28 C
Medan
Saturday, April 11, 2026
Home Blog Page 14082

Medan Gerimis hingga Pekan Depan

MEDAN-Hujan gerimis yang terjadi hampir satu harian seperti kemarin akan berlangsung selama sepekan ke depan. Hujan ini disebabkan cuaca buruk dan disebabkan aktivitas cuaca angin dari timur laut yang mengarah ke Sumatera Utara.

“Sumatera Utara khususnya di Medan sekitarnya, Langkat, Deli Serdang dan perbatasan Aceh akan kena dampaknya,” kata Kepala Data dan Informasi (Datin) Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Stasiun Bandara Polonia Medan, Hartanto, di ruang kerjanya, Senin (9/1).

Lebih lanjut, diterangkannya, hujan akan turun dengan potensi ringan hingga sedang ini akan berlangsung hampir satu hari penuh. “Konsentrasi penuh terjadi di wilayah Pantai Timur sekitarnya saja,” tambahnya.
Lalu, dengan intensitas hujan seperti itu, akankah menimbulkan banjir di Kota Medan?

“Dalam sepekan ke depan, jika hujan seperti ini, tidak akan menimbulkan banjir. Di atas (Tanah Karo, Red) juga cenderung tidak menimbulkan banjir kiriman,” jelasnya.

“Tapi, kalau masalah genangan air di Medan, mungkin terjadi. Tapi, itu kan tinggal masalah saluran parit yang kurang bagus saja,” tambahnya.

Mengenai jarak pandang untuk penerbangan, Hartanto menerangkan, bahwa jarak pandang untuk penerbangan masih tergolong aman dan tidak mengganggu. Pasalnya, hujan yang diprediksi berdasarkan penumpukan awan itu terjadinya pagi hingga sore hari saja. “Masih tergolong aman dengan jarak pandang 3 hingga 6 km. Cuacanya tidak begitu buruk, tapi hanya hujan dengan potensi ringan saja,” terangnya.

Untuk wilayah pesisir, Hartanto mengimbau warga tetap waspada. Bagaiamanpun potensi gelombang tinggi tetap ada. “Ini juga terjadi di perairan Tanjung Balai, Langkat, Belawan dan perairan-perairan yang berada di wilayah Pantai Timur,” bebernya.

Hartanto juga berharap, meski cuaca tidak begitu ekstrim, warga Medan harus tetap waspada dan menjaga kondisi tubuh. “Kepada warga Medan agar mengkonsumsi makanan dan minuman berserat dan berfungsi untuk mekanisme tubuh. Hal ini perlu mengingat hujan juga bisa mengganggu stamina tubuh dan membuat kondisi tubuh menurun,” imbaunya.

Terlepas dari itu, meski Hartanto memprediksi tak akan ada banjir dalam sepekan ke depan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan dan rumah sakit rupanya sudah bersiaga terhadap segala kemungkinan yang tidak menyenangkan. “Kita sudah ada tim tanggap darurat dan mobil bekerja sama dengan Rumah Sakit Adam Malik. Karena, musim penghujan ini rentan timbulnya berbagai penyakit,” ujar Kadis Kesehatan Sumut dr Candra Syafei SpOG, kemarin.

Tidak hanya itu, sebut Candra, Dinkes Sumut juga sudah menyiapkan semuanya termasuk persediaan obatyang cukup bila diperlukan. “Kita juga ada gudang peralatan untuk menghadapi bencana, juga telah menyiapkan SDM-nya,” kata Candra.

Begitupun, dalam musim pancaroba ini, sambungnya, penyakit yang sering dan patut diwaspadai adalah ISPA dan diare. Untuk itu, dirinya mengimbau agar masyarakat jangan keluar rumah kalau tidak benar-benar penting dan menjaga stamina serta banyak mengkonsumsi buah-buahan. “Yang penting tingkatkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti cuci tangan pakai sabun dan lakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” harapnya.

Terpisah, Kadis Kesehatan Medan dr Edwin Effendi MSc juga mengatakan pihaknya tetap mengingatkan jajaran Dinkes Medan untuk mengantisipasi berbagai penyakit di musim penghujan ini. “Kita juga sudah mengimbau Puskesmas dan unit pelayanan agar tetap siaga dengan perkembangan atau siatuasi yang terjadi,” ujar Edwin.

Kepada masyarakat, ia juga mengharapkan kerja samanya dalam menjaga kebersihan. Namun, hal yang paling efektif, menurut Edwin dengan melakukan pembasmian sarang nyamuk baik perorangan dan keluarga mengantisipasi DBD. “Musim hujan, pastinya perkembangbiakan nyamuk juga tinggi. Tentunya fogging dilakukan secara selektif,” imbuhnya.

Sementara, Kasubbag Hukum dan Humas RSU Dr Pirngadi Medan (RSUPM) Edison Perangin-angin SH MKes mengatakan tidak ada kesiapan khusus rumah sakit dalam menghadapi musim penghujan ini. “Kesiapan khusus tidak ada, karena kita sidah siap 24 jam. Ada unit gawat darurat dan ambulans center,” katanya.

Sedangkan pasien DBD yang menjalani rawat inap di RSUPM, ujar Edison sejak Desember 2011 hingga 9 Januari 2011 berjumlah 5 orang. “Yang rawat jalan tidak ada,” imbuhnya. (jon/mag-11)

Panglima TNI: Serahkan Senjata!

Jakarta Anggap Konflik Aceh hanya Kriminal Murni

JAKARTA-Para petinggi di Jakarta masih bersikukuh bahwa serangkaian penembakan di Aceh dan terakhir penggergajian tiang tower PLN hingga roboh, merupakan aksi kriminal biasa. Namun, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, menyebut ada kelompok-kelompok bersenjata yang bermain di Aceh.

Dia pun memperingatkan agar kelompok bersenjata ini segera menyerahkan senjatanya. “Serangkaian peristiwa itu merupakan kriminal murni. Memang kita ketahui masih ada senjata di luar yang dipegang oleh kelompok-kelompok tertentu. Kita berharap semua senjata segera diserahkan,” ujar Agus Suhartono usai menghadiri rapat di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (9/1) sore.

Apakah kelompok bersenjata itu eks kombatan-kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)? Agus menampiknyan
Dia hanya menyebut berkali-kali bahwa kelompok itu merupakan ‘kelompok bersenjata’. Saat Sumut Pos menanyakan bahwa ada indikasi ini kelompok terorganisir terbukti ada penyelundup senjata ditangkap di Langkat, Agus mengatakan, masalah penyelundupan senjata bisa terjadi di mana saja. Aparat, katanya, tetap terus melakukan patroli untuk mengeliminir aksi penyelundupan senjata. “Di Selat Malaka itu, sejak dulu sudah ada penyelundupan senjata di sana,” ujarnya.

TNI sendiri, lanjutnya, secara rutin melakukan pemeriksaan gudang senjata yang ada di Aceh untuk memastikan tidak ada yang hilang dan dipakai kelompok bersenjata. Berulang kali dikatakan, masih banyak senjata ilegal yang beredar di Aceh.

