26 C
Medan
Wednesday, January 14, 2026
Home Blog Page 14975

Dapat Santunan Jasa Raharja

Korban Kecelakaan Bus ALS

Jumlah penumpang bus ALS BK 7088 DL dengan nomor pintu 90 yang naas di Aek Latong, ada sebanyak 14 orang. Bagaimana tanggung jawab manajemen PT ALS?

Humas PT ALS, Alwi Matondang mengungkapkan, korban yang meninggal akan diberikan santunan. “Nanti  akan diberikan santunan oleh pihak Jasa Raharja,” paparnya.

Alwi menjelaskan, saat berangkat jumlah penumpang di bus berkapasitar 45 orang itu hanya 36 penumpang. “Yang membeli tiket dari loket 36 orang. Namun, kita tak tahu apa masih ada penumpang yang naik di jalan,” jelas Alwi di Kantor PT ALS Jalan Sisingamangaraja Medan, Minggu (26/6).

Saat perjalanan, bus yang dikemudikan Unggul (38) beralamat di Lubuk Pakam tersebut sempat mengalami kerusakan di daerah Toba, sebelum Aek Lotung. “Bus itu berangkat dari sini Jum’at (24/6) pukul 15.00 WIB. Memang kabarnya sempat rusak.

Sejauh ini korban meninggal sebanyak 14 orang, sisanya selamat. Supir dan kernetnya lari,” terangnya.
Saat diminta data manifes penumpang bus naas tersebut, Alwi Matondang berupaya untuk menutup-nutupi. “Nanti saja lah, setelah ada laporan dari polisi,” jawabnya.

Ditambahkannya, dari data yang diperoleh dari pihak kepolisian, 14 korban meninggal tujuh diantaranya adalah anak-anak dan sembilan orang warga Medan dan seorang warga Lubuk Pakam serta tiga warga Bengkulu.

Sementara itu, Pihak Poldasu melalui Kabid Humas Poldasu AKBP Raden Heru Prakoso membeberkan, bus tersebut masuk ke parit yang berisi air. “Hampir 3/4 badan bus terendam air di parit. Supirnya melarikan diri,” terangnya.
Menurut data yang didapat kepolisian, jumlah penumpang di bus tersebut ada 65 orang. korban selamat sebanyak 49 orang dan korban meninggal 14 orang. “Yang meninggal terjebak di bus dalam keadaan tidur. Korban meninggal dibawa ke Rumah Sakit Sipirok,” terangnya.(saz/ari)

Baca juga:

Becak Masuk Sawah, Kerabat Mimpi 4 Giginya Tanggal

Kisah di Balik Musibah Sekeluarga Korban Naas Bus ALS

Keluarga korban naas bus PT ALS, adalah Desi Indriani (30) dan tiga anaknya ternyata punya firasat buruk sebelum kejadian. Seorang kerabat bermimpi empat giginya tanggal. Selain itu, beberapa jam sebelum berangkat, becak bermotor yang ditumpangi para korban masuk ke sawah.

Ari Sisworo/Indra Juli, Medan

Suasana haru menyelimuti kediaman pasangan Ali Umar dan Nurbima, warga Jalan Pasar 3 Tembung Gang Fajar Tasbih, salah satu rumah duka korban Bus ALS naas yang terjun ke jurangn
di Aek Latong Km 7-8, Minggu (26/6) sore.

Saat wartawan Sumut Pos mengunjungi rumah duka, tampak sebuah tenda terpasang di bagian depan rumah yang sangat sederhana itu. Terlihat pula para kerabat dan tetangga berkumpul menanti empat jenazah keluarga mereka yang menjadi korban Bus ALS Jurusan Medan-Bengkulu tersebut. Mereka mengenakan kopiah dan selendang untuk bertakziah.

Di ruang tamu juga tampak empat tilam yang telah dipersiapkan sebagai tempat persemayaman. Anggota keluarga pasangan Ali Umar dan Nurbima tersebut kehilangan empat kerabatnya. Mereka adalah Desi Indriani (30) dan tiga anaknya Yuni Cipiani (9), Rendy (5) dan Dimas (3). Sementara Cipeng, nama panggilan suami Desi Andriani, selamat dari maut.

Ali Umar dan Nurbima tak mampu menutupi kesedihan atas meninggalnya putrid dan cucu-cucu mereka tersebut. “Kami dapat kabar, tadi malam (Minggu dinihari, Red) jam 3 dari Cipeng yang selamat. Rencananya, mereka mau ke Padang,” ujar Ali Umar dengan wajah sedih.

