Home Blog Page 15315

Siswa Dipungli Rp12 Ribu per Bulan

082161441xxx
Saya orangtua siswa merasa tertindas atas perbuatan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Sunggal, Hj Asmawati Sembiring. Dia melakukan pungutan kepada seluruh siswa berjumlah 700 orang sebesar Rp12.000/bulan. Jadi 700 x Rp12.000= Rp10 juta lebih. Mohon kepada bupati dan Kejaksaan Deli Serdang untuk menindak tegas. Karena sejak Hj AS jadi Kepala Sekolah banyak pungutannya Terimakasih dari A Gurusinga janda anak 3.

Harus Ada Kesepakatan Komite

Terimakasih informasinya, kami terlebih dahulu akan mengecek persoalan ini, tapi perlu kami beritahukan Pemkab Deli Serdang tidak bisa memberikan tindakan, jika pungutan itu sudah ada kesepakatan dari komite sekolah. Kemudian, bagi para orang tua siswa juga harus meminta uang kembali ke sekolah apabila pungutan itu tak melalui kesepaatan komite.

Umar Sitorus
Kabag Humas Pemkab Deli Serdang

Kebut Proses Pendahuluan PAPBD 2011

Muaranya ke Silpa Juga

Rapat pembahasan Pendahuluan Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (PAPBD) 2011 digelar Rabu (4/5) lalu. Beberapa kalangan menganggap hal itu adalah wajar, sedangkan pihak lain malah menganggap hal itu belum saatnya digelar.

Ya, Badan Anggaran (Banggar) DPRD Medan melakukan rapat guna membahas Pendahuluan PAPBD 2011. Pada rapat itu dikeluarkanlah undangan rapat yang ditandatangani Ketua DPRD Medan Amiruddin dengan No: 005/3576 tanggal 3 Mei 2011.

Sementara permintaan dalam rapat pendahuluan dari Pemko Medan berdasarkan Surat Wali Kota No 93/7327, perihal mohon rekomendasi mendahului penetapan PAPBD TA 2011. Dalam surat tersebut agendanya, rapat pembahasan rekomendasi pendahuluan penetapan PAPBD 2011 dan bersifat penting.

Terkait hal itu, Ketua DPRD Medan Amiruddin mengatakan rapat itu adalah wajar karena untuk membahas adanya kemungkinan perubahan dalam APBD Pemko Medan Tahun 2011 ini. Dan, rapat itu juga untuk mengantisipasi kemungkinan adanya Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) di tahun ini. “Ini adalah rapat untuk membahas tahapan-tahapan pada PAPBD 2011 ini dalam rangka agar tidak terjadinya Silpa,” jawabnya.

Lebih lanjut Amiruddin mencontohkan, antisipasi kemungkinan terjadinya Silpa yakni adanya dana Kebijakan Umum Anggaran dan Penghitungan Plapon Anggaran Sementara (KUA PPAS) APBD 2011 untuk upaya revitalisasi pasar tradisional sebesar Rp20 miliar. Namun, dana ini sampai saat ini tidak tergunakan. Maka dari itu, dana ini akan dibahas guna dimasukkan ke dalam PAPBD 2011.

Anggota Banggar DPRD Medan Salman Al Farisi menyatakan, dalam rapat Banggar tersebut, masih sebatas membahas tahapan-tahapan dalam upaya penyusunan PAPBD 2011. “Ini masih sebatas pembahasan. Jadi, masih akan ada tahapan lanjutan dalam rangka pengesahan PAPBD 2011 nantinya,” terangnya.

Lebih lanjut pria yang juga Ketua Fraksi PKS DPRD Medan ini menjelaskan, permohonan rekomendasi mendahului PAPBD merupakan upaya Pemko Medan untuk melakukan perubahan yang bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya Silpa. “Saat ini proses tender tengah berjalan. Jadi, Pemko Medan berupaya untuk agar beberapa kegiatan yang dianggap tidak perlu, untuk dialihkan ke kegiatan lain yang lebih perlu,” katanya.

Salman Al Farisi menambahkan hal ini sesuai dengan UU RI No 17 tahun 2003, tentang keuangan negara Pasal 28 ayat 3 (lihat grafis). Hal itu sesuai juga dengan Permendagri No 13 tahun 2006, tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah . Sebagaimana, telah diubah dengan Permendagri No 59 tahun 2007 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah pasal 154 ayat 1 butir b yang bunyinya, perubahan dapat dilakukan apabila terjadinya keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antara unit organisai, antara kegiatan, dan antara jenis belanja.

“Saya pribadi melihat urgensinya adalah untuk mengantisipasi adanya Silpa di akhir tahun anggaran. Kita ketahui, keberadaan Silpa Pemko Medan Tahun 2010 lalu sebesar Rp400 miliar. Dana sebesar Rp400 miliar itu, sayang kalau tidak dipergunakan. Padahal, banyak sisi pembangunan yang masih perlu ditingkatkan,” terang pria yang juga anggota Komisi B DPRD Medan tersebut.

Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Medan Syaiful Bahri. Dikatakannya, salah satu contoh untuk pemanfaatan dana yang telah dianggarkan, namun belum dipergunakan adalah dana sebesar Rp20 miliar untuk revitalisasi pasar tradisional dan rencananya akan dialihkan ke penyelesaian Pasar Induk di Tuntungan.

