27 C
Medan
Thursday, January 1, 2026
Home Blog Page 15391

Messi Bagus Lawan 10 Pemain

Dua gol Barcelona diciptakan dari kaki Pemain Sepak Bola Terbaik Dunia 2010 (FIFA Ballon d’Or), Lionel Messi yang membungkam puluhan ribu suporter Real Madrid di Stadion Santiago Bernabeu. Lalu, bagaimana tanggapan bintang Real Madrid Cristiano Ronaldo?

Seperti diduga, Ronaldo tetap saja menyindir Messi. Ya, meski mengakui kehebatan seorang Messi, namun Ronaldo tetap menganggap keunggulan jumlah pemain yang membuat Barcelona akhirnya menang. “Dengan 11 lawan 11, kami sama sekali tidak menderita dan semuanya terkendali.

Kami memang tidak bermain baik tapi semua terkendali. Lalu kami bermain dengan 10 pemain dan mereka kemudian mencetak dua gol. Kebetulan?,” ujar Ronaldo dilansir Tribal.

“Dia (Messi) sangat bagus, tapi melawan 10 pemain itu sangat mudah. Saya harap saya punya kesempatan untuk bermain melawan 10 pemain (Barcelona),” lanjut CR7.

Terlepas dari sindiran Ronaldo, Messi tetap saja banjir pujian. Pujian tersebut salah satunya dilontarkan dari pemain timnas Belanda yang kini merapat di tim Inggris, Liverpool, Dirk Kuyt. “Messi punya kelas yang berbeda, sungguh pemain yang luar biasa! Umpan yang bagus dari Afellay saat dia datang. Bermain brilian,” timpal Dirk Kuyt.
Selain itu, bek andalan Manchester United, Rio Ferdinand juga ikut serta menyanjung Pemain asal Argentina itu. “Messi menyelamatkan pertandingan itu dari dibahas dan dikenang dengan buruk (karena kartu merah dan berbagai insiden sepanjang laga, Red),” tambah Rio Ferdinand.(bbs/jpnn)

Mengawal Perubahan

Menjelang peringatan gerakan reformasi Mei yang akan datang, tentu ada banyak agenda yang akan dilakukan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, agenda diskusi dan kilas balik perjalanan reformasi adalah yang paling banyak dilakukan.

Terhitung sejak bulan Mei 1998, maka perjalanan reformasi sudah memasuki tahun yang ke-13. Bila mencermati lontaran pertanyaan peserta dalam diskusi tahun sebelumnya, maka pertanyaan yang sering muncul adalah, Sudahkah target reformasi tercapai? Inilah pertanyaan yang ditanya kepada saya dalam diskusi tersebut.

Menjawabnya mudah, sebab dari 6 visi reformasi, semuanya sedang dikerjakan. Mulai dari adili Soeharto (sudah disidang dan dinyatakan tidak bisa persidangan diteruskan mengingat faktornya daya ingat tidak memungkinkan lagi, apalagi sekarang sudah wafat), berantas KKN (sudah dibentuk KPK dan berbagi instrumen pencegahan korupsi, termasuk satgas anti mafia), hapuskan dwi fungsi ABRI (TNI Polri sudah tidak otomatis menjadi wakil rakyat di lembaga perwakilan rakyat), otonomi daerah (sudah terbentuk uu tentang pemerintahan daerah yang memberi sejumlah kewenangan kepada properti/kabupaten/kota yang dahulu dipegang pemerintah pusat), amandemen UUD 1945 (sudah dilakukan beberapa kali amandemen hingga Medinah struktur ketatanegaraan RI), dan yang terakhir turunkan harga sembako (inilah yang sulit dikendalikan Pemerintah pusat saat ini).

Intinya, semua tuntutan reformasi ternyata sudah dijalankan. Namun selalu saja, mengapa dalam diskusi tentang reformasi, para penggiat dan pemerhati politik selalu menyatakan bahwa reformasi telah gagal?

