30 C
Medan
Friday, April 17, 2026
Home Blog Page 15146

Marinir Tembaki Pangkalan Militer, Empat tentara Tewas

SEOUL -Insiden penyerangan sebuah pangkalan militer terjadi di Korea Selatan (Korsel), Senin (4/7). Pelakunya adalah seorang marinir berusia 19 tahun dan berpangkat kopral. Tanpa diketahui awal mulanya, prajurit tersebut menembakkan senjata secara membabi buta ke arah rekan-rekannya. Lantas, setelah aksinya itu, dia berupaya bunuh diri dengan meledakkan granat tangan yang dibawanya.

Empat tentara tewas seketika dalam insiden itu. Seorang marinir lainnya terluka. Sedangkan nyawa pelaku selamat meski dia mengalami luka.

Militer Korsel masih menyelidiki latar belakang aksi kopral marinir 19 tahun itu. Pihak berwenang hanya mengidentifikasi pelaku dengan nama depan Kim.

Juru Bicara Korps Marinir Korsel, Kim Tae-Un mengungkapkan saat itu Kim melancarkan tembakan secara membabi buta di sebuah barak militer di wilayah dekat perbatasan dengan Korea Utara (Korut).  Tepatnya, barak korps marinir itu berada di Pulau Ganghwa, pulau kecil di muara Sungai Han di pantai sebelah barat dan terpisah dari Gimpo (daratan Korsel), atau berjarak sekitar 60 km barat Seoul.

Menurutnya, korban tewas adalah seorang tentara yang berpangkat sersan kepala dan tiga marinir lainnya. Selain pelaku, korban luka adalah seorang marinir berpangkat prajurit. Keduanya telah dilarikan ke rumah sakit.
™Setelah menembak dengan senapan serbu K-2 (buatan Korsel), kopral itu ditemukan terluka di tempat yang terpisah. Di lokasi itu dia melepaskan detonator granat tangan yang dibawanya sehingga meledak,” terangnya. Tak diketahui berapa kali pelaku melepaskan tembakan. Namun, Kim Tae-un menuturkan bahwa personel marinir di unit itu secara normal mengisi magazin senapan dengan 15 peluru. Sejauh ini luka yang dialami pelaku dan seorang prajurit lainnya tidak membahayakan.

“Kami harus menunggu sampai dilakukan investigasi untuk mendapat kejelasan dari kasus tersebut,”katanya. “Begitu pelaku pulih, penyelidik kami akan melanjutkan tugasnya,” tambahnya.
Seorang saksi mata dari kalangan warga setempat, Lee Yong-soo, bercerita kepada kantor berita Yonhap bahwa dia tiba-tiba mendengar suara rentetan tembakan. Selanjutnya, empat tentara yang hanya mengenakan pakaian dalam lari meninggalkan barak.

“Mereka lari sekencang mungkin untuk menghindar  ,”ujarnya.
Insiden penembakan tersebut memunculkan polemik dan pertanyaan soal standard disiplin yang diterapkan pada 650 ribu personel militer Korsel. Ada banyak laporan soal keluhan tindakan kejam dan pelecehan yang dilakukan oleh tentara Korsel yang lebih senior kepada para yuniornya. Korsel  menerapkan aturan wajib militer bagi warga sipil selama dua tahun.

Itu bukan kali pertama muncul insiden pada kalangan militer Korsel. Delapan tentara Korsel tewas dan dua yang lain luka serius pada 2005 ketika seorang personel militer melemparkan granat dan melepaskan tembakan membabi buta kepada rekan-rekannya yang sedang tidur di barak. (afp/cak/dwi/jpnn)

Ben Ali Dituduh Jual Ganja

Kasus Narkoba-Senjata

TUNIS- Persidangan terhadap mantan Presiden Tunisia, Zine al Abidine Ben Ali kembali dihelat untuk kali kedua, Senin (4/7). Sidang in absentia (tanpa dihadiri terdakwa) itu dilakukan karena sejak lengser pada Januari lalu, bersama istrinya, Leila Trabelsi, Ben Ali melarikan diri ke Arab Saudi.

Sebelumnya, man tan kepala negara dan first lady (ibu negara) itu telah divonis masing-masing 35 tahun penjara terkait dakwaan korupsi dan meng gelapkan uang rakyat. Itu terjadi setelah polisi menemukan uang tunai dan perhiasan dalam jumlah besar di istana Ben Ali.