“Tapi kita tidak tahu persis bahwa senjata itu masih ada yang ilegal. Kami akan terus ikuti dan mengadakan kegiatan yang mengeliminir adanya senjata-senjata itu,” ungkap mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut ini.

Terkait dengan ambruknya tower PLN di Desa Matang Sijuk Barat, Baktia Barat, Aceh Utara, Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Pusat, Bambang Dwiyanto, menjelaskan, kondisi listrik di daerah tersebut sudah normal. “Kami sampaikan bahwa sampai saat ini kondisi kelistrikan di Aceh aman dan tidak ada pemadaman listrik,” terangnya.

Diakui, sesaat setelah tower tersebut roboh pada hari Sabtu 7/1 jam 23.06 WIB memang sempat terjadi pemadaman. Hanya saja, lanjut Bambang, kondisi listrik langsung normal kembali pada Sabtu itu juga, yakni mulai pukul 23.06 WIB (lihat grafis). “Karena satu circuit masih bisa beroperasi,” terangnya.

Pasca kurang kondusifnya kondisi di NAD, jajaran Polres Langkat mengintensifkan penjagaan baik darat maupun laut. Patroli sejumlah titik Jalan Lintas Sumatera (jalinsum) hingga pulau terluar berbatasan dengan NAD, sengaja digencarkan.

Kapolres Langkat, AKBP H Mardiyono, memberdayakan segenap kekuatan dari jajaran perwira hingga personel dari berbagai unit satuan guna menghempang ekses ditimbulkan keadaan dimaksud. “Hal yang sama juga dilakukan untuk jalur laut, patroli intensif sebagai pencegahan,” kata Kapolres Langkat, AKBP H Mardiyono, di Stabat, kemarin.

Dalam melaksanakan sweeping, lanjut Kapolres, pihaknya melakukan tindakan antisipasi pengamanan terhadap personel. Maksudnya, menggunakan rompi antipeluru guna menghindari kemungkinan terburuk, menyusul tertangkapnya dua warga NAD membawa senpi.

Kapolres lebih lanjut menegaskan, guna mendukung operasi sedikitnya lima puluh personel Polres Langkat berpatroli di kawasan perairan dan pulau teluar yakni Pulau Kampai dan Pulau Sembilan di Kecamatan Pangkalan Susu, menggunakan kapal patroli milik polisi air, speedboat dari PT Pertamina, serta perahu nelayan. “Sasaran hendak kita capai bukan hanya penggagalan dugaan transaksi senjata api, bahkan peredaran narkoba masuk dari NAD. Sedikitnya, ada tiga pulau terluar masuk kawasan Polres Langkat berbatasan dengan Aceh serta Selat Malaka yang memungkinkan menjadi tempat pelarian penembak misterius,” urai Kapolres.

Terkait dua warga NAD, Syaiful Amri dan Wahyudi pembawa senpi ditangkap kemarin, dijelaskan dia tidak tertutup kemungkinan sebagai tersangka. Karena pemeriksaannya dilakukan secara intensif di Mapoldasu, pihaknya belum dapat mengetahui hasil pengembangan.

Gatot, Kapolda, Pujakusuma Bersama Aceh Sepakat Bertemu

Sementara itu, hari ini, Selasa (10/1), Plt Gubsu bersama Kapoldasu serta DPP Pujakusuma dan DPP Aceh Sepakat duduk bersama membahas situasi di Aceh. Mereka berkumpul di RM Jimbaran, Jalan Babura Baru  Medan untuk membahas situasi di Aceh.

“Kehadiran Pak Gatot sebagai wakil dari suku Jawa bersama Pujakusuma. Kita sama-sama tahu kalau korbannya adalah orang-orang Jawa yang merantau di Aceh. Nah, kita semua tidak ingin ada konflik kesukuan menjadi meluas. Makanya kita duduk bersama dan menyatukan persepsi,” kata Wakil Sekretaris DPP Aceh Sepakat Dinar Nyak Idin Waly.
Dinar Nyak Idin Waly mengakui kalau penembakan itu terjadi dilatarbelakangi oleh muatan politik, termasuk ada hubungannya dengan Pilkada di Aceh. “Penilaian ini berdasakan kacamata dan analisa DPP Aceh Sepakat. Kalau pemerintah mengelak bahwa penembakkan di Aceh tidak ada unsur politik atau berhubungan dengan Pilkada, itu bohong. Kami sudah melakukan analisa dengan memintai keterangan masyarakat Aceh,” kata dia.

Menurutnya, penembak misterius di Aceh sengaja mengambil korbannya adalah suku Jawa yang bekerja di Aceh. “Tujuannya untuk menarik perhatian pemerintah pusat. Karena korban-korbannya dari Pulau Jawa. Lalu orang-orang Jawa di Aceh ketakutan sehingga balik ke Pulau Jawa dengan difasilitas pemerintah. Nah, berarti tujuan perusuh di Aceh jadi tercapai,” ujarnya.

Sementara itu, Mabes Polri mengklaim telah berhasil memetakan wilayah-wilayah rawan tindak kriminal khususnya penembakan yang akhir-akhir ini marak di Aceh.  Kepala Divisi Humas Humas Mabes Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution, mengatakan Kepolisian Daerah Nangroe Aceh Darussalam telah memerintahkan jajaran Kepolisian Resor yang ada di Aceh untuk terus bekerja. “Itu sebagai upaya antisipasi. Kapolda Aceh sudah memetakan lokasi yang rawan penembakan di Aceh,” kata Saud di Mabes Polri, Jakarta, Senin (9/1)

Saud mengatakan seluruh jajaran Polres Aceh sudah menugaskan tim khusus untuk memantau lokasi-lokasi rawan tersebut. Selain itu upaya patroli akan terus dilakukan oleh Polda Aceh.

“Kami akan melakukan patroli rutin dan tidak menutup kemungkinan menggelar razia tertentu mengantisipasi terjadinya kembali penembakan misterius di Aceh. Tim back-up dari Mabes Polri juga sudah berada di Aceh,” ujar Saud.

Sedangkan terkait dampak tumbangnya tower PLN nomor 354 di Desa Matang Sijeuk, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara, Minggu (8/1) dini hari akibat digergaji OTK hingga putus, kini butuh dua minggu membangun tower saluran udara tegangan tinggi (Sutek) LSW secara permanen. “Dua minggu baru siap diperbaiki dan dipasang kembali secara permanen. Sekarang ini masih menggunakan yang cadangan,” ujar Manager Area PLN Lhokseumawe, Delfiar Anis, kepada koran ini, kemarin.

Meski menggunakan tower cadangan ungkapnya, namun suplay listrik yang berada di tujuh kabupaten berjalan normal kembali seperti biasanya. Sementara menyangkut pengawasan tower agar tidak terulang kembali dilakukan sabotase oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan aparat keamanan.
“Sebelumnya juga petugas kita telah melakukan patroli setiap malamnya, namun karena jumlah tower ini mencapai ratusan buah, maka agak sulit dilakukan,” katanya melanjutkan kalau saat ini patroli dilakukan bersama dengan aparat keamanan.