“Ini guna mengantisipasi adanya Silpa nantinya,” terangnya.
Sementara itu, Sekretaris Eksekutif Forum Independen untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Sumut, Elfenda Ananda, agak berbeda menanggapi hal itu. Dia mengatakan, apa urgensinya pendahuluan PAPBD.

Urgensi pendahuluan APBD atau pendahuluan PAPBD harus tetap mengacu pada tiga syarat yang diatur dalam UU No 17/2003 tentang Keuangan Negara dan UU No 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara, yakni bencana alam, kerawanan sosial dan situasi ekonomi yang mendesak. “Kalau DPRD menyetujui apa yang telah mereka sebutkan itu, mereka bisa dipidana,” katanya.

Elfenda mengatakan, kalaupun terdapat syarat-syarat pendahuluan sebagaimana diatur undang-undang, prosesnya tidak boleh dilakukan saat ini, saat APBD induk (APBD 2011) belum berjalan. “Seharusnya jangan saat ini. Tapi nanti saat APBD induk sudah berjalan sepenuhnya.

Sesuai undang-undang yang saya sebutkan tadi, Pendahuluan PAPBD bisa dilakukan pada bulan Agustus, sedang saat kondisi normal dilakukan tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir atau pada Oktober. Makanya aneh kalau mereka (Pemko dan DPRD, Red) memaksakan proses pendahuluan,” ujarnya.

Sementara dari Jakarta, Kapuspen/Jubir Kemendagri, Reydonnyzar Moenek menjelaskan, pada intinya, rapat pembahasan rekomendasi mendahului penetapan PAPBD diperbolehkan. Hanya saja, alasannya harus jelas. “Rapat diperkenankan, tapi substansi rekomendasinya apa? Benarkan ada yang urgen untuk kepentingan masyarakat?” ujar Reydonnyzar Moenek kepada Sumut Pos di kantornya, Jumat (6/5).

Kalau rekomendasikan terkait proyek-proyek? “Silakan masyarakat yang menilai. Intinya, jika kepentingannya untuk belanja publik atau belanja masyarakat, go a head,” terang Doni, panggilan akrabnya.
Dia memberi contoh kebutuhan urgensi, misal ada kenaikan gaji pegawai, sementara tahun anggaran sudah berjalan. “Yang seperti itu menjadi kebutuhan urgensi,” imbuhnya. (ari/sam)

Ke Iran setelah 30 Tahun Diembargo Amerika (1)

Kuasai Teknologi Pembangkit Canggih saat Kepepet

BARU sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari Negara Para Mullah ini.

Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi, hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus-menerus. Kalau awal 2010 PLN masih mendapatkan jatah gas 1.100 MMSCFD (million metric standard cubic feet per day atau juta standar metrik kaki kubik per hari), saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 MMSCFD. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil belakangan redup kembali.

Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya. Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana, baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal, PLN memerlukan 1,5 juta MMSCFD gas. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu, penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.

Maka, saya memutuskan ke Iran. Apalagi, upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depan. Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi.

Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan itulah yang membuat kembung perut PLN selama ini.

Kebetulan Iran memang sedang memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran sedang membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah di pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi” Bukankah Iran sudah 30 tahun lebih dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia” Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?

Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski Asaleuyah kota kecil, ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil, tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal, seperti Aseman Air, terbang ke sana.
Itulah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas, dan petrokimia. Beratus-ratus hektare tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia, dan instalasi pembuatan LNG.

Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu pada saat Iran sedang diisolasi oleh dunia Barat. Memang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya akan selesai dua tahun lagi.

Memang, kalau saja Iran tidak diembargo, proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepat. Namun, Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas, barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet, biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah.

Demikian juga, Iran. Bahkan, untuk memenuhi keperluan listrik untuk industri petrokimia itu, Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka, Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.

Kemampuan membuat pembangkit listrik itu pun semula agak saya ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuh. Karena itu, setelah meninjau proyek LNG, saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya.

Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, tetapi juga membuat keseluruhannya. Bahkan, sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin. Baru sepuluh tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik itu.

Sekarang Iran sudah memproduksi 225 unit turbin dari berbagai ukuran. Mulai 25 MW hingga 167 MW. Bahkan, Iran sudah mulai mengekspor turbin  ke Lebanon, Syria, dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran merayakan produksi blade-nya yang ke-80.000 unit!

Kesimpulan saya: inilah negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Mulai A hingga Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya. Dengan kemampuannya itu, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri.

Bahkan, untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama, Iran tidak bergantung lagi kepada pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemens lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawat sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemens dan GE. Bahkan, mereka sudah dipercaya Siemens untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup memelihara pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ.
Pabrik tersebut memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.

Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Italia, Jerman, Swiss, dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin itu bisa mendapatkan lisensi dari Siemens.

Rupanya, meski membenci Amerika dan sekutunya, Iran tidak sampai membenci produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. Itu jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan, Coca-Cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga, Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada, dan seterusnya.

Intinya: dengan diembargo Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit, dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin, apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.

Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan laying, hingga ke industri dasar. Tidak ketinggalan pula industri mobil.

Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan enam persen tahun ini. Mulai meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran. (bersambung)

 

Hindari Gayus di Cipinang, Cirus Ditahan di Salemba

JAKARTA-Tuntas sudah proses penyidikan terhadap tersangka Cirus Sinaga. Mantan jaksa peneliti pada JAM Pidum itu akhirnya diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan kemarin (5/5). Penahananya diteruskan ke Rutan Salemba hingga sidangnya tuntas.

Cirus tiba di Kejari Jakarta Selatan sekitar pukul 12.00 kemarin (5/5). Dia diserahkan oleh Direktur III Bareskrim Mabes Polri Brigjen Ike Edwin bersama sejumlah penyidik. Jaksa non aktif itu mengenakan jas biru dipadu celana jeans. Cirus terlihat lebih kurus dan tampak letih. Dia tidak merespons pertanyaan wartawan. “Saya sehat-sehat saja, terima kasih,” kata jaksa peneliti dalam kasus mafia pajak Gayus Halomoan Tambunan ini Kajari Jakarta Selatan M Yusuf mengatakan, pelimpahan tahap kedua (penyerahan barang bukti dan tersangka) dilakukan karena berkas sudah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Agung. Beberapa bukti yang dia terima adalah transkrip pembicaraan antara Cirus dan sejumlah orang via telepon. “Dengan siapa saja pembicaraan itu, nanti lah. Ada banyak,” kata Yusuf.

Dalam pelimpahan tahap dua kemarin, penyidik Mabes Polri baru menjerat Cirus dalam kasus korupsi. Dia dikenakan pasal 5 junto pasal 12 dan atau pasal 21 UU nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dia disangka menerima suap dari Gayus karena menghapus pasal korupsi dalam rencana penuntutan untuk mantan pegawai Ditjen Pajak itu. Sedangkan kasus penghilangan pasal korupsi belum dirampungkan penyidik Mabes Polri.
Yusuf menambahkan, Cirus akan ditahan di Rutan Salemba. Pihaknya sengaja tidak menahannya di Rutan Cipinang karena khawatir bertemu sejumlah pihak yang akan jadi saksi dalam kasusnya seperti Gayus. “Kami khawatir dia akan terkontaminasi. Kan di situ banyak saksi nanti bisa mempengaruhi dirinya. Di Salemba dia sendirian,” katanya.

Setelah satu setengah jam di Kejari Jakarta Selatan, Cirus kemudian dipindah ke Rutan Salemba, Jakarta Pusat, sekitar pukul 13.30. Sebelum berangkat menumpang Panther biru gelap, dia sempat bersalaman dengan sejumlah jaksa. Bahkan dia sempat ber-cipika cipiki dengan penyidik dari Mabes Polri. Cirus kembali irit bicara dan hanya sempat melambaikan tangan.

Pengacara Cirus, Tumbur Simanjuntak, bersikukuh bahwa kliennya tidak bersalah. Dia menegaskan bahwa pasal korupsi itu masih ada saat hendak dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Tangerang. Kalaupun akhirnya raib, itu bukan tanggung jawab kliennya.

Lagi pula, kata Tumbur, hanya Cirus jaksa peneliti berkas Gayus. Jika ada kekeliruan dalam penelitian berkas tersebut, seharusnya dia hanya dikenai pelanggaran administrasi. “Kami akan beberkan di pengadilan bahwa pasal korupsi itu tetap ada. Ada bukti surat yang ditandatangani jaksa Poltak Manulang. Kami memiliki dokumen asli,” tegasnya. (aga/jpnn)

Buru Para Pelaku, Polisi Sebar Sketsa

Mengungkap Kasus Penganiayaan Ir Masfar

MEDAN-Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga menegaskan keseriusan pihaknya menangani kasus penganiayaan yang menimpa Ir Masfar Sikumbang. Bahkan penyidik telah membuat sketsa wajah seorang pelaku dan menyebarkannya kepada masyarakat melalui sejumlah wartawan.

“Kita sudah buat sketsa pelaku penyiram soda api ke wajah korban (Masfar). Tentunya sketsa yang kita buat itu berdasarkan keterangan saksi-saksi,” kata Tagam, kemarin (5/5).

Ciri-ciri pelaku berusia 25 hingga 30 tahun, tinggi sekitar 170 cm, badan tegap atletis, muka lonjong, warna kulit sawo matang, rambut lurus panjang seleher dengan model belah tengah di bagian depannya.

Wakasat Reskrim Polresta Medan AKP Ruruh Wicaksono menambahkan, sketsa itu langsung disebar ke sejumlah pihak. “Sketsa wajah pelaku itu sudah dibuat, kan sudah dapat toh Mas…? Itu dibuat setelah dilakukan pemeriksaan terhadap korban dan hasil pemeriksaan saksi-saksi,” ujar Ruruh.

Kanit Jahtanras AKP Yudi Frianto menambahkan, tenaga ilustrator akan membuat sketsa wajah pelaku lainnya. Sketsa ini akan dimanfaatkan petugas untuk mengejar pelaku tersebut. “Kita telah membentuk tim khusus mengejar pelakunya,” lanjutnya.

