23 C
Medan
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 14823

Mobil Wahyuni Ditemukan Dekat Kandang Ayam

Dititipkan Pria Bernama Andi dan Wanita Bernama Leni

LUBUK PAKAM-Mobil Kijang Innova warna hitam BK 1356 JH (diubah menjadi BK 1738 KM) milik Wahyuni Simangunsong, karyawan BRI Syariah, Jalan S Parman yang tewas dibunuh, ditemukan di dekat kandang ayam Dusun Tungkusan, Desa Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Deli Sedang, Selasa (9/8) siang.

Informasi yang dihimpun, penemuan mobil itu atas laporan warga bernama Indra (28), yang bertugas menjaga kandang ayam di Dusun Tungkusan, Desa Tadugan Raga. Menurut Indra, sebelumnya Kamis (4/8) seorang laki-laki yang mengaku bernama Andi membawa mobil Kijang Innova tersebut bersama temannya seorang wanita bernama Leni. Leni mengendarai sepeda motor Yamaha Vega warna biru.

Lantas keduanya dengan alasan kaca spion kendaraan pecah dan takut ditilang di tengah jalan maka menitipkan mobil itu kepada Indra yang bertugas menjaga kandang ayam.

“Kami tolonglah mobil ini dititip selama dua hari,” bilang Indra menirukan ucapan pria yang mengaku bernama Andi. Setelah menitipkan kendaran tersebut, keduanya langsung pergi berboncengan dengan menggunakan sepeda motor Yamaha Vega yang nopolnya belum diketahui. Karena  jadwal yang disepakati telah lewat sehari, Indra bersama pemilik peternakan melaporkan ke Mapolsek Telun Kenas, Minggu (7/8) sekitar pukul 21.00 WIB.

Selanjutnya, polisi mendatangi lokasi dan mencopot ban bagian depan Kijang Innova itu dengan tujuan mengantisipasi pemilik mengambil mobil tersebut, setelah dilakukan penyelidikan terhadap pemilik kendaran itu dengan berkordinasi dengan Poldasu, Polres Deli Serdang dan Polrestas Medan. Tiga orang penyidik Ditreskrim Poldasu kemudian mendatangi lokasi serta mencek rangka mobil. Dipastikan mobil itu milik Wahyuni Simangonsung yang ditemukan tewas mengenaskan di Samosir dengan nomor rangka kendaran HFXS42G682512649.

“Mobil itu ditemukan warga dipinggir jalan dekat kandang ayam daerah Mapolsek Telun Kenas,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sumut Kombes Pol Raden Heru Prakoso diruang kerjanya, kemarin (9/8).

Karena timbul kecurigaan itu, maka orang tersebut melaporkan ke Polsek setempat yang kemudian meneruskannya ke Polres Deli Serdang, yang kemudian ditindaklanjuti oleh jajaran Reskrimum Polda Sumut dan Polresta Medan untuk menuju lokasi penemuan.

“Mobil itu menyerupai milik korban, sekarang masih dilakukan pencocokan nomor mobil di Ditlantas dan diperiksa di Polresta Medan. Sebab, saat ditemukan, nomor polisinya berbeda dan ditemukan dalam keadaan terkunci,” ungkap Heru.

Ketika ditanya, apakah ditemukan petunjuk untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan warga Perumahan Waikiki Blok E VIII No 13 Medan Sunggal tersebut, Heru belum bisa memastikannya. Sebab, proses identifikasi kenderaan masih berlangsung.

Heru menuturkan, sejauh ini pemeriksaan terhadap saksi-saksi masih berjumlah 8 orang. Dan akan bertambah dua, dimana dua orang yang menemukan mobil Kijang Inova tersebut.

“Meluruskan dari pemberitaan yang ada, sejauh ini setelah saya konfirmasi dengan jajaran Polresta Medan, saksi yang diperiksa berjumlah 8 orang. Dan dua orang yang menemukan mobil itu juga akan dimintai keterangan sebagai saksi juga,” ungkapnya.

Ke 8 saksi tersebut antara lain, Rosiana (adik korban dan pelapor), Ani Sabah (rekan kerja korban), Briptu Al Fatah (ajudan Wakapolresta Medan yang komunikasi dengan korban saat akan ditilang polisi), Eben Nezer Naibaho (bengkel langganan korban memperbaiki sepeda motornya), Anissa (sepupu korban), Khainidar Lubis (ibu kandung korban), Dedy Syahputra dan Agus Purba (saksi yang melihat mobil korban berada di Tanah Karo).

“Saksi-saksi ini terangkai dalam komunikasi, sebelum korban dinyatakan hilang hingga tewas mengenaskan,” paparnya.
Dibeberkannya, orang yang terakhir berkomunikasi dengan korban adalah ajudan Wakapolresta Medan yakni, Briptu Al Fatah. Dan yang bersangkutan telah diperiksa sebagai saksi. Saat ditanya hubungan Briptu Al Fatah dengan korban, Heru menjawab, keduanya sebatas pertemanan.

Kemudian, Heru juga membantah, adanya keterlibatan seorang Polwan dari Satlantas Polresta Medan yang dikatakan sebagai yang menilang mobil yang dikendarai korban.

“Jadi, itu bukan Polwan. Saat korban ditilang, korban langsung menghubungi ajudan Wakapolresta Medan untuk minta bantuan. Akhirnya, korban hanya mendapat teguran. Dari keterangan Briptu Al Fatah yang sempat menghubungi nomor ponsel yang mengaku polisi itu, ternyata katanya dari Ditlantas Polda Sumut. Jadi bukan dari Satlantas Polresta Medan. Saat ini juga tengah ditelusuri, apakah polisi yang menilang itu benar seorang polisi atau polisi gadungan, dan apakah benar bertugas di Ditlantas Polda Sumut. Saat ditilang itu juga, korban tidak menjelaskan lokasinya,” terangnya.
Sementara itu, Kasubdit III/Umum Polda Sumut Kompol Andry Setiawan yang dikonfirmasi Sumut Pos menyatakan, personelnya yang turun langsung ke lapangan guna mengecek keberadaan mobil yang diduga milik Wahyuni Simangunsong berjumlah 6 orang, serta ada juga tim dari Polresta Medan dan Wakapolresta Medan AKBP Pranyoto Sik.
“Tim kita berjumlah 6 orang, dan ada juga tim dari Polresta Medan. Wakapolresta Medan juga langsung turun ke TKP,” bebernya.

