24 C
Medan
Saturday, January 3, 2026
Home Blog Page 15372

Razia, 629 Kendaraan Terjaring

LANGKAT- Sebanyak 629 kendaraan roda dua berhasil diamankan Polres Langkat, dalam operasi rutin yang digelar dalam sepekan terakhir di jajaran hukum Polres Langkat.

“Operasi rutin yang kita lakukan selama sepekan pada siang maupun malam hari, sebanyak 629 sepeda motor telah kita tilang dan 174 diamankan di Mapolres Langkat karena tidak memiliki surat-surat,” kata Kapolres Langkat AKBP Mardiyono Minggu (1/5).

Dijelaskannya, razia yang dilakukan sepekan terakhir, berhasil melakukan penilangan terhadap 340 STNK dan  115 SIM dan menyita 174  sepeda motor. Penyitaan tersebut dilakukan, karena pemilik kendaraan tidak dapat menunjukan surat-surat kendaraan saat diperiksa petugas.

“Saat dirazia, pengendaranya tidak membawa surat-surat kendaraan, jadi langsung kita sita dengan membawa kendaraan itu ke Mapolres Langkat, namun pemiliknya bisa mengambil kembali dengan catatan dapat memperlihatkan surat-surat kendaran miliknya,”jelas Kapolres.(ndi)

Sepeda Motor Hangus Terbakar

SERGAI- Rumah semi permanen milik Sumardi (61) di Dusun II, Desa Bogak Besar, Kecamatan Teluk Mengkudu, habis terbakar, Minggu (1/5) sekira pukul 10.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun kerugian diperikirakan ratusan juta rupiah.

Menurut keterangan Sumardi, ijazah paket C, sepeda motor dan harta benda miliknya hangus terbakar. Saat kejadian, Sumardi pergi takjiah di Desa Bogak Besar. “Sebelum berangkat saya sudah memeriksa api di dapur. Hasilnya tidak ada yang menyala,” ungkap Sumardi.

Anak korban yang berada di rumah saat kejadian, Adi Suherman mengatakan dia terbangun dari tidur karena merasa kepanasan.  “Begitu keluar kamar saya melihat api sudah membesar, tak sempat menyelamatkan sesuatu karena api sudah mendekat saya pun lari keluar,” bilang Adi. Sejauh diduga penyebab kebakaran karena hubungan arus pendek.

Camat Teluk Mengkudu, Zulfikar SSos didampingi Kepala Desa Bogak Besar Mahyaruddin langsung ke rumah korban untuk melihat keadaannya. Dalam kesempatan itu Pemkab Sergai menyerahkan bantuan tali asih untuk meringankan beban keluarga korban. (mag-15)

Di Jakarta Dihibur Rieke

Artis yang kini menjadi anggota Komisi IX DPR RI Rieke Diah Pitaloka tak mau ketinggalan dengan peringatan Hari Buruh Internasional. Pemeran ‘Oneng; di serial Bajaj Bajuri ini tampil memukau di hadapan ribuan buruh di depan Istana Merdeka, di Jakarta.

Tidak hanya demonstran, bahkan para polisi yang bertugas pun tersenyum dan terlihat begitu terhibur oleh aksi anggota PDI Perjuangan ini. “Kesejahteraan sosial tidak akan pernah terwujud tanpa jaminan sosial. Untuk itu, jaminan sosial mutlak harus ada di negara yang menginginkan rakyatnya sejahtera,” teriak Rieke di atas panggung mobil Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia.

Peluhnya menyucur deras. Semangat Rieke semakin menyala untuk memberikan pemahaman mengenai urgensi UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Dengan lantang ia berteriak bahwa perjuangan para buruh disini adalah perjuangan melawan kemiskinan dan kebodohan.

“Pak Polisi yang di sana juga teman kita. Kita juga memperjuangkan agar polisi punya jaminan kecelakaan kerja, jaminan kesehatan dan jaminan pensiun. Biar Pak polisi dan keluarganya, bisa berobat dimana saja, tidak harus di RS Polri,” tandas Rieke disambut senyum dikulum dari anggota polisi yang menyaksikan aksinya.

Setelah itu, tak lupa Rieke menyindir pemerintah dan pihak-pihak yang menurutnya lamban dan terkesan menghalang-halangi kelahiran UU BPJS dan SJSN. “Siapa yang oon? Siapa yang oon?” tanya Rieke.
“Presiden!” jawab masa aksi serentak.