Ditambahkannya, menantunya Cipieng sehari-hari bekerja sebagai penjual kain, sedangkan Desi Indriani membantu suaminya dengan menjahit di rumah. Sedangkan ketiga cucunya sehari-hari di rumah mereka.

Sekarang, pasangan kakek dan nenek itu tidak akan mendengarkan gelak tawa cucu-cucunya mereka tersebut. “Yuni Cipiani baru naik kelas 4 SD, si Rendy dan Dimas belum sekolah. Nggak ada lagi lah ketawa-ketawa lucu dari cucu-cucu ku itu,” kata pria berusia 60 tahun ini.

Ali Umar dan Nurbima mengaku tidak merasakan firasat apa-apa sebelum kejadian naas tersebut. Nurbima pun terlihat syok, wajahnya lesu, matanya berkaca-kaca. Hendra Syaputra, adik Desi Indriani, terlihat berusaha menutupi kesedihannya.

Sedangkan Jus, bibi Desi Indriani, yang berada di rumah duka tersebut mengaku, anaknya Ikmal pernah bermimpi empat gigi bagian atasnya tanggal.

“Anak saya pernah mimpi, tapi memang tidak sampai diceritakan kepada keluarga. Ternyata ini kejadiannya,” kisahnya dengan wajah yang seolah hendak menitikan air mata.

Hendra Syaputra juga mengatakan hal yang sama. Dirinya mendapat pertanda saat mengantarkan kakak serta abang ipar dan ketiga keponakannya menuju stasiun Bus ALS di Jalan Sisingamangaraja sekira pukul 14.00 WIB, Jumat (24/6).

Hendra mengantarkan semua korban menggunakan becak bermotor. Namun, baru beberapa saat meninggalkan rumah ternyata betor yang mereka naiki tersebut terjerembab ke sawah. Anehnya, ketika diangkat betor tersebut terasa sangat berat dari biasanya dan diperlukan beberapa orang untuk mengangkatnya.

Setelah betor terangkat, perjalanan ke stasiun bus ALS dilanjutkan. Di perjalanan, muncul keanehan lain. Semua korban tersebut hanya terdiam. “Biasanya, kami selalu ngobrol, bercanda, ketawa-ketawa. Di becak itu, semuanya diam. Kakak ku diam, abang ipar ku diam, keponakan-keponakan ku yang biasanya lucu-lucu jadi diam. Jadinya, sampai di tempat yang dituju paling hanya beberapa kata saja yang kami bicarakan,” ungkap Hendra sembari mengenang hal itu.

Sementara itu, Nurbima beberapa kali mempertanyakan tanggung jawab PT ALS sebagai pemilik armada. “Kekmana ini yah. Kalau memang bus nya rusak, kenapa penumpangnya nggak disuruh keluar,” keluhnya.

Begitu pula dengan Ali Umar. Dengan suara pelan dan sayu, Ali Umar mengatakan hal yang sama. “Kekmana itu yah. Kami nggak ngerti, kami orang susah. Apa ada bantuan dari yang bersangkutan untuk membantu?,” tanyanya kepada Sumut Pos.

Sementara itu, papan bunga berukuran besar yang terpasang pinggir jalan memperlihatkan bagaimana suasana haru keluarga Dahniar (56) warga Jalan Bhayangkara No.424 Kelurahan Indra Kasih Medan yang menjadi korban kecelakaan bersama cucu tercinta Assifa Azhara (7) di Aek Latong, Minggu (26/6) dini hari.

Halaman rumah pun tampak dipenuhi pelayat dari keluarga, handai tolan, dan tetangga yang datang silih berganti. Menanti kedatangan jenazah yang hingga berita ini diturunkan masih memasuki Kota Rantau Prapat. Meskipun diperkirakan kedua jenazah baru tiba di Medan menjelang subuh. “Masih di Rantau Prapat, mungkin jam dua pagi nanti baru sampai. Entah pun lewat,” ucap keponakan salah satu keponakan Almarhum Dahniar, Supri.

