26 C
Medan
Wednesday, January 14, 2026
Home Blog Page 14127

Anak Yapeka Cerita Bernatal 2011

MENUAI banyak tantangan dalam pelayanan tidak mematahkan semangat Pimpinan Panti Asuhan Yayasan Pelita Kasih (Yapeka) dan anak-anak yang dikumpulkan dalam Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Jemaat Rekhab Medan dalam merayakan natal. Dalam mewarnai keceriaan natal, anak-anak panti asuhan tersebut ikut memeriahkan kelahiran sang juruselamat melalui panggung boneka di Panti Asuhan Yapeka di Jalan Sempurna Ujung No 50 Cinta Damai, Kampung Lalang, Medan, awal Desember lalu.

Perayaan natal yang digelar sederhana di tenda dikawasan persawahan penduduk persisnya di depan Panti Asuhan Yapeka diawali doa pembuka dan pujian yang dipimpin Pdt Arifin Simanungkalit STh, didampingi Rotum Sitanggang. Dilanjutkan pujian dan penyembahan yang diwarnai anak-anak Panti Asuhan Yapeka bersama panggung boneka dengan Thema: Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan (Yesaya 24 : 15 C). Selain itu dimeriahkan dengan liturgi buah dan tarian tor-tor dalam natal tersebut.

Natal tersebut dihadiri seratusan anak-anak dan jemaat. Hadir dalam natal tersebut tokoh masyarakat, Penatua Hutapea, dari Kampung Lalang, dan pimpinan gereja sahabat, Pdt Tamba dari GBI Jalan Karya Medan.

Dalam renungan natalnya yang disampaikan oleh Pdt Lim dari Gereja Harvest Medan dikatakan bahwa kado natal yang terbaik adalah pertobatan anak-anak dalam saling mengasihi dengan yang lain.

Kata-kata sambutan disampaikan Ketua Panitia Natal, Agustina Sihombing, Pdt Ruben Esron Purba MTh dan simpatisan, memberikan kepeduliaannya dalam memberikan keceriaan natal pada anak-anak tersebut berupa makanan, minuman dan mainan serta rencana pembangunan sarana tempat tinggal yang layak bagi anakanak panti asuhan tersebut. Simpatisan tersebut adalah Desi, Dedy dan Wenni.

Pdt Ruben mengajak pihak-pihak yang merasa terpanggil untuk membantu pelayanan anak-anak tersebut di Panti Asuhan Yapeka Medan.

Bagi pembaca yang ingin sharing pelayanan dan mendukung pelayanan Panti Asuhan Yapeka, Medan dan GBIS Jemaat Rekhab dapat menghubungi Pdt Ruben Esron Purba, MTh dan Pdt Lastiur boru Pasaribu (081361149205). (rahel sukatendel).

Hairani Armaya Doremi Pilih Cuek dan Batasi Diri

Female DJ

Berkecimpung di dunia seni sebagai penyanyi dan DJ (Disc Jockey), bagi Hairani Armaya Doremi bukan hal yang memalukan. Sebab, baginya semua pekerjaan yang ditekuni memiliki resiko yang harus dihadapi.

AKU sadar, pekerjaan aku sebagai penyanyi dan DJ yang identik dengan dunia malam dapat membuat orang berasumsi aneh pada ku.

Nah, sekarang tinggal aku bagaimana menempatkan diriku sebagai DJ dan penyanyi,” ungkap gadis yang biasa disapa dengan sebutan Doremi Armaya/ Jakclubbers/M1/43 ini.

Diakuinya, sebagai wanita pekerja di malam hari, banyak rintangan yang harus dihadapinya, terutama kepada pengujung . Keusilan pengunjung kepadanya sangat dimaklumi, mengingat negara Indonesia Negara Timur yang membatasi gerak wanita. Cara berpikir masyarakat yang belum bisa diubah inilah yang menjadikan tantangan baginya. Iapun membuktikkan kepada keluarganya bahwa ia mampu menjaga diri dan martabat. “Orangtua sudah paham, tetapi kalau keluarga besar belum. Disinilah letak tantangan yang harus dapat aku buktikan,” ujar gadis yang lahir di Medan, 30 September 1989 yang lalu.

Dengan berpikir positf, membuat dirinya bisa lebih santai menjalani tugas. Dirinya juga ingin membuktikan, bahwa dunia malam tidak identik dengan rokok, minuman keras dan narkoba. “Aku tidak setuju, bila dunia malam identik dengan negatif. Buktinya aku sekarang, aku kerja malam tapi tak merokok, tak minum alkohol apalagi narkoba,” tambahnya.

Tantangan yang dihadapinya, tak hanya mendapat godaan pria usil dari SMS, tapi juga mengajaknya berkencan. Walau sudah ditolak dengan baik, tetapi ada juga yang masih ngotot terus mengejarnya. “Kalau sudah begini, biasanya sikapku cuek dan ambil langkah seribu saat bertatap muka. Hanya itu yang bisa ku lakukan,” bilangnya.

Doremi juga menyadari, bahwa menjadi DJ wanita akan sering mendapatkan perlakuan negatif, beda dengan DJ pria yang malah dikagumi.

“Aku tak menyalahkan pria, karena pola pikir pria masih memandang sexy berdasarkan pakaian dan body wanita.

Nah mindset yang seperti itu yang harus dirubah” ungkapnya dengan bijak.

Menurutnya, tak ada salahnya bila seorang wanita menggeluti dunia yang mayoritas dikuasai oleh kaum adam, seperti halnya menjadi DJ. Karena pada dasarnya, lanjut dia,wanita dan pria diciptakan sama, yakni punya otak, badan, hati dan lainnya. Fisiknya aja yang beda. “Jadi, zaman sekarang pria dan wanita sudah setara. Kalau ada yang berpikir jadi DJ wanita itu pekerjaan negatif, bagiku tidak. Asal kita mampu membatasi diri dari hal negatif itu,” tutur lajang lulusan D III Pariwisata USU ini.

