Polisi Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Awie
MEDAN-Polisi menggelar rekonstruksi pembunuhan pasangan suami istri, Kho Wie To alias Awie (34) dan istrinya Lim Chi Chi alias Dora Halim (30), di dua tempat yaitu di Gedung Rupatama Mapolresta Medan dan di rumah korban Jalan Akasia I No 50, Bambu III Medan, Rabu (4/5) sekitar pukul 09.00 WIB. Polisi menghadirkan dua tersangka, Sun An alias Anang alias Ayong dan Ang Ho. Rekonstruksi disaksikan empat jaksa dari Kejatisu masing-masing Herbet, Anthonius, Arga Hutagalung, Marina dan kuasa hukum tersangka.
Dalam rekonstruksi yang digelar 32 adegan itu, Sarwo (53), ayah Awie menunjuk Sun An sebagai dalang pembunuhan anak dan menantunya. Pasalnya, hanya Sun An yang memiliki masalah dengan anaknya.
“Saya yakin dia (Sun An) yang dalangi pembunuhan Awie, karena cuma dia yang punya utang dan masalah dengan anak saya,” ujar Sarwo, saat rekonstruksi rumah korban Jalan Bambu II, Akasia I, Medan. Sarwo juga menegaskan, pembunuhan yang terjadi Selasa (29/3) malam itu bukan salah sasaran. Sun An memang mengincar anaknya, karena Sun An berpikir Awie menghalang-halangi usahanya menjadi kaki tangan warga Malaysia untuk melepaskan kapal-kapal Malaysia yang ditangkap di perairan Belawan.
“Sun An sering urus kapal-kapal Malaysia yang ditangkap, tapi dia nggak urus sampai kelar. Sementara uang sudah dikasi sama dia (Sun An),” tegasnya.
Pria berusia lebih setengah abad ini mengaku kesal dengan perngakuan Sun An yang menyatakan tak mengenal empat eksekutor. Sarwo menilai, itu hanya alibi Sun An untuk berkelit.
“Nggak masuk akal kalau dia nggak kenal sama pelaku penembakan, karena mereka pernah makan sama di rumah Sun An,” tukasnya.
Kepada wartawan, Sarwo meminta agar terus mengikuti kasus ini hingga ke persidangan dan jatuh vonis. “Saya minta tolong kalian ikuti kasus terus hingga ke pengadilan nanti. Saya mau mereka dihukum seberat-beratnya,” pintanya.
Menginap di Pekanbaru
Dalam adegan rekonstruksi yang dilakukan di Mapolresta Medan dan lokasi penembakan, Sun An bersama empat orang pemilik kapal yakni A Kie, A Chuan alias A Chun, Hok Khian dan A Chui alias Halim Winata alias Jackson bertemu di Black Canyon Hotel Cambridge, Jalan S Parman Medan untuk merencanakan pembunuhan.
Sabtu (26/3) siang, Ang HO tiba di Bandara Polonia Medan dan dijemput oleh Nasful Anwar alias Saiful atas suruhan Sun An. Minggu (27/3) sore, Sun An mendatangi Nur Afiqa, pegawai Hotel JW Marriott, tempatnya menginap untuk menyewa mobil. Lalu, Sun An memerintahkan Ang Ho untuk mengambil mobil yang telah dipesannya.
Saat itu, Nur meminta Ang Ho untuk menunggu Safaruddin Siregar, supir yang akan mengantar Ang Ho menuju PT TRAC untuk mengambil mobil. Malamnya, Ang Ho kembali membawa mobil Toyota Kijang Innova warna silver BK 1640 KP.
Selanjutnya, Sun An, A Chui dan Ang Ho bertemu di Black Canyon Hotel Cambridge dan kembali membicarakan rencana pembunuhan. Senin (28/3) pagi, Ang Ho dan Sun bertemu di rumah makan Bakuteh dan berencana menjemput empat eksekutor dan menunjukkan jalan keempatnya menuju lokasi.
Selasa (29/3) sekira pukul 10.00 WIB, Sun An dan Ang Ho kembali bertemu di lantai 16 Hotel JW Marriott dan kembali mengatur strategi untuk melakukan eksekusi. Sementara, Sun An langsung bergerak meninggalkan Medan dengan menumpang mobil rental jenis Daihatsu Xenia BK 1589 ZE, dengan pengemudi Julianto. Malam harinya, Sun An menghubungi Ang Ho untuk menjemput keempat eksekutor dengan mobil Kijang BK 1640 KP di depan KFC Jalan H Adam Malik Medan Barat. Kemudian, dengan menggunakan sepeda motor empat eksekutor meluncur menuju lokasi dan membunuh Awie dan istrinya.
Rabu (30/3) pagi, Sun An tiba di Kisaran dan menyewa sebuah kamar hotel. Di Hotel Nusa Indah menggunakan KTP Julianto. Selanjutnya, Sun An menunggu Ang Ho dan keempat eksekutor di depan Hotel Nusa Indah Kisaran. Siang harinya, Ang Ho dan keempat eksekutor tiba di Hotel Nusa Indah. Sun An langsung meminta keempat eksekutor masuk ke dalam mobil Xenia BK 1589 ZE yang ditumpangi Sun An sebelumnya dari Medan.
Lalu, Sun An mengajak Ang Ho masuk ke dalam kamar hotel. Kemudian, Sun An meminta Ang Ho untuk tinggal di kamar hotel, sementara Sun An membawa keempat eksekutor menuju Bagan Siapi-api dengan supir Julianto. Selanjutnya, Ang Ho dijemput oleh Un Kiong alias Matek lalu bersama ke rumah Matek dengan menumpang Kijang Inova BK 1640 KP. Tak lama, Ang Ho kembali ke Medan.
Tiba di Bagan Siapi-api, Sun An dan keempat eksekutor menuju Wisma Bagan Siapi-api. Lalu, keempat eksekutor dibawa menuju rumah Sun An di Jalan Aji Jaya, Bagan Siapi-api.
Kemudian, Sun An memesan 7 unit ojek kepada Herman alias Katan melalui handphone. Ketujuh ojek dikendarai oleh, Herman alias Katan, Arianto, Baktiar, Saiful, Marsidi, Adnan dan Sudirman. Lalu, Sun An dibonceng oleh Arianto.
Sia Kim Tui (istri Sun An) dibonceng oleh Herman, Toni (anak Sun An) dibonceng oleh Baktiar. Selebihnya membonceng keempat eksekutor.Tiba di desa Sinaboy, Sun An dan istrinya berhenti untuk sembahyang kuburan. Sementara, keempat eksekutor dan Toni melanjutkan perjalanan menuju Desa Ujung Simbur rumah A Cuan (Kepala RT 3).
Setelah itu, 4 eksekutor diantar oleh A cuan menyeberang menuju Malaysia. Sementara, Sun An dan istrinya berangkat menuju Pekan Baru dan menginap di Hotel Elite, Pekan baru.
Dari Pekanbaru, Sun An dan istrinya berangkat menuju Jakarta. Sebelum akhirnya tertangkap.
Sementara, Sun An tak mau banyak berkomentar saat ditanyai wartawan. “Udah, nanti saja bang,” ujar salah seorang pengacara yang mendampinginya.
Sekadar mengingatkan, pengusaha penangkapan ikan dan garam cap Golven, Suwito (36) dan Dora Halim (32), tewas ditembak di mobilnya, Chevrolet Captiva BK 333 TO. Sedangkan seorang baby sitter bernama Aini terkena tembakan di kaki. Sedangkan dua anak Suwito, Christovin (2) dan Latresia (5) selamat. (ala/bud/mag-8/smg)