Home Blog Page 15363

2 Tersangka Bom Wartawan Televisi

Jejak Dalang Terendus dari Istri yang Kerja di BNN

JAKARTA-Kelompok pengebom buku dan perencana serangan ke Gereja Christ Cathedral adalah teroris amatir. Mereka juga tidak pernah terhubung secara langsung dengan jaringan komplotan senior seperti lulusan Afghanistan, Moro, atau Poso. Aksi mereka semata-mata terinspirasi oleh ceramah serta film jihad dan buku dari internet.
Otak serangan, Pepi Fernando, dia adalah sutradara sekaligus pernah menjadi reporter di tayangan gosip ‘Otista’ yang pernah tayang di salah satu stasiun televisi swasta. Alumni Univesitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah itu kaget ketika bom buku ciptaannya mampu meremukkan tangan Kasatreskrim Polresta Jakarta Timur, Kompol Dodi Rachmawan.

“Dia justru terkejut karena tidak menduga benar-benar bisa meledak,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar, kemarin (23/04).

Melihat aksinya sukses, Pepi dan teman-temannya tambah bersemangat. Mereka lalu merancang serangan untuk meledakkan gereja di Serpong Tangerang. Karena pernah bekerja di infotainment, Pepi paham benar arti publikasi. Karena itu, dia merekrut Imam Firdaus, kameramen Global TV kenalannya.

“Kelompok ini cari perhatian. Mereka berharap ditonton oleh jaringan di luar negeri seperti Al Qaidah yang dipimpin Osama,” katanya.

Namun, aksi itu gagal total. Tim pemburu gabungan Densus 88 Polda Metro Jaya dan Densus 88 Mabes Polri menangkap satu persatu kelompok ini.

Darimana penyidik mendapatkan jejak Pepi? Menurut seorang sumber Jawa Pos (grup Sumut Pos), langkah Pepi terendus justru dari istrinya sendiri Deny Karmanita (DK). Wanita yang memberinya tiga anak itu bekerja sebagai staf di Badan Narkotika Nasional (BNN).

Penyidik mendapatkan titik terang setelah melihat rekaman CCTV BNN saat proses ditemukannya paket bom untuk Kepala BNN, Komjen Gories Mere pada 14 Maret 2011 lalu. Pada rekaman seluruh kegiatan BNN hari itu , terlihat DK bertindak mencurigakan dan cemas sejak siang hari. DK juga terlihat mendekati ruangan Mere.

“Sejak itu dia masuk radar kami, “katanya. Dari hasil pengembangan informasi, diketahui DK bersuamikan Pepi yang juga punya bisnis jasa percetakan.

Tim lantas dibagi, sebagian menguntit Pepi, yang lain tetap mengembangkan informasi dari sumber-sumber lain. “Sampai H+3 peledakan, kami masih yakin kalau itu pekerjaan orang lama seperti alumni Poso. Sekarang, ternyata analisa awal keliru,” katanya.

Pepi yang dipantau terus hari per hari melakukan blunder saat pergi  ke daerah kontrakan Tanah Merah, Pondok Kopi.  “Dia membawa buku-buku tebal kesana,” katanya. Sejak saat itu, dua orang anggota subden investigasi Densus 88 Polda Metro Jaya ditugaskan sebagai pemantau.

Mereka menyamar sebagai tukang kredit. “Orang-orang yang dikoskan di Pondok Kopi ini teman Pepi dari Sukabumi,” katanya. Penyidikan berlanjut ke rekan-rekan Pepi di almamaternya.

Diketahui Pepi pernah ke Aceh. Sepulang dari sana, perilakunya berubah. Dia juga punya kelompok diskusi buku. “Dia pernah hadir dalam kajian Amman Abdurahman dan Halawi Makmun di Bekasi,” katanya. Baik Amman maupun Halawi sekarang ditahan Polri untuk kasus pelatihan ala militer di Aceh.

