Home Blog Page 15358

Supir Dipaksa Turunkan Muatan

Pembajakan Truk Pengangkut CPO Marak di Tol Belmera

MEDAN- Supir pengangkut Crude Palm Oil (CPO) mengaku resah dengan pembajakan yang kerap terjadi di wilayah Belawan. Pasalnya, pembajak tidak segan-segan menganiaya jika para sopir tidak menurunkan sebagian muatan CPO yang mereka bawa ke lokasi penampungan para pembajak.

Dengan mengganasanya aksi pembajakan tersebut, sebahagaian supir takut melintas di Jalan Tol Belmerah yang kerap dijadikan lokasi pembajakan. Sementara, polisi yang sudah mendapatkan laporan dari sebagian supir yang merasa resah belum mampu menangkap para pelaku.

Apalagi, disebut-sebut oknum aparat berada di belakang para pembajak itu. Seperti yang terjadi di jalan Tol Belmera kawasan simpang Kawasan Industri Medan (KIM) 2 Mabar, Kamis (12/5) dinihari pukul 00:30 WIB. Enam orang tak dikenal (OTK) menggunakan senjata api membajak mobil tanki pengangkut CPO dengan nomor polisi BK 9115 BE.
Akibatnya, korban Ropature Situmorang (35), warga Lingkungan IX, Gang Mandiri Simpang Dobi, Kelurahan Titi Papan, mengalami kerugian satu tanki berisi 31 ton CPO seharga Rp310 juta, uang tunai Rp1,9 juta dan surat berharga lainnya. Dalam laporannya di Polsekta Medan Labuhan, korban mengatakan, mobil tanki berangkat dari Sosa. Saat melintas di tempat kejadian, mobil jenis Avanza (nomor plat tidak diketahui) menghentikan laju mobil tanki tersebut. Sejumlah pelaku mengaku dari PT Tangki Mas memerintahkan korban memperlihatkan dokumen CPO yang dibawanya. Setelah itu menyuruh korban menjumpai seseorang yang disebut ‘bos’ di dalam mobil Avanza tersebut.

Tanpa menaruh curiga, korban datang hendak memberikan fotokopi dokumen yang diminta pelaku. Namun, begitu korban mendekati mobil, langsung ditodong senjata api dan dipaksa masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil korban diikat dan mulutnya ditutup lakban. Korban sempat dibawa keliling-keliling dan diturunkan di kawasan Amplas sekira pukul 05.00 WIB. Selanjutnya korban mengadu ke Polisi Jalan Raya (PJR) tol Amplas, dan diarahkan membuat laporan ke Polsekta Medan Labuhan.

Peristiwa serupa juga terjadi pada Senin (23/5) dinihari lalu di kawasan yang sama. Tetapi truk tanki berisi CPO itu berhasil lolos ketika hendak dihentikan para pembajak.

Saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (24/5) supir yang tak ingin disebut namanya itu mengatakan, jika CPO yang dibawanya itu dibajak. Supir truk dirugikan karena harus mengganti CPO yang dirampok tersebut.
Kabid Humas Poldasu AKBP Heru Prakoso saat dikonfirmasi, mengakui enam tersangka pelaku perampokan truk tanki CPO belum tertangkap. “Sampai saat ini masih dalam penyelidikan,” ujar Heru. Dijelaskannya, pihaknya telah memerintahkan satuan wilayah untuk melaksanakan patroli di jam-jam rawan. (adl)

Pangdam Minta Pers Transparan

MEDAN- Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/BB Mayjen TNI Leo Siegers meminta media massa lebih transparan menyebutkan nama, satuan dan pangkat oknum TNI yang diduga terlibat kasus kriminal. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah kerja Asintel melacak dan menindak oknum tersebut.

Hal ini diungkapkan Pangdam I/BB Mayjen TNI Leo Siegers dalam pertemuan dengan seluruh wartawan, pimpinan media cetak dan elektronik se Kota Medan, para perwira di jajaran Kodam I/BB juga organisasi wartawan seperti PWI, AJI, IJTI, SPS serta ulama di Makodam I/BB, Jalan Medan-Binjai Km 10,5, Selasa (24/5).

