Home Blog Page 15377

Matinya Penegakan Hukum…

Deru gelombang aksi silih berganti menekan Kejaksaan Tinggi Sumut (Kejatisu), terkait penanganan sejumlah kasus dugaan korupsi senilai ratusan  miliar di beberapa daerah di Sumut, Rabu (20/4) pagi. Orasi massa sempat menyebabkan arus lalulintas di kawasan itu macet.

“Kejaksaan harus segera selamatkan uang Negara Rp400 miliar dari genggaman sejumlah pejabat di Sumut,” teriak pengunjukrasa yang tergabung dari berbagai kelompok mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Kehadiran aksi demo di gedung Kejatisu ditandai yel-yel dan lambain poster-poster berukuran kecil dan besar berisikan desakan kepada Kepala Kejatisu baru untuk segera menuntaskan penyelidikan dan penyidikan sejumlah kasus korupsi di Sumut.

Aksi diawali dengan kehadiran massa Aliansi Masyarakat Peduli Pembaharuan (AMPP). Kelompok ini mengusung dugaan korupsi di Dinas Perhubungan Sumut. Bahkan, mereka meminta Jembatan Timbang ditutup. “Tutup Jembatan Timbang karena hanya sebagai lahan pungutan liar (pungli) bagi pegawai Dishub,” teriak Koordinator aksi AMPP, Rahmad Hidayat dalam orasinya membakar semangat massanya yang sebagian besar pria.
Menurut Hidayat, BPK RI, BPKP dan Kejatisu harus bersinergi mengaudit dugaan korupsi Rp10 miliar yang diduga hasil pungli di Jembatan Timbang yang tersebar di Sumut. “Pejabat Dishub harus bertanggung jawab terhadap pungli yang dilakukan bawahannya,” teriak Hidayat.

Setelah massa AMPP selesai, giliran kelompok Senteral Monitoring Informasi Deli Serdang. Massa ini mengusung kasus dugaan korupsi di Pemkab Deli Serdang yang diduga melibatkan Bupati Deli Serdang Amri Tambunan. “Usut tuntas dugaan korupsi penyimpangan uang negara Rp37 miliar APBD Tahun 2003,” teriak Koordinator Lapangan, Atur P Panggabean. Mereka meminta Kejatisu segera memeriksa pejabat  yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam kasus itu.

Orasi massa berikutnya digelar, kelompok Pemantau Kinerja Aparatur Negara (Penjara). Aksi massa ini sedikit lebih ekstrim dari dua kelompok sebelumnya. Selain menyampaikan orasi, mereka juga membakar kerenda mayat bukti matinya penegakan hukum di Sumut. Selain itu, seorang massanya memukul kepalanya dengan gelas sampai berdarah.

“Darah ini bukti kami tegas dalam penuntasan korupsi,” kata massa Penjara itu. Dalam aksinya, massa Penjara mengusung dugaan korupsi dana pembinaan LSM dan ormas Rp4 miliar, dan dugaan korupsi Pemkab Simalungun yang diduga melibatkan mantan Bupati Zulkarnaen Damanik Rp105 miliar.

Kemudian dugaan korupsi mantan Walikota Tanjungbalai, Sutrisno Hadi terkait dana kegiatan MTQ tahun 2008 senilai Rp5,6 miliar. Dugaan korupsi Bupati Nias, Binahati Bahea dana bantuan korban tsunami 2006 senilai Rp354 juta (telah ditangani KPK, Binahti juga telah dijadikan tersangka, Red). Selanjutnya dugaan korupai mantan Walikota Siantar RE Siahaaan terkiat kegiatan penerimaan CPNS puluhan miliar.

Terakhir aksi masaa Organisasi Mahasiswa dan Masyarakat Bersatu Anti Korupsi Sumut (Ommbak). Mereka mengusung dugaan korupsi, penggunaan dana Persatuan Sepakbola Padang Sidempuan 2008-2009 pada Dinas Pemuda dan Olahraga P.Sidempuan senilai Rp3 miliar. “Tangkap Ketua PS Sidempuan Drs Zulkarnaen Nasution, Manajer H.Sarmadan Hasibuan dan Bendahara tim PS Sidempuan,” teriak Koordinator Syaiful. Mereka minta Kejatisu segera menangkap dan menahan para pejabat tersebut karena merekalah yang pantas bertanggung jawab atas kebocoran uang Negara itu.

