24 C
Medan
Thursday, January 22, 2026
Home Blog Page 14026

Ditangkap Mencuri Sepeda Motor Pelaku dan Polisi Nyaris Dibakar Massa

MEDAN- Ramadhan Syahputra (26) warga Jalan STM, Medan dipukuli massa karena kedapatan hendak mengambil sepeda motor Yamah Mio Seoul warna hitam BK 4237 ACC di Jalan Panglima Denai tepatnya di depan depot air.

Kejadian itu berawal saat Amru (17) warga Jalan Tuar, Kecamatan Medan Amplas, hendak main game di satu warung internet di Jalan Panglima Denai. Saat itu, dia memarkirkan sepeda motor Yamaha Mio Soul di depan depot air.

Tanpa disadari, ternyata Amru sudah menjadi incaran Ramadhan dan rekannya. Saat menjalankan aksinya, Ramadhan ternyata sudah dipantau oleh seorang pedagang Es Dawet, A Purba. Ketika itu, A Purba mengaku melihat tersangka mencoba membuka paksa kunci sepeda motor Amru. Saat itulah, A Purba berteriak, maling.

Spontan, rekan-rekan pelaku lari dan warga langsung menangkap Ramadhan. Emosi warga semakin memuncukan saat mengingat sudah 7 sepeda motor hilang di Masjid Jami’ di Jalan Panglima Denai.

Warga yang sudang mengerumuni pelaku dan memberikan pukulan kepada pelaku hingga babak belur. Seorang polisi berseragam yang ketika itu melintas mencoba mengamankan pelaku.

Tapi, polisi tersebut tak mampu mengamankannya, sehingga polisi membawa pelaku ke rumah warga. Namun, warga yang belum puas melampiaskan emosinya terus mengejar pelaku. Saat itu, seorang warga yang sudah sangat kesal karena banyak sepeda motor yang hilang, langsung membeli bensin eceran seharga Rp5 Ribu.

Bensin tersebut langsung dibawanya dan disiramkan warga ke arah pelaku yang dibekap polisi. Akibatnya, polisi berpakaian dinas tersebut langsung berteriak.

“Jangan… jangan… danmengatakan, akubisakena juga nih,” ujar polisi sambil mengelap tangan dan bajunya yang kena bensin.

Namun, warga tetap tak peduli walau seorang polisi sudah melarang mematikan mancisnya. Beruntung, sebanyak 7 polisi dari Polsek Patumbak turun langsung mengamankan lokasi dan mengamankan pelaku. Personel polisi di bawah pimpinan Kanit Reskrim Polsek Patumbak, ketika itu polisi hendak membawa pelaku. Tapi, warga sempat menghalangi. Warga terus mengejar pelaku dan memukulinya.

“Bakar saja, sudah berapa sepeda motor hilang di masjid 7 kali, di Indomaret Amplas sudah tiga, belum lagi yang di rumah warga dan di depan warnet-warnet yang ada disini. Sudah puluhan disini hilang, matikan saja,” kata pria berbadan tegap memakai baju biru sambil meninju wajah pelaku.

Melihat warga yang marah, petugas polisi langsung tancap gas membawa pelaku.

“Ayo..ayo matikan saja,” ujar warga mengajak mendatangi ke Polsek Patumbak.

Seorang tokoh Pemuda, Mahdi menenangkan warga agar jangan main hakim sendiri. “Sudah-sudah…sudah ada polisi, biar polisi yang memprosesnya sesuai dengan hukum,” katanya membendung amarah warga.

Kanit Reserse Polsek Patumbak AKP Samosir yang ditemui Sumut Pos mengatakan tersangka dan barang bukti dibawa ke Polsek Patumbak.

Setelah warga mulai bubar, ternyata ada seorang warga, Wariska yang ikut menangkap pelaku kehilangan jam tangannya “Sial, jatuh jam tangan aku, saat menangkap dia, orang terus memukulinya, nggak tahu jam tangan sudah jatuh,” celetuknya.