Pria bertubuh tinggi ini lalu membawa Sumut Pos menemui keluarga korban lainnya yng berkumpul di rumah tanpa diplester di bagian dalam. Tampak beberapa tubuh tergolek lemas di atas kasuryang memang disediakan untuk merebah. Hanya seorang yang terlihat khyusuk dalam doa yaitu Tuti, ibu dari Assifa Azhara. Menghadap sang Khalik dengan harapan anak tercinta nantinya mendapat tempat yang layak.

Anak yang memberi banyak kenangan indah di tengah-tengah keluarga kelima kakak beradik ini. Anak yang dikaruniai rambut keriting, tubuh gmpal dalam balutan kulit putih menarik perhatian siapapun. Yang dengan cintanya menolak ajakan sang kakek untuk turun dari bus ALS untuk menemani sang nenek menjemput ajal.
“Padahal sudah disuruh turun sama Ayah. Tapi Siffa nya gak mau. Katanya dia mau nemani nenek. Jadilah kakeknya bawa Lisa (kakak Siffa, Red) sementara Siffa dan nenek di dalam,” tutur Julita Nur, putrid bungsu Almarhum Dahniar yang juga pernah mengasuh Siffa.

Tiba-tiba seorang remaja putri bernama Dina yang juga sepupu Siffa, memecah keheningan. “Siffa,” pekiknya. Hal itu pun terjadi beberapa kali yang mengungkapkan kedekatannya dengan almarhum Siffa. DI beberapa lokasi Dina mengakui beberapa kali melihat kehadiran Siffa.

Beratnya peristiwa kehilangan kembali membuat Tuti mengucurkan air mata. Selain kepergian yang tidak memberi tanda, kebersamaan dengan putri tercinta yang terpisah di usia 3 ahun sebelum kembali bersama di usia enam tahun. “Jujur saja saya terpukul karena tidak ada pertanda seperti kalau orang mau pergi. Malah saya masih sempat ambil rapor trus menyusun bajunya dan si kakak. Saya juga belum puas karena hanya beberapa bulan kami bersama setelah di usia tiga tahun kami pisah,” tutur Tuti sembari menepuk dada beberapa kali.

Tuti pun tak dapat membendung air mata kala mengingat saat Siffa menyampaikan keinginannya. “Mama kan belum punya rumah, Adek pengen cari uang belikan mama rumah,” ucap Tuti yang akan berusaha kuat menyambut kedatangan jenazah putri bungsu dan ibu tercintanya. (*)

14 Ibu dan Anak Tewas Tenggelam

  • Bus ALS Masuk Jurang di Aek Latong
  • 10 Korban Warga Medan, 4 Diantaranya Sekeluarga

SIPIROK-Kecelakaan moda transportasi darat kembali terjadi dan memakan korban. Kali ini menimpa bus PT Antar Lintas Sumatera (ALS) BK 7088 DL  bernomor pintu 90 tujuan Medan-Bengkulu, Minggu (26/6) sekitar pukul 02.30 WIB. Bus berjalan mundur di jalan mendaki di Km 7-8, Aek Latong, kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan (Tapsel) dan masuk jurang yang digenangi air (telaga) di sisi kiri jalan. Akibat kejadian itu, sedikitnya 14 penumpang bus yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak, tewas tenggelam bersama bus yang masuk telaga dengan kedalaman sekitar 8 meter.

Para korban meninggal kemudian dibawa ke RSUD Tapsel di Sipirok untuk proses identifikasi. Beberapa penumpang lain diperkirakan hilang dan masih dalam pencarian. Sementara bangkai bus masih berada di telaga di jurang tersebut dan masih menunggu proses pengangkatan.

Setelah identifikasi dilakukan, 10 dari 14 korban tewas adalah warga Medan. Bahkan tujuh orang diantaranya beradal dari satu keluarga. Tiga warga Jalan Bhayangkara No 424 B, Medan Tembung dan empat lainnya terdiri dari ibu dan anak, warga Gg Pajak Tasbih Tembung Pasar III.

Berdasarkan informasi dihimpun METRO TAPANULI (grup Sumut Pos) dari beberapa penumpang selamat seperti Sudirman (62), Mariam (62) Supriyadi (34) Eriyanto (37), Cecep (17) dan Syaripan (27), bus yang ditumpangi berangkat dari Medan Jumat (24/6) siang dengan kondisi hampir penuh.

Ketika di Tebing Tinggi dan Pematangsiantar, banyak penumpang naik sehingga bus sarat penumpang. Seluruh bangku tempel pun dipenuhi penumpang yang hendak menuju Panti, Padang hingga Bengkulu.