Polri lantas melakukan penangkapan setelah Kapolda Metro, Jaya Irjen Sutarman tak sengaja “keceplosan” pada wartawan Rabu (20/3) lalu. Saat itu, Sutarman menyebut jejak lima orang terendus. “Malam harinya langsung turun sprint (surat perintah) penangkapan,” katanya.

Saat penyidik menggerebek rumah mertua Pepi di Harapan Indah Bekasi, dari keluarganya diketahui Pepi sudah terbang ke Aceh.  “Pepi berhasil ditangkap usai salat subuh di Banda Aceh dan langsung dibawa ke Jakarta,” jelasnya.
Dari interogasi, alumni Fakultas Tarbiyah lulus tahun 2001 itu mengaku menanam paket bom di jalur pipa gas Serpong. Lokasi ini beberapa kali disurvei Pepi dan teman-temannya dengan kedok memancing di Sungai Cisadane.
Sebenarnya, ada dua rangkaian dari lima rangkaian yang siap meledak pada Jumat lalu. “Untungnya, rangkaiannya salah, jadi walau timer aktif detonator tidak terpicu,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan, Pepi diketahui menugasi Imam Firdaus untuk melobi jaringan TV asing menyiarkan peledakan itu. “Kami masih mencari apakah ada yang menggerakkan Pepi. Sementara aktor utamanya masih dia,” kata Kombes Boy Rafli Amar.

Rektor UIN Komarudin  Hidayat mengaku sudah mendengar laporan dari stafnya soal keterlibatan alumni UIN. “Dia sudah lulus tahun 2001, sepenuhnya saya serahkan pengusutan kepada yang berwajib,” kata Komarudin saat dihubungi kemarin.

Komarudin menyebut UIN selama ini sudah berusaha melakukan pembentengan mahasiswanya dari aksi-aksi terorisme. “Tapi, kalau sudah alumni, terus terang kami susah melakukan kontrol,” katanya.

Salah seorang teman Pepi, Ace Hasan, menilai Pepi berubah setelah pulang dari Aceh. “Dulu dia gaul. Slengekan juga, bahkan cenderung urakan,” katanya saat dihubungi lewat twitter.

Menurut Ace, Pepi juga tidak punya indikasi condong ke gerakan mahasiswa tertentu selama di kampus. “Orangnya lebih cenderung ke seni,” katanya.

Di tempat terpisah, pihak Global TV yang diwakili Arya Mahendra Sinulingga mengakui Imam adalah karyawannya. “Soal perannya apa, kita masih tunggu informasi dari kepolisian,” katanya.

Arya yang menjabat sebagai Corporate Secretary itu menjelaskan perilaku Imam di studio wajar dan normal. “Aktivitas sehari-hari nya baik,” katanya.

Dihubungi terpisah, peneliti teror Noor Huda Ismail menilai kelompok-kelompok baru ala group Pepi ini lebih sukar dideteksi aparat. “Sebab, mereka tidak pernah memiliki keterkaitan langsung dengan jaringan lama yang sudah berhasil dimonitor,” katanya.

Apalagi, ide-ide besar yang memunculkan semangat kelompok-kelompok ini masih terus tumbuh di Indonesia. “Ini jauh lebih sulit dan rumit karena di era sekarang ini tidak mungkin sebuah ide diblokir,” kata alumnus St Andrew University ini. (rdl/ttg/jpnn)

Justin Bieber Bius 10 Ribu ABG

Hai Indonesia, Saya Senang Ada di Sini…

JAKARTA- Sebanyak 10 ribu penonton menjadi saksi aksi panggung Justin Bieber malam tadi dalam rangkaian “My World Tour” nya di Indonesia. Bertempat di Sentul International Convention Center, ia berhasil membius para penonton yang didominasi remaja putri alias anak baru gede (ABG).