(mag-5)

Kenali Penyebab Kebocoran Atap

Kenali Penyebab Kebocoran Atap Atap yang bocor kerap membuat kita pusing. Apalagi saat ini, musim hujan belum juga berakhir. Sementara tetesan air hujan telah merembes melalui atap. Upaya mengganti atap dengan yang baru, mungkin belum bisa dilakukan. Pasalnya, awan dan hujan masih terus mengintip.

AGAR kebocoran atap tak membuat pusing, Anda harus mencari sumber masalahnya dan segera diatasi. Simak tips berikut ini sebagai panduan Anda melakukannya: Air masuk dari talang horisontal Pada dasarnya, ini terjadi karena bibir talang bagian luar lebih tinggi daripada ujung genting paling bawah. Kondisi demikian dapat menyebabkan air yang mengalir pada talang tidak meluber ke bawah, melainkan terdorong masuk kembali dan menyebabkan kebocoran pada atap rumah.

Untuk mengatasinya, ulangi pemasangan talang dan pastikan bibir talang bagian luar lebih rendah daripada ujung genting. Selain itu, pastikan pipa vertikal yang berfungsi mengalirkan air ke bawah tidak membentang lebih dari tiga meter.

Atap terlalu landai Atap rumah yang terlalu landai membuat air hujan mengalir lebih lambat.

Pada atap berbahan genting, overlap atau lebar tumpukan tiap gentingnya sangat kecil (2-5 sentimeter) sehingga potensi air untuk memasuki rumah lebih besar. Apalagi, jika ada angin kencang yang meniup air masuk ke dalam rumah.

Untuk menanggulangi kebocoran akibat atap terlalu landai, cara pertama bisa dilakukan adalah mengganti material atap dengan bentuk lembaran seperti metal, bitumen, atau fiber semen.

Material lembaran umumnya dipasang dengan overlap atau lebar tumpukan yang lebih besar hingga mencapai 20 sentimeter. Oleh karena itu, potensi masuknya air hujan melalui cerah antara lembaran menjadi lebih kecil.

Namun demikian, material lembaran seperti fiber semen cenderung lebih berisik saat terkena hujan. Karena itu diperlukan penambahan bahan peredam seperti rockwool atau glasswool.

Cara kedua, Anda bisa mengganti kemiringan atap. Cara ini membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya lebih banyak.

Kemiringan atap yang ideal adalah antara 30-40 derajat agar air dapat mengalir dengan lancar. Jika terlalu curam, genting justru akan mudah melorot.

Satu hal penting, ketika melakukan pembongkaran atap, sebaiknya Anda menambahkan insulasi berupa lembaran alumunium foil yang dibentangkan dan dijepit di antara kayu kasau dan reng. Insulasi ini berfungsi untuk mencegah air hujan tidak langsung menetes ke plafon. Selain itu, insulasi juga berfungsi menurunkan suhu dalam ruang.

Air masuk dari talang Masalah ini biasanya disebabkan oleh overlap atau lebar tumpukan antara bibir talang dengan genting terlalu kecil, sehingga air yang menetes dari genting tidak sepenuhnya jatuh ke talang, tapi masuk ke rumah. Untuk mengatasinya, ganti talang dengan talang baru yang dapat menjangkau selebar mungkin.

Dengan overlap yang lebih besar, air hujan akan sepenuhnya jatuh ke talang dan tidak menetes ke dalam rumah.

Selain itu, talang berbahan seng atau metal memiliki kemungkinan karat dan bolong yang dapat mengurangi kualitasnya.

Setalah mengganti talang, lapisi dengan cat galvanis yang mengurangi sifat korosif talang. Talang yang dilapisi cat galvanis akan terbebas dari karat hingga lima tahun. (net/jpnn)

Dunia Pendidikan Lahirkan Pebisnis

MEDAN- Lembaga pendidikan khususnya Universitas akan dirangkul Kementrian Koperasi dan UKM untuk menghasilkan wirausaha muda. Setidaknya, kerjasama dengan dunia usaha dapat meningkatkan minat anak muda, khususnya mahasiswa dapat belajar dan mempraktekkan ilmu yang didapatnya.