Inti reformasi

Bila kita telaah kembali kisah reformasi dahulu, dimana kebetulan penulis bersama mahasiswa lain acap kali melakukan aktivitas parlemen jalanan, maka ada agenda yang terlupakan dan tidak dapat disepakati oleh semua elemen kepentingan saat itu. Apakah itu? itulah ruh nya reformasi. Bagaikan manuasia, maka reformasi yang sedang berlangsung bagaikan pertukaran kulit belaka dan tidak ada perubahan ruhnya. Akhirnya banyak kalangan yang menyangsikan arah pergerakan reformasi, akankah akan memberi manfaat bagi masyarakat. Ruh reformasi yang dimaksud adalah nilai keimanan dan akhlak atau kepribadian. Unsur keimanan tidak menjadi agenda reformasi saat ini. Kroni dan gurita KKN sekarang semakin ditularkan ke semua lapisan. Akhirnya masyarakat yang “menonton” reformasi ini mengelus dada dan banyak yang kecewa. Oleh karenanya diperlukan agneda reformasi tambahan dan harus menjadi program kelembagaan bangsa yaitu perbaikan akhlak nasional. Pertanyaannya adalah, bagaimana teknis pelaksanaannya?

Mengawal reformasi

Jika sudah dipahami adanya agenda tambahan terhadap reformasi yaitu perbaikan akhlak secara nasional, maka saatnya mengawal reformasi tersebut. Untuk itu, cara termudah mencari inspirasinya yaitu dengan mencontoh gerakan yang telah dilakukan Rasulullah SAW dalam mengembangkan masyarakat plural di Kota Madinah, ribuan tahun yang lalu. Madinah adalah kota kecil, dibanding Indonesia, Jakarta bahkan Medan sekalipun. Namun pluralitas kota saat itu, yang terdiri dari beragam agama dan suku, dapat dijadikan landasan untuk memulai agenda reformasi atau perubahan. Karenanya ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan yaitu:

1. Secara struktural dilakukan pengokohan keimanan.
Para sahabat Rasulullah ditempa dan dibina keimanannya sehingga muncul keyakinan yang kuat tentang pengawasan dari Allah SWT. Pengawasan yang bersifat sturktural hanyalah elemen pendukung dan bukan yang utama. Kesadaran kolektif yang tercipta saat itu, akhirnya menciptakan orang dengan kualitas luar biasa seperti abu bakar atau Umar. Implementasinya saat ini, bisa dimulai dari para pejabat pemerintahan yang dipilih haruslah mereka yang amanah dan Istiqomah, serta secara sistematis diciptakan kurikulum pendidikan yang komprehensif guna mendukung keimanan. Akhirnya akan tercipta gerakan nasional dalam proses perbaikan akhlak.

2. Dipilihnya para pembuat keputusan hukum yang benar-benar bersih

Pada saat itu, Rasulullah selain sebagai panglima perang, juga menjadi hakim atas masalah yang timbul di masyarakat. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan saat ini, sebab kekuasaannya kehakiman sudah dibagi kepada lembaga judikatif. Sayangnya, banyak timbul keluhan dimasyarakat yang meragukan keputusan yang diambil pihak pengadilan, melalui hakim-hakimnya. Sehingga tak jarang, profesional hakim dianggap profesional yang “buruk” saat ini.

Padahal, keputusan hakim yang diambil dengan hati yang bersih, jujur dan tanpa amplop, ketukan hakim merupakan pondasi pembentuk moralitas masyarakat. Masyarakat yang merasa mendapat keadilan ketika naskahnya dibawa ke pengadilan, akan menyebarluaskan keadilan tersebut dimasyarakat. Demikian pula sebaliknya.

3. Petugas Pemerintah yang berdedikasi
Dimasa Rasulullah SAW, para petugas Pemerintah dipilih secara selektif. Para pengutip zakat adalah orang jujur dan amanah. Para petinggi militer dan penegak hukum, menjalankan peraturan dengan tegas dan konsisten. Akhirnya, hukum ditegakkan dengan baik serta nilai keadilan mengisi ruang keputusan yang diambil penegak hukum. Saat ini, proses rekruitmen pegawai Pemerintah samasekali tidak memperhatikan unsur akhlak. Bahkan yang menyedihkan, acap kali rekruitmen pegawai Pemerintah dibumbui dengan “nilai rupiah” dan keluarga tanpa memperhatikan unsur kualitas. Akhirnya, terciptalah sistem piramida keuangan, dimana masyarakat berada pada posisi paling bawah, atau yang selalu ditindas. Bagaimana mungkin akan tercipta masyarakat yang berkhlak jika situasinya sudah seperti ini? Untuk memperbaikinya maka rekruitmen pejabat Pemerintah, termasuk kepolisian, kejaksaan dan militer harus diperbaiki.

