27 C
Medan
Tuesday, April 14, 2026
Home Blog Page 14968

Kenaikan Harga Itu Biasa

Antisipasi Ramadan dan Lebaran, Stok Daging Sapi Ditambah

Menjelang Ramadan, pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dipastikan akan menambah stok sapi sebanyak 59.442 ton sapi. Stok ini disediakan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi Sumut menjelang Bulan Puasa dan Lebaran.

Kabar ini diketahui pada acara Pemasaran Ternak Sapi di Sumut yang diselenggarakan di Kantor BI Medan, Rabu, (13/7). “Sesuai dengan permintaan masyarakat, sapi yang distok untuk lebaran dan puasa kita tambah 10 persen,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Medan, Wahid.

Wahid menjelaskan, stok sapi untuk Kota Medan disediakan sekitar 2000 ekor sapi . Biasanya, Medan membutuhkan sekira 1600 saja. “Dari data ini, berarti stok Medan untuk lebaran aman, jadi jangan takut. Kalau ada kenaikan harga itu biasa, namanya juga lebaran,” ujar Wahid.

Sementara itu, untuk stok sapi secara nasional dalam menghadapi Ramadan dan Lebaran juga masih aman. Pasalnya, masih adanya stok daging sapi dari Australia sisa sebelumnya.”Jangan takut karena masih ada stok dari yang kemarin. Selama 3 bulan yang lalu, sapi Australia yang kemari masih kita budidayakan,”ujar Direktur Budidaya Ternak Ruminansia Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Pertanian RI, Riwantoro.

Keamanan stok daging sapi ini juga ditunjang dengan kebijakan Australia yang menghentikan embargo impor sapi ke Indonesia.”Saya sudah dengar tentang kebijakan ini beberapa hari yang lalu, dan rencananya Oktober impor daging dari Australia sudah masuk ke Indonesia,” lanjut Riwantoro.

Tetapi kebijakan Australia tersebut tidak disambut gembira oleh para peternak sapi, karena hal ini akan membuat harga daging sapi murah. “Beberapa bulan yang lalu, peternak senang karena harga sapi lokal mahal. Tetapi bulan oktober mendatang harga sapi lokal pasti murah,” ujar Bambang salah satu peternak dari Langkat.

Menyinggung tentang swasembada sapi yang ditargetkan pada 2014, Bambang pesimis masalah ini akan terjadi. “Saat ini saja, masalah berbagai kebijakan dikeluarkan, tetapi semuanya tumpang tindih,” ujar Bambang.

Sementara Riwantoro juga menjelaskan, walau nantinya sudah swasembada, tetapi impor daging sapi juga akan tetap diberlakukan.”Karena beberapa restoran masih meminta daging sapi impor,”lanjut Riwantoro.

Sebelumnya, harga daging sapi di Medan mengalami kenaikan secara bertahap hingga menjelang Ramadan pada akhir Juli ini dengan perkiraan harga menembus Rp70.000 per kilogram.

Pedagang sapi di Medan, Slamet mengatakan, saat ini harga sudah naik menjadi Rp65.000 per kilogram dari sebelumnya Rp63.000 per kilogram. Kenaikan sudah mulai terjadi sejak ada penghentian impor sapi dari Australia pada pertengahan Juni lalu dan ini masih akan terus naik hingga dua minggu sebelum Ramadan. “Kenaikan masih akan terus terjadi sampai jelang puasa nanti,” katanya di Medan, Senin (4/7).

Dikatakannya, besaran kenaikan akan terjadi secara bertahap sebesar Rp5.000 per kilogram. Kenaikan itu sudah disepakati sesama pedagang di beberapa pasar tradisional di Medan. “Kesepakatan tak tertulis antar sesama pedagang disebutkan akan ada kenaikan Rp5.000 per kilogram,” ujar penyuplai daging sapi di beberapa pasar tradisional di Medan antara Pasar Sukaramai, Pusat Pasar dan lainnya.