Kabid Humas Polda Sumut AKBP Raden Heru Prakoso ketika dikonfirmasi soal identitas lengkap para saksi yang sudah diperiksa, hanya menyebut inisialnya saja. “SL, Ir MS, MT, SS, SP, LH, DJP, DS dan KN,” tulis Heru melalui pesan singkatnya.

Sebelumnya, Raden Heru menyebutkan penyidik Polresta Medan telah memeriksa sembilan saksi, termasuk putri Rahudman Harahapn Menurut informasi di lingkungan Polresta Medan, dari sembilan saksi, hanya empat diantaranya yang dibuatkan ke dalam berita acara pemeriksaan (BAP), yakni saksi korban, saksi pelapor, DS pengantar korban ke rumah sakit dan pemilik rumah makan di Jalan Adam Malik, Medan.

Sementara itu, pimpinan Komisi Nasional (Komnas) Hak Azasi Manusia (HAM) akan segera mempertanyakan perkembangan kasus dugaan penganiayaan yang dialami Masfar kepada Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro.

Wakil Ketua Komnas HAM, Hesti Ami Wulan, menjelaskan saat ini Komnas HAM saat ini hanya bisa sebatas mempertanyakan perkembangan penanganan kasus. Alasannya, pihak kepolisian sedang dalam proses menangani perkara yang sudah menjadi perbincangan hangat di tingkat nasional ini.

“Kita akan tanya ke Kapolda Sumut untuk menanyakan sejauh mana itu penanganan memproses kasus ini. Langkah-langkah apa yang sudah dilakukan. Komnas HAM tidak boleh mengintervensi ketika kasus sedang berjalan,” terang Hesti Ami Wulan kepada Sumut Pos, kemarin (5/5).

Dijelaskan, Komnas HAM baru bisa turun tangan jika ada indikasi pelanggaran HAM. Sementara, perkara di Medan ini menurut Hesti, murni merupakan tindak pidana. “Karena merupakan pidana, bukan delik aduan, polisi harus cepat menanganinya,” tegasnya.

Hanya saja, tidak lantas Komnas HAM tidak bisa terlibat. Dikatakan, jika proses hukum terhadap kasus ini berlarut-larut, maka ada indikasi pelanggaran HAM. “Kalau penanganan tidak lancar karena ada dugaan orang kuat, kita bisa masuk. Tapi untuk saat ini kita tunggu dulu bagaimana proses penanganannya oleh kepolisian setempat,” terangnya lagi.

Disebutkan, hingga kemarin dia belum tahu persis apakah korban sudah mengadukan kasus ini ke Komnas HAM.  Pasalnya, Hesti hingga kemarin masih sedang bertugas ke Bangka Belitung. Jika pun sudah lapor, lanjutnya, Komnas HAM tidak bisa langsung bertindak. “Ya karena itu tadi, karena ini tindak pidana, biar diurus polisi dulu,” ujar Hesti.
Penegasan yang sama diutarakan anggota Komnas HAM RI, Jhoni Nelson Simanjuntak, saat melakukan sosialisasi HAM yang dilaksanakan Dit Binmas Polda Sumut di Mapolda Sumut, kemarin.

“Polisi dengan segala keahlian dan kewenangannya pasti bisa mengidentifikasi pelaku penyiraman. Peristiwa, itu bukan ujug-ujug (tiba-tiba, Red) tapi peristiwa berkelanjutan,” ujar Jhoni yang berada di Medan sejak Selasa (4/5) lalu.

Jhoni juga belum mengetahui apakah keluarga korban sudah melapor secara resmi ke Komnas HAM.(tim)

Amri Tambunan Kembali Didemo

MEDAN-Bupati Deli Serdang Amri Tambunan kembali didemo massa di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara di Jalan AH Nasution Medan, Kamis (5/5). Massa mengatasnamakan NGO (non government organization/LSM) Komando meminta aparat penegak hukum mengusut dugaan korupsi melalui kegiatan pembangunan infrastruktur pada 2007 senilai Rp10 miliar di dinas Kimbangwil yang melibatkan Kadis PU  Bina Marga Sumut, Ir Marapinta Harahap.

Selain itu dugaan lainnya berupa addendum perpanjangan waktu pekerjan renovasi gedung kantor bupati senilai Rp2,4 miliar. Selanjutnya pelaksana pembangunan gedung workshop pencegahan penanggulan kebakaran senilai Rp900 juta terindikasi proyeknya fiktif.

Massa berteriak-teriak dan mengusung berbagai spanduk yang intinya mendesak Kajatisu memeriksa dugaan korupsi Amri Tambunan. Koordinator aksi, Iwan Kabaw dalam orasinya mengatakan pelaksanaan sejumlah kegiatan di Dinas PU Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang sarat korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Seperti dugaan korupsi proyek pemeliharaan Jalan dan Jembatan dengan anggaran Rp224 miliar tahun 2007.

“Proyek swakelola oleh Dinas PU misalnya, tidak sesuai ketentuan dan dokumen pembayaran hingga berpotensi merugikan negara sebesar Rp1,8 miliar,” teriak Iwan diikuti puluhan massa.

Iwan Kabaw juga mengungkapkan perihal, kejanggalan proyek itu bisa dilihat dari kekurangan fisik pekerjaannya. “Selain itu, dugaan korupsi soal pengadaan mobil dinas tahun 2008 di lingkungan Dinas PU Deliserdang juga dinilai merugikan negara sebesar Rp126 juta,” ungkap Iwan Kabaw lagi.

