32 C
Medan
Friday, April 3, 2026
Home Blog Page 14338

KPK Didesak Segera Garap JR Saragih

MEDAN-Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Nuriyono SH, mengharapkan kasus dugaan korupsi Bupati Simalungun JR Saragih segera ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Hal tersebut kembali diulangi  menyikapi lambannya kinerja KPK dalam penuntasan dugaan korupsi JR Saragih dan Binton Tindaon, yang menyebabkan kerugian negara atas APBD Simalungun 2010 sebesar Rp48 miliar lebih dan Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp31 miliar lebih. “Agar kasus korupsi ini tidak mandeg kinerja KPK harus sama-sama kita pantau,” tegas Nuriyono.

Nuriyono mengatakan, dugaan korupsi Dana Bagi Hasil (DBH) Pajak Rp5,9 miliar lebih, tunjangan profesi 69 guru senilai Rp1 miliar lebih, dan dugaan pengalihan insentif guru non PNS sebesar Rp1,2 miliar sudah jelas dan ada buktinyan
“Sejauh ini juga belum ada kejelasan atas kasus-kasus yang melibatkan JR Saragih seperti kasus dugaan suap terhadap Ketua Pokja KPU Simalungun Robert Ambarita sebesar Rp50 juta, serta kasus dugaan suap ke salah satu hakim Mahkamah Konstitusi, yang kemarin itu perkaranya sempat menjadi isu nasional,” ujar Nuriyono.

Nuriyono menambahkan, bila KPK sudah mendapatkan bukti permulaan yang cukup, maka KPK harus bertindak cepat, dengan menetapkan JR Saragih sebagai tersangka. “Bila perlu KPK harus menangkap JR Saragih, karena telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum,” tegasnya menutup.(rud)

Pasien Peragawati, Ruang Kerja Mirip Kamar Hotel

Dr Andreas Prasadja RPSGT, Mengobati Penyakit dengan Mengintip Tidur

Kesehatan tidur tak jarang dianggap sepele oleh mayoritas warga Indonesia. Padahal, penyakit kronis, kecelakaan fatal, hingga sulit berkonsentrasi sering berawal dari tidur yang terganggu. Itulah yang menyemangati dr Andreas Prasadja RPSGT untuk menekuni “ilmu langka” kesehatan tidur.

M. Hilmi Setiawan, Jakarta

LAYAKNYA dokter pada umumnya, Andreas bekerja dengan dilengkapi sebuah laboratorium. Tapi, karena bergerak dalam bidang kesehatan tidur, laboratorium dokter yang bekerja di RS Mitra Kemayoran, Jakarta, itu berbeda dari “markas kerja” dokter lainnya.

Jangan dibayangkan laboratorium milik Andreas itu seperti lab medis pada umumnya. Yakni, dilengkapi dinding kaca, peralatan USG, hingga aneka tabung kaca untuk menyimpan sampel darah. Kondisi ruangan lab milik Andreas jauh dari deskripsi itu. Tidak ada monitor yang mengeluarkan bunyi tit, tit, tit. Tidak ada pula tabung oksigen dan infus yang slangnya menjulur ke tubuh pasien.

Sebaliknya, lab tempat kerja dokter kelahiran Jakarta, 16 Mei 1975, itu mirip kamar hotel berbintang empat. Saat masuk ke laboratorium tersebut, terasa semburan AC yang cukup dingin. Dindingnya dibalut wallpaper dengan warna dominan cokelat muda. Laboratorium itu juga dilengkapi televisi, sofa, serta kamar mandi.

Isi utama laboratorium tersebut adalah tempat tidur empuk dengan ukuran sekitar 100 x 200 cmn
“Kerja saya adalah mengintip pasien saat tidur. Jadi, laboratoriumnya harus senyaman mungkin,” papar Andreas.

Dokter pengintip tidur. Itulah julukan bagi Andreas yang diberikan rekan-rekan kerjanya. Suami Kristanti Madona tersebut menuturkan, mengatasi gangguan kesehatan tidur hanya bisa dilakukan dengan mengamati tidur pasien.
Entah dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, Andreas harus mengintip tidur pasiennya. Jika pasien terjaga, upayanya mengetahui kesehatan tidur pasien buyar seketika.

Menurut dia, mayoritas warga Indonesia sangat meremehkan kesehatan tidur. “Padahal, dampaknya sangat berbahaya,” terang ayah Chiara Monica, 6, dan Patricius Kiano, 2, itu.
Salah satu dampak gangguan kesehatan tidur yang cukup fatal adalah kecelakaan lalu lintas. Dia menyatakan, berdasar catatan kepolisian selama arus mudik Lebaran lalu, terjadi ribuan kecelakaan. Nah, di antara jumlah tersebut, sekitar 8.000 kecelakaan terjadi karena pengendara mengantuk. “Sering juga dikatakan human eror,” ujarnya.

Lulusan Sleep Medicine and Technology The University of Sydney itu menjelaskan, gangguan kesehatan tidur atau sleep disorder cukup beragam. Yang paling dominan dan dianggap remeh adalah sleep apnea atau berhentinya napas saat tidur. Gejala gangguan itu yang sangat lazim adalah mendengkur atau ngorok.

Menurut Andreas, mendengkur memang sangat remeh. Apalagi, yang bersangkutan tidak menyadari apakah dirinya masuk kategori pendengkur atau tidak. Seseorang baru tahu dirinya mendengkur ketika tidur dengan orang lain. “Misalnya, sudah berkeluarga atau anak-anak yang masih tidur dengan orang tuanya,” katanya.

Pria yang menyelesaikan pendidikan dokter umum di Unika Atmajaya pada 2002 itu menuturkan, fenomena mendengkur cukup berbahaya. Sebab, ketika mendengkur, pernapasan seseorang terganggu. Selama mendengkur, perjalanan oksigen yang masuk ke tubuh bisa tersendat-sendat, bahkan bisa terhenti total untuk beberapa saat.

Andreas menuturkan, ketika pernapasan seseorang terganggu karena mendengkur, kinerja organ-organ penting di dalam tubuh juga terganggu. Mulai paru-paru, jantung, hingga ginjal. “Karena terganggu, kinerjanya tidak normal,” jelas anggota American Academy of Sleep Medicine tersebut.

Jika terus bekerja dengan keadaan tidak normal dalam waktu lama, paru-paru, jantung, hingga ginjal akan limbung. Akibatnya, muncul gangguan gagal ginjal, gagal jantung, hingga penyakit paru kronis. Nah, sebelum organ-organ vital tersebut aus karena bekerja dalam keadaan tidak normal, orang-orang yang ditemukan tidur dengan mendengkur harus memeriksakan diri.
Di situlah peran Andreas sebagai dokter tukang intip tidur berjalan. Orang atau pasien dengan tidur mendengkur yang berobat ke Andreas langsung mendapat perawatan khusus. Pasien itu lantas dibawa ke laboratorium tempat kerja Andreas. Di dalam laboratorium tersebut, pasien diminta berbaring rileks di kasur empuk yang sudah disediakan.

