29 C
Medan
Sunday, January 11, 2026
Home Blog Page 15354

Personel Polres Sergai dapat Pencerahan Agama

SERGAI- Kemurkaan Allah terhadap seseorang yang menyekutukan-Nya (syirik) adalah dosa besar. Manusia diciptakan Tuhan dalam posisi yang tertinggi dan terbaik diantara seluruh makhluk ciptaan Tuhan.
Demikian dikatakan Al Ustadz Zailani SAg dalam tausyiahnya di Aula Polres Sergai yang dihadiri sejumlah anggota bintara dan perwira yang beragama Islam, Kamis (5/5).

Katanya lagi, dalam piramida ciptaan Tuhan di alam ini, manusia menempati posisi paling puncak. Tidak ada lagi yang lebih tinggi dari manusia kecuali Allah SWT.

Adapun benda-benda seperti patung, dan kekuatan alam lainnya berada di bawah kendali manusia. Alam diciptakan Allah untuk manusia agar manusia mempergunakan potensi alam untuk kepentingan hidupnya di bumi.
“Karena manusia yang paling tinggi posisinya di alam ini, maka Allah memilih manusia sebagai khalifah-Nya untuk mengurus alam,” katanya.

Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, ‘sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. At-Tiin: 4)’.

Dalam surat dan ayat yang lain disebutkan, “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makluk yang telah kami ciptakan” (QS Al-Isra [17]: 70).

Dalam surat Al-Baqarah Allah SWT juga menegaskan, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadi kan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? ‘Tuhan berfirman: ‘SesungguhnyaAku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’ ” (QS Al-Baqarah [2]:30).

Karena posisi manusia yang paling tinggi, ujar Al Ustadz Zailani, dimana tidak ada lagi di atasnya kecuali hanya Allah SWT, maka Allah sangat murka kalau manusia menundukkan dirinya kepada alam yang lebih rendah statusnya atau kepada sesama manusia sekalipun.

Alam seharusnya untuk ditundukkan dan diatur dengan sebaiknya oleh manusia, bukan sebaliknya untuk disembah.
Sementara itu, dalam melaksanakan tugas tugas  kepolisian atau pekerjaan yang lain dan terkadang menyita waktu untuk melaksanakan ibadah sholat. Al Ustadz menyarankan agar bergantian melaksanakan ibadah sampai habis waktu salat yang telah ditetapkan.(mag-15)

Sarwo: Sun An Dalangnya…

Polisi Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Awie

MEDAN-Polisi menggelar rekonstruksi pembunuhan pasangan suami istri, Kho Wie To alias Awie (34) dan istrinya Lim Chi Chi alias Dora Halim (30), di dua tempat yaitu di Gedung Rupatama Mapolresta Medan dan di rumah korban Jalan Akasia I No 50, Bambu III Medan, Rabu (4/5) sekitar pukul 09.00 WIB. Polisi menghadirkan dua tersangka, Sun An alias Anang alias Ayong dan Ang Ho. Rekonstruksi disaksikan empat jaksa dari Kejatisu masing-masing Herbet, Anthonius, Arga Hutagalung, Marina dan kuasa hukum tersangka.

Dalam rekonstruksi yang digelar 32 adegan itu, Sarwo (53), ayah Awie menunjuk Sun An sebagai dalang pembunuhan anak dan menantunya. Pasalnya, hanya Sun An yang memiliki masalah dengan anaknya.

“Saya yakin dia (Sun An) yang dalangi pembunuhan Awie, karena cuma dia yang punya utang dan masalah dengan anak saya,” ujar Sarwo, saat rekonstruksi rumah korban Jalan Bambu II, Akasia I, Medan. Sarwo juga menegaskan, pembunuhan yang terjadi Selasa (29/3) malam itu bukan salah sasaran. Sun An memang mengincar anaknya, karena Sun An berpikir Awie menghalang-halangi usahanya menjadi kaki tangan warga Malaysia untuk melepaskan kapal-kapal Malaysia yang ditangkap di perairan Belawan.

“Sun An sering urus kapal-kapal Malaysia yang ditangkap, tapi dia nggak urus sampai kelar. Sementara uang sudah dikasi sama dia (Sun An),” tegasnya.

Pria berusia lebih setengah abad ini mengaku kesal dengan perngakuan Sun An yang menyatakan tak mengenal empat eksekutor. Sarwo menilai, itu hanya alibi Sun An untuk berkelit.

“Nggak masuk akal kalau dia nggak kenal sama pelaku penembakan, karena mereka pernah makan sama di rumah Sun An,” tukasnya.

Kepada wartawan, Sarwo meminta agar terus mengikuti kasus ini hingga ke persidangan dan jatuh vonis. “Saya minta tolong kalian ikuti kasus terus hingga ke pengadilan nanti. Saya mau mereka dihukum seberat-beratnya,” pintanya.

Menginap di Pekanbaru

Dalam adegan rekonstruksi yang dilakukan di Mapolresta Medan dan lokasi penembakan, Sun An bersama empat orang pemilik kapal yakni A Kie, A Chuan alias A Chun, Hok Khian dan A Chui alias Halim Winata alias Jackson bertemu di Black Canyon Hotel Cambridge, Jalan S Parman Medan untuk merencanakan pembunuhan.
Sabtu (26/3) siang, Ang HO tiba di Bandara Polonia Medan dan dijemput oleh Nasful Anwar alias Saiful atas suruhan Sun An. Minggu (27/3) sore, Sun An mendatangi Nur Afiqa, pegawai Hotel JW Marriott, tempatnya menginap untuk menyewa mobil. Lalu, Sun An memerintahkan Ang Ho untuk mengambil mobil yang telah dipesannya.
Saat itu, Nur meminta Ang Ho untuk menunggu Safaruddin Siregar, supir yang akan mengantar Ang Ho menuju PT TRAC untuk mengambil mobil. Malamnya, Ang Ho kembali membawa mobil Toyota Kijang Innova warna silver BK 1640 KP.

