27 C
Medan
Friday, January 2, 2026
Home Blog Page 14161

Manjakan Lidah dengan Rasa Manis-Pedas

Lopo Iga Foodcourt Kemangi

Menu olahan iga sapi tentu tak asing lagi. Apalagi iga bakar yang kaya akan aroma bumbu dan rasa. Penggila masakan yang satu ini, umumnya tahu di mana saja cafe dan restauran yang menghidangkan menu iga super lezat itu. SATU diantaranya, Lopo Iga Foodcourt Kemangi Palladium di Jalan Kapten Maulana Lubis. Di foodcourt itu tersaji iga bakar ricarica, sop iga, soto iga, nasi goreng iga, steak iga, hingga miesop iga. Keistimewaan rasa paprika hijau (buah manis dan sedikit pedas dari suku terong-terongan) ditambah rempah dan kecap manis menjadikan iga bakar ala Lopo Iga terasa maknyus di lidah.

Tidak hanya itu, penyesuaian waktu dan proses pembakaran iga semakin menambah gurih cita rasa. “Untuk pembakaran iga sapi sebagai bahan dasar pembuatannya, tidak diperlukan waktu lama yakni hanya sekitar satu menit saja. Ini untuk menjaga cita rasa iga, agar tetap lembut dan tidak pahit,” ujar Elli koki masak Lopo Iga Foodcourt, saat disambangi Sumut Pos di resto yang berada di lantai III, Kemangi Paladium, kemarin.

Untuk cita rasa, Elli mengaku hampir seluruh masakan bernuansa manis mewakili cita rasa sang pemilik yang berasal dari pulau Jawa. Namun untuk menyesuaikan selera para penikmat kuliner Medan yang gemar pedas, Lopo Iga menyiasatinya dengan menyediakan sambal hijau dalam hidangan. “Walaupun citarasanya manis, namun kita juga menyediakan sambal hijau untuk menambah rasa pedas,” ungkapnya. Untuk harga ternyata Lopo Iga sangat peduli dengan pelanggannya.

Cukup dengan merogoh kocek Rp20 ribu, Anda bisa memanjakan lidah dengan sepiring iga bakar plus nasi dan lalapan. Sedangkan hidangan lain hanya berkisar 17 ribu hingga 20 ribuan saja. Menemani iga bakar dalam memuaskan pelanggan, Logo Iga juga menawarkan aneka hidangan penutup dan minuman menyegarkan. Beberapa sajian antara lain, es kolding, es teler, es buah, es logan jagung,es cingcau, aneka juice dan milk shake. Semuanya itu bisa dinikmati dengan menyediakan anggaran yang tak lebih dari 13 ribuan saja. Bagi pecinta kuliner khususnya berbahan dasar iga sapi tidak ada salahnya mencicipi citarasa yang diramu oleh koki handalan Lopo Iga. (uma)

Sajian Cepat Chicken Teriyaki

SELAIN memilki hidangan istimewa, iga bakar rica-rica, ternyata memiliki hidangan istimewa di Lopo Iga Foodcourt Kemangi lantai III Palladium Medan. Untuk memanjakan lidah para pecinta kuliner berbahan ayam, Lopo Iga Foodcourt juga menyediakan menu chicken teriyaki. Elli sang koki mengatakan, untuk proses pembuatan chicken teriyaki selain mudah diramu, juga menggunakan waktu yang cukup singkat. Sehingga pengunjung tidak perlu berlama lama menunggu hidangan. “Untuk citarasanya sama seperti masakan yang lainnya yakni bernuansa manis. Hanya saja kita juga tetap menyediakan sambal sesuai selera pelanggan,” papar Elli. Untuk menambah kenikmatan rasa chicken teriyaki, Lopo Iga Food Court juga menyediakan minuman sop buah khas ala resto Lopo Iga.

Perpaduan beragam jenis buah seperti apel, melon, semangka, anggur dan agar-agar yang dicampur santan gula dan susu putih, menambah klop sop buah yang dihidangkan dengan makanan chicken teriyaki. Penasaran dengan nikmatnya sajian Lopo Iga Food Court?.Tak ada salahnya untuk membawa keluarga ataupun orang spsesial untuk bisa bersantap ria ala Lopo Iga Foodcourt. Selain suasananya yang bersih dan nyaman serta jauh dari keributan jalan raya, iringan alunan musik ikut manambah kehangatan dalam menikmati santapan kuliner Anda. (uma)

Pesawat Jatuh Tewaskan 13 Penduduk

MANILA – Satu pesawat ringan jatuh di daerah kumuh di dekat bandar udara internasional di ibu kota Filipina, Manila, Sabtu (10-12). Dalam kejadian itu menewaskan 13 orang, termasuk tiga anak kecil. Tiga orang belum ditemukan dan sebanyak 10 orang lagi cedera setelah pesawat dua-mesin dengan empat-kursi jatuh tak lama setelah lepas landas, kata Inspektur Polisi Enrique Sy kepada wartawan.

Semua tiga orang di dalam pesawat tersebut tewas.”Sejauh ini, kami telah menemukan 13 mayat yang terbakar di lokasi kejadian, termasuk satu mayat di dekat puing pesawat,” kata Inspektur Polisi itu sebagaimana dikutip Reuters.

