Home Blog Page 14664

Legislatif-Eksekutif Langkat Harus Introspeksi

LANGKAT- Pihak eksekutif dan legislatif diminta saling introspeksi, bukannya saling menyalahkan seiring molornya waktu pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (P-APBD) Langkat 2011. Pasalnya, agenda itu memiliki kepentingan bagi rakyat.

“Wah, aneh itu jika legislatifnya maupun eksekutif mempersoalkan kemoloran waktu membahas P-APBD 2011. Semestinya, kedua pihak introspeksi mengapa harus sampai begitu terjadi karena tujuannya jelas ada interes rakyat dari hasil pembahasan,” kata mantan anggota DPRD Langkat, M Irian Nasution, Jumat (23/9).

Dia berpendapat, sebaiknya eksekutif atau legislatif memiliki formula atau rumusan jadwal pembahasan yang disesuaikan satu sama lain. Karena, keduanya berdiri untuk kepentingan rakyat bukannya mengedepankan kepentingan masing-masing. Jika legislatifnya disoroti inkonsisten disebabkan agenda internal baik bimbingan teknis (bintek) serta kunjungan kerja (kunker), eksekutif idealnya mempersiapkan materi melalui TAPD (tim anggaran pemerintah daerah) sebelum waktu pembahasan dimulai.

Politisi Golkar ini menilai, kedua instansi masing-masing memiliki kelemahan. Diantaranya, legislatif disarankan tidak terlalu royal atau berlebih terhadap agenda-agenda yang urgensinya mungkin tak menyentuh langsung kepada rakyat. Artinya, guna kepentingan momen pembahasan APBD maupun P-APBD sebaiknya mengenyampingkan kunker atau bintek yang kurang berpihak kepada rakyat. Begitupula halnya dengan eksekutif, tak jarang satuan kerja perangkat daerah (SKPD) mangkir waktu saat memberikan draft ke TAPD. Nah, belum lagi ketua tim TAPD yang diunjuk mungkin selalu disibukkan tugas lainnya.

Sebelumnya legislatif melalui anggota badan anggaran (Banggar), Ralin Sinulingga, menuding eksekutif tidak mendukung visi misi bupati membangun daerah karena tidak disiplin menyerahkan materi -baik prognosis sampai P-APBD-.

Kerasnya lagi, politisi PDI-P ini menilai, terkesan ada unsur kesengajaan melambatkan agar dana dikucurkan nantinya dipergunakan untuk belanja pegawai bukannya pelayanan publik.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan daerah (Bappeda) Langkat, Ansyarullah, balik menyerang bahwa anggota dewan terlalu konsisten waktu dalam pembahasan prognosis sebelum dilanjutkan ke P-APBD. Plus lagi, banyak diantara legislator dipercayakan sebagai badan anggaran absen saat pembahasan berjalan selain pengaturan waktu yang tidak jelas. (mag-4)

Penyakit Jantung Pembunuh Pertama di Dunia

MEDAN-Suasana semarak begitu terasa di Lantai 1 Cambridge City Square, Jumat (23/9). Pasalnya, di pusat perbelanjaan itu digelar Pameran Foto Hari Jantung Dunia ke XI. Penikmat foto seakan tak putus, saling berganti mengerumuni foto-foto yang dipamerkan dari 23-26 September tersebut.

Selain pameran yang memajang foto pemenang dan nominasi dari lomba Foto Hari Jantung Sedunia XI tersebut, tercatat berbagai agenda juga digelar. Misalnya, penyuluhan akan bahaya penyakit jantung dan stroke hingga simposium.

Sebelumnya, di tempat terpisah, Panitia Hari Jantung Sedunia XI 2011 Provinsi Sumut dr Apsari Diana Kusumastuti MARS kepada Sumut Pos mengatakan penyakit jantung hingga saat ini masih memegang rekor sebagai penyakit pembunuh tingkat pertama di dunia. Hal itu dibuktikan dengan fakta bahwa 17,5 juta penderita yang maninggal setiap tahunnya.