Demikian disampaikan Menteri Koperasi dan UKM, Syarief Hasan dalam acara Milad Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) di Jalan SisingamangarajaMedan, (Sabtu, 7/1). Menurut dia, dunia pendidikan terutama universitas akan memfasilitasi mahasiswa tersebut dalam permodalan.

“Mahasiswa paling potensial menjadi wirausaha, karena dengan menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah,” ujarnya.

Dia menyebutkan, selain program kerjasama yang berbentuk inkubasi, kementerian koperasi dan UKM akan memfasilitasi dalam bidang permodalan bagi para mahasiswa. Modal yang diajukan sesuai dengan modal yang dibutuhkan oleh UKM.

Rektor UISU, Prof Zulkarnain Lubis mengatakan, sangat mendukung niat pihak kementerian koperasi. Karena inkubasi akan menjadi praktek yang terbaik bagi para mahasiswa mendapatkan petunjuk untuk masa depannya.

Hadir dalam kesempatan itu, Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana mengatakan pascareformasi tidak lebih baik dari sebelumnya. Bahkan pascareformasi ada beberapa hal yang semakin membaik bahkan dijamin pemerintah seperti adanya kebebasan berekspresi dan berpendapat, kebebasan berserikat, bahkan tak pernah ada lagi napol atau tapol. (ram)

Tiket Medan-Jakarta Habis, Sriwijaya Bandrol Rp1,82 Juta

MEDAN- Loket Sriwijaya Air di Bandara Polonia Medan membandrol harga tiket pesawat sebesar Rp1,82 juta untuk tujuan Medan-Jakarta. Padahal tarif batas atas yang telah disepakati sebesar Rp1,7 juta. Uniknya, maskapai lainnya menjual tarif tiket pesawat tujuan Medan- Jakarta dikisaran Rp1,7 juta.

Di tengah harga tiket melambung tinggi, ternyata tiket Medan- Jakarta juga sulit didapatkan dalam empat hari ke depan.

Demikian informasi yang dihimpun Sumut Pos, Sabtu (7/1) petang.

Tarif pesawat Sriwijaya itu diketahui ketika wartawan koran ini mengecak harga tiket melalui counter ticket sale (counter penjualan tiket, Red) di Bandara Polonia.

Seorang stafnya menyebutkan, harga tiket Medan-Jakarta sebesar Rp1.82 juta, dan sekarang sudah habis terjual. “Tiket habis bang, harganya Rp1,82 juta Medan- Jakarta. Kalau mau, tiket baru ada tanggal 11 Januari 2012 karena sudah diborong para calon penumpang yang membeli via online,” ujar wanita mengenakan pakaian seragam Sriwijaya Air.

Seperti diakui seorang staf counter penjualan tiket Lion Air, Dede menyebutkan, harga tiket maskapanya Rp1,72 juta, tapi sudah habis terjual. Tiket rute yang sama baru ada pada 11 Januari 2012. “Harga tiket 11 Januari 2012 sekitar Rp1.3 juta,” ucapnya.

Menanggapi tingginya harga tiket tersebut, Kasie Angkutan Udara, Kelayakan Udara dan Pengoperasian Udara Otoritas Bandara (Otband) Polonia Medan, Havandi Gusli menegaskan mengenai adanya harga tiket yang diatas batas atas agar secepatnya dikembalikan normal sesuai harga batas atas.

Lebih lanjut, dia mengatakan pihaknya sudah melakukan upaya dalam memberantas praktek percaloan. Tapi, para calo masih beroperasi di saat Otband Polonia Medan tidak ada. “Kami sudah bergeliat beroperasi, tapi saat petugas dan keamanan lengah sedikit saja para calo manfaatkan.

Semua pas sudah ditarik dari orang-orang yang dianggap tak memiliki hak masalah pas,” ungkapnya.

Terpisah, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Medan yang menaikkan tarif KA mulai 24 Desember 2011 sebesar Rp5 ribu, kini KAI sudah kembali mengembalikan ke tarif normal. (jon)

Dilihat Nyabu, Anak Jalanan Ditusuk Keris

MEDAN- Seorang anak jalanan, Muhammad Pane (21) warga Jalan Gurilla, Medan ditusuk pakai keris karena melihat seorang warga menghisap sabu-sabu. Akibatnya, anak jalanan tersebut harus dirawat intensif di lantai VIII RSU Pirngadi Medan, Sabtu (7/1).

