32 C
Medan
Sunday, April 12, 2026
Home Blog Page 14888

Bandara dan Stasiun KA Dipadati Penumpang

MEDAN- Menjelang datangnya bulan puasa Ramadan, arus kedatangan penumpang di terminal kedatangan domestik Bandara Polonia Medan sangat padat, Sabtu (30/7). Padatnya jumlah penumpang, dikarenakan banyaknya warga Medan yang berdomisili di luar Pulau Sumatera yang pulang untuk melaksanakan ibadah puasa perdana bersama keluarga di Medan.

Jumlah penumpang dari berbagai maskapai penerbangan tujuan domestik full seat (penuh kursi). Mulai dari Lion Air rute Jakarta-Medan, Surabaya-Jakarta-Medan, Batam-Medan dan lainnya. Begitu juga pesawat Sriwijaya Air dan Batavia Air serta Garuda Indonesia tujuan domestik. Jumlah penumpang pesawat domestik tersebut mencapai lebih dari seratusan penumpang.

Padatnya arus penumpang tak cuma terjadi di Bandara Polonia Medan. Stasiun Besar Kereta Api Medan juga dipenuhi penumpang yang ingin melaksanakan ibadah puasa perdana di kampung halamannya. “Saya tidak ingin, puasa pertama saya bersama keluarga menjadi terganggu. Saya pilih berangkat sekarang, karena itu momen yang paling terindah,” kata Juni (29), warga Rantauprapat.(jon)

Anak Polisi Jambret PNS

MEDAN- Abang beradik, Niko (22) dan Jimmi (18), warga Jalan Krakatau Ujung, Medan Timur, nekad menjambret karena tak punya uang untuk malam minggu. Sialnya, aksi kedua anak personel Sat Narkoba Polresta Medan berinisial Aiptu Sg ini gagal, karena sepeda motor Ninja yang mereka gunakan untuk menjambret mogok di tengah jalan. Tak pelak, keduanya pun dipukuli warga hingga babak belur sebelum diserahkan ke kantor polisi.

Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (30/7) sore pukul 16.00 WIB. Saat itu, korban Nurma Boru Pane (45), warga Pasar IV Marelan yang merupakan PNS di Depag Labuhan Deli mengendarai sepeda motor menuju Plaza Medan Fair di Jalan Gatot Subroto. Saat melintas di Jalan Geraja, Medan Barat, dia diikuti Niko dan Jimmi yang saat itu mengendarai sepeda motor Ninja warna hitam BK 2521 ABM.

Tepat di simpang tiga menuju Jalan Sekip, atau sebelum rel kereta api, Niko langsung memepetkan sepeda motor Nurma. Tanpa dikomando, Jimmi langsung merampas tas sandang Nurma. Takut terjatuh, Nurma pun melepaskan tasnya sembari menjerit minta tolong.

Mendengar teriakan itu, Niko tancap gas. Namun sial, setelah melewati rel kereta api di Jalan Sekip, sepeda motor yang mereka dikenadari mogok karena kehabisan minyak. Untuk menghindari kejaran Nurma, mereka memarkirkan sepeda motornya di pinggir jalan dan bersembunyi.

Ternyata, Nurma mengenali sepeda motor kedua abang beradik ini. Begitu melihat sepeda motor itu, Nurma berteriak minta tolong. Warga yang mendengar teriakan itu berdatangan dan menangkap Niko dan Jimmi. (mag-7)

Daging Kambing Rp80 Ribu per Kilo

MEDAN- Dua hari sebelum Ramadan, harga sejumlah bahan pokok melonjak. Seperti daging kambing, yang biasanya Rp72 ribu per kilogram naik menjadi Rp80 ribu per kilogram. Sedangkan daging lembu, yang biasanya Rp70 ribu naik menjadi Rp75 ribu per kilogram.

“Memang menjelang Bulan Ramadhan ini, semua bahan pokok seperti daging kambing dan daging lembu naik,” kata Adek, penjual daging kambing di Pusat Pasar Medan, Sabtu (30/7). Menurutnya, kenaikan harga daging kambing ini dikarenakan susahnya mendapatkan daging kambing dari Rumah Potong Hewan (RPH).