Anda yang pernah menyaksikan sinetron yang dibintangi Rieke sebelum ia menjadi politisi tentu tahu bahwa di sinetron itu ia memerankan seorang istri yang oon alias bloon dan cengeng. (guh/jpnn)

Dikira Pelanggan Rupanya Maling

Nando Hutauruk (25), warga Jalan Raya Menteng kaget bukan kepalang saat mengetahui LCD di warnet M2 Jalan Menteng Raya yang dijaganya, raib. Diduga, LCD tersebut dicuri seorang pelanggan di warnet tersebut.

Menurut Nando, saat itu dia hendak membersihkan ruangan tempat pelanggan main internet. Namun dia kaget melihat satu ruangan hanya terdapat CPU saja. “Layar komputernya hilang dibawa orang. Mungkin pencurinya bawa tas ransel, jadi tak kelihatan,” jelasnya.

Tak ingin disalahkan, dia cepat mengadukan kejadian itu kepada pemilik warnet. “Saya tidak menyangka kalau layar komputer itu diambil pencuri. Saya pikir yang main mahasiswa, karena bawa tas,” ucapnya.

Kanit Reskrim Polsekta Medan Area AKP Jonser Banjarnahor SH menuturkan, belum ada menerima laporan tersebut. “Laporannya belum ada saya terima. Kalau pun benar ada yang kehilangan, anggota akan saya perintahkan untuk melakukan pengecekkan,” katanya.(jon)

Tak Mau Minum Susu, Badan Susut

Gizi Buruk

MEDAN- Zulaika bocah usia 2 tahun diduga gizi buruk, warga Letda Sudjono Kecamatan Medan Tembung, Gang Padi, terpaksa dilarikan ke Ruang Instalasi Gawat Darat (IGD) RSUD Pirngadi Medan, Minggu (1/5). Pasalnya, sudah tiga hari dia menderita diare sehingga staminanya menurun.

“Anak saya mencret-mencret terus. Dari tadi pagi sampai sekarang, anak saya tidak mau makan dan hanya mau minum air putih saja,” ungkap Rafiani (35), ibu kandung Zulaika saat dijumpai di ruangan IGD RSUD Pirngadi Medan, Minggu (1/5).

Rafiani juga mengatakan, Zulaika hanya mau minum ASI hingga usia tiga bulan. “Enam bulan lalu, Zulaika pernah masuk RSU Pirngadi akibat penyakit diare juga. Padahal anak saya kuat makan nasi. Dibanding kawan-kawannya, dia yang paling kuat makan. Dia kami berikan susu, tapi sering dibuangnya. Jadi tak kami kasih susu lagi, cuma dikasih air putih saja,” jelasnya.

Saat masuk ke IGD, kondisi Zulaika cukup memprihatinkan. Perutnya membuncit dan kakinya mengecil. Tim medis memberikan pertolongan pertama dengan memberikan infus. Diduga, Zulaika menderita gizi buruk. Pasalnya, di umurnya dua tahun ini, Zulaika hanya memiliki berat badan 5 kg.

Seorang tim medis di RSUD Pirngadi Medan dr Tri, saat dijumpai di IGD mengatakan, berat badan Zulaika tidak seimbang dengan usianya. Menurutnya, Zulaika kekurangan nutrisi. “Jika melihat kondisi anaknya, dia jarang minum susu, sehingga bandanya menyusut. Berat badan anak-anak seusianya harusnya 10 kg, sedang Zulaika hanya 5 kg,” ungkapnya.(mag-7)

Pemekaran Jangan Kepentingan Elit

KementErian Dalam Negeri (Kemendagri) telah menyusun grand design penataan daerah 2010-2025. Berdasarkan grand desain yang menjadi acuan pemekaran daerah tersebut Sumatera Utara mendapat jatah satu provinsi pemekaran dan dua kabupaten/kota untuk pemekaran.

Terkait hal itu, pengamat politik Fisip UMSU Arifin Saleh Siregar Ssos MSP menilai, yang terpenting adalah, jangan sampai pemekaran suatu daerah ditunggangi kepentingan-kepentingan elit seseorang.

Berikut petikan wawancara wartawan Sumut Pos, Nopan Hidayat dengan Arifin Saleh Siregar Ssos MSP, beberapa waktu lalu.