Membuka konser dengan lagu “Love Me”, Justin mengenakan jaket dan celana putih. Diringi musik dari disk jockey dan empat penari, ia membuat ribuan penonton histeris meneriaki namanya. Penyanyi asal Kanada itu juga memeragakan aksi beladiri yang dipadukan dengan tarian. Setelah membawakan lagu “Bigger”, Bieber pun menyapa para penonton. “Hai Indonesia. Saya senang ada di sini. Kamu tahu, aku melakukan apapun agar ada di sini,” kata Justin di atas panggung.

Ia melanjutkan konsernya dengan menyanyikan “You Smile” dengan sangat apik. Saat menyanyikan lagu “Runaway Love”, Bieber pun membuka jaketnya. Mengenakan kaos dan topi ungu, yang merupakan warna kesayangannya, ia memukau penonton dengan gerakan breakdance.

Dalam konsernya kali ini, Bieber juga membawakan lagu “Never Let You Go” versi akustik. Diputarkan pula video masa kecil Justin Bieber saat berumur tiga tahun, setelah ia membawakan lagu “Favorite Girl” dan “One Last Lonely Girl”. Dalam video itu Bieber kecil terlihat asyik memainkan gitar dan bernyanyi.

Hits Bieber “Never Say Never”, “One Time” dan “That Should Be Me”, ditampilkannya dengan aksi panggung memukau. Lagi-lagi ia menampilkan keahlian dan kekompakkannya menari bersama dengan para penari latarnya. Tak heran ribuan penonton kembali histeris melihat aksi panggungnya.

Ia juga menunjukkan kebolehannya dalam bermain drum. Selama tiga menit ia melakukan solo drum. Lagu hits “Eeeme Meenie”, “Pray” dan “Baby” pun menjadi penutup konser yang sempurna. (net/jpnn)

Hari Ini, Puncak Milad ke-13 PKS Sumut

Tanam Sejuta Pohon

MEDAN-Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumut mengisi rangkaian kegiatan Milad ke-13 dengan
menanam sebanyak 1 juta pohon di 31 kabupaten/kota yang telah memiliki struktur Dewan Pengurus Daerah(DPD). Penanaman sejuta pohon tersebut dimulai Sabtu (23/4) secara serentak di 31 kabupaten/kota dari Kelurahan Simpang Selayang, Kecamatan Medan Tuntungan.

Pada penanaman perdana ini langsung dilakukan, Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Sumut, H Muhammad Hafez Lc MA, Sekretaris Umum Satrya Yudha Wibowo ST, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Ir Idris Luthfi MSc, Panitia Milad PKS Sumut ke-13 dan sejumlah Pengurus DPW PKS Sumut.

“Ini merupakan wujud kepedulian kita terhadap pembangunan lingkungan di Sumut. Hari ini kami mulai membiasakan menanam, Insya Allah, dampak dari rimbun dan rindangnya, akan dirasakan semua orang di masa mendatang,” ujar Hafez, usai proses penanaman pohon lodogan dan gaharu yang dilakukan bersama-sama sejumlah unsur pengurus.

Menurutnya, mekanisme penyebaran sejuta pohon yang akan ditanam PKS se-Sumut secara teknis akan dilanjutkan struktur organisasi secara beramai-ramai, begitu puncak pelaksanaan Milad ke-13 PKS Sumut selesai digelar.
Puncak pelaksanaan Milad ke-13 PKS Sumut dilakukan hari ini (Minggu) di lapangan benteng Medan, targetnya akan diramaikan lebih dari 10 ribu massa yang terdiri dari masyarakat umum dan kader PKS. Acara tersebut dimeriahkan dengan belasan atraksi permainan dan jutaan hadiah.

Khusus untuk penanaman sejuta pohon, sambung Hafez, DPD PKS se-Sumut akan segera melakukan penanaman di daerahnya masing-masing, bersama para kader yang tersebar di seluruh Dewan Pengurus Cabang (DPC) di kecamatan-kecamatan di Sumatera Utara.