Di samping kasur itu, Andreas memasang alat dengan beberapa lubang colokan dengan diameter seukuran butiran kedelai. Lubang-lubang tersebut menjadi semacam terminal puluhan kabel yang akan dipasang ke pasien. Kabel-kabel itu dipasang mulai ujung kepala hingga ujung kaki. “Tempelan kabel yang paling banyak di daerah kepala,” jelasnya.

Dia menuturkan, kabel-kabel tersebut dijadikan alat untuk mengintip pasien ketika tidur pulas. Sempat muncul pertanyaan, apakah pasien bisa tidur nyenyak ketika harus terbaring dengan puluhan kabel yang salah satu ujungnya menempel di tubuh” “Saya pernah menjumpai pasien yang baru dipasang beberapa kabel sudah tertidur pulas,” ungkapnya.

Pasien tersebut menderita hipersomnia. Menurut dia, kantuk berlebihan juga merupakan salah satu wujud gangguan kesehatan tidur lainnya. Hipersomnia bisa fatal jika dipadu dengan sleep apnea. “Bisa dibayangkan, orang napasnya terganggu dalam waktu (tidur, Red) yang lama,” tuturnya.

Dia menuturkan, titik-titik penempelan kabel tersebut digunakan untuk mengintip titik khusus. Misalnya, kabel yang ditempel beberapa sentimeter di atas mata digunakan untuk merekam atau mengintip pergerakan bola mata selama pasien terlelap.

Kabel yang menempel di kepala digunakan untuk merekam gelombang peredaran darah di kepala. “Begitu seterusnya hingga kabel yang tertempel di kaki. Gunanya untuk merekam aktivitas pergerakan kaki selama tidur,” terang Andreas.
Aktivitas atau gerakan seluruh organ dalam dan bagian tubuh pasien selama tidur direkam melalui kabel lalu ditampilkan di monitor di luar laboratorium. Paginya, Andreas langsung menganalisis hasil intipan itu.

Dia menjelaskan, setiap gerakan organ dan bagian tubuh pasien menerangkan risiko penyakit tertentu. Misalnya, jika selama tidur suplai oksigen yang masuk ke tubuh kurang, bisa diduga pasien itu masih merasa lemas dan lesu setiap bangun tidur. “Padahal, jika tidurnya sehat, saat bangun, badan terasa segar. Fresh,” tegas pria yang pernah berguru ke Colin Sullivan, ahli kesehatan tidur asal Australia, tersebut.

Yang lebih berbahaya adalah jika hasil mengintip itu menunjukkan aktivitas jantung yang cukup keras selama pasien tidur. Akibatnya, sirkulasi darah ke tubuh tidak normal. Dampak lainnya, pasien rentan mengalami gagal jantung. Dampak kinerja jantung yang berlebihan itu juga bisa merangsang orang untuk kencing.

Kondisi sering kencing tersebut bisa mengakibatkan dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Kunci utama untuk menghilangkan berbagai gangguan kesehatan tidur adalah mengurangi mendengkur. “Kalau bisa dibuang total,” tegasnya.
Menurut Andreas, orang mendengkur karena berbagai faktor. Di antaranya, ada penyempitan di kerongkongan bagian atas oleh amandel. Jika itu terjadi, jalan satu-satunya untuk mengatasi adalah lewat operasi.
Tapi, kata dia, secara fisik, orang ras Asia sangat berpeluang untuk mendengkur, meski tidak tersumbat amandel. Dia menjelaskan, rahang orang ras Asia cenderung sempit. Jika tidur dalam keadaan telentang, sangat mungkin mereka mendengkur.

Andreas mengungkapkan, selama ini muncul pendapat bahwa hanya orang-orang gendut yang berpotensi mendengkur saat tidur. Dia menegaskan bahwa itu tidak benar. “Ada pasien saya yang peragawati dan tubuhnya tidak gendut. Tapi, dia juga mendengkur,” ujarnya.

Pasien Andreas lainnya adalah orang yang sering bertabrakan. Setelah tidurnya diintip, ternyata orang itu sering mengigau. Menurut dia, jika terlalu sering mengigau, setelah bangun, orang tersebut tidak memiliki konsentrasi yang kuat.
Dia mengungkapkan, tidak semua gangguan mendengkur harus berujung pada tindakan operasi. Di tempat kerja Andreas, pasien diberi pilihan untuk mengatasi dengkuran dengan sebuah alat yang disebut Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).

Alat semacam masker itu akan mengalirkan udara ke mulut pasien. Alat tersebut dipasang sebelum pasien tidur. Dengan memanfaatkan aliran udara itu, saluran rongga pernapasan bisa terjaga untuk tetap terbuka. “Saya dapat informasi, Oprah (Oprah Winfrey, Red) juga menggunakan CPAP selama tidur,” jelasnya.

Dia berharap ke depan masyarakat Indonesia bisa lebih care terhadap kesehatan tidur. Salah satu yang membuat masyarakat kurang memperhatikan kesehatan tidur adalah masih jarangnya dokter yang berfokus mengatasi gangguan tidur. (*/c5/iro/jpnn)

Oknum Rambut Cepak Kawal Ribuan Bal Pakaian Bekas

LANGKAT-Bisnis pakaian bekas atau tenar disebut monza, memang sangat menggiurkan. Setelah sempat “dingin”, penyeludupan monza asal luar negeri kembali marak. Barang yang dilarang oleh undang-undang kepabeanan tersebut mulai masuk pelabuhan rakyat dengan pengawalan oknum berbadan tegap dan berambut cepak.

Di Kabupaten Langkat, kegiatan tersebut terlihat ramai di kawasan Besitang, Kecamatan Besitang, Langkat. Sebuah dermaga pelabuhan rakyat dijadikan lokasi pendaratan ribuan bal monza asal luar negeri itu.
Tak sembarang orang bisa masuk kekawasan dermaga bila kapal pengangkut monza tiba. Pasalnya, setiap saat oknum berambut cepak berpakaian sipil menjaga tempat ini.

Seperti terjadi Sabtu (19/11) pagi. Saat ribuan bal monza masuk dermaga, pintu masuk lokasi langsung ditutup. Pria berambut cepak berbadan tegap langsung mengamankan lokasi dan menggembok pintu dermaga.
Pembatasan pengguna dermaga ini menimbulkan keluhan warga yang selama ini memanfaatkan dermaga sebagai tempat bersandar perahu dan bongkar muat barang seperti arang dan lainnya. “Selama ini dermaga itu terbuka untuk siapa saja, tapi sejak masuk monza kedermaga itu, situasinyanya jadi berubah, masyarakat tak lagi bebas keluar masuk dermaga, parahnya lagi pintu dermagapun digembok,” ujar warga yang tak mau namanya dicatat karena khawatir akan keselamatan diri.
Menurut warga lagi, oknum yang menguasai dermaga itu berinisial IH, warga asal Aceh yang kini menetap di Kecamatan Pangkalan Susu. “ IH itu mafia, kalau dulu dianya main arang (trafficking), tapi sekarang dia main monza, pokoknya bisnisnya melawan hukum semua, kayaknya dia kebal hukum. Hingga sekarang tak pernah disentuh hukum apalagi sampai ditangkap,” ujar warga tadi.