Selanjutnya, Sun An, A Chui dan Ang Ho bertemu di Black Canyon Hotel Cambridge dan kembali membicarakan rencana pembunuhan. Senin (28/3) pagi, Ang Ho dan Sun bertemu di rumah makan Bakuteh dan berencana menjemput empat eksekutor dan menunjukkan jalan keempatnya menuju lokasi.

Selasa (29/3) sekira pukul 10.00 WIB, Sun An dan Ang Ho kembali bertemu di lantai 16 Hotel JW Marriott dan kembali mengatur strategi untuk melakukan eksekusi. Sementara, Sun An langsung bergerak meninggalkan Medan dengan menumpang mobil rental jenis Daihatsu Xenia BK 1589 ZE, dengan pengemudi Julianto. Malam harinya, Sun An menghubungi Ang Ho untuk menjemput keempat eksekutor dengan mobil Kijang BK 1640 KP di depan KFC Jalan H Adam Malik Medan Barat. Kemudian, dengan menggunakan sepeda motor empat eksekutor meluncur menuju lokasi dan membunuh Awie dan istrinya.

Rabu (30/3) pagi, Sun An tiba di Kisaran dan menyewa sebuah kamar hotel. Di Hotel Nusa Indah menggunakan KTP Julianto. Selanjutnya, Sun An menunggu Ang Ho dan keempat eksekutor di depan Hotel Nusa Indah Kisaran. Siang harinya, Ang Ho dan keempat eksekutor tiba di Hotel Nusa Indah. Sun An langsung meminta keempat eksekutor masuk ke dalam mobil Xenia BK 1589 ZE yang ditumpangi Sun An sebelumnya dari Medan.

Lalu, Sun An mengajak Ang Ho masuk ke dalam kamar hotel. Kemudian, Sun An meminta Ang Ho untuk tinggal di kamar hotel, sementara Sun An membawa keempat eksekutor menuju Bagan Siapi-api dengan supir Julianto. Selanjutnya, Ang Ho dijemput oleh Un Kiong alias Matek lalu bersama ke rumah Matek dengan menumpang Kijang Inova BK 1640 KP. Tak lama, Ang Ho kembali ke Medan.

Tiba di Bagan Siapi-api, Sun An dan keempat eksekutor menuju Wisma Bagan Siapi-api. Lalu, keempat eksekutor dibawa menuju rumah Sun An di Jalan Aji Jaya, Bagan Siapi-api.

Kemudian, Sun An memesan 7 unit ojek kepada Herman alias Katan melalui handphone. Ketujuh ojek dikendarai oleh, Herman alias Katan, Arianto, Baktiar, Saiful, Marsidi, Adnan dan Sudirman. Lalu, Sun An dibonceng oleh Arianto.

Sia Kim Tui (istri Sun An) dibonceng oleh Herman, Toni (anak Sun An) dibonceng oleh Baktiar. Selebihnya membonceng keempat eksekutor.Tiba di desa Sinaboy, Sun An dan istrinya berhenti untuk sembahyang kuburan. Sementara, keempat eksekutor dan Toni melanjutkan perjalanan menuju Desa Ujung Simbur rumah A Cuan (Kepala RT 3).

Setelah itu, 4 eksekutor diantar oleh A cuan menyeberang menuju Malaysia. Sementara, Sun An dan istrinya berangkat menuju Pekan Baru dan menginap di Hotel Elite, Pekan baru.

Dari Pekanbaru, Sun An dan istrinya berangkat menuju Jakarta. Sebelum akhirnya tertangkap.
Sementara, Sun An tak mau banyak berkomentar saat ditanyai wartawan. “Udah, nanti saja bang,” ujar salah seorang pengacara yang mendampinginya.

Sekadar mengingatkan, pengusaha penangkapan ikan dan garam cap Golven, Suwito (36) dan Dora Halim (32), tewas ditembak di mobilnya, Chevrolet Captiva BK 333 TO. Sedangkan seorang baby sitter bernama Aini terkena tembakan di kaki. Sedangkan dua anak Suwito, Christovin (2) dan Latresia (5) selamat. (ala/bud/mag-8/smg)

Gaji Rp2,6 Juta Bebas Pajak

Pekerja Untung, Pengusaha Ikut Senang

JAKARTA-Bisa jadi ini kabar gembira bagi para tenaga kerja yang merasa terbebani dengan adanya pajak penghasilan (PPh). Pemerintah berencana menaikkan batas penghasilan tidak kena pajak karyawan dan buruh dari Rp1,3 juta menjadi Rp2,6 juta.

“Kami sedang menggodok pajak penghasilan buruh ini dari Rp1,3 juta tidak kena pajak, ke depan akan dinaikkan lagi. Kami berjuang dengan menteri keuangan supaya dua kali lipat, berarti Rp2,6 juta,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar di komplek Istana Presiden, kemarin (4/5).

Batas penghasilan tidak kena pajak itu mengacu pada take home pay yang diterima setiap buruh. “Ini supaya tidak memberatkan buruh,” kata Muhaimin. Menurut dia, perubahan semacam itu tidak sampai harus mengubah undang-undang. Namun bisa cukup dengan keputusan menteri.