Ditambahkannya, tak mungkin untuk mengidentifikasi semua korban. Wali Kota Paranaque, Florincio Bernabe, mengatakan ratusan warga kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran yang disebabkan oleh kecelakaan tersebut. Kecelakaan itu menghancurkan puluhan rumah kumuh dan sebagain dari bangunan sekolah yang berlantai tiga. (net/jpnn)

Mari Berpesta tanpa Ada Cela

Ramadhan Batubara

Mari bicara soal pesta; baju warna-warni, musik hingar-bingar, hingga dana tak terkira. Tentu hal ini menjadi sesuatu yang ditunggu, seperti anak SD yang dijanjikan sepeda baru; siang malam menjadi mimpi baginya Terus terang, lantun kali ini menyinggung Pesta Danau Toba yang akan digelar beberapa pekan lagi.

Sejatinya saya banyak berharap pada even yang katanya bertaraf nasional itu; setelah tinggal di Medan, ada rasa enggan untuk menyaksikannya. Padahal, ketika masih beraktivitas di Pulau Jawa, target saya adalah menyaksikan pesta ini. Saya bayangkan pesta seperti Festival Kebudayaan Yogyakarta atau sekadar persis dengan Oktoberfest di Jerman sana. Dalam dua even tadi, ada semacam situasi yang menarik. Contohnya di Festival Kebudayaan Yogyakarta, sebagai kota yang dikenal sebagai kawasan budaya tentunya even ini sangat dinanti.

Bahkan, kala even ini digelar, saat itulah kesempatan saya untuk berbincang dengan seniman asal daerah lain. Acaranya malah tidak muluk-muluk hingga butuh persiapan yang luar biasa dengan dana yang tak terhitung. Ya, biasa saja namun memberikan pengaruh besar pada penikmatnya. Contohnya adalah pembentukan kampung budaya Nitiprayan. Di desa ini beberapa acara digelar, mulai dari pementasan teater, musik, hingga pameran lukisan. Konsep acaranya adalah dengan melibatkan masyarakat setempat. Para seniman kaliber nasional bahkan internasional dibaur dengan masyarakat.

Saat itu, semua adalah seniman. Lalu, para penikmat, dibebaskan untuk menyaksikan yang mana; tinggal datang ke kampung itu dan langsung menikmatinya tanpa harus capek menunggu kata-kata sambutan dari pejabat terkait selesai. Ya, tinggal melihat agenda kegiatan, langsung datang dan langsung menikmati. Menariknya selain Nitiprayan, Yogya juga menciptakan desa-desa budaya lainnya. Memang, ada juga , acara yang dipusatkan di Taman Budaya Yogyakarta. Lalu, bagaimana dengan kraton? Secara kasar, kraton malah tidak begitu berperan. Kraton sepertinya membiarkan warganya untuk berkreasi tanpa harus memaksakan diri memunculkan karya adiluhung kraton. Begitu pun pemerintah setempat, kesan yang didapat, mereka tidak begitu terlibat.

Kalaupun ada, mungkin sebatas penyedia izin dan dana saja. Soal dana, menariknya, tidak semata wilayah pihak pemerintah saja; founding dari luar negeri hingga sponsor seakan berebut untuk even tersebut.Tapi sudahlah, itu di Yogyakarta yang notebene sudah melek budaya.

Jadi, membuat festival atau budaya sudah semacam kegiatan sehari-hari saja. Yang harus digarisbawahi dari Yogyakarta adalah keberhasilan mereka menciptakan sesuatu yang baru dengan konsep tersendiri hingga mendarah daging. Lalu, bagaimana dengan festival atau pesta yang ada di Jerman sana. Fiuh… kalau yang ini tidak usah repot. Pasalnya agenda tahunan ini sudah seperti darah daging bagi mereka. Oktoberfest mungkin sudah seperti momen unjuk diri. Di bulan Oktober, dari sejarahnya, warga Jerman memang saling memamerkan hasil karya mereka (baca bir).

Di saat itu, warga lain bebas minum bir sesuka hati karena saat itulah para pengusaha bir berpromosi: saling bersaing soal rasa. Nah, menariknya, Jerman berhasil menjadikan even tahunan itu sebagai festival yang berbeda. Mereka setia dalam upaya menjaga tradisi tersebut. Hingga, sampai saat ini, setiap Oktoberfest digelar, busana dan kesenian yang dimunculkan adalah persis dengan pertama kali Oktoberfest ada. Maka, gaya Bavarian adalah wajib di festival ini. Jadi tidak mengherankan kalau wisatawan asing yang hadir di sana pun wajib berkostum semacam itu.

Tidak ada keharusan memang, namun adalah lucu dan terkesan tak pantas jika tidak menyesuaikan diri bukan? Dua pesta di atas jelas menunjukkan sesuatu yang menarik. Pertama yang di Yogyakarta, di festival itu, warga non-Yogya, seakan berebut untuk mencari dan melihat apa yang akan disuguhkan. Ya, sebuah even baru yang bukan lahir dari tradisi, namun mampu mencuri perhatian khalayak. Kedua yang di Jerman, warga dunia seakan ingin larut dalam suasana yang terus dijaga keasliannya. Nah, bagaimana dengan Pesta Danau Toba yang dibanggakan Sumatera Utara? Kalau soal ini, Bupati Samosir Mangidar Simbolon malah sempat mengkritisi.