Menurut massa Ommbak, kejaksaan tebang pilih dalam melakukan penyelidikan kasus tersebut. Buktinya beberapa kasus itu berhenti. “Tidak ada alasan kejaksaan tidak menetapkan ketiga pengurus inti PS tersebut jadi tersangka, sebab roda organisasi ditangan mereka, “ teriak massa.

Kehadiran para pengunjukrasa diterima Kasi Penerangan Hukum Kejatisu, Edi Irsan Kurniawan Tarigan. “Semua aspirasi yang saudara sampaikan akan kami tindaklanjuti, “ tegas Tarigan. Semua bukti yang diserahkan akan dipelajari bidang intelijen dan kemudian diserahkan ke Pidsus. (rud)

Diramaikan Musisi Jazz Ternama Tanah Air

North Sumatera Jazz Festival 2011

Berawal dari mimpi pada 1996, North Sumatera Jazz Festival (NSJF) 2011 akhirnya digelar pada 1-2 Juli di Medan. Ajang ini diyakini bakal memiliki ciri khas yang unik dan simple. Seperti apa?

Adlansyah N, Medan

Kota Medan sebagai kota terbesar di luar Pulau Jawa, sudah selayaknya memiliki perhelatan jazz besar berkelas festival. Sebelumnya, sejumlah kota lainnya di luar Pulau Jawa telah menggelar perhelatan tersebut seperti Denpasar, Pekanbaru, Makasar dan Ambon.

“Ini akan menjadi pergelaran perdana, sebuah Jazz Festival dengan landasan konsep yang berbeda dari festival sejenis lainnya. Sesuai dengan temanya, kita akan mengedepankan para musisi dan penyanyi jazz terbaik Indonesia yang sudah dikenal luas dengan jam terbang yang tinggi di panggung-panggung internasional,” ujar Erucakra Mahameru, Direktur Penyelenggara didampingi Gideon Momongan selaku Direktur Festival dan Ketua PWI Sumut Syahril di Deli Room Hotel Danau Toba Internatinal Medan, Rabu (20/4) siang.

Dalam acara tersebut, NSJF nanti akan menampilkan BEX Project yang merupakan pormasi perdana Emerald Band. Lalu, Trio Ligro yang dimotori drumer dari group pop rock GIGI, Gusti Hendy serta Sruti Respati, pesinden dan sekaligus penyanyi dan presenter.

“Ada juga Donny Suhendra Project, group yang berangotakan musisi senior dan junior. Juga direncanakan tampil, produser dan penulis lagu hits, Yovie Widianto yang akan bermain dengan kelompok fusionnya bersama para musisi terbaik dan berpengalaman Internasional. Selain itu, akan tampil pula kelompok. Entertainer asal Bandung, KSP dan group musisi Jazz lain yang telah lumayan dikenal publik musik Indonesia, termasuk group muda berbakat asal Medan,” cetusnya.

Seiring dengan tren yang makin ramai band dan penyanyi ternama luar negeri datang untuk beraksi didepan publik musik jazz, yang lebih dikagumi dan digila-gilai publik pecinta musik jazz dibanding kampungnya sendiri. Medan yang mempunyai musisi bagus, akhirnya memberikan lebih banyak lagi warna musik bagi para pecinta musik untuk disimak dan dinikmati.

“Karena sejatinya musik itu lebih luas dan beragam, dengan bentuk bunyian. Ini merupakan wadah untuk komunitas Jazz, ini juga untuk memperkenalkan musik Jazz Indonesia yang seperti apa,” terang Erucakra lagi.
Namun sebelum North Sumatera Jazz Festival 2011, pada 19 Mei akan digelar sebuah pre-event yang akan diadakan di Hotel Danau Toba International Medan. Juga akan menampilkan group dan penyanyi serta musisi yang berpengalaman luas baik di dalam maupun di luar negeri. Selain akan memberikan tambahan pencerahan yang baik untuk pengembangan wawasan dan pengetahuan bagi para pemusik muda ataupun penikmat musik muda Medan dan Sumut.