Kemudian, Kompol Andry Setiawan yang dikonfirmasi apakah benar pelaku diduga berkeliaran di Medan, tidak secara spesifik membenarkan hal itu. “Mudah-mudahan seperti itu. Dan saat ini kita terus melakukan pengejaran,” jawabnya singkat.(ari/btr/uma)

Ditangkap Mau Beli Buka Puasa

Paspor Syarifuddin Dibawa Kurir

MEDAN-Muhammad Nazarrudin sampai melarikan diri ke Cartagena, Kolombia ternyata menggunakan paspor atas nama Syarifudin, yang merupakan warga Kota Medan yang berdomisili di Jalan Garu 1 Gang Jadi No 7, Kelurahan Siti Rejo 1, Kecamatan Medan Amplas.

Syarifuddin berhasil ditangkap personel Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Sumut di Jalan Al Falah SM Raja Medan ketika hendak mencari menu berbuka puasa.

“Dia kita tangkap di Jalan Al Falah saat mau beli bukaan. Penangkapan tersebut berdasarkan penyalahgunaan paspor untuk orang lain, dengan pasal yang disangkakan Pasal 266 KUHP,” ungkap Kanit I VC Polda Sumut, Kompol Saptono.
Apakah Syarifuddin akan diserahkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)? Mengenai hal itu, Saptono mengatakan, diserahkan atau tidaknya Syarifuddin ke KPK tergantung dari keputusan pimpinan dalam hal ini Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro.

“Itu tergantung keputusan dari pimpinan, apakah nanti diserahkan ke KPK atau tidak,” jawabnya.
Saat ditegaskan, apakah paspor milik Syarifuddin tersebut benar dipinjamkan kepada Nazaruddin atau tidak, Saptono menegaskan, berdasarkan pengakuan Syarifuddin, paspor miliknya itu hilang sejak 16 Juni 2011 lalu di tempat tinggalnya di Jalan Garu I Gang Jati No 7 Kecamatan Medan Amplas.

“Dari pengakuan Syarifuddin, paspornya hilang. Dan dia (Syarifuddin, Red) mengaku tidak mengetahui kenapa paspor tersebut bisa jatuh ditangan Nazaruddin sebagai alat untuk pergi keluar negeri. Dan Syarifuddin langsung ditahan malam ini,” terangnya.

Hal tersebut juga dibenarkan Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro yang dikonfirmasi wartawan di Mapolda Sumut Pos mengatakan, paspor milik Syarifuddin hilang di rumah pamannya Yunus Rasyid di Jalan Garu I Gang Jati No 7 Kecamatan Medan Amplas.

Penegasan itu dikemukakan Kapolda Sumut setelah Syarifuddin melapor ke Kapolda Sumut di ruangannya, usai ditangkap personel Reskrimum Polda Sumut.

“Syarifuddin datang ke Polda melaporkan kehilangan paspor, yang di simpan di rumahnya,” ungkap Kapolda Sumut.
Sementara itu, Syarifuddin yang tengah diperiksa penyidik Reskrimum Polda Sumut mengakui, paspor tersebut adalah miliknya.

“Benar, saya memiliki paspor atas nama saya sendiri Syarifuddin lahir di Bangun tanggal 1 November 1983 yang dibuat di Kantor Imigrasi Polonia Medan pada Tanggal 15 Juni 2008,” akunya.

Saat ditanya penyidik Reskrimum Polda Sumut apakah paspor tersebut sudah pernah digunakannya, kapan, untuk keberangkatan kemana serta berapa lama, Syarifuddin mengaku, paspor tersebut telah digunakannya untuk keberangkatan ke Malaysia dan ke Singapura.

“Saya jelaskan bahwa saya sudah sering menggunakan paspor tersebut, untuk keperluan berangkat ke Negara Malaysia dan Singapura. Saya tidak dapat menjelaskan, tanggal berapa saja saya menggunakannya,” bilangnya.
Saat ditanya terakhir kali dirinya menggunakan paspor tersebut, Syarifuddin kembali menyatakan, paspor itu digunakannya saat berangkat ke Malaysia dan Singapura.

Syarifuddin sendiri, juga telah menerima surat panggilan dari Kantor Imigrasi Klas 1 Polonia Medan tertanggal 9 Agustus 2011, dengan No Surat W2.F2.GR.02.01-1930, dengan dasar pemanggilan 1. Pasal 106 huruf I UU No 6 tahun 2011 tentang keimigrasian, guna dimintai keterangan yang diperlukan sehubungan paspor yang diterbitkan pada Kantor Imigrasi Klas 1 Polonia Medan pada Tanggal 16 Juni 2011 yang berlaku sampai 16 Juni 2013. Surat tersebut ditandatangani oleh Kepala Kantor Imigrasi, Drs Lilik Bambang L.

Syarifuddin tinggal di rumah mewah berwarna cokelat bersama keluarga pamannya, Yunus Rasyid yang merupakan mantan anggota DPRD Medan dari PPP yang menjabat selama dua periode dari tahun 1999-2004 dan 2004-2009.
“Dia tinggal bersama pamannya (Yunus Rasyid, Red), sejak kuliah di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Tapi kita tidak tahu dia bekerja dimana. Karena setahu kami, dia sering keluar kota. Tahunya, ada berita katanya paspor Nazaruddin pakai namanya (Syafruddin),” ungkap Lurah Harjosari 1 Kecamatan Medan Amplas Rojob Hasibuan yang dikonfirmasi Sumut Pos, Selasa (9/8).

Dijelaskannya, karena kesibukan dari Syarifuddin yang sering keluar kota, membuat dirinya jarang bergaul dengan warga sekitar. Sementara paman Syarifuddin, Yunus Rasyid merupakan seorang sosok tokoh masyarakat dan sekaligus pemuka agama di kelurahan itu.”Karena sibuk itu, jadi warga juga tidak terlalu kenal dengan Syarifuddin. Kalau pamannya (Yunus Rasyid, Red) di sini sebagai ustad,” tambahnya.