Iwan Kabaw berani menyebutkan, semua proyek dan pengadaan di Dinas PU Deli Serdang tidak sesuai ketentuan dan dokumen pembayaran sehingga  berpotensi merugikan daerah sebesar Rp1 miliar.

Dalam aksi itu, mereka juga menuntut penuntasan kasus dugaan korupsi di Biro Perlengkapan Sumut dalam pengadaan komputer dan printer yang merugikan negara Rp221 juta. “Bantuan di biro Binsos juga harus diusut,” tegas Iwan Kabaw.

Dengan semangat berkobar, Iwan dan rekanya mengharapkan ketegasan Kajatisu untuk memproses kasus tersebut. “Jangan lakukan pembiaran kasus, karena itu memalukan wajah hukum Sumatera Utara,” ujarnya.

Kedatangan massa ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian yang dari pagi melakukan pengawalan di gedung Kejatisu. Mereka lalu diterima  Kasubsi Humas Kejatisu, Andre Simbolon. Dia mengatakan, pengaduan dan aspirasi pengunjukrasa disampaikan ke pimpinan. “Kami minta kerjasama yang baik sebagai masukannya untuk menuntaskan kasus korupsi di Sumut,” ujar Andre Simbolon.

Rp81 M Sulit Diawasi

Sementara itu, data BPK-RI yang diperoleh wartawan koran ini, pekerjan di Dinas PU Bina Marga dengan biaya Rp81 miliar disiyalir bermasalah. Dana sebesar itu bermasalah karena tidak pernah mendapat persetujuan DPRD Deli Serdang priode 2004-2009.

Meski belum disetujui, anggaran Rp81 miliar di sebelas pos anggaran Dinas PU Bina Marga itu tetap mengalir.
Bahkan dananya tidak masuk dalam buku rencana kerja anggaran (RKA) serta rincian. PU Bina Marga, tidak melampirkan Rencana Kerja Anggaran (RKA) sesuai permendagri 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan PP nomor 59 tahun 2007 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah. Anehnya dana Rp81 miliar itu, dibuat membayar utang pada pos pembiayan sekira Rp9, 5 miliar. Padahal pos utang itu belum mendapat persetujuan DPRD.

Terkait tudingan dugaan korupsi itu, Kepala Dinas Infokom, Pemkab Deli Serdang Drs Neken Ketaren menganggap tudingan tersebut kurang beralasan. Menurutnya, apa yang disangkakan para demonstran tersebut merupakan hasil laporan audit BPK-RI yang telah ditindak lanjuti Pemkab Deli Serdang.

Kadis Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Ir Faisal belum bias dikonfirmasi terkait hal ini. Ketika dihubungi melalui ponselnya tadi malam, yang mengangkat hanya staf rumah tangga yang biasa dipanggil No. “Ini Si No, Bang. Bapak udah tidur, ga enak badan. Besok ajalah.”

Sedangkan Kepala Bidang Peningkatan Jalan dan Jembatan Dinas PU Bina Marga Pemkab Deli Serdang, Khairum Rizal, mengatakan semua temuan BPK-RI telah ditindaklanjuti dengan perbaikan pelaksanan pembangunan atau melengkapinya secara adminitrasi.

“Dalam LHP BPK-RI bupati disarankan agar memberikan hukuman kepada oknum pelaksana tugas. Bupati telah menyurati berupa teguran,” ungkapnya.

Khairum Rizal menegaskan, pihaknya siap dan terbuka bila dikritik masyarakat. “Silakan kritisi Pemkab Deli Serdang. Untuk perbaikan serta kemajuan bersama, kami siap,” jelasnya.(rud/btr)

Sumut Bisa Jadi Empat Provinsi

Diparipurnakan Pekan Depan

MEDAN-Rapat paripurna DPRD Sumatera Utara (Sumut) kembali akan membahas rencana pemekaran provinsi dan sejumlah kabupaten/kota di Sumut. Rencananya, rapat tersebut digelar Senin (9/5) pekan depan. Agenda rapat membahas pandangan fraksi-fraksi terhadap hasil Panitia Khusus (Pansus) Pemekaran DPRD Sumut. “Itu jadwal yang diketahui,” ujar anggota Pansus Pemekaran DPRD Sumut Marasal Hutasoit kepada Sumut Pos, Kamis (5/5).

Saat ini, tiga calon provinsi pemekaran yang dibahas pansus, kesemuanya telah memenuhi syarat untuk direkomendasikan. “Kita ada Provinsi Tapanuli (Protap) Sumatera Tenggara (Sumtra) dan Kepulauan Nias (Kepni). Ketiga calon provinsi pemekaran ini layak. Ini lah nanti yang akan kita bahas, apakah semuanya diajukan ke pemerintah pusat atau hanya satu diantaranya. Kita tunggu paripurna nanti,” terangnya.

Bila paripurna DPRD menilai ketiga calon provinsi itu layak dan pusat menyetujuinya, wilayah Sumut akan dimekarkan menjadi empat provinsi.

Bagaimana dengan Provinsi Tapian Nauli? Marasal menyatakan, tidak ada lagi wilayah cakupan untuk wacana Provinsi Tapian Nauli. “Tapian Nauli kemungkinan tidak, karena wilayah cakupannya sudah masuk ke Protap atau Sumtra dan Nias,” tegasnya.