Monza-monza tadi diangkut mengunakan truck interculer menuju Medan. Setiap truk dikawal oknum-oknum berperawakan tegap tersebut.

Sabtu dini hari, nyaris terjadi bentrokkan antara oknum pengawal monza dengan petugas dari Polres Langkat yang coba menghentikan kegiatan ini.
Saat tiga truk pengangkut monza dihadang empat orang petugas di tengah jalan, sepasukan aparat berbadan kekar langsung menghalang-halangi upaya polisi. Truk yang sarat muatan monza itu ahirnya gagal diboyong ke komando karena para pria berambut pendek ini mengancam akan bertindak anarkis bila polisi berani mengiring truck tersebut ke Polres Langkat.

Demi menjaga situasi kondusif, Petugas Kepolisian membiarkan saja ketiga truk pengangkut monza tadi bergerak pergi menuju Medan. Jelang pukul 07.30 WIB, bentrokan juga hampir terjadi. Penyebabnya, petugas dari Satuan Lalulintas yang melakukan pengamanan jalan raya sekaligus patroli rutin menghentikan laju 2 truk yang rupanya bermuatan monza.

Peristiwa yang sempat menjadi tontotan abang becak dan warga lainnya ini terjadi persis di depan kantor Koramil Stabat. Saat itu petugas yang merasa curiga dengan muatan truk yang bergerak lambat itu langsung menahannya. Saat berhenti dipingir jalan, dari dalam truck terlihat dua orang pria berambut cepak. Hanya dalam hitungan menit, satu mobil kijang berisi 8 orang pria menghampiri petugas lalulintas ini seraya mengaku kalau monza tersebut tangkapan pejabat militer dan akan dibawa ke Medan.

“Barang ini tangkapan kami, kami diperintah, jadi jangan halangi kami, barang ini mau dibawa ke markas,” sebut seorang oknum di mobil. Melihat gelagat kurang bersahabat seperti itu, ahirnya petugas satlantas melepaskan monza tadi.
Kapolres Langkat AKBP Mardiyono SIK MSi ketika dikonfirmasi POSMETRO (grup Sumut Pos) melalui pesan (SMS) terkait masalah tadi membenarkan. “Kami sudah kordinasi (dengan petugas militer) juga Bea Cukai perihal lewatnya truk bermuatan tersebut,” jawabnya. Ditanya, apakah pihaknya tidak langsung melakukan kordinasi dengan Pangdam mengingat yang mengawal monza tersebut oknum mengaku dari Dan Intel Kodam/BB, dengan tenang orang nomor satu di Polres Langkat ini mengatakan “Saya hanya buat laporan saja ke Kapolda, selanjutnya kapolda yang sampaikan ke Pangdam,” jelas Kapolres.(wis/smg)

 

Lamar 3 Perempuan Sekaligus

Babak Baru Cinta Andhika Pratama-Ussy Sulistiawaty

Empat tahun lamanya waktu yang diperlukan oleh Ussy Sulistiawaty (31) untuk memantapkan hati memilih Andhika Pratama (25). Pasangan itu kemarin (19/11) melangsungkan acara lamaran di kediaman Ussy, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Satu tahap menuju pernikahan sudah dilakoni. Januari mendatang, mereka sudah menetapkan tanggal untuk menjadi suami istri.

Rumah mewah dua lantai milik Ussy sore itu ramai orang. Tenda bernuansa ungu sudah terpasang. Kursi-kursi berwarna putih berjejer. Tepat di depan gerbang, puluhan kamerawan dan fotografer berjejer rapi. Mereka menanti kedatangan rombongan keluarga Andhika Pratama. Sang pria yang akan melamar kekasihnya.

Pukul 15.00 lebih, rombongan keluarga Andhika belum tiba. Rina Gunawan yang bertindak sebagai pengatur acara hilir mudik di depan rumah Ussy. Sejam kemudian, yang dinanti datang. Beberapa orang turun dari mobil dengan membawa kotak seserahan. Yang pertama terlihat adalah dua kotak seserahan yang dibawa adik Andhika. Isinya perhiasan emas berlian seberat total 125 gram. Satunya lagi adalah rangkaian uang USD 100 yang dijejer rapi.
Tak lama kemudian, turunlah Andhika dengan memakai baju pink keunguan sambil membawa buket bunga. “Terima kasih banyak teman-teman sudah datang ke sini,” katanya kepada awak media.
Pembawa acara di dalam rumah mempersilakan rombongan keluarga itu untuk masuk. Tetapi, Andhika masih sibuk mengatur barisan. Orang tuanya, Weddy Subagyo dan Sherly Hesti Erawati, berdiri mengapit putranya. Lalu, yang lain berdiri berurutan di belakang mereka.

Total ada 23 kotak seserahan yang dibawa bintang film Butterfly itu. Seolah tak mau ada kesalahan, Andhika lalu berjalan ke belakang dan menata barisan. Lalu, dia kembali lagi berdiri di tengah orang tuanya. Dia terlihat gugup. Waktu mau berjalan masuk ke dalam rumah Ussy, Andhika masih berteriak kecil. “Eh, jangan lupa kertas kuningnya dicabut ya,” teriaknya. Entah kertas kuning apa yang dimaksudnya. Tetapi, sepertinya kertas tersebut tertempel di tiap kotak seserahan. Mungkin semacam petunjuk isi kotak.

Setelah berada di dalam rumah, keluarga Ussy dan Andhika duduk berhadap-hadapan yang dipisahkan oleh meja. Setelah sambutan dari dua keluarga, Ussy diminta untuk keluar. Andhika yang menjemput. Lalu, dari sebuah ruangan, muncul lah dua orang perempuan yang diutupi kain lebar. Hanya ujung sepatu mereka yang terlihat. Andhika diminta untuk memilih, mana yang menurut dia adalah Ussy. “Saya pilih yang sebelah kiri. Itu kelihatan pakai kain ungu. Itu pasti Ussy,” kata dia. Pilihannya tepat. Sosok itu adalah perempuan yang dicintainya.

Selanjutnya adalah prosesi lamaran. Weddy, ayah Andhika, yang mewakili anaknya meminta Ussy kepada Sulaiman, ayah Ussy. “Saya datang karena tuntutan anak. Dulu waktu masih kecil mintanya motor-motoran, mobil-mobilan, lalu sepeda roda tiga. Tapi, setelah lama ditinggal ke Jakarta, kok tahu-tahu dia pulang minta dilamarkan. Katanya ada perempuan yang sangat cocok dengannya. Oleh karena itu, saya akan meminang Ussy untuk anak saya. Pak Sulaiman, boleh tidak? Harus boleh lho Pak. Kalau tidak, kami punya cara lain lho,” ungkap Weddy yang membuat para undangan tertawa.