“Dengan pertemuan ini, kita berusaha memperkecil jarak dan luang antara Kodam dan insan pers. Kita juga mengimbau kalau ada pelanggran penganiayan, judi, narkoba, yang melibatkan anggota TNI jajaran Kodam I/BB, kita minta media lebih transparan, untuk menyebutkan nama, satuan dan pangkatnya, hal ini agar Asintel tidak setengah mati mencari,” ujar Leo.

Dia juga mengungkapkan, Kodam I/BB memahami betul peran dan fungsi serta tugas pokok pers. Karenanya, lanjut Leo, Kodam tidak akan bisa berkembang tanda adanya peran pers. “Tanpa kerjasama yang baik, tanpa diekspos media massa, apa yang dilakukan Kodam akan sia-sia. Tapi kalau diekspos, masyarakat yang di pelosok daerah pun akan dapat mengetahui apa yang telah dilakukan Kodam I/BB,” tegas Leo Siegers lagi.

Dalam kesempatan itu, Pangdam juga mengucapkan terima kasih kepada alim ulama dan insan pers, karena telah sama-sama melindungi masyarakat, menjaga wilayah kedaulatan dan kondusifitas.

Sementara itu, Ketua Ketua SPS Zaki Abdullah, di hadapan Pangdam dan seluruh perwira jajaran Kodam I/BB mengatakan, insan pers akan terus berusaha memperbaiki diri, dengan memenuhi standarisasi profesi wartawan.(rud)

Kejatisu Pelajari Kasus Master Plan Kota Medan

MEDAN- Berita Acara Pidana (BAP) kasus dugaan korupsi pembuatan master plan Kota Medan, hingga kini belum juga P21. Saat ini Kejatisu masih mempelajari kelayakan BAP tersebut, apakah memungkinkan untuk dilanjutkan atau dikembalikan lagi ke polisi.

“BAP nya belum P21. Memang kemarin penyidik Kepolisian mengirimkan pada kita (Kejatisu, Red), namun BAP tersebut kita kembalikan lagi,” kata Aspidsus Kejatisu Eribindo Saragih kepada wartawan, Selasa (24/5).
Dijelaskan Erbindo, pihaknya masih akan mempelajari dugaan penyimpangan anggaran pembuatan master plan Kota Medan 2016 yang anggarannya bersumber dari APBD Kota Medan 2006.

Saat ditanya, apakah Kejatisu akan menahan tersangka dalam kasus ini jika berkas kasus dugaan korupsi pembuatan master plan ini sudah P21, Erbindo mengatakan, penahanan tersangka itu bisa saja dilakukan.
“Bisa saja tersangka itu ditahan. Tapi kalau negara masih membutuhkan tenaganya, penahanan itu bisa saja ditangguhkan,” ujar Erbindo lagi.

Diketahui, kasus dugaan korupsi pembuatan master plan Kota Medan 2016 yang bersumber dari APBD Kota Medan 2006 ini melibatkan mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Medan Harmes Jhoni. Dalam pembuatan master plan Kota Medan tersebut, ditemukan indikasi kerugian negara. (rud)

BLH dan Distanla Uji Kualitas Air

MEDAN- Menyikapi matinya ratusan ikan kerapu dan hilangnya 12 jenis ikan di perairan Belawan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Medan dan Dinas Pertanian dan Kelautan (Distanla) Kota Medan bekerjasama menguji kualitas air serta penyebab matinya ikan-ikan tersebut. Menurut Kepala Bidang Pencemaran dan Perusakan Lingkungan BLH Kota Medan, Zulfachmi Ichsan, pencemaran air di perairan Belawan merupakan kejadiannya kasus per kasus.
“Bila sekarang ini ditemukan ratusan ikan mati akibat limbah pabrik. Sebenarnya bukan hanya karena limbah, melainkan adanya persoalan kualitas air, tepatnya di muara dekat perairan Belawan. Dari dulu juga sudah ada kejadian yang sama. Ikan-ikan itu mati biasanya diakibatkan perubahan iklim di muara saja,” katanya kepada wartawan koran ini saat ditemui di ruang Komisi B DPRD Medan, Selasa (24/5).

Zulfachmi membeberkan, pencemaran air di wilayah Medan bagian utara memang tanggungjawab pihaknya, namun persoalan sungai ini tidak terlepas dari kerjasama lintas instansi seperti BLH Pemprovsu.