Penuturan teman korban, Agus (16) saat ditemui di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Pirngadi Medan. Awalnya, dirinya bersama Muhammad Pane serta empat temannya lagi mau tidur di rumah kosong di Jalan Sentosa Lama, Medan Perjuangan.

Saat masuk ke rumah kosong yang biasa menjadi tempat tidurnya, Sabtu (7/1) dini hari ternyata ada seorang warga diketahui bernama Adol sedang asik memakai sabu-sabu. Spontan, Adol marah ke grombolan Muhammad Pane dan terjadi adu mulut , Adol pun pergi.

Tanpa disangka, ternyata Adol bersama abangnya, Zul (30) datang ke rumah tersebut. Saat bersamaan, Zul membawa keris dan temannya. Zul marah. Lalu, menusukkan keris ke pinggang dan dada korban . Korban jatuh, pelaku lari meninggalkan korban. (jon)

Mengalah adalah Perlawanan yang Tertunda

Ramadhan Batubara

Kata bijak memang mengatakan mengalah untuk menang, tapi bagi saya saat ini tidak seperti itu. Bagi saya, mengalah adalah perlawanan yang tertunda. Kenapa? Ya, karena saya tidak ada kesempatan untuk menang dan menyimpan sekian dendam!

ITULAH sebab Chairil Anwar menulis Kalau sampai waktuku//’Ku mau tak seorang kan merayu//Tidak juga kau dalam sajaknya yang berjudul Aku. Ya, di masa depan nanti, saya akan melakukan sesuatu yang kini belum bisa dilakukan. Saat ini saya hanya bisa mengalah; pada ruang dan kesempatan yang terasa ditutup oleh orang-orang seperti mereka. Ya, ini yang saya sebut perlawanan yang tertunda.

Begitulah, saya awali lantun ini memang dengan sesuatu yang penuh emosi. Bukan karena saya sedang merasa tak nyaman atau apapun itu, tapi siang kemarin saya menemukan kejadian tidak menyenangkan. Saya dibangunkan oleh teriakan orang-orang: Maling! Maling! Maling! Tak pelak, dengan mata sembab karena tidur tak lengkap, saya bergegas keluar rumah. Di depan sana, seorang anak remaja dipukuli massa.

Dia tidak melawan. Dia Pasrah. Begitu pun ketika tubuhnya dilempari bensin, siap untuk dibakar.

“Ada apa, Bang?” tanya saya pada seorang tetangga yang berada di sudut kejadian, jauh dari lokasi ‘pembataian’.

“Anak itu, ketahuan lagi mau mencuri sepeda motor bapak itu,” jawabnya sambil menunjuk lelaki yang paling garang memukul dan berteriak.

“Biar tahu rasa, sudah sering kali di daerah ini kecurian…” timpal tetangga lainnya.

“Tapi, apa anak itu juga yang mencuri tempo hari?” pertanyaan ini keluar dari mulut saya tanpa sadar.

Tetangga yang bicara ‘biar tahu rasa’ tadi melirik saya dengan tatapan heran.

Tak lama kemudian dia tersenyum, mungkin dia tahu kalau saya berbicara spontan tanpa maksud membela anak itu. “Gak tahu, tapi ini namanya peringatan bagi maling yang nekat beroperasi di kawasan kita,” ucapnya.

Saya pun tersenyum, tentu bukan karena dia tersenyum, tapi karena jawaban dia tadi. Ayolah, pelajaran? Kenapa dia tetap dipinggir, kenapa tidak ikut memukuli remaja itu! Tapi sudahlah, mungkin dia tidak suka melakukan kekerasan atau tidak mau dilibatkan ketika kasus itu nanti berbuntut panjang, atau dia memang tak mau repot kan sudah ada yang menghakimi.

Tak puas dengan kenyataan di pinggir lokasi kejadian, saya mencoba masuk ke tempat ‘pembantaian’ itu. Sayang, usaha saya tidak sesuai harapan.