Doremi sendiri sangat menikmati pekerjaannya sebagai penyanyi dan DJ, walau masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. “ Sekali lagi aku tegaskan, kita ini adalah orang Timur. Aku paham bagaimana orang Timur berpikir.

Sekarang tinggal bagaimana aku bersikap dan membuktikan bahwa pekerjaanku bukan pekerjaan negatif,” bilangnya.

Salah satunya , kata dia, dengan menjalani hidup sehat walau bekerja di dunia malam.

Contohnya, kata dia, saat dirinya libur kerja, ia membatasi diri untuk tidak masuk klub, biar orang tidak menilai nya sebelah mata.

Dia juga berpesan kepada para pria, agar jangan menilai dan melihat kecantikan wanita dari fisik saja. Namun harus melihat dari sikap dan prinsip hidup wanita. Sebab, kecantikan dimiliki oleh setiap wanita akan pudar ketika dimakan usia. “Saya juga berpesan kepada wanita agar mencari pria yang menyukai wanita dari dalam, bukan dari penampilan fisik.

Kalau memandang fisik, besok juga fisik kita akan keriput. Nah, carilah pria yang memang wanita dari prinsip hidup dan kecerdasan yang kita punya,” pungkas. (juli ramadhani rambe)

Natal HTAC dan Love Medan Indians 2011

HOLY Trinity Anglikan Church (HTAC) bersama Love Medan Indians di Medan sukses merayakan natal di Convention Hall, Mutiara Suara Nafiri Jalan Wahid Wasyim, Medan, Minggu (11/12) malam.

Natal tersebut dibuka dengan doa oleh Pastor Moses Alegesan MA, Gembala Holy Trinity Anglikan Church di Medan.

Natal diwarnai pujian dan tarian-tarian Tamil dan Indonesia. Tarian India, Bharatanattyam dibawakan oleh Riska, seorang mahasiswa berprestasi. Ditambah Modren dance yang dibawakan oleh anak muda Anglikan dan tarian Kooladham oleh kaum ibu Anglikan dan beberapa tarian India. Dalam kata sambutannya Pastor Moses Alegesan, MA mengucapkan selamat datang, selamat merayakan natal dan Tuhan memberkati.

Dalam suasana malam kudus diwarnai Lentera India bernama Kutthu Villaku diiringi angklung nada O Holy Night dibawakan anak Sekolah Minggu. Dalam penyalaan Lentera India sebagai pengganti Lilin tersebut masing-masing dinyalakan Ketua Panitia Natal Puspita Chrispinus, Gembala Holy Trinity Anglikan Church di Medan Pastor Moses Alegesan, mewakili jemaat Manat Simbolon, Wakil Sekretaris Umum PGI Sumut Pdt Enida Girsang.

Sebelum natal berlangsung telah digelar Seminar “Karya Allah Dalam Perjanjian Baru” pada 9-10 Desember 2011 di gereja HTAC di Jalan Nyak Makam Medan.

Dalam seminar ini tampil Pastor Rev Abraham Thomas sebagai pembicara.

Gembala Sidang Jemaat Allah, Madras, India.

Sementara itu dalam rangka natal Holy Trinity Anglikan Church dan Love Medan Indians juga akan mengadakan peduli kasih untuk membagikan sembako pada masyarakat di kawasan kecamatan Polonia, Babura, Medan Baru, Kampung Madras, Tanjung Rejo, Medan. (rahel sukatendel)

Ternyata Orang Kristen Pernah Melarang Natal

TIDAK banyak yang tahu bahwa perayaan Natal yang dirayakan umat Kristen di dunia ini pernah dilarang selama beberapa dekade di Amerika oleh umatnya sendiri. Perang mengenai kontroversi Natal ini dimulai sejak abad ke 16-17 oleh golongan Puritan atau Kristen Protestan yang meyakini bahwa untuk menjadi religius maka seseorang membutuhkan aturan yang ketat, dan perayaan semacam Natal dianggap sebagai suatu hal yang penuh dosa.

Sebagaimana yang dikemukakan dalam buku Shocked by the Bible yang diterbitkan Thomas Nelson Inc. (2008), “Sungguh mengejutkan bagaimana pengikut Yesus Kristus di Amerika Serikat dan Inggris telah membantu hukum untuk menjadikan Natal sebagai suatu hal yang ilegal pada masa itu.

Mereka yakin bahwa perayaan Natal merupakan hinaan pada Tuhan karena dianggap berhubungan dengan paganisme kuno.” Kebanyakan orang Amerika pada masa kini tak menyadari bahwa Natal pernah dilarang di Boston dari tahun 1659-1681. Semua kegiatan Natal, termasuk menari, permainan Natal, nyanyian, perayaanyangramaidanterutamaminum-minumdilarangoleh Parlemen Inggris yang didominasi Puritan pada tahun 1644.

Menurut Once Upon a Gospel (Twenty-Third Publicationsm 2008), apa yang dilakukan orang Kristen pada masa itu cukup ekstrim. Natal dilarang di Boston, dan koloni Plymouth membuat perayaan Natal menjadi tindak pidana. Pohon Natal dan dekorasinya dianggap ritual pagan kudus, dan Puritan melarang makanan tradisional Natal seperti pai dan puding. Hukum Puritan bahkan mengharuskan toko dan bisnis tetap buka sepanjang Natal dan di malam Natal penduduk kota diminta keluar menyusuri jalanan sambil meneriakkan, “Tidak ada Natal, tidak ada natal!”.

Di Inggris, larangan untuk libur di saat Natal dicabut pada tahun 1660 ketika Charles II mengambil alih tahta. Namun kaum Puritan tetap ada di New England dan Natal tidak menjadi hari libur hingga tahun 1856. bahkan beberapa sekolah tetap mengadakan kegiatan belajar-mengajar pada tanggal 25 Desember hingga tahun 1870.

Meski perubahan terjadi secara bertahap, orang-orang terus mulai merayakan libur Natal hingga perayaan Natal menjadi seperti yang kita kenal saat ini, lengkap dengan semua aksesoris Natal dan dirayakan di seluruh dunia.