Setelah itu, giliran Andhika yang berkata langsung kepada Ussy. Pria kelahiran Malang tersebut tidak hanya mengungkapkan ingin meminang Ussy. Tetapi, dia juga bilang untuk meminang Ara dan Amel, anak Ussy. Ara adalah anak Ussy dari pernikahan sebelumnya dengan Yusuf Sugianto, sementara Amel adalah anak angkat Ussy. Tak hanya Ussy yang mengangguk saat dilamar Andhika. Dua bocah itu juga. Tiba-tiba, Weddy yang duduk di seberang langsung berjalan menghampiri Ara dan Amel. Spontan, dia langsung mencium pipi dua anak itu. “Makasih ya Nak,” katanya disambut tawa.

Ara sendiri sempat berbicara langsung kepada Andhika. “Om Dhika, mau nggak kalau Om jadi papanya Ara dan Kak Amel,” katanya. “Boleh banget. 100 persen boleh. So after kondangan, you call me what?” tanya Andhika. “Papa,” jawab Ara malu-malu. Yang dimaksud kondangan adalah acara pernikahan Andhika dan Ussy. Ara menyebut acara pernikahan itu sebagai kondangan.

Ayah-Anak Jadi Nervous

Ussy Sulistiawaty terlihat santai ketika melalui prosesi lamaran kemarin (19/11). Begitu juga halnya dengan orang tuanya. Yang terlihat begitu grogi justru Andhika Pratama dan ayahnya, Weddy Subagyo.
Wajar saja Dhika grogi karena itu adalah pengalaman pertama sekaligus fase besar dalam perjalanan hidupnya. Begitu juga halnya dengan Weddy. Sebab, Dhika adalah anak sulungnya. Apa lagi setelah dia tahu bahwa kedatangannya langsung diabadikan puluhan kamera. Bahkan, ketika diminta untuk berbicara, Weddy lantas berkata, “Kok saya nervous ya. Saya tidak pernah ngomong di depan banyak orang seperti ini. Di-shooting juga. Wah, saya tidak terbiasa,” ucapnya, lantas disambut tawa orangtua Ussy.

Dhika juga sama. Dia sudah terbiasa berbicara di hadapan ratusan, bahkan ribuan orang. Sebab, setiap pagi dia membawakan acara live di salah satu stasiun TV. Tapi, sore itu, kata Dhika, rasanya lain. “Saya tidak pernah segrogi ini. Padahal, saya sudah berkali-kali datang ke rumah ini. Tapi, kok rasanya tetap berbeda,” katanya.

Senyum Dhika baru terkembang lepas begitu acara usai. Terlebih lagi setelah dia mengetahui sahabatnya, Gading Marten, datang. Mereka lantas berpelukan.
Tak hanya itu. Sahabat-sahabat Ussy juga datang untuk memberikan ucapan selamat. Ada Mayang Sari, Cut Keke, Rini Idol, dan juga Irgi Fahrezi.
Mayang Sari yang datang tidak ditemani suaminya itu memberikan ucapan selamat. “Selamat untuk Ussy. Kami semua ikut senang dan bahagia. Ini rencana hebat untuk dia dan hidup dia ke depan pastinya,” ucap Mayang. Mayang mengatakan sering ngobrol dengan Ussy tentang rencana lamaran dan pernikahan. “Padahal, katanya, dia menyiapkan ini dadakan. Tapi, sukses kok. Lancar,” ujarnya lagi. (jan/c4/ayi/jpnn)

Halaman Terakhir Dan

Cerpen oleh: Ester Pandiangan

Aku benci aroma pemakaman. Karena baunya begitu hening dan nelangsa. Membawa orang pada kesepian mendalam begitu menyiksa. Pemakaman memang selalu menerjunkan orang yang ditinggalkan ke jurang kehampaan tanpa tepi. Menjerumuskan pada perasaan kosong yang tiada mendasar.

Makanya aku benar-benar tak suka pemakaman. Seakan udara disedot paksa oleh batu-batu dingin kasar yang berjejer tegak memenuhi sepanjang mata memandang. Bahkan satu dua pepohonan hijau yang menghembuskan kehidupan tiada dapat mengalahkan aroma kematian yang begitu menyengat.

Meski terus didera gelombang sesak aku tetap menyusuri satu persatu batu-batu kaku ini. Agak tertatih memang. Antara lesakan sepi dan janin tujuh bulan yang memperlambat langkahku.
Pelan-pelan aku merambati lahan pekuburan ini sambil mengamati nama-nama yang terukir di badannya. Akhirnya aku sampai pada satu nama yang kucari. Tanahnya masih merah dan basah. Pada salib yang terpancang kuat terpahat namanya, ‘Daniel’.

Meski begitu orang lebih mengenalnya dengan nama Dan. Teman-teman, para dosen biasa memanggil dia dengan Dan. Seperti pengarang favoritnya Dan Brown atau mencoba lari dari takdirnya sebagai Daniel —laki-laki yang selamat dari mulut singa karena ketekunannya berdoa.

Dan memang tidak percaya Tuhan. Aku menyebut dia atheis, tapi dia menyanggah kalau dia realistis. “Siapa Tuhan? Sewaktu kau menginginkan sesuatu yang buruk lalu menutup mata kemudian berdoa. Tuhan adalah sosok yang akan menolak doamu.  Jadi siapa Tuhan? Tuhan hanyalah jawaban segala pertanyaan yang belum terjawab!” lantangnya.

Aku berharap semoga malaikat yang kebetulan lewat tak menganggap serius ucapannya sehingga marah dan mencabut nyawanya. Syukur, harapanku terkabul. Karena Dan masih hidup beberapa tahun lagi setelah dia meneriakkan kata-kata itu di mukaku. Yah, walau pada akhirnya raganya harus  rata juga dengan tanah. Sekarang.

Bukankah memang semua seperti itu? Dari tanah kembali ke tanah? Ah, kenapa pula aku mengutip ayat injil? Dan kan tidak percaya kehidupan setelah kematian. Kembali ke tanah ya berarti selesai sudah.
“Sia-sia kan ? Hampa kan ? Ya, memang tidak ada yang spesial. Setelah mati tidak ada apa-apa lagi. Ibarat buku. Halaman terakhir sudah dilewati berarti the end. Memang hidup ini tidak ada yang istimewa. Surga neraka hanya manisan dalam hidup. Berbuat baik atau tidak hanya masalah moral saja!”

Kini, aku malah mengingat kalimat-kalimat filosofi dia. Ah, wajar saja! Kematian sering membuat orang merenung apa arti hidup. Rentetan kejadian yang sudah dilaluinya. Mungkin aku terlalu terbawa perasaan melankolis. Karena aku merasa telah menitikkan air mata. Meneteskannya ke pipi, turun ke dagu dan jatuh ke tangan. Atau ini berasal dari langit yang tak mampu menampung kesedihan awan? Sehingga, mengoyak katup mata, menumpahkan butiran-butiran air yang membanjiri bumi.

