26 C
Medan
Saturday, April 18, 2026
Home Blog Page 14686

Rahudman Harapkan Gurning

MEDAN-Ternyata magnet yang dimiliki Abdul Rahman Gurning masih melekat di PSMS. Hal ini merujuk dari statement yang diungkapkan Ketum PSMS Rahudman Harahap. Wali Kota Medan ini menjelaskan, bahwa Gurning pantas menjadi arsitek klub berjuluk Ayam Kinantan itu.

Tentunya bukan tanpa alasan, Rahudman menuturkan hal tersebut,  karena menurutnya Gurning merupakan mantan pemain PSMS. “Ia pantas mengarsiteki PSMS. Gurning mengerti karakter permainan sepak bola anak-anak Medan. Dan yang terpenting, kecintaannya terhadap PSMS tak perlu diragukan lagi,” ungkapnya di Brayan, Selasa (11/10) lalu.
Statement Ketum PSMS ini akhirnya mementahkan pernyataan Sekum PSMS Idris yang mengatakan akan meninjau kembali posisi mantan pelatih PSPS Pekanbaru tersebut.

Mengenai lanjutan kesepakatan merger antara Bintang Medan dan PSMS, Rahudman mengatakan, hal tersebut masih berjalan. “Untuk CEO memang belum ada kesepakatan antara saya dan konsorsium,” jelasnya lagi.

Selaku pihak yang ditugaskan sementara untuk menangani PSMS, Idris mengaku akan melaksanakan semua perintah Ketum PSMS. “Apa pun perintah Pak Wali Kota, saya ikut saja. Ini mengisyaratkan jika Pak Wali Kota memiliki pertimbangan sendiri kenapa memilih Gurning,” ujarnya.

Namun, menurut Idris, pihaknya tetap memberi masukan calon-calon pelatih kepada Rahudman. Apalagi saat ini, konsorsium yang bakal menjadi pengelola PSMS juga turut merekomendasikan nama pelatih.

“Kami akan membicarakannya dulu dengan beliau. Tapi, sebelumnya kami juga telah menerima masukan yang terbaik dari pencinta sepakbola Kota Medan. Dan ini murni bukan untuk kepentingan pribadi,” katanya.

Lebih lanjut Idris mengungkapkan, mengenai cerita kelanjutan merger yang dilakukan, ia mengaku komunikasi antara pihaknya dan konsorsium masih berlanjut. Dia juga membantah adanya spekulasi pihaknya tak mau menerima pembagian saham 10 persen dari yang diterima PSMS.

“Mengenai besar persentase saham, saya belum berani menjawabnya. Pak Wali Kota yang akan mempertimbangkannya. Suara beliau yang diharapkan bisa mengakomodir kepentingan masyarakat,” jelas Idris. (saz)

Hasil Sempurna di Katanning

KATANNING-Sempurna. Kata tersebut rasanya pantas untuk menggambarkan perjuangan Development Basketball League (DBL) Indonesia Selection Team 2011 Australia Tour ini.

Dalam laga kemarin (11/10) di Katanning Leisure Centre, tim putra dan putri berhasil meraih kemenangan atas tim putra-putri Katanning U-17. Tim putra berhasil menang 112-46, sedang tim putri 62-61.

Hasil kemarin menambah kisah sukses tim DBL Indonesia Selection di Benua Kanguru. Untuk tim putra, dari empat kali bertanding, Michael Stanley dkk mencatatkan tiga kemenangan. Yang membuat kemenangan makin istimewa, center tim putra DBL Indonesia Selection Rico Pratama mampu melakukan slam dunk.

Nah, acungan jempol hasil positif patut diberikan kepada tim putri DBL Indonesia Selectio. Kemenangan Stephanie Yolanda dkk kemarin adalah yang pertama setelah menjalani empat laga di tiga kota Australia Barat.