Apa yang terjadi pada masa itu tidak sepenuhnya salah meskipun melarang perayaan Natal merupakan suatu hal yang terlalu ekstrim untuk dilakukan. Karena bagaimanapun juga, esensi sejati dari Natal itu adalah Yesus sendiri. Jadi, di tengah perayaan Natal yang meriah, jangan pernah melupakan dan meninggalkan esensi sejati dari Natal itu sendiri, yaitu Yesus.(ic)

Perempuan oleh Karyawan Lain yang Cantik

KARYAWAN baru pasti akan menjadi sorotan, apalagi bila tergolong cantik atau selalu berdandan menarik. Mereka yang gemar mengumbar pujian atau perhatian adalah karyawan pria, dan hal ini ternyata kurang disukai oleh karyawan wanita.

Pasalnya, sesuai hasil penelitian, hampir semua perempuan memang merasa terancam oleh kehadiran karyawan yang lebih cantik. Reaksi yang ditunjukkan beragam, dari sekadar mengangkat alis hingga memberikan julukan-julukan.

Psikolog Tracy Vaillancourt dari University of Ottawa, Kanada, menggelar sebuah penelitian yang bertujuan untuk mencari tahu seberapa sebalnya seorang perempuan ketika bertemu karyawan lain yang cantik. Pengujiannya tergolong unik.

Sebanyak 86 perempuan berusia 17-28 tahun dikumpulkan dalam sebuah ruangan. Separuh berteman, separuh lainnya tak kenal satu sama lain.

Mereka tahu sedang diobservasi, tetapi tidak mengetahui topik apa yang akan diobservasi.

Mereka juga tidak tahu sedang direkam.

Saat mereka menunggu, seorang mahasiswi pirang masuk memakai rok mini, atasan yang menampakkan belahan dada, dan boots setinggi lutut. Kemudian, perempuan yang sama kembali memasuki ruangan tersebut, tetapi dengan penampilan yang tak dikenali. Rambutnya diikat, rok mini digantikan celana panjang khaki, sepatu datar, dan t-shirt berleher tinggi. Reaksi yang ditunjukkan sekelompok perempuan tadi ternyata mengejutkan.

Ketika berdandan seksi, perempuan ini disambut dengan gelengan kepala, ejekan, dan pelototan mata.

Bukan hanya kelompok yang saling berteman yang melakukannya, melainkan juga kelompok yang tak saling kenal. Setelah perempuan itu keluar dari ruangan, tawa segera menyembur di seluruh ruangan, diikuti komentar-komentar.

Ada yang mengatakan bahwa perempuan itu pasti punya niat “tidur” dengan profesor di kampus. Lucunya, ketika ia masuk lagi dengan dandanan konservatif, tak ada reaksi yang muncul. “Ini bukan sesuatu yang sering terjadi. Sebanyak 97 persen dari para perempuan itu (bereaksi) tidak pantas,” ujar Vaillancourt, menggambarkan respons yang culas tadi.

Kebanyakan perempuan itu tergolong pasifagresif.

Mereka membuat ketidaksukaan mereka diketahui tanpa perlu menyatakannya. “Kita ini tidak mampu melakukan konfrontasi secara langsung,” tutur Vaillancourt, yang memuat hasil surveinya di jurnal Aggresive Behavior. “Namun dengan menertawakan ketika gadis itu keluar dari ruangan, mereka mengirimkan feedback bahwa mereka tidak menerimanya.” (ila/net) Terancam

Menulis dengan Pintu Tertutup, Membaca dengan Pintu Terbuka

Ramadhan Batubara

Perpindahan atau pergantian pemimpin tentunya menjadi isu yang menarik. Pun dengan Indonesia, walau Pemilu masih cenderung lama, tetap saja kabar calon pemimpin baru merebak.

MAKA tak berlebihan ketika berbagai kalangan berspekulasi. Ada partai yang mencoba berkoalisi atau apapun istilahnya. Beberapa figur pun diusung, dielus-elus, hingga dipaksa-paksa untuk maju ke Pemilu. Apakah itu salah? Tentu, jawabnya tidak.

Proses ini, saya rasa, mirip dengan cara seorang pengarang untuk menyelesaikan sebuah cerpen. Ya, menghasilkan sebuah cerpen bagi beberapa penulis kan bisa hanya sekali duduk; menghadap komputer beberapa jam langsung selesai.

Namun, sesingkat-singkatnya pengarang menulis cerpen, tentu dia harus melalui prosespemilihan; memilihsegalahalyang termasuk dalam unsur cerita, baik tema, tokoh, latar, dan sebagainya.

Nah, ketika mulai duduk di hadapan komputer, dapat dipastikan kepala si pengarang bermain. Dia bekerja. Dia mengolah, memilah, dan memilih mana yang harus dia tuliskan. Saya pastikan, proses ini tidak gampang. Satu kata yang dituliskan, maka akan ada ribuan kata yang mengganggu. Ayolah, para pengarang — apalagi yang masih baru — sering mengalamihalini. Dengankatalain, gangguan dari pikiran awal memang sangat besar. Sederhananya, ketika seorang menulis kata ‘makan’, maka dalam kepalanyamunculkata‘ minum’,‘piring’, ‘sendok’,‘ mejamakan’, atau apasaja. Belumlagi muncul kata ‘nasi’, ‘lauk-pauk’, ‘sambal’, ‘kerupuk’, dan sebagainya. Lebih parahnya lagi, kata-kata yang kemudian muncul, ternyata membawa kata yang lain.

Misalnya kata ‘minum’ yang muncul setelah kata ‘makan’, dia berkembang menjadi ‘teh atau kopi’. Setelah itu, muncul lagi warung kopi. Nah, rencana mau cerita ‘makan’ di ruang makan di sebuah rumah sederhana, tiba-tiba berubah ke warung kopi. Hm, bagaimana dengan kata ‘piring’, ‘sendok’, ‘nasi’, ‘sambal’, dan lainnya itu? Inilah yang saya maksud soal proses pemilihan dalam menulis cerpen tadi.

