Home Blog Page 14748

Selalu Mendukung Suami

Hj Sutiyas Handayani

Menjadi istri seorang pejabat pemerintah, tentu harus legowo menerima konsekuensi yang ada. Salah satunya harus banyak bersabar dan harus menjadi istri yang mandiri.

egitulah yang dilakukan Hj Sutiyas Handayani, istri dari Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho.
Meski demikian, mantan anggota DPRD Deli Serdang Periode 2004-2009 ini tidak merasa terbebani dengan statusnya sebagai istri orang nomor satu di Sumut ini. Bahkan ibu dari 5 orang putri ini mengaku tak berbeda dan berlebihan menjalani hidupnya meski menjadi istri Plt Gubsu.

Sutiyas bercerita, sejak awal pernikahannya, ia sudah sering ditinggal  suami  yang saat itu masih berprofesi sebagai pendakwah. Bahkan saat melahirkan buah hatinya yang pertama, wanita tamatan D3 ini tidak ditemani  suami karena sedang keluar kota.

“Untungnya saya sudah terbiasa mandiri. Waktu remaja dulu saya ngekos dan tinggal jauh dari orangtua karena saya kuliah. Dengan mandiri  saya tidak selalu tergantung segala hal kepada suami,” ujarnya.
Selain menanamkan sifat mandiri, kata dia, sebagai istri Plt Gubsu ia juga harus bisa membaca situasi sikologis suaminya yang memiliki banyak kegiatan sehingga menyita waktu dan pikiran.
“Kalau sudah melihat bapak banyak pikiran, saya biasanya menyelesaikan sendiri sebuah masalah. Nah, bila suasana sudah tenang, maka saya akan membicarakan sama bapak,” ujarnya.

Baginya, semua masalah harus dibicarakan dengan suami, bukan disembunyikan. Sebab, masalah akan lebih mudah diselesaikan bila menggunakan dua kepala dibandingkan satu  kepala. Artinya harus dipecahkan secara bersama-sama.
Menurutnya, membaca situasi dan keadaan suami ini juga dapat membuat suami merasa nyaman. Ia juga mendukung semua keputusan yang diberikan suami. Karena itu, salah satu usaha yang dilakukannya tidak meributkan segala hal, baik dalam rumah tangga maupun pemberitaan di media.

“Istri itu harus bisa bersikap dewasa, bila perlu lebih dewasa dari suami. Kalau ada pemberitaan tentang suami, saya pelajari dulu, baru setelah agak tenang saya tanyakan sama suami. Tetapi pada dasarnya, saya mengenal pribadi suami sehingga saya lebih percaya dengan suami saya,” kata wanita kelahiran Medan 22 Mei 1964 silam ini.
Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki peran penting di keluarganya, Sutiyas juga selalu menanamkan sikap demokratis dalam keluarganya. Hal ini untuk memudahkan anggota keluarganya mengungkapkan pendapatnya. “Demokratis juga bisa mengajarkan kita mengenal permasalahan dan membuat kita lebih berani dalam bersikap,” kata dia.

Sutiyas juga bilang, ia bersama suami juga membangun keluarga berlandaskan agama. Makanya, ia tak canggung menghadapi rekan-rekannya di PKK Pemprovsu. “Saya bernaung di PKS, dan di PKS saya diberikan pelajaran tentang segala hal dalam aspek agama. Ini memudahkan saya untuk bersikap dan banyak mendapatkan wawasan agama,” bilang ibunda dari Affifah Radhiatullah, Fauziah Diniy Hanif, Rumaisho’ Haniy Muthiah, Maryam Balqis Salimah dan Aisyah Nailah Robbaniy ini.