Sidang kemarin berlangsung dengan dakwaan utama, Ben Ali sengaja menyimpan obat-obatan terlarang dan senjata di istana. Dengan kata lain, mantan diktator itu didakwa atas keterlibatan dalam transaksi narkoba dan senjata ilegal.
Awalnya sidang dijadwalkan pekan lalu, namun ditunda karena terjadi demonstrasi hakim. Pada awal sidang, hakim ketua Touhmi Hafi menyatakan Ben Ali kembali absen. “Terdakwa tak hadir dan berstatus sebagai buron,” ujarnya.
Namun, Hosni Beji selaku pengacara Ben Ali memutuskan untuk meninggalkan sidang (walkout) sebagai protes terhadap hakim karena menolak permohonanmua agar sidang kembali ditunda. “Kami tak mau ambil bagian dalam sidang ini. Kami mundur,” kata Hosni Beji.

Para pengunjung mulai gaduh dan memaki pengacara Ben Ali. Selanjutnya, hakim meminta mereka keluar. Sidang lalu dilanjutkan setelah beberapa saat dihentikan.

Ben Ali didakwa menyimpan narkoba dan senjata di istananya di Carthage, utara Tunis, ibu kota Tunisia. Dia juga menghadapi dakwaan menyelundupkan narkoba.

Pengacara Ben Ali lainnya, Bachir Mahfoudhi menyatakan membutuhkan waktu agak lama untuk mempersiapkan pembelaan. “Kami tidak akan mundur. Kami akan membela klien kami, tak bisa dibayangkan seorang presiden yang memegang kekuasaan tertinggu memiliki 2 kilogram ganja dan menjualnya,” tuturnya. “Dakwaan itu tidak masuk akal,” tambahnya.

Beji menambahkan semua senjata yang disimpan di istana Ben Ali adalah pemberian dari sejumlah tokoh penting dunia. Misalnya, Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika dan Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, Nayef Ben Abdel Aziz. Ben Ali juga menuding bahwa penemuan narkoba di istananya hanya rekayasa. (afp/cak/dwi/jpnn)

Tanah Longsor, 3 Tewas

MINDANAO- Tiga warga tewas dan belasan lainnya hilang akibat tanah longsor di pegunungan Filipina. Hujan deras yang terjadi di Mindanao memicu terjadinya tanah longsor dan mengubur banyak orang.
“Lima sepeda motor terkena tanah longsor dan tiga orang pengendaranya tewas seketika,” ujar seorang tentara Filipina, Mayor Eugenio Osias seperti dilansir AFP, Senin (4/7).

Di Filipina selatan, umumnya sepeda motor dipaksa mengangkut lebih dari dua penumpang. Mereka memodifikasi motor dengan memasang bangku di sisinya.

Militer dan aparat keamanan langsung menuju ke tempat kejadian dan menggali tanah dengan alat seadanya untuk mencari para korban yang terpendam.

Hingga kini belum ada kabar orang yang hilang. Sebelumnya, banjir juga menyerang Kota Davao, Filipina. Banjir dipicu oleh hujan deras. Akibatnya belaasn orang diketahui hilang dan dipastikan telah tewas. (afp/bbs/jpnn)

Kalah, Abhisit Mundur dari Partai Demokrat

BANGKOK- Mengakui kekalahan pada perhelatan Pemilihan Umum Thailand, Perdana Menteri, Abhisit Vejajjiva mengumumkan kemundurannya sebagai pemimpin Partai Demokrat, Senin (4/7).
Abhisit VejajjivaPengumuman itu dibuat setelah Partai Pheu Thai menghancurkan Demokrat dalam pemilihan umum, Minggu (3/7) lalu.

“Saya memutuskan mundur karena saya tak dapat memimpin partai untuk memenangkan pemilu,” kata Abhisit.
Untuk mencari penggantinya, para anggota eksekutif Demokrat akan bertemu untuk memilih pemimpin baru dalam 90 hari mendatang. “Seperti yang disyaratkan undang-undang,” ujarnya.

Sebelum pemilu, Abhisit memang berjanji akan mundur sebagai pemimpin Demokrat jika partainya gagal memenangkan kursi melebihi perolehan pada pemilu sebelumnya. Berdasarkan hasil pemilu yang belum diumumkan secara resmi, Demokrat hanya meraih 159 kursi dalam pemilu kemarin. Jumlah ini berkurang dibandingkan pemilu 2007, di mana Demokrat memenangkan 164 kursi. (bbs/jpnn)

Jatuh dari Lantai 10, Bayi 2 Tahun Selamat

HANGZHOU- Seorang anak berumur dua tahun jatuh dari lantai 10 apartemen rumahnya di kota Hangzhou, Cina. Anehnya, balita itu selamat lantaran ada seorang wanita yang tanpa pikir panjang menangkap bocah malang itu, walaupun akhirnya tangannya sendiri patah.