Katanya, festival ini ‘payah’ karena panitianya terus berganti hingga tak ada perkembangan dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, ketika panitia terus berganti, maka kekurangan di tahun sebelumnya jadi terbiarkan. Dari tahun ke tahun yang ada hanya mengulang dan yang sebelumnya tak tuntas, ya, tetap tak tuntas. Bayangkan, seorang bupati yang wilayahnya dijadikan lokasi Pesta Danau Toba saja mengatakan semacam itu. Fiuh… Saya jadi teringat dengan pernikahan kawan saya.

Begini, dia dan istrinya itu beraktivitas di Yogya. Nah, ketika resepsi pernikahannya, malah digelar di kampung keluarga sang istri yang ada di Sulawesi. Emamng, acaranya cukup mewah, tapi adakah pesta itu terasa nikmat bagi yang dating dan juga yang sedang dipestakan? Hal seperti inilah yang saya rasakan terhadap rencana Pesta Danau Toba. Seniman lokal (dalam artian wilayah karena banyak seniman Sumatera Utara berlevel nasional dan internasional) kurang dilibatkan.

Yang dihadirkan adalah seniman-seniman nasional (dalam artian tinggal di Pulau Jawa, namun prestasinya biasa saja) tanpa seleksi yang transparan dari panitia. Baiklah jika yang dipanggil itu memiliki darah Toba, namun apakah dia masih kental dengan suasana Sumatera Utara dan khususnya Danau Toba? Tapi sudahlah, itukan urusan panitia – yang kata Mangindar tadi selalu berubah-ubah itu. Kegelisahan saya hanya pada konsep Pesta Danau Toba yag membingungkan.

Maksud saya, mau di bawa ke mana pesta yag menjadi even tahunan itu? Adakah terpikir oleh pengambil kebijakan agar even itu menjadi sesuatu yang khas, yangmemilikikonsepmatang dan bukan sekadar pesta semata. Seperti kata orang bijak, pesta di mana saja ada, tapi bagaimana pesta bisa berkesan. Hm, kita tunggu sajalah. (*)

Siswa SMA Lhokseumawe Gelar Pesta Seks

LHOKSEUMAWE-Usia boleh saja muda, tapi untuk urusan seks, Re (18) tak perlu lagi diajari. Siswa SMA ini pun diketahui sudah berkali-kali, menggagahi teman wanita sebayanya, Ti (16). Bahkan mereka rela berangkat dari Lhokseumawe ke Medan, demi menggelar pesta seks di kamar hotel. Alasan keduanya klise saja, di kota Metropolis tersebut tak ada yang menggerebek.

Perbuatan mesum tersebut terungkap, setelah kemarin malam sekira pukul 20.00 WIB, mereka digerebek warga Blang Nameuh, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Keduanya terlihat berdua-duaan dalam gelap. Sehingga Re dan Ti selanjutnya digelandang, dari belakang gedung SD di TKP untuk mempertanggungjawabkan perbuatan, di hadapan penyidik .(smg)

Gol Mantan PSMS

PERSEGRES vs PERSELA

GRESIK – Persegres Gresik mengakhiri hasil negatif dengan memetik kemenangan perdana Indonesia Super League (ISL) kemarin (10/12). Tim berjuluk Laskar Joko Samudro itu menuai tiga angka perdana di kandang setelah menundukkan Persela Lamongan 3-2 di Stadion Petrokimia Gresik sore kemarin.

Uniknya, empat dari lima gol yang tercipta di laga itu dikemas oleh mantan pemain PSMS yang kini sudah berkostum Persegres atau Gresik United dan Persela. Dari Persegres yang mencetak gol James Koko Lomell pada menit ke-44 dan 52. James Koko dulu sempat membawa PSMS jadi runner up Ligina 2007. Lalu rekannya di Persegres Gaston Castano menyempurnakan kemenangan pada lima menit menjelang laga berakhir. Gaston juga sempat membela PSMS musim lalu dan jadi top skor PSMS.

Sedangkan dua gol Persela diciptakan melalui gol cepat Mario Costas saat laga baru berjalan 8 menit dan Rudi Widodo memperkecil kekalahan lewat gol di menit ke-89. Mario Costas juga sempat membela PSMS di ISL 2008-2009. Kemenangan perdana itu mengakhiri episode buruk Persegres setelah dalam dua laga sebelumnya terkapar saat lawatan ke Papua. Bahkan, gawang yang dijaga Herry Prasetyo harus bobol tujuh gol dalam dua pertandingan.

Yakni kalah 2-4 saat melawan Persiwa Wamena (1/12) dan dibekuk Persipura Jayapura 1-3 (5/12). Kendati memenangi pertandingan, permainan Persegres masih belum bisa dibilang sempurna. Kesalahan masih sering dilakukan Agus Indra Kurniawan dkk di babak pertama. Menurut pelatih kepala Persegres Freddy Muli-yang juga sempat melatih PSMS, ketidaktenangan pemain menjadi salah satu kelemahan permainan Persegres saat itu. “Saya akui, kurang tenangnya pemain menjadi faktor yang sama-sama dirasakan kedua tim.

Tapi, kami sedikit lebih beruntung bisa memanfaatkan kelengahan pemain Persela di akhir babak pertama. Sehingga berikutnya kami bisa menemukan ritme permainan,” kata Freddy. Perubahan ritme permainan paling mencolok terjadi di babak kedua dengan masuknya David Faristian menggantikan Mayona Amtop. Alur serangan dari sayap kiri pun cenderung lebih hidup. Banyak peluangpeluang yang bermula dari pergerakan gelandang asli Gresik ini.