Nah, meski menjadi istri Plt Gubsu, hal itu tiak membuatnya tinggi hati. Makanya Sutiyas juga selalu menerapkan kesederhanaan, termasuk dalam penampilannya sehari-hari.  Bahkan dirinya tidak pernah menggangap ada perubahan pada dirinya, dirinya tidak merasa harus terkenal dan dikenal oleh orang lain. “Kalau tidak dikenal ya sudah, saya tidak mau merusak mood saya karena orang lain, yang penting saya tidak bersikap berlebihan,” ujarnya.
Tidak terlalu famous membuat dirinya juga lebih tenang dalam menjalani kesehariannya. Bahkan Sutiyas dan anak-anaknya pernah jalan ke pusat pembelanjaan, walau ada yang negur tetapi tidak semua orang yang mengenalnya. “Jadi lebih enak jalannya karena saya tidak mau terbebani dengan status saya,” ujarnya.

Tidak terbebani, bukan berarti Sutiyas tidak menjaga penampilan. Malah sebaliknya, sebagai seorang ibu dan istri , dirinya merasa bertanggung jawab dengan penampilannya. (juli)

“Mendukung suami salah satunya adalah menjaga image, walau keseharian saya selalu berpenampilan sederhana. Tapi pada moment tertentu saya tampil dengan sedikit riasan. Penampilan sebagai penunjang yang penting,” pungkasnya. (juli ramadhani rambe)

Malaikat Penjual Embun Air Mata

Lirih! Suara itu terdengar samar, merdu bahkan nyaris syahdu. Dalam gelegar teriakan petir yang
terdengar kasar menggelegar, suara itu membaur dalam samar. Saat petir mengumpat keras dalam guruh, suara itu kian menderu merdu. Jikala petir pongah membelah malam kelabu, suara itu berdenting syahdu. Layaknyalah Tuhan mematahkan sayapnya, saat ia membelot dan mengingkari perintah-Nya. Adam pun pernah terlempar saat menikmati manisnya buah surga, buah yang sebenarnya terlarang untuknya.  Apalah artinya dia, seorang malaikat kecil yang menjaga langit terbawah dari tujuh lapisan yang ada. Dia pun jatuh sambil berteriak ampun.

Cerpen  Tova Zen

Sayap-sayapnya patah saat petir men     jatuhkannya ke bumi. Sanggupkah      ia terbang dan meminta ampun? Wujudnya pun tak lagi serupa cahaya yang bersinar, tapi berbentuk tanah liat yang berdaging. Lorong waktu telah mengubahnya menjadi manusia setengah malaikat. Sekarang dia patut menerima hukuman.

Saat Jibril tuntas menyebarkan wahyu Tuhan pada manusia terpilih, dia malah di hukum jatuh ke bumi untuk melihat kelakar manusia. Lihatlah! Biar dia melihat betapa manusia masih banyak ingkar terhadap Tuhannya. Sadarkah ia, bahwa ia terdampar untuk menyaksikan kemunafikan manusia. Tetes embun itu akan menunjukan mana yang baik dan mana yang buruk. Tugasnya cukup mudah, hanya menemukan siapakah kiranya manusia yang berkenan menjual embun bersamanya.

Pagi-pagi sekali dia tersadar, membuka kelopak mata, merasakan seluruh tubuhnya yang bergesek dengan udara, menyentuh rumput-rumbut basah dan mendengar alunan suara-suara burung yang berkicau. Dia pun bangkit dan duduk termenung, merenungi apa yang terjadi padanya yang tak lagi berwujud cahaya. Sayap-sayapnya tercecer dan berkilauan di terpa sinar mentari. Bahkan saat ia berdiri dalam siraman sinar mentari, sisa-sisa kilau masih melekat di tubuh berdagingnya. Berpendar dan bersinar, serasa manusia tertampan di dunia. Apakah dia berupa laki-laki?. Mungkin saja dia berkilau, serupa manusia tercantik di bumi. Apakah dia berupa perempuan? Tidak! Dia yakini benar bahwa dirinya berpenampilan laki-laki, sepertihalnya Adam yang jatuh di hamparan bumi yang berwujud laki-laki.
Dengan tekun ia kumpulkan tetes demi tetes embun yang jatuh dari pucuk-pucuk daun. Menempatkannya pada cawan yang jatuh bersamanya malam itu. Ajaib! Embun itu mengkristal dan berubah menjadi kristal-kristal yang cantik dan berkilau. Dia pun terpukau dengan keajaiban itu.