Mengenai permintaan sapi terjadi peningkatan empat kali lipat mulai sebelum Ramadan dari saat ini sebesar 1200 ekor per bulan. Seluruhnya disuplai ke pasar-pasar tradisional di Medan untuk memenuhi kebutuhan sapi di kota ini. “Saat biasa, permintaan dari pasar-pasar mencapai 1.200 ekor per bulan. Jelang Ramadhan terjadi kenaikan sampai empat kali lipat,” ucapnya. (mag-9)

Sidak PNS di Pemko Medan

Bangun Kedisiplinan

Sidak atau inspeksi mendadak cenderung menimbulkan kabar yang mengejutkan. Pun yang dihadapi Pemerintah Kota (Pemko) Medan di bawah komando Rahudman Harahap.

Ceritanya, setelah melakukan sidak di beberapa kecamatan hingga pasar yang ada di Medan, Wali Kota Medan dan wakilnya pulang kandang. Ya, sidak PNS yang berada di Sekretariat Pemerintah Kota Medan pun dilakukan, Selasa (12/7). Hasilnya, Wakil Wali Kota Medan Dzulmi Eldin yang didampingi Kepala BKD Parluhutan Hasibuan dan Plt Asisten Adminitrasi Umum Cheko Wahda SH, mendapati beberapa PNS yang kurang disiplin. Terutama soal kesadaran para PNS di sekretariat Pemko Medan dalam menggunakan papan nama serta atribut lambang Korpri.

Padahal, penggunakan papan nama dan atribut lambang Korpri ini telah jauh sebelumnya diingatkan oleh Wali Kota Medan Rahudman Harahap. Menariknya, ketidakdisiplinan ini ditunjukkan pula oleh sejumlah Kasubag/Kasi. “Kenapa Anda tidak memasangkan papan nama dan lambang Korpri? Ini kan merupakan status Anda sebagai PNS. Bagaimana Anda mengarahkan kepada bawahan sedangkan Anda sendiri tidak menggunakannya,” tegur Dzulmi Eldin kepada seorang Kasubag.

Dzulmi Eldin mengatakan sidak ini merupakan rutinitas seperti yang ditekankan oleh wali kota agar PNS tetap disiplin. Dan ,disiplin itu jangan hanya di permukaan saja. “Pak Wali Kota selalu mengingatkan kita untuk disiplin, kita lihat para pegawai di sini ada yang bekerja dan ada yang melakukan tugas luar,” tambah Eldin.

Selain itu juga Eldin juga meminta pada PNS agar mempersiapkan kelengkapan-kelengkapan diri seperti papan nama serta atribut lambang Korpri. Kesadaran ini harus dari luar dan dalam diri PNS sendiri, jangan dilihat dulu atau mendapat teguran baru bisa disiplin.

Sidak ini diawali dari Bagian Umum, Kantor Diklat, Bagian Humas, Bagian ADM Perekonomian, Bagian Keuangan, Badan Lingkungan Hidup, Inspektorat, Bagian Tapem, Bagian Hukum, Bappeda, Agama dan Pendidikan, Bagian Organisasi hingga ke Bagian Administrasi Kemasyarakatan dan ruang Dewan Kota serta Staf Ahli Walikota. (adl)

Pemilik Mobil Rental Dirampok

Disabet dan Disekap Kemudian Dibuang

MEDAN LABUHAN- Syamsir Ritonga (37), warga Jalan Letda Sujono, Gang Cempaka, Medan Tembung mendatangi Mapolsekta Medan Labuhan dalam keadaan berlumuran darah untuk membuat laporan pengaduan, Rabu (13/7) sore. Syamsir mengaku, dia baru saja habis dirampok oleh tiga pria dan dibuang di kawasan perkebunan tebu Pasar 9, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli.

Menurut Syamsir, kejadian tersebut berawal saat Syamsir yang merupakan pemilik rental mobil pick up L 300 menyewakan mobilnya kepada pelaku. Pelaku mengaku menyewa mobil tersebut untuk mengambil ikan di Gabion Belawan. Setelah kesepakatan harga sewa Rp180.000, Syamsir pun membawa mobilnya dengan pelaku.