Begitu juga dikatakan Kapolres Aceh Utara yang telah memerintahkan personelnya untuk membantu pengamanan di lokasi tumbangnya tower.  “ Pihak PLN sudah berkoordinasi dengan kita terkait mekanisme pengamanannya,” terang kapolres Aceh Utara AKBP Farid BE. (sam/mag-4/ ila/ den/agt/msi/smg)

Warga Tembung Tinggalkan Pidie

SEJUMLAH pekerja asal Pulau Jawa yang saat ini bekerja di Pidie lebih memilih pulang kampung. Hal itu dilakukan menyusul terjadinya penembakan terhadap beberapa pekerja di Banda Aceh, Bireuen, dan Aceh Utara.

Pantauan Rakyat Aceh (grup Sumut Pos) bahwa sejumlah pekerja itu bukan semuanya asal Pulau Jawa, akan tetapi sebahagian mereka dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan warga Riau.

Seperti Tukimin (30), warga Tembung, Medan, Sumatera Utara. Dia pun bergegas tinggalkan Aceh karena khawatir dengan nyawanya. Apalagi, dia bekerja sebagai buruh bangunan dengan meninggalkan dua anak dan istrinya di Tembung. “Kami lebih baik pulang Mas daripada kena imbasnya,” jelasnya.

Tambah Tukimin, dia bekerja sebagai buruh bangunan dengan gaji per hari Rp80.000, tentu saja sangat membantu keluarganya . Setiap bulan uang tersebut dikirim ke Medan untuk anak istrinya. Namun, harapan Tukimin untuk memperbaiki ekonomi keluarga pupus sudah setelah rentetan senjata kembali terjadi di Aceh. “Saya takut Mas mendingan pulang ke Medan saja bisa kumpul sama anak istri daripada hidup dalam ketakutan,” paparnya sedih.
Hal senada dialami Suryono (28), warga Malang Jawa Tengah yang bekerja sebagai tukang bangunan di Pidie. Dia mengaku, mulai dikepung rasa ketakutan dan cemas: jangan-jangan peristiwa itu akan menimpa mereka. Maka, pada Minggu (8/1) lalu, sekira pukul 22.00 WIB dia berangkat pulang kampung bersama lima teman lainnya.

“Saya takut Mas dengan kejadian itu dan saya sama teman lain lebih memilih pulang kampung saja,” ungkapnya.
Tambah dia, setelah terjadi penembakan terhadap beberapa pekerja di Aceh maka dua hari kemudian banyak kawan-kawannya yang duluan pulang. Dia terlambat pulang dikarenakan menunggu pembayaran gaji sedikit telat, rencana Suryono. dia akan pulang kampung dan tidak mau balik ke Aceh lagi. “Saya takut terjadi seperti konflik 30 tahun yang lalu dan kami mau menyelamatkan diri dari ancaman itu,” tutur Suryono. (mag-36/smg)

Macet

Dame Ambarita, Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Oleh Dame Ambarita
Pemimpin Redaksi Sumut Pos

Ekspresi ketat terekam di wajah para pengendara roda dua maupun roda empat, di lintasan Jalan AH Nasution, Asrama Haji, malam Senin dua hari lalu. Klakson ‘berteriak’ di sana sini. Pengendara berebut saling mendahului. Semua lelah. Semua kesal. Tapi, kendaraan tetap saja hanya bisa beringsut-ingsut 1 meter… 2 meter
Brmmm… tetttt… tinnn… tinnnn… tetttt….

Kemacetan di Kota Medan tahun-tahun belakangan ini memang semakin parah. Titik terparah berada di Simpang Pos, Titi Kuning, perempatan Pulo Brayan, Thamrin, Simpang Aksara, Simpang HM Yamin dan Sutomo, Simpang SM Raja-Pandu, dan beberapa titik lainnya. Efeknya, waktu tempuh yang dialami pengendara bisa berlipat hingga dua bahkan tiga kali dari normal.

Jumlah kendaraan bermotor di Sumatera Utara (Sumut) dalam dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan pesat. Data dari Dirlantas Polda Sumut, jumlah kendaraan dari seluruh jenis pengelompokan sudah menembus angka 4 juta unit. Kondisi pada posisi per September 2010, totalnya mencapai 3,9 juta unit.

Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan 321.674 unit dibandingkan tahun 2009 sebanyak 3,36 juta unit.  Jika kenaikan jumlah kendaraan dari 2010 ke 2011 kita samakan saja dengan angka dari 2009 ke 2010, berarti jumlah kendaraan saat ini sekitar 4,2 juta unit. Dari jumlah itu, Medan menampung sekitar 2,9 juta unit. Jika dikalikan hingga lima tahun ke depan menggunakan angka kenaikan serupa, pada 2016 jumlah kendaraan di Sumut mencapai 5,8 juta.
Banyaknya jumlah kendaraan ini dituding sebagai penyumbang terbesar kemacetan lalu-lintas. Tudingan ini memunculkan ide untuk membatasi kuantitas pembelian kendaraan pribadi. Tapi itu ide menggelikan dan melanggar hak individu. Lagipula, bagaimana mengatur siapa yang berhak memiliki kendaraan pribadi dan siapa yang tidak? Itu bisa memicu diskriminasi.

Menyalahkan pemerintah kota yang sejak dulu tidak memiliki visi master plan memadai mengenai infrastruktur jalan, jauh lebih mudah. Idealnya, seharusnya jauh-jauh hari pemerintah kota sudah memperhitungkan peningkatan jumlah kendaraan tiap tahun, sehingga infrastruktur jalan sudah dirancang beberapa jalur.

Tapi ya sudahlah… mencari siapa yang salah tidak akan memecahkan masalah. Eloknya, kita sama-sama mencari solusi mengurai kemacetan ini. Ide Pemko Medan untuk membangun bus  Trans Medan–mirip Trans Jakarta-barangkali menjadi satu solusi yang patut diapresiasi. Membangun jalan layang adalah satu solusi lain lagi. Melebarkan jalan, meski biaya tinggi, juga patut dipikirkan. Kalau biayanya tinggi, pembebasan lahan bisa dilakukan bertahap.
Kebijakan pemerintah pusat membatasi BBM bersubsidi untuk kendaraan pribadi, mungkin bisa juga mengurangi kemacetan. Tetapi, jika alat transportasi publik kita tetap saja ‘menjengkelkan’ seperti saat ini, kebijakan itu tidak akan memberi pengaruh berarti.

Solusi lainnya yang lebih masuk akal adalah membangun transportasi publik yang mumpuni. Singapura misalnya, berhasil menerapkan sarana transportasi kereta bawah tanah sebagai alat transportasi publik favorit warganya. Tingginya pajak kendaraan dan biaya parkir, serta mahalnya bahan bakar minyak, menjadi beberapa alasan warga Singapura memilih naik kereta api. Tapi, alasan utamanya adalah kepuasan yang dirasakan saat menggunakan kereta api.

Membangun sarana kereta api bawah tanah di Kota Medan yang qualified, mungkin sulit dan berbiaya tinggi. Tapi, bukan mission impossible. Jenisnya tak harus KA bawah tanah. Boleh saja sarana transportasi publik lainnya, asalkan mampu mengatasi kemacetan jangka panjang. Selain mampu mengurai kemacetan yang pasti akan semakin padat di tahun-tahun mendatang, transportasi publik yang mumpuni juga memerdekakan hak orang untuk memilih: alat transportasi pribadi atau publik.