“Dalam World Economic Forumn 2010, 80 persen manusia meninggal disebabkan karena jantung. Ini juga terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia sendiri,” katanya, Jumat (16/9) lalu.

Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, menurut dr Apsari, menunjukkan bahwa 48,2 persen masyarakat Indonesia masih kurang dalam melakukan aktivitas sehari-hari, dan 93,6 persen masyarakat Indonesia juga kurang dalam mengonsumsi sayur dan buah yang dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskuler. “Kondisi ini semakin diperparah dengan besarnya jumlah perokok harian yang mencapai 23,7 persen,” terangnya.

Dengan kondisi saat ini, kesadaran masyarakat dunia akan penyakit jantung ini diminta agar sadar akan bahayanya penyakit jantung. “Pemko Medan dan instansi lainnya yang ada di Sumut dan diprakarsai oleh Federasi Jantung Dunia bekerja sama dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Unesco dalam hal ini tetap melakukan penyuluhan kepada masyarakat akan faktor risiko penyakit jantung dan stroke serta mempromosikan tindakan pencegahan yang terukur,” tegasnya.

Kegiatan tersebut yang dilakukan dalam Hari Jantung Sedunia XI 2011 tingkat Sumut dan juga menggelar simposium bagi profesional atau para ahli medis berupa New Update on Cardiologi Treatment bekerja sama dengan Departemen Kardiologi USU. Tidak hanya itu untuk mengurangi penderita penyakit jantung, pihaknya dalam waktu dekat ini kegiatan jalan santai juga dilakukan, pemeriksaan kolesterol dan ceramah kesehatan jantung. (jon)

Pemegang Kas Pemkab Langkat Jadi Tersangka

MEDAN- Tim Pidsus Kejatisu menetapkan Yantiti sebagai tersangka. Pemegang Kas Sekretaris Kabupaten Langkat ini diduga telah melakukan dugaan korupsi senilai Rp500 juta dengan melakukan kegiatan fiktif penyusunan neraca awal keuangan dan bimbingan teknis implementasi peraturan perundang-undangan Pemkab Langkat  tahun 2009.

“Yantiti kita tetapkan sebagai tersangka, karena penyidik menemukan adanya bukti yang kuat,” ujar Kasi Penyidikan Pidsus Kejatisu Jufri Nasution SH, kepada wartawan Jumat (23/9) di Jalan AH Nasution Medan.
Anggaran kegiatan neraca Pemkab Langkat ini, sambung Jufri, sebesar Rp500 juta. Namun pengerjaan proyek tersebut tidak dikerjakan tersangka sama sekali.

“Anggaran sebesar Rp500 juta ini dibagi dalam dua kegiatan. Yang pertama kegiatan penyusunan neraca awal keuangan di Pemkab Langkat sebesar Rp375 juta,” ujar Jufri Nasution.(rud)

Eh, Rupanya Polisi Gadungan

MEDAN-Memet (17) mahasiswa Fakultas MIPA USU sama sekali tak menyangka akan mengalami kesialan. Alih-alih menjadi pengendara sepeda motor yang baik, ia malah menjadi korban razia geng motor yang dilakukan oleh polisi gadungan. Hasilnya, handphone dan laptop pun raib.

Kesialan ini terungkap setelah Memet dan rekan sekampusnya, Nisa (17), membuat laporan di Polsek Medan Baru, Rabu (21/9) lalu. “Ya, kita sedang melakukan penyelidikan atas kasus ini, tapi yang jelas pelaku akan kita tangkap secepatnya,” jelas Kapolsek Medan Baru melalui Kanit Reskrim AKP Andik Eko kepada Sumut Pos.

Ceritanya, Memet pada Selasa (20/9) melakukan aktivitas seperti biasa. Dia mengendarai sepeda motornya melintasi Jalan Dr Mansur Medan sekira pukul 13.30 WIB. Tiba-tiba dia disuruh berhenti oleh oknum yang mengaku sebagai anggota polisi dengan berpakai preman. “ Dia berpakaian rapi memakai jeket warna putih dan mengaku anggota polisi yang sedang memberantas pelaku geng motor di kawasan Jalan Dr Mansur Medan,” jelas Memet.