Selain penanaman pohon, rangkaian Milad ke-13 PKS Sumut juga telah melakukan sejumlah kegiatan lain secara bergilir. Seperti mengunjungi dan mendapatkan nasehat dan masukan dari para tokoh dan ulama di Sumut, silaturhmi dengan kaum ibu pemulung di Hari Kartini, memberikan bantuan becak bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan berobat dan pendidikan keluarga, serta beberapa kegiatan keumatan lainnya. (ril)

Cuma Diajari Kepintaran Intelektual

Seks Bebas di Kalangan Pelajar Makin tak Terkendali

MEDAN-Kasus seks bebas atau seks di luar nikah di kalangan remaja semakin tak terkendali. Penyebabnya, karena minimnya pengetahuan para remaja terkait penggunaan organ reproduksinya.

Hal ini menunjukkan bentuk ketidakberhasilan program pembinaan mental para remaja. Yang mana selama ini para remaja cenderung diberikan kepintaran intelektual saja, namun tidak sejalan dengan emosional dan spiritualnya.
“Kita prihatin dengan kondisi remaja saat ini. Mereka banyak menyalahgunakan organ reproduksi. Ini membuktikan dunia pendidikan kita tidak berhasil. Karena memang hanya mengajarkan kepintaran intelektual, tapi tidak emosional dan spritual serta sosial,” ungkap psikolog Rahmadani Hidayatin, Minggu (23/4).

Menurut Rahmadani, remaja yang tidak memiliki kemampuan sosial maka dirinya belum siap saat terjun ke masyarakat. Sehingga, remaja akan mudah terkontaminasi dengan berbagai dampak negatif seperti pergaulan seks bebas, terjangkit HIV dan AIDS, serta mengarah kepada penggunaan obat-obat terlarang.

Meskipun program pusat informasi konseling kesehatan reproduksi remaja (PIK KRR) telah dijalankan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), namun, program tersebut tidak ada follow up, Sehingga program tersebut belum maksimal. Masalah ini, lanjut Rahmadani, harus menjadi perhatian semua kalangan. Mengingat jika hal ini dibiarkan berlarut maka kondisi remaja sebagai penerus masa depan bangsa akan menjadi masalah besar nasional.

“Sejauh ini pemberian informasi soal organ reproduksi kita lihat masih belum maksimal bagi remaja. Kalau pun ada, masih bersifat sporadis dan tidak berkelanjutan,” ungkapnya.

Rahmadani menambahkan, program yang ada masih sebatas kehendak atau pikiran pembuat program, bukan kehendak remaja.

“Yang pastinya para remaja tidak akan bisa merealisasikan program yang dibuat. Untuk ke depannya pemerintah harusnya membuat program yang sesuai dengan kebutuhan remaja. Bukan kehendak pembuat program. Jadi, remaja diajak untuk memikirkan program yang baik menurut mereka untuk peningkatakan spritual dan emosional,” ucapnya.

Program tersebut, tambahnya, bisa saja dimasukkan dalam program ekstra kurikuler di sekolah.
Kepala Seksi PIK KRR BKKBN Sumut, Dedi Iswandi mengaku, jika program PIK KRR di Sumut baru memiliki 842 lembaga. Dan jumlah ini masih belum mencukupi dibandingkan jumlah kecamatan yang ada di Sumatera Utara.
“Masalah ini memang harus kita perkuat lagi di Sumut. Harapannya agar remaja bisa memahami baik soal kesehatan reproduksi. Ini juga menyangkut soal komunikasi, informasi dan edukasi yang harus lebih gencar lagi,” ungkapnya. (uma)

Kartini Tak Hanya Kebaya

Bagi artis Leony, kebaya tidak selalu identik dengan peringatan Hari Kartini. Memaknai Hari Kartini itu, menurut Leony bukan dengan haya berpakaian ala Kartini tapi dengan meneladani semangat dan kemandiriannya.