Pada laga pertama dan kedua, mereka dipaksa mengakui keunggulan Southwest Slammers U-16 dengan skor 40-25 dan 53-44 di Bunbury. Sedang di pertandingan ketiga melawn Albany Riders U-16, mereka kalah 41-38.
Dalam laga kemarin, tim putri DBL Indonesia Selection menampilkan permainan yang apik.

Melawan tim Katanning U-17 yang posturnya jauh lebih besar, Stephanie Yolanda dkk tak gentar dalam perebutan rebound. Beberapa kali Mariam Ulfah dan Stephanie Yolanda mampu memenangi bola liar di bawah ring. Pada kuarter pertama DBL Indonesia Selection menang dengan skor 18-12.

Pertandingan makin seru di kuarter kedua. Katanning U-17 sempat membuat poin sama 26-26. Namun berkat keuletan perjuangan tanpa menyerah, Stephanie Yolanda dkk kembali menjauh dari kejaran Mirayla Zilm dkk. DBL Indonesia Selection unggul 36-33.

Pada dua kuarter akhir, DBL Indonesia Selection berusaha tampil stabil.

Akurasi tembakan tiga angka Stephanie Yolanda dkk makin menjadi. Dari 16 kali percobaan three points, 11 diantaranya masuk. Lewat kemenangan dramatis, DBL Indonesia Selection menang 62-61 atas Katanning U-17. Dan begitu buzzer berbunyi, Stephanie Yolanda dkk melongo karena tak percaya berhasil.

Head coach tim putri DBL Indonesia Selection Freddy Marcos Gorey geleng-geleng tak percaya timnya bisa memenangi laga kemarin.

“Butuh ketegaran hati untuk memenangi laga ini. Kita sebenarnya bisa unggul jauh. Tapi anak-anak cenderung mengulangi kesalahan fundamental. Misal passing dan defense. Tapi kemenangan ini sangat berarti,” kata pelatih asal SMA Methodist 2 Medan kemarin.

Pelatih Katanning U-17 Rod Zilm mengakui jika timnya kalah strategi. “Indonesia punya banyak penembak jitu. Seharusnya kami sadar dan bisa menghentikan itu. Terlepas dari itu, Indonesia memang layak menang,” puji Rod.
Sementara itu, pertandingan lain yang mempertemukan tim putra DBL Indonesia Selection melawan Katanning U-17 juga berakhir untuk kemenangan tim putra yang dibesut head coach Andromeda Manuputty. (dra/jpnn)

Medan Deli Ikut 16 Cabor

MEDAN-Menghadapi Pekan Olahraga Kota (Porkot) Medan  III 2011 yang akan digelar 15-22 oktober ini mendatang, seluruh kecamatan telah mempersiapkan diri ambil bagian untuk merebut siapa yang terbaik di event olahraga tahunan itu.

Salah satunya adalah Kecamatan Medan Deli akan ikut di 16 cabang olahraga dari 32 yang dipertandingkan, sepertinya tak akan muluk-muluk untuk meraih target. Seperti disampaikan Ketua Koordinator KONI Kecamatan Medan Deli MR Ganefo Panggabean, kepada wartawan, Rabu (12/10) di Kantor KONI Medan .

Genafo mengatakan, d Porkot kali ini pihaknya melaksanakan seleksi atlet yang akan diterjunkan di Porkot kali ini. Pada hasil Porkot II 2010 lalu, Kecamatan Medan Deli berada di peringkat 16 dengan meraih 10 emas, 12 perak dan 20 perunggu.

“Untuk itu kita akan ikuti 16 cabang di Porkot Medan 2011. Saya ingin atlet dari Kecamatan Medan Deli dan tidak ada diperkut dari atlet luar memperkuat daerah ini,” harap Ganefo yang berkeinginan dapat memperbaiki peringkat.
Adapun ke-16 cabang yang akan diikuti Medan Deli adalah sepakbola, bola voli, bulutangkis, sofbol, catur, pencak silat, karate, taekwondo, tenis meja, atletik, panjat tebing, anggar, bridge, renang, angkat besi/berat dan binaraga dan bulutangkis.