Menurut grand design penataan daerah yang disusun Kemendagri, Sumut pantas dimekarkan, bagaimana menurut Anda?
Kita jangan terjebak dengan istilah pantas atau tidak pantas. Sebab ini bisa menjerumuskan dan justru menjadi masalah bagi kondusifitas dan stabilitas politik di Sumatera Utara. Saya pikir soal pemekaran, pendekatannya adalah pendekatan kebutuhan, bukan keinginan. Harus bisa dijawab apakah memang daerah ini sudah butuh provinsi baru? Apa Urgensinya ke masyarakat? Jangan-jangan provinsi baru tersebut hanya keinginan segelintir elit untuk kepentingan mereka. Jadi, belum ada alasan yang kuat untuk memecah Sumatera Utara menjadi beberapa provinsi.

Jadi, Anda tidak sepakat kalau Sumut dimekarkan?
Menurut saya, pemekaran memang hak setiap daerah. Tapi, kita harus sepakat pemekaran tersebut seharusnya ada untuk tingkat kabupaten/kota, bukan provinsi. Di kabupaten/kota lah semangat pemekaran yakni untuk akselerasi pembangunan, mendekatkan pelayanan dan peningkatan kesejahteraan bisa diwujudkan. Sebenarnya, banyak kabupaten/kota yang layak dimekarkan, misalnya Simalungun, Langkat dan Pantai Barat Madina.

Apa alasan daerah-daerah tersebut layak dimekarkan?
Alasannya, selain layak dari sisi luas wilayah, jumlah penduduk dan potensi daerah. Simalungun dan Langkat juga terlalu luas, sehingga jarak tempuh masyarakat ke ibukota kabupaten terlalu jauh. Jadi, pelayanan agak terhambat.

Kalau Medan Utara, menurut Anda apakah layak dimekarkan?
Saya pikir Medan Utara harus menjadi bagian dari rencana pemekaran tersebut. Sekarang yang harus dibangun adalah komunikasi dengan Pemerintah Kota Medan yang terkesan sedang tersumbat. Jadi, harus ada desakan dari elit dan masyarakat Medan Utara, utamanya soal anggaran pembangunan. Anggota DPRD Medan dari Dapem Medan Utara juga harus memiliki kekuatan dalam hal melancarkan politik anggaran ketika proses penuyusunan dan pembahasan APBD.

Lantas, apa yang harus dilakukan Plt Gubsu?
Harus ada kesadaran, anggaran Sumatera Utara tersebut harus disharing secara proporsional ke kabupaten/kota, bukan atas dasar suka atau tidak suka ataupun karena kedekatan daerah atau suku. Jadi, harus ada political will dalam uapaya menyelesaikan masalah-masalah di daerah yang itu memang domainnya tingkat satu dan pusat.(*)

Jaksa Lamban, KPK Ambil Alih

Dugaan Korupsi di Disdik Medan

MEDAN- Mengendapnya kasus dugaan korupsi Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan di Kejatisu dan Kejari Medan, menimbulkan rasa ketidakcayaan dari masyarakat. Karenanya, sejumlah kalangan menyarankan agar kasus tersebut diambil alih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurut Praktisi hukum yang juga Direktur Lentera Konstitusi (Lekons) Gunadi SH Mhum, dengan mengendapnya kasus dugaan korupsi di Disdik Medan ini di Kejaksaan, ada tiga anggapan yang muncul di masyarakat.

Pertama, masyarakat menilai kinerja Kejatisu dan Kejari Medan tidak maksimal. “Harusnya kasus-kasus seperti ini diusut tuntas, jangan sampai kepercayaan masyarakat kepada penegak hukum semakin menurun,” katanya kepada wartawan Sumut Pos, Minggu (1/5).

Kedua, lanjut Gunadi, dalam pemeriksaan dan penyelidikan kasus ini sebaiknya jangan ada campur tangan lembaga atau oknum yang bisa menghambat proses penyelidikan tersebut. “Harusnya tidak ada kata negosiasi atau damai,” tegasnya. Yang ketiga, kata Gunadi, kalau dirasa Kejari dan Kejatisu tidak sanggup menangani kasus ini, sebaiknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengambil alih kasus ini. Atau dengan legowo Kejari dan Kejatisu menyerahkannya sendiri ke KPK agar ada kejelasan dari kasus ini.