Memet pun berhenti, dan dia yakin tidak akan bermasalah karena seluruh surat-suratnya lengkap. Lucunya, setelah dianggap lengkap, polisi gadungan itu malah menyuruh Memet untuk memfoto sepeda motor yang berada di depan kampus USU. Dan, Memet melakukannya. “Setelah aku mendapatkan foto-foto sepeda motor tersebut dia mengajakku untuk mencetak foto yang berada dalam handphoneku,” beber mahasiswa asal Tebing Tinggi itu.

Parahnya lagi, Memet malah mengikuti kemauan polisi gadungan itu untuk meminjam laptop agar bisa mencetak foto tadi. Laptop Nisa pun berhasil dipinjam Memet. “Kemudian kami duduk di warung tidak jauh dari kampus,” tambah Memet.

Nah, ketika di warung inilah Memet disuruh membeli minuman oleh pelaku. Memet pun menurut. Dan, ketika Memet kembali, pelaku sudah hilang beserta handphone dan laptop milik Memet dan Nisa.
Karena merasa ditipu oleh pelaku, Memet bersama Nisa langsung mendatangi Polsek Medan Baru untuk membuat laporan mengenai kejadian tersebut. “Karena aku merasa ditipu, makanya aku langsung ke polsek Medan Baru untuk buat laporan,” pungkasnya. (mag-7)

Prestasi Kendur, TPP Distop

JAKARTA- Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) merasakan, belum ada peningkatan kualitas mengajar oleh guru yang mengantongi sertifikat pendidik dan memperoleh tunjangan sertifikasi pendidik (TPP). Saat ini, sedang dirancang sistem evaluasi khusus bagi para guru penerima TPP. Jika prestasi mengajar mereka kendur, tunjangan TPP bakal ditangguhkan atau distop sementara.

Sistem evaluasi bagi para guru penerima TPP ini dinahkodai oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penjamin Mutu Pendidikan (BPSDM-PMP) Kemendiknas. Kepala BPSDM-PMP Kemendiknas Syawal Gultom menuturkan, sistem evaluasi ini ditargetkan mulai dijalankan tahun depan.

“Kami sudah gerah dengan selentingan sertifikasi guru hanya untuk pencairan TPP saja. Tanpa ada peningkatan kualitas pembayaran,” katanya di Jakarta kemarin (23/9).(wan/jpnn)

Buruh Ketangkap Miliki Sabu

LABUHAN- Gaga Prayuga (19) warga Jalan Komplek Sunggal Kecamatan Medan Sunggal ditangkap pihak kepolisian Polsek Medan Labuhan karena kedapatan memilik dua paket sabu-sabu. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik tersebut diamankan di Jalan Nibung Gang Mushala Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Labuhan. Akibatnya, buruh pabrik tersebut harus mendekam di sel tahanan Polsek Medan Labuhan.

Tersangka ditangkap, Jumat (23/9) sekitar Pukul 14.00 WIB, saat itu petugas yang sudah mengetahui Gaga menyimpan sabu-sabu di kantong celananya langsung melakukan penangkapan. Kanit Reskrim, Polsek Medan Labuhan, AKP Oktavianus membenarkan hal ini. “Tersangka kami amankan dengan barang buktinya da saat ini tersangka mendekam di sel tahanan,” katanya. (mag-11)

Terpilih Jadi Presiden AIPA

Ketua DPR Marzuki Alie terpilih menjadi Presiden AIPA (ASEAN Inter-Parliamentary Assembly). Marzuki didapuk memimpin majelis parlemen se-ASEAN tersebut dalam forum sidang umum AIPA ke-32, di Phnom Penh, Kamboja, yang berakhir kemarin (23/9).