Dikatakan, keikutsertaan Kecamatan Medan Deli ini tak terlepas dari perhatian Camat Medan Deli Yusdarlina SSos yang merespon dan mendukung persiapan atlet. “Semuanya, tak terlepas dari dukungan penuh dan bimbingan serta perhatian yang diberikan ibu camat. Tentunya, ini juga mendukung program Walikota Medan dan Ketum KONI Medan yang ingin Kota Medan menjadi kota atlet di masa datang,” ungkapnya lagi.

Ganefo menambahkan, pihaknya berharap Koordinator KONI Kecamatan Medan Deli juga perhatian selain camat. “Saya juga memberikan apresiasi kepada pengusahadan masyarakat yang ada  di Medan Deli, yang telah mendukung kontingen Medan Deli ini untuk dapat mengikuti porkot. Jadi kami akan berusaha untuk dapat memperbaiki peringkat dari hasil yang diraih pada Porkot lalu ,” harap Ganefo. (jun)

160 Pebulu Tangkis Ikuti Porkot

MEDAN-Sebanyak 160 pebulu tangkis akan berlaga pada Pekan Olahraga Kota (Porkot) Medan yang berlangsung di Gedung Shamrock Medan Jalan Pegadaian Medan pada 18-21 Oktober 2011 nanti.

Menurut Ketua Panitia Aswin, bahwa ke-160 pebulu tangksi tadi berasal dari 21 kecamatan yang ada di kota Medan dan akan bertanding di nomor tunggal putra/i, ganda putra/i, dan ganda Campuran. Sedangkan untuk sistem pertandingan menggunakannya system gugur.

Selanjutnya Aswin menuturkan bahwa gelaran Porkot kali ini akan berlangsung meriah karena pebulu tangkis yang selama ini bergabung dalam pemusatan latihan KONI Medan akan bertanding guna membela daerahnya masing-masing.
“Kamia berharap para pemain mampu menampilkan permainan terbaiknya demi sukses dan meriahnya gelaran Porkot Medan kali ini,” harap Aswin. (omi)

Kualitas Fisik Peserta Rendah

LUBUK PAKAM-Kondisi fisik peserta seleksi PSDS Jr dinilai rendah. Hal ini dikeluhkan oleh tim pemandu bakat ketika memantau para peserta seleksi mengikuti “games”  yang berdurasi 30 menit di  Stadion Baharuddin Siregar, Rabu (12/10).

Bahkan, hampir semua tim pemandu bakat sepakat mengatakan bahwa kondisi fisik para peserta sangat rendah. “Rendahnya kulitas fisik pemain diketahui lewat disiplinnya. Mungkin jarang berlatih atau penyebab yang lainnya,” bilang Suherman, tim talent scouting, pembentukan tim PSDS Jr.

Masih  Suherman, dari 30 menit yang direncanakan tim peman bakat, seluruh peserta rata-rata hanya bertahan selama sepuluh menit. “Sama-sama kita lihat jika para pemain telah kedodoran ketika memasuki menit ke-15, sehingga gampang kehilangan bola,” keluh Suherman.

Saat masalah ini ditanyakan kepada peserta, salah seorang di antaranya mengaku tak memiliki waktu istirahat yang cukup. Bahkan banyak di antara peserta seleksi yang langsung datang ke lapangan selepas pulang dari sekolah.
“Kami langsung ke sini, sehabis pulang sekolah. Bahkan ada juga kawan-kawan yang bukan saja tak sempat ganti pakaian, tapi juga melewatkan makan siangnya. Habis, waktunya sempit kali,” kilah salah seorang pemain yang enggan menyebutkan namanya. (btr)

Warga Kisaran Dapat Xenia

PT Capella Cabang Medan Serahkan Hadiah Undian Dahsyat

MEDAN- PT Capella Cabang Medan menyerahkan hadiah berupa satu unit mobil Xenia kepada guru SMP di Kisaran Nur Haida Hutabilah, warga Kelurahan Lestari, Kecamatan Kisaran Timur, Kabupaten Asahan, sebagai pemenang undian Dahsyat.