Setelah menyediakan transportasi publik yang mumpuni, barulah pemerintah menggarap misi kedua, yakni mengajar warganya agar memandang kendaraan pribadi dari azas manfaat, bukan dari azas konsumerisme. (*)

Polisi Amankan 28 Kg Sabu-sabu di Polonia

60 Kg Berhasil Lolos, Tiga Warga Malaysia Buron

MEDAN-Sepasukan polisi dari Tim Mabes Polri (bukan BNN)  yang bekerja sama dengan beberapa tim khusus (Timsus) dari Mapolresta Medan berhasil menggagalkan peredaran sabu-sabu di Medan. Tidak tanggung-tanggung, sabu-sabu seberat 28 kg berhasil diamankan dari dua orang tersangka yang diduga sebagai jaringan internasional.

Informasi yang dihimpun, penangkapan gembong pereda ran sabu-sabu internasional ini dilakukan Senin (9/1) dini hari, sekira pukul 04.00 WIB, di kawasan Polonia Medan Timsus berhasil mengamankan dua orang tersangka warga negara Malaysia.

Seorang anggota Timsus, yang ikut dalam penyergapan ini mengatakan, bahwa penangkapan itu yang mengkoordinir adalah Mabes Polri. “Memang aku ikut tadi pagi, cuma yang berhak memberikan keterangan orang Mabes Polri lah. Karena ini langsung dipegang orang Mabes Polri,” ujar salah seorang sumber di kepolisian yang namanya takut dikorannya.

Bukan itu saja, sumber ini menambahkan, selain mengangkap dua orang, masih ada tiga warga Malaysia lainnya yang berhasil lolos melarikan diri dengan satu unit mobil jenis toyota kijang dan membawa lari 60 kg sabu-sabu.  “Mungkin ini tidak langsung dipaparkan di Mabes, karena tiga orang lagi masih dalam pengejaran. Memang yang dapat tadi pagi lumayan besar. Tapi, yang lebih besar, yang dibawa lari itu. Bayangkan, 60 kg lolos. Memang Medan ini mau dijadikan orang itu sebagai targetnya,” jelasnya.

Lanjut sumber terpercaya wartawan koran ini, sabu-sabu sebanyak itu dipasok dari Malaysia melalui pelabuhan kecil di Aceh. Dan, dari Aceh dikirim ke Medan dengan jalan darat. Diduga, para bandar narkoba ini akan kembali mengirimkan kembali sabu-sabu itu ke Jakarta. “Kalau dugaan, sabu-sabu ini  mau dikirim lagi ke Jakarta. Tapi gak taulah, yang nangani Mabes Polri. Katanya ini udah target Mabes dan udah 2 minggu ini TO mereka,” ujar sang sumber ini kepada POSMETRO MEDAN (grup Sumut Pos).

Nah, kedua tersangka itu langsung diboyong dengan menggunakan pesawat pagi kemarin, sekira pukul 07.30 WIB. Sebagian tim dari Mabes Polri masih berada di Medan, guna melakukan pengejaran terhadap tiga tersangka yang berhasil lari. “Bagusan ke Mabes Polri lah Bro, kami gak berhak. Nanti bocor pula,” ujar narasumber ini mengakhiri.

Penangkapan ini merupakan tindak lanjut dari pengembangan polisi yang berhasil membongkar gudang narkoba senilai Rp308 M di Apartemen Mal Taman Anggrek. Ceritanya, petugas Polres Metro Bandara Soekarno-Hatta dibantu Polda dan Mabes Polri membongkar kasus penyimpanan narkotika berupa sabu seberat 50 kg dan ekstasi 357.000 pil ekstasi yang disimpan di Apartemen Mal Taman Anggrek pada Minggu (8/1) sekitar pukul 12.30 WIB. “Ini berawal dari penangkapan salah satu tersangka.

Barang-barang tersebut berasal dari luar negeri, yakni sabu dari Iran, ekstasi dari Malaysia,” ujar Kapolres Metro Bandara Soekarno-Hatta, Kombes Pol Reynhard Silitonga pada wartawan, Senin (9/1).
Menurut dia, pelaku adalah pelaku sindikat narkoba internasional yang bekerja sama dengan pelaku antar provinsi di Indonesia. “Ini mereka main dari jalan darat dulu, sesampai di Medan, baru mereka mengirim melalui udara, sesuai dengan permintaan narkotika,” imbuhnya.

Berdasarkan keterangan pelaku tersebut, polisi akhirnya mengembangkan. Dan, ditemukan barang bukti sabu dan ekstasi tersebut di Apartemen Mal Taman Anggrek, tepatnya di Tower 7 lantai 46. “Kami terkejut ada sabu 50 kg di sana. Ada pun ekstasinya bermerek macan, batman, mc donalds, toyota, cross, dan banteng,” katanya.
Selain sabu dan ekstasi, Polres Bandara juga menggagalkan pengiriman ganja dari Aceh ke Jakarta melalui penerbangan domestik. “Total ada 57 kg ganja,” ujarnya.

Seluruh tersangka ada berjumlah 5 orang, di antaranya seorang WN Malaysia berinsial KTC alias KN. “Mereka tidak ada yang memproduksi, tapi di sana hanya peyimpanan,” ujar Reynhard. (ala/smg)

Tolak Pertamax, Pindah ke Gas

Soal Pembatasan BBM Bersubsidi

MEDAN-Banyak rencana yang digagas pemerintah terkait pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Mulai pengalihan premium ke pertamax, solar ke Pertamina DEX, hingga memakai Bahan Bakar Gas (BBG).

Masalahnya, pengalihan BBM ke BBG ternyata membutuhkan sebuah alat yang dinilai bisa menjadi alternatif dalam pembatasan BBM bersubsidi yakni converter kit. “Converter kit itu sebenarnya alat penambahan untuk kendaraan, yang biasa pakai BBM, bisa pakai gas,” ungkap general Manager PT Autogas Indonesia, Christianti di Jakarta
Dia menjelaskan, fungsi dari converter kit adalah pengguna kendaraan bisa memilih menggunakan BBM atau BBG.

Sehingga, ketika pemerintah memberlakukan pembatasan BBM bersubsidi, yang salah satunya adalah dengan memberlakukan conversi BBM ke gas, masyarakat bisa menentukan pilihannya. “Jadi kalau dengan converter kit, bisa pakai gas atau BBM, punya dua pilihan,” tambahnya.

Sayangnya, kesiapan pemerintah ternyata belum maksimal. Bahkan, untuk Pulau Jawa yang rencananya mulai dibatasi pada 1 April mendatang, pemerintah belum menyiapkan pasokan converter kit yang mencukupi untuk peralihan ke BBG di seluruh daerah itu. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan kebutuhan converter kit untuk Jawa dan Bali diperkirakan mencapai 250 ribu unit. “Itu untuk Jawa Bali. Tapi, nanti kalau persediaan converter kit-nya belum semuanya, mungkin bertahap lagi. 1 April mungkin Jabodetabek dulu,” kata Jero usai rapat koordinasi di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, kemarin.