Matanya yang lembut nampak sayu terbawa rindu, bibirnya yang merah merekah tersungging seyum rona bulan sabit, bulu lentik matanya mengerjap-ngerjap dan sinar wajahnya kian berpendar. Hatinya berbalut nuansa riang, bahwa tugas menjual embun terlampau mudah dalam benaknya. Siapa sih manusia yang tidak silau melihat keindahan embun yang dia kumpulkan? Embun yang akan dia jual amatlah mempesona. Dia tak tahu, justru dengan keindahan Tuhan sengaja mengujinya.

Dia berjingkrak-jingkrak di tengah padang rumput, menari-nari di rimbunan pepohonan. Riang karena embun yang dia kumpulkan cukup lah banyak untuk dijual. Mentari kian menyingsing naik, pelan-pelan embun pagi menguap terbakar terik. Sang malaikat setengah manusia tak peduli dengan itu semua, kerena dia merasa cukup mendapatkan secawan embun. Dia berlari cepat, mencoba untuk melompat, dan sedapat mungkin untuk melesat terbang. Lupakah dia? Bahwa dia tak lagi punya sayap? Justru tubuhnya terperosok jatuh, terhempas ke bumi, luka-luka mulai menjalar di sekujur tubuh. Sekarang dia tahu bagaimana rasanya sakit.

Cawan! Dia memikirkan cawan itu. Saat dia melompat dan akhirnya jatuh, cawan itu terlepas dari tangannya, tumpah membasahi hamparan rumput dan akhirnya ikut mengering terhisap pori tanah. Dia pungut cawan yang kosong melompong, tak setetes pun embun ada dalam kubangan cawannya. Di lihatnya sekeliling, matanya mencari-cari, tapi tak dia temukan embun di siang hari. Hatinya terpilin sedih, gelisah mulai menghantui, resah mulai menyelimuti dan gundah mulai membayangi. Sekarang dia tahu bagaimana rasanya kecewa.

Rasa sedih dan kecewa membuatnya ingin menangis. Matanya berkaca-kaca. Kaca itu memadat di pelupuk mata, jatuh di cawan dalam genggaman tangannya. Bulir kaca itu menggelinding di cekungan cawan. Seperti halnya embun, bulir airmatanya juga mengkristal menjadi kristal-kristal. Mata malaikat yang tadinya tersapu embun kesedihan, kini bersinar oleh rasa bahagia. Cawannya terisi kristal air mata dan dia akan menjualnya. Dia tak sadar bahwa dia telah ingkar. Embun yang seharusnya dia jual, bukan airmata. Sekarang dia tahu bagaimana rasanya berbohong.
Dia berjalan menuruni bukit rumput, mencari kota yang berpenghunikan manusia. Dengan segenggam cawan yang berisi air mata, dia mulai menjual butir-butir kristal di trotoar jalan bersama lapak-lapak kaki lima. Semua orang terpana melihat penampilannya, dialah sosok tertampan yang pernah tercipta. Orang-orang berkerumun untuk membeli kristal, dan juga  menatap pesona wajah malaikatnya. Semua pedagang merasa iri, diliputi dengki, tak bisa terima lahannya di kuasai seorang pendatang yang merebut simpati pembeli. Akhirnya si manusia setengah malaikat itu terusir dengan caci maki. Sekarang dia tahu bagaimana rasanya dipuja dan dihina.

Dia berjalan pergi, mencari tempat untuk menjual sisa-sisa air mata. Dalam perjalanan dia menjumpai seorang wanita rupawan. Dari jauh dia melihat wanita itu tampak memberikan minuman untuk anjing yang sekarat. Tahukah dia? Bahwa wanita yang dia saksikan itu adalah seorang jalang? Dia pun mendekat dan mencoba untuk bertegur sapa.
“Nona, betapa baik hati anda. Lihatlah anjing itu. Sekarang nampak bugar dengan pertolongan anda”. Suara manusia setengah malikat terdengar lembut, seketika menyentuh lubuk hati si wanita jalang.