“Tapi biasanya, setelah memasuki bulan Ramadan, harga daging kambing mulai normal. Namun menjelang lebaran, harganya akan naik lagi,” ungkap Adek.

Sementara, Agung, penjual daging lembu di kios Oyong MH Pusat Pasar mengatakan, harga daging lembu mengalami kenaikan harga sebesar Rp5 ribu, dari Rp70 ribu per kilogram menjadi Rp75 ribu per kilogram. “Selain karena banyaknya permintaan daging jelang Ramadan ini, kenaikan harga daging lembu ini, biasanya dari tokenya,” kata Agus. Dia juga mengungkapkan, biasanya harga daging lembu akan kembali normal setelah memasuki hari kelima Ramadan.

Kenaikan harga juga terjadi pada sayur mayur. Seperti wortel dari Rp7 ribu naik menjadi Rp10 ribu per kilogram. Bawang merah naik dari Rp12 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram, tomat masih normal yakni Rp4 ribu per kilogram.(omi)

Belajar Kuat dari Ibu

Sejak kecil, Suti Masniari Nasution, Analis Muda Senior Kantor Bank Indonesia Medan ini diajarkan untuk mandiri dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

alaupun berasal dari keluarga yang cukup berada, tetapi  ibu dua anak ini mengaku tak manja, bahkan sang ibu yang single parents saat itu, mengajarkan dirinya dan adiknya untuk tetap kuat dalam mengarungi hidup. “Ibu mengajarkan kami agar tidak manja dan cengeng meski sebagai perempuan. Tapi harus kuat menghadapi semua masalah,” ujarnya.
Sang ibu yang single parents menjadi inspirasinya dalam menjalani hidup, bahkan dari sang ibulah dirinya belajar banyak tentang semua hal, termasuk sikap demokratis. “Ayah saya meninggal saat saya masih kecil, ibu bekerja bating tulang untuk saya dan adik, bahkan ibu bagi kami merangkap sebagai ayah yang penuh tanggungjawab kepada anak-anaknya,”kata wanita lulusan Universitas Sumatera Utara ini.

Dari sang ibu, katanya, ia belajar kuat dan tidak takut menghadapai masalah. Karena itulah, saat dirinya berusia 16 tahun, ia mendapat beasiswa belajar ke Jerman dilepas sang ibu dengan sabar. “Ibu saya sangat kuat, dirinya tidak pernah menunjukkan kesedihan di depan saya ketika melepas saya pergi menuntut ilmu. Ibu hanya berpesan agar saya belajar dengan baik dan menjaga diri,” kenang wanita kelahiran Februari 1972 silam ini.

Semangat untuk kuat menjalani hidup yang ditanamkan ibunya, membuat dirinya tak pernah menyerah dan cengeng untuk mengarungi hidupnya. Makanya, ketika dirinya memutuskan berpisah/bercerai dari suami yang berprofesi sebagai seorang dokter, ia tak cengeng. “Kami berpisah baik-baik, pola pikir dan gaya hidup yang akhirnya mebuat saya mengambil keputusan untuk berpisah,” ujar ibu dari M Bayu Kreshna dan M Teguh Satria ini.

Sejak memutuskan untuk berpisah, Suti hanya konsentrasi terhadap dua buah hatinya serta pekerjaannya. “Untuk saat ini saya belum terpikirkan untuk menikah. Kosentrasi saya hanya untuk anak dan karier,” tambahnya.
Keputusan tersebut diambilnya karena dari pengalaman pribadi yang dirasakannya sejak kecil. “Menurut saya, anak yang tidak mendapatkan sosok ayah secara utuh, akan baik-baik saja. Ini seperti pengalaman saya dan adik saya kala itu yang tumbuh besar tanpa didampingi sosok ayah,” paparnya.