“Sebenarnya, ada 388 pemenang yang meraih Undian Dahsyat secara Nasional. Nah, dari 388 pemenang tersebut termasuk salah satu Ibu Nur Haida Hutabilah yang berasal dari Sumatera Utara,” kata Kepala Cabang Capella Medan, John Hendry kepada wartawan koran ini, usai memberikan hadiah undian satu unit mobil Xenia kepada Nur Haida Hutabilahn
di Showrom Capella Medan, Jalan Gatot Subroto Medan, Rabu (12/10).

Menurut John, sebelumnya pemenang Undian Dahsyat tersebut merupakan customer Capella Medan. Dimana, pada September 2011 lalu, Nur Haida membeli satu unit mobil pick up di Showroom Capella Medan. “Nah, pengundian Dahsyat tersebut dilakukan di Jakarta, di hadapan notaris dengan memakai system komputer secara acak, dengan melihat nomor rangka mesin,” terang John. Lebih lanjut dia mengungkapkan, Undian Dahsyat ini akan diundi setiap bulan.

Sementera itu, Nur Haida mengaku bangga meraih undian satu buah unit mobil Xenia. “Pertama saya tak percaya, kalau menang undian satu buah mobil Xenia. Setelah dicek langsung ke Shoroom Capella ternyata benar,” kata Nur. Dia mengatakan, mobil hadian undian tersebut akan dipakainya untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk mengajar.(omi)

Warga Ditenggat Sepekan

Hari Ini, Lahan Fly Over Simpang Pos Diratakan

MEDAN- Pemilik 28 persil lahan yang belum dibebaskan untuk pembangunan Fly Over Simpang Pos, ditenggat sepekan untuk menerima ganti rugi yang telah ditetapkan. Jika tetap tak mau menerima uang ganti rugi tersebut, Tim Pembebasan Lahan akan menitipkan uang ganti rugi tersebut ke Pengadilan Negeri Medan.

“28 persil bidang tanah yang belum mau diserahkan warga setempat kita diberikan waktu sepekan. Jika tidak mau juga, uangnya akan dititipkan ke PN Medan dengan sistem konsinyasi. Sebab, nilai ganti rugi sudah sesuai dan tidak ada lagi alasan warga menolak, karena dapat menghambat pembangunan Fly Over Simpang Pos,” kata Wali Kota Medan Rahudman Harahap kepada wartawan di sela-sela pameran Palmex di Griya Dome Medan, Rabu (12/10).

Rahudman juga mengungkapkan, hari ini akan dilakukan perataan lahan. Rumah-rumah warga yang telah diganti rugi akan dibongkar dan diratakan. “Kamis (13/10), akan kita lakukan perataan bangunan di lahan fly over yang sudah diganti rugi itu,” kata Rahudman.

Mengenai anggaran pembangunan Fly Over Simpang Pos tersebut, Pemko Medan telah mengajukan anggaran pembangunan fly over tersebut ke Kementrian PU. “Kalau dari informasi yang disampaikan Dinas Bina Marga Kota Medan, pelaksanaan teknis proyek pembangunan harus dilaksanakan awal tahun depan,” ucapnya.

Sementara Kadis Bina Marga Kota Medan Gunawan Surya Lubis menambahkan, pembongkaran yang dilakukan terhadap lahan yang sudah dibebaskan atau menerima ganti rugi akan menggunakan alat-alat berat dari Dinas Bina Marga. “Aktion yang dilakukan di lapangan nantinya masih dalam taraf pembongkaran rumah milik warga yang sudah diganti rugi,” ujar Gunawan.

Sedangkan untuk sisa persil yang belum mau menerima ganti rugi dari Tim Apresial pembangunan Fly Over Simpang Pos, lanjut Gunawan, akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. “Jadi, pembongkaran secara paksa akan dilakukan terhadap rumah warga tanpa mengabaikan hukum yang berlaku,” jelasnya.