Di sepanjang jalan, sempat terjadi beberapa kali kerusakan, antara lain di perbatasan Taput dan Tapsel, sekitar 8 kilometer dari lokasi bus masuk telaga di Aek Latong. Untuk perbaikan kerusakan, mereka harus istirahat selama sekitar 10 jam.

“Katanya saat itu rusak kolahar roda depan bagian kiri,” ujar Darwin (25), warga Desa Laut Tador, Kecamatan Laut Suka, Kabupaten Batubara salah satu penumpang selamat dari musibah maut tersebut.

Kernet bus kemudian membeli nasi sebanyak 70 bungkus, untuk penumpang dan awak bus. Perbaikan pun selesai dan bus melanjutkan perjalanan. Di lokasi jalan yang rusak dan mendaki di Aek Latong, supir berusaha mengendalikan bus yang sarat penumpang. Unggul (38), sang supir, berupaya melewati tanjakan dengan permukaan jalan bergelombang. Baru sekitar 30 meter menaiki tanjakan ke arah Sipirok, tiba-tiba roda depan terganjal gelombang permukaan jalan yang tak rata dan bus tidak mampu melanjutkan perjalanan.

Karena kesulitan menanjak, kernet bus turun berupaya mengganjal roda dengan batu yang ada di sekitar. Bus kemudian berhenti di tengah tanjakan curam sembari meminta penumpang untuk turun.
Meskin cuaca dingin dan gelap, sebagian besar penumpang pria turun dan berjalan kaki. Selebihnya bertahan di bus dengan alasan ketiduran. Ada juga  yang enggan keluar karena cuaca dingin, jalan licin dan menanjak serta mempertimbagkan kondisi anak-anak mereka yang ikut termasuk anak-anak yang sakit.

“Memang saat itu ada anak-anak yang sakit jadi tidak turun dan tetap di gendong ibunya,” tutur Darwin.
Setelah tak ada lagi penumpang yang turun, supir bernama Unggul tersebut memendam pedal gas. Tetapi bukan berjalan ke depan, bus malah mundur. “Saat mundur jalannya pelan sekali,” kata Darwin.

Dalam cuaca gelap dan dingin, tanpa diduga bus malah mengarah ke pinggir jalan sebelah kanan dan hitungan detik masuk ke telaga dengan kedalaman sekitar 4 meter sehingga seluruh badan bus hilang tenggelam dalam air.

“Mesin bus tidak pernah mati, maka kami terus berjalan lebih ke atas di kegelapan malam itu. Baru sekitar 50 meter kami beranjak namun salah seorang diantara kami menjerit dan berlari menuju mobil yang sudah mundur dan masuk jurang, kamipun mendekat namun karena kondisi tanah yang berjurang dan medan yang belum kami pahami akhirnya kami pasrah, menunggu hingga hari terang dan berupaya menghubungi beberapa keluarga,” kata penumpang lain yang mengaku sebagian keluarganya berada di bus naas itu.

Berdasarkan keterangan beberapa penumpang, jumlah penumpang dan seisi bus nas tersebut diduga adalah 70 orang. Hal ini berdasarkan jumlah makanan yang dibelikan kernek Bus selama mereka menunggu proses perbaikan kerusakan di perbatasan Tapsel-Taput.

“Yang jelasnya kami diberikan makanan satu bungkus satu orang, dan yang kami tahu kernek selalu membeli makanan dengan jumlah 70 bungkus, dan semua habis dibagikan,” ujar penumpang tersebut.

Tak ada penumpang yang berani memberi pertolongan. Mereka hanya menatapi bus naas yang ditelan telaga Aek Latong. Pukul 09.00, sekitar 12 orang yang merupakan sopir dan kernek Bus ALS lainnya, berupaya menyelam dengan memecah jendela kaca dan berselang dan satu per satu penumpang yang didominasi anak-anak dan wanita ditemukan dalam kondisi tubuh kaku. Evakuasi bus hingga tadi malam belum berhasil dilakukan. Kendati berbagai upaya dilakukan sejak pagi hari dengan mengerahkan bantuan melalui truk yang lewat, truk milik POLRI, dan alat berat milik PU namun belum berhasil karena kondisi jurang yang curam. (ran/smg)

Maut di Aek Latong

Nama Bus:    ALS BK 7088 DL, nomor pintu 90
Kapasitas:     45 penumpang
Pengemudi:    Unggul (38), penduduk Lubuk Pakam

Kronologis kejadian

Jumat, 24 Juni Pukul 15.00 WIB:

  • Berangkat dari Pool PT ALS di Jalan Sisingamangaraja Medan membawa 36 penumpang.
  • Di Kota Tebing Tinggi dan Pematangsiantar, penumpang naik hingga mobil penuh dan seluruh bangku tempel terisi penumpang tujuan Panti, Padang hingga Bengkulu.