Kenapa aku jadi lembek seperti ini? Apa kematian Dan begitu memengaruhi aku? Siapa rupanya Dan? Hanya seorang teman di organisasi mahasiswa. Parasnya biasa saja. Bukan seperti pemain sinetron Dude Herlino yang enak dilihat. Dan berwajah kucel dengan lubang-lubang bekas jerawat yang menyebar di pipinya.

Penampilannya tak kalah berantakan dengan wajahnya. Kalau bisa dibilang, secara fisik tak ada yang istimewa dari dia atau dibanggakan dari seorang Dan yang buat perempuan mengembang-kempiskan hidung bila berjalan di sampingnya.
Namun, harus kuakui, sejak jumpa dengannya di kampus, Dan sudah mencuri perhatianku. Aku juga terheran-heran apa yang menarik dari Dan sehingga dia senantiasa menjadi objek perhatianku. Mungkin aku sudah gila, mataku yang rusak atau seleraku yang memang parah. Entahlah.

Aku hanya tahu Dan sudah mencumbui mataku sedari awal melihatnya. Bukan fisiknya yang mengikat aku. Menemali aku sehingga terpaut padanya. Kepribadiannya yang terbuka buat aku tersungkur dalam lembah kekaguman.
Dibalik kemiskinan tampangnya, Dan adalah sosok bersahaja apa adanya. Berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa bertampang klimis yang tak ubahnya                              iklan berjalan–berkat atribut bermerk yang dikenakan mereka.
Dan lebih sering kulihat mengenakan kemeja longgar yang warnanya sudah pudar yang dipasangkan dengan jeans yang tak kalah pudarnya. Dia selalu berjalan di lorong-lorong kampus dengan seringai khasnya. Tertawa lebar kepada teman-teman atau pun mahasiswa/wi baru. Bukan dalam arti berlebihan. Dia melakoninya karena memang ingin. Tidak dalam rangka mencari perhatian. Semua yang dilakukannya sangat alami. Lagi-lagi bukan semuanya itu yang membuatku mematri padanya.

Suatu masa, dia menemukan aku sedang menorah-noreh lenganku dengan pecahan beling. Hening sejenak, sebelum akhirnya Dan mengajak aku ke kosannya. Tidak bertanya apa-apa. Tidak berkata apa-apa. Dan hanya membersihkan luka yang kubuat lalu memberinya obat merah. Goresan yang tadi kubuat menimpa luka yang seminggu sebelumnya, membuat lenganku berbaret-baret.

Setelah duduk terdiam dalam kebisuan Dan membelah kesenyapan antara kami, “Selama ini aku hanya tahu keanehan manusia dari buku dan televisi, tapi sekarang aku melihatnya langsung.”
Aku hendak menumpahkan semua kata-kata yang kutahan selama enam tahun belakangan ini. Sudah sangat lama, kata-kata itu menunggu untuk dihamburkan.

Masih sampai di kerongkongan belum menyentuh pangkal lidah Dan sudah menyambung perkataannya, “Jangan biarkan pengalaman buruk menjadi alasan untuk berbuat buruk juga. Apalagi menjadikannya sebagai pelarian.”
Seumpama tinjuan, ucapan Dan menghantam ulu hatiku. Mataku jadi terbuka. Apa karena Dan yang bicara atau memang kalimat ini mengandung kebenaran, yang kutahu sejak saat itu aku meninggalkan hobi menggambari garis di lenganku.
Kami mulai sering bertemu. Kadang di base camp organisasi, mengobrol hingga dini hari. Sering juga di warkop yang menjamur di kawasan kampus. Dalam setiap pertemuan Dan lebih banyak berperan sebagai pembicara dan aku pendengar yang budiman. Sesekali menimpali kemudian menjadi pendengar budiman lagi.

Dari pertemuan-pertemuan inilah aku lebih mengenal Dan. Siapa sosok Dan dibalik topeng yang dikenakannya. “Sebenarnya semua kita yang hidup ini tak pernah menampilkan diri kita yang sesungguhnya. Kita semua bersembunyi di balik topeng. Karena takut menunjukkan jati diri atau tuntutan lingkungan yang membuat kita membelenggu diri sendiri,” kata Dan di hari-hari yang lalu.

Seperti seseorang yang berperan ganda menjadi laki-laki dan perempuan, ayah berwajah ulama yang ternyata memburiti anaknya, ibu yang seyogianya melindungi anak malah menjadi mami untuk darah dagingnya sendiri sampai laki-laki yang alih-alih mengucapkan syaloom memilih berkata, ‘Salam damai!’

“Aku bosan harus selalu berpura-pura berdoa sebelum makan saat pulang kampung. Aku juga sudah kehabisan alasan untuk menolak ajakan ke gereja. Dan paling kesal melihat teman yang sudah kenal aku tapi masih saja mengakhiri sms dengan GBUS,” cerita Dan saat malam kami merokok bersama.

Ia terus menelurkan kata-kata, menjahit kalimat demi kalimat yang kalau disatukan bisa menjadi biografi.”Biografi seorang atheis,” candaku padanya. “Hei! Bukan, ingat realistis,” cengirnya.
Tidak percaya  tuhan atau yang dia sebut realistis, Dan juga senang mengukur dirinya dengan hal-hal yang ekstrem. “Aku sudah pernah mencoba rokok, membuat tato, bungge jumping dan backpacking. Suatu saat aku juga mau merasakan bagaimana bercinta dan menghisap mariyuana. Bukan untuk menjadi pemadat, hanya ingin melihat sampai di mana limitku!”

Sungguh pemikiran yang aneh. Tapi, abnormal akan menjadi normal setelah tahu kepribadian Dan sesungguhnya. Makanya aku tak heran ketika tiga bulan tak bertemu dia menyampaikan kabar kalau dia melabuhkan hati dengan seorang gadis berparas aisyah.

Aku tidak terkejut. Sungguh sekali lagi kutegaskan aku tiada terkejut. Tapi aku tak kuasa menyangkal pengakuannya membuat hatiku memar. Begitu membiru sampai-sampai aku memilih untuk menghilang dari dia bersama kenangan yang sempat ditanamnya untukku. Kenangan yang tidak akan mati justru terus bertumbuh dalam hitungan waktu.

Di sinilah aku. Usai mendengar kabar Dan telah menamatkan bab terakhir dari bukunya. Mungkin seperti yang pernah dikatakannya padaku, dia ingin menguji sampai di mana limitnya. Sayang, saat melakukannya dia kelewat menjadikan sebagai pelarian karena ditinggal sungai nilnya. Orang-orang memang sering keciprat ludahnya sendiri.