Maka tidak berlebihan ketika Stephen King dalam bukunya yang bertajuk On Writing berkata: Ketika menulis, tutuplah pintu rapat-rapat. Namun, ketika membaca, bukalah pintu itu lebar-lebar. Maksudnya, seorang pengarang haruslah fokus, tidak terpengaruh pada apapun saat menulis. Tulis saja dan jangan terlalu menilai tulisan itu. Namun, ketika tulisan itu sudah selesai, bacalah dengan pandangan yang terbuka. Tampung kritik dan benahi tulisan itu hingga menjadi lebih baik. Kebanyakan dari kita, para pengarang, malah sebaliknya. Ya, kita menulis dengan pengaruh hebat dari luar. Namun, ketika selesai, kita membacanya dengan ego yang tinggi; sisi lain dari diri kita pun tak boleh mengkritik. heheheheh.

Prosessemacaminisayalihatmiripdengan isu memunculkan figur untuk Pemilu hanya sekadar dari ketokohan semata.

Maksudnya, karena sang tokoh dikenal, maka bukan haram bagi sebuah partai untuk memakainya. Padahal, sang tokoh bukan berasal dari partai yang dimaksud.

Hal ini bisa terus berubah, nanti suatu waktu ketika muncul tokoh yang lain, maka tokoh yang sudah dipilih langsung ditinggalkan. Ada pemilihan yang terus berganti karena pemilihan didasari pada rangsangan yang masuk ke kepala, persis dengan pola pemilihan unsur cerita tadi kan? Lalu, apa hubungannya dengan kalimat Stephen King? Hm, maksud saya begini, sebuah partai harus fokus dulu memilih tokoh yang mau dijadikan calon di Pemilu. Jangan tergoda dengan ketokohan atau janji tertentu. Setelah dipilih, maka sang partai mulailah membuka koalisi, menciptakan jaringan baru, mencari peluang, atau apapun istilah agar si calon bisa menang. Jadi, bukan saat akan memilih sudah sibuk berpikir macammacam.

Kembali soal proses menulis, ada juga karangan yang sudah selesai sebelum dituliskan. Biasanya hal ini dibantu dengan kerangka karangan; baik yang ada di kepala maupun yang nyata di atas kertas.

Cerpen yang memakai metode ini bisanya cenderung fokus. Tetapi, beberapa pengarang yang saya kenal malah tidak menyukai proses ini karena mirip dengan membuat makalahatau abstraksiseminar.

Tapi terserahlah, saya tidak membahas soal pilihan metode para pengarang. Yang saya bicarakan, proses dengan kerangka karangan ini kan mirip dengan kaderisasi sebuah partai. Jadi, dalam pemilihan calon untuk maju ke Pemilu, pastinya mereka akan memilih kader mereka sendiri.

Masalahnya, adakah kader mereka mumpuni? Sekali lagi, perpindahan atau pergantian pemimpin tentunya menjadi isu yang menarik. Selain soal memilih pemimpin yang baru, isu lainnya juga berkembang dengan pesat. Ya, ada semacam gosip hangat dalam proses pemilihan itu. Tidak usah di tingkat negara, di sebuah perusahaan kecil saja sudah sedemikian hebatnya cerita yang berkembang. Wah, mulai isu SARA hingga loyalitas pun jadi barang jualan yang laku. Lucunya, semua itu berkembang saat dalam proses pemilihan, bukan saat setelah dipilih. Ya, setelah ada pemimpin yangbaru, makasangpenebargosiptandingan akan lembek. Dia bisa saja berbalik arah dan mendukung sang pemimpin yang sebelumnya digosipkannya itu.

Fiuh… mungkinitusebabkoalisibisagagal.

Hm, saya jadi teringat ketika masih menulis dengan menggunakan mesin tik.

Di bawah meja saya banyak kertas yang saya sobek, dibuang karena cerpen tak berhasil. Ah… mungkinkah itu persis dengan koalisi yang gagal? Sudahlah…. (*)

Gelas Isak

Kita pernah sadar dengan cerita-cerita yang dulu pernah tertunda. Hanya dengan segelas kopi hitam pahit, asap rokok menggeliat berputar, dan angin sore berhembus pelan. Kita merayakan kegelisahan demi kegelisahan yang keluar dari
tiap bulir asap rokok kita. Dan aku, akan menuliskannya semua.

Cerpen Restu A. Putra

KAU banyak menceritakan segala peristiwa. Dan aku tak pernah benar- benar bisa memecahkannya.

Walau untuk sementara waktu, memang rongga dada kita terasa lebih lebar. Tanpa beban. Tanpa masalah.

Namun waktu terus saja berjalan.

Menghantam tubuh kita. Membuat mata kita terbuka. Dari tepi jendela, dengan mata tegang, dan hati panik bagai angin ribut, aku melihat orangorang menggoyang-goyang pagar rumahku. Aku tetap bertahan di sudut kamarku di lantai dua.

“Keluar kau penulis kurangajar!” “Pengarang sialan!” “Kembalikan nyawa kawan kami!” “Khayalan busuk!” “Kau hanya mengeksploitasi saudara- saudara kami. Dasar penipu!” Orang-orang hampir menerobos pintu pagar rumahku yang sudah kurantai gembok lapis lima. Dan dari sudut kamar dengan tubuh gemetar aku menyaksikan mereka. Lalu aku kembali ke meja. Termangu di depan kertas-kertas berserakan. Akan kuhancurkan mereka. Kubuka note book-ku. Kepalaku sepertimau pecah.

Kalian tak bisa menghalangiku.

Maka, kutulislah kalimat pertama.

**** Warung Bu Jariyah sesak. Semua pembelinya rata-rata mahasiswa.

Warung ini yang paling banyak diminati di kampusku. Dari warung Bu Jariyah inilah anak-anak muda, dan banyak aktivis mahasiswa berkumpul.

Terkadang lokasi di sekitar WarungBuJariyahyanglumayanluas itu juga digunakan untuk acara bedah buku atau forum diskusi. Tak ada aturan baku untuk jajan di Warung Bu Jariyah, kecuali hanya satu: bayar hutang tepat waktu! Dan di Warung inilah debutku sebagai penulis cerita berawal.