Sabtu (25/6)

  • Mobil berulang kali mengalami kerusakan mesin. Termasuk 8 kilometer mendekati Aek Latong dan diperbaiki hingga memakan waktu sekitar 12 jam.
  • Kernet bus membeli 70 bungkus makanan untuk para penumpang

Minggu (26/6) Pukul 02.30 WIB:

  • Bus dipaksa mendaki namun malah mundur perlahan hingga akhirnya masuk telaga dengan kedalaman sekitar 8 meter.

Korban Meninggal

  1. Maulida Asmar (30)    Jl Bunga Raya Medan Sunggal
  2. Eka Santi (31)        Jl Bunga Raya Medan Sunggal
  3. Putri Balkis (15)        Jl Bhayangkara No 424 B, Medan Tembung
  4. Dahniar (56)            Jl Bhayangkara No 424 B, Medan Tembung
  5. Assifa Azhara (7)        Jl Bhayangkara No 424 B, Medan Tembung
  6. Desi Indriani (30)        Gg Pajak Tasbih Tembung Pasar III
  7. Yuni Sipiani (9)        Gg Pajak Tasbih Tembung Pasar III
  8. Rendy (5)            Gg Pajak Tasbih Tembung Pasar III
  9. Dimas (3)            Gg Pajak Tasbih Tembung Pasar III
  10. Trisnawati (55)        Bandar Selamat Tembung
  11. Husni Amaliyah (9)        Bengkulu
  12. Kumala Sari (11)        Bengkulu
  13. Rohana            Bengkulu
  14. Dedi (Bertato)        Belum diketahui

Korban Belum Ditemukan

  1. Siti Rahayu (30)        Lubuk Pakam
  2. Poppy Mustika (9)        Lubuk pakam
  3. Rifki Anugerah (2)        –
  4. Adinda Pratiwi (5)        –
  5. Rendi (4)            –

Korban Selamat

  1. Sudirman (62)
  2. Mariam (62)
  3. Supriyadi (34)
  4. Eriyanto (37)
  5. Cecep (17)
  6. Syaripan (27)

Digandeng Fachri Akbar

Luna Maya

Kabarnya, Luna Maya dan Fachri Albar sering berduaan menjenguk bekas Pemred Majalah Playboy Erwin Arnada saat ditahan di Lapas Cipinang. Kedekatan itu mengulang memori cinta mereka beberapa tahun
silam.

Hidup Ariel ‘Peterpan’ di bui bisa jadi makin tidak tenang mendengar kabar ini. Sang kekasih, Luna Maya, disebut-sebut mulai lengket lagi dengan bekas pacarnya, Fachri Albar. Bisa benar, bisa juga cuma gosip. Tapi setidaknya Luna dan Fachri sudah kepergok jalan bareng, ikut menyambut bekas Pemimpin Redaksi Majalah Playboy Erwin Arnada saat baru dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang Jakarta Timur, Jumat (24/6)n
Pemandangan di siang hari itu cukup menarik perhatian. Sekitar pukul 11.45, Luna datang bersama Fachri, dan sutradara Joko Anwar. Luna datang dengan gaya casualnya. Ia mengenakan kemeja lengan pendek bermotif tutul dan celana jeans ketat. Senada dengan Luna, Fachri yang kini berpacaran dengan Marscha Timothy, terlihat santai dengan kemeja putihnya. Keduanya tampak kompak menyambut detik-detik pembebasan Erwin Arnada.

Menurut pengakuan pemilik sebuah kantin di Lapas, bukan kali pertama Luna dan Fachri mendatangi Lapas tersebut. Sebelumnya, mereka juga sering terlihat datang bersama untuk menjenguk Erwin.
“Luna dan Fachri juga datang jenguk Pak Erwin,” ujar pemilik kantin di Lapas tersebut.