Seperti dilansir Xinhua, Senin (4/7), balita wanita bernama Niu Niu ini sempat tergantung di jendela apartemen sebelum akhirnya terjatuh. Xinhua memberitakan, Niu terbangun ketika nenek yang menjaganya sedang keluar rumah.
Niu yang mencoba mencari neneknya, akhirnya balita itu memanjat jendela dan melongok keluar. Namun malang, dia tersangkut dan menggantung beberapa saat.

Seorang tetangga di lantai 9 berusaha menggapai Niu, tapi tidak berhasil. Sementara itu di bawah, tetangga telah berkerumun menyaksikan peristiwa itu. Niu terjatuh dari lantai 10 setelah pegangannya terlepas.
Seorang tetangga, Wu Juping (32), dengan cekatan menangkap Niu dengan tangan kosong. Akibat tekanan yang keras, tangan Wu patah. Niu saat ini dalam kondisi kritis akibat luka di dalam pada perut. (bbs/jpnn)

Pemalsu Pupuk Bersubsidi Ditangkap

MEDAN-Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Poldasu membekuk jaringan pemalsu pupuk urea bersubsidi menjadi pupuk nonsubsidi, Senin (4/7), di Desa Ujung Rambung Kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai.
Dari penangkapan itu Poldasu berhasil mengamankan sebanyak 17 orang pekerja sebagai penukar goni, 4 orang supir truk dan 2 kondektur, 1 orang tukang jahit goni. Jumlah pupuk urea bersubsidi yang diamankan sebanyak 428 goni, yang sudah diganti dengan goni non subsidi sebanyak 494 goni dengan berbagai merek. 3 unit mesin jahit goni pupuk, 2 gulung benang nilon dan 1000 goni pupuk Urea kosong.

“Satu goni seberat 50 kilogram,” ujar Kasubdit III Reskrimum Andry Setiawan di Mapoldasu, Senin (4/7) malam.
Dir Reskrimum Kombes Drs Agus Andrianto menjelaskan, modusnya pemalsuan tersebut adalah pupuk subsidi dioplos yang kemudian dimasukkan ke goni yang bertuliskan pupuk non subsidi.  “Seperti itu, dan saat ini masih kita dalami. Dari hasil pengoplosan dan pemalsuan itu pupuk tersebut dijual ke pihak ketiga,” terangnya.(ari)

Saksi Sebut Cicit Soeharto Ikut Nyabu

JAKARTA-Keterlibatan Putri Aryanti Haryowibowo dalam kasus narkoba terungkap di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan kemarin (4/7). Saksi yang dihadirkan menyatakan bahwa  cicit almarhum Presiden Soeharto itu ikut mengonsumsi sabu-sabu bersama dua terdakwa lainnya, Gaus Notonegoro dan AKBP Edi Setiono.

“Saat ditanya, Gaus mengatakan bahwa Putri dan Edi ikut mengonsumsi sabu-sabu,” kata Briptu Romi Hardiyanto dalam sidang. Romi merupakan salah seorang anggota Dir Narkoba Polda Metro Jaya yang ikut penggerebekan di Hotel Maharani, Mampang Prapatan, pada 18 Maret 2011 dini hari.

Keterangan Romi yang menyudutkan buah hati Ari Sigit itu membuat tim pengacara berang. Mereka menegaskan bahwa pernyataan Romi berbeda dengan yang tertulis di Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Ketua majelis hakim Maman Abdurrahman kemudian menanyakan pernyataan mana yang benar, di BAP atau dalam sidang. “Di dalam sidang,” tegas Romi. Selain Romi, tiga saksi lain yang dihadirkan mengatakan bahwa Putri sejatinya bukan target penggerebekan tersebut. (aga/jpnn)

Enggan Berpolitik

YOVIE WIDIANTO

Hiruk pikuk dunia politik tidak membuat Yovie Widianto tergoda. Pencipta lagu sekaligus personel Kahitna itu memilih tetap menekuni dunia tarik suara yang selama ini membesarkan namanya di belantika musik nasional.

“Saya nggak terjun ke politik praktis. Tapi, saat ini saya sebagai budayawan hanya ingin berperan untuk menggerakkan pemuda dan masyarakat yang punya sesuatu, untuk dapat dibaktikan kepada negara ini,” kata Yovie ketika ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta, Senin (4/7). Yovie mengakui punya obsesi besar untuk membangun negara melalui bidang seni dan budaya. Sebab, jika semua seniman masuk ke politik praktis, nanti tidak ada yang peduli serta mengurus bidang seni dan budaya. Padahal, pengembangan bidang seni dan budaya tak kalah penting oleh aktivitas di dunia politik. (cha/c11/jpnn)

 

Sakit Hati, Gayus Seret Atasan

JAKARTA – Gayus Tambunan berulah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Dalam sidang dugaan korupsi dalam penelitian permohonan keberatan dari PT Surya Alam Tunggal (PT SAT) itu dia menyeret mantan atasannya karena promosinya dihambat. Tidak hanya itu, dia juga membuat Jaksa Penuntut Umum (JPU) berulang kali ditegur hakim.