Sebenarnya, skor bisa saja bertambah jika Gaston Castano bisa memanfaatkan peluang manisnya di masa injury time. Sudah berhadapan satu lawan satu dengan kiper, top skor Persegres ini malah menyia-nyiakannya. “Intinya apa yang kami dapat hari ini akan kami evaluasi untuk berikutnya,” cetus mantan arsitek Persidafon Dafonsoro dan Persebaya Surabaya itu. Sementara itu, pelatih Persela Miroslav Janu mengaku sangat kecewa dengan performa buruk anak asuhnya yang tidak bisa menjaga konsistensi permainannya.

Hasil negatif ini berbanding terbalik seperti saat Gustavo Lopes dkk mempermalukan Arema Indonesia 0-1 sebelumnya. “Harusnya anak-anak bisa ber main lebih tenang lagi. Jangan sampai kehilangan konsentrasi seperti ini,” jelas pelatih asal Rep Ceko ini. (ren/ful/jpnn)

Sriwijaya Pede Jamu PSPS

PALEMBANG- Sriwijaya FC (SFC) tidak ingin malu di depan para suporternya sendiri saat menjamu PSPS Pekanbaru dalam lanjutan ISL sore ini, di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring. Apalagi mereka baru saja kandas oleh tuan rumah Persib Bandung di laga sebelumnya. Tekad itulah yang diusung Firman Utina dkk.

Keuntungan bermain di kandang inilah yang akan dimaksimalkan SFC untuk mendulang nilai maksimal. Apalagi ini adalah laga kandang perdana SFC di musim ini. Pelatih SFC Kas Hartadi berharap dukungan penuh dari suporter SFC untuk mendukung kinerja tim di lapangan. Itu penting karena dukungan suporter akan membuat motivasi pemain berlipat sehingga mereka mampu tampil maksimal. Yang pasti, lanjut Kas Hartadi, SFC akan tampil ofensif dengan pressing ketat di sepanjang laga. Itu dilakukan karena ia mengaku agak buta dengan kekuatan PSPS musim ini. Ini laga kandang jadi pasti kami akan tampil menyerang. Tidak ada celah yang bakal kami berikan terhadap PSPS. Strategi pressing akan lebih ketat dibandingkan saat melawan Pelita dan Persib.

Apalagi saya agak buta dengan PSPS karena dari dua laga yang telah mereka mainkan tidak ada siaran langsungnya,” ujar Kas Hartadi kemarin. Musim lalu, SFC berhasil unggul atas PSPS dari dua kali pertemuan. Di kandang PSPS, SFC unggul 1-0, sementara saat menjamu PSPS di Jakabaring, Laskar Sriwijaya menang 2-1. Kendati demikian, Kas menegaskan, SFC tidak akan meremehkan kekuatan PSPS. “Kami harus waspada. PSPS tim yang memiliki tradisi kerjasama tim yang bagus.

Mereka juga mempunyai pemain-pemain yang sangat berbahaya. Mereka juga pasti ingin mencuri angka, setelah kalah 0-1 dari Deltras di kandang sendiri,” imbuh Kas Hartadi. Menurut Kas, sejauh ini peta kekuatan mereka tidak berubah dan masih mengandalkan Herman Dzumafo dan M Isnaini sebagai duet penyerang serta Patrice Nzekou dan Ade Suhendra di lini tengah. “Tentu mereka pemain yang harus kami waspadai,” pungkas Kas Hartadi. (net/jpnn)

Marasamin Ritonga Pimpin Ikadin Medan

MEDAN-Marasamin Ritonga SH, terpilih sebagai Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Cabang Medan, untuk priode 2011-2015. Terpilihnya Marasamin merupakan hasil musyawarah cabang yang digelar di Hotel Emerald Garden Medan, Sabtu (10/12). Marasamin Ritonga, unggul atas kandidat lainnya seperti mantan ketua DPC Ikadin Medan Burhan Sidabariba SM MH dengan menggunakan system voting untuk memperebutkan 221 suara.

Pengacara hukum muda ini unggul dengan memperoleh 125 suara atas lawannya yang memperoleh 75 suara. Sebelum peserta calon ketua diberikan kesempatan oleh pimpinan sidang untuk melakukan lobi atau musyawarah, namun karena lobi tersebut tidak berhasil sehingga pemilihan dilakukan dengan voting. Kedua kandidat sepakat untuk sama-sama maju dalam pemilihan dan saling mendukung serta berjanji tidak akan terjadi perpecahan ditubuh Ikadin Cabang Medan.(rud)

Dirahut Padan

Udara dingin mengalungi sekitar. Sisa hujan masih terlihat dari celah jendela. Menetes satu persatu, tapi cukuplah membuat daksa hati tak hendak pergi ke mana-mana. Malam ini aku hanya ingin menikmati sisa tarian hujan. Seperti biasa, setiap kali hujan. Aku selalu menari bersamanya. Bagiku itu adalah sebuah semedi. Dan, akan lebih sempurna jika sang rembulan bertengger di angkasa sana.

Cerpen Poloria Sitorus

EMERGOKIKU yang sedang bertelanjang. Polos, seperti sang rembulan, yang juga polos tanpa awan menutupinya. Setiap lekuk penciptaan- Nya terlihat jelas. Pahatan- Nya tidak tertutupi. Lepas, tanpa sehelai pakaian. Pada saat-saat seperti itu selalu kurangkai puisi cinta dan doadoa tulus suci, kutitipkan ke pangkuan sang rembulan, hanya buat kekasih hatiku, Herfan!