“Oh tuan! Sungguhkah tuan memujiku? Tahukah tuan siapa diriku? Hanya kebaikan ini yang bisa kulakukan. Aku adalah seorang wanita pendosa, yang pantas dikutuk laknat. Banyak pria berhidung belang-belang telah menjamah tubuhku. Hanya demi sesuap nasi aku melepas harga diri. Semua wanita pastilah menginginkan dirinya dihormati martabatnya sebagai manusia yang berbudi yang sudi menjaga kesucian diri. Aku bukan wanita terhormat, tuan. Aku seorang kupu-kupu kelam yang terbenam dalam lumpur neraka bersama manusia pendosa”. Wanita itu menangis sesegukan, haru meliputi hatinya yang membiru sedih. Beginikah rasanya melihat pelacur yang dihantui dosa. Sekarang dia merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Sebuah cinta dari kesadaran jiwa. Raya iba yang membaur sayang, mengetuk-ngetuk sisi hati manusianya.

“Sudahlah nona, Tuhan kiranya maha pengampun. Bertobatlah! Kebaikanmu menolong anjing itu niscaya dibalas-Nya. Asal kau benar-benar merenungi dan mengubur masa lalumu sebagai wanita pendosa”. Wanita jalang itu menerima uluran tangan manusia setengah malaikat itu. Mereka jatuh cinta. Bukankah mereka terlarang untuk memadu kasih? Malaikat yang suci bercumbu dengan jalang yang kotor. Terlarangkah cinta mereka yang berbeda waktu dan dimensi? Apalah artinya tubuh fana manusia yang bagai cangkang lapuk?. Akhirnya terpuruk dan remuk termakan usia.
Setiap pagi mereka berdua mengumpulkan embun di padang bukit. Mereka sangat bahagia hingga cawan yang terisi selalu embun, dan bukan air mata. Bersama dalam kasih sayang, mereka menyulam hidup dengan warna-warni benang cinta. Mereka menjual embun yang mengkristal dalam cawan. Harta pun kian mengalir deras karena kesuksesannya sebagai saudagar kristal.

Waktu terus bergulir tiada henti. Wanita yang selama ini menemaninya akhirnya rapuh, peot, dan keriput. Dia tetap menjaga dan mencintainya. Tubuhnya benar-benar abadi dalam fiksi hidup yang terkesan fana bagi manusia. Tubuhnya tetap berkilau indah, tapi tubuh kekasih hatinya kian mengkerut.

“Kasihku, terima kasih kau telah menunjukkan jalan hidup padaku. Terima kasih kau telah menemaniku hingga uzur. Sekarang aku menyadari perbedaan kita, sayangku. Kau tercipta dari cahaya yang berbaur tanah. Sementara aku murni dari tanah, dan aku bukan ceceran tulang rusukmu yang menjelma menjadi wanitamu. Jasadku akan kembali ke tanah, terkubur dan koyak termakan cacing tanah.” Wanita tua itu tersenyum pada kekasih abadinya.

“Kenapa kau harus serapuh ini, sayangku. Belumlah cukup puluhan tahun aku hidup bersamamu. Lihat! Pipimu berkerut, kulitmu serasa luntur, dan wajahmu kian tak teratur. Aku tetap sudi mendampingimu”.

