagai penerbang, dirinya acapkali meninggalkan istri dan kedua buah hatinya untuk waktu yang relatif lama.

“Saya sebulan pergi, nanti dua minggu sama keluarga. Biasanya seperti itu. Tapi sebagai prajurit dan saat ini di-BKO-kan ke Sumut untuk menerbangkan heli ini, sudah menjadi tanggung jawab dari profesi saya,” kisahnya.
Mengenai biaya kehidupan di Medan, Sonny dan ketiga rekannya mendapatkan jatah uang saku sebesar Rp200 ribu per hari, uang makan sebesar Rp50 ribu per hari dan akomodasi. “Akomodasi, ya, di sini kami nginapnya. Kalau uang makan Rp50 ribu, ya kami pikir cukup lah. Kalau nantinya kurang, mungkin minta tambahan. Kalau gaji tetap dari TNI AU,” pungkasnya. (*)

Panik, Pasien Nyaris Terjun dari Lantai 3

Panel RSU dr Djoelham Binjai Terbakar

BINJAI- Panel atau sentral arus listrik di Rumah Sakit Umum (RSU) dr Doelham Binjai, Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Binjai Kota, terbakar. Akibatnya, kepulan asap menyesaki ruangan dan membuat puluhan pasien panik, bahkan membuat seorang pasien nyaris lompat dari lantai tiga untuk menyelamatkan diri, Minggu (8/1) sekitar pukul 13.00 WIB.

Keterangan yang dihimpun Sumut Pos di RSU dr Djoelham Binjai menyebutkan, terbakarnya panel listrik itu disebakan tidak tahan menanggung beban atau arus listrik yang berlebihan. Sehingga, terjadi korslet dan panel tersebut terbakar. Namun, saat panel terbakar, hanya menimbulkan kepulan asap saja.

Pasien yang panik dan ingin melompat dari lantai 3 RSU dr Djoelham Binjai yaitu, Amrinsyah Putra (59), warga Stabat. “Waduh, saya panik waktu itu. Nggak tau mau buat apa, saya menghampiri jendela dan ingin melompat. Untunglah, waktu saya melihat ke bawah, saya sadar, bahwa apa yang akan saya lakukan itu sangat berbahaya,” ungkapnya gemetar.

Karena tak jadi melompat, sambungnya, ia dan para pasien lainnya berlomba melarikan diri ke gedung lain di RSU dr Djoelham Binjai yang berada di sebelah ruangan mereka. “Tidak ada dibantu siapapun. Baik keluarga maupun para perawat rumah sakit. Kami terus berlari, kebetulan, saat kejadian keluarga saya sudah pulang ke rumah,” kenangnya.
Kepanikan itu terjadi, sambung Amrinsyah, karena asap mulai menyesaki ruangan mereka. “Sudah saya sesak nafas, ditambah lagi asap, apa tidak tambah sesak saya. Beruntung, saya masih bisa cepat keluar dengan membawa infus ini,” ucapnya sembari menunjukkan infus yang dibawanya.

Amrinsyah menyayangkan, saat kejadian itu tidak ada pemberitahuan apapun dari pihak rumah sakit, sehingga, para pasien tidak tahu apa yang telah terjadi. “Saya tahunya ada kebakaran ini, karena para pasien berteriak bahwasanya ada kebakaran. Mendengar itu, saya langsung panik. Kalau diberitahu dari awal, para pasienkan tidak begitu panik, karena kami bisa tau arah mana mau melarikan diri,” kesalnya.

Begitu juga dengan Kamisah (52), warga Kecamatan Secanggang, Langkat. Wanita yang mengidap penyakit asam lambung dan asam urat ini mengaku, sangat panik dan tidak tahu mau berbuat apa. “Aduh, kaki aku sakit. Saya lari sendiri karena takutnya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya menangis.

Kamisah yang saat itu berada di ruangan Mengkudu juga menerangkan, kalau saat itu anaknya pulang untuk menghadiri pesta keluarganya. “Bagaimana saya tidak lari sendiri. Anak saya pulang hadiri acara pesta. Sementara, para perawat juga tidak ada yang membantu,” keluhnya.

Sementara itu, petugas pemadam kebakaran Kota Binjai, menurunkan dua unit mobil pemadamnya. Tak makan waktu lama, panel yang terbakar itu dapat dipadamkan. Selanjutnya, para pasien terpaksa ditempatkan di gedung lain sembari menunggu asap yang menyesaki ruangan para pasien itu hilang.