Status janda yang disandangnya tidak membuat dirinya terpuruk, melainkan membuatnya lebih memaknai arti hidup. Walaupun dirinya menyadari, status yang disandangnya masih dianggap tak sedap di mata masyarakat. “Ini cobaan yang harus saya jalani, tapi saya tidak takut. Cukup dengan bersikap yang positif dan berbuat positif sehingga tidak menimbulkan prasangka negatif orang lain,” kata dia.

Bicara soal meniti karir, Suti membangun karirnya di BI mulai dari nol. Padahal, sebelumnya ia bekerja di Departement Keuangan. Tapi mendengar BI membuka lowongan, dengan senang hati Suti melamar dan mengikuti ujian masuk di BI. “Padahal waktu itu saya berfikir konsekuensi yang saya terima sangat berat. Saya harus bersedia dipindah-pindah,” bilangnya.

Tetapi ternyata nasib berkata lain. Sejak menjadi karyawan di BI hingga saat ini dirinya tidak pernah pindah tugas dan menetap di Kota Medan.

Di BI Medan, Suti bekerja dibagian yang lebih perhatian pada Usaha Kecil Menengah (UKM) yang membuat dirinya harus sering berada di luar kota atau bahkan ke daerah pelosok. Tetapi semua itu bukan beban baginya, melainkan sebuah nikmat tertentu karena dapat melakukan sesuatu untuk membantu orang lain. “Itu lah enaknya menjadi seorang wanita bekerja. Kita selalu melakukan dengan hati, bicara dengan menggunakan hati sehingga lebih diterima orang lain,” ujarnya.

Menjadi wanita karier sekaligus single parents membuatnya harus pintar membagi waktu. Walaupun dalam mengurus keluarga kecilnya Suti dibantu oleh keluarga besarnya, tetapi dalam beberapa hal dirinya tetap memegang kendali. “Dalam hal makanan, walau bukan saya yang masak, tetapi resep dan cara masak harus dari saya, jadi anak-anak saya tidak kehilangan cita rasa masakan saya. Anak-anak bagi saya bisa membuat hidup saya berharga ,” pungkasnya. (juli rambe)

katanya.
Sebagai makhluk sosial, Suti juga memiliki lingkungan lain selain sebagai seorang ibu dan wanita karier. Wanita sosialita ini masih sering ngumpul dengan teman-temannya untuk menambah wawasan. “Dengan kumpul bersama teman bisa menambah wawasan saya dan mampu menciptakan suasana gembira,” pungkasnya. (juli rambe)

Perempuan Muda Umumnya Ingin Pria Kaya

Perempuan muda pada umumnya terpikat pada pria matang yang memiliki ambisi, kekuasaan, dan kekayaan. Namun perempuan yang telah matang kepribadian dan pengalamannya ternyata lebih memilih pria yang ramah dan dapat diandalkan, begitu menurut sebuah studi baru.

Penelitian yang dilakukan oleh situs parenting Netmums dan majalah Saga ini melibatkan 9.000 perempuan usia 16 hingga 75 tahun. Dari survei terlihat bahwa perempuan muda memang mudah tergoda dengan pria yang ambisius.
Lebih dari separuhnya mengakui bahwa mereka menginginkan pria yang mampu memanjakan mereka dengan barang-barang mahal, dan hampir seperempatnya mengatakan keinginannya untuk pasangan yang mampu menjabat posisi tinggi dalam kariernya.

Sebaliknya, dari survei terlihat juga bahwa lebih dari separuh perempuan yang lebih matang menginginkan pria yang dapat mengatasi kebutuhan emosional mereka.

“Menarik juga melihat apa yang dicari perempuan dari masing-masing generasi dalam sosok seorang pria. Perempuan muda tampaknya ingin mempunyai semuanya: tampang, uang, ambisi, dan kejujuran. Sementara perempuan yang lebih tua menghargai nilai-nilai yang lebih tradisional seperti kebaikan, humor, dan dapat diandalkan,” tutur Sibhoan Freegard dari Netmums.

Kalau begitu, coba Anda bayangkan, siapa yang seharusnya dipilih oleh Carrie Bradshaw: Aidan yang sensitif, atau Mr Big yang ambisius dan kaya?