Pantauan Sumut Pos di kediaman Yunus Rasyid tampak sepi. Terlihat seorang pembantu rumah tangga yang melihat-lihat ke luar pagar, dimana para wartawan yang menunggu untuk mengkonfirmasi mengenai berita tersebut. “Tadi yang nampak cuma pembantunya, yang lainnya nggak kelihatan,” cetusnya.

Kepala Divisi Imigrasi Kanwil Kepkumham Sumut, Bambang Widodo membenarkan bahwa paspor yang digunakan Nazaruddin dibuat di Kantor Imigrasi Polonia Medan di Jalan Wajir Medan.

”Berdasarkan keterangan dari staf saya bahwa pospor yang digunakan M Nazaruddin paspor milik orang lain atas nama Syarifuddin,” beber Bambang Widodo, Selasa (9/8).

Dari hasil penelusuran, sambung Widodo, bahwa alamat dan pekerjaan Syarifuddin di dalam paspor berstatus seorang tenaga pengajar di perguruan tinggi (dosen) yang beralamat di Medan.

‘’ Dari data base yang tertera di komputer milik Keimigrasian Polonia Medan, bahwa paspor Syarifuddin dibuat sejak 15 Juli 2008. Dari foto yang tertera di dalam buku paspor 48 halaman itu ada kemiripan antara wajah Nazaruddin dengan Syarifuddin,” ucapnya.

Atas kemiripan itulah, sambung Widodo, Nazaruddin memanfaatkan paspor itu untuk bisa beterbangan ke beberapa negera setelah ditetapkan sebagai DPO. Ketika disinggung apakah paspor yang digunakan oleh Nazaruddin asli? Widodo belum mau menjabarkan.

‘’Kita belum tahu paspor itu asli atau palsu karena belum melihat sendiri paspor itu masih dipegang oleh interpol,” tegasnya.

Bambang Widodo mengaku, paspor milik Syafaruddin dikirim melalui seorang kurir ke luar negeri di lokasi Nazaruddin bersembunyi. “Jadi paspor yang digunakan Nazaruddin saat berangkat keluar negeri pada 22 Mei 2011 bukan atas nama Syarifuddin,” tegas Bambang Widodo.

Namun ketika disinggung atas nama siapa dan dari mana Nazaruddin berangkat, Bambang Widodo mengaku masih melakukan penyelidikan. Syarifuddin juga bakal terkena sanksi pidana karena telah menyalahgunakan kepemilikan paspor dan menyembunyikan pelaku korupsi dari kejaran aparat hukum.

Sementara Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Patrialis Akbar mengakau, Syarifuddin adalah sepupu dari Nazaruddin. Berdasar data dari Direktorat Jendral Imigrasi, Syarifuddin adalah keluarga yang tinggal di Jalan Garu 1, Nomor 7, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Medan Amplas, Medan.
Dia menjelaskan jika paspor yang digunakan Nazaruddin asli. Menjadi kontrovesi lantaran Syarifuddin menyerahkannya ke Nazaruddin. “Informasinya mereka bersaudara,” ujarnya di Kemenkum HAM Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Pusat.

Patrialis menduga kalau Syarifuddin memang memberikan paspornya kepada Nazaruddin. Oleh sebab itu, dia menegaskan tidak ada oknum dalam kepemilikan paspor. “Kenapa bisa pindah tangan, itu urusan dia,” terangnya.
Terpisah, Direktorat Jendral Imigrasi melalui Kabag Humas Maryoto Sumadi membenarkan ucapan Patrialis. Dia menegaskan bahwa paspor atas nama Syarifuddin tersebut legal. Dibuat secara resmi juga melalui proses yang benar. Oleh sebab itu, dia tidak ingin ada sebutan paspor illegal lagi.

“Saya tegaskan, bahwa paspor itu asli milik Syarifuddin,” tegas Maryoto diruangannya kemarin. Dia juga memastikan jika dibuatnya paspor itu pada 2008 silam bukanlah hal yang aneh. Menurutnya, tahun itu tidak ada situasi politik yang membuat Syarifuddin harus membuat paspor. “Berkas pengajuan juga lengkap,” ungkapnya.
Disamping itu, dia juga menegaskan jika pihaknya sama sekali tidak kecolongan dengan leluasanya Nazaruddin ke luar negeri. Alasannya, Nazaruddin meninggalkan Indonesia dengan paspornya sendiri. Kalaupun setelah itu Nazaruddin bisa melenggang kemana-mana, tidak ada hubungannya dengan imigrasi Indonesia. “Apalagi, dia pakai paspor orang lain,” jelasnya.

Imigrasi sendiri, lanjut Maryoto, juga tersinggung dengan sikap Syarifuddin yang mudah memindahtangankan buku paspor. Dia menyebut apa yang dilakukan sepupu Nazaruddin tersebut bakal diperkarakan secara pidana. Alasannya, melanggar UU nomor 6 tahun 2011 tentang keimigrasian. Pelaku terancam hukuman penjara hingga lima tahun.
Nah, terungkapnya penggunaan paspor orang lain itu juga bisa menambah panjang daftar kesalahan Nazaruddin.

Sebab, di Pasal 130 UU yang sama mengancam setiap orang yang dengan sengaja menguasai Dokumen Keimigrasian milik orang lain. Ancamannya, pidana penjara paling lama dua tahun dan atau denda paling banyak Rp 200 juta.
Disinggung mengenai track record perjalanan Syarifuddin, Maryoto menjelaskan jika dia memang pernah ke Singapura. Tepatnya pada 18 Juni lalu melalui pelabuhan di Batam. Dari catatan Imigrasi, Syarifuddin berada di Singapura hingga 27 Juni. “Dia keluar dan masuk dari tempat yang sama yakni pelabuhan Batam,” terangnya.

Nah, bisa jadi Syarifuddin dan Nazaruddin bisa bertemu di Singapura. Sebab, Nazaruddin sendiri sudah berada di negeri tersebut sejak Mei. Terkait bagaimana paspor tersebut bisa sampai ke Nazaruddin padahal paspor digunakan untuk pulang, Maryoto menyebut bisa dilakukan dengan banyak cara.