Terpisah, Kepala Distanla Kota Medan Ir Wahid MSi mengatakan, pengujian terhadap ikan-ikan yang mati sudah dilakukan. Sejauh ini, hasil laboratorium belum bisa didapatkan lantaran petugas masih berada di lapangan. “Jadi tunggu dulu hasil ujinya, karena hasil uji itu yang memastikan pencemaran,” sebutnya.

Terkait hilangnya 12 jenis ikan di perairan Belawan, dia menyatakan ikan-ikan tersebut sebenarnya masih ada, hanya saja sekarang relatif sulit didapatkan di perairan Belawan. Hal itu sebenarnya biasa ketika adanya pencemaran air. Ikan-ikan tersebut mencari tempat yang lebih aman lagi. “Bukan sama sekali tidak ada, sekarang masih ada Cuma jumlahnya relatif terbatas,” sanggahnya.

Ketua Forum Taruna Nelayan (FTNI), Rusli Abdul Somad, menyebutkan 12 jenis ikan yang menghilang di perairan Belawan yakni ikan sembilang, lundu, bedukang, grapu malas, gabus pasir, duri kuning, ketang, senohong, duri putih, ikan lontok, gulama, belanak. Serta kepah tidak terlihat lagi.

“Sampai saat 12 jenis ikan tersebut sudah tidak ada lagi, padahal dulu sangat banyak,” ucapnya. (ril)

Kerjasama ke Semua Pihak

MENINGKATKAN kerjasama dengan semua pihak, merupakan salah satu upaya Akpar Negeri Medan untuk meningkatkan kwalitas.

“Bentuk kerjasama dan bantuan itu sendiri memiliki berbagai ragam seperti  beasiswa untuk tenaga pengajar, bantuan fasilitas dan peralatan penyediaan tempat kerja nyata, fasilitas konvensi serta bentuk kerja sama dengan berbagai media lainnya,” ungkap Plt Dirut Akademi Pariwisata Medan  Drs Bahagia Tondang SHMAp.

Bahkan menurutnya, beberapa negara asing seperti Inggris, Jepang, Malaysia, Perancis, Thailand, Belanda dan Australia, juga pernah mengadakan kerjasama sekaligus memberikan bantuan terhadap, Akpar Medan.
Bentuk bantuan dan kerjasama, menurut Bahagia Tondang, turut hadir dari berbagai instansi dan departemen pemerintahan, swasta, hingga usaha jasa perhotelan dan perjalanan dalam dan luar negeri. Sehingga sangat memudahkan para tamatan yang telah mengenyam pendidikan di Akpar Negeri Medan untuk menentukan masa depannya sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki peserta didik.

“Sekitar  90 persen tamatan Akpar Negeri Medan telah terserap di berbagai instansi baik di pemerintahan maupun swasta,  serta berbagai jasa perhotelan dan perjalanan dalam dan luar negeri sesuai bidang yang mereka tekuni,” ungkapnya.(uma)

Berbenah Menuju Politeknik Pariwisata

Akademi Pariwisata Negeri Medan

MEDAN- Akademi  Pariwisata (Akpar) Negeri Medan terus berbenah menuju kampus yang siap untuk menempah alumni siap pakai di bidang perhotelan.  Kampus ini bernaung di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia berdiri 29 Oktober 1991 dan diresmikan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi yang pada saat itu dijabat Soesilo Sudarman.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya tingkat pendidikan, 12 Februari 1997, BPLP Medan berubah status menjadi Akademi Pariwisata (Akpar) Medan sesuai dengan keputusan yang dikeluarkan Menparpostel yang pada waktu itu dijabat Joop Ave.

Plt Direktur Akademi Pariwisata Medan, Drs Bahagia Tondang SHMAp, saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan, sejak 2001, Akpar Negeri Medan telah memiliki gedung sendiri yang beralamat di Jalan Rumah Sakit Haji No 12 Medan, yang sebelumnya pernah menempati kampus  ex  APDN  Medan milik Pemprovsu. Berbagai perbaikan dan pengembangan terus dilakukan Akpar Medan, sesuai misi pemerintah dalam memajukan bidang pariwisata khususnya di Sumatera Utara.

Selain membenahi sarana dan prasarana kampus, Akpar Medan juga tengah gencar menambah program keilmuan. “Dengan memiliki gedung sendiri, lebih memudahkan kita dalam memprioritaskan pengembangan baik sarana dan prasarana serta program pendidikan yang diberikan. Sebelumnya kita hanya memiliki enam program Diploma III, pada tahun ini (2011) kita telah memiliki sebuah program Diploma 4 baru, yakni program Administrasi Perhotelan yang diharapkan terus berkembang pada tahun berikutnya,” ujarnya.