Aneh banget kalau memperingati Hari Kartini cuma pakai kebaya, kecuali memang kalau lagi lomba baju kebaya. “Kalau buat anak-anak sekolah nggak masalah pakai kebaya, tapi kalau sudah dewasa aneh aja. Ini kan Hari Kartini, bukan Hari Kebaya Nasional,kata Leony,” kepada Rakyat Merdeka (grup Sumut Pos) saat dihubungi, kemarin (23/4).

Perempuan berusia 23 tahun ini menjelaskan, apa yang dicita-citakan RA Kartini menyangkut emansipasi perempuan harusnya tetap menjadi inspirasi hingga sekarang. Dengan begitu perempuan tetap mempunyai hak yang sama dengan lak-laki di segala bidang.

Semangat RA Kartini harus terus menyala, agar perempuan Indonesia bisa maju, ujarnya.
Lantas seperti apa sosok kartini sekarang? Menurut bekas penyanyi cilik ini, sosok-sosok Kartini saat ini adalah perempuan yang mandiri dan tidak tergantung sama orang lain.

Ya, wanita yang tidak takut untuk mengambil pilihannya sendiri. Mandiri. Tidak tergantung sama orang lain. Yakin akan keputusannya dan berani mengambil sikap, pungkasnya. (bcg/rm/jpnn)

Polisi Merampok Terancam Dipecat

Sudah Dua Kali Melakukan Kejahatan

MEDAN-Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga mengatakan, akan mengajukan usulan pemecatan Briptu Surya Dharma secara tidak hormat dari kedinasan.

“Kita sudah melakukan pengusutan dan penyelidikan terhadap yang bersangkutan. Memang perbuatan Briptu Surya Dharma sangat mencoreng citra kepolisian, yang di saat ini berusaha memperbaiki citra. Kita akan menggelar sidang kode etik kepolisian untuk segera diberhentikan tidak dengan hotmat (PTDH),” tegas Tagam Sinaga. Tagam juga akan mengusulkan untuk menggelar persidangan secara terbuka di pengadilan umum.

Dari hasil pemeriksaan, Briptu Surya Dharma sudah dua kali melakukan aksi kejahatan. “Tersangka telah dua kali melakukan aksi kejahatan,” ungkap Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Maringan Simanjuntak, Sabtu (24/4).
Pertama kali tersangka melakukan aksi kejahatan, yakni aksi pencurian. Briptu Surya kepergok warga mencuri kipas angin seorang warga di kawasan Percut Sei Tuan, Oktober 2010 lalu. Aksinya kepergok penjaga toko yang langsung meneriakinya maling. Briptu Surya pun digebuki warga dan menggelandangnya ke Mapolsekta Percut Sei Tuan. Surya mendapat hukuman 2 bulan penjara di Bid Propam Polresta Medan.

“Dia pernah ditahan juga selama dua bulan dengan kasus yang sama. Tapi kasusnya tahun lalu itu sudah selesai, kedua pihak sudah melakukan perdamaian,” jelas Kasi Propam Polresta Medan, AKP Benno Sidabutar. Sidabutar mengaku, Briptu Surya melakukan hal tersebut karena dililit utang.

Selain itu, Maringan juga mendapat perintah dari Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga untuk melakukan tes urine terhadap Briptu Surya Dharma, karena ada dugaan sebagai pengguna narkoba.
“Saya telah mendapat perintah langsung dari Bapak Kapolresta Medan untuk melakukan tes urine terhadap tersangka, ini dilakukan sebagai upaya kita untuk mengetahui apakah ada keterkaitan tersangka sebagai pengguna narkoba atau tidak,” jelas Maringan.

Seperti diketahui, Briptu Surya Dharma dihajar massa hingga babak belur, Jumat (22/4) kemarin. Pasalnya, dengan berdalih melakukan razia kendaraan bermotor, Surya membawa lari dompet serta HP (ponsel) milik Nikmal (19). Merasa dicurangi, Nikmal mengejar sambil berteriak-teriak. Berhasil mendekat, Nikmal menabrakkan sepeda motor jenis Mocin yang dikendarainya ke sepeda motor Honda Kirana yang dinaiki petugas dari Satuan Sabhara Polresta Medan itu.