Diantaranya, menitipkan paspor tersebut melalui orang lain yang sengaja berangkat ke Singapura dan bertemu Nazaruddin. Kalau tidak, cara termudah adalah mengirimkan paspor tersebut melalui ekspedisi pengiriman barang. Masih gelapnya pola itu diharapkan bisa pecah setelah Syarifuddin ditemukan. (ari/rud/jon/dim/kuh/jpnn)

Rajut Nasib dengan Kelapa Sawit

Gerak Aktif Haji Anif di Madina (2)

Sejatinya ada yang berbeda saat memperhatikan warga Tabuyung Kecamatan Muara Batang Gadis, Mandailing Natal dan sekitarnya. Dengan geografis desa yang tepat di pinggir laut, kehidupan nelayan cenderung kurang ramai. Di beberapa tempat malah terlihat warga yang baru pulang sehabis bekerja di perkebunan sawit. Berikut lanjutan tulisan wartawan Sumut Pos, Ramadhan Batubara dari Madina.

Usut punya usut, ini tak lain pengaruh dari kehadiran pengusaha nasional, Haji Anif. Ya, kehadiran Haji Anif di Tabuyung dan beberapa desa yang berada di Kecamatan Muara Batang Gadis tak lepas dari komoditas tersebut. Setidaknya, mata pencarian warga yang sebelumnya cenderung terpaku pada hasil laut pun mulai berubah.
Satu demi satu mulai warga yang ada di kecamatan tersebut mulai beralih ke kelapa sawit akibat laut mulai kurang bisa diandalkan. Pasalnya, selain harga bahan bakar yang tidak stabil, teknologi yang mereka miliki tidak bisa melawan nelayan modern.

Begitulah, dengan memilih empat desa di Kecamatan Muara Batang Gadis, PT Anugerah Langkat Makmur (ALAM) telah membangun kebun plasma sejak 2005 lalu. Jumlah petani yang terangkul dalam program ini mencapai 1.211 Kepala Keluarga (KK). Menariknya, di daerah ini Haji Anif memberikan tiga hektar kebun kelapa sawit per petani. Jadi, total lahan yang terpakai hampir mencapai 4.000 hektar. “Belakangan saya baru tahu kalau perusahaan saya adalah yang pertama kali di Indonesia menerapkan PIR (Perkebunan Inti Rakyat, Red) kelapa sawit dengan luas kebun plasma tiga hektar per KK,” kekeh Haji Anif sembari menceritakan kebiasaan perusahaan lain yang memberikan dua hektar untuk program tersebut.

“Saya menyadari, dengan minimal tiga hektarlah petani bisa nyaman menjalani hidup. Menurut hitungan saya, dengan lahan seluas itu, dalam masa tanam 8 tahun, petani akan mendapat penghasilan 5 hingga 10 juta per bulan,” sambungnya.

Maka, tidak berlebihan jika pada “Konfrensi 100 Tahun Industri Sawit Indonesia” beberapa waktu lalu di Medan, Haji Anif terpilih sebagai salah satu pembicara pada sesi Corporate Social Responbility. Selain Haji Anif, pembicara lainnya adalah Haposan Panjaitan (PT Asian Agri) dan Joko Supriyono (PT Astra Argo Lestari). “Saya mulai pada 1982, di Desa Sekoci, Besitang (Kabupaten Langkat, Red). Tidak luas, hanya 7,8 hektar. Memang, saat itu belum begitu banyak yang membuka kebun sawit. Setelah itu berkembang hingga dipercayai mengelolah PIR lokal,” kenang bapak dari sembilan anak itu.

Terlepas dari itu, kini petani swadaya tersebut telah menjadikan ladang sawitnya yang seluas 7,8 hektar itu menjadi 18.000 hektar di Madina saja, belum termasuk yang berada di Kabupaten Langkat. Nama perusahaan pun ia bentuk, selain PT ALAM, sebelumnya lebih dulu tercatat PT Anugerah Sawindo (ASI). “Saya dulu miskin sekali. Tapi begitulah, miskin membuat orang jadi berani. Gigih. Siap bekerja apa saja. Karena itu saya terus bekerja. Saya tidak mau menjadi orang yang dibenci Allah yakni orang miskin yang sombong,” jelas lelaki gaek bertubuh besar itu.

Lalu, Haji Anif bercerita tentang pengalamannya dengan warga Madina, tentunya di Kecamatan Muara Batang Gadis. Katanya, ada beberapa KK yang menolak untuk diberikan tiga hektar kebun sawit. Padahal, mereka sehari-harinya melaut dengan hasil yang tidak tentu. “Jika ingin maju, mental kita yang harus diperbaiki. Mereka nelayan dan terus mau jadi nelayan. Diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang malah menolak,” jelas pengusaha yang juga bergerak di bidang properti itu.

Kini seiring waktu, Haji Anif memang cenderung berada di belakang memegang kendali perkebunan. Kegiatan sehari-hari dibebankan kepada anaknya, Musa Rajekshah dan Musa Idishah. Sekali-kali Haji Anif mengunjungi perkebunan di Madina sembari menyalurkan hobinya memancing di kawasan Pantai Barat Sumatera yang indah.
Selain itu, kegiatan Haji Anif cenderung lebih terfokus pada kegiatan sosial melalui dua yayasan yang telah dibentuknya yakni,Yayasan Haji Anif dan Yayasan Anugerah Pendidikan Indonesia (YAPI). Anak-anak berprestasi diberikannya beasiswa dari jenjang terendah hingga jenjang tertinggi. Yayasan inipun membentuk beberapa program demi kemajuan masyarakat seperti Unit Sekolah Formal, Unit Sekolah Lifeskill, Unit Pembangunan Masjid, Unit Pemeliharaan Masjid, dan Unit Bantuan Sosial Kemasyarakatan.

Menariknya, di Madina, Haji Anif malah memberikan sekolah yang dibangunnya kepada masyarakat. “Saya juga akan membangun perguruan tinggi, fokusnya pada Islam dan pertanian. Di perguruan tinggi ini nanti anak-anak tak mampu kita gratiskan. Pembangunannya kami rencanakan tahun depan,” kata Haji Anif.

Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Madina dipastikan akan mendapat perhatian lebih dari Haji Anif dalam beberapa waktu ke depan. Pasalnya, di desa yang sempat dihajar tsunami Aceh dan Nias tempo hari itu akan dibangun sebuah masjid raya. “Ya, tanahnya milik masyarakat, saya yang membiayai pembangunan dan operasionalnya. Selain itu, dalam waktu dekat, jika Allah mengizinkan, kami juga akan membangun rumah sakit di sini,” urai Haji Anif.

Sebelumnya, Ayah dari sembilan anak ini pun telah memberikan satu unit ambulans untuk kepentingan warga di Kecamatan Muara Batang Gadis dan sekitar. Ambulans itulah yang terus bolak-balik mengantarkan warga yang sakit ke Penyabungan, bahkan sampai ke Medan.

“Tidak hanya pekerja PT ALAM saja yang kami layani, warga sekitar juga,” terang Ruslan Effendi, sang sopir.
Benar saja, Minggu pagi (31/8) lalu, tiba-tiba Ruslan mengemudikan ambulans ke arah Singkuang dengan cepat. Jarak Salasiak –kediaman Haji Anif—ke Singkuang (ibu kota Kecamatan Muara Batang Gadis) sekira 20 kilometer. Tak sampai setengah jam, ambulans itu kembali lagi, melintasi rumah Haji Anif. Meninggalkan debu beterbangan. “Bawa orang tertimpa pohon Bang,” ungkap Ruslan sore harinya kepada Sumut Pos.

Orang yang dimaksud Ruslan tak lain warga Sikara-kara. Suami istri – korban tertimpa pohon – adalah pekerja PT Madina Agro Lestari (MAL), perkebunan sawit tetangga PT ALAM. “Ya, kami siap mengantar siapa saja, Bang. Sebelum ada ambulans ini, kasihan warga. Bayangkan saja, Bang, untuk mengangkat mayat ongkosnya sampai lima juta,” terang lelaki berambul ikal ini. (bersambung)

Petinggi BNI Jalan Pemuda Jadi Tersangka

MEDAN-Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) sudah menetapkan Kepala Kantor Wilayah Bank BNI 46 Jalan Pemuda Medan, Drs R menjadi tersangka, dalam kasus dugaan penyimpangan penyaluran kredit di PT BNI Wilayah Medan sebesar Rp129 miliar.

“Kita sudah menetapkan beberapa orang tersangka diantaranya Kepala Kantor Wilayah BNI 46, Drs R Cs,” kata Kasi Penyidikan Pidsus Kejatisu, Jufri kepada wartawan di ruang kerjanya, kemarin (9/8).

Jufri mengatakan R Cs bakal dijerat dengan pasal berlapis Undang-undang tindak pidana korupsi. “Dia (R Cs, Red) dijerat dengan pasal 2,3 dan Pasal 9 UU RI nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi,”ujarnya.
Jufri menceritakan, terungkapnya kasus penyimpangan kredit di Bank BNI 46.

tersebut berdasarkan informasi masyarakat, dimana disebutkan adanya permohonan pencairan dana oleh PT Bahari Dwi Kencana (BDK) yang bergerak dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit pada 8 November 2010 silam kepada PT BNI 46 Cabang Medan sebesar Rp133 miliar.

Dijelaskannya, meski pemohon telah melampirkan persyaratan kredit berupa laporan keuangan perusahaan, laporan apresial atau juru taksir dan laporan lainnya, namun penyidik menduga proses dan izin kelengkapan perusahaan tidak benar. Namun begitu, permohonan tersebut tetap diproses di Sentra Kredit Menengah (SKM) BNI 46  Wilayah Medan.
Selanjutnya, BNI Wilayah Medan mengeluarkan memorandum analisa kredit (MAK), pada MAK tersebut menyebutkan bahwa permohonan pinjaman wajar dipertimbangkan, maka tahap berikutnya, permohonan peminjaman dikirim BNI Pusat di Jakarta. Kemudian BNI Pusat menyetujui permohonan kredit sebesar Rp129 miliar dari pengajuan semula sebesar Rp133 miliar.

“Pencairan yang dilakukan oleh Bank BNI 46 kepada PT BDK telah telah melanggar   standart operasional prosedur (SOP) bank terkait pencairan dana tersebut,” bebernya.

Sementara Bank Indonesia (BI) mengaku bukan kesalahan bank.  “Kalau diperhatikan, kasus ini bukan dari kesalahan bank, tetapi pelaporan yang lain, saya juga belum dapat menginformasikan yang lain,” ujar Kepala Bidang Pengawas Bank Bank Indonesia, Indra Yuheri.

Indra mengatakan, kasus ini sudah masuk ke ranah hukum, tapi kasus ini tidak dapat dikatakan sebagai kesalahan standar operasional prosedur (SOP).

Sementara itu, Pemimpin Kelompok Pengembangan Bisnis dan Layanan BNI Kanwil Medan Sutarman mengatakan, masalah tersebut sudah ditangani Divisi Komunikasi Perusahaan, sehingga karyawan lain tidak tahu perkembangannya.
“Masalah ini sudah masuk ke pusat, dan kita memiliki Divisi Komunikasi Perusahaan yang paling berhak menjawab,” ujar Sutarman.

Menurut Sutarman, nantinya Divisi Komunikasi Perusahaan akan mengeluarkan jawaban terkait dengan masalah ini, hanya saja tidak diketahui kapan. “Akan ada jawaban dari pusat, tapi kita tidak tahu kapan, tunggu sajalah,” tutup Sutarman. (ris/mag-9/smg)

Cerita Penghargaan Hingga Safari Ramadan

Sahur Bersama Direktur Utama PT Perkebunan Sumut, Drs H Darwin Nasution SH

Pukul 03.00 WIB Tim Sahur Sumut Pos berangkat menuju rumah Direktur Utama PT Perkebunan Sumut yang berada di Jalan Jermal 11, Kecamatan Medan Denai ditemani Kabag Keuangan PT Perkebunan Sumut H Zahri.

