30 C
Medan
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 14389

Intimidasi Sudah Menjadi Santapan Rutin

Ketua Baru KPK Abrahan Samad di Mata Keluarga

Empat tahun ke depan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan dipimpin orang muda dan berasal dari daerah. Hal itu terjadi setelah Abraham Samad, 45, terpilih sebagai ketua lembaga superbodi tersebut kemarin. Siapa dia dan bagaimana keluarganya?

YUSRIADI, Makassar

RUMAH keluarga Abraham di Jalan Mapala E29 Nomor 30 Makassar tidak berbeda dengan rumah lain di sekitarnya. Tidak begitu besar, tapi juga tidak kecil. Halaman yang cukup luas ditanami dua pohon mangga dan beberapa jenis bunga. Di teras rumah, dekat pintu, terdapat dua kursi kayu dan meja kecil. Di garasi tampak dua mobil. Di rumah yang cukup nyaman tersebut Abraham tinggal bersama istri Indriani Kartika serta dua buah hatinya, Nasya Thahira, 12, dan Syed Yasin Rantisi, 6. Selain mereka, tinggal di rumah itu tiga orang yang biasa membantu urusan rumah tangga.

Ketiganya berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi di Makassar. “Mereka saya panggil untuk bantubantu di rumah. Tapi, mereka tetap kuliah,” kata Indri. Di rumah Indri mengisi waktu dengan membuka usaha menjahit. Melalui usaha yang diberi nama Kartika, Indri sering mendapat pesanan menjahit mukena, serbet, dan pernik-pernik lainnya. Semua bahan yang digunakan bukan kain asli, tapi dari percak kain. Abraham sendiri bukan orang baru di dunia pemberantasan korupsi. Meski banyak berkiprah di daerah, antikorupsi dia teriakkan sejak lama. Di Makassar dia memimpinlembagaswadayamasyarakat (LSM) anti korupsi yang diberi nama Anti Corruption Committee (ACC).

Setelah Abraham terpilih sebagai ketua KPK, Indriani merasa bersyukur. Sebab, dengan posisinya sekarang, perjuangan memberantas korupsi akan semakin mudah dilakukan Abraham. “Pastinya bersyukur karena ini sesuai dengan apa yang diinginkan Bapak yang sejak sepuluh tahun lebih memang bergelut di bidang pemberantasan korupsi,” katanya. Soal konsekuansi yang akan dihadapi, Indri tidak ambil pusing. Sebab, selama ini sudah banyak pelajaran yang didapat ketika suaminya menggeluti dunia advokat dan aktivis.

Sepuluh tahun lalu Abraham mendirikan Association Corruption Community. Sejak itu, teror dan intimidasi sudah menjadi santapan rutin. Namun, bagi Indri, semua itu adalah sebuah konsekuensi yang harus dilalui suaminya beserta seluruh keluarga. “Biasa, rumah dilempar. Sering juga dapat telepon ancaman dan yang paling sering dapat surat kaleng,” sebut Indri. Abraham di mata Indri merupakan orang yang sangat tegas. Namun, di balik sikap yang tegas itu Abraham sangat perhatian kepada keluarga.

Hal itu terbukti sejak pencalonannya menjadi ketua KPK, Abraham bolak-balik Jakarta- Makassar demi keluarga di rumah. Kali terakhir dia pulang seminggu lalu dan kembali ke Jakarta pada Minggu, 27 November. Saat itu pria yang lahir pada 27 November 1966 itu berjanji akan pulang ke Makassar pada Senin, 28 November. Tapi, karena proses seleksi calon pimpinan KPK sempat tertunda, Abraham belum bisa pulang ke Makassar hingga hari ini. Meski demikian, Abraham tidak pernah lupa mengabari Indri tentang perkembangan pencalonannya. “Saya selalu dihubungi Bapak. Tadi waktu seleksi pertama selesai dilaksanakan, Bapak bilang bahwa dia terpilih jadi pimpinan. Saya ucapkan selamat dan ternyata pemilihan dilanjutkan sampai akhirnya Bapak terpilih jadi ketua. Bapak juga langsung telepon. Tetapi, kami bicara hanya sebentar. Saat itu saya cuma mangingatkan bahwa yang Bapak akan jalani ini sangat besar. Katanya, makasih atas dukungannya,” jelas Indri.