**

Malam itu, usai menari bersama tarian hujan aku mendapat telepon. “Dek…besok jangan lupa jemput Bapa ke bandara yaa..! Besok Bapa berangkat, penerbangan jam 11.30 wib. Jadi kau harus nyampek di bandara paling lambat jam 12.00wib,” begitu pesan kak Feb di telepon tadi malam. Sebenarnya tanpa diminta pun, tentu aku akan menjemput Bapa. Ya, kerinduan yang mendesakku untuk segera bertemu. Aku ingin sekali melihat wajahnya, dengan sorot matanya yang tajam.

Terkadang lebih tajam dari sorot matahari di saat marah. Tapi yang kurindukan bukan itu. Aku rindu, di balik tajam sorot sinar mata itu, ada kelembutan yang selalu menyejukkan batin ketika menangkap indah sinarnya. Dan, aku rindu melihat pahatan senyum di wajah b apa. Ah, bahagia sekali sejak aku dapat kabar kalau bapa sudah sembuh total. Jauh-jauh ke pulau seberang mencari pengobatan tradisional patah tulang, ternyata tidak sia-sia.

Satu hal yang membuatku lebih bahagia, kekasihku ingin aku pertemukan dengan bapa. Semoga bapa berkenan menerimanya sebagai calon menantunya kelak.

**

Setiba di bandara, aku langsung menuju pintu keluar. Kulirik lagi jam tanganku, sudah jam 12.30 wib. Pesawat yang ditumpangi Bapa pasti sudah mendarat. Penerbangan Batam-Medan hanya memakan waktu sekitar 45 menit. Tak sabar mataku mencari-cari sosok Bapa yang kurindukan. Pintu keluar sudah dipenuhi orang-orang yang sedang menunggu. Ah, aku semakin tak sabar. Ingin cepat-cepat berhambur dalam rangkulan Bapa. Aku menerobos kerumunan orang-orang itu untuk bisa berdiri persis di mulut pintu keluar. Aduuhhh…Herfan kok belum nyampe juga ya? aku benar-benar gelisah.

Tadi janjinya kekasihku, Herfan, akan menyusul ke bandara. Sekalian akan aku kenalkan dia sama Bapa. Sudah jam segini, Herfan tidak juga nongol. Ah, mungkin saja dia terjebak macet. Atau, semua lampu merah di kota ini menjaringnya, aku hanya bisa menduga-duga. Dia pun tak ada sms mengabariku, entah di mana dia? Aku tersentak kaget melihat Bapa keluar dari pintu itu bersama seseorang. Rasanya aku ingin cepat-cepat menghindar agar tak satu pun mata mereka melihatku. Tapi terlanjur. Aku berdiri di barisan paling depan dari semua orang-orang yang sedang menunggu itu. Belum sempat aku menyusup di kerumunan orang ramai, lelaki di samping Bapa sudah menangkap sosokku. “Heeeiii…iban!” sahutnya riang sambil menuju tempatku berdiri.

Dia bahkan mendahului Bapa memberiku salam. Ah, dasar sialan…, umpatku dalam hati. “Ternyata, iban datang juga menjemputku yaa…! Akunggaknyangka, ibanjuga kangen samaku. Pasti dari tadi udah nggak sabaran menungguku kan..?” Dia menggoda sambil tersenyum. Kulihat matanya berbinar, mewakili pancaran bahagia rasa hatinya. Entah karena apa? Aku juga tidak tahu pasti. Aku balas tersenyum simpul, sekedar menghargainya. Sialan, siapa yang kangen samamu? Siapa yang menunggumu? Aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Sementara kami masih bersalaman, tangan kirinya meraih sesuatu dari kantong hand-bag yang diikat di pinggangnya. Sebuah bungkusan kecil. “Ini untuk iban…! Aku nggak ada bawa oleh-oleh, tapiinijauhlebihberhargadaripada oleh-oleh” ucapnya lirih. Hampir tidak kedengaran. Dengan lembut diletakkannya benda itu di tanganku.

Aku yang masih tidak percaya dengan apa yang ada di depan mataku, serba salah tingkah dengan sikap romantis lelaki itu. Saat Bapa sudah berdiri tepat di sampingnya, aku buru-buru melepas tanganku dari genggaman lelaki itu. “Bapa sudah sehat kan..?” aku menyodorkan salam sama Bapa. “Udah…udah sehat! Kau nggak usah cemas lagi. Bapa sudah sembuh total. Jadi sudah bisa kerja keras lagi buat biayai kuliahmu. Yang penting, kau, bagusbaguslah kuliah. Biar cepat tamat. Biar nanti paribanmu pun nggak kelamaan nunggu kau..!” dengan logat Bataknya yang sangat khas.

Aku terpelongo mendengar perkataan Bapa. Artinya, Bapa berharap aku cepatcepat dipinang sama paribanku? Atau…? Ah, aku benar-benar jadi nggak ngerti. Jangan-jangan kepulangan bapa bersama iban sudah diatur? Aku berkutat dalam pikiranku sendiri.