Saat itu mereka melintasi jalan tol kemudian keluar dari pintu tol KIM, Mabar menuju ke Belawan. Namun, sebelum sampai tujuan, tepatnya di Simpang Seruwei, Keluarahan Pekan Labuhan, Medan Labuhan, pria yang baru dikenalnya tersebut meminta untuk masuk ke arah Seruwei.
Permintaan pria itu dipenuhi Syamsir. Saat masuk ke lokasi, tiba-tiba saja dua kawan pelaku yang sudah menunggu memberhentikan mobil tersebut ikut menumpang. Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalanan.

Salah seorang pelaku mengeluarkan sebilah parang langsung mengarahkan ke leher Syamsir sambil menyuruh untuk memberhentikan mobilnya. Namun, Syamsir melakukan perlawanan sehingga pelaku langsung mengayunkan parang ke dagu Syamsir hingga berdarah. Kemudian, mobil Syamsir diberhentikan pelaku dan memukulinya hingga tidak berdaya.

Dalam kondisi tidak berdaya, pelaku mengikat dan menutup mata Syamsir dengan kain dan membuangnya ke perkebunan tebu. Saat dibuang diperkebunan tersebut, tidak lama berselang ada seorang pekerja kebun yang sedang melintas melihat Syamsir dan langsung membawanya ke Mapolsekta Medan Labuhan untuk membuat laporan. Setelah membuat laporan, Syamsir pun langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawataan intensif.

“Pelaku menyewa mobil saya untuk mengambil ikan di Gabion namun sampai di daerah Seruwei saya diancam dengan parang, saya yang melawan langsung disabet dengan parang,”ujarnya. (mag-11)

Penadah Diamankan, Penjambret Babak Belur

Posko Korban Penjambretan Dibuka

MEDAN- Pasca terbongkarnya sindikat kejahatan jalanan yang beroperasi di sejumlah ruas jalan di Kota Medan, Sat Reskrim Polresta Medan membuka Posko Pencurian Berat (Curat) bagi para korban penjambretan, Rabu (13/7). Menurut pantauan wartawan koran ini, hingga kemarin, sudah puluhan orang yang melaporkan kasus penjambretan yang dialaminya di posko tersebut.

Selain melaporkan kasus penjambretan yang mereka alami, para korban juga diminta untuk melihat dan mengenali barang-barang bukti yang berhasil disita dari para tersangka. Seperti Erinawati (27), seorang korban penjambretan mengaku, sudah dua kali dia menjadi  korban penjambretan di lokasi yang sama yakni di Jalan Wahidin Medan, tak jauh dari rumahnya.

“Saya dijambret saat pulang kerja sekitar pukul 19.00 WIB. Tadi pagi saya baca koran bahwa sindikat penjambret sudah diamankan pihak Polresta Medan. Makanya saya datang kemari untuk melihat barang-barang saya yang dijambret,” ujarnya.

Sementara Kasat Reskrim Polresta Medan AKP M Yoris Marzuki saat dijumpai di ruang kerjanya mengatakan, untuk seluruh korban penjambretan agar segera membuat laporan ke Mapolresta Medan dan melihat barang bukti yang diamankan.

Yoris juga mengimbau kepada seluruh warga Kota Medan yang melihat atau menjadi korban kejahatan jalanan maupun tindakkan kriminal lainnya dapat segera menghumbungi Satreskrim Polresta Medan melalui nomor ponsel 0821 6244 4418. Disebutkan Yoris, terkait sindikat penjambretan ini, Polresta Medan berhasil mengungkap laporan warga korban penjambretan sebanyak 83 kasus dan mengamankan penadah, hasil sindikat penjambretan ini.

Penadah tersebut diketahui bernama Roben Phanardi (24). Dia diamankan dari kounter handphone Happy Selular di Jalan Asia Raya Blok M Nomor 6 Medan, yang merupakan tempat usahanya. Semantara Roben sudah menampung 41 unit HP berbagai jenis dari hasil sindikat tersebut.

Lebih lanjut Yoris juga mengungkapkan, sejumlah jalan protokol di Kota Medan mejadi lokasi empuk bagi pelaku kejahatan jalanan atau penjambretan. Menurutnya, ada lima kecamatan yang menjadi lokasi operasi kejahatan jalan yakni Medan Baru, Medan Area, Medan Barat, Medan Timur dan Medan Kota.