Indri berharap agar suaminya bisa mengemban tangung jawab dan amanah yang kini dibebankan kepadanya. Yang terpenting, kata Indri, Abraham harus berkomitmen untuk tetap berada di jalur yang benar. (jpnn/ c4/nw)

Warga Trauma dan Jatuh Sakit

Pasca Eksekusi Lahan di Jalan Jati, Pulo Brayan Bengkel

MEDAN-Pasca eksekusi lahan di Jalan Jati, Pulo Brayan Bengkel, Medan Timur, yang dilakukan juru sita Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jumat (2/12) lalu, mengakibatkan seorang warga mengalami trauma dan jatuh sakit. Dia adalah Arbian Hasibuan (66), yang sempat melakukan perlawanan dengan bertahan di dalam rumah bersama keluarganya. Menurut Awi (40), anak Arbian Hasibuan, saat dijumpai Sumut Pos di lokasi eksekusi, Sabtu (3/12), akibat rumah yang ditempati ibunya selama 30 tahun itu dihancurkan tim juru sita PN Medan, penyakit Arbian kambuh.

Bahkan, nenek renta ini tak mau makan dan tak henti-hentinya menanggis, terbayang rumahnya yang dirobohkan dengan Blodozer. “Penyakit ibu kambuh lagi. Dia tidak mau makan setelah rumah kami dihancurkan. Sekarang ibu tinggal sama adikku di Jalan Jati, Gang Keluarga,” kata Awi. Awi menjelaskan, sebelum rumah mereka dihancurkan, mereka sudah membuat perjanjian dengan juru sita PN Medan dan penggugat yang menang di atas kertas disertai materai agar eksekusi terhadap rumah mereka ditunda hingga Senin (5/12) mendatang.

“Kami sudah minta untuk membongkar sendiri pada Senin depan kepada orang itu (PN Medan dan Penggugat yang menang, Red), karena ibu saya punya tanah di kawasan Tajung Mulai. Kalau kami bongkar sendiri, kami tinggal beli batu bata dan semen, sedangkan kayu-kayu, kusen, jendela dan pintu bisa diambil dari bangunan rumah kami ini. Bahkan, kami pun sudah membayar orang untuk membongkar rumah kami dengan upah Rp1 juta lebih,” ungkap Awi. Sementara itu, warga lainnya juga mengaku kecewan dengan juru sita PN Medan yang melakukan eksekusi, kemarin sore.

Pasalnya, sejumlah warga sudah melakukan perjanjian untuk membongkar sendiri bagunan rumahnya dalam tempo 5 hari, namun pihak juru sita PN Medan melanggar perjanjian tersebut. Selain kehilangan tempat, warga juga mengalami kerugian materi, seperti yang Darsono Hadi (34), pengusaha alat kantor dan pergudangan. Tempat menyimpan barang usahanya hancur, rata dengan tanah. “Kerugian yang ku alami hingga miliaran rupiah. Pasal, beberapa hari sebelum eksekusi, aku baru memasukkan barang alatalat perkantoran ke gudang satu container,” ungkapnya.

Pendeta Bunsui Tigor melalui kuasa hukumnya Hotma Situmpol melalui ponselnya mengungkapkan, mereka juga telah mengajukan permohonan penangguhan eksekusi sebanyak empat kali ke PN Medan. Pasalnya, mereka masih mengajukan perlawanan hukum. “Kita sudah melayangkan surat ke PN Medan untuk ditangguh eksekusi sebelum diputuskan gugat kami. Seandainya kami menang, siapa yang mengganti rugi bangunan kami,” ujarnya.(gus)

Terlibat Sindikat Jambret, Empat Pelajar Ditangkap

TEBING TINGGI- Empat pelajar diamankan Sat Reskrim Polres Tebing Tinggi, karena diduga melakukan penjambretan dan pencurian. Kawanan penjambret ini berhasil ditangkap setelah petugas melakukan pengembangan dengan tertangkapnya Alfonso (16), warga Jalan Gatot SubrotoKm2, Kecamatan Padang Hulu, Tebing Tinggi karena mencuri tabung gas ukuran 3 kg di rumah warga di Bandar Sono, Kelurahan Mandailing, Kota Tebing Tinggi dengan pura-pura menjadi pemulung, Jumat (2/12) sore pukul 16.30 WIB.