Sedangkan untuk mengantisipasi kemacetan yang bakal terjadi selama proses pembangunan fly over tersebut, Dishub Medan akan melakukan koordinasi dengan Satlantas Polresta Medan dan Ditlantas Polda Sumut. Hal itu dilakukan untuk pengalihan arus saat pembangunan.

“Pengalihan arus nanti kita lakukan setelah ada kordinasi. Kita pun perlu turun dalam meratakan bangunan itu untuk mengatur arus lalulintas di sana. Namun, itu semua baru bisa ditentukan nanti kalau sudah mengetahui lokasi dan gambaran lalulintas di sana. Kita lihat dulu kondisi di lapangan,” terang Kadishub Medan Armansyah Lubis.(adl)

Kantor Sementara DPRD Medan Sekda tak Mau Berandai-andai

Dewan dan Pemko Bahas Pemindahan

MEDAN- Wali Kota Medan Rahudman Harahap bersama seluruh pimpinan DPRD Kota Medan  menggelar pertemuan tertutup guna membahas rencana pemindahan kantor dewan sementara. Hal ini terkait rencana pembangunan gedung dewan yang rencananya dilakukan awal 2012 mendatang.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan Syaiful Bahri Lubis kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (12/10). Menurutnya, Pemko Medan berkeinginan, kantor sementara untuk dewan harus di lokasi yang representatif sehingga anggota dewan bisa melaksanakan tugasnya.

“Lagi dibicarakan antara pimpinan dewan dan Wali Kota Medan. Dari rapat inilah nanti baru kita pertimbangkan lokasinya di mana,” kata Syaiful Bahri. Selain itu, kata Syaiful, Pemko Medan mengusulkan agar kantor sementara ini nantinya dekat dengan kantor Wali Kota Medan, sehingga tetap mudah mengakses hubungan dengan dewann
“Lokasinya di mana, itu saya belum bisa berandai-andai. Yang jelas harus representatif, dalam bentuk ideal untuk kinerja dewan serta masih dekat dengan kantor Pemko, selain itu pertimbangannya, apakah yang punya gedung memberikan gedungnya dipakai untuk kantor dewan sementara,” terangnya lagi.

Disinggung soal rencana kantor sementara anggota dewan di Paladium, Grand Aston atau gedung Bank Sumut, Syaiful membantahnya. “Belum ada itu. Saya justru belum tahu ada rencana itu. Pastinya, kita usulkan tempat yang ideallah,” jelasnya lagi.
Syaiful juga tak menampik, pindahnya kantor dewan ini akan menelan anggaran yang tidak sedikit. Namun dia menyebutkan, anggaran untuk sewa kantor dewan sementara ini nantinya akan dialokasikan dari APBD Kota Medan 2012.

Begitupun, Syaiful mengungkapkan, untuk gedung dewan yang baru nantinya yang tetap berlokasi di Jalan Kapten Maulana Lubis, hingga saat ini masih dalam proses Detail Engineering Desain (DED). “Prosesnya masih membuat DED. Makanya, pemindahan sementara kantor dewan ini pun masih kita pertimbangkan. Bisa saja, anggota dewan tetap bekerja di gedung lama dan proses pembangunaannya secara bertahap. Sehingga tidak perlu pemindahan sementara. Begitupun untuk teknisnya nanti yang lebih menguasai Dinas Perkim,” sebutnya.

Sementara Ketua DPRD Medan Amiruddin yang konfirmasi wartawan koran ini tadi malam, terkait pertemuan pimpinan dewan dan Wali Kota Medan yang digelar tertutup, enggan berkomentar panjang lebar terkait hasil pertemuan tersebut. “Nggak ada, dewan meminta untuk tidak pindah dan akan bekerja di gedung yang lama. Sedangkan untuk pembangunan, ada tahapan yang sedang menunggu DED nya,” jelasnya.