Tomi Sanjaya Lubis, Medan

Lima belas menit kemudian Tim Sahur Sumut sudah tiba di rumah Darwin Nasution. Tim Sahur Sumut Pos pun langsung disambut oleh sekurti. “Dari Harian Sumut Pos yang mau meliput kegiatan sahur bapak ya bang. O, ya bang kata bapak langsung masuk aja bang ke dalam rumah,” bilang sekuriti itu.

Tim Sahur Sumut Pos masuk ke dalam rumah.Di depan taman rumah terlihat patung harimau dan kuda. “Assalamualaikum,” ucap Tim Sahur Sumut Pos. Sambil menjawab salam, Zahri pun mempersilakan Tim Sahur Sumut Pos masuk. Di dalam rumah Tim Sahur Sumut Pos dipersilakan duduk di sofa sambil menunggu prian
yang pernah menerima penghargaan Award CSR dari Menko Kesra Agung Laksono itu.

“Uda lama ya nunggu Adinda,” sapa H Darwin Nasution kepada Tim Sahur Sumut Pos.
Pria yang dinihari itu mengenakan baju koko warna putih dan kain sarung berwarna orange ngobrol dengan Tim Sahur Sumut Pos sembari menunggu waktunya santap sahur.

Darwin bercerita tentang Anugerah CSR Award 2011 yang mereka terima. Menurutnya, penghargaan itu memberikan spirit kepada jajaran PT Perkebunan Sumatera Utara sebagai salah satu badan usaha milik masyarakat Sumut terhadap lingkungan sekitarnya yang merupakan tanggungjawab sosial.
Dimana kepedulian tersebut diwujudkan dalam bentuk beasiswa kepada siswa-siswi berprestasi, bantuan keagamaan dan sumbangan bencana alam.

Menurutnya, bantuan yang sudah disalurkan oleh PT Perkebunan Sumatera Utara diantaranya membantu korban letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, gempa dan banjir bandang di Kabupaten Mandailing Natal, gempa di Propinsi Sumatera Barat, bantuan kepada fakir miskin dan anak yatim piatu di Pekan Dolok Masihul Kecamatan Dolok Masihul yang merupakan lintasan pengangkutan tandan buah segar (TBS) dari Kebun Sei Kari menuju ke PMKS di Tanjung Kasau. Kemudian, sambungnya, bantuan kepada fakir miskin dan anak yatim piatu di Kelurahan Laucih Kecamatan Medan Tuntungan yang merupakan domisili kantor Direksi PT Perkebunan Sumatera Utara yang beralamat di Jalan Jamin Ginting Km 13 Medan.

“Bantuan yang diberikan tersebut merupakan bentuk kepedulian pihak PT Perkebunan Sumut,” terang Darwin.
Pria yang pernah menjadi Kepala Sekolah Yayasan Sutini tersebut mengaku, di Bulan Ramadan 1432 Hijriyah ini PT Perkebunan Sumut mempunyai program Safari Ramadan keliling kebun mulai sahur bersama sampai buka puasa bersama.

“Dalam Safari Ramadan tersebut kita juga memberikan bantuan kepada fakir miskin,” bilang suami Endang itu.
Ayah empat anak masing-masing Eka Nugraha, Deni, Rizky dan Rendy mengaku mulai 12-15 Agustus 2011 nanti, Tim Safari Ramadan Perkebunan Sumut akan menuju Tanjung Kasau.

“Nah disini biasanya kalau yang dekat daerahnya kita hanya melakukan buka puasa saja. Namun, kalau daerahnya jauh, kita terpaksa menginap sembari makan sahur, lalu buka puasa bersama,” terang Pembina SSB Patriot itu.
Asyik bercerita istri Darwin, Endang mengajak makanan sahur yang telah disediakan di meja makan. Ada limpa rendang, tauco udang serta telur puyuh, ayam goreng, buah mangga.

“Makanan ini semua saya yang masak. Biasanya menu makan yang saya masak yang paling disukai bapak adalah limpa rendang,” bilang Endang.

Sembari santap sahur, Darwin melanjutkan cerita tentang pendidikan yang diterapkan kepada anak-anaknya. “Kalau saya lebih baik teman-teman anak saya datang main ke rumah. Ketimbang anak saya main keluar. Pasalnya, bila main keluar rumah anak-anak susah dikontrol,” terang Darwin.

“Selain itu setiap malam dan setiap saat saya selalu melakukan hubungan komunikasi yang harmonis pada anak-anak. Biasanya saya selalu menerapkan hubungan harmonis pada anak–anak saya saat malam hari. Yang paling penting saya tanamkan pada anak saya selalu menjalankan salat lima waktu,” kata Darwin.
Usai makan sahur dilanjutkan dengan melakukan salat subuh berjamaah di rumah Darwin. Saat melaksanakan salat subuh berjamaah Darwin bertindak sebagai imam. Lalu, setelah melaksanakan salat subuh, Tim Sahur Sumut Pos pun pamit pulang. (*)

Polda Sumut Janji Selidiki Dugaan Korupsi IAIN Sumut

MEDAN-Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumut berjanji akan menyelidiki kasus dugaan korupsi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara, senilai Rp72 miliar Tahun Anggaran (TA) 2010.
”Laporan itu akan kita tindaklanjuti guna dilakukan penyelidikan,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus) Polda Sumut Kombes Pol Sadono Budi Nugroho yang dikonfirmasi Sumut Pos, Selasa (9/8).

Sementara itu, Ketua LSM AMDHI Azmi Adli kepada Sumut Pos menegaskan, pihaknya serta Forum Mahasiswa Peduli IAIN Sumatera Utara (Formalin) terus melakukan pencarian data, guna memperkuat data dan berkas yang dilaporkan ke Ditreskrimsus Polda Sumut. “Kita juga mencari data, guna menelusuri adanya penyelewengan proyek-proyek yang ada di IAIN Sumut,” tegasnya.

Kasus ini sendiri sudah dilaporkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Angkatan Muda Advokasi Hukum Indonesia (AMDHI) dan Forum Mahasiswa Peduli IAIN Sumatera Utara (Formalin) ke Polda Sumut berdasarkan No Surat 008/LSM AMDHI/SU/08/2011 dengan hal laporan dugaan korupsi IAIN SU, Senin (8/8) lalu.