Sementara tiga rekan Alfonso ditangkap petugas pada Sabtu (3/12) pagi pukul 09.00 WIB di rumahnya masingmasing. Ketiganya yakni Feriandi (15), Mose (13) dan Dian (20), yang bertempat tinggal di kampung yang sama. Dari hasil pemeriksaan sementara, empat tersangka telah mengaku melakukan tindakan kriminal sebanyak 11 kali dalam hal kasus penjambretan dan kasus pencurian. Dari keterangan Alfonso saat diperiksa di Mapolres Tebing Tinggi, dirinya bersama ketiga rekannya sering melakukan penjambretan dan pencurian. Hasil melakukan aksinya, mereka gunakan untuk berpoyapoya.

“Uangnya kami gunakan untuk membeli minumankeras, mainwarnet, game online dan membeli baju jika ada lebihnya,” ujar Alfonso. Kasat Reskrim Polres Tebing Tinggi AKP Lili Astono mengatakan, dari keterangan para tersangka, diketahui banyak kejahatan yang mereka lakukan sepanjang 2011.

“Ada sebelas laporan warga , di antaranya dua laporan pencurian tabung gas, tiga laporan pencurian HP dan satu laporan pembongkaran rumah yang pernah mereka lakukan di berbagai tempat berbeda,” kata AKP Lili Astono.(mag-3)

Terbakar, Satu Rumah Ludes

TEBING TINGGI- Sebuah rumah semi permanen milik Septian alias Acai (37), warga Jalan Bangau, Lingkungan III, Kelurahan Bulian, Tebing Tinggi, ludes terbakar, Jumat (2/12) malam pukul 22.00 WIB. Kebakaran ini tidak menimbulkan korban jiwa, namun kerugian ditaksir berjumlah ratusan juta rupiah. Sementara penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Saat itu, Erwin, anak korban sedang dudukduduk menonton televisi di ruang keluarga. Tiba-tiba, dia dikejutkan dengan asap tebal yang keluar dari dalam kamar kakaknya. Erwin meminta tolong kepada warga sekitar untuk memberikan pertolongan, namun pertolongan warga sia-sia, karena api dengan cepat merambat dan membakar bangunan yang terbuat dari kayu itu. “Apinya cepat membakar rumah kami, tak satupun harta kami yang bisa diselamatkan, semuanya ludes terbakar,” kata Erwin yang terlihat shock akibat rumahnya ludes terbakar.

Acai pemilik rumah mengaku, saat kejadian dirinya bersama istrinya sedang berada di rumah kepala lingkungan setempat. Dia mendapat kabar dari warga, kalau rumah miliknya sudah ludes terbakar. “Enggak tahu, anak di rumah tadi, kami ada urusan suratsurat di rumah kepling. Saya tahu dari warga, rupanya rumah saya beserta isinya sudah habis semua,” ujar Acai sedih. Setelah kobaran api habis melalap bangunan beserta isinya, baru mobil pemadam kebakaran milik Pemko Tebing Tinggi tiba di lokasi.

Warga sempat meneriaki mobil pemadam tersebut. Pasalnya selang air mengalami kebocoran dan tidak layak pakai, sehingga air yang keluar tidak bisa menembak jauh, apalagi tempat kejadian kebakaran tidak bisa terjangkau oleh Mobil Damkar karena kerumunan warga yang ingin melihat secara langsung.(mag-3)

3 Waria dan 14 Wanita Terjaring Razia

MEDAN- Untuk memberantas lokasi mesum dan mencegah penyebaran HIV/AIDS, Muspika Percut Sei Tuan menggelar razia di sejumlah kafe remang-remang, Jumat (2/12) malam, mulai pukul 23.00 WIB. Hasilnya, tiga waria dan 14 wanita terjaring dalam razia tersebut. Razia dimulai dari Kantor Kepala Desa Medan Estate, Percut Sei Tuan.

Tim gabungan Muspika Percut Sei Tuan yang berjumlah seratusan orang, terdiri dari personel polisi Polsek Percut Sei Tuan dan sejumlah anggota Danramil 013, bergerak menuju lokasi untuk dilakukan penyisiran di kafe-kafe yang berada di lahan garapan, kawasan Jalan Metreologi.

Petugas menduga, razia tersebut telah bocor. Pasalnya, banyak kafe remang-remang di lahan garapan tersebut yang sudah sepi dan dalam keadaan tutup. Namun begitu, saat melakukan razia di Kafe Pondok Kelapa, petugas sempat bersitegang dengan seorang pengunjung kafe yang sedang mabuk berat.