Di samping perbedaan, ternyata ada persamaan kualitas yang diinginkan semua perempuan, tak peduli berapa usianya. Mereka sepakat bahwa chemistry secara seksual adalah salah satu faktor terpenting dalam hubungan.
Yang mengejutkan, perempuan usia 70-an ternyata lebih menghargainya ketimbang perempuan usia 40-an. Dugaan para peneliti, hal ini disebabkan keinginan perempuan untuk menomorsatukan keluarga sebelum anak-anak meninggalkan rumah saat dewasa nanti.

Sexual chemistry ini rupanya muncul kembali ketika perempuan memasuki usia 50-an, menunjukkan bahwa perempuan masih menghargai hal-hal yang membuat mereka dulu jatuh cinta dengan pasangan. (net/jpnn)

Pabrik Sepatu Terbakar, 17 Tewas

HAIPHONG- 17 Pekerja pabrik sepatu di Haiphong, Vietnam tewas terbakar. Mereka terjebak dalam pabrik saat api membakar habis pabrik itu.

Polisi Vietnam menjelaskan pabrik yang tidak dilengkapi izin tersebut, tidak memiliki pintu keluar darurat. Akibatnya saat api berkobar, para pegawai kesulitan keluar pabrik. Demikian ditulis AFP, Sabtu (30/7).

Kebakaran yang terjadi Jumat (29/8) sore ini bermula saat alat untuk menyatukan sol sepatu terbakar.
Api cepat membesar karena banyak bahan-bahan yang mudah terbakar di pabrik itu.

“Kami telah menahan 6 orang untuk dimintai keterangan,” ujar Kepala Polisi Distrik An Lao, Phan Xuan Lai kepada AFP.
Diketahui pabrik itu hanya memiliki satu buah pintu keluar yang sempit. Selain itu, lokasi pabrik berada di jalan yang sempit. Sehingga butuh waktu satu jam lebih untuk memadamkan api.

10 Orang korban diketahui adalah pekerja wanita. Termasuk dua adik pemilik pabrik sepatu yang merupakan warga Vietnam. “Empat korban meninggal di rumah sakit,” kata Phan.

Pabrik itu sendiri baru beroperasi sekitar 4 bulan. Ada 40 pekerja dalam pabrik sama sekali tidak dilengkapi alat pemadam kebakaran tersebut.(net/jpnn)

Gara-gara tak Diberi Komisi

Dua Pembantai Keluarga Polisi Diringkus

BANDUNG- Hanya kurang dari 12 jam, dua tersangka pembantaian keluarga Polisi dengan korban Apo (66), Lilis Liesyeti (64), dan Keisha (4), tertangkap, Sabtu (30/7) dini hari pukul 02.30 WIB.

Gabungan anggota Satreskrim Polres  Bandung dibantu Resmob Polda Metro Jaya, Polrestabes Bandung dan Dit Reskrim Polda Jabar menangkap dua tersangka di tempat yang berbeda.

Kedua tersangka adalah ADB (31), warga Sumedang yang berhasil ditangkap di Jati Raya, Cengkareng Timur, Jakarta, Sabtu (30/7) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB. Sedangkan tersangka lainnya Ja (36), yakni oknum TNI yang ditangkap di rumahnya, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (30/7).

Kapolres Bandung AKBP Sony Sonjaya membeberkan, tersangka ADB sebagai pelaksana pembunuhan yang hanya dilakukan sendirian. Sedangkan, aktor dibalik pembunuhan diatur Ja yang menata langkah ADB untuk membunuh para korban.

“Tersangka ADB  itu sebagai eksekutor yang membantai sendirian. Sedangkan  Ja yang mengajari ADB cara-cara membunuh,” ujar Sony kepada wartawan, di Mapolres Bandung, kemarin.

Motif pembunuhan yang dilakukan tersangka ADB, sebut Sony, karena sakit hati setelah dijanjikan akan diberi imbalan uang seusai membeli mobil baru. Namun, janji itu tidak ditepati korban.