“Sebagai sosialisasi dan arena pemanasan menjelang pergelaran North Sumatera Jazz Festival 2011, penyelenggara akan mencoba dan akan memberikan kenyamanan bagi pengunjung,” ucap Gideon Momongan.
Sementara itu, Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia, Red) Syahril salut dengan konsep yang dimiliki promotor yang sangat menantang bagi pecinta musik jazz. “Musik jazz ini pangsanya menengah ke atas, diharapkan ke depannya musik jaza di Medan ada kolaborasi dengan alat-alat tradisional agar dapat merangsang jazzer di Medan, “ pintanya.(adl)

Warga Protes Bangunan Yayasan Nanyang

MEDAN- Puluhan warga yang bermukim di Jalan Tomat, Jalan Sriwijaya dan Jalan Abdulla Lubis berunjukrasa ke Yayasan Nanyang Zhi Hui Internasional Modern School (Singapore), Rabu (20/4) pukul 12.00 WIB. Warga menentang pembangunan Yayasan Nanyang yang diduga telah menyalahi izin bangunan.

Pasalnya, kata warga yang bermukim di Jalan Sriwijaya, Abdullah Lubis dan Jalan Tomat ini, Yayasan TK dan sekolah tari yang dibangun pada 2005 lalu itu sudah menyalahi izin. Bukan itu saja, pemilik yayasan yang disebut-sebut Lindawaty Roesli ini hanya mempunyai izin 2 lantai.

“Nyatanya sudah lima lantai. Ada apa ini. Apakah Kadis TRTB Medan sudah mendapat upeti,” ujar warga disana.
Bukan itu saja, pemilik yayasan tidak ada meminta persetujuan pembangunan itu kepada warga sekitar. “Mereka dulu cuma pegang izin 2 tingkat, sekarang nyatanya udah lima tingkat,” ujar warga lagi.

Dan yang paling memberatkan warga di sana, juga tanpa persetuajuan warga, Yayasan Nanyang hendak membangun lagi gedung sekolah untuk SMP persis di belakang gedung lama. Daulat Harahap, selaku Kepling IV, Kelurahan Darat mengaku, sebelum dibangunya Yayasan Nanyang, pihaknya sudah menyurati pemilik yayasan supaya menghentikan bangunanya. “Kami juga sudah layangkan surat keberatan supaya dihentikan bangunan itu. Ini tahap kedua mau dibangun lagi, sementara tahap pertama sudah bermasalah. Pokoknya ini harus dihentikan,” ujar kepling tersebut.
Sementara itu, pemilik yayasan Lindawaty Roesli saat hendak dikonfirmasi tidak berada di tempat. Salah satu staf di sana mengatakan, bosnya sedang keluar.

Kadis TRTB Medan Syampurno Pohan, saat dikonfirmasi wartawan koran ini di Hotel Tiara Medan, Selasa (19/4) mengatakan, izin bangunan kedua memang sudah ada. Sedangkan bangunan pertama, dia tida tahu apakah ada izinnya atau tidak, karena saat itu dia belum menjabat.(ari/fit/smg)

Kader PP Harus Disiplin dan Patuhi AD/ART

MEDAN- Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila (PP) Sumatera Utara Anuar Shah kembali mengingatkan, pembekuan empat kepengurusan Majelis Pimpinan Cabang (MPC) dilakukan karena para pimpinan MPC tersebut tidak mampu memenuhi target agenda nasional program Back to Zero. Program ini mengharuskan masing-masing MPC PP melaksanakan 80 persen rapat pemilihan pengurus pimpinan ranting dan anak cabang.

Pada 9 Maret lalu, MPW PP Sumut telah menetapkan karetaker untuk masing-masing MPC yang dibekukan tersebut. “Dengan ditunjuknya karetaker, maka pengurus yang lama tidak aktif lagi,” ujar Anuar Shah, kemarin (20/4).

Anuar Shah mengimbau agar kader PP tetap disiplin dan mematuhi AD/ART organisasi. Tidak boleh mengambil tindakan yang bertentangan dengan aturan tersebut. “Bila masih ada kader yang tidak mematuhinya, karetaker akan mengambil tindakan,” tambahnya.(ade)

Perubahannya Makin Sporty

Nissan Grand Livina Highway Star

MelaKukan inovasi secara terus menerus menjadi komitmen Nissan untuk menelurkan produk mobilnya. Salah satunya inovasi dengan teknologi tinggi dikembangkan pada Nissan Grand Livina.

Mobil satu ini memberikan banyak perubahan. Perubahan tersebut terletak pada modernitas eksterior berpadu dengan kemewahan interior yang dirancang khusus untuk kenyamanan keluarga Indonesia.