Sebab segala peristiwa bisa kutemukan.

Orang-orang dengan kerut dahinya, matanya yang lebam, wajah yang kusam. Persis serupa pertemuanku dengan Isak sore ini, kawanku di satu fakultas yang tibatiba bersikap aneh dan membuatku mengerutkan dahi berkali-kali.

Masih saja asap rokok yong keluar dari mulut Isak menggeliat di depan mataku. “Kamu tahu tidak kawan, kalausebuahmasalahituibarat air dalam gelas,” ujar Isak yang dari tadi ikut nongkrong di Warung Bu Jariyah. Ia tampak menyembunyikan gusarnya sambil menyeruput kopi hitam panas buatan Bu Jariyah. Memang, tak satu apa pun pernah tegak menancap di atas tanah.

“Maksudmu?” tanyaku yang duduk di sampingnya.

“Aku ingin kamu lihat gelas ini dan bayangkan, berapa berat gelas ini apabila diisi air sampai penuh,” Ia menunjuk pada gelas kosong yang ada di meja Warung Bu Jariyah.

Tampak para mahasiswa yang mampir untuk jajan sibuk dengan urusan masing-masing. Sibuk dengan obrolan masing-masing. Begitu pun aku dan Isak.

“Kalau gelasnya seukuran ini pasti enggak berat alias lumayan ringan,” jawabku sambil membayangkan gelas yang ditunjukkan Isak. Segala praduga yang menghampiri kepalaku coba kutepis. Walau akhirnya praduga itu berakhir pada kesimpulan pertama kalau ia sepertinya sedang dirundung masalah.

“Nah seperti itulah masalah. Sekarang kalau kamu berdiri dan angkat gelas berisi air itu tinggi-tinggi selama lima belas menit saja. Apa yang kamu rasakan?” Untuk sore ini sebenarnya aku ingin sebentar saja istirahat dari niat mencari ide cerita atau mengamati peristiwa-peristiwa apa pun. Aku ingin menjadi normal untuk sementara waktu. Terlalu banyak pikiranpikiran yang berjejalan dalam kepalaku.

Tapi lagi-lagi pertanyaanpertanyaan Isak ini membuatku tak bisa mengelak. Entah mengapa.

“Hmm, sepertinya lumayan tambah berat. Berat badan sekaligus berat karena kesal ngangkat-ngangkat gituan dan lagi….tak ada kerjaan….” “Sekarang paham nggak apa maksudku?” “Nggak.” Jawabku sekenanya.

“Payah!” “Yang aku tidak paham adalah apa hubungannya antara aku dengan kamu tentang pembicaraan ini?” “Lagi-lagi kau payah! Berarti kamu belum berpikir.” Isak menyomot pisang goreng panas yang baru saja Bu Jariyah hidangkan di meja.

Beberapa orang menyapaku, “Hai Septa, nongkrong aja nih!” Aku balas senyum.

Seorang lagi menanyaiku jam berapa masuk mata kuliah tambahan besok.

Kujawab singkat juga, “Dosennya tak datang!” Ada lagi wanita mendekatiku menanyakan kepastian cinta. “Septa, kamu masih mau menerimaku kan?” Segera saja kutolak mentah-mentah dan ia bersungut habis-habisan.

Dan kepada Isak hanya ada satu orang, ketua angkatan di jurusan yang menanyakan uang kas kelas yang belum dibayarnya, cicilan buku diktat kuliah yang tinggal tiga kali lagi bayar, kepastian ikut atau tidak studi banding dengan biaya paling lambat besok lusa, dan titipan salam dari Unit Seni Mahasiswa tentang kapan mengadakan acara buat tahun ini padahal dana sudah turun. Semuanya dijawab senyum. Getir.

Akumenghelanafas. Anginberhembus pelan. Aku yakin sebelum kiamat diciptakan, udara tak akan pernah habis. Sebab bagaimana kita mau mengabdipadaTuhankalautidakada udara. Bukankah perintah mengabdi pada Tuhan yang ada dalam kitabsuci itu abadi. Hal-hal sederhana yang tak perlu banyak metafora tentunya.

Cukup. Aku sudah cukup banyak memikirkan sesuatu. Termasuk perkataan Isak tadi. “Aku paham maksudmu tentang gelas tadi,” ucapku sambil menyundut rokok filter yang kuambil dari saku celana.

“Maksudmu sebenarnya masalah itu ringan, hanya saja tergantung bagaimana kita membawanya hingga masalah itu menjadi berat.

Persis seperti teori persepsi dalam Psikologi kan,” “Masih kurang tepat!” Aku semakin mengernyitkan dahi.

Semakin tertantang. Dan semakin kesal. Pasalnya selama ini sebagai tempat curahan hati dan penulis cerita, akutakpernahsalahmenebakdan menilai sesuatu. Dan aku yakin benar untuk curahan hatinya Isak kali ini.

Tiba-tiba Bu jariyah nimbrung bicara.

“Mungkin seperti ibu, Sak, yang cuma tukang nasi uduk tapi bisa menyekolahkan anak ibu sampai SMA, ya kan.” Rupanya sedari tadi Bu Jariyah ikut menyimak perbincanganku dengan Isak.

“Ah ibu ini ikut-ikut aja. Itu sih bukan masalah, tapi kemampuan dan keyakinan ibu untuk membiayai sekolah yang akhirnya terbuka jalan.” “Yah, mungkin begitu,” kata Ibu Jariyah. Ia memang tak punya alasan untuk mendebat lagi.

“Masalah itu kalau berat ya berat.

Kalau ringan ya ringan. Gelas berisi air itu juga berat sebenarnya. Hanya beratnya tak seberapa dibanding air satu dirigen atau gentong besar,” Isak menyambung lagi pembicaraannya.

Posisi duduknya berubah, membelakangi meja kemudian menyender.

Raut mukanya datar ibarat air menggenang.

Tak berubah dan keruh.

Rambut gondrongnya menghalangi mata. Ia singkapkan kemudian jatuh lagi.