Secara terpisah, Nursairi Simatupang Pengamat Kriminologi dan Hukum Pidana Umum Fakultas Hukum UMSU mengatakan, kejahatan jalan berupa penjambretan ini merupakan fenoma tindakkan kriminal yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Apalagi, pelaku saat diamankan polisi mengaku melakukan penjambretan karena desakkan ekonomi.

“Kita pun berterima kasih terhadap kinerja kepolisian di jajaran Polresta Medan yang berhasil mengamankan sindikat kejahatan jalanan, yang merupakan keseluruhan pelakunya masih usia remaja. Dari kasus ini, saya amati dengan tindakkan yang dilakukan pelaku ini sudah menjadi pekerjaan tetap bagi mereka. Polisi harus bisa mengungkap semua termasuk di balik sindikat kejahatan jalanan ini. Saya yakin, ada oknum intlektual di dalamnya. Apalagi, pelakunya ada yang masih aktif sekolah,” ungkapnya.

Kemudian, Nursairi mengungkapkan, sindikat yang berhasil dibongkar ini merupakan bukti tingginya tingkat kejahatan jalanan di Kota Medan. Polisi harus kembali kerja ekstra mengungkap semua kejahatan jalan sehingga memberikan keamanan bagi warga pengguna jalan yang rawan kejahatan jalan.

Sementara, seorang penjambret babak belur dimassa saat berusaha melarikan, Rabu (13/7. Sementara rekannya, walau tak mengalami hal serupa tapi berhasil dibekuk petugas tak jauh dari tempat temannya dihajar warga.

Korban Juliani (43) seorang guru di SD Gang Merdeka, Jalan Brigjen Katamso, mengatakan, pejambretan itu terjadi di depan Istana Maimoon. Tiba-tiba tas anaknya disambar pelaku. Kontan sang anak menjerit dan mengundang perhatian warga.

Beberapa pengendara sepeda motor yang melihat kejadian ini mengejar hingga di persimpangan jalan. Macatnya persimpangan membuat para tersangka ini menjadi terjepit dan panik. Seorang pengendara lainnya yang mengetahui kedua tersangka segera menendang motornya. Salah seorang terjatuh dan diamukan massa.

Sementaraa itu, rekannya (juga belum teriidenitifikasi namanya) berhasil melarikan diri ke Jalan Mayjen Suprapto. Namun tak lama kemudian, tersangka ini pun berhasil dibekuk petugas Polsek Medan Kota.(mag-7/jon/min/smg)

Penertiban PKL Jangan Tebang Pilih

Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di seputaran Jalan AH Nasution dan beberapa ruas jalan lainnya di Kota Medan pada Selasa (12/7) lalu sempat diwarnai kericuhan. Hal itu disebabkan karena adanya tindakan tebang pilih yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Medan Mengapa hal itu bisa terjadi?. Berikut petikan wawancara wartawan Harian Sumut Pos Ari Sisworo dengan Wakil Ketua DPRD Medan Sabar Syamsurya Sitepu, Rabu (13/7).

Mengapa penertiban yang dilakukan Satpol PP Kota Medan itu terkesan tebang pilih?
Dengan kenyataan yang terjadi itu, bisa saja diduga ada sesuatu hal yang negatif melatarbelakangi penertiban itu. Bisa saja diduga adanya semacam “kerjasama” antara pedagang-pedagang yang tidak ditertibkan itu dengan pihak Satpol PP. Jadi wajar, jika pedagang itu berontak. Karena ada yang seolah dilindungi, dan ada yang tidak dilindungi.

Jadi, apa yang mesti dilakukan agar indikasi “kerjasama” itu tidak terjadi lagi?
Segala sesuatunya harus transparan. Kalau memang tidak ada apa-apanya, mana mungkin penertiban itu tebang pilih. Kalau memang mau ditertibkan, harus ditertibkan semua. Jangan seperti itu. Katanya lagi, yang tidak ditertibkan itu ada semacam retribusi. Ini harus jelas, retribusi apa dan siapa yang mengutipnya?