Sementara itu, visi kampus menjadikan Akpar sebagai pusat pendidikan pariwisata yang unggul tahun 2014, rencananya Akpar Medan juga akan meningkatkan program keilmuan ke jenjang yang lebih tinggi yakni S-1, dengan merencanakan merubah Akademi menjadi sebuah Politeknik Pariwisata Medan .
Keinginan sesuai  dengan mutu pendidikan serta staf pendidik seperti  instruktur dan dosen yang dimiliki.

yang professional sesuai bidang yang dimilikinya.

“Hingga saat ini seluruh dosen pengajar sudah sesuai standar yakni tamatan S-2, bahkan beberapa dosen tengah menyiapkan program S-3 sesuai bidang keilmuwan yang dimilikinya,” terang Bahagia Tondang.
Untuk minat para peserta didik yang ingin menempah ilmu di kampus tersebut, Bahagia Tondang mengaku antusias yang ditunjukkan para peserta didik cukup tinggi.

Terbukti hampir setiap tahun 600 lebih jumlah calon mahasiswa yang mendaftar di kampus tersebut. Hanya saja sesuai kebutuhan dan ketersediaan sarana dan prasarana, Akpar Medan memberikan berbagai testing dan seleksi untuk  membatasi tingginya jumlah minat peserta didik yang ingin bergabung di kampus tersebut.
Diantara uji yang diberikan Akpar tersebut, selain teori mata pelajaran umum dan pariwisata, menurut Bahagia, wawancara dengan Bahasa Inggris juga dilakukan sebagai penentu layak tidaknya calon pendaftar untuk bisa bergabung.(uma)

Mayat Hanyut Bikin Heboh

LABUHAN-Warga Lingkungan VIII Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, dihebohkan dengan penemuan mayat, M Ridwan (22), warga Jalan Banten Gang Pendidikan, Pasar IV Labuhan Deli. Mayat tersebut ditemukan di aliran Sungai Deli di kawasan Medan Labuhan, Selasa (24/5), sekitar 15.30 WIB.

Seorang petani yang menemukan mayat, Syahrul (58) mengatakan, saat itu dia ingin mengambil air di sungai dan melihat sesosok mayat. Dia kemudian memberitahukannya kepada warga lainnya.

Selanjutnya, warga mengangkat mayat tersebut. Tak lama berselang, petugas Polsekta Medan Labuhan turun ke lokasi dan membawanya ke RSU Pirngadi. ‘’Saat saya temukan mayat dalam keadaan mengapung, ditemukan memakai celana biru dan baju berwarna hitam dengan keadaan sudah menggembung di bagian wajah berdarah,’’ ujarnya.

Menurut seorang teman korban, Heru Permana (21), korban hanyut saat mandi bersama teman-temannya di Sungai Deli, Senin (23/5).  ‘’Saya menariknya namun korban tak terselamatkan,’’ kenangnya. (mag-11)

Pemberdayaan TBM Berbasis Wirausaha

MEDAN- Konsultan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Plus Mas Raden, Drs Amrin, SH menjadi narasumber Penataan Kelembagaan TBM dan Satuan Pendidikan Non Formal di Hotel Saphire, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Amrin menjelaskan program ‘Pemberdayaan TBM Plus Mas Raden Berbasis Wira Usaha Pola Tiga Dimensi’ kepada perwakilan TBM se Indonesia. Menurutnya, pola tiga dimensi dalam pengembangan TBM bertujuan membekali masyarakat dengan cara memberikan kemudahan-kemudahan bahasa bacaan untuk dibaca secara gratis di lokasi TBM. Hal ini, kata Amrin sesuai dengan tuntutan UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kedua, memberi bantuan sosial kepada masjid-masjid di  sekitar TBM, memberi bantuan kepada anak-anak kurang mampu dan hadiah bagi anggota TBM yang berpretasi. Kondisi ini, katanya merupakan aplikasi dari kehidupan beragama yakni memperbanyak amal jariah.

“Jadi dalam melaksanakan kegiatan harus tetap berpedoman dengan agama. Apapun yang kita lakukan kegiatan amal tidak boleh dilupakan. Bantuan yang diberikan TBM Mas Raden tidak terlepas dari sumbangan sukarela anggota TBM yang terlambat mengembalikan buku,” katanya.