Saat ini, lanjut Muhaimin, pihaknya tengah meyakinkan dirjen pajak terkait rencana tersebut. Jika target menaikkan batasan hingga dua kali lipat tidak terpenuhi, dia berharap setidaknya bisa naik 75 persen dari nilai tidak kena pajak saat ini.

Selain negoisasi itu, Kemenakertrans juga melakukan sosialisasi dengan kalangan pengusaha. “Secara umum, pengusaha kalau soal penghasilan tidak kena pajak, tidak masalah. Senang saja. Pemerintah yang rugi,” ungkap pria yang akrab disapa Cak Imin itu.

Dalam kesempatan itu, Muhaimin juga mengatakan pihaknya telah selesai membahas UU Pembantu Rumah Tangga. Proses selanjutnya akan berada di Kementerian Hukum dam HAM. Menurut Muhaimin, undang-undang itu nantinya memberikan perlindungan yang mendasar untuk PRT. Misalnya tidak ada kekerasan dan jaminan perlindungan kerja. (fal/jpnn)

Sabtu, Gebyar Pembaca Sumut Pos Diundi

Harian Sumut Pos akan mengundi kupon Gebyar Pembaca Berhadiah di gedung Graha Pena Jalan SM Raja Medan, Sabtu (7/5) siang pukul 14.00 WIB. Pengundian ini merupakan tahap pertama dari tiga tahapan yang direncanakan, hingga Oktober 2011 mendatang.

Tahapan pertama dimulai 1 Februari hingga 30 April 2011, tahapan kedua mulai 1 Mei hingga 30 Juli dan tahapan ketiga, Grand Prize mulai 1 Agustus hingga 30 Oktober 2011.

Darwin Purba selaku manager Event Organizer Sumut Pos mengatakan, jumlah kupon yang masuk sebanyak 32.735 lembar, terdiri dari pelanggan 20.636 kupon dan eceran 12.099 kupon.

Adapun cara mengikuti Gebyar Pembaca Berhadiah ini adalah dengan menuliskan nama, alamat dan nomor KTP, SIM atau kartu pelajar/mahasiswa, nomor telepon rumah/HP diguntingan kupon yang diterbitkan setiap hari di Harian Sumut Pos, lalu masukkan ke dalam kotak undian yang sudah disebar di setiap counter atau antar langsung ke kantor Harian Sumut Pos, Graha Pena Jalan SM Raja Medan Amplas.

“Penting diketahui, meskipun satu tahapan polling berjalan selama 3 bulan, namun warna kupon akan berganti setiap bulan. Artinya, katanya lagi, pengiriman kupon setiap bulannya mempunyai batas waktu (beda warna). Dimana kupon bulan pertama tidak diperkenankan dikirim pada bulan kedua. Juga kupon bulan kedua tidak akan berlaku lagi pada bulan ketiga. Dan kupon yang dianggap sah adalah kupon yang berwarna. Diluar itu dianggap batal,” paparnya.
Sedangkan mengenai hadiah yang disediakan diantaranya, satu unit sepeda motor (hadiah utama), satu unit Blackberry, 10 unit Flexy, satu unit Dispenser, 40 kaos cantik, 40 unit jam dinding dan 30 unit payung.

“Nama-nama pemenang akan diumumkan di Sumut Pos selama 7 hari berturut-turut mulai 8 hingga 15 Mei 2011 dan jika hadiah tidak diambil sampai batas yang telah ditentukan, maka hadiah menjadi milik panitia. Pengambilan hadiah tidak boleh diwakilkan dan harus membawa kartu identitas yang sama dengan nama yang tercantum di kupon undian,” pungkasnya.(ari)

Sembilan Saksi Diperiksa

Darwin Siregar Bantah kabur ke Malaysia

MEDAN-Perjalanan pengungkapan pelaku penyiraman soda api ke wajah Ir Masfar Sikumbang, polisi telah memeriksa 9 saksi masing-masing SL, M, K, SS, MP, LBH, D, DS dan S. Seluruhnya adalah saksi penyiraman soda api korban  di tempat kejadian perkara (TKP), di Jalan H Adam Malik Medan, Selasa, 26 April 2011.

“Hingga saat ini yang kita periksa itu masih sebatas (saksi yang melihat kejadian penyiraman) di TKP, belum mengarah kemana-mana,” ujar Wakasat Reskrim Polresta Medan, AKP Ruruh Wicaksono, kemarin (4/5).
Ruruh tak mau kebablasan dalam memberikan informasi seputar otak pelaku serta motif peganiayaan.
“Jangan digiring pembicaraannya ke arah itu Mas, saya tidak mau teledor atau kebablasan karena ini cukup sensitif,” katanya.

Ruruh kembali mengungkapkan ciri-ciri kedua pelaku yang berwarna kulit hitam, gemuk dan tinggi 170 cm,”Yah dari hasil keterangan saksi, ciri-cirinya seperti itu. Kita masih bekerja untuk itu, jadi itu dulu ya…,” jelasnya.
Hingga saat ini, pihak kepolisian dari Polresta Medan belum terbuka seputar pelaku penganiayaan tersebut. Bila ditanya seputar oknum pejabat Pemko di balik kasus penganiayaan, polisi akan segera mengelak. “Udah ya, jangan menuding, Wong tersangkanya saja belum ketangkap kok, jadi bagaimana kita menuduhnya sebagai pelaku. Mas jangan sembarangan dong, karena itu sangat sensitif,” tambah Ruruh.