Dari razia yang digelar dipakter tuak NagaCantik di Jalan Metreologi, petugas mengamankan tiga wanita. Di Cafe Nainggolan yang berlokasi di Jalan Metrologi, petugas mengamankan 9 wanita yang diduga sebagai pelayan yang juga menyajikan layanan pria hidung belang.

Kesembilannya diboyong ke Kantor Camat Percut Sei Tuan. Petugas juga mengamankan waria pada umumnya berprofesi sebagai pelayan kafe dan tukang masak, petugas juga mengamankan pengunjung wanita.(gus)

Rehab Kantor Bupati, Seorang Pekerja Tewas

LUBUK PAKAM- Edi Santoni Simangunsong (41), pekerja bangunan warga Gang Keluarga, Desa Buntu Bedimbar, Kecamatan Tanjung Morawa, tewas tersengat listrik saat merehab Aula Kantor Bupati Deliserdang, Sabtu (3/12).

Korban meninggal setelah dilarikan ke RSUD Lubuk Pakam. Awalnya, korban melakukan pengeboran di lantai dua bangunan tersebut. Rencananya, korban hendak memasang kuda-kuda bangunan itu. Diduga, korban tersengat arus listrik dari kabel bornya yang terkelupas.

Sementara itu, kondisi di lantai dua bangunan itu basah karena malam sebelumnya diguyur hujan. Didua kabel yang terkelupas menyentuh lantai yang basah sehingga menyetrum korban. Rekan-rekan korban yang merngetahui peristiwa itu, langsung melarikanya ke RSUD Lubuk Pakam. Meski tim medis di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit milik Pemkab Deli Serdang itu telah berupaya memberikan pertolongan, nyawa korban tidak dapat diselamatkan. Rehab bangunan aula tersebut berbiaya Rp2,8 miliar dikerjakan PT Sidomukti Lestari.(btr)

Satgas Siapkan Independent Assessment

Akhir Bulan, Masa Tugas Rampung

JAKARTA-Masa kerja Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum akan selesai akhir bulan ini. Hingga kini, belum juga ada sinyal apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan memperpanjang atau tidak masa kerja satgas pimpinan Kuntoro Mangkusubroto itu.

Anggota Satgas Mas Achmad Santosa mengatakan, pihaknya menyerahkan keputusan kepada presiden terkait kelanjutan satgas. “Bergantung kepada presiden. Kami semua siap jika memang akan dilanjutkan,” kata Mas Achmad, kemarin (3/12). Saat ini, kata dia, satgas tengah dalam masa-masa sibuk untuk menyiapkan laporan kepada presiden. Satgas juga merampungkan pengaduan dari masyarakat yang masih banyak. “Kasus-kasus yang disorot publik, kami coba tindaklanjuti,” kata Ota, sapaan akrabnya.

Tidak hanya itu, mereka juga melakukan perbaikan sistem untuk memberikan kontribusi evaluasi capaian Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi. Itu masih ditambah menyiapkan program aksi 2012.

Nah, di tengah menyusun laporan itu, kata Ota, satgas memfasilitasi dilakukannya independent assessment (penilaian independen) oleh tiga orang guru besar. Ketiganya akan memberikan saran mengenai bagaimana ke depan pemberantasan mafia hukum dilakukan. “Apa with or without satgas. (Saran) akan melengkapi laporan satgas kepada presiden,” tutur pria yang pernah menjabat pelaksana tugas wakil ketua KPK itu. Tujuan independent assessment itu, lanjut Ota, untuk memberikan penilaian yang lebih komprehensif.

Tidak hanya berasal dari internal satgas. Seperti diketahui, 30 Desember 2009, Presiden SBY menandatangani Keputusan Presiden Nomor 37 tahun 2009 tentang Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. Satgas dibentuk berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada presiden melalui Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKPPPP). Selain Kuntoro yang duduk sebagai ketua, satgas beranggotakan Denny Indrayana, Mas Achmad Santosa, Yunus Husein, Darmono, dan Herman Effendi. Saat ini, Denny sudah memiliki tugas baru sebagai wakil menteri hukum dan HAM. (fal/agm/jpnn)

PBNU Pelopori Jihad Anti Radikalisasi

JAKARTA-Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Indonesia mempelopori gerakan anti radikalisasi. Gerakan yang akan dilakukan di seluruh tanah air itu, diawali dengan pembukaan work shop bertajuk deradikalisasi agama berbasis Kyai/Nyai dan pesantren di Hotel Park, Sabtu (3/12).