Manajer Luna Maya, Vita saat dikonfirmasi membantah Luna balik ke pelukan Fachri. Dia bilang, hubungan Luna dan Fachri sebatas teman biasa. “Aduh, itu gosip. Nggak, nggak ada ceritanya balikan. Lagian jalannya nggak cuma berdua kok. Bareng Joko Anwar juga,” kata Vita saat dihubungi Rakyat Merdeka (grup Sumut Pos), akhir pekan lalu.
Vita juga membantah kabar Luna sering jalan bareng Fachri. “Nggak pernah mereka sering keluar bareng berduaan. Itu gosip, Mas,” cetusnya lagi.

Menurut Vita, Luna masih ‘resmi’ milik Ariel. Buktinya, Luna masih rutin datang menjenguk Ariel di Rutan Sukamiskin Bandung. “Hubungan mereka baik-baik saja. Luna masih ama Ariel,” tegasnya.
Seperti diketahui, sebelum populer seperti sekarang, Luna memang dipacari Fachri yang putra rocker gaek Ahmad Albar. Keduanya cukup lama menjadi sepasang kekasih. Mereka putus sekitar tahun 2005. (bcg/jpnn)

Rangkap Ketua Parpol, Kepala Daerah Disanksi

JAKARTA-Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi terus mengusung wacana larangan bagi kepala daerah yang merangkap ketua partai politik. Wacana yang diusung pun tak berhenti sebatas pelarangan saja, namun juga perlunya sanksi jika larangan itu dilanggar.

Menurut Mendagri, pihaknya mengusulkan agar larangan dan sanksi itu dimuat dalam draft revisi UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU Pemda). Ditemui sebelum membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kependudukan dan Pencatatan Sipil 2011 di Jakarta, Minggu (26/6) malam, Mendagri mengatakan, seiring pemberlakuan otonomi maka kewenangan kepala daerrah memang semakin besar.

Namun besarnya kewenangan, sambungnya, juga diikuti dengan semakin meningkatnya persoalan yang dihadapi kepala daerah. “Di sisi lain dana yang ke daerah juga makin besar. Jika 2005 hanya Rp 139 triliun, nanti 2012 mencapai Rp 437 triliun. Tentu persoalan juga akan bertambah. Kalau kepala daerah jadi ketua partai pula, tambah pula beban dia,” ucapnya.

Mantan Gubernur Sumatera Barat itu mengungkapkan, untuk menjadi kepala daerah saja seorang calon sudah harus merogoh banyak dana. Namun bukan itu saja yang membuat kepala daerah juga terbebani. “Dia (kepala daerah) juga masih dibebani oleh partai politik untuk menghimpun dana,” ucapnya.

Karenanya, Mendagri melontarkan wacana larangan bagi kepala daerah agar tidak merangkap ketua parpol itu juga disertai sanksi. “Usulan ini dalam UU Pemerintahan yang baru. Tentu nanti kita tawarkan ke DPR (untuk dibahas bersama),” sambungnya.

Mendagri juga mengatakan, perlu adanya pembedaan jenis sanksi bagi kepala daerah. Sebab, bisa saja pelanggaran yang dilakukan kepala daerah hanya persoalan sistem atau administrasi birokrasi.

Namun demikian, cetusnya, perlu juga disiapkan sanksi bagi kepala daerah yang jenis pelanggarannya tidak terkait dengan sistem atau administrasi tetapi karena kebijakan pribadi. “Kalau pribadi yang melanggar, sanksinya ke pribadi juga,” cetusnya.

Untuk opsi sanksinya, imbuh Mendagri, bisa saja kepala daerah yang melanggar larangan dinonaktifkan selama tiga bulan atau enam bulan. Namun saat ditanya apakah ada kemungkinan sanksi itu juga berbentuk pemecatan, Mendagri belum memastikannya. “Nanti kita lihat saja. Tapi tetap terlu ada sanksi,” pungkasnya.(ara/jpnn)

Bom Bunuh Diri Guncang RS di Afghanistan

KABUL – Menjelang ditariknya pasukan Amerika Serikat (AS) mulai bulan depan, intensitas serangan bom di Afghanistan makin meningkat. Seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan mobilnya di sebuah rumah sakit (RS) di distrik di Afghanistan timur,  Sabtu (25/6). Sedikitnya 38 tewas dan 50 lainnya terluka.

Jumlah korban diperkirakan terus bertambah dalam serangan yang terjadi di Provinsi Logar, 75 kilometer selatan Kabul tersebut. Pejabat setempat awalnya menyebut korban jiwa mencapai 60 orang. Tetapi, laporan itu direvisi menjadi 20 orang tewas.