Lebih lanjut Gunadi juga menyatakan, masyarakat juga seharusnya melaporkan kasus ini ke KPK, kalau memang masyarakat merasa Kejatisu dan Kejari tidak maksimal dalam penanganan masalah ini. “Secara konstitusi, dengan berlarutnya persoalan ini di Kejari dan Kejatisu membuat citra kedua institusi ini menjadi buruk. Maka dari itu, masyarakat seharusnya melaporkan persoalan ini ke KPK saja. Biar ada kejelasan,” tandasnya lagi.
Anggota Komisi B DPRD Medan Salman Al Farisi juga menyatakan hal yang sama. Menurut pria yang juga Ketua Fraksi PKS DPRD Medan ini, dengan berlarutnya penanganan oleh Kejari dan Kejatisu membuat masyarakat menjadi tidak percaya dengan dua institusi penegak hukum itu.

“Kita dari Fraksi PKS memang pada periode ini memfokuskan pada persoalan sertifikasi guru. Dan saat ini, kami tengah mengumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi. Terkait dengan persoalan dugaan korupsi lainnya, kita mengharapkan baik Kejari Medan maupun Kejatisu untuk serius menangani kasus itu. Kalau memang dirasa tidak sanggup, sebaiknya diserahkan ke KPK saja. Agar persoalan ini selesai, dan bisa menjawab pertanyaan masyarakat selama ini,” pungkasnya.

Penegasan ini juga diungkapkan Ketua Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Elfenda Ananda. Diungkapkannya, dalam rangka pemberantasan korupsi, KPK memiliki kewenangn untuk mengusut kasus dugaan korupsi di Disdik Medan tersebut. Selain itu pula, dengan berlarut-larutnya penanganan dari Kejatisu dan Kejari Medan tersebut, agar Kejari dan Kejatisu bisa legowo memberikan kasus ini ke KPK.

“Dengan seperti ini, menandakan Kejari dan Kejatisu tidak serius dalam penanganan kasus tersebut. Apalagi diketahui, pada prinsipnya anggaran untuk pendidikan sangat besar. Dan dugaan korupsinya pun relatif besar. Artinya, baik Kejatisu maupun Kejari untuk legowo menyerahkan kasus ini ke KPK,” tegasnya.

Diketahui, kasus dugaan korupsi di Disdik Medan tersebut di antaranya pembangunan kelas internasional di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Medan senilai Rp1,4 miliar lebih Tahun Anggaran 2007-2008. Bukan itu saja, pejabat Disdik Medan juga diduga melakukan korupsi yang saat ini ditangani Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan, seperti dugaan pemotongan dana Bantuan Operasional Sekolah (Bos) sebesar 10 persen dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Medan senilai Rp1,5 miliar Tahun Anggaran 2007/2008. Ada juga dugaan pengutipan dana sertifikasi guru sebesar Rp500 ribu per orang, pengutipan buku Paket SMA sebesar 10 persen pada SMA Negeri se Kota Medan. Dan ada juga dugaan pengutipan uang kartu pelajar sebesar Rp500 ribu persiswa. Padahal, dana tersebut telah dianggarkan di APBD Kota Medan setiap tahunnya senilai Rp2 miliar. Termasuk pula pengangkatan kepala sekolah yang diduga sarat Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dan pengangkatan kepala sekolah yang tidak seusai Daftar Urutan Kepangkatan (DUK).

Belum lagi, dugaan kebocoran anggaran DAK mulai tahun 2007 hingga 2009 mencapai Rp8.761.900.000. Sejak tahun 2007 Kadisdik Medan diduga telah melakukan pemotongan anggaran DAK sebesar 30 persen yang mencapai Rp752.400.000. Sedangkan pada tahun 2008 diduga pemotongan  mencapai Rp3.810.900.000, serta pada tahun 2009 diduga dilakukan pemotongan sebesar 20 persen dengan nilai Rp4.198.600.000.(ari)

Poldasu Koordinasi dengan Polisi Malaysia

Penangkapan Kurir Heroin

MEDAN- Direktorat Reskrim Polda Sumut masih mendalami penyidikan terkait penyelundupan heroin seberat 2,993 gram dan satu paket sabu-sabu seberat 497 gram dari Malaysia ke Indonesia melalui Pelabuhan Teluk Nibung, Sabtu (30/4) lalu. Karenanya, untuk menangkap otak pelaku berinisial Y yang kini berada di Malaysia, Poldasu berkoordinasi dengan Polisi Diraja Malaysia.