Sales Section Head PT Wahana Trans Lestari Medan Nissan Gatot Subroto Indra Kesuma mengatakan, perubahan terletak pada warna jok keluaran terbaru dengan warna hitam, sebelumnya berwarna beige.

Perubahan lain terletak pada LCD, dimana monitor diganti menjadi LCD yang terletak di bangku belakang. Perubahan juga terletak pada velg ban yang dipakai warna hitam. “Nissan juga menambah airbag pada bangku pengemudi,” tambahnya.

Tak hanya itu, lanjut dia, perubahan selanjutnya pada ruang kabin yang lapang dan nyaman, dilengkapi jok yang terbuat dari kulit yang siap menompang tubuh dengan sempurna.

Nah pada Nissan Grand Livina Highway Star, menggunakan mesin 1,5 L dengan daya maksimum 109PS dan 1,8 L 126PS sehingga memiliki 5 dan 6 percepatan yang responsif. “Penggunaan aluminium khusus membuat mesin lebih ringan namun tetap kuat. Semua perubahannya makin sporty,” paparnya.

Mobil ini dilengkapi teknologi CVTC (Continuaos Variable Valve-Timing Control) yang menghasilkan tenaga dan akselerasi optimal serta meningkatkan efisiensi bahan bakar di tiap putaran mesin.

Pada Suspension Comfort, yaitu gabungan antara suspensi independen Mcpherson strut dengan stabilizer pada roda depan membuat Nissan Grand Livina begitu nyaman dikendalikan disegala kondisi jalan.
Pada desain interior, penempatan blower AC menghadirkan kesejukan yang merata ke tiap sudut kabin, yakni bagian center cluster terdapat blower AC.   Untuk keamanan, mobil dilengkapi ABS dan EBD  yang membuat tetap aman dan nyaman walau melakukan rem secara mendadak.

Sedangkan EBD, sensor yang memantau bobot keseluruhan kendaraan beserta muatan untuk kemudian menyalurkan daya pengereman yang sesuai untuk deselerasi yang lebih stabil serta berimbang.  Pada BA, sistem  ini  mengetahui kapan daya pengereman harus dilakukan atau   daya pengereman tambahan yang dibutuhkan. Mobil ini juga dilengkapi dengan sensor parkir, lampu kabut, sensor pintu. Untuk harga, dipatok mulai Rp178 juta hingga Rp212 juta. (mag-9)

Tujuh Jurus Taklukkan Kampus

Drs Maringan Panjaitan MSi

Berkaca pada pengalaman, Drs Maringan Panjaitan MSi (47) memilih merangkul untuk mengarahkan aspirasi mahasiswa ke arah yang tepat. Pendekatan persuasif menjadi panglima untuk menyelesaikan setiap gejolak yang dihadapi.

Memang, tak jarang kita mendengar berita bentrokan antara mahasiswa dan pihak birokrat kampus yang juga akademisi. Kondisi yang menurut Maringan adanya kesalahpahaman di antara kedua belah pihak. Kekakuan dari kalangan birokrat di satu sisi dan kekeliruan pemahaman di sisi mahasiswa.

“Saya juga pernah ada di kehidupan itu. Ya, layaknya anak meminta sesuatu kepada orangtua saja. Tidak ada mahasiswa itu yang bandel, mereka hanya kurang perhatian saja. Karena niat awal mahasiswa itu baik yaitu ingin belajar, jadi manusia yang berguna,” ucap Maringan kepada Sumut Pos saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Begitu pun, dirinya tidak membantah bila terjadi penurunan jiwa kepemimpinan mahasiswa saat ini. Hal itu tampak dari cara-cara yang ditempuh mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi. Seperti demonstrasi dibarengi dengan tindakan anarkis yang dapat merugikan masyarakat. Tindakan yang menurutnya dapat menjauhkan simpati masyarakat terhadap pergerakan mahasiswa itu tadi.

“Saya suka mahasiswa yang kreatif dan kritis. Karena dengan kritik itu tadi saya bisa melakukan koreksi untuk lebih baik lagi ke depan. Saya juga selalu mengingatkan ke teman-teman dan mahasiswa untuk selalu mengingatkan saya bila melakukan kesalahan,” tambahnya.