Selain untuk kendaraan angkutan umum, conveter kit menjadi alternatif bagi mobil pribadi yang enggan beralih ke Pertamax. Namun, harga converter kit ini masih cukup mahal, yakni antara Rp10 juta hingga Rp15 juta. Untuk angkutan umum, converter akan dibagikan gratis. Sedangkan untuk kendaraan pribadi, tetap harus membeli sendiri.
Jero mengatakan, untuk masyarakat menengah ke atas, memang akan lebih baik jika langsung menggunakan Pertamax. “Tetapi untuk masyarakat kelas menengah ke bawah ini tidak mampu membeli Pertamax, kami akan mendorong membeli gas. Untuk membeli gas ada peralatan yang harus ada, satu di mobilnya sendiri harus ada converter kit dan inilah yang harus kita urus,” kata Jero.

Sebelumnya di kompleks Istana Kepresidenan, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyambut positif jika PT DI akan memproduksi converter untuk mendukung kebijakan pembatasan BBM bersubsidi. Namun dia menggarisbawahi, hal itu tidak bisa dilakukan serta-merta dan terburu-buru.

“Kita bangga nanti kalau punya produk nasional untuk itu, Tapi, semuanya harus melalui suatu proses, pengujian, pengetesan,” kata Hatta.

Dia mengatakan, hingga pengujian selesai dilakukan, converter itu baru bisa digunakan. “Kita ingin semuanya safe. Asas-asas safety itu number one,” imbuhnya.

Besan Presiden SBY itu mengatakan, rencananya converter akan dibagikan secara gratis untuk angkutan umum (pelat kuning). Sementara untuk kendaraan pribadi (pelat hitam), pemerintah tengah memikirkan cara untuk memberikan subsidi. “Subsidi misalnya, ada kemudahan-kemudahan,” katanya.

Terkait dengan pro kontra jelang penerapan pembatasan BBM bersubsidi, Hatta memilih tidak banyak komentar dan fokus pada tahap persiapannya. “Persiapan berjalan saja, sebanyak mungkin kita bangun SPBG-nya, sebanyak mungkin menyediakan converternya,” katanya.

Saat ini, lanjut dia, pemerintah melalui kementerian ESDM sudah membentuk dua tim, yakni tim sosialisasi dan tim pengawasan. Tujuannya proyek pengalihan ke BBG itu bisa sukses karena hemat dan membuat udara bersih. “Kita lakukan bertahap. Sekarang ini kita mulai saja, jangan menunggu April. Pokoknya jalan sekarang, yang dipercepat persiapannya,” urainya.

Terkait dengan itu, soal pembatasan BBM subsidi yang rencananya mulai diterapkan pemerintah tahun depan di Sumatera wajib disikapi pemerintah daerah dengan bijak. Hal inilah yang diminta DPRD Sumut terhadap Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu).

Wakil Ketua Komisi B DPRD Sumut T Dirkhansyah mengatakan, pembatasa subsidi BBM tersebut akan diterapkan pada orang per orang atau bersifat individu. Tapi, tetap saja dan acapkali terjadi, pencabutan subsidi akan berdampak pada sektor lain yang terkait, terutama sisi perekonomian. “Meskipun kita belum tahu akan seperti apa pelaksanaannya, setidaknya Pemprovsu bisa membangun strategi agar pembatasan BBM itu tidak berdampak luas di Sumut,” ungkapnya seusai memimpin Rapat Kerja dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah jajaran urusan perekonomian Pemprovsu, Senin (9/1).

Politisi dari Fraksi Demokrat ini menambahkan, Pemprovsu harus menyiapkan infrastruktur terkait pembatasansubsidi BBM itu. Baik itu dengan melakukan sosialisasi pada masyarakat secara luas, mengenai siapa atau kalangan masyarakat yang mana sebenarnya yang nantinya akan terkena pembatasan subsidi tersebut. “Mau tak mau harus dihadapi. Dan, Sumut harusnya sudah siap dengan rencana pemerintah pusat tersebut,” tambahnya.
Secara terpisah, Wakil Ketua DPRD Sumut HM Affan SS menegaskan, agar pemberlakuan aturan itu juga didasarkan peraturan yang jelas dan tegas. “Rencana itu bagus, namun mesti didasarkan oleh aturan yang jelas. Agar tidak menjadi simpang siur di masyarakat, sehingga membingungkan masyarakat itu sendiri,” katanya.

Terkait hal itu, Asisten Perekonomian Sumut, Djaili Azwar mengakui, pihaknya sejauh ini masih akan melakukan pemantauan dan antisipasi atas dampak yang akan ditimbulkan dari pembatasan subsidi tersebut. Langkah antisipatif yang akan dilakukan di antaranya, penyaluran sejumlah program pemerintah seperti pupuk bersubsidi, penyaluran raskin dan lainnya harus tepat waktu. “Pelayanan pada masyarakat juga jangan sampai ada lagi yang dipermainkan. Infrastruktur juga akan kita maksimalkan,” bebernya.

Menurutnya, Pembatasan subsidi BBM ini akan berdampak besar di masyarakat. Kata dia, otomatis dicabutnya subsidi itu membuat aksesibilitas masyarakat terhadap minyak subsidi akan semakin terbatas. “Jadi, jangan ada lagi pelayanan kita yang memberatkan masyarakat. Sebenarnya kalau boleh di bilang, kebijakan tersebut cukup riskan diterapkan. Namun karena itu kebijakan pusat, pemerintah daerah harus mengawalnya jangan sampai menimbulkan keluhan di masyarakat,” terang Djaili. (sof/fal/jpnn/ari)

Sejak Kecil Takut Diculik

Ayu Ting Ting

Bakat Ayu Ting Ting jadi seorang artis ternyata sudah terlihat sejak pedangdut ini masih kanak-kanak. Dia langganan ikut kontes kecantikan.

“Dari kecil aku sering ikut fashion show,” aku Ayu.

Tanpa malu, pelantun Alamat Palsu itu mengaku saat kecil diri nya sangat energik dan gemar berpose. Sehingga tak heran jika Ayu kecil sudah senang bergaya di atas catwalk. “Aku waktu kecil centil dan banyak gaya.”
Meski tipikal anak yang aktif, tapi sejak kecil Ayu paling tidak berani keluar rumah.

Alasannya, karena ia sangat takut diculik. Rasanya saat  ini pun Ayu takut diculik. Pasalnya, dia sudah sangat terkenal dan memiliki harta berlimpah dari banyak tawaran manggung dan iklan. Ayu bahkan sempat dikabarkan menerima honor sebesar Rp1 miliar saat mengisi sebuah acara di malam tahun baru lalu.

“Iya apalagi dengar banyak berita penculikan. Tapi kalau soal uang sebesar itu sih aku amin aja dengarnya. Mudah-mudahan jadi kenyataan. Alhamdulillah,” jawabnya.

Menurut Ayu, ia tidak tahu seberapa besar pendapatannya saat ini. Sebab, seluruh penghasilannya diberikan kepada orangtua. “Mengalir saja. Kalau rezeki diterima. Kalau investasi Ayu nggak mengerti, semua uang Ayu kasih ke orangtua.” katanya.