“Nabi Muhammad SAW dulu juga bicara soal keamanan, baru iman. Karena situasi saat itu tidak memungkinkan. Dia tidak langsung berbicara hancurkan berhala dan lain sebagainya. Karena akan membahayakan dirinya. Jadi yang diajarkan kepada kita itu cinta damai,” ujar Ketua Umum PBNU, KH Said Agil Siradj.

Ia juga minta umat untuk tidak terlalu dini menilai seseorang. Misalkan menyebut seseorang kafir tanpa dasar jelas. “Di Indonesia, kondisi ini sudah hampir berada di titik puncak. Tinggal selangkah lagi gerakan radikalisasi di Indonesia ini menuju teroris, kalau tidak kita cegah dari sekarang,” katanya.

Hal senada disampaikan Ketua Mulimat NU, Khofifah Indar Parawansa. Kata dia, isu radikalisasi bukan hanya di Indonesia. Tapi seluruh dunia. Yang lebih parah, radikalisasi lebih identik dengan Islam. Padahal, itu hanya kelakuan individu dan kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama. “Makanya kami ajak supaya kita bersama bisa kampanyekan gerakan deradikalisasi ini. Kita berjihad untuk anti radikalisasi. Karena radikalisasi itu sesungguhnya tidak sesuai dengan culture bangsa kita,” ajaknya.

“Mengapa gerakan deradikalisasi ini penting, karena ini dorongan yang menjadi kebutuhan kita bersama. Kita malu dengan negara luar kalau dicap sebagai bangsa yang radikal,” tambah BNPT, Ansyaad Mbay.(yes/jpnn)

Pulang, Para Diplomat Iran Disambut bak Pahlawan

MENYUSUL pengusiran yang dilakukan pemerintahan PM David Cameron pada Kamis lalu (1/12), seluruh staf dan diplomat Iran langsung meninggalkan London. Kemarin (3/12) seluruh diplomat Negeri Para Mullah yang terpaksa angkat kaki dari Inggris itu tiba di Bandara Internasional Mehrabad, Teheran.

Sekitar 100 pemuda dan pemudi —sebagian di antaranya anggota Milisi Basij— sengaja menyambut kedatangan para diplomat Iran itu di bandara. Mereka pun dielu-elukan bak pahlawan. Sambil meneriakkan yel-yel perlawanan serta mengusung spanduk anti-Inggris, para pemudapemudi itu mengalungkan bunga di leher para diplomat yang baru turun dari pesawat. “Hancurlah Inggris,” teriak mereka. Namun, tidak ingin konflik Iran dan Inggris meluas, pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad berusaha meredam euforia warga. Terutama aktivis Islam radikal dan pendukung Milisi Basij. Karena itu, begitu tiba di bandara kemarin, para diplomat itu sengaja dilewatkan jalur khusus. Mereka pun keluar dari pintu belakang pesawat IranAir yang mengangkut mereka dan langsung menuju ke selasar.

Pemerintah Iran memang berupaya keras untuk meredam konflik dengan Inggris agar tidak sampai meluas ke negara-negara Barat lainnya. Kendati demikian, para penyambut tetap berhasil mengendus keberadaan sekitar 20 diplomat Iran tersebut. Apalagi, Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast ikut menyambut para diplomat itu di bandara. “Kami harap negara-negara sekutu Inggris dalam organisasi Uni Eropa (UE) tak memperkeruh suasana dan memperburuk hubungan diplomatik Iran dengan mereka,” ungkapnya. Dalam jumpa pers di bandara setelah menemui para diplomat Iran tersebut, Mehmanparast menyayangkan sikap pemerintah Inggris pasca insiden di Kedubes negara itu di Teheran pada Selasa lalu (29/ 11).

“Pemerintah Inggris, tampaknya, ingin memperpanjang masalah yang terjadi antara kami dengan melibatkan seluruh negara Eropa. Tetapi, kami sudah mengimbau negara-negara Eropa agar tidak ikut campur dalam masalah ini,” serunya. Perbedaan sikap antara pemerintah dan kaum radikal dalam menyambut para diplomat yang diusir pemerintahan Cameron itu menunjukkan adanya gejolak politik di negeri Iran. Pekan lalu, setelah Inggris memutuskan seluruh kerja sama ekonomi dan finansial dengan Iran, kalangan garis keras mendesak supaya pemerintahan Ahmadinejad menurunkan level hubungan diplomatik dengan London. Tetapi, Teheran menolak untuk menindaklanjuti desakan tersebut.