Sementara Pengamat Lingkungan Hidup Rasyid mengungkapkan, pembangunan gedung baru kantor DPRD Medan harus melihat dokumen pengambil keputusan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Setelah itu, baru bisa dilakukan pembangunan.

“Dokumen pengambil keputusan yang terdiri dari tiga komponen itu harus dikoreksi, lalu dipublikasi untuk menerima saran dan kritik pembangunan gedung itu. Setelah dilihat, baru bisa diputuskan untuk dilakukan pembangunan,” kata Rasyid.

Dijelaskannya, dampak dari pembangunan gedung dewan di Jalan Kapten Maulana Lubis itu dilihat dari tiga komponen, yaitu komponen dampak sosial, komponen dampak kimia-fisika dan komponen biologi. “Untuk dampak sosialnya, sangat bagus karena mengadakan kegiatan sosial yang berada di pusat kota, kalau dampak negatifnya nol,” cetusnya.(adl)

Deg-degan Menjalang Amputasi

Riska Aprilia, Penderita Tumor di Kaki Kiri

Riska Aprilia (14), pasien Jamkesmas yang menderita tumor di kaki kiri, harus merelakan kakinya tersebut diamputasi. Pasalnya, menurut dokter yang merawatnya, kaki kirinya tersebut tak bisa diobati lagi, selain dengan cara mengamputasinya. Seperti apa?

Jhonson P Siahaan, Medan

Saat wartawan koran ini mengunjunginya di Ruang Hijri Ismail, Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan, Risak yang saat itu mengenakan baju kuning terlihat terbaring lemas. Dia ditemani kedua orangtuanya, Supriyanto (41) dan Sukiyem (35) dan beberapa sanak familinya dari Langkat yang saat itu menjenguk.  Supriyanto mengaku, kondisi anaknya mulai sehat dan mendapat pelayanan yang baik dari pihak RSU Haji Medan. “Pelayanan di RS Haji ini baik dan bagus. Tidak seperti di RSU Bandung tempat anak saya dirawat sebelumnya. Di RS Bandung, saya dikutip uang darah, namun di sini tidak ada dikutip biaya apapun,” katanya.

Sambil melirik anaknya, Supriyanto mengatakan, hari ini (13/10), Riska akan menjalani operasi. “Anak saya akan dioperasi besok (hari ini, Red). Kaki kirinya akan diamputasi karena tidak bisa terselamatkan lagi dan memang harus dipotong,” ucapnya sedih.

Sementara itu, Sukiyem, sang ibu tidak dapat berbuat apapun, karena memang sudah begitu keputusan dari pihak medis. “Perasaan sedih memang ada, tapi tidak apa-apa dan kalau memang begitu yang terbaik, ya kita operasi kaki kirinya dan harus diamputasi,” tuturnya.

Sambil berdiri memandangi anak pertamanya itu, Sukiyem berharap ada dermawan yang perduli dengan anaknya usai operasi nanti. “Saya harapkan agar ada orang yang perduli dengan nasib kami dan sudi kiranya menyumbangkan kaki kiri palsu untuk anak saya,” harapnya.

Sukiyem mengaku, anaknya sudah tidak mengikuti pelajaran di sekolah selama enam bulan. “Tapi oleh gurunya dia tetap dianggap sekolah. Selesai operasi nanti, anak saya akan bersekolah kembali dan anak saya, akan ikut ujian juga,” pungkasnya.

Diceritakannya, selama beberapa hari dirawat di RS Bandung, Riska tidak mendapatkan perawatan dengan baik. Malah mereka dipungut biaya untuk pembayaran delapan kantong darah. “Padahal anak saya itu peserta Jamkesmas, tetapi RS Bandung dikutip biaya pembayaran uang kantong darah sebesar Rp2.040.000. Memang uangnya sudah dikembalikan, tetapi apakah sudah miskin justru harus dijepit lagi,” katanya.