Barisan massa yang mengantre memberikan pukulan terlalu rapat.

Saya berbalik, memilih tepat di pinggir, tentunya bukan tempat dua tetangga tadi.

Saya lalu berpikir, mengapa saya harus masuk ke tempat itu, apakah saya ingin menolong sang remaja atau ikut memukuli? Belum lagi saya temukan jawabannya, saya malah berpikir, apa yang ada dalam otak remaja itu; adakah dia menyesal karena sudah membuat salah hingga dia pasrah menerima hukuman atau malah dia menyimpan dendam. Ukh, saya perhatikan mata anak itu tajam memandang sekian orang meski tubuhnya terkesan pasrah menerima pukulan.

“Bakar! Bakar!” terdengar lagi teriakan itu, entah siapa yang teriak. Aneh, setahu saya bensin sudah disiramkan sejak tadi, kenapa belum ada yang menyulut api? “Banyak cakap,” tanpa sadar saya membisikan kalimat itu. Sumpah, entah sisi diri saya yang mana berujar.

Entahlah, saya merasa ada yang membingungkan saja, otak saya seperti tidak menerima, kenapa pembakaran itu belum terlaksana. Kan, katanya tadi untuk pembelajaran bagi kaum maling. Bukan maksud mendukung hal anarkis itu, tapi saya merasa seperti ada yang menggantung dengan kejadian itu.

Ya, jika memang sudah tak percaya dengan aparat hukum hingga warga memilih menghakimi sendiri, kenapa harus nanggung? Ya, bakar saja. Atau pukuli saja tanpa harus melempari bensin. Bukankah begitu? Lalu, jika tidak berani menghakimi semacam pembakaran tersebut, kenapa tidak menyerahkan maling itu langsung ke polisi? Entahlah…, saya jadi kurang tertarik mendiskusikan tingkah warga.

Saya perhatikan lagi remaja yang dipukuli dan yang telah disiram bensin tadi. Hm, tak ada air matanya, yang ada hanya darah. Sinar matanya pun masih lantang, memang tidak melotot, tapi lirikannya secara diamdiam itu begitu mengerikan. Ya, ada dendam di sana.

Terus terang saya membayangkan diri saya menjadi anak itu, apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya menangis hingga massa kasihan? Oh, tidak, massa yang marah malah senang kalau saya menangis. Mereka menjadi tambah beringas karena merasa menang. Lalu, haruskah saya melawan hingga massa lari. Akh, untuk yang terakhir rasanya tidak mungkin.

Tubuh remaja itu kecil, meski pun dia punya ilmu kanuragan andal, tapi melawan puluhan orang dalam ruang sempit semacam itu pastilah kalah.

Hm, apa yang dilakukan anak itu tampaknya benar. Dia pasrah. Dia mencoba menikmati semua pukulan tendangan hingga makian, tidak lupa aroma menyengat bensin yang telah ada di tubuhnya. Ya, dia juga tak lupa mencoba menghafal setiap wajah yang mengelilinginya. Jika menjadi dia, saya tentunya akan balas dendam.

Ayolah, ini manusiawi. Bagaimana tidak, saya disiksa tanpa ada kesempatan membela diri. Baiklah jika saya memang salah, namun bukankah negeri ini masih punya polisi? Ups, bagaimana jika polisi malah menyiksa saya di kantornya sana? Tapi sudahlah, menghadapi kejadian seperti itu memang sudah pas memilih tingkah pasrah. Bagaimanapun kesalahan telah dibuat kan? Jadi, ya terima saja. Masalah tubuh jadi penuh luka kan risiko. Ya, mengalah adalah perlawanan yang tertunda.

Masalah kalah atau menang di akhirnya nanti kan belum ada yang tahu. Begitu kan? (*).