DS Bantah Kabur

Saksi kasus penganiayaan Ir Masfar, Darwin Siregar (DS), tadi malam sekira pukul 19.00 WIB mendatangi kantor Redaksi Sumut Pos di Graha Pena Medan. Kedatangan Darwin untuk memberikan klarifikasi atas berita di koran ini edisi Rabu (4/5) dengan judul: Saksi Kunci DS Kabur ke Malaysia. Dia membantah isi berita yang bersumber dari Kabid Humas Poldasu, AKBP Raden Heru Prakoso tersebut. Sementara itu, AKBP Raden Heru Prakoso, kemarin, juga telah meluruskan dan meralat keterangannya. Heru juga menyatakan, telah terjadi kesalahan pada keterangan yang disampaikannya kepada wartawan.

Kedatangan Darwin tadi malam disambut hangat redaksi Sumut Pos. Dia kemudian menyampaikan klarifikasi sesuai kronologis yang diketahuinya. Disebutkannya, pada 25 April 2011 sekitar pukul 13.30 WIB dia mendatangi rumah makan Sibolga di Jalan Adam Malik. “Setelah memarkirkan kendaraan (mobil) saya masuk ke rumah makan sambil memesan makanan. Pada saat saya sedang duduk di rumah makan dan menunggu pesanan, tiba-tiba saya beserta orang yang berada di rumah makan mendengar suara jeritan yang sangat kuat, yang arahnya datang dari luar rumah makan. Secara spontan saya bersama dengan orang yang berada di rumah makan keluar untuk melihat dan mengetahui apa yang terjadi,” katanya.

Saat itu dia dan warga setempat melihat ada korban yang sedang kesakitan dan mengerang. Setelah semakin dekat, terlihat wajah seseorang yang kemudian diketahui bernama Masfar, penuh dengan benda cair termasuk pakaiannya.
“Setelah melihat korban yang sangat memprihatikan dan membutuhkan pertolongan serta juga atas permintaan masyarakat di sekitar untuk segera membawa korban ke rumah sakit terdekat, saya atas dasar kemanusiaan yang tulus dan keprihatinan mendalam tanpa mengenal dan tidak memiliki hubungan apapun dengan korban, dengan spontan membawa korban disertai satu orang saksi di tempat (nama dan alamat ada pada keluarga korban) yang bertugas memapah si korban, langsung menuju Rumah Sakit terdekat yaitu RSU Tembakau Deli,” ungkapnya.
Setelah dilakukan pertolongan pertama di UGD RSU Tembakau Deli kurang lebih satu jam, isteri korban tiba di Rumah Sakit dan langsung menanyakan perihal kejadian terhadap suaminya. “Saya sebagai saksi yang menolong, membawa ke rumah sSakit langsung memberikan penjelasan informasi tentang kejadian yang sebenarnya. Dan pada saat yang sama saya juga telah menyampaikan informasi, penjelasan awal kepada pihak kepolisian yang hadir di rumah sakit, yaitu Briptu Tulus Panjaitan, anggota Reksrim Polsekta Medan Barat,” tambahnya.

Darwin menjelaskan, sebagai warga negara yang baik semua penjelasan tersebut, telah  disampaikannya saat Darwin dimintai keterangan sebagai saksi oleh pihak Kepolisian Polresta Medan. “Keterangan itu saya sampaikan kepada polisi dalam pemeriksaan saya pada tanggal 2 Mei 2011 sekitar pukul 14.00 WIB oleh Juper Satreskrim Jahtanras Polresta Medan, Bripka Rahmat Ginting, dalam sebuah berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang telah saya tandatangani,” terangnya.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Darwin membantah telah kabur ke Malaysia dan tidak memenuhi panggilan kedua oleh polisi. Dia juga membantah disebutkan sebagai saksi kunci sebagaimana keterangan Kabid Humas Poldasu dalam pemberitaan koran ini. “Informasi yang menyebutkan saya diduga sengaja disuruh menghilang agar proses penyelidikan mengungkap pelaku penganiayaan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya semakin sulit diungkap, tidak mengandung kebenaran dan bisa menjurus kepada fitnah. Yang benar saya pada tanggal 28 sampai 30 April 2011 berada di Rumah Sakit Adventis, Penang, Malaysia untuk Chek Up rutin bersama istri saya yang sudah direncanakan jauh sebelumnya dan telah memberitahukan dan mendapat izin dari atasan saya sebagai PNS,” jelasnya. Darwin menyampaikan, klarifikasi ini disampaikannya agar tidak terbentuk opini dan persepsi yang salah bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Atas klarifikasi Darwin Siregar, wartawan koran ini, mengkonfirmasinya kepada Kabid Humas Poldasu, Raden Heru Prakoso. Kepada wartawan koran ini, Heru meralat pernyataan yang disampaikannya sehari sebelumnya. Heru mengatakan, saksi Darwin Siregar telah memenuhi panggilan kedua dari polisi untuk dimintai keterangan. Dia juga megatakan, Darwin, telah kembali dari Malaysia. Itu disampaikannya setelah menghubungi Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol Fadillah Zulkarnain. “Sudah dua kali DS diambil keterangannya oleh penyidik usai pulang dari Penang, Malaysia. Jadi keterangan yang semalam (Selasa (3/5), Red) sedikit terjadi kesalahan,” ujar Heru.