Apa imbas dari itu semua?
Hubungannya secara langsung adalah pada kinerja Pemko Medan. Artinya, dengan hal-hal yang semestinya tidak terjadi ini, citra Kota Medan akan semakin menurun. Kita ketahui, dalam laporan pertanggungjawaban Pemko Medan pada Paripurna beberapa waktu lalu, pelayanan publik bagi masyarakat masih belum memuaskan. Jangan sampai hal ini semakin memperburuk. Kita selalu ingin Pemko Medan memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya. Ini demi penataan Kota Medan ke depan, yang digadang-gadang oleh Wali Kota Medan. Saat ini, dalam upaya penataan Kota Medan, kinerja yang ada sudah menunjukkan hasil.

Apa sikap yang harus diambil Wali Kota Medan?
Dalam hal ini, sebenarnya Wali Kota Medan sudah sangat proaktif dalam upaya penataan Kota Medan. Sayangnya, selalu ada saja oknum-oknum yang memanfaatkan situasi dan kondisi sehingga membuat suasana tidak kondusif. Saya pikir, Wali Kota Medan harus lebih cermat lagi menyikapi kebijakan-kebijakan yang ada. Dalam artian, ketika ada ditemukan oknum-oknum yang tidak patuh harus diberi peringatan dan sanksi yang tegas.(*)

Batal Dibawa ke Rumah Sakit

Pada Selasa (12/7) siang, sekira pukul 02.30 WIB, kawasan Jalan Gatot Subroto tepatnya Simpang Barat mendadak jadi ramai. Pasalnya, seorang pria ditemukan terkapar setelah disambar mobil.
Selidik punya selidik, ternyata pria yang terkapar itu bernama Didi Prihandoho (30), warga Jalan Kenangan

Kecamatan Medan Maimun. Menurut warga sekitar, Didi yang mengendarai sepeda motor Vario BK 2525 UH disambar mobil.
“Tadi dia dan mobil yang menyambarnya sama-sama kencang. Saat disambar, dia ngerem mendadak dan kemudian terbanting,” jelas warga yang mengaku melihat kejadian itu.

Selanjutnya, beberapa warga yang prihatin dengan kondisi Didi, lalu membawanya ke tepi. Berselang beberapa menit, personel Polantas Polresta Medan tiba di lokasi. Lantas, Didi dengan kondisi mulut berdarah, luka lecet pada lengan hendak dibawa ke rumah sakit terdekat.

Namun saat akan diangkat ke atas becak bermotor, Didi sadarkan diri dan dia pun urung dibawa ke rumah sakit. Warga memberi pertolongan pertama dan memberinya segelas air putih.(eza/smg)

Mengintip Peluang Usaha Barbie Shop di Tengah Mahalnya Mainan Anak

Manfaatkan Limbah Bahan Sandal

Seiring perkembangan teknologi, permainan anak semakin mahal. Tak sedikit orangtua yang kesulitan memenuhi keinginan sang anak untuk memiliki permainan.
Terlebih di tengah tuntutan kebutuhan yang belakangan ini tak kalah semakin berat.

indra juli, Medan

Kondisi itu memaksa Zulfikar SH (35), untuk memutar otak untuk membuat mainann
anak yang terjangkau bagi para orangtua. Pengetahuan mengolah limbah produksi sandal yang didapat selama di Pulau Jawa diaplikasikan untuk membuat mainan anak berupa rumah Barbie, tempat tidur Barbie, sofa Barbie, mobil-mobilan dan lainnya.

Beraneka karya yang dipajangnya selama Pameran UMKM Provinsi Sumatera Utara di PRSU Tapian Daya, Jalan Gatot Subroto Medan mulai 5 hingga 11 Juli lalu pun mendapat antusias yang besar dari masyarakat. Pantauan wartawan Sumut Pos di arena pameran tersebut, permainan anak yang ditawarkan Zulfikar didominasi dengan warna cerah. Sehingga mampu memberi daya tarik tersendiri bagi anak-anak.

Salah satunya Winda (7), yang terpikat dengan rumah Barbie berwarna biru, merah, dan hijau. “Ma, beli yang ini ya,” rengek Winda kepada ibunya. Tak ingin merusak kebahagiaan sang anak, ibu tadi pun menyerahkan dua lembar uang sepuluh ribu kepada Zulfikar. Rumah Barbie kemudian dimasukkan ke dalam kantungan plastik lalu diserahkan kepada Winda yang menyambutnya dengan suka cita.