Di sisi lain, Ayu berharap bisa segera mewujudkan keinginannya membawa keluarga ke luar negeri.
“Mau ke Korea yang pasti. Mau belanja, mau menyenangkan orangtua dan adik. Insya Allah terwujud,” ucapnya.
Ayu pun tak mempermasalahkan uang hasil keringatnya habis dipakai orangtua dan keluarganya. “Aku nggak pernah masalahin uang ke mana. Kan aku kerja di dunia ini memang untuk orang tua, bukan untuk siapa-siapa,” katanya. (rm/jpnn))

Nekat Berangkat dengan Bekal Rp100 Ribu

Tarlem binti Unus Tajeum, TKI yang Tewas Misterius di Jordania

Satu lagi kisah pilu tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Berangkat ke Jordania dengan tekad besar demi keluarga, Tarlem binti Unus Tajeum, TKI asal Subang, Jawa Barat, malah kehilangan nyawa.

M HILMI SETIAWAN, Jakarta

Awes bin Supriadi tampak galau. Pria 44 tahun itu mondar-mandir di depan ruang otopsi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Minggu (8/1). Awes memang tengah resah menanti otopsi jenazah istrinya, Tarlem binti Unus Tajeum. Otopsi dilakukan karena dia ingin mendapat kepastian penyebab meninggalnya sang istri.

Awes mendengar kabar kematian istrinya dari Dinas Tenaga Kerja Subang pada 20 Desember 2011. Padahal, Tarlem meninggal pada 24 November. Jeda waktu yang hampir sebulan itu mengundang tanda tanya. Pihak keluarga merasakan adanya kejanggalan dalam meninggalnya Tarlem. Nah, saat tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, jenazah Tarlem dilengkapi dokumen dari KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) yang menyatakan bahwa dia meninggal karena sakit jantung.

Ketidakjelasan itu membuat Awes meradang. Dia akhirnya menyetujui proses otopsi jenazah istrinya. “Kami rela meskipun jenazah katanya rusak jika diotopsi,” ujar pria kelahiran Subang, 5 Oktober 1967, itu.

Elly Anita, pendamping dari LSM Migrant Care, mengatakan bahwa awalnya keluarga diminta pihak pemerintah agar tidak melakukan otopsi terhadap jenazah Tarlem. Mereka ditakut-takuti bahwa jenazah akan rusak jika diotopsi. Namun, pihak keluarga bersikukuh melakukan otopsi untuk mencari kepastian penyebab meninggalnya Tarlem. Hasil otopsi Tarlem itu bisa keluar dua pekan lagi.

Kedatangan jenazah Tarlem kemarin sempat diwarnai insiden kecil. Diceritakan Elly, jenazah sempat terombang-ambing karena proses serah terima yang tidak jelas. Ketika mobil yang membawa jenazah sudah meninggalkan bandara, tiba-tiba ada petugas dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) yang meminta kembali ke bandara. Alasannya, serah terima jenazah harus dilakukan di bandara.

Permintaan itu ditolak keluarga korban. “Akhirnya diputuskan serah terima dilakukan di RSCM saja. Masak sudah musibah, harus diperumit lagi,” ucap Elly.

Selain misteri tentang penyebab kematian Tarlem, kasus tersebut diwarnai pemalsuan identitas korban. Hal itu terjadi pada dokumen keberangkatan. Elly mengungkapkan bahwa tanggal lahir Tarlem dipalsukan. Tanggal lahir Tarlem yang benar adalah 10 November 1968. Namun, dalam paspor dan dokumen lainnya ternyata tertulis 10 Oktober 1980. “Kami akan proses pemalsuan ini,” tegasnya.

Elly juga mempersoalkan dokumen dari KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) Kelas I Soekarno-Hatta yang menyatakan bahwa Tarlem meninggal karena sakit jantung. “Padahal, hasil otopsi belum keluar. Kok bisa mengeluarkan keterangan resmi,” ujar Elly.

Sambil menunggu proses otopsi rampung, jenazah Tarlem segera dikebumikan di kampung halamannya, Dusun Krajan, Desa Sukaraji, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Meski begitu, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Awes mencari kepastian atas meninggalnya sang istri. “Saya akan terus menunggu sampai otopsi selesai,” kata Awes yang didampingi  putranya, Wahyar Ilan (20).

Awes menceritakan, awalnya berat melepas Tarlem bekerja ke luar negeri. Namun, niat sang istri untuk membantu ekonomi keluarga sangat kuat. Tarlem meminta izin kerja ke luar negeri pada akhir 2009. “Dia maksa betul ingin ke luar negeri,” ucap pria yang bekerja sebagai kuli bangunan itu.

Awes pun tak kuasa membendung niat istrinya. Padahal, Tarlem tidak memiliki pengalaman kerja apa pun. Tarlem akhirnya berangkat ke luar negeri (Jordania) dengan bantuan PT Delta Rona Adiguna, sebuah perusahaan jasa pengerah tenaga kerja. Semua biaya ditanggung perusahaan. Tarlem sendiri hanya berbekal uang tunai Rp100 ribu saat mengadu nasib ke Jordania pada April 2010.

Di awal bekerja, Tarlem rajin menghubungi keluarga. Setidaknya dua kali sebulan dia menelepon Awes. Walau hanya berbincang sekitar sepuluh menit, Awes mengatakan bahwa rasa rindu keluarga kepada Tarlem cukup terobati. Setiap menelepon, Tarlem bertanya tentang kondisi suami, anak, dan sanak keluarga lainnya.

Awes menuturkan, Tarlem bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Ahmad Muhammad dan Waisyah. Soal pekerjaan, Tarlem kepada Awes mengatakan bahwa tugasnya tidak terlalu berat. Yang menjadi masalah justru gaji yang kerap telat.

Hingga Tarlem dinyatakan tewas, sang majikan punya tunggakan gaji enam bulan. Gaji Tarlem adalah Rp1,5 juta hingga Rp1,8 juta per bulan. Dia rata-rata mengirimkan uang ke keluarga Rp2,5 juta dua bulan sekali.

Uang kiriman Tarlem sangat membantu ekonomi keluarganya. Selain untuk biaya sekolah sang anak, uang kiriman itu digunakan untuk membeli tanah dan merenovasi rumah.

Awes menceritakan, uang kiriman dari Tarlem sudah bisa digunakan untuk membeli tanah seluas 15 bata. Satu bata itu luasnya sekitar 3,7 meter persegi. Sedangkan harga tanah di kampungnya Rp400 ribu per satu bata. “Rencananya untuk mendirikan rumah,” ungkap Awes tentang tanah tersebut.

Kali terakhir Awes berkomunikasi dengan Tarlem pada 13 November lalu, sebelas hari sebelum istrinya meninggal. Saat itu tidak ada perkataan Tarlem yang mencurigakan. “Istri saya cuma berpesan tetap menjaga anak,” kata Awes.
Tarlem juga bercerita bahwa baru saja diajak umrah oleh majikannya. Dia berniat menceritakan hal itu saat pulang kampung nanti. Tarlem berencana pulang Maret nanti, bertepatan degan berakhirnya kontrak kerja di Jordania.