“Oya, tulang, gimana kalau kita langsung saja naik taksi ke loket bus? Iban juga ikut pulang ke Toba, kan?” tanya lelaki itu pada Bapa. “Tanya saja ibanmu!” “Ngapain aku ikut pulang Bapa? Aku kan kuliah…!” aku langsung komentar sebelum lelaki itu menanyaiku lagi. “Lhoo, ini kan hari Jumat. Kau bilang setiap Sabtu kau tak ada jadwal masuk kuliah. Lagian hari Senin acara pesta manulangi oppung-mu di kampung! Jadi kau harus ikut lah..,” Bapa protes dengan alasanku yang tidak ingin ikut pulang. “Iyaaa.. tapi hari Seninnya kan kuliah Bapa.” “Baah..apa nggak bisa sehari itu kau absen rupanya?” dengan logat Bataknya Bapa membentakku. Sebenarnya bukan aku tidak mau ikut pulang.

Apalagi acara manulangi oppung itu adalah moment penting bagi keluarga. Tapi entah kenapa? Kali ini aku memang benar-benar tidak ingin pulang. Ada perasaan yang mengganjal, membuat pikiranku semakin kacau, apalagi saat mendengar perkataan Bapa tadi. “Yang penting kau, bagus-baguslah kuliah.

Biar cepat tamat. Biar nanti paribanmu pun nggak kelamaan menunggu kau..!” Hancur hatiku mendengarnya. Lantas…bagaimana dengan Herfan, kekasihku..? Oh, seolah ada jiwa yang lain yang berontak dalam diriku sendiri. Katakata Bapa tadi mengganggu pikiranku. Ada sesuatu yang aku takutkan. Perasaan dan hatiku semakin gelisah. Apalagi ketika sang kekasih hati yang dari tadi kutunggu- tunggu, juga tak kunjung datang. Di mana dia…? Sampaijamseginibelum juga nyampe? Bolak-balik aku coba calling ke Hp-nya. Tidak aktif! Herfan…kenapa nggak jadi datang? Aku hanya bisa menjerit memanggil namanya dalam hati. Berharap akan bergema ke dinding hatinya juga.

**

Tak kuasa menolak perintah Bapa. Akupun terpaksa ikut masuk ke dalam taksi yang akan segera mel u n c u r m e n u j u loket bus. Setiba di bus, aku langsung mengambil posisi duduk paling belakang. Aku tidak ingindudukbersama kedua lelaki itu, Bapa ataupun paribanku. Aku ingin sendiri. Agar aku bebas berkutat dengan pikiranku sendiri. Pikiranku yang sedang berkecamuk. Di hatiku hanya ada kekasihku, Herfan.

Entah kenapa, tiba-tiba perasaanku semakin aneh. Aku hanya ingin bersamanya, hanya ingin duduk di sampingnya. Ah, tapi dimana dia? Ada apa dengannya? Kenapa dia tak jadi datang ke bandara menyusulku? Aku tahu, dia bukan tipe lelaki yang suka ingkar janji kecuali kalau ada urusan yang sangat penting.

**

Malam itu, hinggatibadirumah, takada satu pun sms yang aku terima dari kekasihku. Tidak ada kabar apa pun. Aku semakin risau. Bolak-balik aku telepon, Hpnya masih dinon-aktifkan. “Iban…dari tadi kok diam saja? Sepanjang jalan sampai tiba di rumah juga tetap diam. Ada apa sebenarnya? Apa lagi ada masalah?” Kelembutan paribanku seperti tadi, membuat aku terharu atas perhatian dan pengertiannya. Selama ini memang kami sangat dekat. Selalu komunikasi dan berbagi suka dan duka. Tapi aku tak ingin dia memahamikedekatanitusebagaisesuatu yang lebih dari hubungan saudara. Sekalipun dalam hubungan mar-pariban ini secara umum diartikan sebagai pasangan yang kelak boleh dan akan dijodohkan menjadi pasangan suami-istri, namun aku memandang hal ini berbeda. Aku hanya menganggap pariban-ku sebagai sepupu, sebagaimana hubunganku dengan ito-ku sendiri. Tak lebih dari itu.

**

Tiba hari Senin, tepat hari H acara adat manulangi oppung. Semua keluarga sudah berkumpul di rumah sejak dua hari sebelumnya. Termasuk keluarga dari jauh. Dini hari pagi itu, jam 04.00 wib semua boru, parumaen dan cucu-cucu perempuan oppung sudahbersiap-siapmau ke salon. Aku sendiri tidak mau ikut. “Kenapa iban tidak ikut ke salon?” tanya Sihar. “Tidak penting samaku mau salon atau nggak!” jawabku singkat, jutek dan sadis. Sihar tak lagi komentar, dia hanya diam.

Aku meninggalkannya sendiri di ruang tamu dan bergegas masuk kamar. Udara Toba terasa sangat dingin. Membuatku menggigil. Kuraih selimut tebal, aku berniat ingin menyambung tidurku lagi. Dan, berharap kekasihku akan datang menyapa, mengucapkan, “Selamat pagi sayang..” lalu megecup keningku mesra walau hanya dalam mimpi. Belum sempat kupejamkan mata. Hp ditanganku tiba-tiba bergetar. Ada sms masuk. “Tio, sudah bangun dek..? Pagi ini bisa datang ke rumah, kan? Semalam Herfan kecelakaan kecil, tapi nggak usah panik. Dia tak apa-apa.

Tapi kamu datang ya..! Dalam keadaan seperti ini, dia pasti sangat membutuhkanmu Tio,” begitu pesan dari bang Erwin, abang sulungnya Herfan. Dadaku tiba-tiba sesak. Di dalamnya ada detak yang tak lagi beraturan. Seolah ingin berhenti, tapi kadang-kadang berdetak sangat kencang. Bening mengembang di mataku. Jatuh meleleh di pipi. Tak mampu kubendung. Aku menangis sejadi- jadinya, menahan perih di ulu hati.