Sementara itu, Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar (DPP PG) mempersilakan pihak kepolisian mengusut Wali Kota Medan Rahudman Harahap, yang namanya disebut-sebut terkait perkara dugaan penganiayaan yang dialami Masfar, seorang PNS di Pemprov Sumut.

Meski Golkar merupakan salah satu partai pengusung Rahudman saat pemilukada Medan, DPP PG yakin citra partai berlambang beringin rindang di Sumut tidak akan tercoreng.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PG Idrus Marham menjelaskan, sikap DPP sudah jelas setiap menanggapi kadernya yang tersangkut masalah. DPP akan melindungi dan mendampingi kadernya atau kepala daerah yang dulunya diusungnya yang mengalami pendzoliman.

“Sebaliknya, jika ada bukti nyata, Partai Golkar akan mengawasi proses hukumnya supaya tetap adil. Yang paling pokok, kita proteksi agar kader-kader yang lain tak terlibat,” ujar Idrus Marham di Jakarta, Rabu (4/5).

Apakah Golkar merasa tercoreng citranya lantaran kasus di Medan ini? Pria asal Sulawesi Selatan ini mengatakan, tidak. Ditegaskan lagi bahwa sikap DPP sudah jelas, bahwa jika ada kader atau kepala daerah diduga tersangkut masalah hukum, maka prosesnya diserahkan sepenuhnya ke aparat hukum.

“Pokoknya, kita serahkan ke proses hukum. Siapa pun juga. Karena komitmen ketua umum (Aburizal Bakrie, red), jika bangsa ini mau maju, hukum harus menjadi panglima,” ujar Idrus.

Keputusan Partai Golkar ini dipuji banyak kalangan di Sumatera Utara. Sikap berlawanan ditujukan kepada Plt Gubernur Gatot Pujo Nugroho yang dianggap belum berani bersikap.

“Saya heran dan kecewa terhadap Plt Gubsu. Harusnya dia mengambil sikap dan tindakan, karena yang korban bawahannya (Ir Masfar). Tapi, sampai sekarang tidak ada pembelaan sedikit pun,” tegas Marasal Hutasoit, anggota Fraksi PDS DPRD Sumut.

Marasal mengingatkan, penganiayaan akan menimbulkan dampak psikologis, apalagi kemungkinan besar Masfar akan cacat seumur hidup. Dengan upaya pembelaan yang dilakukan oleh Plt Gubsu, diharapkan bisa menjadi pelajaran bagi pejabat atau kepala-kepala daerah lainnya, untuk tidak melakukan hal yang sama.

Sementara itu, Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Provsu Rahmatsyah juga menolak berkomentarnya hingga mendapat instruksi dari Plt Gubsu. “Kita masih menunggu itu. Dalam waktu dekat akan kita tanyakan itu kepada yang bersangkutan, guna mengetahui detil terjadinya peristiwa itu. Tapi semestinya atau perwakilan Pemko Medan harusnya melaporkan sendiri (ke pemprov) sebelum ditanya,” ungkap Rahmatsyah.
Mengenai perkembangan kasus penganiayaan tersebut, Plt Sekdaprov menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib. (tim)

Bernafas dengan Musik

Lala Karmela

Musik ibarat nafas dalam jidup bagi Lala Karmela (26). Selalu ada musik dalam pikirannya setiap hari. Musik pula yang membuat dia bergairah. Menurut dia, penyebabnya, dirinya terbiasa hidup dengan musik sejak kecil.
Ayahnya, Eko Kartodirdjo, sering memutar lagu-lagu The Beatles, Gloria Estefan, dan Stevie Wonder. Dia mulai mengenal alat musik, seperti piano dan gitar, juga dari ayahnya.

“Kalau kakak-kakakku langsung pergi saat mendengar orang main piano, saya malah diam dan memperhatikan,” tuturnya kemarin (4/5) saat bertandang ke gedung Graha Pena, Jakarta. Karena memiliki ketertarikan pada musik, orangtuanya lantas mengikutkan dia les piano.

Penyanyi yang sudah lebih dulu mengeluarkan album di Filipina tersebut tidak bisa bertahan lama saat les. Sebab, pelantun Hasrat Cinta tersebut tidak tahan dengan guru lesnya yang galak. Waktu itu, dia masih duduk di bangku SD dan sangat keras kepala. “Lesnya cuma bertahan enam bulan. Gurunya galak bener. Saya paling enggak bisa digalakin. Sekarang saya merasa menyesal juga sih, kenapa dulu enggak tahan,” ungkapnya.

Lala ingin sekali bisa kembali mendalami piano jika ada waktu. Sekarang, kata dia, sifatnya tidak sekeras dulu. Semakin besar, semakin dewasa pula sifatnya. Kalaupun ada sesuatu yang tidak sesuai dengan hati, dia bisa menyikapinya dengan sabar.

“Apalagi, sekarang saya bekerja sama dengan banyak orang. Belajar dari pengalaman, sifat saya yang keras kepala kerap membuat saya terbentur-bentur dan akhirnya kena batunya,” ujarnya.

Saat ini, Lala menunggu proses album perdananya di Indonesia keluar. Penyanyi yang pernah berduet dengan Christian Bautista di Filipina tersebut sabar dan menikmati segala prosesnya. Dia mengeluarkan album solo di Filipina yang berjudul Stars. Dia dikenal di sana. Di Indonesia, untuk memiliki album solo, banyak jalan yang harus dilalui terlebih dahulu.