Sedang aku sendiri apa yang harus kulakukan? Selain mengakui sebuah kenyataan di depan nisan beku. Walau aku tahu sia-sia. Setidaknya aku ingin mengatakan kepada penghuninya, “Selamat, kau berhasil menjadi ayah.” Maret-Juni 2010

Soeharto Pasti Jadi Pahlawan

Benny Moerdani Dalang Petrus

JAKARTA – Polemik pemberian gelar pahlawan bagi mantan Presiden Soeharto masih berlanjut. Politisi senior dan anggota DPD AM Fatwa menilai Soeharto pasti jadi pahlawan, hanya tinggal menunggu waktu penetapannya saja. “Hanya soal waktu saja. Kita maklumi. Pada waktunya negara akan mengakuinya,” ujar AM Fatwa saat diskusi bedah buku ‘Pak Harto the untold stories’ di Gramedia, Matraman. Jakarta Timur. Sabtu, (19/11).

AM Fatwa yang mantan ‘musuh politik’ Soeharto ini menjelaskan sosok Soeharto layak menjadi pahlawan pembangunan. Dia menjelaskan, pemberian gelar pahlawan pada Syarifuddin Prawiranegara pun awalnya menuai banyak polemik karena keterlibatan sosok Masyumi ini dalam pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Begitu juga dengan politisi muda Yuddy Chrisnandi. Ia menilai sosok Soeharto layak menjadi pahlawan karena terobosannya dalam bidang ekonomi. Dengan program Pembangunan Lima Tahun (Pelita), Soeharto pernah sukses mengantar Indonesia pada swasembada pangan.

“Saya pribadi menilau beliau layak jadi pahlawan,” terang Yuddy.

Mantan menteri penerangan era Soeharto, Alwi Dahlan menilai sosok Soeharto sudah jadi pahlawan tanpa perlu pemberian gelar. Alwi menilai Soeharto tidak peduli dengan segala pencitraan. Dia pun tidak pernah mau menerima gelar Doctor Honoris Causa dari berbagai universitas ternama. “Pak Harto tidak butuh itu semua. Dia sudah jadi pahlawan,” niali Alwi.

Dalam bedah buku tersebut juga dibahas tentang sepak terjang penembak misterius (petrus) yang pernah menghantui era 1980-an.

Saat itu, para penembak yang diduga aparat keamanan bergerak menangkapi para preman dan penjahat, tanpa melalui prosedur hukum. Berkisar 99 persen korban yang diculik Petrus tewas mengenaskan. Mayatnya sengaja dibuang di keramaian agar menjadi shock terapi bagi pelanggar hukum.

Siapa dalang Petrus sesungguhnya? Mantan Presiden Soeharto banyak dituduh menjadi pemberi perintah. Tapi Soeharto pernah menyampaikan Jenderal Benny Moerdani lah dalang Petrus sesungguhnya.
“Saya pernah tanya pada Pak Harto. Bapak dituduh melanggar HAM soal Petrus, yang sebenarnya bagaimana Pak? Pak Harto bilang Itu kan Benny,” ujar mantan ajudan Soeharto, Mayjen Purn Issantoso dalam diskusi bedah buku ‘Pak Harto the untold stories’.

Issantoso awalnya menyimpan hal ini rapat-rapat. Baru kali ini dia bisa menyampaikannya setelah kedua tokoh ini wafat. “Biarlah disampaikan,” ujar pria yang dipanggi Is itu.
Selama hidupnya, Soeharto pun tidak pernah menyampaikan siapa dalang petrus sesungguhnya. Is menjelaskan memang watak Pak Harto seperti itu, dia selalu mengambil alih tanggungjawab anak buahnya.”Yang pasti aku memihak wong cilik, Is,” ujarnya menirukan Soeharto. (net/jpnn)

Arroyo Minta Diadili di Pengadilan Khusus

Eks Presiden Filipina setelah Resmi Ditangkap

MANILA- “Duel” antara presiden dan mantan presiden Filipina, Benigno Aquino versus Gloria Macapagal Arroyo, terus berlanjut. Sehari setelah ditangkap di rumah sakit karena dugaan terlibat dalam kecurangan pemilihan senat pada 2007 yang menguntungkan sejumlah kolega, Arroyo melalui tim pengacara bakal mengajukan mosi ke pengadilan besok untuk mencabut surat penangkapan.

Dasar hukumnya, kubu Arroyo menganggap tuntutan pemerintahan Aquino kepada presiden perempuan kedua Filipina itu diajukan di pengadilan yang salah. “Kami merasa ada kesalahan dalam pemrosesan surat penangkapan tersebut. Pengadilan regional yang mengeluarkan surat penangkapan tidak memiliki wewenang,” ujar Raul Lambino, salah seorang pengacara Arroyo, kepada kanal televisi ABS-CBN.

Selain itu, kubu Arroyo bersikeras bahwa kasus yang melibatkan mantan wakil presiden di era Joseph Estrada tersebut seharusnya diadili di sebuah pengadilan khusus untuk para mantan pejabat publik. Di Filipina, pengadilan khusus itu disebut Sandiganbayan. Meski sudah ditangkap, Arroyo tetap diizinkan dirawat di rumah sakit. Dalam setahun ini perempuan 64 tahun putri mantan Presiden Diosdado Macapagal itu sudah tiga kali menjalani operasi atas gangguan pada tulang belakang.
Begitu Arroyo ditangkap, tim pengacaranya memang langsung meminta Arroyo tetap ditahan di rumah sakit. Benigno yang sedang berada di Bali untuk menghadiri KTT ASEAN mengaku sama sekali tak keberatan dengan permintaan itu.
“Kami sama sekali tak akan menghalangi permintaan itu,” ujar Benigno melalui sang Juru Bicara Ricky Carandang. Carandang menambahkan, gara-gara kasus ini, sang bos tak sempat ikut gala dinner yang dihelat Jumat malam lalu (18/11). Sebab, dia harus terus berhubungan dengan anak buahnya di Manila.

Sementara itu, Ferdinand Topacio, pengacara Arroyo, mengatakan, pihaknya juga akan meminta Mahkamah Agung menyatakan pengumpulan barang bukti yang dilakukan aparat negara untuk menjerat Arroyo ilegal. Begitu MA Filipina menyatakan itu ilegal, otomatis surat penangkapan Arroyo tak punya dasar hukum lagi.

“Dia memang diperlakukan dengan baik dan bermartabat (saat ditangkap. Tapi, kami berharap pemerintah juga menghargai hak beliau di bawah konstitusi,” kata Topacio.
Tim penasihat hukum juga meminta polisi tak menyebarkan foto sidik jari dan pas foto Arroyo yang diambil untuk kepentingan file menjelang persidangan dimulai. Pengambilan foto itu dilakukan sembari Arroyo tetap memakai penyangga leher dan duduk di kursi roda.