Kecemasandankegalauankusejakbeberapa hari lalu ternyata benar. Ada pertanda. Oh, sungguh malang. Kenapa aku harus ikut pulang ke rumah ini? Dalam hati aku mengutuk Bapa yang telah memaksaku harus ikut pulang. Aku tak habis pikir. Secepat mungkin aku hubungi telepon rumah Herfan. Beberapa kali aku calling, baru ada jawaban. “Hallooo…” Aku menangkap suara seorang perempuan muda dari seberang, mungkin kakaknya. Suara itu parau. Dan sisa isak tangisnyamasihsempatkurekam.

Samar-samar kudengar, ada jeritan memanggilmanggil nama kekasihku, Herfan. Tidak hanya sekali. Berulang-ulang, dan suara itu banyak. Ya, mereka menangis. Mereka menjerit-jerit memanggil nama kekasihku. Kini aku tahu, di sms itu bang Erwin sengaja membohongiku.

“Semalam Herfan kecelakaan kecil, tapi nggak usah panik. Dia tak apaapa..!” Ya, aku tahu, bang Erwin telah membohongiku. Tapi, kalimat terakhirnya adalah sebuah kebenaran. “Tapi kamu datang ya..! Dalam keadaan seperti ini dia pasti sangat membutuhkanmu Tio!”

Bagai disambar petir. Aku terkulai lemah. Jatuh ke lantai. Sebelum semuanya terlihatmenjadihitam, akumerasa ada sengatan listrik mengalir seolah menghisap darahku. Aku tak ingat lagi sebelumnya, di mana aku berdiri? Sebelum aku merasakan sesuatu seolah menyengat tubuhku tadi. Setengah sadar, aku bersyukur. Sengatan yang mengalir di darahku, akan mengantar jiwaku pada kekasih hatiku. Dengan begitu, aku tak lagi letih mengejar waktu dengan ragaku untuk menuju sang kekasih. Jiwaku dan jiwanya, akan bertemu di dunia baru, yang mungkin lebih indah dari sekarang.

**

Dirahut Padan: Diikat janji dalam bahasa Batak Toba

Moratorium TKI Buat Malaysia Kelimpungan

JAKARTA — Kebijakan penghentian sementara alias moratorium pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) berhasil membuat Malaysia kelimpungan. Setelah dua tahun moratorium diberlakukan, pemerintah Malaysia akhirnya bisa mengabulkan beberapa tuntutan terkait perlindungan pekerja migran Indonesia itu.

“Setelah ditutup, Alhamdulillah, Malaysia mau memenuhi apa permintaan kita,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar dalam acara Gelar Aksi Solidaritas nasional TKI Terancam Hukum Mati dan Korban Bencana Alam Banjir yang digelar Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Hotel Le Meridien, Jakarta, Sabtu (10/12).

Tuntutan yang dikabulkan, menurut Muhaimin, pemerintah Malaysia dilarang keras memperkerjakan orang Indonesia tanpa visa kerja. Sebab Malaysia diuntungkan dengan banyaknya pekerja ilegal yang mau dibayar murah. Malaysia juga mengabulkan tuntutan libur sehari, paspor harus dipegang TKI, harus ada satuan tugas pengawasan langsung antardua negara, serta penggajian harus yang bisa dikontrol perbankan.

“Moratorium untuk Malaysia dicabut, tapi disertai dengan pengetatan pengiriman TKI. Di Malaysia sendiri, sekitar dari dua juta TKI, 70 persennya adalah pekerja rumah tangga,” ujar Muhaimin. Sedang moratorium pengiriman TKI ke Saudi Arabia belum dicabut. Pemerintah tetap mengingingkan agar jaminan bagi pekerja Indonesia dipenuhi. Jika sudah dipenuhi baru moratorium bakal dicabut. “Untuk Saudi belum kita buka.

Kalau tak ada jaminan seperti Malaysia, belum kita buka,” kata dia. Namun Muhaimin mengakui, kendati sudah diberlakukan moratorium, tetap saja jalur ilegal masih marak. Oleh karena itu, pihaknya harus terus memantau jalur-jalur ilegal pemberangkatan tenaga kerja. “ Kita harus terus pasang mata. Jalur ilegal bisa dari Dubai, Qatar dan lainnya,” katanya. (sam)

Zatako sang Penyemat ‘Ayam Kinantan’ Berpulang…

HM Zainuddin Tamir Koto yang akrab dipanggil Zatako, wartawan senior yang juga penyair menghembuskan nafas terakhir di RS Adam Malik Sabtu dinihari sekitar pukul 00.30 WIB. Jenazah disemayamkan di kediamannya Jalan Letterpres Komplek Wartawan Medan, sebelum dikebumikan di pemakaman umum Jalan Jemadi kemarin sore. Zatako meninggal di usia 69 tahun.

Catatan Obituari: Syaifullah

ZATAKO dikenal sebagai wartawan olahraga yang hingga menjelang akhir hayatnya masih gesit meliput ke lapangan.

Di usiannya yang senja, Zatako masih bersemangat meliput langsung kegiatan olahraga. Terutama PSMS. Banyak cerita yang sudah dirangkainya bersama PSMS. Tak heran, sebab Zatako sudah meliput PSMS dan sepak bola nasional sejak tahun 1960-an silam. Semasa hidupnya Zatako sering bercerita kepada saya jika dia termasuk salah satu yang menyematkan nama Ayam Kinantan, sebagai julukan PSMS. Sebelumnya PSMS lebih sering disebut The Killer lantaran kerap mengalahkan tim lokal maupun tim asing di Stadion Teladan.