“Saya menikmati proses itu. Sebab, saya sadar bahwa industri musik di Indonesia lebih berat dan kompetisinya besar. Saya beruntung karena berada di negara sendiri. Keluarga dan teman-teman di sini. Dulu, saya pernah merasakan seperti ini di Filipina. Terasa berat karena saya belum punya banyak teman di sana,” paparnya.
Sekarang perempuan berwajah imut itu lega karena album perdananya, Kamu, Aku, Cinta, rampung dan akan dirilis bulan ini. Single-nya rilis lebih dulu pada Maret lalu. “Sekarang saya bisa nunjukin deh ke teman-teman. Ini lho sudah ada albumku,” katanya. (jan/c12/ib/jpnn)

Lama Tersiksa karena Berdandan dan Rok

Kisah Aminah, ABG yang ‘Mendadak’ Jadi Pria Bernama Amin

Sejak lahir dia berjenis kelamin perempuan. Tapi, ketika mulai duduk di bangku MTs (setingkat SMP), dia berubah menjadi pria. Nama pun berganti, dari Aminah menjadi Amin Wahyu Bahtiar. Inilah kisah tentang Aminah alias Amin itu.

GUNAWAN, Boyolali

Perubahan jenis kelamin yang dialami Aminah tersebut terkuak ketika keluarganya datang ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Boyolali pada Jumat pekan lalu (29/4). Saat itu petugas di instansi tersebut terkaget-kaget atas maksud kedatangan orang tua Aminah, pasangan Parno, 36, dan Surati, 36.

Kepada petugas, mereka meminta nama anaknya dalam akta kelahiran diganti, yakni dari Aminah menjadi Amin Wahyu Bahtiar. Tentu saja permintaan tersebut tak bisa langsung dikabulkan. Sesuai prosedur, dispendukcapil harus memverifikasi yang bersangkutan. Yakni, memeriksa alat kelamin Aminah.

Baru kemarin (4/5) tim verifikasi itu mendatangi rumah Aminah di Dusun Kepoh, Desa Sembungan, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali. Rumah tersebut sangat sederhana. Luas bangunannya sekitar 8 x 12 meter. Di depan rumah tampak tumpukan kayu.

Siang kemarin, kedatangan tim verifikasi yang dipimpin Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Pencatatan Sipil dan Pengelolaan Dokumen Ahmad Qowim itu disambut keluarga Aminah. Tim lantas mewawancarai Parno dan Surati. Setelah itu, baru mereka memeriksa kondisi Aminah alias Amin. Seusai memeriksa, tim verifikasi menyimpulkan bahwa Aminah memang layak disebut pria. “Kami sempat kaget setelah memeriksa,” kata Qowim.

Dia menyatakan, dengan melihat perubahan alat kelamin itu, tidak perlu menerbitkan akta kelahiran baru untuk Amin. “Akta yang lama tetap bisa digunakan, dengan syarat diberi catatan pinggir tentang jenis kelamin dan nama baru. Prosesnya paling hanya sepekan sudah jadi,” jelas Qowim.

Jawaban tersebut melegakan Parno dan Surati, termasuk si Amin. “Saya akhirnya mendapat status baru,” ujar Amin.
ABG berumur 15 tahun itu memang lahir dengan jenis kelamin perempuan. Hingga lulus SD, anak pertama di antara dua bersaudara tersebut masih dianggap perempuan. “Ini ijazah saya,” kata Amin kepada Radar Solo (Jawa Pos Group).

Tampak dalam ijazah itu, nama Amin masih tercantum Aminah dan berjenis kelamin perempuan. Foto Aminah juga terlihat agak panjang.

Lulus SD, Aminah lantas melanjutkan ke MTsN Tinawas, Nogosari. Di sekolah itu, dia pun berperilaku sebagai perempuan. Ke sekolah berjilbab dan berkumpul murid-murid perempuan lain.

Surati menceritakan, sebenarnya ketika Amin kelas tiga SD, ada yang aneh pada alat kelaminnya. Saat itu, di antara celah alat kelamin perempuan muncul semacam tonjolan daging menyerupai penis. “Waktu itu saya langsung membawa anak saya ke rumah sakit di Semarang,” cerita ibu dua anak tersebut.

Oleh dokter yang memeriksa, Amin disarankan untuk dioperasi. “Karena biayanya mahal, kami disarankan untuk mengurus surat askes atau jamkesmas untuk minta keringanan biaya,” papar perempuan yang sehari-hari membantu suaminya bekerja sebagai pengepul kayu bakar tersebut.

Surati menambahkan, pihaknya sebenarnya sudah mengurus jamkesmas. Tapi, sampai sekarang surat itu tak kunjung turun.

Saat menunggu kepastian jamkesmas selama bertahun-tahun lamanya itu, terjadi perubahan pada kondisi fisik Aminah. Lambat laun alat kelamin prianya lebih menonjol. Bahkan, dua bulan lalu, alat kelamin pria itu tampak sempurna. “Yang aneh menurut saya, alat kelamin perempuan anak saya seperti nggak ada bekasnya,” tegas Surati.
Bersamaan dengan itu, di leher Aminah muncul jakun layaknya seorang pria. Suaranya pun berubah semakin besar. Saat itu Surati dan suaminya kembali memeriksakan anaknya ke dokter di Semarang. Hasilnya, alat kelamin Aminah memang sempurna mengarah ke pria. “Saat itu dia (Aminah) langsung saya khitankan. Namanya kami ganti menjadi Amin Wahyu Bahtiar,” jelasnya.