“Mari memperlakukan mantan presiden kita dengan bermartabat. Janganlah mempermalukan dia mengingat kondisinya sekarang,” ujar Topacio.
Arroyo menjadi presiden Filipina kedua yang harus menjalani proses pertama. Yang pertama adalah pendahulu Arroyo, Joseph Estrada. Estrada dipidana karena kasus korupsi, tapi kemudian diampuni Arroyo “yang menggantikan posisinya sebagai presiden “40 hari kemudian.

Penangkapan Arroyo juga memampangkan perseteruan lembaga kepresidenan dengan MA dan pihak imigrasi. MA sudah mencabut pencekalan Arroyo, tapi pemerintahan Benigno bergerak cepat sehingga akhirnya keluar surat penangkapan tadi. (c2/ttg/jpnn)

Buku SD Tidak Komplit, Salah Menulis Sila ke-4 Pancasila

Puskurbuk Akui Belum Keluarkan Rekomendasi

PENDIDIKAN dasar di Gunung Kidul dan Bantul, DI Yogyakarta geger. Pasalnya, buku Pancasila khusus SD dengan judul Pancasila Dasar Negaraku, Bhineka Tunggal Ika Semangatku menulis tidak komplit sila ke-4 pancasila.
Celakanya, buku yang sudah terlanjur dibagikan ke siswa ini ternyata belum mendapatkan rekomendasi dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Buku ini diedarkan di SD guna menjadi suplemen pendidikan karakter yang sedang didengungkan pemerintah. Sayangnya, pada sejumlah halaman ada penulisan sila ke-4 yang tidak komplit. Tepatnya ada di halaman 9, 10, 24, dan 25. Beberapa kalangan mendesak supaya buku yang salah menulis sebagian sila Pancasila ini harus ditarik.

Seperti diketahui, sila ke-4 Pancasila berbunyi; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Tetapi, dalam buku tadi sila ke-4 Pancasila tertulis; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan perwakilan. Jika diteliti, dalam buku Pancasila untuk tingkat SD tadi kurang mencantumkan kata kebijaksanaan.

Kepala Puskurbuk Diah Harianti di Jakarta kemarin (19/11) mengatakan menyayangkan ada kesalahan dalam penyusunan buku ini. Apalagi buku ini disebarkan di pendidikan tingkat SD, dimana para siswa membutuhkan informasi yang benar dan akurat. Disengaja atau tidak, seharusnya buku pelajaran utama atau yang bersifat suplemen wajib dicek materinya dengan sangat teliti.

Paling membuat geregetan adalah, Diah mengatakan peredaran buku ini belum mendapatkan rekomendasi dari Puskurbuk. “Padahal seluruh buku pelajaran yang dikonsumsi siswa wajib kami periksa dulu,” katanya.
Dia menegaskan, seharusnya sebelum disebarkan ke siswa buku-buku ini terlebih dahulu didaftarkan ke Puskurbuk. Diah menuturkan, pihak yang bertanggungjawab dalam peredaran ini adalah sekolah selaku pihak yang membuka pengadaan buku suplemen pendidikan karakter.

Diah menegaskan, Puskurbuk cukup objektif dalam memeriksa buku-buku yang masuk. Jika memiliki banyak kesalahan, baik sengaja maupun tidak, Puskurbuk tidak akan mengeluarkan rekomendasi izin edar buku tadi. “Kalau memang banyak yang salah tidak akan lolos,” tandasnya. Upaya objektif Puskurbuk ini merupakan bentuk upaya pencegahan dari sumber-sumber informasi yang keliru.

Di bagian lain, Plt Dirjen Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Suyanto mengatakan keselahan mencantumkan sila ke-4 Pancasila tadi murni kesalahan ketik saja. “Supaya polemik berkepanjangan, sebaiknya segera ditarik dan direvisi,” jelas mantan rektor Universitas Negeri Yogyakarta itu. Dia berpendapat, sejatinya semangat pihak sekolah untuk menyediakan buku penunjang pendidikan karakter cukup bagus.
Sebelumnya, terbongkarnya ada buku yang salah menulis sila Pancasila ini dikemukakan oleh anggota Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian. Dia mengatakan, menulis sila Pancasila yang tidak komplit ini adalah kesalahan fatal. Politisi dari Partai Golkar itu mengatakan, pendidikan Pancasila bisa menyimpang jika kesalahan-kesalahan yang dianggap sepele padahal krusial masih saja terjadi.

Dia mengatakan, Kemendikbud tetap wajib mengevaluasi peran Puskurbuk sebagai lembaga sensor buku-buku yang masuk ke sekolah. Meskipun buku-buku ini dibuat pihak sekolah sendiri, Puskurbuk harus mendapatkan laporan atau salinan untuk diteliti terlebih dahulu. “Kami berharap buku yang salah ini harus ditarik dari peredarannya,” tandas Hetifah. (wan/jpnn)

Jepang Investasi USD 1 M untuk Solar Energy

Menteri ESDM Garap Energi Panas Bumi

NUSA DUA – Pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) sebagai sumber energi terus digarap. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan sudah menyiapkan 28 titik lokasi sumber energi panas bumi sebagai bagian solusi kebutuhan pasokan energi. Menteri ESDM Jero Wacik mengungkapkan, 28 titik tersebut berada di hutan lindung. “Sebanyak 28 titik geothermal itu yang akan diberi izin untuk eksplorasi dan eksploitasi oleh kementerian kehutanan,” kata Jero Wacik dalam keterangan hasil KTT ASEAN terkait energi di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), kemarin (19/11).

Jero mengaku sudah melakukan komunikasi dengan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan terkait izin eksplorasi tersebut. Rencananya, Selasa (22/11) mendatang, kedua menteri tersebut akan meneken kesepakatan izin eksplorasi itu.
Selama ini, lanjut dia, pemanfaatan energi panas bumi semacam itu mengalami hambatan karena lokasinya yang berada di hutan lindung. “Ini yang menjadi bottlenecking untuk menggarap potensi itu,” kata Jero.
Nah, dengan kesepakatan dengan Menhut tersebut, nantinya akan diatur mengenai area yang akan digarap (ditebang) dan penanaman pohon di area sekitarnya sebagai pengganti. Namun Jero enggan menyebutkan 28 titik yang bakal segara digarap. “Nanti Selasa saya jelaskan detilnya,” elaknya.

Mantan menteri pariwisata itu mengaku, sudah banyak investor yang berminat untuk menanamkan modalnya untuk menggarap potensi energi panas bumi itu. “Karena dulu ada bottlenecking itu (masalah izin, Red) jadi masih tertahan. Tapi banyak yang minat,” katanya. Jero juga enggan menyebutkan investor yang berminat itu.