“Jangan menangis sayangku. Aku tahu takdir kita berbeda. Kau tetaplah makhluk abadi yang tak pernah rapuh. Hanya Tuhan yang sanggup mengambil jiwamu dari cangkang manusia setengah malaikatmu itu. Sudahlah! Jangan kau bersedih lagi. Bukankah kau selalu membisikan padaku bahwa tugasmu adalah menjual embun. Jangan kau ubah lagi dengan menjual air mata. Ingat! Embun akan segera mengering jika kau menangis. Jadi tetaplah tersenyum dalam jiwa syahdu malaikatmu. Selamat tinggal kasih terindahku. Lihatlah! Kawanmu telah berdiri di sana untuk membesut nyawaku. Diamlah di sini, tak ada malaikat maut yang bakal mengusik hidupmu, hanya aku yang hidup dalam fana yang akhirnya sirna. Aku telah menolong anjing itu, dan Tuhan mempertemukanku denganmu. Sungguh aku adalah wanita jalang yang mengharap surga. Kaulah surga yang selalu mengaliri hati dan jiwaku. Selamat tinggal kasihku”.
Tubuh wanita tua itu terkulai di ranjang dalam pelukannya. Air matanya mengalir dan menetes di cawan tak jauh dari pembaringan. Wanita itu telah lama menyertainya, menjual embun pagi bersamanya. Menikmati tetes-tetes embun yang dikumpulkan bersamanya. Sekarang tahulah dia, bahwa hidup manusia itu fana. Sadarlah dia, bahwa kebersamaannya akan menuai akhir. Benar! Dalam setiap keindahan pasti ada titik cobaan. Malaikat penjual embun   air mata yang sungguh merana.

Kini sayapnya tumbuh, beranjak untuk pergi meninggalkan hamparan bumi yang rapuh. Sekarang dia sadar bagaimana penderitaan, perasaan, dan kebahagiaan manusia itu juga rapuh. Terbang lah dia ke langit sambil menitikkan bulir air mata bersama petir dan selimut mendung yang menetes menjadi jarum-jarum hujan yang membasahi tanah bumi. Sekarang cukuplah ia menjual air matanya dalam derai hujan dan tetes embun di pagi buta. Sebagai kenangan sang kekasih yang tak abadi hidup bersamanya, tapi abadi dalam sebuah ikatan cinta. (***)

Rumah Batik Ramaikan Kampoeng Ramadhan

MEDAN- Meskipun tak lama lagi pelaksanaan kegiatan di Kampoeng Ramadhan akan segera berakhir, namun animo pengunjung dan pedagang di kawasan tersebut masih sangat tinggi.  Salah satu bentuk antusias tinggi yakni ditunjukkan stan rumah batik.

Tidak jauh berbeda dengan stan penjual lainnya, rumah batik bermotif tulisan milik Lia ini masih terus memamerkan produk batik dan tas olahan home industri di stan miliknya.

Bahkan menurut Dara, salah seorang pegawai stan mengatakan, minat beli pengunjung mendekati hari lebaran justru semakin tinggi. Yang mana bilang Dara, Kampoeng Ramadhan terlihat ramai saat menjelang berbuka puasa, bahkan keramaian semakin bertambah menjelang perayaan Idul Fitri.

“Lebaran ini pengunjung semakin ramai untuk memilih-milih  baju batik maupun produk tas kreatifitas yang kita tawarkan. Bahkan minat beli para pengunjung juga semakin tinggi,” ungkap Dara saat ditemui di stannya, Selasa (23/8) sore.

Sedangkan untuk produk batik yang ditawarkan, menurut Dara, seluruh aneka produk batik seperti dress, gamis, kemeja, kimono, dan lainnya langsung didatangkan sang pemilik dari kota asalnya yakni Jogjakarta.
Sedangkan untuk produk tas dengan beragam motif yang ditawarkan di rumah batik, sambung Dara, dibuat lewat kreatifitas tangan pemiliknya.

Untuk bisa memiliki produk batik di stan rumah batik milik Lia ini, dengan harga relatif murah, coba ditawarkan stan tersebut.

Yang mana untuk baju batik jenis dress, rumah batik membanderolnya dengan kisaran harga Rp50 ribu hingga Rp275 ribu per satuannya.

Sedangkan untuk jenis kimono ditawarkan dengan kisaran harga Rp200 ribu per satuannya. Untuk batik jenis kemeja, rumah batik membanderol harga Rp100 ribu, dan untuk batik jenis gamis dihargai Rp165 ribu hingga Rp200 ribu, per satuannya. (uma)

Giliran PT Askes Gelar Pasar Murah

MEDAN- Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1432 H serta untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok, Forum Komunikasi (FK) BUMN dan PT Askes (Persero) Regional I menggelar pasar murah, Selasa (23/8).