“Kita sudah mengirimkan semua data-data Yanti ke Malaysia terkait penyelundupan heroin oleh Rika Rahayu (RR) melalui Pelabuhan Teluk Nibung yang ditangkap KPP Bea dan Cukai Teluk Nibung, Tanjungbalai,” ujar Kabid Humas Polda Sumut AKBP Raden Heru Prakoso melalui telepon selulernya, Minggu (1/5).

Namun, Heru belum dapat memastikan apakah penyelundupan heroin senilai Rp4 miliar tersebut merupakan jaringan intenasional atau tidak. “Kita belum dapat memastikan apakah jaringan internasional atau tidak. Setelah Yanti ditangkap, akan tahu sebenarnya. Kita pun sudah tetapkan Yanti menjadi DPO (daftar pencarian orang),” ucapnya.

Ditambahkan Heru, dengan perjanjian bilateral antara Indonesia dengan Malaysia, penyidikan penyelundupan tersebut diharapkan dapat terungkap. Sebab, pengakuan tersangka Rika Rahayu, warga Jalan Krueng Neng, Emperom, Jayabaru, Banda Aceh, yang membawa heroin dan satu paket sabu-sabu itu, Yanti lah yang
memintanya membawa heroin tersebut.

Dijelaskannya, penyelundupan heroin tersebut dilakukan secara estafet. Awalnya, Rika diminta menyerahkan heroin kepada Khairiani Lubis (KL), warga Jalan Diponegoro, Gang Buntu, Kisaran yang menunggu Rika yang menumpang Kapal Ferry Ocean Star II Asal Port Klang, Malaysia dengan paspor No.0632222 di Pelabuhan Teluk Nibung. “Jadi, Yanti yang menggendalikan mereka. Tersangka Rika yang membawa dari Malaysia, kemudian diserahkan kepada Khairani,” jelas Heru.(adl)

Refleksi Pesan Paskah Kristus

Porseni Klasis GBKP Medan Namorambe

Sebagai umat Nasrani, Paskah menjadi momen yang berarti. Berbagai kegiatan kerap digelar untuk menyambut kenaikan Isa Almasih, baik olahraga maupun seni yang mencerminkan nilai-nilai ajaranNya.

Seperti yang dilaksanakan Jemaat Gereja Batak Karo Protestan Klasis Medan Namorambe ini sejak 30 April lalu. Dalam rangka merayakan perayaan Paskah, mereka menggelar pra-Paskah dalam bentuk Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) yang dirangkai dengan pengobatan massal.

Kegiatan sendiri dilaksanakan di halaman GBKP Jalan Letjend Djamin Ginting Medan setiap Sabtu dan Minggu hingga 2 Juni mendatang di Jambur Tansaka Medan sebagai acara puncak.

“Kegiatan ini kita buat untuk merayakan Paskah. Sebagai klasis termuda, melalui kegiatan ini kita ingin menggali potensi yang dimiliki jemaat, baik itu di bidang olahraga maupun di bidang seni. Dari situ semua kita berharap tercipta kebersamaan di antara 18 runggun yang ada,” ucap Ketua Panitia Pertua Perpulungan Tarigan didampingi Koordinator Sayembara Pertua Rudi Ginting kepada Sumut Pos, Minggu (1/5).

Menurut Pertua Rudi Ginting, kegiatan Porseni ini sudah dimulai sejak Sabtu (30/4) lalu. Untuk olahraga dibagi dalam beberapa cabang, yaitu bola voli, badminton dan catur. Ada juga digelar gerak jalan yang dibagi dalam tiga kategori, mamre (bapak), moria (ibu) dan permata (muda-mudi).

“Khusus pada cabang bola voli kita mewajibkan sistem campuran. Tim putra sendiri harus gabungan antara mamre dan permata putra begitu juga dengan tim putri yang gabungan moria dan permata putri,” jelasnya.
Sistem campuran tersebut berhasil menciptakan suasana yang seru sepanjang pertandingan. Pantauan Sumut Pos di lapangan, baik pertandingan di tim putra maupun di tim putri memperlihatkan kompetisi yang sehat. Gabungan dua generasi dalam satu tim menciptakan kerjasama yang baik. Bagaimana kaum bapak/ibu yang memiliki pengalaman diperkuat dengan energi dari kaum muda (permata) tadi.