Direktur Utama (Dirut) RSU dr Djoelham Binjai Drg Efendi, saat dikonfirmasi mengatakan, kejadian itu hanya disebabkan korslet dan sudah dapat ditangani. “Saya lagi di Medan. Masalah itu hanya korslet listrik. Yang jelas sudah ditangani dan tidak ada terjadi apa-apa,” sebutnya datar.(dan)

15 Ribu Petani Ancam Turun ke Jalan

MEDAN- Sebanyak 15 ribu petani yang tergabung dalam Forum Rakyat Bersatu (FRB), akan menggelar aksi turun ke jalan pada 10 Januari 2012 mendatang. Aksi turun ke jalan itu, terkait penuntutan penyelesaian persoalan tanah yang ada di Provinsi Sumatera Utara. Hal tersebut diungkapkan pengurus FRB Sumut, Johan Merdeka, kepada wartawan di Medan, Sabtu (7/1) kemarin.

Menurut Johan, sesuai dengan hasil pertemuan FRB yang dihadiri sejumlah elemen pergerakan, seperti Perempuan Mahardika, Pembebasan, HPPLKN dan elemen lainnya disepakati tanggal 10 Januari 2012.

Johan Merdeka yang juga Sekretaris Eksekutif Persatuan Politik Rakyat Miskin (PPRM) Sumut ini menegaskan, aksi pada 10 Januari 2012 ini akan dilakukan di Kantor Gubernur Sumatera Utara. “Petani akan meminta kepada Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho untuk segera menyelesaikan konflik-konflik tanah di Sumatera Utara,” ujar Johan.

Jika Plt Gubsu tidak mampu menyelesaikan persoalan konflik tanah di Sumatera Utara, tegas Johan, sebaiknya Plt Gubsu mundur dari jabatannya, karena penguasaan lahan-lahan Eks HGU PTPN adalah hak rakyat. (yod/smg)

Disperindagkop Terima Mesin Produksi Kacang Garing

DOLOKSANGGUL- Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) menerima bantuan berupa dua unit mesin sangrai kacang tanah dan alat pressing kemasan dari Kementerian Perindustrian RI.

Penyerahan bantuan  dilakukan oleh Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian  Ir Teddy  C Sianturi MA didampingi Kasi Program Wahyu Pramugari beserta beberapa staf Kementerian Perindustrian RI, baru-baru ini di Kantor Disperindagkop Humbahas, Komplek Perkantoran Tano Tubu, Doloksanggul.

Penyerahan bantuan itu, turut dihadiri Bupati Humbahas Drs Maddin Sihombing MSi, Ketua Dekranasda Kabupaten Humbahas, Ny Anni Rosma br Napitupulu serta beberapa pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Drs Maddin Sihombing MSi, saat menerima bantuan mengucapkan terima kasih kepada pihak Kementrian Perindustrian RI atas bantuan mesin sangrai kacang tanah dan mesin pressing kemasan ini.(hsl/des/smg)

Pungutan Pajak Restribusi Dihentikan

KARO- Pemerintah Kabupaten Karo menghentikan pemungutan pajak restribusi daerah yang mengacu pada UU no 18 tahun 1997. Pembenahan  itu dilakukan untuk memenuhi peraturan yang lebih tinggi yaitu, UU no 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan restribusi pasal 180 ayat (1) dan (2) junto pasal 185.

“Bukan berarti  pajak dan restribusi untuk PAD dihentikan.  Tetapi hanya perubahan  atas permintaan undang-undang. Karena sesuai Perda Kab Karo yang  penerbitannya berpedoman pada UU no 18 tahun 1997, sebagaimana telah  diubah dengan UU no 34 tahun 2000, tentang perubahan UU no 18 tahun 1997, maka pajak dan restribusi daerah  berakhir 31 Desember 2011,” papar Kabid Humas Pemkab Karo, Jhonson Tarigan, kemarin (8/1).

Menurut Kabid Humas, saat ini 26 Ranperda Kabupaten Karo yang baru, telah  disahkan melalui sidang paripurna DPRD Karo, dan telah dikirimkan ke  Tingkat I (Gubsu), untuk selanjutnya di teruskan ke Pemerintah Pusat (Mendagri). Sementara 4  Ranperda lainnya masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut. Dikarenakan masih ada beberapa  item yang harus ditambah (perbaiki,red).(wan)