Ditambahkan Supriyanto dengan sedih, dirinya sudah menjual semua barang-barang berharga demi mengobati Riska yang menderita tumor tersebut. “Semua barang saya sudah saya jual, termasuk sepeda motor untuk jualan es keliling. Yang penting anak saya bisa cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali dan saya berharap agar ada orang yang perduli dengan anak saya memberikan kaki kiri palsu,” tambahnya.

Dengan posisi terbaring lemas, tangan kirinya menempel di selang infus dan selang darah, Riska dengan wajah sedih dan mata yang berkaca-kaca mengaku, sedih kehilangan kaki kirinya. “Sedih dan deg-degan Bang, tapi kata dokter harus dioperasi, ya sudah dioperasi saja,” katanya.

Diceritakan Riska, dirinya ingin menjalani kehidupan normal kembali, tapi kalau sudah takdir mau bilang apa. “Sudah takdir dan saya gantungkan kepada Allah SWT semuanya Bang,” pungkasnya.(*)

Profesional Guru Lebih Utama

Masyarakat menganggap, guru yang selama ini mengikuti program sertifikasi hanya mengejar tunjangan profesi. Hal ini disebabkan para guru belum memperlihatkan kompetensi yang dimiliki secara maksimal setelah menjadi gurun
profesional. Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mengubah stigma masyarakat tentang hal ini? Berikut wawancara wartawan koran ini Rahmat Sazaly dengan Rektor Unimed Prof Ibnu Hajar Damanik, Selasa (11/10).

Apa sebenarnya yang harus dilakukan agar guru benar-benar bekerja profesional?

Agar guru bekerja secara profesional, menurut saya dibutuhkan penilaian dan pengawasan secara objektif terhadap para guru penerima tunjangan sertifikasi itu. Apa bentuk tanggung jawab para guru terharap predikat yang telah mereka terima? Sebab, tak ada yang bisa menjamin profesinonalisme mereka. Malah, kompetensi mengajarnya terlihat terus merosot.

Program profesi, sertifikasi dan kompetensi tak dapat dipisahkan, karena ketiga unsur tersebut berkaitan erat dengan peningkatan kualitas guru. Untuk menjadi guru profesional, dibutuhkan sertifikasi dan hasilnya akan memperoleh kompetensi mengajar yang baik pula.

Jadi apa tanggapan Anda tentang program sertifikasi yang selama ini dilakukan?

Ini terkesan memang kurang bermanfaat. Meski, persyaratan guru untuk mendapatkan sertifikasi dengan melengkapi portofolio, masih banyak juga yang tak lulus sertifikasi.

Masih banyak guru yang tak menguasai bidang studinya karena tidak memiliki kompetensi. Guru juga banyak mengajar rangkap di kelas. Hal ini dilakukan karena keterbatasan guru, sehingga terpaksa harus mengajar di kelas yang sedang tidak ada gurunya. Berbeda dengan pendidikan di luar negeri yang mengutamakan keunggulan kompetensi guru.

Menurut Anda, apakah peran guru masih sangat besar mencerdaskan bangsa, mengingat semakin meningkatnya perkembangan teknologi informasi?
Saat ini pasar ilmu kependidikan sangat besar. Hal ini seiring dengan peluang dan meningkatnya permintaan tenaga guru. Kebutuhan tenaga guru di sekolah sejalan dengan tuntutan semakin banyaknya dibuka program studi ilmu keguruan juga sangat tinggi.

Untuk itu, diharapkan guru jangan sekedar mengajar anak didik di kelas dengan cara memindahkan isi buku kepada siswa. Tapi terpenting penguasaan materi dan kompetensi mengajar yang relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan.

Jadi menurut Anda, program sertifikasi ini sudah tepat untuk perkembangan pendidikan di Indonesia?
Sertifikasi itu memang sangat baik, tapi hendaknya dilaksanakan dengan sebaik-baiknya agar bermutu bagi guru, sesuai dengan UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Untuk itu guru diharapkan jangan hanya sekedar mengejar tunjangan sertifikasi semata. (*)