Awes mengatakan, selama ini istrinya tidak pernah mengeluh sakit. Karena itu, dia sangat penasaran dengan penyebab kematian Tarlem. Jika memang meninggal secara wajar, Awes dan keluarga bakal ikhlas. Namun, jika ternyata ditemukan penyebab kematian tidak wajar, dia menuntut keadilan. Apalagi, kontrak kerja Tarlem belum berakhir. (*)

Sedikit Tentang Danau Toba

Oleh: Ganda Hutahaean *)

Kita sudah mendengar banyak ‘syair’ tentang upaya pelestarian Danau Toba. Banyak institusi, kelompok, LSM, telah mengadakan seminar pun membentuk kegiatan lain dengan jargon kecintaan pada Danau Toba. Dan sepertinya masih akan lebih banyak lagi. Tapi, entahlah, dalam pandangan mata saya, Danau Toba tetap saja makin rapuh, cungkring dan akan masih tambah rapuh lagi. Setidaknya dalam konteks wisata, Danau Toba, mungkin, tak terselamatkan lagi.
Paragraf di atas mungkin akan mudah dituduh tersesat jika kita menilai daerah wisata hanya sekadar daerah yang dikunjungi oleh orang luar. Sebab, jika hanya sesederhana itu, percayalah, sudah hampir semua tempat di muka bumi ini yang dikunjungi orang luar, dan itu masih akan terus terjadi. Namun, selayaknya sebuah daerah wisata dimana ramai orang dari pelosok dunia berduyun mengunjungi karena ada sesuatu keindahan yang sangat dan spesifik, sepertinya tidak akan lagi.

Ada sangat banyak daerah kunjungan wisata yang ada di muka bumi ini. Daerah-daerah itu teridentifikasi dalam beberapa jenis atau variable. Ada daerah wisata budaya, daerah wisata ziarah, pertanian (agrowisata), religi, sejarah, kuliner, wisata konvensi, bahkan ada wisata minat khusus di mana orang-orang berdatangan ke suatu daerah, karena daerah tersebut memiliki suatu keunikan yang khas dan mungkin saja berupa kerajinan tangan atau keindahan arsitektur bangunan daerah dimaksud. Nah, Danau Toba sendiri yang saya ketahui adalah daerah wisata budaya.
Di sinilah  letak permasalahannya, sebagai tempat yang dikenali sebagai daerah kunjungan wisata budaya, bagaimana mungkin bisa berharap akan banyak wisatawan yang masih ingin berkunjung ke Danau Toba kalau berbagai objek yang merupakan petunjuk-petunjuk kebudayaan itu sudah hampir tidak ada lagi.

Sebutlah satu contoh semisal rumah adat Batak. Dalam konteks wisata budaya, rumah adat merupakan salah satu objek yang memiliki peran penting dalam memanggil wisatawan berkunjung. Dari desain juga dekorasi rumah adat, para turis akan mencoba mempelajari segala aspek kehidupan masyarakat setempat. Umumnya mereka selalu sangat tertarik untuk mengamati dan mempelajarinya. Apalagi rumah adat Batak. Bagaimana tidak? Rumah adat Batak disebut memiliki nilai artistik yang tinggi. Selain dibangun tanpa paku dan bisa dibawa berpindah-pindah, konon rumah-rumah yang dibuat dari kayu berusia ratusan tahun dan berukir berbagai simbol itu, juga tahan terhadap guncangan gempa.

Masalahnya sekarang ialah di Pulau Samosir saja, jumlah rumah adat Batak yang tersisa sudah tinggal sedikit.
Selain soal rumah adat, cara hidup masyarakat di sekitar Danau Toba juga sudah sangat berubah. Salah satu keunikan yang dulu sangat dikenal ialah banyaknya binatang piaraan berkeliaran diantara rumah-rumah penduduk. Para penduduk di sana beternak persis di bawah rumahnya yang berbentuk rumah panggung. Sering ternak piaraan itu dibiarkan lepas bebas di areal perkampungan. Namun sekarang pemandangan seperti itu sepertinya sudah tidak terlihat lagi.  Padahal, lagi-lagi, dalam konteks wisata budaya, hal-hal unik seperti itulah mengundang nafsu para wisatawan mancanegara untuk datang. Yang membuat orang-orang seperti orang dari Eropa sana mau datang karena penasaran ingin melihat secara langsung.

Sekarang ini yang secara jelas terlihat adalah rumah-rumah penduduk yang terbuat dari konstruksi beton, dibentuk persegi, selayaknya rumah-rumah pada umumnya di seluruh daerah perkotaan Indonesia. Kalau halnya demikian, apakah kita tidak berfikir bahwa turis akan cenderung memilih berkunjung ke Paris atau Spanyol yang memiliki bangunan dengan nilai sejarah dan desain artistik tinggi? Atau ke Jepang, atau ke kuil-kuil di Cina? Atau justru ke Papua? Atau ke tempat lain yang mungkin nama daerahnya sudah lebih nempel di otak Anda.

Dan juga cara berpakaian atau berdandan masyarakat di sana juga sudah cenderung modern. Sudah tidak lagi menunjukkan kebudayaan lokal. Bahkan acara-acara kebudayaan juga nyaris sudah tidak pernah lagi. Dan sekali lagi, ini dalam konteks soal wisata budaya.

Mungkin akan banyak dari kita tidak menerima argumen ini dengan alasan Danau Toba bukanlah hanya daerah wisata budaya tetapi juga daerah wisata panorama dengan pemandangannya yang indah!

Kalau begitu, marilah sudi meluangkan waktu untuk mencari tahu atau dengan sekedar browsing di internet ada berapa banyak daerah wisata panorama di dunia ini yang mungkin menjadi bahan pertimbangan turis untuk dikunjungi. Dan harap, dengan kondisi sekarang ini, jangan terlalu menggebu-gebu untuk menyebut Danau Toba akan menjadi pilihan kunjungan mereka.

Di Danau Toba, kawasan pantai untuk umum saja sudah hampir tidak ada lagi. Salah satu yang jelas terlihat adalah areal pantai sudah dikapling-kapling oleh pihak hotel. Soal bagaimana ini bisa terjadi, entahlah. Namun sepertinya pesan yang muncul ialah, jika anda ingin merasakan pantai yang seperti ini, maka menginaplah di hotel yang ini. Atau, jika anda ingin merasakan pantai seperti itu, maka menginaplah di hotel itu. Hahahaha…

Ya, ini memang sekadar tentang mungkin. Mungkin, para pelaku industri wisata termasuk pihak hotel beranggapan jika hotel memiliki pantai sendiri, apalagi dengan desain begitu buka jendela langsung bisa nyebur ke danau, pasti para turis senang dan akan banyak berdatangan. Yah, bayangan seperti itu yang paling gampang diduga. Tapi, benarkah demikian? Benarkah para turis khususnya turis mancanegara akan menyukainya? Tidakkah kita pernah berfikir bahwa mereka juga sangat memahami aturan tentang garis pantai? Sudahkah anda pernah menggelar pertanyaan semacam survey kepada para mereka? Saya sendiri pernah beberapa kali. Dan, mereka geram! Mereka kesal, geram, melihat hotel-hotel yang mereka nilai terlalu arogan menggunakan areal pantai untuk membangun kamar-kamar sewaan.  Maka maaf,  bagi saya, adalah terlalu berani jika para pelaku wisata dan orang-orang yang mengaku mencintai dunia pariwisata menyederhanakan logika para turis yang telah maupun akan berkunjung ke Danau Toba.