Lantas, ADB ini saking dendamnya merencanakan pembunuhan dengan mengajak Ja. Nah, secara kebetulan dua tersangka itu sama-sama memiliki utang piutang secara pribadi sehingga mereka berinisiatif mencuri kendaraan Suzuki Karimun Estilo baru milik korban dengan plat nomor D 1273 LX dan tiga buah telepon genggam milik korban.
Sony mengungkapkan, tersangka ADB pertama kali bertemu  korban Apo saat keduannya berziarah ke Makam Jafar Umar Sidik di daerah Garut sekitar 3 bulan lalu. Dari pertemuan itulah ADB mulai sering menginap di rumah korban. Karena sudah akrab, Apo mengajak ADB untuk diantar membeli mobil baru.

“Sejak itulah, ADB mengenal korban lainnya di rumah korban di Banjaran.Tapi ketika dijanjikan akan diberi uang setelah membeli mobil malah tidak dipenuhi. Kesal karena ingkar janji, akhirnya ADB merencanakan pencurian disertai pembunuhan,” tandas Sony.

Sony menambahkan, pembunuhan itu dilakukan ADB Senin (25/7) ketika ADB bertamu ke rumah korban sekitar pukul 20.00 WIB dan sekaligus menginap. Tersangka juga sempat gelisah dan terbangun pada 01.00 WIB dan mondar-mandir ke toilet sambil berpikir akan mengurungkan niatnya untuk membunuh atau tidak.

Entah setan apa yang berbisik, ADB membulatkan tekad untuk membunuh. Karena ADB tidak mempersiapkan perlengkapan membunuh kemudian mencari senjata tajam yang ada di sekitar rumah korban. Dan menemukan sebilah golok dan martil di gudang rumah korban.

Lantas, ADB langsung menggorok leher Apo yang memang tengah tidur di ruang keluarga bersama tersangka. Setelah Apo tewas tanpa perlawanan, kemudian berlanjut menggorok istri Apo, Lilis dan cucunya Keisha di kamar tidur.
“Kondisi di kamar tidur menurut pengakuan tersangka tanpa penerangan, yang juga menghabisi Lilis dengan cara digorok. Tetapi Lilis terbangun sehingga membuat ADB panik yang kemudian secara membabi buta menyabet Lilis dengan golok hingga tewas,” tambahnya.

Karena pembantain itu gaduh membuat Keisha terbangun dan menjerit minta tolong. ABD pun tak tanggung-tangung langsung menggorok leher bocah berusia empat tahun itu hingga tewas. “Pembunuhan dilakukan Senin (29/7) sekitar pukul 02.00 WIB,” katanya singkat.

Setelah para korban tewas, lanjut Sony, tersangka ADB dengan santainya sempat membersihkan diri dengan mandi di rumah itu hingga keesokan harinya pada Selasa (26/7) dini hari sekitar pukul 05.00 WIB ADB ditelepon Ja yang sudah menunggu di depan rumah korban.

Tersangka Ja, memang tidak ikut melakukan pembunuhan. Tetapi, ikut juga dalam merencanakannya. Kemudian kendaraan itu, kata Sony, terjual dengan harga Rp76 juta di sebuah show room mobil di Jalan Buahbatu, Kota Bandung . Uang haram itu dibagi kepada Ja Rp38 juta, Rp2 juta untuk orang yang membantu mencarikan pembeli mobil dan ADB mendapatkan jatah Rp25 juta.
Kemudian ADB kabur ke Jakarta Barat tempat tinggal kakaknya. Sedangkan, Ja pulang ke rumahnya di KBB. Akibat perbuatannya itu, kedua tersangka dijerat Pasal 340 KUH Pidana, tentang pembunuhan berencana.(apt/jpnn)

Dan kedua tersangka terancam kurungan pidana 15 tahun penjara,” pungkas Sony
Sementara itu, Menurut pengakuan ADB dirinya mengenal Ja pada saat  melakukan ziarah di makam daerah Cicalengka Kabupaten Bandung. Disanalah ia dan Ja kemudian merencanakan pencurian disertai pembunuhan.
“Kami ini sama-sama terlilit hutang, sehingga kami merencanakan pencurian itu. Kemudian Ja mengajarkan saya cara untuk  membunuh,” ucap ADB.