Polisi Kerjasama dengan Aparatur Pemerintah

MEDAN- Polsekta Sunggal belum mengetahui identitas jenazah wanita memakai cincin belah rotan dan jam berwarna emas yang ditemukan di Sungai Belawan, tepatnya di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang. Kini, Polsekta Sunggal langsung melakukan koordinasi dengan aparatur pemerintahan setempat, Pernyataan itu disampaikan Kapolsekta Sunggal Kompol M Budi Hendarawan saat dikonfirmasi, Sabtu (7/1). Dia mengakui, sekarang pihaknya sedang berkordinasi dengan kepala dusun, kepala desa dan Camat Sunggal.

Budi menyampaikan, wanita yang ditemukan itu memiliki ciriciri berbadan gempal, berkulit putih, memakai cincin belah rotan, jam berwarna mas, memakai baju tidur berwarna coklat batik, celana pendek coklat dan memakai bra warna merah jambu.

Apakah wanita korban pembunuhan? Budi mengaku untuk mengarah ke situ pihaknya masih menunggu hasil outopsi dari pihak RSUP H Adam Malik Medan. (gus)

Pasangan Sejenis Curi Kipas Angin

MEDAN LABUHAN- Pasangan homo (sejenis), Syahrul (19) dan Hasan alias Lisa (17) tertangkap warga setelah mencongkel rumah Rosmina Sihite (24) di Jalan Veteran, Pasar VI, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli. Pasangan sejenis yang tinggal di desa yang sama diamankan bersama barang bukti satu unit kipas angin dan rice cooker di Polsek Medan Labuhan, Sabtu (7/1) dinihari.

Informasi diterima di kantor polisi, pasangan homo itu mencongkel rumah Rosmina saat pemilik sedang tidak ada di rumah, kemudian pasangan homo tersebut mencongkel dinding kamar mandi dan langsung mengambil kipas angin dan rice cooker. ”Kami amankan beserta barang bukti kipas angin dan rice cooker. Kini keduanya diperiksa,” ucap Kapolsek Labuhan, Kompol Sugeng Riyadi.

Perbuatan tersebut, diketahui tetangga saat pelaku masuk ke dalam rumah. Setelah Rosmida pulang dari kampungnya, terkejut melihat barang-barangnya hilang. Tetangganya memberitahukan kalau pelaku pencuriannya ada dua pria homo.

Syahrul mengaku nekat mencuri karena mereka ingin menggunakan barang tersebut untuk dipakai bukan untuk dijual. (yod/smg)

Rooney tak Dijual

MANCHESTER- Jelang derby, Manchester United diterpa isu seputar masa depan Wayne Rooney. Itu terkait pemberitaan The Independent apabila pelatih United Sir Alex Ferguson bakal melepas Rooney di bursa transfer Januari. Pemicunya apalagi jika bukan kasus indispliner Rooney di malam Boxing Day (26/12).

DERBY DAN MISTIS DALAM sepak bola ada faktor teknis dan nonteknis.

Nah, untuk pilihan terakhir, ada beberapa orang dari skuad Manchester City maupun Manchester United yang memercayai mistis atau takhayul. Siapa saja mereka Kala itu, Rooney melanggar aturan Ferguson dengan menggelar pesta sampai larut malam usai kemenangan 5-0 atas Wigan Athletic. Rooney yang berpesta ditemani dua pemain United lainnya, Jonny Evans dan Darron Gibson beserta pasangan masing-masing, lantas dihukum latihan di hari libur plus denda potong gaji sepekan.

Tidak hanya itu. Rooney juga tidak dimainkan Ferguson ketika United kalah mengejutkan 2-3 dari Blackburn Rovers dalam laga yang bertepatan dengan ultah ke-70 sang pelatih. Tentu saja, United dan Rooney langsung membantah kabar dari The Independent yang dimuat di halaman depan dan diulas lengkap sebanyak empat halaman tersebut.

“Setiap pendapat yang menyebutkan apabila Manchester United dan Wayne Rooney telah berpisah adalah omong kosong”. Demikian rilis United di situs resmi klub.

“Saya selalu memiliki dan memelihara hormat kepada siapapun dan berharap terus bekerja sama di musimmusim berikutnya. Antara pelatih dan saya tidak memiliki masalah apapun dan siapapun yang mengatakan berbeda tidak tahu apa yang telah mereka katakan,” tulis Rooney mengenai hubungannya dengan Ferguson di akun Twitter-nya.