Gayus datang ke pengadilan Tipikor sekitar pukul 12.00 WIB dengan menggunakan baju koko warna putih. Dia hadir di sidang tersebut sebagai saksi atas dugaan korupsi Bambang Ismiarso atas surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) PPN dan Surat Ketetapan Pajak (STP) PPN tahun 2004. Gayus mengatakan mantan atasannya diseret setelah dirayu penyidik Bareskrim.

Dia menceritakan, saat diperiksa Bareskrim, semua kesalahan seolah ditumpahkan ke dia. Hal itu disampaikan oleh salah satu penyidik yang yakin jika Gayus tidak bermain sendiri dalam menggelapkan pajak. Akhirnya, dia menyebut nama Bambang Ismiarso. “Mungkin Bareskrim kesulitan menjerat pihak lain. Katanya, tidak mungkin saya sendirian,” ujarnya.

Ujung-ujungnya, Gayus membeberkan berbagai kekecewaan yang dia rasakan pada Bambang. Dia menyebut pada Januari 2010 harusnya Gayus naik pangkat dari 3A ke 3B. Saat ada gelar perkara pajak, Bambang dirasa menusuk dari belakang karena dia menasehati teman-temannya supaya jangan seperti Gayus.

Padahal, versi Gayus, sebelum kasus mafia pajak mencuat dia dan Bambang berteman sangat baik. Bahkan, dia berani menyebut sosok Bambang sebagai atasan yang baik. “Saya tidak tahu kenapa. Kenaikan pangkat saya saja ditahan Pak Bambang meski infonya semua sudah oke,” ungkapnya.

Selain menyeret mantan atasannya, “nyanyian” Gayus juga menghadirkan dua rekannya. Mereka adalah Maruli Pandopotan dan Humala Napitupilu. Kedua nama itu juga diseret karena Gayus sakit hati dengan keduanya yang dianggap menjauh setelah kasus pajak terkuak.

Dengan enteng Gayus sudah menyampaikan hal itu ke Maruli dan Humala. Bahwa keduanya terpaksa diseret ke pengadilan Tipikor dan Bareskrim akan menjadfikan keduanya sebagai tersangka. “Saya juga sudah sampaikan maaf ke Maruli dan Humala,” katanya enteng.

Nah, dalam sidang itu, Gayus sempat membuat JPU kebingungan. Entah penjelasan sudah gamblang atau masih teoritik, pertanyaan jaksa terkesan diulang-ulang dengan jawaban yang sama. Sebab, Gayus merasa apa yang dilakukannya sudah benar dan tidak ada korupsi. “PT SAT tidak memberikan apapun kepada saya,” tegasnya.
Sedikitnya lima kali JPU? mendapat teguran dari Hakim Ketua Jupriadi. Dengan suara keras Jupriadi meminta kepada jaksa untuk tidak menyampaikan pertanyaan yang diulang-ulang. Termasuk pertanyaan yang terkesan mengada-ada. “Kalau tidak ada pertanyaan jangan diada-adakan. Kalau tidak ada bukti, jangan dipaksa,” ucapnya. (dim/jpnn)

Ditebus Rp18 Juta, Dibebaskan Perompak

MEDAN-Seorang nelayan asal Belawan disandera beberapa hari dan baru dibebaskan setelah ditebus Rp 18 juta. Muhammad Zaini (53) menyatakan, dirinya dibebaskan setelah tebusan diterima pihak penyandera. Kasus penyanderaan yang dialaminya, juga bukan kasus yang pertama.

“Sudah dua kali saya disandera, karena memang seperti itulah situasinya di sini, banyak kapal yang dirampok,” kata Muhammad Zaini kepada wartawan, Senin (4/7).

Penyanderaan yang dialami Zaini terjadi pada Rabu (29/6) dan baru dibebaskan pada Sabtu (3/7). Hal itu bermula ketika Kapal Motor (KM) Sumber Utama yang membawa 29 Anak Buah Kapal (ABK) sedang melaut pada Rabu dinihari di kawasan Selat Malaka yang berjarak sekitar 49 mil laut dari Belawan.(net/jpnn)