Sedangkan, golok untuk menghabisi korban dibuangnya di Situ Ciburuy dan kemudian membakar baju yang dikenakan saat membunuh. “Kami juga sempat pergi Situ Ciburuy dan Garut untuk menghilangkan jejak. Kemudian, menjual mobil itu setelah dinilai aman,”akunya.

Ketiga korban sendiri, Sabtu (30/7) sekitar pukul 10.00 WIB dimakamkan di  TPU Astana Handap, di Desa Banjaran Wetan. Ratusan warga ikut menghadiri pemakaman ini. Dari pihak keluarga korban yang paling terpukul dengan kejadian ini adalah pasangan suami istri Wawan dan Weni, keduanya adalah orang tua dari Keisha yang turut dihabisi oleh Asep.

Wawan sendiri adalah anggota polisi yang bertugas di Kalimantan. Weni anak pasangan Apo dan Lilis lah yang menyuruh Agus (39) kerabatnya untuk mengecek keberaan ayah dan ibunya yang selama lima hari ini beberapa kali ditelepon tak menjawab.

Chandra Cs Dijegal Istana

JAKARTA- Dugaan bahwa Chandra M Hamzah, Ade Raharjda dan Johan Budi dijegal dalam seleksi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) semakin menguat. Bahkan kini muncul dugaan bahwa tidak lolosnya mereka dalam seleksi tersebut karena adanya campur tangan pihak istana kepresidenan.

“Sebenarnya, dalam rapat pansel diputuskan yang lolos adalah 20 nama. Termasuk Chandra, Ade dan Johan,” kata seorang sumber Jawa Pos (grup Sumut Pos) di kalangan pansel (panitia seleksi) pimpinan KPK kemarin (30/7). Tapi memang, sebelum dipilihnya 20 nama yang lolos uji makalah, ada perdebatan sengit di antara para anggota pansel. Terutama untuk membahas lolos tidaknya trio intern KPK itu.

Yang menjadi perdebatan adalah soal ocehan Nazaruddin yang menyebut-nyebut tiga orang tersebut pernah berhubungan dengan dirinya. Nah, karena kasus tersebut menjadi isu hangat hampir diseluruh pemberitaan media tanah air, pansel pun goyang. Tapi dalam rapat pleno, pansel sebenarnya memilih 20 nama. “Sayang pada detik-detik terakhir tiga nama itu dicoret,” ucapnya.

Pria yang mewanti-wanti namanya tidak dikorankan itu lalu menerangkan, beberapa saat sebelum pengumuman, Ketua Pansel Patrialis Akbar pergi meninggalkan kantornya untuk mengunjungi istana. “Informasinya tiga nama itu dicoret di sana (istana). Istana risih dengan berita-berita yang ada. Pansel pun akhirnya menerima,” imbuhnya.

Nah, hal lain yang menguatkan dugaan tersebut adalah, ketiga orang internal KPK tersebut memiliki nilai yang tinggi dalam ujian makalah. Chandra yang merupakan wakil ketua lembaga antikorupsi itu mendapat nilai tertinggi dari dua koleganya. Yakni urutan ke lima.  Sedangkan, Johan yang banyak dikenal sebagai juru bicara KPK menduduki peringkat ke sembilan. Ade juga tidak terlalu buruk lantaran dia mendapat ranking belasan.(kuh/fal/jpnn)

Di sana, Mereka Melawan Korupsi dengan Puasa

Oleh: Ramadhan Batubara

Ada yang mengenal Baba Ramdev? Pasti ada. Tapi, saya ingin mengangkat tokoh ini bagi yang sudah lupa (bisa saja ada yang sama sekali tidak tahu). Ceritanya, saya memilih tokoh ini sebagai sosok yang pas untuk awal puasa. Ya, setidaknya, gara-gara puasalah saya kenal namanya.