Ketiga, melaksanakan usaha ekonomi (wirausaha) dengan mengintegrasikan tujuan pemberdayaan minat baca masyarakat TBM Plus Mas Raden. Hal ini merealiasikan tuntutan Juknik TBM 2006. “Kita independen atau pun swasta. Kalau tidak biaya sendiri maka tidak akan mungkin mengikuti perkembangan khususnya pengadaan buku-buku baru. Makanya harus disesuaikan dengan ekonomi yakni dilinknya antara TBM dengan usaha-usaha yang mampu menopang kelanjutan TBM sehingga TBM bisa berkembang,” katanya.

Di TBM Plus Mas Raden, lanjut Amrin jenis usaha yang dijalankan usaha warung jamu tradisional Nyonya Raden, usaha warung minuman lainnya di TBM Plus Mas Raden sperti kopi, teh, susu, teh manis dan jus lainnya. Selain itu, usaha penjualan buku dan majalan, koran, poster dan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat (pelanggan) dengan harga terjangkau dan kualitas terjamin.

Usaha lain, pemasaran industri rumah tangga maupun jajaran ringan hasil karya anggota TBM. Amrin mengaku pengembangan TBM berbasis wirausaha dengan poga tiga dimensi mampu menjadikan TBM Plus Mas Raden contoh bagi TBM-TBM lainnya. Ke depan, usaha yang akan dikembangkan membuka usaha kafe baca Mas Raden. Andalannya kafe bandrek susu join dengan usaha warung jamu yang sudah ada. Membuka kursus/bimbingan belajar tingkat SD, SMP dan SMA dan melaksanakan  administrasi sistem online. kemudian memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat.

tentang lowongan kerja dan meningkatkan gaji karyawan sesuai dengan kemampuan pengelolaan unit produksi TBM.
Amrin mengaku melalui pengelolaan yang baik disertai pemasyarakatannya, TBM akan mampu mencari peluang untuk menunjang kemandirian. Makanya, betapah indahnya TBM berdiri atas dasar dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat.(dra)

Pertamina Minta Harga LPG 12 Kg Naik

Kuartal I Rugi Rp1 Triliun

JAKARTA- Bisnis Liquid Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi yang dijalankan Pertamina terus merugi. Perusahaan migas pelat merah itu pun tengah melakukan kajian untuk kembali mengevaluasi harga LPG nonsubsidi, yang terdiri dari LPG 12 kg, 50 kg, dan bulk.?

Direktur Pemasaran PT Pertamina Djaelani Sutomo mengatakan, saat ini Pertamina tengah menyusun kajian terkait bisnis LPG nonsubsidinya yang terus-terusan merugi. “Pemerintah minta kajian, ya kami kaji apa adanya,” ujarnya setelah rapat dengan komisi VII DPR Senin malam (23/5).

Menurut Djaelani, bisnis LPG nonsubsidi selalu merugi karena Pertamina menjual LPG dengan harga yang lebih murah daripada harga belinya. Selisih harga itulah yang menjadi kerugian yang ditanggung Pertamina karena tidak diganti dengan subsidi oleh pemerintah sebagaimana LPG 3 kg. Beban Pertamina makin berat seiring dengan kenaikan harga gas dunia. “Kami belum tahu, ke depan, LPG 12 kg ini akan dikemanakan,” ucapnya.
Terakhir kali Pertamina menaikkan harga LPG 12 kg pada 6 Februari 2010, dari Rp5.850 per kg menjadi Rp5.950 per kg. Sejak itu, Pertamina belum pernah lagi menaikkan harga LPG 12 kg. Pada pertengahan 2010 lalu, Pertamina sempat mewacanakan untuk menaikkan harga LPG 12 kg, namun rencana tersebut kandas karena ditentang oleh banyak pihak dan belum mendapat restu pemerintah.

Demikian pula saat ini, Pertamina tampak berhati-hati dalam rencana evaluasi harga LPG ini. Saat ditanya apakah dalam kajiannya Pertamina akan mengusulkan angka ?kenaikan harga LPG 12 kg kepada pemerintah, Djaelani hanya menjawab singkat. “Belum tahu ya, semua masih dikaji,” jawabnya.
Data menunjukkan, sepanjang kuartal I 2011, Pertamina telah menjual LPG nonsubsidi sebanyak 0,29 metrik ton, atau melampaui target yang sebesar 0,23 metrik ton. Hingga akhir tahun nanti, Pertamina memperkirakan penjualan LPG nonsubsidi akan mencapai 0,90 metrik ton.