**** Langit tiba-tiba keruh. Muncul kilatan- kilatan kecil. Jantungku segera berdegup kencang saat petir dari langit sana bergelegar kencang. Kencang sekali. Angin tak lagi berhembus sendirian. Jelegar petir menemaninya mengalun gemetar. Entah pertandaapa, padahalsedaritaditakadatanda- tanda akan turun hujan. Bahkan mendung pun tidak.

MahasiswayangjajandiWarungBu Jariyah sudah banyak yang datang dan pergi. Berganti-ganti. Tinggal dua orang yang masih hanyut dalam pikiranmasing- masingdanmasihbertahan.

Aku dan Isak.

Tiga kali sudah kupesan kopi. Tiga bungkus rokok sudah kutuntaskan.

Tiga kali petir bergelegar di langit. Gerimis mulai merayap turun.

Dan satu pertanyaan lagi masih belum kutuntaskan. Anehnya aku masih saja setia menemani keanehannya ini.

“Ya, berarti kau tinggal mau atau tidak mengangkat gelas itu,” “Berarti kamu meninggalkan masalah dong. Bukankah itu suatu sikap yang tidak bijak?” “Aku tinggalkan gelas saat aku masuk ruang kuliah. Begitu juga ketika aku masuk ke kamar mandi, ke kamar tidur, ke tempat main. Aku tinggalkan gelas itu di mana pun aku suka tanpa beban.”  “Dengan cara itu kau tidak merasa berat?” “Ya,” Matanya menatap rintik hujan yang semakin deras. Kakinya kemudian dinaikan ke atas meja. “Bu, pesen kopi lagi. Masukin catatan yang kemarin ya.” “Udah, biar aku aja Sak.” “Thank’s ya!” “Tenang aja, kita kan teman lama.” Aku melihatnya seperti dalam guncangan hebat. Tapi, ah, tak seperti biasanya. Dia dulu adalah temanku di Unit Lembaga Seni Mahasiswa, tapi sebulan kemudian aku keluar. Sedangkan dia meneruskan karirnya di lembaga itu hingga kini menjabat ketua umum. Dalam pandanganku ia bukan tipe pribadi yang lemah.

Ia pernah masuk bui selama seminggu gara-garamenolakkedatangan seorang Menteri ke kampus dengan berunjuk rasa bersama mahasiswa lain. Kemudian ia menghubungiku untuk meminta bantuan pembebasan karena ia tahu ayahku seorang pengacara. Tak tampak di wajahnya rautketakutan. Malahdalampandanganku terlihat sosok yang tenang dan berwibawa.

Ia begitu luwes memainkan ‘peran’ apa pun dalam situasi setegang bagaimana pun.

Tapi ironis yang kulihat sekarang.

Sebab yang tampak olehku kini ia seperti gelombang ombak dalam ember. Begitu rapuh. Begitu lunglai.

“Nah sekarang apa hubungannya analogi gelas itu dengan kamu?” Aku melanjutkan perbincangan.

Aku sudah tak ingin menyusun rencana- rencana menulis cerita.

Keadaanku sedang berada di puncak kejenuhan sebenarnya.

Mendengar pertanyaanku, ia menunduk. Tatapannya kosong.

Semua seperti berjalan mundur. Ia seolah menyaksikan dan menengok kehidupan di waktu-waktu sebelum sekarang. Ada hal yang membuatnya gusar.

“O ya aku harus ke sekretariat seni sekarang.” Ia beranjak. “Makasih ya kopinya.” “Oke kawan, santai saja.” Namun ketika ia ingin beranjak, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara memanggilnya.

“Sak, Isak.. adikmu nih nyari kamu!” Rivo kawannya di Unit Lembaga Seni Mahasiswa membawa seorang perempuan berseragam putih biru.

Kontan saja Isak terperanjat. Ia menatap Rivo dan seorang gadis belia itu dengan lekat.

“Tiara,..” ujarnya pelan. Sangat pelan.

“Sak, adikmu tadi nyari kamu ke sekretariat. Tapi kamu nggak ada di tempat. Langsung aja aku bawa dia ke sini. Soalnya kamu biasa nongkrong di sini,” jelas Rivo.

“Tiara kamu ada apa ke sini?” Tanya Isak seraya menyingkirkan rambut gondrongnya yang turun menghalangi mata karena tergerai angin.

Hujan reda tapi langit masih pucat.

Aku benar-benar menyaksikan adegan nyata itu.

“Mmm, kak, a-aku membawa ini,” Wanita berseragam putih biru itu segera mencopot tasnya kemudian mengeluarkan surat dari dalam tas.

Aku lihat di kop amplopnya tertulis identitas sekolah perempuan itu. Isak lantas membaca surat itu. Bibirnya gemetar. Badannya seperti lemas mau jatuh.

“Jadi kamu?” “Ya kak, aku dikeluarkan dari sekolah sampai ada kejelasan kapan biaya sekolah empat bulan ini bisa lunas,” Oh Tuhan, mengapa aku baru mengerti sekarang. Mengapa ia tidak lekas saja memberi tahu masalah itu. Warung Bu Jariyah semakin lengang. Hanya ada aku.

Ada Isak. Ada Tiara. Ada angin yang masih akan berhembus. Ada petir yang masih akan menggelegar Dan gelas yang ia maksud itu… ***** Di suatu subuh yang hening. Di antara derit pohon bambu dan udara yang membuat tubuh membeku.

Beban itu ternyata adalah saat nyawa tak lagi bisa menikmati dunia.

Tujuh hari sebelum perbincanganku dengan Isak, dalam sebuah rumah, di sebuah desa, Sukmidjah ibunda Isak menghela nafas untuk akhir hidupnya.

Sakit yang menggerogoti alat-alat tubuhSukmidjahsudahtaklagimampu menahan beban hidupnya. Ia hanya meninggalkan pesan seperti yang kudengar dari mulut Isak yang kelu gemetar, “Ibuku meninggalkan pesan sebelum meninggalkan kami, agar aku harus menyelesaikan kuliahku kalau aku mau buat ibuku senang di alam sana. Kemudian, ia memintaku menjaga ketiga adikku, dan benar-benar bisa membahagiakannya…” Lalu selanjutnya tak ada yang bisa menghalangiku lagi menjadi seorang penulis cerita. Walaupun ini haruskuakhiri. Sebabsemuatakharus berhenti hanya sebagai sebuah cerita.