Begini, sejatinya tokoh kita ini bukan orang Indonesia (kan bisa dilihat dari namanya ya). Dia adalah seorang berwarga negara India. Awal bulan Juli lalu, dia melakukan puasa yang membuat saya terhenyak. Pasalnya, Baba Ramdev yang seorang yoga dan Pranayama agama Hindu di India ini melakukan aksi mogok makan massal yang diikuti oleh pengikut-pengikutnya. Aksi mogok itu dilakukan Baba ramdev untuk menentang perilaku korupsi pejabat-pejabat pemerintahan di India, tepatnya aksi itu dilakukan di Ibukota India, New Delhi.

Di pusat Kota New Delhi itu, Baba Ramdev bersama ribuan pengikutnya menjalankan aksi protes menentang menjamurnya korupsi di India. Pemerintahan India yang dimotori koalisi Partai Kongres ini sebenarnya sudah berusaha bernegosiasi dengan Ramdev yang menuntut pengembalian uang hasil korupsi di luar negeri dan hukuman mati untuk para pejabat korup. Pemerintah sebenarnya sudah menyepakati sejumlah tuntutan Ramdev namun sang guru yoga menyerukan agar aksi mogok makan terus dijalankan. Baba Ramdev menentang pemerintahan dengan jalan damai yaitu melakukan mogok makan, dan sangat tidak setuju dengan praktek-praktek korupsi yang menjamur di negaranya. “Ada kemarahan yang amat sangat di kalangan penduduk negeri ini. Mereka menginginkan tindakan segera,” begitu katanya kepada BBC.

Nah, seakan ada benang merah dengan negeri kita ini, saya memang langsung teringat dengan beliau ketika akan menuliskan lantun. Pertama, karena besok adalah awal puasa dan kedua, soal korupsi di Indonesia juga parah. Terlepas aksi damai yang dilaksanakan Baba Ramdev dan pengikutnya, saya berpikir jika saja negeri ini mau memakai momen puasa dengan baik, tentunya soal korupsi bisa sedikit terpecahkan. Maksud saya begini, Indonesia kan negara yang memiliki penganut agama Islam paling banyak sedunia. Nah, bulan puasa adalah masa bagi penganut Islam untuk menahan diri dari segala hal yang menyesatkan. Hm, bukankah itu cukup menyambung.

Bukan maksud untuk mengatakan kalau yang korupsi di negeri ini adalah penganut Islam, namun dari persentasi jumlah warga, tentunya akan tercipta sebuah kondisi yang sangat menyenangkan di bulan Ramadan ini. Masing-masing manusia yang hidup di Indonesia menahan diri dari segala kegiatan yang mengarah ke duniawi (baca, korupsi).
Fiuh, untuk korupsi, seandainya Badan Pusat Statistik mau menghitung pengurangan nilai uang yang dikorupsi saat puasa, pasti nilainya sangat mencengangkan. Begini, anggaplah ada sepuluh juta warga Indonesia yang korupsi lima ratus rupiah per harinya. Maka nilai korupsi yang berkurang selama Ramadan adalah lima belas miliar rupiah kan? Rumusnya begini: lima ratus dikalikan sepuluh juta lalu dikalikan lagi dengan 30 jumlah hari selama Ramadan. Ayolah, itu kan bukan angka yang sedikit.

Hm, kalau mau kita jujur, mungkinkah ada yang korupsi sebatas lima ratus rupiah? Dan, benarkah hanya sepuluh juta orang dari 200 juta lebih manusia yang melakukan tindak korupsi di negeri ini?

Tapi sudahlah, soal puasa memang menarik untuk dibahas. Namanya puasa kan berarti menahan diri, lucunya kadang kita lupa dengan itu. Menjelang puasa kita malah sibuk mengobral nafsu. Maka, bukan sesuatu yang dibuat-buat jika harga melonjak. Ya, para pedagang tentunya paham, kita akan membeli apapun untuk bekal saat puasa kan? “Sahur kan jadi tak paten kalau cuma makan mie instan?” begitu kata teman istri saya.