Menurut General Manager PT Askes Regional I Sumut-Aceh, Dr H Ikhsan MM, kegiatan pasar murah yang dilakukan itu sesuai dengan instruksi Menteri Negara BUMN Nomor: S-436/MBU/2011, tanggal 25 Juli 2011.
Sebagai salah satu BUMN, PT Askes (Persero) Regional I bekerjasama dengan FK BUMN diminta untuk ikut berpartisipasi membantu pemerintah dalam menstabilkan harga bahan pokok menjelang hari besar keagamaan, diantaranya dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1432 H.

Dijelaskannya, pasar murah yang digelar PT Askes dan FK BUMN menjual 500 paket  bahan pokok.
Dimana setiap paket itu 10 Kg beras, 2 kg gula putih dan 2 liter minyak goreng dengan jumlah seluruhnya 4 ton beras, gula putih  1 ton dan minyak goreng 1 ton.

“Pasar murah yang dilaksanakan oleh BUMN itu semua tergabung dalam FK BUMN Sumut dan diharapkan dapat membantu masyarakat ekonomi menengah ke bawah dalam meringankan beban mereka untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dan mencegah pedagang yang menaikkan harga semena-mena menyambut Idul Fitri,” ujarnya. (jon)

Pondok Permai Santuni Anak Yatim

SERGAI- Pengelola Pantai Pondok Permai Desa Kotapari, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, menyantuni 231 anak yatim di rumah makan Pantai Pondok Permai, Kamis (25/8).

Anak yatim yang disantuni itu berasal dari Desa Pantai Cermin Kanan, Kiri, Cilawan dan Kota Pari yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama dengan Muspika Pantai Cermin.

Pimpinan Pantai Pondok Permai, A Som mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan ini rutin setiap tahun di bulan Ramadan terutama menjelang lebaran. Ini merupakan bentuk kepedulian Pantai Pondok Permai terhadap warga sekitar Pantai Cermin khususnya terhadap anak yatim dan kaum dhuafa.

“Kegiatan sosial menyantuni anak yatim sudah menjadi agenda tahunan. Begitu juga dengan pembagian Sembako terhadap kaum dhuafa atau  fakir miskin yang akan dilaksanakan lusa mendatang,” ungkap Asom sembari berharap kepada anak yatim piatu dan kaum dhuafa agar mendoakan dan mendukung  usaha obyek wisatanya, sebab keberhasilan memajukan obyek wisata tidak terlepas dari dukungan baik moral maupun moril warga Pantai Cermin.

Sementara itu, Kades Kota Pari, Supriadi mengatakan, kegiataan ini merupakan upaya membangun kerukunan antar umat beragama. Meski  berbeda, namun kerukunan antar umat tetap ada dan perbedaan ini menjadikan kita semakin kuat. “Kegiatan ini merupakan suatu kebajikan yang bermanfaat. Kebajikan itu sangat beradab dan marilah kita tanamkan kebajikan, sehingga hidup kita semakin bermanfaat,” bilang  Kades.

Kades Celawan Suriani mewakili orangtua anak yatim piatu, mengucapkan banyak terima kasih kepada pimpinan Pantai Pondok Permai  yang telah memberikan santuna.(mag-3)

Berkah Ramadan dengan Cita Kasih Sayang

MEDAN- Keluarga besar Sekolah Tinggi Manajemen Ilmu Komputer (STMIK) Kaputama Binjai menggelar buka puasa bersama dengan masyarakat sekitar lingkungan kampus dan anak yatim piatu.

Selain itu, acara juga disertai dengan pemberian bingkisan dan tali asih kepada puluhan anak yatim piatu pendopo Umar Baki Binjai.

Sebelum buka puasa dimulai, Ustadz Safri Andy MAg memberikan tausyiah dengan tema keberkahan Ramadan dalam membentuk Jalinan Cinta dan Kasih Sayang. “Di bulan Ramadan ini, manusia yang lemah tak luput dari kebohongan dan kealpaan. Dengan hikmah Ramadan akan dapat meninggalkan sifat keangkuhan tersebut ,” katanya.
Ketua STMIK Kaputama, Devi Yendrianof mengatakan buka puasa bersama ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi antara Keluarga Besar STMIK Kaputama dengan masyarakat sekitar sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap anak yatim piatu.