Meski begitu, Ahmadinejad tidak bisa menolak perintah Guardian Council (Shora-ye Negahban-e Qanun-e Assassi atau lembaga supervisi dan interpretasi konstitusi) yang meminta agar Iran menurunkan level hubungan diplomatik dengan Inggris. Hingga kemarin Teheran bungkam terkait tudingan Inggris bahwa serangan Selasa lalu itu dilakukan atas restu pemerintah Iran. Para pakar politik Iran menilai sikap diam itu sebagai bukti bahwa Milisi Basij memang bertindak atas instruksi pemerintah. (afp/ap/rtr/hep/dwi/jpnn)

Selamat dari Teror, Dubes Inggris Bicara soal Aksi Penyerangan

AKSI penyerangan atas kompleks Kedubes Inggris di Teheran pada Selasa lalu (29/11) cukup dramatis. Duta Besar (Dubes) Inggris untuk Iran Dominick Chilcott pun berbagi kisah dan menceritakan pengalamannya terjebak di kompleks diplomatik saat Kedubes Inggris menjadi target serangan Milisi Basij. Menurut Chilcott, enam stafnya malah sempat disandera penyerang yang sebagian berstatus mahasiswa tersebut. “Mereka dibawa ke gedung lain dalam kompleks kedubes dan diperintahkan untuk duduk diam. Beberapa staf saya sempat diperlakukan kasar.

Beruntung, mereka lantas dibebaskan,” paparnya saat diwawancarai beberapa media Inggris Jumat lalu (2/12). Saat serangan yang disaksikan polisi antihuru hara Iran itu terjadi, Chilcott dan seluruh stafnya mengaku ketakutan. Mereka bersembunyi dan berusaha menyelamatkan diri. Sebagai pemimpin, Chilcott mendapatkan perlindungan dari sejumlah staf. Sementara staf-staf yang lain juga berusaha menghindari para penyerang dengan bersembunyi di dalam ruangan. “Saya naik ke lantai dua kantor kedubes saat mendengar demonstran masuk dan merusak gambar para pemimpin monarki Inggris.

Mereka juga mencoret-coret tembok di lantai satu,” ujarnya seperti dilansir Daily Mail kemarin (3/12). Dari tempat persembunyiannya, dia bisa mendengar para penyerang berteriak-teriak dan merusak properti milik kedubes. Dengan berbagai cara, para staf Chilcott pun berusaha menyelamatkan pimpinan mereka. Salah satunya adalah membentuk barikade di sekitar tempat persembunyian. Nahas, seorang staf yang bersembunyi di ruangan terpisah justru tertangkap.

Padahal, dia sudah mengganjal pintu dengan berbagai benda di dalam ruangan tersebut. “Selama 45 menit bersembunyi, staf saya mendengar langkah kaki para demonstran yang mendekati ruangan tempat persembunyian. Mereka lantas berusaha mendobrak pintu dan membuka paksa jendela karena tahu bahwa staf saya ada di sana,” ujarnya. Dalam ketakutan, imbuh Chilcott, staf kedutaan itu tertangkap dan kemudian disandera beberapa waktu. Sebaliknya, Chilcott yang bersembunyi di lantai dua, relatif lebih aman. “Saya bisa mendengar suara mereka, tetapi mereka tak bisa mencapai ruangan kami,” katanya. Tidak puas hanya merusak properti kedubes dan merobek bendera kebangsaan Inggris, Union Jack, massa pun lantas membakar ruang konsuler. Asap pun memenuhi lantai satu dan bahkan membubung hingga lantai tiga. Kepulan asap itulah yang lantas memaksa Chilcott dan stafnya yang bersembunyi di lantai dua keluar.

Mereka pun turun ke lantai satu. “Saat kami tiba di lantai satu, massa sudah bergeser ke kompleks diplomatik yang terletak di sebelah kantor kedubes,” tuturnya. Kendati demikian, rasa panik dan takut masih menyelimuti Chilcott dan seluruh staf yang selamat. (afp/dailymail/hep/dwi/jpnn)