“Kita kan tidak makan seharian, jadi asupan makanan harus mantap,” tambahnya pula.

Ah, sudahlah, soal puasa memang akan menjadi sebuah stimulan yang menarik untuk melakukan kebenaran. Setidaknya Baba Ramdev melakukan hal itu ketika negaranya sudah tak bisa lagi mengontrol tindak korupsi. Indonesia yang tidak memiliki Baba Ramdev bukan berarti tidak bisa melakukan aksi melawan korupsi. Bukankah Indonesia yang memiliki warga terbanyak sebagai penganut Islam akan menghadapi bulan Ramadan. Ya, sebulan penuh berpuasa. Jadi, jika mau bijak, Indonesia sejatinya tidak butuh orang semacam Baba Ramdev. Indonesia hanya butuh warganya (dari segala agama) untuk memahami, memaknai, dan menghormati arti bulan puasa itu. Jika tahap itu sudah sampai, bukan sekadar 15 miliar saja yang berhasil diselamatkan. Maka, soal kisruh KPK, politisi yang tersangkut korupsi, dan apapun itu tak akan mewarnai media. Ujung-ujungnya, presiden pun tidak menyalahkan media lagi.

Tiba-tiba, muncul pula pikiran saya yang lain. Ya, soal puasa, bukankah hal itu urusan manusia dengan Tuhannya? Jadi, hukuman ketika seorang manusia bersalah itu berada di tangan Tuhan. Berarti, manusia bejat yang ingkar pada Tuhan, tetap saja bisa melakukan kejahatan kan? Jika begitu, bulan puasa pun hanya menjadi basa-basi baginya. Dia tetap saja korupsi. Dan, akan sangat menyenangkan baginya ketika orang lain tidak korupsi karena bagian dari kue itu akan menjadi miliknya seorang.

Wah, kalau memang ada orang semacam itu, Indonesia harus bagaimana? Atau memang sudah ada? (*)

Polri Yakin Interpol Segera Pulangkan Nazaruddin

JAKARTA- Mabes Polri sudah mengirimkan data pendukung untuk membantu proses identifikasi terhadap orang yang diduga M Nazaruddin. Orang itu sekarang dalam kondisi “terkunci” di sebuah negara yang masih dirahasiakan oleh Polri.
Data yang dikirim Kamis (28/07) lalu itu diharapkan bisa membantu Interpol melakukan tindakan cepat untuk memulangkan mantan bendahara umum Partai Demokrat itu.

“Semua ingin agar secepatnya. Supaya bisa jelas semuanya,” ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam saat dihubungi kemarin. Mantan Kapolda Jatim itu menegaskan tidak ada tenggat waktu atau deadline untuk membawa Nazaruddin pulang.

“Seperti yang disampaikan Kabareskrim, posisinya sudah terdeteksi, tinggal cari cara untuk bawa (pulang),” katanya.
Mengapa negara lokasi Nazaruddin tidak dirilis – “Dia nanti  tahu dong,” jawab Anton.  Bukankah dengan disebut di media Nazar juga tahu kalau posisinya terlacak – “Ya, itu strategi kami di kepolisian. Doakan saja ,” katanya.

Jumat (29/07) lalu, Kabareskrim Irjen Sutarman mengklaim tiga tim Polri sudah mengepung orang yang diduga Nazaruddin di suatu negara. Namun, karena kendala yuridiksi hukum internasional, polisi tidak bisa langsung menangkapnya. Mereka menunggu otoritas keamanan setempat dan Interpol membekuk Nazaruddin.

Informasi yang dikumpulkan koran ini, sejak presiden SBY memerintahkan agar  Nazaruddin ditangkap pada 3 Juli 2011, tim pemburu sudah dibentuk. Salah satu anggotanya adalah Brigjen M Iriawan yang dulu sukses membawa Gayus Tambunan pulang ke Indonesia. (JP 4 Juli 2011).

Tim ini juga didukung oleh Imigrasi dan Departemen Luar Negeri. Mereka bertugas menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk memulangkan Nazar dan melobi otoritas negara lain.(rdl/jpnn)