Dari sisi finansial, bisnis LPG nonsubsidi Pertamina sudah merugi hingga Rp1 triliun selama kuartal I 2011. Kerugian tersebut membengkak lipat dua dibandingkan kerugian pada periode sama 2010 yang sebesar Rp 500 miliar. “Tahun ini, kerugian dari bisnis LPG nonsubsidi diperkirakan mencapai Rp2,3 triliun,” sebutnya.
VP Komunikasi PT Pertamina Mochamad Harun menambahkan, evaluasi atas harga LPG 12 kg memang dilakukan secara hati-hati. “Soal LPG 12 kg ini impact (akibat) nya banyak, misalnya harga 12 kg naik maka disparitas dengan harga 3 kg makin besar, nanti rawan pengoplosan,” ujarnya. Saat ini, harga LPG 3 kg bersubisi  sebesar Rp4.250 per kg. (owi/kim/jpnn)

Defisit APBN Bengkak Rp16 T

JAKARTA- Pemerintah memperkirakan defisit APBN tahun ini bakal bertambah Rp16 triliun. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pembengkakan defisit tersebut disebabkan tingginya harga minyak, penurunan lifting (produksi siap jual) minyak, serta pembengkakan volume konsumsi BBM bersubsidi.
“Itu yang kurang lebih kita melihat bahwa itu risiko fiskal bisa mencapai Rp 16 triliun,” kata Menkeu di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, kemarin.

Agus mengatakan, pembengkakan defisit juga disebabkan penyesuaian anggaran pendidikan yang harus ditambah karena volume APBN yang meningkat.

Dalam APBN 2011, defisit APBN diperkirakan mencapai Rp124,7 triliun atau 1,8 persen dari Produk Domestik Bruto. Menkeu optimistis masih banyak sumber pembiayaan untuk menutup defisit tersebut. “Alternatifnya kan cukup banyak, nanti kita akan selalu jaga likuiditasnnya,” kata Agus.

Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) di bulan April telah menyentuh level USD123,4 per barel. Dalam APBN, subsidi BBM dianggarkan Rp95,9 triliun.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, kebijakan subsidi harus terus diperbaiki agar tidak dinikmati orang yang tidak layak menerima. “Anggaran yang benar adalah anggaran yang tidak dihabiskan begitu saja oleh subsidi harga yang mengena semua orang. Kita jangan kasih sinyal yang salah, bahwa di Indonesia yang tidak berhak subsidi dikasih subsidi,” kata Bambang.

Pemerintah bakal mengubah sejumlah asumsi makro ekonomi 2011. Pertumbuhan ekonomi direvisi naik menjadi 6,5 persen, dari perkiraan semula 6,4 persen. Antara lain, rata-rata nilai tukar sepanjang 2011 diperkirakan sekitar Rp8.800-9.000 per USD, lebih kuat dibandingkan asumsi Rp9.250 per USD di APBN.

Inflasi diperkirakan lebih tinggi dari perkiraan semula yang 5,3 persen menjadi 6,0 persen. Untuk SBI 3 bulan, tidak lagi menjadi dasar penentuan tingkat bunga obligasi negara karena Bank Indonesia tidak lagi melelang instrumen moneter tersebut secara reguler.

Sebagai pengganti, pemerintah menggunakan suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan sebagai patokan, yang diperkirakan sepanjang 2011 berkisar 5,5 – 6,5 persen.

Kemudian untuk harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan akan berada di kisaran 90 dolar AS-100 dolar AS per barel, atau lebih tinggi dari asumsi APBN 80 dolar AS per barel. Produksi siap jual (lifting) minyak diperkirakan hanya mencapai kisaran 945.000-970.000 bph.

Dalam APBN, lifting ditargetkan 970.000 bph. Lifting minyak masih terhambat masalah klasik seperti belum optimalnya sumur-sumur baru, terbatasnya investasi di sektor migas, keterbatasan peralatan dan teknologi, cuaca buruk dan perubahan iklim, serta dampak penerapan asas cabotage. (sof/kim/jpnn)