Untuk melengkapi persyaratan administrasi, pihak keluarga mengurus surat penetapan di Pengadilan Negeri (PN) Boyolali. Melalui surat bertanggal 4 April 2011 yang ditandatangani hakim Saiful Anam itu, disebutkan bahwa Aminah yang berjenis kelamin perempuan berubah menjadi pria bernama Amin Wahyu Bahtiar. “Penetapan mengurus perubahan jenis kelamin itu, kami habis sekitar Rp 3 juta,” ujar Surati.

Kepada Radar Solo, Amin menceritakan, sejak duduk di bangku MTsN, dirinya sebenarnya sudah merasakan keanehan. “Saya saat itu sudah merasa sebagai laki-laki. Tapi, karena sejak kecil dianggap perempuan, saya pun terpaksa bertingkah menjadi perempuan. Mulai berdandan, pakai rok, dan pakai pakaian yang serbapanjang. Itu membuat saya tersiksa,” ungkapnya.

“Saya pun lebih suka bergaul dengan pria, bermain layang-layang dan sepak bola,” imbuh murid kelas IX MTsN tersebut.

Gara-gara lebih suka bermain dengan pria, oleh teman-temannya, Amin saat itu disebut gadis tomboi. “Saya cuek dengan ejeken itu. Syukurlah, saya sekarang sudah menjadi pria seperti yang saya inginkan,” ujarnya.
Meski demikian, dia akan menyimpan semua pakaian perempuannya sebagai kenang-kenangan.

Ada kisah menarik setelah Aminah “resmi” menjadi Amin. Saat itu adalah hari pertama Amin kembali ke sekolahnya setelah resmi menjadi pria. “Saat masuk ke sekolah, dia (Amin) dianggap murid baru. Teman-temannya pangling,” ungkap Sastro Musrih, 60, kakek Amin. (jpnn/c5/kum)

Ketum DPP Awasi Plt Ketua Golkar Sumut

JAKARTA-Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sumut Andi Achmad Dara harus melaporkan seluruh kegiatan partai di Sumut ke Ketua Umum DPP PG Aburizal Bakrie alias Ical.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PG Idrus Marham menjelaskan, dari hasil laporan kegiatan partai itu nantinya kepemimpinan sementara Andi Achmad Dara akan dievaluasi secara berkala.

“Kita akan evaluasi, dua bulan, tiga bulan. Kepemimpinannya harus kolektif. Apapun yang dilakukan Pak Adey (panggilan Andi Achmad Dara, red), harus dikoordinasikan dengan DPP, termasuk bagaimana perkembangan partai di Sumut,” ujar Idrus Marham di Jakarta, Rabu (4/5).

Idrus juga berharap agar seluruh kader PG di Sumut bisa memahami penunjukan Adey sebagai Plt ketua Golkar Sumut. Dijelaskan, pencopotan Syamsul Arifin sebagai ketua Golkar Sumut sifatnya hanya sementara saja. Tujuannya, agar Syamsul yang sedang menjalani proses hukum perkara dugaan korupsi APBD Langkat, bisa lebih fokus memikirkan masalah yang dihadapinya itu.

“Biar Pak Syamsul lebih fokus saja. Tak ada kepentingan lain. Kepala seluruh keluarga besar Partai Golkar Sumut, harus pahami itu,” terangnya.  Mengapa DPP memilih Adey? Menurutnya, lantaran Adey selama ini sudah mengurusi bagian pemenangan pemilu. “Jadi tidak ada masalah. Toh seluruh kegiatan dikoordinasikan dengan DPP,” imbuhnya lagi.

Dijelaskan pula, DPP sangat menghargai peran dan kontribusi Syamsul kepada partai. Dia memuji Syamsul yang disebutnya punya prestasi memenangkan calon yang diusung PG di pemilukada sejumlah kabupaten/kota di wilayah Sumut. “Semua mengakui, di bawah Syamsul Arifin kemenangn pilkada meningkat,” katanya.

Sebelumnya, pengamat politik dari IndoBarometer, M Qodary, menilai, sebagai ketua Koordinator Wilayah Sumatera DPP Golkar, Andi Ahmad Dara tidak punya kepentingan apa pun kecuali mengendalikan organisasi Golkar Sumut.
Qodary, yang dikenal sebagai pengamat yang tahu betul kondisi internal Golkar itu, yakin sosok Andi Ahmad Dara tidak terseret dalam pengkubuan yang terindikasi terjadi di internal ‘beringin’ Sumut.(sam)

Pembawa Kotak Berisi Bom Ngaku Dihipnotis

MEDAN-Pria yang membawa bungkusan yang diduga berisi bom ke Hotel JW Marriott, Rahmad Agustian (34), warga Jalan Pembangunan Pelawi Barat, Pangkalan Brandan, ternyata dihipnotis oleh orang tidak dikenal sebelum melakukan aksinya.

“Setelah kita periksa dan selidiki ternyata pelaku tidak mengetahui paket yang diantarnya ke JW Marriott. Sebab, sebelumnya dia telah dihipnotis oleh dua orang yang tidak dikenalnya di kawasan Kampung Lalang Medan,” ujar Kapolsekta Medan Barat, Kompol Arke F Ambat.

Dijelaskannya, hingga saat ini pihak kepolisian belum mengetahui motif yang menyuruh Rahmad, sebab menurut pengakuan pelaku hanya disuruh untuk mengantar dan akan mendapat imbalan.

“Jadi saat kita interograsi dia masih linglung dan tidak menyadari apa yang dilakukannya. Oleh sebab itu, kita hanya melakukan pemeriksaan untuk mengetahui ciri-ciri orang yang menyuruhnya,” katanya.