“Semoga kebersamaan dan jalinan tali silaturahmi dan kepedulian sosial yang telah terjalin selama Ramadan hendaklah tetap terjaga,”harapnya.

Hal senada juga disampaikan pembina Yayasan STMIK, Parlindungan Purba. Dia menyatakan bahwa pentingnya kepedulian terhadap sesama. Dimana, Parlindungan juga sedang mengusahakan agar Anak-anak Yatim Piatu yang ada di Sumatera Utara dapat dibantu untuk pembuatan Akte Kelahiran Gratis. “Dalam waktu dekat ini juga, STMIK Kaputama akan mengurus izin pendirian S2 bagi mahasiswa di Binjai dan sekitarnya,” ucapnya. (adl)

Banjir Rendam Bandar Utama

TEBING TINGGI- Wali Kota Tebing Tinggi Ir Umar Zunaidi Hasibuhan bersama Kepala Kesbang Linmas dan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja meninjau banjir di Kelurahan Bandar Utama, Kecamatan Tebing Tinggi Kota, Kota Tebing Tinggi, yang melanda Kamis (25/8) malam  sekira pukul  21. 00 WIB, di dua lingkungan.

Paginya, usai debit air sungai surut, Wali Kota memerintahkan Camat dan Lurah setempat untuk memetakan kawasan yang terkena banjir serta mendirikan tenda bagi para pengungsi. (mag-3)

Terdakwa Sunat Anggaran Rp58 Juta

Sidang Korupsi Pembangunan MCK Sekolah Dasar

MEDAN- Diduga menggelapkan dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp58 juta, mantan kepala sekolah Dasar Negeri 101730 Muara Upu, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan, Ali Imron Siregar (44), harus duduk di kursi pesakitan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Medan, Jumat (26/8).

Sidang perdana dengan agenda mendengarkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Padang Sidimpuan Yudha Utama Putra SH dan Ketua Majelis Hakim Achmad Guntur SH, mendakwa Ali Imron Siregar dengan telah melakukan tindak pidana korupsi hingga merugikan keuangan negera.

“Terdakwa terbukti bersalah karena melakukan pekerjaan tidak sesuai dalam RAB (Rencana Anggaran Biaya) sebesar Rp240 juta,” kata JPU dalam dakwaannya.

Korupsi yang dilakukan terdakwa, sambung JPU, meliputi, pekerjaan pembangunan 2 unit ruangan kelas dan satu  unit MCK di SDN 101730 Muara Upu.
“Dalam pengerjaan proyek pembangunan ruang kelas dan MCK ini, terdakwa mengerjakan proyek tidak sesuai bestek. Dalam hal ini, negera dirugikan sebesar Rp58 juta,” tegas jaksa.

“Atas perbuatan terdakwa, dikenakan pasal primair dan subsidair pasal 2 ayat 1, pasal 3 jo pasal 18 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan UU No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi,” dakwa jaksa.

Dalam persidangan perdana itu, Ketua Majelis Hakim Achmad Guntur SH, menanyakan pada terdakwa Ali Imron Siregar mengapa tidak menggunakan penasehat hukum? Ali Imron Siregar mengatakan, dia tidak sanggup membayar pengacara. (rud)

Usai Hujan, Webber Tercepat

SPA FRANCORCHAMPS – Mayoritas sesi latihan bebas kedua GP Belgia kembali diwarnai hujan. Akibatnya, balapan terpaksa dijeda sebentar, namun disaat hujan berhenti Mark Webber jadi pembalap tercepat di sesi latihan bebas kedua di Sirkuit Spa Francorchamps, Jumat (26/8).

Hujan deras yang mengguyur deras di sesi pertama berlanjut, membuat tidak banyak aksi yang tersaji.
Hujan sempat mereda sehingga memancing beberapa pembalap kembali terjun ke lintasan. Di saat itulah, Webber mencatat waktu 1 menit 50,321 detik yang belakangan tidak bisa disusul pembalap lain.
Setelah Webber mencatat waktu tersebut, hujan kembali mengguyur. Meski para pembalap masih mencoba mengasah catatan waktunya, tidak ada satu pun yang bisa melampaui torehan Webber.