Untuk itu di awal masa kerjanya sebagai Wakil Rektor III Universitas HKBP Nommensen yang membidangi kemahasiswaan dan alumni, awal April 2011, Maringan menciptakan program Caracter Building untuk dilaksanakan di seluruh fakultas yang ada. Lewat pembangunan tujuh karakter pada diri mahasiswa yang nantinya adalah pemimpin di masa depan.

“Ada tujuh yang menjadi fokus dari pembangunan karakter ini yaitu bagaimana membangun mahasiswa yang cerdas, kreatif, adaptif, beradab, beretika, sopan-santun, berkarya dan inovatif. Program ini juga akan kita laksanakan di setiap fakultas, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan organisasi intrakampus secara dialogis,” paparnya.
Keinginan Maringan tersebut tak lepas dari kerasnya hidup yang dilaluinya. Sebagai putra Batak, Maringan kecil tak lepas dari kerasnya didikan yang diterapkan orangtuanya. Setiap kesalahan yang dilakukan akan dibayar dengan pukulan di  tubuh. Keputusan terlibat di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) semasa kuliah di Ilmu Politik Universitas Jayabaya lalu mengenalkannya dengan kehidupan seorang mahasiswa. (jul)

Tak Betah dengan Mobil Baru

Selain dekat dengan mahasiswanya, Maringan Panjaitan ternyata memiliki ketertarikan kepada otomotif khususnya pada mobil dan motor  tua. Mobil Mercedes Tiger 1983 putih yang masih awet adalah buktinya.
“Ini mobil sudah saya bawa ke Balige, Tarutung, Berastagi untuk liburan bersama keluarga” aku Maringan.
Tapi keawetan tadi bukan tanpa sebab. Pria yang hobi catur dan beres-beres pekarangan ini mengaku langsung turun tangan untuk perawatan. Seperti mengganti oli dan perawatan rutin lainnya. “Saya lebih suka bengkel yang dipinggir jalan karena mereka pasti sudah ahli makanya buka sendiri. Kita juga bisa melihat langsung untuk belajar,” tambahnya.

Sebagai peminat mobil tua, Maringan mengawalinya dengan mobil Ford buatan tahun 1987. Sebelum beralih ke Mercedes Tiger 1983, Maringan sempat berkenalan dengan mobil Toyota Kijang 1996 yang tak bertahan lama. “Saya memang tidak betah dengan mobil terbaru. Mungkin karena tidak punya cukup uang ya?” ucapnya merendah. (jul)
Kini pria yang suka mencuci pakaian sendiri ini berencana menambah koleksi kendaraan tuanya. Bukan dari roda empat, Maringan mengaku membidik Vespa Congo yang legendaris. (jul)

Dongkrak Penjualan Motor Sport AHM

Honda New MegaPro

Penjualan tipe motor sport Honda pada bulan Maret melonjak 43 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Kehadiran Honda New Megapro dan Honda CBR250R terbukti berhasil memperkuat penetrasi PT Astra Honda Motor (AHM) di segmen motor sport.

Total penjualan tipe motor sport Honda pada bulan ketiga tahun ini tercatat 24.217 unit sementara pada Maret 2010 hanya 16.932 unit. Secara kumulatif, pada Januari-Maret, penjualan tipe motor sport Honda tercatat 65.864 unit atau melambung 44,3 persen dibandingkan dengan triwulan pertama tahun sebelumnya yang hanya 45.628 unit.
Honda New MegaPro yang dirilis pertama kali pada Agustus 2010, pada bulan lalu terjual sebanyak 17.975 unit, sedangkan secara year to date tahun ini (Januari-Maret) penjualannya tercatat  51.088 unit.

Di segmen motor sport lain, Honda CBR250R yang baru dirilis ke pasar pada akhir Februari tahun ini juga berhasil melakukan penetrasi yang cukup signifikan di segmen motor sport 250 cc.

Pada bulan lalu, flagship motor sport AHM ini terjual  1.167 unit atau melambung sekitar 342 persen dibandingkan  Februari. “Sebagai pendatang baru, Honda New MegaPro mendapat sambutan yang luar biasa di kalangan konsumen. Setidaknya ini tercermin dari pencapaian penjualan sepanjang triwulan pertama tahun ini. Hal yang sama juga dialami Honda CBR250R,” ujar Senior General Manager Sales Division AHM Sigit Kumala.

Arifin Posmadi, General Manager CV pada Januari-Maret 2011, penjualan skutik Honda tercatat 518.136 unit atau melambung 88,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu 274.633 unit.