Disinggung mengenai adanya kelompok radikal di Kota Medan, Arke mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pengembangan dan berkoordinasi dengan pihak Polresta Medan dan tim Jihandak Poldasu.

“Intinya kita terus berusaha. Sebab, semuanya butuh penyelidikan. Bisa saja ini dilakukan oleh orang iseng, kita tidak tahu itu, yang pasti akan terus kita proses,” katanya. Kemarin, Rahmad terlihat masih berada dalam sel Mapolsek Medan Barat.(mag-8)

Mujahidin: Osama Masih Hidup

Hasil Tes DNA 99,9 Persen Positif

JAKARTA – Klaim Amerika yang menyebut telah menewaskan pimpinan Al-Qaeda, Osama bin Laden, mendapat bantahan. Menurut Komandan Waliur Rahman (komandan Mujahidin Pakistan) dan Tehrik-e-Taliban, ikon jihad global tersebut masih hidup dan dalam keadaan sehat.

Hal ini diungkapkan Laode Agus Salim, praktisi mujahidin internasional. “Saya baru dapat kabar dari teman, yang mendapat kabar dari temannya soal hal ini,” kata pria Indonesia yang termasuk paling awal masuk Akademi Militer Afghanistan pada 1984 tersebut.

Pria yang juga ketua MMI Jakarta tersebut mengatakan bahwa dirinya belum yakin dengan klaim yang dibuat Amerika tersebut. “Selalu ada kontak batin, dan rasanya ketika Obama rilis syahidnya Syekh Osama, saya kok belum yakin. Rasanya nggak pas,” kata pria yang pernah berinteraksi dengan Osama selama bertahun-tahun saat di Afghanistan tersebut.

Keyakinannya diperkuat dengan pesan pendek yang diterimanya dari kawannya di Pakistan. Isinya sebagai berikut: “Komandan Waliur Rahman (komandan mujahidin Pakistan) dam Tehrik-e-Taliban mengkonfirmasi Syaikhul Mujahid Abu Abdillah Usamah bin Ladin masih hidup dan dalam keadaan sehat, foto yang beredar adalah palsu, Allahu Akbar Wa Makaru Wa Makarallah Wallahu Khairul Makirin. Shodaqta Yaa Syeikh. Syukron.

Menurutnya, dia lebih percaya dengan keterangan kawannya tersebut. “Karena mereka (mujahidin, Red) lebih dekat dengan Osama ketimbang Amerika. Jadi lebih tahu kepastiannya,” ucapnya.

Meski percaya, pria yang akrab dipanggil Syawal tersebut mengaku tak berani memastikannya. “Karena saya tak tahu apa yang terjadi di lapangan,” ucapnya. Apalagi, sampai Obama berani melakukan rilis kepada dunia soal kematian Osama, tentu saja pasti didasarkan bukti kuat. “Wallahu’alam,” tambahnya.

Diakui Laode, bila memang benar Osama sudah meninggal, maka akan ada pukulan terhadap pergerakan ikhwan-ikhwan jihadi. “Karena beliau adalah sosok yang ideal. Ia adalah contoh orang yang benar-benar membaktikan dirinya semua, termasuk harta-hartanya, untuk kepentingan Islam,” katanya.

Hanya, Laode memprediksi bahwa kematian Osama tidak akan terlalu berpengaruh terhadap perkembangan tanzhim jihadi di Indonesia. “Sejak tertangkapnya Hambali, syahidnya Mukhlas, Imam Samudera, maka praktis sudah tidak ada kontak langsung antara orang-orang Arab dengan ikhwan-ikhwan di Indonesia. Tapi, saya tidak tahu lagi, bila dalam generasi yang lebih muda mempunyai link-nya sendiri,” tandasnya.

Seperti dilansir Bloomberg, Selasa (3/5), klaim Osama Bin Laden masih hidup ini, dilontarkan Pemimpinan Taliban Pakistan mengirimkan pernyataannya kepada televisi Pakistan GEO TV.

Osama Bin Laden dinyatakan tewas dalam pertempuran saat tim kecil militer Amerika Serikat (AS) menyerang sebuah rumah kecil di Abbotabbad. Pihak AS sendiri sudah memastikan bahwa Bin Laden memang sudah tewas setelah melakukan tes DNA.

Seperti dilansir Arrahmah.com, Komandan Waliur Rahman, seorang komandan Mujahidin di Pakistan menyatakan Syeikh Osama bin Laden masih hidup dan berada dalam kondisi sehat.

“Aku tidak bertemu secara langsung dengan Syeikh Osama, saya dapat mengkonfirmasikan dengan jelas kebenaran bahwa Syeikh Osama bin Laden masih hidup dan dalam keadaan baik,” ujarnya dalam statemen video yang diambil Arrahmah dari forum Islam Ansar, mengutip siaran berita BBC Arab.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) yakin 99,9 persen bahwa tes DNA telah membuktikan pria yang tewas di Pakistan itu adalah Osama bin Laden. Pernyataan para pejabat tersebut menepis keraguan sejumlah kalangan tentang benar atau tidaknya Osama telah tewas. Para ilmuwan, kata para pejabat AS itu, sebagaimana dilansir Daily Mail, Selasa, telah membandingkan contoh forensik dari sosok mayat yang tewas di sebuah tempat persembunyian di Pakistan dengan yang diambil dari otak adik perempuan Osama yang meninggal di sebuah rumah sakit di Boston beberapa tahun lalu. (ano/iro/jpnn)