Kepalakuhampirmeledak. Akutak tahan melihat kenyataan seperti ini.

dan aku sudah tak percaya hukum miskin dan kaya, bahwa penderitaan hanyalah milik si miskin belaka. Dunia harus kuputar. Kujungkirbalikan.

Atau, kulenyapkan saja.

Di kamar, di depan meja dengan kertas-kertas berantakan, aku membayangkan seperti ini: Sejak seseorang yang seharusnya menjadi kepala keluarga pergi entah ke mana, Isak harus menahan beban yang patah dari langit itu sendirian. Hanya sendiri.

Iatakbisamenyembunyikanbeban itu dari dirinya sendiri meski bisa saja ia tinggalkan kapan pun ia mau seperti yang ia katakan padaku. Tentang gelas itu. Lalu di kamarnya, ia pecahkan gelas-gelas di kamarnya. Seperti memecahkan kemarahannya sendiri.

Ia datangi beberapa tempat ramai.

Taman. Kota. Mall. Plaza. Kantor-kantor.

Hotel. Ia bunuhi orang-orang yang dianggapnya pantas mati dengan pecahan beling dari gelas. Nyawa- nyawa orang berhenti begitu saja di tangan Isak. Begitu juga nyawanya sendiri, harus berhenti di kamarnya yang pengap. Namun ia tak sempat membunuh adiknya sendiri yang kini menangismeratapisekujurtubuhnya yang sudah tak bernafas lagi.

Bayangkan saja, beban itu tak pernah sekalipun ia tunjukan pada siapa- siapa. Ia lepas. Ia simpan dalam gelas. Ia tutup rapat-rapat. Bahkan mungkin tak pernah ia bawa ke mana pun. Lalu kalian tahu, tibatiba saja jari-jariku kaku dan beku.

Kupaksakan menggerakan jarijariku lagi. Aku berhasil menulis beberapa kata. Bagaimana kalau tokoh Isak kuganti dengan ‘Aku’ saja. Aku yang merasakan penderitaan- penderitaannya. Bagaimana kalau ini menjadi kenyataan saja.

**** 2008-2011

Datang Diajarkan Masak Pulang Diberi Hadiah

Berkunjung ke Restoran Keluarga Bumbu Desa

Menjadi ibu rumah tangga yang baik,bukanlah hal mudah, Selain harus mengurus keluarga, suami dan anak, seorang ibu rumah tangga juga dituntut menyediakan makanan yang baik untuk keluarga. 

UNTUK urusan memasak termasuk bukan hal yang mudah juga bagi seorang ibu rumah tangga. Jika tak pandai-pandai meramu makanan sudah tentu makan yang disajikan akan dicueki. Bagi ibu rumah tangga yang kebingungan dalam urusan masakmemasak tidak usah pusing.

Bumbu Desa, restoran keluarga di Jalan Gajah Mada Medan bekerjasama dengan Sumut Pos dan Tabloid Koki siap mengajarkan Anda cara memasak berbagai jenis makanan. Mulai dari makanan ringan hingga menu besar.

“Ada berbagai jenis makanan yang kita tawarkan,untuk makanan ringan ada pisang kremes keju, sedangl kan untuk menu besar ada sup ikan gurami, ayam tulang lunak dan ayam bumbu desa,” ujar Chef Exsekutif Dimarco Mitra Utama, Lucky.

Menurut koki ini, untuk mendapatkan makanan yang enak,pertama yang harus diperhatikan adalah bahan makanan, “Perhatikan bahan makanannya, kesegarannya, tingkat kebagusannya lalu bumbu dan makanan,” papar Lucky.

Bahan dan bumbu makanan menurut Lucky sangat menentukan hasil akhir dari makanan. Begitulah pentingnya bahan dan bumbu itu. “Jangan lupa, kadar masing-masing bahan juga harus diperhatikan, jangan kelebihan atau kekurangan, karena akan mengubah rasa,” tegas Lucky.

Puluhan ibu rumah tangga dan wanita ikut menghadiri acara belajar masak ini, sehingga restoran keluarga Bumbu Desa tampak ramai. Antusias para wanita ini juga terlihat saat koki Bumbu Desa dan Dimarco mendemonstrasikan cara memasak yang baik. “Kita berikan yang praktis dan mudah untuk dipahami, sehingga para ibu juga gampang untuk mempraktikannya,” ujar Sutirma, Koki dari Bumbu Desa Restoran.

Salah satu makanan yang dipraktikkan untuk dimasak adalah pisang kremes keju. Makanan yang terbuat dari pisak kapok 10 buah (belah jadi 2 bagian), keju lembaran 4 lembar (potong 10 bagian) dan minyak goreng 1 liter ini begitu mudah dipahami para ibu-ibu yang hadir dalam acara belajar memasak itu.

Untuk bahan pencelup, dibutuhkan tepung terigu 150 gram, tepung beras 3 sendok makan, tepung maizena 1 sendok makan, gula halus 3 sendok makan, air 400 ml, dan garam secukupnya. Sedangkan untuk bahan kremes, dibutuhkan tepung beras 300 gram,tepung tapioka 50 gram, gula halus 2 sendok makan, kuning telur 3 butir dan air 1200 ml.

Untuk membuatnya, belah pisang menjadi 3 bagian, selipkan keju di bagiannya. Setelah itu, campur semua bahan pencelup, masukkan pisang dan sisihkan. Setelah semua bahan kremes dicampurkan, masukkan dalam gelas ukur.

Untuk memasaknya, panaskan minyak, tuang adonan kremes secara berlahan, kumpulkan ke tepi, letakkan pisang di tengahnya, Kemudian lipat dan goreng hingga matang, lalu angkat dan tiriskan. Maka pisang kremes keju siap disajikan. “Bahan ini dapat membuat 20 buah pisang kremes keju,” tambah Lucky.