Sementara itu, Leo Wijaya, Marketing Manager CV Indako Trading Co menambahkan, sejak awal Januari Honda sudah menjadi raja baru skutik di Tanah Air. Honda BeAT masih menjadi penyumbang terbesar penjualan skutik Honda pada triwulan pertama tahun ini. Vario series dan skutik retro modern Scoopy juga memberikan kontribusi yang signifikan. (rel/mag)

Tertibkan Ternak Kaki Empat

085361763xxx
Sumut Pos tolong sampaikan laporan saya ini kepada Pak Wali Kota Medan masalah ternak berkaki 4 di daerah pinggiran rel Kereta Api, Cinta Damai mulai dari belakang perumahan Bumi Asri terus ke perumahan Taman Hako trus rumah-rumah yang didirikan di atas parit itu tolong di bongkar Pak itu memperlambat saluran irigasi/saluran air. Terima kasih dari Arman Pasaribu

Kami Tertibkan Bertahap

Terimakasih informasinya, kami jelaskan untuk penertiban ternak berkaki empat khususnya babi, kami dari Pemko Medan melalui Dinas Pertanian dan Kelautan sedangkan melakukan negosiasi untuk penertibannya. Hal ini dilakukan untuk memberikan pemahaman yang sama kepada masyarakat serta harga ternak yang akan diganti rugi.
Pelaksanaan ini juga bertahap di seluruh wilayah Kota Medan, sebab berdasarkan Perwal No.13/2010 tentang larangan ternak kaki empat di Kota Medan. Tak hanya itu saja, pelaksanaan penertiban ternak kaki empat ini juga segera mungkin kami lakukan demi menjaga keindahan Kota Medan.

Ir H Wahid M Si
Kepala melalui Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan

Kami Rubuhkan Segera

Informasinya kami terima, kami terangkan sesuai Perda dan perwal di Kota Medan pemanfaatan badan jalan, khususnya trotoar sangat dilarang, apalagi sampai ditutup dan didirikan bangunan diatas badan jalan.
Kami dari Dinas Bina Marga segera meninjau lokasi yang dimaksud, kemudian menindaknya agar segera mungkin dirubuhkan. Pasalnya, bangunan yang berada di atas trotoar atau parit itu sangat dilarang, Perwal, Perda maupun Undang-undang.
Gunawan Surya Lubis
Kepala Dinas Bina Marga Kota Medan

Jangan Ditunda
Tindakan Pemko Medan untuk penertiban kaki empat di Kota Medan jangan ditunda-tunda. Jika komitmennya untuk melakukan penertiban, sebaiknya segera mungkin melakukannya. Jangan hanya dikarenakan lobi-lobi politik yang tak jelas arahnya membuat Kota Medan menjadi runyam.

Selanjutnya, Pemko Medan juga harus berani bersikap tegas terhadap aturan yang telah dibuatnya. Apalagi selama ini, Pemko Medan sudah membuat larangan berternak di Kota Medan, karena akan merusak tata ruang dan kelestarian lingkungan di perkotaan ini.

Kami sarankannya, sebaiknya Pemko Medan memberikan sikap yang tegas, tanpa ada kompromi lainnya untuk mewujudkan atau menegakkan aturan yang telah dibuat.

H Ahmad Arif SE MM
Ketua Fraksi PAN DPRD Medan

Perwal Diberlakukan Puluhan Kepling Diganti

Kepala Lingkungan (Kepling) di Kota Medan berusia di atas 58 tahun terancam diganti lantaran adanya penerapan Perwal No.5/2011 tentang Kepala Lingkungan. Padahal, banyak Kepling itu mengaku berjasa untuk memenangkan Rahudman Harahap sebagai Wali Kota Medan.

Hal itu terkuak dalam reses anggota DPRD Medan daerah pemilihan II, Medan Maimun, Medan Johor, Medan Polonia, Medan Tuntungan, Medan Baru, Medan Selayang dan Medan Sunggal yang dipusatkan di Lapangan Basket, Kecamatan Medan Maimun, Rabu (20/4).

Pergantian Kepling itu diakui seorang mantan Kepling, Abdul Nawi Harahap. Pada kesempatan itu, dirinya mewakili 30-an Kepling yang diganti oleh Camat Medan Maimun, Said Reza mempertanyakan tentang mekanisme pergantian Kepling dan Peraturan Wali Kota (Perwal) No. 5/2011 tentang Kepling.