Wakil Ketua Pansus Pemekaran DPRD Sumut Taufik Hidayat menjelaskan, dalam pembahasan pandangan fraksi-fraksi tersebut, diharapkan semua fraksi bisa objektif, tidak mengedepankan kepentingan politik semata.
“Kita tahu, bahwa kita anggota dewan adalah politisi. Tapi kita juga dituntut untuk proporsional dalam menyikapi masalah pemekaran ini. Ada aturannya yaitu PP No 78 Tahun 2008 tentang pemekaran daerah dan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah,’ tegasnya.

Politisi asal PKS DPRD Sumut ini melihat ketiga rencana pemekaran tersebut memiliki peluang yang sama untuk direkomendasikan ke tingkat pusat. Hanya saja, yang perlu diikuti apakah nantinya rekomendasi DPRD Sumut itu akan langsung ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) atau melalui Komisi II DPR RI. “Kalau ke DPR RI itu namanya hak inisiatif, kalau langsung ke Mendagri itu normalnya,” katanya.

Bila pengajuan melalui DPR RI, maka usulan akan dibahas di tingkat wakil rakyat itu, kemudian mereka menurunkan tim ke daerah baru, lalu usulan diajukan ke mendagri dan ke presiden. “Kalau yang normal, langsung ke Mendagri kemudian ke presiden lalu diserahkan ke DPR RI untuk dibahas.” Sebelum ke presiden, Kemendagri akan menurunkan tim ke daerah rencana pemekaran baru ke presiden. Setelah dari presiden, baru diajukan ke DPR RI. “Dari situ, DPR RI akan membentuk tim ke daerah lagi. Baru disinkronkan,” terangnya.(ari)

Timbang Badan Oke, Mau Bertanding Alasan Diare

Yani Malhendo, Petinju yang Pernah Ditakuti Juara Dunia Manny ‘Pacman’  Pacquiao

Petinju Filipina Manny “Pacman” Pacquiao boleh saja merasa paling sukses saat ini. Dia adalah penyandang gelar juara dunia di delapan kelas yang berbeda dan lusa (8/5) akan bertanding di Amerika Serikat (AS). Tetapi, siapa sangka dia ternyata sempat keder menghadapi petinju Indonesia. Bagaimana ceritanya”

SIDIK M. TUALEKA, Surabaya

Petinju Indonesia yang pernah membuat keder Pacman itu adalah Yani Malhendo. Kini pria 43 tahun itu sehari-harinya adalah pelatih tinju di Sasana Rokatenda.

Ketika ditanya soal sosok Pacman yang lusa akan mempertahankan gelar kelas welter (66,6 kg) melawan Shane Mosley di Las Vegas, ingatan Yani melayang pada peristiwa 15 tahun lalu.

Kala itu Pacman memulai karirnya dalam tinju profesional. Peristiwa itu terjadi pada 24 Oktober 1996, dalam pertandingan perbaikan peringkat World Boxing Organization (WBO) di Filipina.

Saat itu Pacman dipersiapkan melawan Yani Malhendo, yang tercatat sebagai petinju asal Sasana Pirih, Surabaya. Yani berada di peringkat kelima dunia kelas bantam junior (52,2 kg) di badan tinju dunia itu.

Sayang, pertarungan yang bisa menjadi sejarah dalam karir dua petinju tersebut gagal berlangsung. Padahal, semua tahapan sebelum pertarungan telah dilewati dua petinju. Termasuk general check-up dan proses timbang badan. Namun, Pacman takut melawan Yani Malhendo. Dia meminta mundur dari pertarungan tersebut dengan alasan mengalami infeksi pencernaan.

Saya juga kaget mendengar pengumuman tersebut. Katanya, dia (Pacman, Red) salah makan dan mengalami diare hebat. Tapi, saya tidak percaya bila dia sakit. Tapi, rupanya dia takut dengan saya. Sebab, sebelumnya para dokter menyatakan tidak ada gangguan pada kesehatan kami berdua,” kenang Yani.

Dia menceritakan, pembatalan secara sepihak itu membuat berang mendiang Eddy Pirih, manajer Sasana Pirih. Dia tidak terima dengan pembatalan pertarungan dengan total bayaran USD 3.500 itu. Eddy merasa sudah mengorbankan banyak uang.

“Pak Eddy merasa sudah habis banyak. Akhirnya semua ngamuk-ngamuk dan memaksakan agar pertarungan tersebut harus tetap diselenggarakan,” lanjut Yani.
Nah, untuk menghibur Yani dan rombongannya, pihak promotor sengaja mengganti posisi Pacman dengan petinju yang lain, Jats Maecad, yang juga dari kelas yang sama. Tapi, untuk menyemangati dan menutup kesalahan mereka, pihak promotor kala itu menaikkan total bayaran menjadi USD 4.500.