Terpilihnya perwakilan parlemen Indonesia dalam forum itu dianggap memiliki arti penting. Mengingat, sejak 2011 ini, Indonesia juga dipercaya sebagai ketua ASEAN. Dalam rilis yang dikirim, Marzuki menyatakan, mandat yang diterimanya tentu akan semakin meneguhkan komitmen Indonesia untuk menjadikan ASEAN sebagai jangkar hubungan regional.

“Berbagai tantangan harus dihadapi bersama demi mewujudkan integritas ASEAN,” ajak Marzuki, kepada peserta sidang umum AIPA, saat sesi penutupan. Khususnya, lanjut dia, pada tiga pilar ASEAN yaitu security community,economic community, dan socio-cultural community. (dyn/jpnn)

Kapolresta Minta IMM UMSU Bersabar

MEDAN-Mahasiswa Fakultas Ekonomi UMSU Muhammad Tohir, Rabu (21/9), mengalami pengeroyokan oleh rekan sekampusnya. Kejadian itu berlangsung saat Massa Penyambutan Penerimaan Mahasiswa Baru (MPPMB) UMSU.
Penganiyaan tersebut dilakukan R bersama rekannya dihadapan Ribuan Mahasiswa FKIP UMSU. Melihat peristiwa yang dialami Tohir puluhan kader IMM UMSU membuat pengaduan di Polresta Medan serta melakukan audiensi kepada Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga di Mapolsekta Medan Timur, Jumat (23/9) siang sekitar pukul 15.00 WIB.

Dari hasil audiensi pihak kepolisian meminta kepada kader IMM untuk bersabar, biar kepolisian bekerja dahulu untuk memproses penganiyaan yang dialami Tohir. “Saya bilang saat dilakukan audiensi untuk bersabar karena baru satu saksi yang baru dimintai keterangannya. Sementara, korban sampai saat belum juga dimintai keterangannya. Kemudian visum belum kita terima. Jadi saya bilang kepada kader IMM biar dulu kepoilisian bekerja untuk memproses penganiyaan ini” ujar Kapolresta Medan Kombes.Pol Tagam Sinaga.

Sementara itu Jefrizal Ketua DPD IMM SUMUT saat mendampingi IMM UMSU audienasi bersama Kapolresta Medan mengungkapkan meminta pelaku penganiyaan Tohir segera diproses hukum.
“Kami selaku kader IMM meminta kepolisian untuk memproses peristiwa ini dan menangkap pelaku penganiyaan terhadap teman kami Tohir,” ungkapnya .

Sekedar informasi penganiyaan ini terjadi saat dihadapan mahasiswa R mengatakan kalau capek MPPMB hari ini. Selain itu dia juga mengatakan, besok tidak usah datang ke agenda yang diselenggarakan oleh IMM. Mendengarkan hal itu, Tohir coba mengklarifikasinya, namun bukan diskusi klarifikasi yang diterima, malahan pukulan yang didapatkan Tohir. Melihat peristiwa itu rekan-rekan Tohir membawa dirinya ke RSU Imelda untuk mendapatkan perawatan intensif dari medis atas luka yang dialaminya. (uma/mag-7)

Hatta Sebut Menteri Telat Rapat Harus Diganti

JAKARTA- Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengakui dirinya telah diminta masukan oleh presiden dalam rencana reshuffle kabinet. Dirinya telah menyampaikan evaluasi terhadap menteri-menteri ekonomi. Seluruh aspek kinerja dievaluasi, termasuk aktivitas dalam rapat koordinasi.

“Kalau saya melakukan rapat koordinasi jam tujuh, kawan-kawan bisa melihat menteri mana yang rajin, menteri mana yang telat datang. Kawan-kawan bisa melihat yang mana yang rapat jam tujuh datangnya jam sembilan, yang mana yang datang dan tidak pernah datang,” kata Hatta usai salat Jumat di Kompleks Kementrian Keuangan, Jakarta, kemarin.