Setelah keduanya terjatuh, masyarakat di sekitar menghajar polisi nakal itu. Brigadir Surya masih mujur, tidak mengalami nasib seperti Koptu Surya Darma Nasution (29), yang tewas digebuki massa karena mencuri dompet kosong di Kampung Susuk, Padang Bulan, Minggu (10/4) lalu. Nyawa Brigadir Surya terselamatkan saat personel Polsekta Percut Seituan yang baru usai melakukan pengamanan (PAM) di gereja disekitar lokasi, mengamankannya. Nikmal dan Brigadir Surya lalu dibawa ke Mapolsekta Percut Seituan.

Sementara itu, Direktur LBH Medan, Nuriyono meminta Kapolda Sumut menindak tegas personel Polri yang melanggar kode etik kepolisian dan yang tersangkut dalam perkara pidana.

“Pecat saja Briptu Surya Dharma, yang telah melanggar hukum. Seharusnya anggota Samapta Polresta Medan itu melindungi dan mengayomi masyarakat selaku hamba hukum,” tegas nya. (rud/mag-8/ala/smg)

M Nuh: Soal UN tak Mungkin Bocor

Mendiknas Kunjungi Disdik Medan

MEDAN- Menteri Pendidikan Nasional RI, Muhammad Nuh mengunjungi kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan di Jalan Pelita IV, Medan Perjuangan, untuk menyaksikan langsung persiapan Disdik Medan dalam menghadapai Ujian Nasional (UN) tingkat SLTP, Sabtu (23/4) siang pukul 14.00 WIB.

Kedatangan Muhammad Nuh ini disambut Wali Kota Medan Rahudman Harahap, Kadis Pendidikan Nasional Sumut Syaiful Safri, Kapolresta Medan Kombes Pol Tagam Sinaga beserta pejabat Pemko Medan dan perwira di Polresta Medan.

Dalam kunjungan itu, Muhammad Nuh menyempatkan diri melihat pembongkaran lembar soal dan jawaban UN SLTP dari atas truk yang diparkir di samping kantor Disdik Medan.

Kepada wartawan, Muhammad Nuh mengungkapkan, dalam menghadapi UN tingkat SLTP ini, jumlah ruangan yang digunakan se-Indonesia sebanyak 207.136 dengan 414.272 orang pengawas. “Untuk Sumut, jumlah ruangan untuk UN SLTP sebanyak 13.797 dan pengawas 27.594 orang,” katanya.

Ditambahkannya, pada tahun ajaran kali ini, persentase kelulusan siswa ditentukan dari hasil UN 60 persen dan hasil ujian sekolah 40 persen. “Dengan UN kita bisa mengetahui siapa siswa yang pandai dan rajin, serta bisa mengetahui siapa siswa yang malas belajar. UN menjadi tolak ukur dari siswa tersebut bahwa si siswa layak mendapatkan yang pantas buat dirinya,” tegas Muhammad Nuh.

Disinggung mengenai pembagian ijazah yang dinilai sangat lama kepada siswa, Muhammad Nuh menuturkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan instansi terkait agar mempercepat proses pembagian ijazah mulai SD, SLTP dan SMU. “Kita akan memerintahkan agar ijazah para siswa secepatnya dibagikan,” tuturnya.
Disinggung mengenai kebocoran soal UN, Muhammad Nuh mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan begitu mendapatkan informasi tentang adanya kebocoran soal. “Kita sudah punya tim sendiri mengenai adanya kebocoran soal. Jika tim kita mendapatkan informasi adanya kebocoran soal UN maka akan segera kita cek kebenaran dari informasi tersebut. Soal UN tidak mungkin akan bocor karena setiap daerah itu berbeda soal yang akan di UN kan dan tipe dari soal UN itu juga masing-masing daerah berbeda,” katanya kembali.