“Karena telanjur panas, saya berhasil memukul KO Jats pada ronde kedua. Itu adalah pertandingan tercepat yang terjadi saat itu di Filipina. Kalau lawannya Pacman, mungkin nasibnya juga sama,” koar suami Sri Mulyani itu.
Wajar saja Yani sesumbar seperti itu. Sebab, saat itu Yani berada dalam usia emasnya dalam dunia tinju, yaitu 28 tahun. Sementara Pacman baru menanjak usia 18 tahun, sepuluh tahun lebih muda daripada Yani. Itu pun Pacman baru setahun berkecimpung di dunia tinju profesional.

“Ya, saat itu saya memang melihat dia masih sangat imut dan polos. Rupanya jam terbang dia di tinju profesional juga belum banyak. Jadi, wajar saja bila dia mengambil keputusan mundur dari pertarungan saat itu,” lanjut petinju kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat, 43 tahun lalu itu.

Padahal, tiga bulan sebelum pertarungan tersebut, Pacman sempat menganvaskan petinju Indonesia lainnya, Ippo Gala. Pada pertarungan yang berlangsung di Mandaluyong, Filipina, Ippo dinyatakan kalah technical knock out (TKO) pada ronde kedua.

Nah, setelah gagalnya pertarungan tersebut, Pacman baru merebut gelar kali pertama dalam kejuaraan tinju dunia kelas terbang (50,8 kg) versi WBC pada 1998. Dia menang KO atas petinju Thailand Chokchai Chockvivat.

Sementara itu, pada tahun yang sama, Yani berhasil menempati peringkat pertama kelas bantam Junior WBO. “Sebenarnya saya harus menjalani mandatory fight melawan juara sebenarnya, Erik Morales, dari Meksiko. Namun, saat itu kondisi politik negara Indonesia tidak stabil, memaksa pertarungan itu gagal berlangsung,” ujar Yani.
Kini kehidupan Pacman dan Yani berbeda jauh. Pacman, petinuju 33 tahun itu, saat ini sedang berada di puncak karir. Dia telah sukses menjadi juara dunia di delapan kelas, mulai kelas terbang (51 kg) hingga welter super (69 kg).
Di sebuah majalah olahraga internasional disebutkan, pendapatan Pacman tahun lalu sekitar Rp 276 miliar.

Sedangkan Yani, meski enggan menyebutkan penghasilan selama setahun, hanya mempunyai sepeda motor bebek, Yamaha Vega R, yang dipakainya setiap pergi melatih. Rumah yang ditempatinya di Sidoarjo merupakan pemberian Menpora pada era Adhyaksa Dault.

“Ya, mungkin garis tangan kami berbeda. Tapi, saya tetap bersyukur dengan keadaan yang ada,” lanjut Yani.
Tetapi, dia masih menyimpan ambisi. Yani berharap, dari polesan tangannya akan lahir juara dunia. Meskipun petinju binaan Yani itu susah menyaingi Pacman, petinju yang di masa mudanya pernah takut menghadapinya. (c4/kum/jpnn)

Banjir Show di Luar Negeri

Pinkan Mambo (30), rupanya, mendapatkan banyak tawaran manggung di luar negeri. Bulan lalu dia baru saja kembali dari Belanda dan Selandia Baru. Penyanyi yang melejit sejak bergabung dengan Duo Ratu itu mendapatkan tawaran show di sana.

Selain dua negara tersebut, sebelumnya janda dua anak itu juga manggung di Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Pelantun Kau Tercipta Untukku tersebut menyatakan sangat senang. Sebab, sebagai penyanyi, bisa tampil di negara lain adalah sebuah kebanggaan.

Memang masih terlalu dini jika itu disebut sebagai langkah Pinkan untuk go international. Tapi, bagi dia, itu merupakan langkah baik untuk melebarkan sayap perjalanan karirnya.

“Kalau bicara go international, siapa sih yang nggak mau. Pasti semuanya mau. Tapi, kalau buat saya pribadi, bisa mendapatkan kesempatan nyanyi di luar negeri itu sangat menyenangkan. Kalaupun nanti ada tawaran untuk benar-benar berkarir di sana, kenapa tidak,” jelasnya kemarin (5/5), saat ditemui di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Pinkan bilang, ketika berada di Belanda dan Selandia Baru, dirinya hanya menjadi bintang tamu di sebuah acara pasar malam Indonesia. Di acara tersebut, ada hiburan berupa konser mini dan Pinkan menjadi pengisinya.

Sedangkan di Hongkong, Taiwan, dan Singapura, pertunjukan Pinkan lebih besar jika dibandingkan dengan helatan di dua negara tersebut. Pun, sebagian besar penonton aksi Pinkan adalah orang-orang Indonesia. Jadi, kebanyakan yang dibawakan justru lagu Indonesia.

“Biasanya, kalau manggung di luar negeri, kan harus nyanyi banyak lagu berbahasa Inggris. Tapi, saya kemarin justru sebaliknya. Soalnya, memang lebih banyak orang Indonesia yang nonton. Pun, mereka justru kangen dengan lagu-lagu Indonesia,” terangnya.

Nah, jika ingin benar-benar berkarir secara internasional, salah satu persiapan yang harus dilakukan oleh mantan istri Sandy Sanjaya itu berkaitan dengan bahasa.

“Bahasa kan penting, ya. Paling tidak, pernah menyanyikan lagu berbahasa Inggris di album. Tapi, saya juga belum pernah, tuh. Di album terbaru yang akan rilis, sebenarnya ingin disisipkan satu atau dua lagu berbahasa Inggris, tapi telanjur dibungkus. Mungkin lain kali,” ucapnya.