“Saya minta penjelasan dari para anggota dewan. Bagaimana sebenarnya penjelasan tentang perwal itu. Kami sebagai mantan kepala lingkungan, merasa dibuang setelah bekerja memenangkan Rahudman. Kami yang tidak lagi jadi kepling di kecamatan ini sebanyak 30 orang,” ucapnya.

Menyahuti pertanyaan itu, anggota DPRD Medan Dapem II, Ilhamsyah menjelaskan, seharusnya Perwal itu dapat diaplikasikan. Namun, dalam penerapannya seharusnya ada kebijakan dari Camat. Kebijakan dari Camat yang dimaksudkan adalah sebelum mengganti Kepling, seharusnya Camat dapat mengevaluasi kinerja kepala lingkungannya.

Politisi Partai Golkar itu menerangkan sesuai aturan Perwal, Kepling hanya boleh menjabat hingga berusia 58 tahun. Setelah itu, Kepling dapat diberhentikan oleh Camat dan digantikan dengan orang yang lebih muda dan energik. Tapi, tidak serta merta pergantian itu bisa dilakukan begitu saja. “Sebaiknya tanya ke masyarakatnya, apa Kepling masih bisa bekerja dengan baik,” sebutnya.

Lebih lanjut, pria yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi A DPRD Medan ini memaparkan, lahirnya Perwal No 5/2011 itu, tidak sedikit Kepling di kota Medan yang resah, sebab dari 2001 Kepling di Kota Medan, mungkin lebih 500 yang sudah berusia diatas 58 tahun, dan mereka terancam diganti.

“Aturan itulah yang akan menimbulkan pemasalahan baru di masyarakat, khususnya terhadap pelayanan, sebab Kepling  ujung tombak pelayanan  masyarakat,”sebutnya. “Wali Kota Medan sebaiknya memikirkan permasalahan ini. Jangan jadikan Perwal ini sebagai alat untuk mencari keuntungan pihak-pihak tertentu,” paparnya.
Sementara itu, anggota DPRD Medan dari Dapem II lainnya, Burhanuddin Sitepu mengatakan, seharusnya Wali Kota Medan, Rahudman Harahap meninjau ulang Perwal mengenai Kepling ini. Bila tidak permasalahan ini bisa berlarut-larut.

Hadir kesempatan itu, segenap anggota DPRD Medan, Salman Alfarisi, Zulmorado, Faisal Nasution dan Damai Yona Nainggolan,  Paulus Sinulingga, Bangkit Sitepu, Abdul Rani , Kuat Surabakti Daniel Pinem.  (ari)

Suka Pelajaran Fisika

Bagi sebagian mahasiswa yang bergelut di dunia pendidikan, mata kuliah Fisika adalah mata kuliah yang sangat menjenuhkan, karena memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Namun berbeda bagi Agus Priadi, seorang mahasiswa yang kini sedang menimba ilmu di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP).
Baginya kimia adalah mata pelajaran yang sangat digemarinya di bangku kuliah.Terbukti anak kedua dari empat bersaudara ini telah membuktikannya lewat prestasinya di olimpiade kimia antar perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara dan NAD yang dilaksanakan Koperti Wilayah I.

Meskipun hanya mampu  sebagai juara III pada olimpiade Fisika tahun 2010 lalu, namun dengan semangatnya Agus mampu meraih juara II pada kejuaran yang sama pada tahun berikutnya.

“Meskipun tidak mampu menembus enam besar karena kalah saat seleksi menghadapi peserta dari Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Sumatera Utara dan NAD. Tapi saya tetap optimis akan memperbaiki peringkat saya pada tahun berikutnya agar bisa berpartisipasi dalam even skala nasional,” sebut Agus Optimis.

Agus mengaku, jika kecintaannya terhadap pelajaran Fisika sudah dirasakannya sejak dirinya masih memijak bangku SLTA, dengan hasil raport yang cukup memuaskan rat-rata sembilan setiap semesternya. Namun bakatnya semakin terlihat saat di bangku kuliahan,itupun setelah adanya even perlombaan yang dilaksanakan oleh Kopertis wilayah I Sumut-NAD.  “Setidaknya dengan berbagai even yang telah dilalui, bisa menambah pengalaman sekaligus mengasah kemampuan,” ujar Agus.(uma)