“Ya, namanya juga untuk anak. Apalagi harganya cukup murah. Daripada membeli di toko yang sudah pasti jauh lebih mahal tapi kualitasnya sama,” beber sang ibu yang tak mau menyebutkan namanya.

Seperti dituturkan Herdi, Sales Marketing Barbie Shop, rumah Barbie tadi merupakan produksi pertama. Berawal dari sisa bahan pembuat sendal, Zulfikar yang juga seorang pengacara di Jakarta ini mencoba berkreasi. Limbah tadi kemudian dipotong-potong mengikuti pola yang dibuat. Jadilah rumah Barbie yang memancarkan kecerahan.

“Sejak lajang abang itu (Zulfikar) sudah ke Jakarta dan banyak belajar di sana. Setahun lalu dia pulang dan melihat banyak sisa pembuatan sendal terbuang dan coba dimanfaatkannya. Ya, jadilah seperti sekarang ini tapi tidak lagi menggunakan sisa. Bahan sudah kita pesan,” jelas Herdi.

Seiring dengan antusias masyarakat, Zulfikar kemudian mendirikan Barbie Shop untuk memajangkan karya-karyanya. Setelah rumah Barbie, materi yang ada pun diolah menjadi mainan Barbie lainnya.

Seperti lemari pakaian, sofa, tempat tidur, sofa, dan celengan. Tempat tidur sendiri dibuat dalam tiga jenis yaitu bad set, tempat tidur tingkat, dan dengan kelambu. Untuk celengan, Zulfikar membuat dalam bentuk-bentuk yang menarik. Seperti mobil-mobilan. Dengan demikian, sembari bermain, anak diajarkan pentingnya untuk menabung.

Seperti tujuan di awal, Zulfikar pun menawarkan karya-karyanya dengan harga terjangkau. Rumah Barbie sendiri dijual Rp20 ribu, lemari baju dijual Rp40 ribu, lemari hias dan sofa dijual Rp35 ribu, celengan dan baju Barbie dijual Rp5 ribu. Untuk tempat tidur bad set dijual Rp60 ribu sedangkan yang dua tingkat dan menggunakan kelambu dijual Rp50 ribu.

Untuk memenuhi pesanan, Zulfikar pun menggelar pelatihan bagi remaja Kota Medan dengan keterampilan yang dimiliki. Saat ini Barbie Shop sudah mengerjakan tujuh karyawan. Pelatihan juga digelar di sekolah-sekolah untuk memberi pelajaran kemandirian bagi siswa dengan mengasah kemampuan yang ada. Khususnya dalam kerajinan tangan. (*)

Pemko Gelar Kemah Pemuda

Medan-Dalam rangkaian memeriahkan hari jadi ke-421 Kota Medan dan HUT ke-65 Bhayangkara, Pemko Medan bersama Polresta Medan serta DPD KNPI Kota Medan menggelar Kemah Pemuda yang akan digelar di Bumi Perkemahan Cadika Medan Johor mulai Jumat (15/7) hingga Minggu (17/7).

“Kegiatan ini untuk memberdayakan pemuda sebagai kader pemimpin bangsa agar memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin tinggi untuk ikut serta dalam membangun Kota Medan sesuai visi dan misi Wali Kota Medan,” kata Wali Kota Medan melalui Kadispora Medan Drs Hanas Hasibuan MAP di ruang kerjanya, Rabu (13/7).

Menurut Hanas, Kemah Pemuda ini akan diikuti 600 pemuda berusia 16 hingga 30 tahun. Karenanya, untuk memeriahkan acara ini, lanjut Hanas, dirinya bersama panitia telah mengkonsep acara dengan berbagai kegiatan di antaranya, lomba pidato tanpa teks yang mengangkat tema sesuai moto Wali Kota Medan, “Hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok lebih cerah dari hari ini”.