Berada di belakang Webber adalah Fernando Alonso. Pembalap Ferrari itu membukukan waktu terbaik 1 menit 50,461 detik. Pembalap McLaren Jenson Button mengekor di posisi ketiga dengan waktu 1 menit 50,770 detik.

Sebelumnya pada latihan bebas pertama Michael Schumacher tampil sebagai yang tercepat. Pembalap 41 tahun itu pun memulai dengan baik dengan jadi yang terbaik di sesi ini dengan catatan waktu 1 menit 54,355 detik dari 13 lap yang dilaluinya.(net/jpnn)

Pemko Tebing Tinggi Buka Puasa dengan Wartawan

Jadi Jembatan Umat dengan Umaroh

TEBING TINGGI- Wali Kota Tebing Tinggi, Ir Umar Zunaidi Hasibuan MM berbuka puasa bersama puluhan wartawan yang bertugas di Pemerintah Kota Tebing Tinggi di Gedung Hj Syawiyah Nasution, Jalan Sutomo, Kota Tebing Tinggi, Rabu (24/8) malam.

Turut hadir, Wakil Wali Kota Irham Taufik dan penceramah Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Tebing Tinggi, Drs Ahmad Dalil Harahap. Sebelum datangnya waktu berbuka, Wali Kota Umar Zunaidi Hasibuan mengatakan bahwa tugas dan fungsi wartawan yang bertugas di Pemko Tebing Tinggi membantu rangkain informasi, opini dan menyebarkan informasi ditengah-tengah masyarakat.

Dikatakannya, bahwa sebagai wartawan (jurnalistik) harus mampu menjungjung tinggi kode etik jurnalis dan harus bertindak secara prefosional. “Wartawan harus bekerja secara keilmuan dan keahlian yang dimilikinya dan yang disampaikan harusnya dibarengi dengan barang bukti yang kuat dan akurat, jangan berita itu bersifat fitnah, karena tulisan itu lebih tajam dari pada pedang,” papar Umar Zunaidi dihadapan puluhan wartawan.

Sambungnya, didalam bekerja, wartawan harus memiliki kode etik dan etika dan dalam bekerja mengutamakan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat dari pada kepentingan golongan atau pribadi. “ Informasi yang diberikan hendaknya bukan saja untuk membangun, tetapi jika ada yang salah dilakukan Pemerintah, wartawan berhak mengkretisinya,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota Tebing Tinggi sempat memuji Surat Kabar dengan Oplah terbanyak didunia yaitu Jawa Pos yang keluar sebagai peringkat pertama di dunia melampaui surat kabar di Jepang, Amerika dan Negara eropa lainnya. “Kita patut berbangga kepada Jawa Pos surat kabar yang bisa mengharumkan nama bangsa Indonesia, keberhasilan itu dikarenakan  Jawa Pos dipimpin oleh orang-orang muda yang mau maju dan bekerja keras,” kata Umar Zunaidi Hasibuan.

Sementara Ketua MUI Kota Tebing Tinggi, Drs Ahmad Dalili Harahap sebagai penceramah dalam tausiahnya menyampaikan bahwa wartawan itu harus menyampaikan berita itu kalau itu memang benar dan jangan sampaikan berita itu kalau tidak benar. “Wartawan juga bisa dikatakan sebagai penjembatan antara umat dan umaroh,” cetus Ahmad Dalil.

Disinggung juga mengenai masih adanya warga yang memamaki petasan (mercon) sementara pihak petugas sudah melarang itu. Untuk rumah-rumah makan yang masih buka di siang hari, hendaknya jangan berjualan dan dibolehkan berjualan menjelang waktu berbuka puasa atapun menutup dagangannya. “Untuk warung internet hendaklah dibuka malam hari,” harap Ketua MUI, Ahmad Dalil Harahap.(mag-3)