Namun kalau tak salah ingat, setelah jadi juara untuk kali terakhir era Perserikatan 1985 silam, PSMS punya julukan Ayam Kinantan. Masih fresh benar di ingata Zatako saat dia menceritakan asal mula nama Ayam Kinantan itu diberikan kepada PSMS. Saya nyaris lupa apa-apa saja poin yang disebutkannya. Tapi yang jelas, sesaat setelah menjuarai Kompetisi Perserikatan 1985 melawan Persib Bandung, yang dimenangkan PSMS lewat adu penalti 2-1 setelah skor di waktu normal 2-2 itu, julukan Ayam Kinantan mulai dipakai. Kalau tidak salah sekitar tahun 2009 Pak Zatako-begitu saya memanggilnya, bercerita tentang Ayam Kinantan itu. Ayam Kinantan itu merupakan ayam jago biasa yang kebetulan dimiliki seseorang di kawasan Jakarta yang bernama Kinantan. Entah siapa yang akhirnya berhasil meminta ayam itu untuk dijadikan hadiah kecil keberhasilan PSMS jadi jua- ra Perserikatan untuk kali ke lima saat itu. Ayam itu pun dibawa pulang ke Medan.

Sesampai di Medan, Ayam tersebut diarak keliling kampung bersamaan diaraknya skuad PSMS oleh Warga Medan. Seluruh isi kota saat itu bersatu merayakan kemenangan dramatis tersebut. Ironisnya, tak lama setelah merayakan keberhasilan itu dengan iring-iringan dan arakarakan skuad dan warga yang berbaur, ayam tadi akhirnya dibiarkan terkurung di Stadion Kebun Bunga. “Setelah itu ayam itu tak nampak lagi. Mungkin dicuri orang,” kata Pak Zatako saat bercerita dengan saya waktu itu. Begitulah, akhirnya nama Ayam Kinantan pun mulai digemakan. Lambat laun nama itu masih terdengar hingga saat ini. Di rumah duka, Ketua SIWO PWI Pusat, Raja Parlindungan Pane, terlihat hadir di rumah duka. Mantan PSMS seperti Nobon Kayamuddin juga tampak berduka atas musibah ini.

Menurut salah satu anak almarhum, Laksamana Mahardika, be berapa pekan belakangan kon disi fisik ayahnya memang melemah. “Bapak orangnya kuat. Sampai usianya segini dia masih tetap meliput dan pergi kesana kemari. Kelihatannya sehat-sehat saja tapi ternyata ada gangguan di ginjalnya. 14 Desember nanti usianya genap 70 tahun,” kata Mahardika. Menurut Mahardika, ayahnya memang cinta mati terhadap dunia sepak bola dan PSMS. Kalau ingin meliput PSMS, tak ada anggota keluarga yang bisa melarang. “Bapak memang sangat mencintai PSMS. Tidak ada yang bisa melarangnya jika ingin pergi meliput PSMS meski kondisi fisiknya sudah tak sekuat dulu. Bahkan menjelang wafatnya dia masih menanyakan kabar PSMS dan PS Gumarang,” kenang Dika. Ciri khas Pak Zatako memang tak akan pernah luntur dalam benak kami wartawan yang masih jauh soal pengalaman dibanding dirinya. Dengan menggunakan rompi khas dan kopiah, Pak Zatako tak akan malu meliput.

Bahkan di saat wartawan dilengkapi kamera digital, Pak Zatako masih akan bangga menggunakan kamera analog yang sering disebut tustel. Ya, hanya dengan tustel itu Pak Zatako tetap mendapat ruang paling depan ketika hendak memotret PSMS berlaga. Almarhum juga dikenal sebagai seorang yang humoris dan kerap melontarkan guyonan-guyonan khasnya dengan menyingkat sesuatu. Bahkan namanya sendiri sering disingkatnya dengan istilah Zagoan Tangan Kosong. Ya begitulah Pak Zatako. Saktiawan Sinaga, mantan pemain PSMS yang kini membela Mitra Kukar tak percaya dengan kabar meninggalnya almarhum. Sakti mengetahui kabar itu ketika melihat status Blackberry messenger saya.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Aku kenal kali la sama Bapak itu. Gak nyangka dia uda gak ada, padahal selama aku main di PSMS masih sehat kali. Semoga arwahnya diterima yang maha kuasa,” kata Sakti. Semasa hidupnya, almarhum sempat berkarir di sejumlah media massa seperti majalah Ganepo, Olimpyc, Harian Waspada, Sinar Medan (kini Medan Posred), dan Harian Pelita. Bahkan almarhum sempat menulis di Kompas. Yang unik, nama Zainuddin Tamir Koto juga familiar di kancah penyair nasional. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerita pendek memang sempat dimuat di majalah sastra Horison, serta media di Malaysia dan Brunei Darussalam. Di antara karya-karyanya adalah Mesranya Kata (kumpulan sajak, tanpa tahun) Merdunya Suara (kumpulan sajak, 1976) Bayonet (kumpulan sajak, 1985) dan Air Zam Zam (kumpulan, 19- 85). Selamat jalan Pak Zatako. Semangatmu akan kami kenang sebagai semangat kami yang akan selalu baru. (*)