Hatta memang kerap menggelar rapat koordinasi jam 7 pagi. Pejabat yang kerap terlambat atau absen adalah Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh. Darwin memang merupakan salah satu menteri yang santer disebut bakal diganti.  Hatta mengatakan, tim ekonomi yang baru harus bisa bekerja  di luar kebiasaan.
“Kalau biasa bekerja sepuluh jam, dalam kondisi bangsa seperti ini mbok ya ditambah lah empat jam lagi jadi 14 jam,” katanya.

Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa mengaku siap direshuffle jika Presiden SBY menghendakinya. Dia mengakui banyak program baru dibidang pembiayaan perumahan yang dia ciptakan tetapi diklaim kandas dalam praktik di lapangan.

“Jika Presiden menghendakinya, saya siap digantikan, saya ini kan hanya bekerja,” kata Suharso di Jakarta belum lama ini. Saat menghadiri acara Halal Bi Halal dengan mantan Menpera lainnya, Suharso tampak sudah optimistis dilengser. Itu terlihat dari perkataannya yang menyebutkan para mantan menpera itu sebagai menpera yang sesungguhnya.
Dikabarkan dalam sepekan ini memang Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa termasuk salah satu menteri yang santer disebut akan diganti.

Menteri yang tengah digugat cerai istrinya Carolina binti M Gandhi itu mengaku tidak masalah bila akhirnya ada keputusan dirinya diganti.(sof/vit/jpnn)

Rektor Curhat ke PR-IV

Soal Dugaan Mark Up Bantuan PT Pertamina Rp4 Miliar

MEDAN- Rektor USU Prof DR Syahril Pasaribu, membantah adanya mark up atas dana hibah dari PT Pertamina (Persero) senilai Rp4 miliar.
Itu dikatakannya, saat wartawan koran ini mengkonfirmasinya di ruang kerjanya, seusai menerima delegasi PT Agincourt Resources dalam rangka pembuatan nota kesepahaman atau Memorandum Of Understanding (MoU), antara pihak PT Agincourt Resources dengan USU, Jumat (23/9).

“Ada wartawan yang telah meneleponi saya, katanya bapak (Syahril Pasaribu, red) mau dipanggil. Kalau saya mau dipanggil, saya siap saja. Tapi saya merasa, kita nggak ada apa-apa. Sudah jelas peruntukannya buat apa,” jawabnya.
Dikatakannya lagi, untuk Fakultas Ekonomi (FE) USU dari dana yang diterima sebesar Rp2 miliar, ternyata masih kurang sehingga membuat beberapa pengerjaan di Fakultas Ekonomi tersebut ditunda.

“Kapan dananya masuk itu jelas. Ada keterlambatan masuk, tapi itu sudah diselesaikan. Semuanya secara bertahap. Seperti di Fakultas Ekonomi, dananya kan Rp2 miliar, sementara penyelesaian bangunannya kan lebih dari pada itu. Makanya kita tunggu lagi. Besok kalau turun, kita sambung lagi,” tuturnya.

Syahril Pasaribu juga menuturkan, munculnya persoalan ini merupakan ulah dari salah satu pihak yang melaporkan hal ini ke pihak penyidik.
“Bukan penyidik yang mengambil langsung, tapi katanya ada yang melaporkan.  Namanya, Kmaksu,” kata Syahhril sembari sedikit mengingat-ingat kata “Kmaksu”.

Syahril Pasaribu sempat bercerita dengan salah seorang Pembantu Rektor (Purek) nya yakni, Purek IV Prof Ningrum Natasya Sirait, bahwasanya pemberitaan tersebut telah ramai diperbincangkan di media massa. “Itu mengenai dana hibah dari Pertamina. Dari kemarin dan hari ini, koran sudah ramai lagi. Sampai saya ditanya wartawan, katanya saya mau dipanggil. Saya bilang, kalau mau dipanggil ya saya akan datang,” tuturnya kepada Prof Ningrum Sirait.(ari)
Sejauh ini, lanjut Syahril Pasaribu, dirinya belum menerima surat panggilan dari Tipikor Polda Sumut. “Belum, ya kemarin itu saja. Pak John dan Suhardy,” katanya