Menu lain yang dipelajari dalam program masak ini adalah ayam goreng tulang lunak, adapun bahannya, ayam 1 ekor, air jeruk nipis/cuka 50 ml, jahe 1 cm (memarkan), serai 2 batang (memarkan), daun jerik 4 lembar, lengkuas parut 100 gram, dan minyak goreng 1 liter.

Sedangkan untuk bumbu halus, sediakan bawang putih 4 siung, bawang merah 7 butir, kemiri 3 butir (sangria), air asam 3 sendok makan, kunyit 3 cm (bakar dan kupas), air setengah liter, garam dan gula pasir secukupnya.

Sedangkan untuk pelengkap, sediakan kemangi, mentimun, tomat, sambal bajak secukupnya.

Untuk cara membuat, lumuri ayam dengan air jeruk, diamkan selama kurang lebih 30 menit, cuci bersih dan tiriskan.

Setelah itu, lipat sayap dan kaki ayam, tegakkan kepala ayam dengan lidi. Kemudian, campur dan remas-remas ayam dengan bumbu halus, daun jeruk, serai, jahe dan lengkuas, Diamkan selama 30 menit biar bumbu meresap. Masukkan ayam dengan bumbu dan airnya kedalam panic lalu tekan. Masak selama 20 menit (dihitung saat panci mulai berdesis), buka panci ketika tekanan dalam panci sudah hilang dan angkat.

Panaskan minyak, goreng ayam hingga berwarna kuning kecokelatan. Angkat lalu tiriskan. Setelah itu, panaskan 2 sendok makan minyak goreng tumis bumbu hingga matang, Kemudian angkat. Untuk menyajikan ayam tulang lunak hangat, bersama dengan bumbu, lalapan dan sambal.

Selain mendapatkan ilmu, para ibu rumah tangga dan wanita yang mengikuti acara belajar masak ini, juga mendapatkan buah tangan berupa minyak goreng, tabloid Koki, dan lainnya. “Karena belajar masak ini hingga siang hari, kita juga memberikan makan siang bagi peserta,” ungkap Lucky. (ram)

Yesho Resto Ayam Pandan Mentega di Yesho

MEDAN- Daging ayam masih menjadi makanan favorit banyak orang. Bukan hanya kandungan proteinnya saja, rasa renyah pun menjadikan alas an orang untuk mengkonsumsinya. Tidakheranbilabanyakjenismakanan yang menggunakan daging ayam sebagai bahan pelengkap. Seperti yang tersaji di restoran Yesho Resto di Jalan Karakatau Medan. Yesho menyediakan ayam pandan mentega menjadi menu andalan.

Sesuai namanya, ayam pandan mentega ini sudah pasti diramu dengan daun pandan. Alasannya, daun pandan memiliki aroma yang bisa menambah selera makan.

“Daun pandan yang kita sediakan, selain menambah selera makan bisa juga membuat tampilanmakananlebihmenarik,” ujar pemilik Yesho Resto, Sofyan Yusuf. Digorengdenganmentegaayam akan menjadi empuk dan gurih, tapi ayam harus direbus dulu, setelah itu dipotong dengan ukuran kecil, untuk lebih memudahkan untuk menikmati makanan ayam goreng tersebut. “Makanya daging ayam kami terasa lebih lembut,” tambah Sofyan.

Untuk menambah cita rasa daging, koki Yesho Resto memberinya bumbu dapur. Seperti bawang merah, bawang putih, cabe, dan lainnya. Bumbu yang digunakan merupakan bumbu asli yang segar dengan ukuran yang pas, sehinggaayampandanmentegatidak ada rasa yang dominan.

“Semua rasa ada, seperti asin yang berasal dari mentega, manis dari kecap, pedas dari cabe dan lainnya,” paparnya.. Kokimemangdituntutmemberi bumbu dari sayur-sayuran yang masih segar agar terasa lebih enak dan gurih. “Selain demi menjaga kesehatan konsumen,” imbuhnya. Kata Sofyan, rasa pedas pada ayam pandan mentega tidak terlalu menggigit, dan cocok bila disantap untuk anak-anak. Apalagi dengan rasa manis pada daging. Harga Rp25 ribu, ayam ini cocok disantap dengan keluarga.(ram)

Saatnya Untuk Bangkit

Sevilla vs Real Madrid

MADRID-Presiden Real Madrid Florentino Perez berharap skuad asuhan Jose Mourinho segera bangkit usai menelan kekalahan dari Barcelona di Santiago Bernabeu dalam laga bertajuk El Clasico.
Oleh karena itu, Florentino langsung menghampiri ruang ganti Madrid di akhir pertandingan dan memberikan ‘ceramah’ kepada punggawa Madrid agar mereka tetap termotivasi dan melupakan kekalahan tersebut.

“Kita harus tetap berjuang dan berjuang. Bangkitlah. Kita harus segera pulih karena banyak yang memberi dukungan dan kita masih dapat memenangkan gelar juara Primera Liga Spanyol,” ujar Florentino kala itu.

“Kalian harus mendapatkan kembali tenaga kalian karena tim ini adalah tim yang sangat bagus,” tambahnya.

Beruntung imbauan sang presiden di dukung oleh seluruh punggawa Real Madrid. Tak hanya itu seluruh pemain pun telah bertekad untuk menebus kekalahan atas Barcelona dengan mengalahkan Sevilla di Ramon Sanchez Pizjuan, dinihari nanti.

Mengalahkan Sevilistas penting bagi Los Merengues untuk kembali mendongkrak posisi mereka ke puncak klasemen pasca dibekap Los Blaugranas pekan lalu.

“Kami akan menuju Sevilla dengan hasrat mengambil kembali peringkat pertama di klasemen. Menundukan Ponferradina di ajang Copa del Rey merupakan pencapaian penting. Itu modal berharga menatap laga menghadapi Sevilla,” kata Kaka, playmaker Real Madrid kepada AS.

Sementara itu di pihak tuan rumah Sevilla didapati fakta jika gelandang asal Argentina Diego Perotti dan kiper Andres Palop Valenciano belum dapat dimainkan karena masih cedera. (jun)