“Kita harap, moto ini benar-benar diwujudkan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi, pemuda dianggap memiliki peran penting sebagai contoh teladan bagi warga Kota Medan,” ungkap Hanas lagi. Lebih lanjut, pria yang hobi berolahraga dan nyanyi ini mengungkapkan, selain lomba pidato, jugakan dideklarasikan Pemuda Siaga Penanggulangan Bencana (Dasipena). (ade)

Pekan Depan, Tiga Tersangka Diperiksa

MEDAN- Setelah resmi menetapkan tiga tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan alat berat di Dinas Bina Marga Medan, Dit Reskrimsus Polda Sumut akan memanggil para tersangka.

Rencananya, ketiga tersangka yakni Kabid Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga Medan Eddy Zalman Syahputra, mantan Kabid Pengadaan Alat Berat Dinas Bina Marga Medan Ir Sudirman (saat ini pejabat eselon III di Dinas Perkim Medan)  serta Sangkot Siregar (SS) akan dipanggil Tipikor Poldasu pada Selasa (19/7) pekan depan.

Diterangkannya, pada dugaan kasus korupsi tersebut, Eddy Zalman Syahputra berstatus Panitia Pelaksana, Sudirman sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Sangkot Siregar sebagai Panitia Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). Hal itu dikemukakan Kasubdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Sumut AKBP Verdy Kalele saat dikonfirmasi wartawan Sumut Pos, Rabu (13/7).

“Selasa minggu depan kita panggil ketiga tersangka, untuk memberikan keterangan,” ujar Verdy. Lebih lanjut Verdy menuturkan, dari pemeriksaan tersebut nantinya bisa dimungkinkan bahwa akan adanya penambahan tersangka, dan bahkan bisa juga melakukan penahanan terhadap ketiga tersangka.(ari)

30 Karyawan PT Mestika Sakti Nginap di Tahanan

Kanit Reskrim Medan Labuhan Pukul Wartawan Sumut Pos

MEDAN LABUHAN- Sebanyak 30 karyawan PT Mestika Sakti yang berada di KIM II Mabar, Kecamatan Medan Deli harus menginap di Mapolsekta Medan Labuhan. Pasalnya, para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang kosmetik tersebut dituduh melakukan pencurian kosmetik hingga perusahaan mengalami kerugian puluhan juta rupiah, Rabu (13/7).

Informasi yang dihimpun wartawan Sumut Pos menyebutkan dalam enam bulan belakangan ini perusahaan mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah, karena ada karyawan yang melakukan pencurian terhadap barang-barang kosmetik. Selanjutnya, pihak perusahaan menyelidikinya dan mendapatkan tiga orang pelaku yang belum diketahui namanya melakukan pencurian.

Selanjutnya, dari hasil pengembangan ternyata pencurian tersebut melibatkan sejumlah karyawan lainnya. Selanjutnya, kejadian tersebut langsung dilaporkan ke Mapolsekta Medan Labuhan dan menggiring puluhan karyawan yang terlibat dalam  pencurian tersebut.

Kanit Polsekta Medan Labuhan, Iptu Oktavianus saat dikonfirmasi enggan memberikan keterangan. “Jangan dulu diberitakan kasus ini karena masih dalam proses pemeriksaan,” katanya. Bukan itu saja, Oktavianus juga langsung memukul kepala wartawan Sumut Pos.
”Apa kau? Nggak senang kau dipukul, sana buat laporan,”ujarnya.

Sementara itu kemarin (13/7), keluarga karyawan yang ditahan mendatangi Mapolsekta Medan Labuhan. “Saya tidak terima anak saya ditangkap tanpa adanya surat penangkapan dan tidak pemberitahuan kepada pihak keluarga. Karena saya sempat kebingungan menunggu anak saya yang tidak pulang-pulang dari kerjaan, tiba-tiba saya mendengar anak saya sudah ditahan di Mapolsekta Medan Labuhan,”ujar salah seorang keluarga korban saat mengunjungi anaknya di Mapolsekta Medan Labuhan, Rabu (13/7)

Lebih lanjut dia menambahkan bahwa menurut informasi yang diterimanya pencurian tersebut dilakukan oleh tiga orang. Namun dia menyesalkan kenapa yang ditangkap sebanyak itu.
”Anak saya yang tidak tahu apa-apa pun ikut ditahan, jangan mentang-mentang perusahaan banyak uang, jadi dapat membeli hukum,”tambahnya.(mag-11)