Rooney memang beberapa kali berkonflik dengan Ferguson. Konflik keduanya pernah memuncak pada Oktober 2010 ketika Rooney ingin hengkang. Tapi, seiring bujukan Ferguson, striker 26 tahun itu berubah pikiran dan memilih memperpanjang kontrak di Old Trafford hingga Juni 2015.

“The Independent benar-benar menulis sampah.

Masa depan saya adalah bersama Manchester United.

Antaraklubdansaya memilikikomitmensatusamalain,” tulis Rooney lagi.

Tidak hanya Rooney, kabar mengejutkan lainnya muncul terkait Paul Scholes. Eks gelandang United yang pensiun akhir musim lalu pada usia 37 tahun itu disebut siap merumput lagi untuk mengatasi krisis pemain tengah, khususnya sebagai kreator permainan. Darren Fletcher dan Tom Cleverley cedera, sedangkan Ryan Giggs sudah sangat berumur.

Scholes adalah one club man alias menghabiskan seluruhkarirnyabersamaUnited( 1994-2011). Pemainyang menggelar laga testimonial kontra New York Cosmos di Old Trafford pada 5 Agustus 2011 itu memiliki statistik 676 laga dan 150 gol. (dns/jpnn)

Wasit Dukung KLB PSSI

SURABAYA – PSSI jatim terus merapatkan barisan. Setelah menyatukan suara para klub Jatim untuk mengusung KLB bulan lalu, kini giliran perangkat pertandingan menyatukan suara. Sebanyak 140 perangkat pertandingan (wasit, asisten wasit, pengawas pertandingan) se Jatim berkumpul di Hotel Sahid kemarin (7/1) untuk menyatakan gerakan moral ‘Deklarasi Wasit’.

Dalam kesempatan itu, hadir Ketua Pengprov PSSI Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti dan wasit senior Purwanto. La Nyalla yang juga anggota executive committee (Exco) PSSI tersebut kembali menyatakan bahwa, Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI), mantap menggelar Kongres Luar Biasa (KLB).

La Nyalla juga berharap, wasit yang datang dalam acara kemarin tidak raguragu lagi. “Jangan takut, kita pasti menang. Sebab, apa yang kita lakukan sudah sesuai dengan keputusan Kongres Bali. Sebab, pengurus PSSI telah melanggar statuta,” tegas La Nyalla. Ucapan tersebut langsung mendapatkan aplaus dari undangan yang hadir.

Dalam kesempatan kemarin, wasit, asisten wasit dan pengawas pertandingan membubuhkan tanda tangannya di atas lima butir pernyataan. Diantaranya mendukung terselengaranya KLB 6 Maret di Surabaya mendatang. Lalu mendukung penyelenggaraan kompetisi sepakbola profesional dibawah operator PT Liga Indonesia.

Mereka juga diharapkan loyal terhadap semua keputusan kongres Bali menyangkut regulasi kompetisi dan badan pelaksana kompetisi profesional. Para wasit juga diwajibkan hanya bertugas memimpin pertandingan di kompetisi di bawah PT LIga Indonesia.

Terakhir, para wasit, asisten dan pengawas pertandingan akan memimpin pertandingan sesuai dengan Rule of The Game dan tidak akan melacurkan profesionalisme profesi wasit.

Di bagian lain, wasit senior Purwanto menyatakan, wasit Jatim harus mempunyai keteguhan hati dalam mendukung kinerja KPSI. ýÿBisa dibilang, ini memang mengandung resiko. Tidak memilih juga resiko. Tapi, saya ingin wasit Jatim mempunyai komitmen dan tetak menjaga kekompakan,ýÿ harap Purwanto.

Sementara itu, salah satu pengawas pertandingan (PP) asal Pengcab Pobolinggo, Khalid Abubakar mengaku siap mendukung apapun langkah yang akan diambil organiasi dan La Nyalla. “Kami siap mendukung pak Nyalla untuk suksesnya KLB,” kata pria yang juga PP nasional itu. (dra/jpnn)