Pertandingan pun lebih memperlihatkan kebersamaan dibanding persaingan untuk memperebutkan hadiah kemenangan. Tidak hanya di dalam arena pertandingan, kebersamaan itu pun terlihat di luar lapangan. Bagaimana jemaat berkumpul untuk mendukung tim yang bertanding tanpa memandang asal tim. Membuat pertandingan pun lebih meriah. Kebersamaan tadi setidaknya refleksi dari pesan Yesus Kristus sebelum naik ke Surga kepada umat Nasrani. Agar umatNya bersekutu menunggu kedatangan Roh Kudus.

Selain olahraga turut pula digelar sayembara seni dalam paduan suara untuk putra putri, vokal solo anak-anak dan lansia, tari kreasi baru untuk muda-mudi, dan musik kreatif anak-anak yang akan digelar di partai puncak di Jambur Tansaka Medan (2/6) mendatang. Diharapkan dari kegiatan ini jemaat khususnya muda-mudi menemukan wadah untuk menyalurkan bakat dan potensi yang dimiliki.

Dengan adanya wadah tadi, generasi muda ini pun diharapkan terlindung dari pengaruh negatif di kelompoknya seperti penyalahgunaan narkoba dan kekerasan di tengah-tengah masyarakat. Selain itu talenta yang dimiliki juga dapat melahirkan prestasi sebagai kontribusi berharga untuk pembangunan dan kebesaran kerajaan Allah.
Seperti yang disampaikan Pertua Rudi Ginting, Klasis GBKP Medan Namorambe merupakan klasis termuda. Sebelumnya klasis ini tergabung dengan klasis Pancur Batu hingga pada Sinode GBKP 2010 lalu resmi berdiri sendiri sebagai klasis GBKP Medan Namorambe dengan menaungi 18 runggun (gereja) dan 18.000 jemaat di dalamnya. (*)

Pengoplosan Minyak Marak di Medan Utara

BELAWAN- Jajaran Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) dinilai kurang serius memberantas penimbunan dan pengoplosan bahan bakar minyak (BBM) dan Crude Palm Oil (CPO). Pasalnya, dua bulan setelah dilakukan Operasi Kuda Laut Toba yang digelar pihak kepolisian, TNI AL/AD, Satpol PP dan Pertamina, para pelaku kembali beraksi di beberapa tempat di wilayah Medan Utara.

Modus yang dilakukan para pelaku dengan mendirikan gudang untuk melakukan aktivitas penimbunan dan pengoplosan BBM. Hampir rata-rata gudang tersebut hanya berdindingkan tepas untuk mengelabuhi orang yang sedang melintas di gudang tersebut.

Gudang yang diduga tidak memiliki izin dari pemerintahan setempat itu sudah beraksi sebelum operasi Kuda Laut Toba dilaksanakan. Sehingga operasi yang menelan anggaran yang cukup besar tersebut terkesan tidak berhasil menghentikan kejahatan ini.

Seorang sumber terpercaya yang namanya tidak mau dikorankan mengatakan, setiap harinya mulai dari pagi hingga malam, puluhan mobil tangki secara bergantian masuk ke dalam pergudangan.

Setelah sebagian muatannya di keluarkan, mobil tersebut keluar lagi. “Waktu operasi kemarin, gudang ini tutup. Tapi sekarang mereka buka lagi karena operasi itu kabarnya sudah selesai,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menambahkan, pada umumnnya jumlah minyak jenis CPO yang dikeluarkan dari setiap mobil tangki sebanyak seperampat drum atau diistilahkan sebanyak satu gelang. Seluruh CPO tersebut ditampung dan setelah cukup dikirim ke pabrik pengolah CPO dengan menggunakan jasa perusahaan yang memiliki izin dari pabrik pengolah.

Dia menjelaskan, diduga aksi pengoplosan minyak tersebut berjalan mulus karena mendapat dukungan dari sejumlah oknum aparat dan supir mobil tangki itu sendiri.

Sementara, menanggapi hal tersebut, Humas Polres Pelabuhan Belawan AKP Antoni Rajagukguk mengatakan, pihaknya akan melakukan penyelidikan dan jika memang permainan siong tersebut kembali beraksi akan ditindak sesuai dengan aturan.

“Kami akan melakukan penyelidikan, apabila terbukti kedapatan kami akan berikan tindakan yang tegas,” ujarnya. (mag-11)