Hal fatal lain ialah, beberapa tahun belakangan juga santer terberitakan tentang tercemarnya air Danau Toba. Bahkan dikatakan sangat-sangat  tercemar. Tercemarnya dan pendangkalan air danau disinyalir akibat adanya aktivitas peternakan ikan dengan keramba apung dalam skala yang alamak, juga adanya peternakan babi dalam skala besar di Simalungun yang membuang limbahnya langsung ke sungai yang alirannya bermuara ke Danau Toba. Tidak hanya itu, hutan di sekitar yang berfungsi vital sebagai penyangga danau Toba juga dikatakan sudah rusak parah karena adanya aktifitas eksploitasi.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, apakah para manusia berencana atau sudah pernah berkunjung tidak mengetahui hal itu? Atau kita beranggapan bahwa mereka tidak akan peduli dengan hal seperti itu? Apakah dengan menggelar promosi dengan mengatakan bahwa Danau Toba adalah indah disertai tampilan foto yang juga pasti indah sudah cukup untuk mendatangkan turis? Apakah kita mengira mereka tidak akan mencari tahu informasi lain selain dari selebaran atau tayangan promosi itu? Apakah intelektualitas mereka hanya sampai di situ?

Suatu senja pada awal tahun 2000 lalu, di pelabuhan kecil pantai seberang Atsari Hotel, Parapat, saya pernah bertemu seorang turis dari Belanda. Si turis seorang lelaki berusia tua. Awalnya saya sudah beberapa jam memancing ikan di sekitar pantai, kemudian ketika menoleh ke kanan ke arah pelabuhan, saya melihat seorang lelaki tua sedang memandangi danau dari atas pelabuhan itu.

Tergoda untuk menguji kemampuan berbasa inggris saya, saya menemui dan menyapa. Balasannya atas sapaan saya langsung membuat saya terkejut dan merasa ragu. Saya menyapa dalam bahasa Inggris dan ia membalas dengan bahasa Indonesia.

Namun bukan itu sesungguhnya yang membuat saya terkejut dan ragu untuk meneruskan perbincangan. Tetapi saya melihat air sedang mengalir dari mata tuanya. Ternyata si turis tua kita sedang menangis sambil memandangi danau.
Meski merasa misi awal sudah hambar, entah bagaimana saya beranikan bertanya kenapa ia menangis. Meski sebenarnya saya takut mengajukan pertanyaan seperti ini karena terasa terlalu intim. Dan sambil menatap mata saya ia menjawab bahwa ia menangis karena Danau Toba.

Sesungguhnya ia sudah beberapa kali ke Danau Toba. Terakhir kali ia membawa serta seluruh keluarganya dari Belanda pada awal tahun 80an dulu. Saat itu, ia bercerita, cuaca Danau Toba masih sangat dingin. Bahkan meski di negaranya cuaca terkenal dingin, ia selalu membutuhkan mantel jika tiba di danau ini.

Tangannya lalu menunjuk bukit-bukit yang tampak di sekitar Parapat. Di atas itu, katanya, dulu penuh dengan pemandangan pohon-pohon. Pemandangan bukit-bukit yang mempesona itulah menurutnya membuat cuaca di sini sangat dingin. Tidak sekedar memberi sensasi dingin, banyaknya pohon itu menurutnya juga berkontribusi sangat besar dalam memberikan pemandangan yang dramatis di permukaan danau Toba.

Dulu, baik pagi, siang atau sore selalu tampak kabut di atas air danau toba. Nah, cahaya matahari yang terhalang dan coba menembus kabut, memberikan pemandangan garis-garis cahaya yang indah di permukaan danau. Hal itu juga menurutnya sering memberikan efek munculnya kilauan cahaya warna-warni dipermukaan danau yang sangat dramatis. Dan itulah selalu ia rindukan di danau ini.

Dia menceritakannya dengan sorot mata serius dan berbinar. Saya sendiri susah membayangkannya karena tidak sempat melihat panorama seperti yang diceritakannya itu. Namun saat bertemu saya itu, dia tidak mendapatkan itu lagi. Bahkan air yang menurutnya dulu sangat jernih sehingga bisa melihat langsung banyak ikan bermain di dalamnya, sekarang sudah kotor. Dia menangis. Dia adalah mantan tentara belanda yang pernah bertugas di daerah ini di masa penjajahan dulu.

Meski tidak sempat menikmati pemandangan seperti yang ceritakan oleh dia, Danau Toba memang sudah sakit berat. Dan meski akan banyak kegiatan digelar dengan jargon kecintaan terhadap Danau Toba saya ragu kegiatan-kegiatan seperti itu akan mampu menyelamatkannya. Karena masalahnya sudah sangat-sangat serius. Saya memang tidak mendalami ilmu olah vocal tapi saya tidak yakin dengan menggelar panggung bernyanyi maka Danau Toba akan terselamatkan, para turis akan berdatangan.

Saya juga tidak suka disebut pesimis, tapi memohon, jika berbicara tentang masalah kepariwisataan di Danau Toba, janganlah lagi berkutat sekedar di persoalan karakter masyarakat dengan analogi si penjual mangga. Horas! (*)

Korek Kuping Jumbo untuk DPR

Pong Harjatmo

Politikus Partai Gerindra Permadi dan artis Pong Harjatmo menengok para demonstran yang melakukan aksi jahit mulut di depan gedung DPR RI Senayan, Jakarta siang tadi.

Pong yang sengaja hadir dengan membawa kacamata dan korek kuping tambang tersebut mengatakan tujuannya membawa kedua benda tersebut agar pemerintah dan DPR mau mendengarkan keluhan rakyatnya yang sudah hampir satu bulan menuntut keadilan. “Saya bawa kacamata dan korek kuping tambang biar pemerintah, DPR mendengarkan keluhan rakyat. Biar dengar dan kupingnya bersih,” ujar Pong di depan gedung DPR Senayan Jakarta, Senin (9/1).

Sebelumnya, aksi jahit mulut dilakukan delapan orang sejak Senin 19 Desember lalu di depan pintu gerbang Gedung DPR. Aksi yang semula akan diikuti oleh 100 relawan tersebut, hanya diikuti oleh 73 orang. Hal itu lantaran puluhan orang lainnya tidak lolos tes medis karena kondisi tidak memungkinkan.

Kata Pong begitu banyak ketidakadilan dinegeri ini. Dia mencontohkan kasus Century yang menelan angka milyaran rupiah justru mandek ditengah jalan. Begitu juga penembakan gelap di Aceh, Papua dan sebagainya.  Hal itu sama ironisnya dengan nasib bocah 15 tahun asal Palu, Sulawesi Tengah yang didakwa 15 tahun penjara karena diduga mencuri sandal jepit. (net/jpnn)