Sembari menanti kesempatan itu datang, Pinkan lebih memilih memperkuat karirnya di tanah air. Sebab, di tanah air saja dia masih harus bekerja keras dan terus memperbaiki kualitas. Sebab, banyak sekali pendatang baru potensial yang siap bersaing di industri musik. (jan/c11/ib/jpnn)

Osama Dikhianati Orang No 2 Al Qaeda

Obama Tolak Umumkan Foto

RIYADH – Lima hari sudah Osama bin Laden tewas di tangan pasukan elit Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), Navy SEAL. Namun, kematiannya tetap misterius.

Penyergapan yang dilakukan mengundang tanya, bagaimana persisnya disergap dan akhirnya ditembak. Tapi, bagaimana pemimpin Al Qaeda itu mulanya ditemukan di persembunyiannya di Abbottabad, Pakistan.
Teori terbaru diajukan koran terbitan Riyadh, Arab Saudi, Al Watan. Sebagaimana dikutip AFP, Kamis (5/5), Al Watan yang mengutip “sumber regional” menyatakan, terbongkarnya persembunyian Osama itu merupakan buah pengkhianatan orang nomor dua di Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri.

Kurir Osama yang ikut tertembak bersamanya saat penyergapan, Arshad Khan, merupakan orang Zawahiri yang disusupkan. Si kurir yang menurut Al Watan berkebangsaan Pakistan, bukan Syekh Abu Ahmed yang berkewarganegaraan Kuwait sebagaimana diklaim AS itu sebenarnya tahu bahwa dirinya terendus intelijen AS. Tapi, dia berpura-pura menutup mata dengan tujuan menuntun AS ke persembunyian Osama.

Itu semua merupakan buntut per pecahan di internal Al Qaeda. Ada dua faksi yang bersaing, Arab Saudi yang dipimpin Osama dan Mesir yang dinakhodai Zawahiri. Sejak Osama sakit parah pada 2004, Zawahiri cs ingin mengambil alih kontrol Al Qaeda. “Sejak Osama sakit, faksi Mesir-lah yang secara de facto menjalankan Al Qaeda,” ungkapnya ke Al Watan. Zawahiri pula, klaim Al Watan, yang berhasil membujuk Osama agar keluar dari persembunyiannya di kawasan perbatasan Pakistan? Afghanistan dan beralih ke Abbottabad.  Meski banyak  mempertanyakan kebenaran tewasnya Osama, Presiden AS Barack Obama tetap bersikukuh tak mau merilis foto jenazah Osama yang diklaim telah dikubur di  laut. Alasannya, hal itu bisa membahayakan keamanan nasional karena bisa digunakan sebagai alat propaganda.

“Sangat penting bagi kami untuk memastikan bahwa foto seseorang yang tewas tertembak di kepala beredar yang bisa digunakan baik sebagai tontonan maupun alat propaganda untuk melakukan kekerasan,” katanya dalam acara 60 Minutes di kanal televisi CBS sebagaimana dikutip New York Times.

Menurut Obama, yang penting untuk digarisbawahi dari kematian Osama ini adalah dia mendapat hukuman setimpal atas apa yang telah dilakukan selama ini. Untuk mereka yang masih meragukan kematiannya, Obama yang kemarin juga menghadiri acara di New York bersama keluarga para korban teror yang dilakukan Osama dan Al Qaeda itu menegaskan, “Anda tak akan pernah melihat Bin Laden berjalan di atas muka bumi ini.”

Tapi, tetap saja penolakan politikus Partai Demokrat itu menimbulkan pro-kontra. Kubu Partai Republik dengan tegas meminta foto jenazah Osama diperlihatkan agar tak lagi ada pertanyaan.

Apalagi alasan keamanan nasional yang disampaikan Obama itu terkesan sumir. Sebab, tak lama setelah dia tampil di CBS, Gedung Putih merilis tiga foto korban pria lain yang tewas bersama Osama dalam penyergapan di Abbottabad tersebut. Mereka adalah Arshad Khan, si kurir Osama; Khalid, anak Osama; dan seorang pembantu Osama.

Foto-foto yang dirilis Reuters itu memperlihatkan kondisi ketiganya yang mengerikan setelah tewas tertembak. Mereka tergeletak berlumuran darah tanpa senjata. Menurut Reuters, foto-foto tersebut diambil sekitar sejam setelah penyergapan.

Masih dari AS, sejumlah pejabat keamanan nasional Negeri Paman Sam itu kemarin mengakui bahwa AS memang tak berniat menangkap Osama hidup-hidup. Dua puluh anggota Navy SEAL yang menyerbu kediaman Osama di Abbottabad sudah dibrifing sebelum melancarkan operasi yang diberi nama Operasi Geronimo itu. Kecuali Osama dalam kondisi telanjang, dia harus ditembak.

LA Times, mengutip sumber di Gedung Putih, menyatakan, Osama harus ditembak karena dikhawatirkan memakai rompi bom bunuh diri. Direktur CIA Leon Panetta juga mengakui pada Selasa lalu (4/5), Osama bahkan mungkin tak mengucapkan sepatah kata pun sebelum dihabisi. (c5/ttg)