Dalam laporan tersebut, disinyalir adanya dugaan beberapa penyelewengan terhadap proyek-proyek di IAIN Sumatera Utara Tahun 2010 antara lain, Penyelenggaraan Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran senilai Rp1,4 miliar, Belanja Keperluan Perkantoran seperti pakaian supir, pakaian pesuruh dan pakaian satpam senilai Rp55 juta.
Perawatan Gedung Kantor senilai Rp140 juta, Operasional Perkantoran dan Pimpinan senilai Rp540.980.000, Pelayanan Publik atau Birokrasi senilai Rp3,1 miliar, Pendidikan dan Pelatihan Teknis senilai Rp971.150.000, Pelatihan di Institut senilai Rp342 juta, Pelatihan di Syariah senilai Rp136.800.000, Pelatihan di FD senilai Rp102.600.000, Pelatihan di FU senilai Rp102.600.000, Belanja Barang Non Operasional antara lain mengenai akreditasi jurnal, penerbitan buku ilmiah, tunjangan studi dan biaya hidup S2 serta tunjangan studi dan biaya hidup S3 senilai Rp478.400.000, Seminar di FT senilai Rp3 juta, Seminar di FS senilai Rp19.300.000, Akreditasi Prodi Fakultas senilai Rp104 juta, Belanja barang nonoperasional di Fakultas Syariah senilai Rp15 juta, Pengecatan pagar diduga fiktif, senilai Rp760 juta, Belanja sarana dan prasarana pendidikan dengan kode anggaran 3417 senilai Rp16 miliar diduga fiktif, Pengadaan buku pedoman praktikum senilai Rp150 juta yang ditengarai fiktif dan lain-lain.

Mengenai adanya dugaan korupsi terhadap pengadaan barang dan jasa senilai Rp72 miliyar dibantah oleh ketua pengadaan barang dan jasa periode 2011, Arman.

Arman mengaku dirinya yang baru tahun 2011 bertindak sebagai ketua panitia pengadaan barang dan jasa di IAIN telah melakukan pengadaan barang dan jasa sesuai prosedur yang berlaku.

Salah satu contoh, bilang Arman, untuk pengadaan buku, pada tahun dirinya menjabat sebagai ketua panitia, pengadaan buku belum sempat dilakukan karena ada keterlambatan dalam prosesnya.
“Karena keterlambatan itu IAIN bahkan mendapatkan pengurangan anggaran sepuluh persen dari anggaran yang diberikan kementrian. Sehingga untuk pengadaan  barang dan jasa lebih mengarah kepada hal yang prioritas,” sebut Arman yang sebagai dosen di Fakultas Syariah.

Selain itu, bilang Arman, dugaan korupsi yang menguap mencapai nilai Rp72 miliar merupakan nilai nominal yang sangat besar. Sementara nilai tersebut setara dengan nilai gaji semua dosen yang mengajar di IAIN.
“Kalau memang angka ini mencapai Rp72 miliar, pastinya dosen tidak mendapatkan gaji pada tahun ini. Tapi masalahnya bukan berapa nilainya, tapi malunya ini,” ungkap Arman.
Disinggung jika dirinya harus diperiksa, Arman mengaku siap jika harus menjalani pemeriksaan kapanpun diminta, mengingat dirinya merasa tidak pernah melakukan korupsi. (ari/uma)

Selalu Ngantuk

Nurul Izmi Zain

Nurul Izmi Zain selalu merasa ngantuk saat bulan puasa, walaupun terus melakukan berbagai kegiatan.

“Entah ni, setiap puasa pasti bawaan ngantuk terus, malas-malasan gitu,” ujar Nurul Izmi Zain. Siswi kelas 2 SMA Cerdas Murni yang biasa dipanggil Nurul ini selalu malas beraktifitas saat puasa. Penyebabnya karena kurang tidur.
“Kalau kita puasa kan kita harus bangun untuk sahur.

Nah inikan membuat jadwal tidur terganggu sehingga bawaannya jadi ngantuk terus,” ujar gadisn
yang lahir di Medan 29 Mei 1997 itu.

Menurut pemenang Jeans Competitions 2011 itu meskipun ngantuk tetapi kegiatan sekolah dan latihan di Kensington Creative tetap dijalaninya.

“Kalau tidak sekolah, bosan juga di rumah nggak ada teman ngobrol, semuanya pada sibuk dengan kegiatan masing-masing,” ujarnya.

Nurul yang mulai serius menjalani puasa sejak 2 tahun yang lalu ini merasa senang datangnya bulan puasa, karena dapat melakukan hal-hal yang biasanya jarang dilakukan saat bulan lain.
Ramadan, lanjutnya, juga memberikan makna tersendiri baginya salah satunya harus sabar.
“Orangtua aku bilang aku makin sabar dan lebih dewasa,” ujarnya. (mag-9)

525 Pemuda Ditangkap, 100 Didakwa

Rusuh Meluas ke Empat Kota di London

LONDON- Kerusuhan di London belum mereda. Bahkan, kerusuhan dan penjarahan semakin meluas ke empat kota lain di sekitar ibu kota. Yakni, Birmingham (166 km barat laut London), Bristol (172 km sebelah barat), Liverpool (290 km sebelah barat laut), dan Nottingham (177 km sebelah barat laut London).

Di sisi lain, setelah kerusuhan memasuki malam ketiga, korban tewas pertama mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit, Selasa (9/8). Korban jiwa kerusuhan yang dipicu kematian Mark Duggan di tangan Kepolisian Metro London (Scotland Yard) itu adalah seorang pria berusia 26 tahun.

Berdasarkan informasi, korban yang sudah beberapa hari dirawat di rumah sakit itu berasal dari Croydon, kawasan pinggiran London. Dia tewas akibat luka tembak. Ketika ditemukan tak berdaya di tengah kerusuhan, beberapa butir peluru bersarang di tubuhnya.