Selain energi panas bumi, Jero juga mengungkapkan tentang penggarapan energi matahari sebagai salah satu sumber pasokan energi. Di sela perhelatan KTT ASEAN dan ASEAN plus 3, dia mengaku telah bertemu dengan CEO Sharp Corp., sebuah perusahaan asal Jepang. Investasi Sharp dalam pemanfaatan energi panas bumi rencananya akan dipercepat. “Teknologinya Jepang sudah ada, kita ada lahannya,” kata menteri kelahiran Singaraja, Bali, itu. Jero menyebut, nilai investasi tersebut berkisar USD 1 miliar. Menurutnya, Sharp sudah memiliki contoh penggarapan energi matahari di Thailand. (fal/noe/iro)

Berbuat Baik juga Butuh Kesepakatan

Ramadhan Batubara

Lalu, produsen pakaian Benetton bikin heboh. Bagaimana tidak, demi kampanye ‘memerangi kebencian dalam segala bentuk’ yang mereka galakkan, perusahaan asal Italia ini malah berbuat nekat. Mereka produksi iklan bergambar tokoh dunia saling berciuman.

Masalahnya, seandainya permisi ke pihak tokoh itu, Benetton mungkin saja tidak dipermasalahkan. Ups, tunggu dulu, saya rasa masalahnya tidak hanya di situ saja. Baiklah, untuk melihat permasalahannya, coba perhatikan gambar yang direkayasa Benetton berikut ini. Pertama, gambar pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Benediktus XVI, sedang berciuman dengan Ahmed Mohammed El-Tayed, imam masjid Al-Azhar. Lalu, Presiden AS Barack Obama berciuman dengan Presiden Venezuela Hugo Chavez, Kanselir Jerman Angela Merkel berciuman dengan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Presiden Palestina Mahmoud Abbas dengan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu, Presiden China Hu Jintao dengan Barack Obama, serta Presiden Korea Utara Kim Jong-Il dengan Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak. Fiuh.
Mari berandai-andai, mungkinkah Benetton diperbolehkan jika minta izin pada tokoh-tokoh itu?

Terlepas dari itu, sejatinya — seperti dilansir beberapa media — yang ditekankan Benetton dalam iklan ini sebenarnya adalah rasa cinta, yang disimbolkan dengan ciuman yang sudah tersohor sebagai simbol cinta paling universal di dunia. Mereka menggabungkan gambar dua pemimpin dunia yang berseteru kemudian menyuntingnya sehingga terlihat seolah sedang berciuman. Ini dinilai sebagai bentuk perlawanan terhadap rasa benci dan menciptakan kultur toleransi.
Tapi begitulah, apapun alasannya Benetton tetap saja dianggap bersalah. Berbicara soal perdamaian dengan memerangi kebencian adalah luhur, namun memakai tokoh-tokoh yang ‘berkonflik’ sebagai model dianggap keterlaluan. Ya, dengan kata lain, untuk berbuat baik pun kita tidak bisa sembarangan.

Saya jadi teringat dengan usaha ‘perdamaian’ yang diusung oleh tetangga. Dia melakukan kampanye dengan memberikan makanan kepada kami (saya dan istrinya). Nyaris setiap dua hari sekali dia datang, berteriak memanggil istri saya, sambil menyodorkan makanan dalam sebuah piring. Awalnya tidak masalah karena hal semacam itu kan biasa dalam kehidupan bertetangga. Seperti biasa, di manapun bertetangga, kami pun menyimpan piring itu dan di kemudian hari mengembalikannya beserta makanan yang kami siapkan.

Beberapa hari kemudian, tetangga itu pun berteriak lagi. Sepiring daun ubi tumbuk masuk ke rumah kami. Tak lama kemudian, kami berikanlah gulai ikan kepada dia. Eh, sehari kemudian dia memberikan kare kambing. Fiuh. Istri saya pun terpaksa membeli sambal balado hati di warung padang. Dengan piring tetangga yang sebelumnya berisi kare kambing (setelah dicuci tentunya) sambal balado hati pun kami berikan. Tapi, setelah itu, tetatangga kami malah bertambah sering memberikan makanan. Kami menyerah, tidak mungkin kan terus-menerus seperti itu? Tak pelak, sedikitnya ada tiga piring miliknya yang kami simpan. Ujung-ujungnya, istri saya bingung. “Apalagi yang harus kita kasih ke sebelah?” curhatnya.
“Rasanya perkenalan kita dengan tetangga itu kan sudah cukup…,” tambahnya.
Saya tertawa saja.

Terus terang, saya sadar, kalau tetangga kami itu hanya ingin berteman. Mungkin salah satu cara yang dipilihnya adalah dengan saling berbagi. Tentu sama sekali tidak terpikir bagi saya kalau dia ingin membuat kami repot. Pun, sejatinya saya menduga kalau dia tidak mengharapkan pemberian kami. Jadi, pemberiannya adalah tulus. Masalahnya,  kami terbiasa dengan kalimat orang-orang tua yang mengatakan: jika tetangga memberikan sesuatu dengan piring, jangan kembalikan piring itu dalam keadaan kosong.

Kejadian yang menimpa kami ini kan mirip dengan Benetton. Ya, atas nama cinta damai, mereka menggunakan tokoh yang ‘berkonflik’ sebagai ikon. Tentu kampanye ini akan sangat cepat mencuri perhatian. Sosok paus dan imam adalah wakil dari masing-masing kepercayaan yang dalam sudut pandang Benetton sebagai tokoh yang berseberangan.

Tak pelak, hal ini langsung menuai kecaman. “Peristiwa ini benar-benar menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap Paus, penghinaan terhadap perasaan umat beragama, dan contoh yang jelas tentang bagaimana iklan bisa melanggar aturan dasar untuk menghormati orang melalui cara yang provokatif,” kecam juru bicara Thata Suci Frederico Lombardi.

Mungkin, sebagai sosok dari kepercayaan yang dianggap ‘berseberangan’ masih bisa dimaklumi, tapi bagaimana dengan ciuman antarlelaki? Apakah Benetton memikirkan itu? Entahlah.
Benetton dan tetangga saya tampaknya terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Benetton sibuk mengkampanyekan damai tanpa melihat sisi lain dari tokoh yang dijadikannya ikon. Pun, tetangga saya yang sibuk berusaha mengakrabkan diri tanpa peduli pusingnya kami memikirkan apa lagi yang bisa kami berikan padanya.

Tapi, apapun itu, sekali lagi saya katakan untuk berbuat baik itu ternyata tidak gampang. Contohnya seorang dosen saya saat masih kuliah dulu. Dia bercerita pernah dimaki seorang perempuan di Amerika Serikat sana. Ceritanya, saat itu dia naik semacam bus kota, dia duduk dekat jendela. Selang beberapa menit naiklah seorang perempuan. Dasar orang yang kenal tata krama ala Timur, dosen tadi langsung berdiri dan mempersilahkan si perempuan duduk. “Kamu pikir saya tidak mampu berdiri! Kamu pikir saya sudah tua! Kamu pikir saya perempuan manja!” begitulah kata perempuan itu (tentunya dalam bahasa Inggris). Tak pelak, dengan muka malu, dosen tadi pun duduk kembali.
Begitulah, berbuat baik memang harus diartikan baik oleh si penerima perbuatan itu bukan? Jika tidak, ya, berarti kejahatan. Bukankah begitu? (*)