Seiring proses evakuasi terhadap para korban, jumlah yang tewas terus bertambah. Kebanyakan korban tewas adalah perempuan dan anak-anak. Pasalnya, serangan itu menarget rumah sakit ibu dan anak.
Serangan mematikan itu terjadi selang beberapa pekan, sebelum pasukan internasional mulai menyerahkan tanggung jawab terhadap keamanan Afghanistan kepada aparat lokal di tujuh provinsi.

Seorang saksi mata menggambarkan kondisi para korban yang tewas sangat mengenaskan. Selain terbakar, bagian tubuh berhamburan ke segala arah. Hal itu terjadi sesaat setelah sebuah mobil jenis sport utility vehicle (SUV) meledak di Distrik Azra, Provinsi Logar, kawasan dekat dengan perbatasan Pakistan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Logar, Mohammad Zaref Narebkhail membenarkan, jumlah korban mencapai 38 orang dan 50 lainnya terluka. Jumlah korban bertambah signifikan dalam waktu semalam.

“Ada perbedaan jumlah korban yang diberikan sejumlah sumber pemerintah lain. Sesaat setelah ledakan, warga membawa pulang jenazah keluarganya sehingga mereka tidak terhitung,” jelasnya.

“Jenazah lainnya ditemukan di bawah reruntuhan bangunan. Selain itu, beberapa korban terluka meninggal kemudian di rumah sakit,” tambahnya.

Seorang warga yang tinggal di dekat rumah sakit, Abdul Rahman bertutur dirinya kehilangan tujuh anggota keluarganya dalam insiden tersebut. “Tujuh saudara saya, termasuk tiga perempuan dan dua anak-anak, mengunjungi rumah sakit tersebut,” katanya sambil menangis. “Saya berada di rumah ketika mendengar ledakan dahsyat itu. Saya bergegas menuju lokasi dan menemukan banyak korban tewas dan terluka,” kisahnya.
Taliban membantah bertanggung jawab atas serangan tersebut. Juru bicara Taliban Zabidullah Mujahid malah mengutuk serangan itu.

Insiden terpisah, seorang bocah perempuan berusia delapan tahun tewas saat pemberontak meledakkan bom dalam tas yang diberikan kepadanya. Bocah tidak bersalah itu diminta berjalan dekat kantor polisi sebelum tas tersebut meledak.

“Anak itu masih polos dan dikenal baik. Dia membawa tas tersebut dan berjalan ke arah kendaraan polisi,” kata Kementerian Dalam Negeri Afghanistan dalam pernyataan resminya.   Sementara itu, Departemen Pertahanan Spanyol kemarin menyatakan dua tentaranya tewas dan seorang lainnya terluka ketika kendaraan lapis baja yang mereka tumpangi mengenai ranjau pinggir jalan kemarin. (afp/cak/dwi/jpnn)

Ribuan Anak Filipina Terserang Diare

Pasca Banjir

MINDANO- Puluhan ribu anak terlantar akibat banjir bandang di Filipina selatan. Sejumlah anak itu menghadapi resiko penyakit seperti diare dan pnemoni.

Banjir bandang yang menerjang Filipina belakangan ini mucul akibat meluapnya Sungai Rio Grande. Otoritas setempat menyatakan, beberapa daerah masih dilanda banjir. Demikian seperti diberitakan oleh AFP, Minggu (26/6).

Utusan Perserikat Bangsa-Bangsa (PBB) untuk anak (UNICEF),  Vanessa Tobin menyatakan, 450 ribu anak-anak di Filipina, ribuan di antaranya terkena penyakit diare dan pnemonia akibat banjir yang melanda kota di Mindanao. “Kami mencoba mencegah kematian dan penyakit yang membahayakan anak anak, bersama dengan pemerintah serta mitra kami,” ujarnya.

Sementara itu, ribuan warga masih tinggal di pusat evakuasi di Luzon setelah Badai Meari berhasil memporak porandakan kota. Badai Meari menewaskan satu orang dan regu penyelamat sedang mencari 17 orang yang hilang, termasuk di antaranya para nelayan yang tengah melaut.

Dia menambahkan, sekarang ini pihaknya masih berupaya bisa mendirikan pusat-pusat belajar sementara untuk anak-anak dalam beberapa minggu mendatang, sehingga mereka dapat melanjutkan sekolah.