Dalam kesempatan itu, M Nuh juga membantah kalau UN merupakan pemborosan anggaran. “UN tidak pemborosan, karena tepat sasaran. Kalau sekolah diberikan hak untuk mengujikan siswa, maka setiap guru pasti memberikan siswanya nilai rata-rata 7 semua. Dengan begitu kita tidak bisa mengetahui kemampuan dari anak didik tersebut,” ucapnya.(jon)

Pesta Sabu, Dua Supir Angkot Ditangkap

MEDAN- Sedang asyik pesta sabu-sabu di warung tuak di Jalan Swadaya, tepatnya di belakang Terminal Pinang Baris, dua supir angkot ditangkap polisi, Sabtu (23/4) dinihari pukul 01.00 WIB. Dari tangan tersangka, petugas mengamankan barang bukti berupa dua mancis, bong (alat hisap) dan setengah sabu-sabu sisa yang dipakai kedua tersangka.

Kedua tersangka masing-masing Obi (37), warga Jalan Pantai Timur Pasar II Kelurahan Cinta Damai, Medan Helvetia, dan Acen (30), warga Jalan Swadaya Kelurahan Lalang, Medan Sunggal. Kepada polisi, Obi mengaku, mendapatkan sabu-sabu itu dari temannya AN (DPO) yang dibelinya seharga Rp50 ribu per paket. Sementara, Acen mengaku hanya ikut-ikutan.(mag-8)

Sampan Zulaiha Diluncurkan

MEDAN- Sastrawan Nasional asal Sumatera Utara, Hasan Al Bana menelurkan kumpulan cerita pendek pertamanya berjudul Sampan Zulaiha. Peluncuran kumpulan cerpen itu digelar sederhana di kantin Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Sabtu (23/4).

Sampan Zulaiha dibedah sejumlah sastrawan muda dan senior. Meski digelar di ruang sempit nan sederhana, namun aktivitas membedah karya itu berlangsung menarik dan hidup. Tampil sebagai moderator Eddy Siswanto, ditemani kritikus sastra Yulhasni dan Tikwan Raya Siregar.

Yulhasni secara rinci menyoroti keberanian penerbit dalam hal ini Penerbit Koekoesan yang menerbitkan Sampan Zulaiha. Yulhasni juga menyoroti para redaktur budaya media cetak nasional dalam mempertimbangkan menerbitkan cerpen-cerpen. Namun sorot itu bukan sorot remeh kepada karya-karya sastrawan daerah yang punya nama di kancah nasional. “Saya hanya melemparkan tanya, kenapa isu lokalisme di banyak cerpen-cerpen saat ini mendapatkan tempat khusus di media nasional,” kata Yulhasni.(ful)

Jupiter Hantam Rocky, 1 Tewas

TEBING TINGGI- Pasangan suami istri Handoko Univa (29) dan Rahmawati (32) yang berboncengan mengendarai sepeda motor Jupiter BK 2831 NV menabrak mobil Rocky BK 1582 LG yang diparkir di pinggir jalan lintas Tebing Tinggi-Kisaran, Kecamatan Tebing Syahbandar, Serdang Bedagai, Jumat (22/4) malam pukul 22.15 WIB.

Naas, Rahmawati meninggal dunia di rumah sakit setelah mendapat pertolongan. Sementara suaminya, Handoko Univa hingga kemarin masih terbaring di Rumah Sakit Bhayangkari Tebing Tinggi. Jenazah Rahmawati langsung dibawa pulang ke rumahnya di Jalan Pala, Kelurahan Bandar Utama, Kota Tebing Tinggi.

Pemilik mobil Rocky BK 1582 LG, Tulus Amady warga Jalan Gotong Royong, Kelurahan Pasar Gambir, Kota Tebing Tinggi di Kantor Sat Lantas Polres Tebing Tinggi mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut secara pasti. “Saat itu saya sedang bertamu dan mobil saya diparkir di pinggir jalan. Saya akui lupa menghidupkan lampu isyarat (hazard). Yah, memang udah naas mau dibilang apa,” katanya.(mag-3)