Bersamaan dengan itu, kerusuhan merembet ke pusat-pusat bisnis di Birmingham, Bristol, Liverpool, dan Nottingham. Ratusan warga yang sebagian besar adalah pemuda mengobrak-abrik pertokoan dan menjarah barang-barang berharga. Dalam pernyataan resminya, Kepolisian Metro London menyatakan kerusuhan di empat kota itu merupakan aksi peniruan (copycat) dari kerusuhan di Tottenham pada Sabtu malam lalu (6/8).
“Meluasnya kerusuhan ini tak bisa dibiarkan,” tegas Komandan Christine Jones dari Kepolisian Metro London.
Dia menyatakan, kerusuhan yang sudah melewati malam ketiga harus segera diakhiri. Sebanyak 16 ribu personel kepolisian sengaja dikerahkan ke ibu kota. Mereka bertugas mengamankan pusat bisnis dan tempat-tempat strategis di London.

Selain empat kota di sekitar ibu kota, bibit anarkisme terdeteksi di kota-kota seperti Kent dan Leeds. Tapi, menurut Jones, skalanya jauh lebih kecil dibandingkan aksi serupa di empat kota itu.
Sesuai instruksi Perdana Menteri (PM) David Cameron, polisi berjanji terus memburu para perusuh hingga tertangkap.
Hingga kemarin, polisi menangkap total sedikitnya 525 orang perusuh dan penjarah. Dari jumlah itu, lebih dari 100 orang dikenai dakwaan dan bakal diajukan ke meja hijau. Termasuk, seorang bocah berusia 11 tahun yang didakwa merampok dan tiga pemuda dijerat pasal pembunuhan.

“Seluruh sel tahanan di Scotland Yard penuh. Karena itu, kami mengambil kebijakan untuk menahan sementara para perusuh di kepolisian setempat,” terang Jones.

Selain di Tottenham, kantor polisi menjadi sasaran aksi anarkistis di beberapa kota lain. Tak terkecuali di Nottingham. Kantor polisi yang terletak di kawasan St. Ann menjadi sasaran amuk massa. Massa yang didominasi kaum muda itu membakar kantor polisi tersebut. Selain itu, massa mem bakar sedikitnya 200 ban di sepanjang jalan.
Aksi yang sama muncul di Distrik Peckham, kawasan tenggara London. Mereka membersihkan pusat bisnis yang rusak terparah. Puluhan relawan dadakan itu tergerak melakukan pembersihan setelah membaca seruan lewat situs jejaring sosial. Satu akun @Riotcleanup di Twitter.

Perdana Menteri (PM) David Cameron yang sedang liburan langsung menyudahi libur musim  panasnya di Italia. Kemarin (9/8), begitu tiba di London, tokoh 44 tahun itu langsung mengadakan rapat darurat bersama anggota kabinet. (afp/bbc/ap/hep/dwi/jpnn)

Libya Kekurangan Air, Warga Somalia tak Makan Sahur

TRIPOLI- Warga Libya yang tinggal di Tripoli makin kesulitan sepanjang bulan suci Ramadan. Pasalnya, hingga kini warga tak bisa menikmati listrik lantaran stok bensin di wilayah itu mulai menipis. Tak hanya itu, warga juga kekurangan air minum.

Sebagian besar warga Libya tak merasa kekurangan bahan pangan, karena persedian pangan selama bulan Ramadan sudah cukup. Hanya saja, semua bahan pangan yang dikumpulkan itu menjadi sia-sia lantaran
pasokan listrik terhenti. “Makanan yang disimpan itu tidak bisa bertahan lama,  jadi busuk,” ucap Ahmad warga Tripoli dikutip dari ABNA, Selasa (9/8).

Sebelumnya, warga sudah menyampaikan keluhan terkait kekurangan bensin. Bahkan, prediksi warga semakin benar imbas dari kelangkaan bensin itu berdampak kepada krisis listrik dan air makin berkurang di Libya. “Sejak masuknya Ramadan, kami berbuka puasa dengan lilin. Kami tidak dapat menyalakan kulkas karena kekurangan pasokan listrik,” ujarnya.

Di pedesaan Janzur, Khaled  (20)  menyebutkan warga Tripoli tak dapat pasokan air akibat listrik mati.
Sementara itu, seorang ibu di Somalia tetap menjalankan ibadah puasa meski tubuhnya lemah. Apa yang dialami ibu itu juga dilakoni warga Somalia lainnya di pengungsian.
Seorang Imam masjid di Mogadishu Sheikh Ali mengungkapkan rasa cemasnya karena banyak warga Somalia tidak dapat berpuasa lantaran terlalu lemah  “Kami sudah minta umat Muslim agar membantu warga Somalia yang kelaparan. Warga Muslim tak boleh diam melihat ini,” ujarnya. (bbs/jpnn)

Yingluck: Saya Bekerja untuk Rakyat Thailand

BANGKOK – Sensitifnya suhu politik di Thailand tak membuat Perdana Menteri (PM) Thailand, Yingluck Shi nawatra mengeluh. Melainkan, wanita ber usia 44 tahun itu siap bekerja ekstra untuk seluruh lapisan warga. Bahkan, dia berjanji tak akan bekerja untuk satu kelompok saja.

“Saya tak akan bekerja untuk satu kelompok tertentu, melainkan kerja saya untuk satu negara dan seluruh rakyat Thailand,” tegas Yingluck seperti dikutip The Nation, Selasa (9/8).

PM berparas cantik itu mengaku menjadi perdana menteri perempuan tentunya dihadapkan pada tantangan yang berat. Tapi, hal itu bukanlah sesuatu yang menjadi halangan. Karena bekerja untuk seluruh masyarakat adalah komitmen sejak awal maju sebagai PM Thailand.

Tak hanya itu, adik mantan PM Thaksin Shinawatra itu mengakui dirinya memimpin dengan memadukan kekuatan dengan kelembutan serta bersedia mendengarkan keluhan rakyat. “Karena mendengarkan keluhan rakyat bisa lebih kuat,” sebutnya.

PM Thai land ini mendapatkan dukungan dari Kerajaan Thailand, menilai kelembutannya akan membantu dalam memecahkan masalah yang terjadi di Thailand.
Yingluck diusung Partai Puea Thai, menjadi calon kuat karena partainya tersebut menguasai 60 persen kursi Parlemen Thailand.

Dia dianggap bisa membawa kebijakan-kenijakan yang diusung kakaknya Thaksin Shinawatra saat berkuasa. (bbs/jpnn)