UNICEF telah mengirimkan lebih dari 5.500 selimut, 5.000 terpal dan 3.500 tikar plastik, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan. Menurut laporan, hampir 90.000 orang meninggalkan rumahnya karena banjir setelah Badai Tropis Meari, dengan 15 orang tercatat hilang, kata kantor pertahanan sipil.

Di Marikina, satu daerah pinggiran Manila yang rendah 25.000 orang diungsikan ke tempat-tempat penampungan setelah air mencapai tingkat bahaya, tambah kantor itu. (bbs/jpnn)

ASI Mengandung Morfin, Bayi Tewas

WASHINGTON – Otoritas Keamanan di Amerika Serikat (AS) menyebutkan, bayi perempuan tewas akibat morfin dengan dosis yang cukup besar. Diduga zat adiktif berbahaya itu bersumber dari air susu ibu (ASI). Seorang ibu dari bayi malang itu, Stephanie Greene ditangkap aparat kepolisian dengan dakwaan kekerasan terhadap anak. Penyidik menyatakan, putri Greene yang berusia 6 minggu, Alexis tewas di ranjangnya pada November 2010 lalu.  Dari hasil otopsi, ditemukan mofrin dalam kadar yang tinggi di darah sang bayi. Demikian seperti dilansir dari ANN, Minggu (26/6).

Zat morfin dari obat penghilang rasa sakit yang dikonsumsi Greene meresap pada ASI Yang diproduksinya. Greene menggunakan obat penghilang rasa sakit sejak bayinya lahir. Menurut hasil investigasi, Greene mendapatkan obat itu secara ilegal selama 38 kali dalam kurun waktu dua tahun. (bbs/jpnn)

Ratusan Massa Minta Mubarak Dibebaskan

KAIRO – Pasca lengsernya Presiden Mesir, Hosni Mubarak. Ratusan massa pendukung Mubarak dan massa anti-Mubarak bentrok di Kairo. Akibatnya, belasan orang terluka.

Awalnya massa itu hanya sekira 100 orang, kini membengkak menjadi sekira 800 orang. Mereka menginginkan mantan Mubarak dibebaskan. Sementara itu, massa anti-Mubarak hanya berjumlah 300 orang. “Belasan orang terluka dan beberapa mobil rusak dilempari batu,” ujar satu media, seperti dikutip dari Agence Frence Presse, Minggu (26/6).
Sekira 200 orang berkumpul setelah umat muslim menunaikan ibadah di siang hari. “Mubarak, negara ini hancur tanpamu,” demikianlah seruan para pendukung Mubarak. Mubarak kini dirawat di rumah sakit yang terletak di Sharm El-Sheikh, dirinya diduga mengalami serangan jantung. (bbs/jpnn)

Pernikahan Sesama Jenis Meningkat

NEW YORK- Pasca disahkannya undang-undang pernikahan sesama jenis, Jumat (23/6) lalu. Rencana pernikahan antar sesama jenis di negara bagian New York tersebut mengalami peningkatan. Seperti dilansir dari kantor berita Associated Press (AP),  pasangan sesama jenis, Yvonne Lindesay dan Elaine Livingston misalnya,  berencana menikah setelah mengetahui hasil pemungutan suara anggota senat. “Saya menangis. Telepon kami berdering,” ujar Lindesay.

Perancang busana asal New York, Malcolm Harris, juga tak membuang waktu  melamar kekasihnya yang telah dipacari selama sembilan tahun. Adapun seorang perencana pernikahan sesama jenis di Boston, Bernadette Smith, berencana memindahkan bisnisnya ke Kota New York. Sejumlah pasangan sesama jenis membatalkan rencana mereka menikah di luar negara bagian New York. Mereka mulai memesan tempat  untuk pernikahan di kota itu.

Seperti diketahui anggota senat Amerika Serikat di negara bagian New York akhirnya mengesahkan undang-undang pernikahan sesama jenis. Dengan undang-undang tersebut, para kaum homoseksual di seantero AS dapat mengikat cinta mereka di kota yang dijuluki Big Apple ini.

Pengesahan undang-undang pernikahan sesama jenis disahkan setelah melalui pemungutan suara anggota senat pada Jumat, 24 Juni 2011. Dengan kemenangan 33-29, undang-undang ini dapat segera berlaku 30 hari sejak disahkan. (bbs/jpnn)