Dari kondisi yang telah digambarkannya, mungkinkah perbaikan itu akan terwujud? Akankah reformasi yang telah dilakukan membawa kebaikan bagi masyarakat? Jawabannya adalah mungkin dan bisa. Perubahan dan perbaikan itu dapat kita lakukan. Bukankah Allah sudah menjanjikannya, namun dengan satu persyaratan yaitu Tegakkan kebenaran walau dihadang dengan berbagai resiko. Firman Allah SWT, “katakanlah telah datang kebenaran dan lenyaplah kebathilan. Sesungguhnya kebathilan itu pasti akan binasa” QS AL Isra’ ayat 81. Lakukanlah sekarang juga, mulailah dari sisi kehidupan yang bisa dan Insyaallah kita akan melihat perubahan yang sesungguhnya.(*)

Oleh: Ikrimah hamidy
Wakil Ketua DPRD Medan

Bukan Warga tapi TNI AU Yang Harus Pindah

MEDAN-Sikap warga Sari Rejo yang menolak usulan Pemerintah Kota (Pemko) Medan didukung anggota Komisi A DPRD Medan. Usulan mencari lahan pengganti bagi warga Sari Rejo, dengan luas yang sama dinilai bukan usulan yang baik, melainkan usulan yang mundur ke belakang dari tuntutan warga.

“Sejauh ini belum ada perkembangan signifikan dalam penyelesaian persoalan ini. Itu berarti mundur dari penyelesaian. Karena yang dituntut warga adalah sertifikat, dan seharusnya inilah yang diperjuangkan oleh Pemko Medan,” tegas anggota Komisi A DPRD Medan, Aripay Tambunan kepada Sumut Pos, Kamis (28/4).

Tanggapan tersebut disambut baik oleh Ketua Forum Masyarakat Sari Rejo (Formas) Riwayat Pakpahan. Menurutnya, bukan masyarakat Sari Rejo yang harus pindah dari lahan tersebut, melainkan pihak TNI AU yang harus pindah dari Polonia. “Bukan kami yang harus pindah, tapi TNI AU yang harus pindah,” tegasnya.

Begitu pula pengakuan yang dikemukakan warga Sari Rejo kepada Sumut Pos yakni, H Sudarmaji. Dikatakan pria berusia 65 tahun ini, seharusnya TNI AU yang harus pindah karena, masyarakat sudah di situ sejak tahun 1948 dengan tentram dan damai.(ari)

Gatot Ajukan Hasiholan dan Nurdin

Tiga Kandidat Sekdaprov Terganjal di Tim Penilai Akhir

MEDAN-Tiga kandidat calon Sekretaris Daerah Provinsi Sumut (Sekdaprovsu) yang diusulkan Gubsu non aktif, Syamsul Arifin, terganjal di Tim Penilai Akhir (TPA) yang dipimpin Wapres Boediono. Ketiga kandidat sudah dibahas di TPA pada 8 April 2011, namun hingga kemarin TPA belum mengeluarkan keputusan siapa yang akhirnya dipilih.

Padahal, pembahasan calon Sekda Sumut bersamaan dengan calon sekda di tiga provinsi lainnya. Sementara, kemarin TPA sudah menetapkan nama sekda untuk ketiga provinsi, yakni Sekdaprov Sumatera Barat, Kalimantan Tengah dan Bengkulu. “Tadi (kemarin, Red) sudah ada pemberitahuan dari sekretaris kabinet, sudah keluar nama Sekda Sumbar, Kalteng, dan Bengkulu. Sumut belum,” ujar Kapuspen Kemendagri, Reydonnyzar Moenek kepada wartawan di kantornya, kemarin (28/4).

Ketiga calon sekda Sumut yang diusulkan Syamsul adalah Kadis Pendapatan Daerah Pemprovsu Syafaruddin, Kadis Pendidikan Pemprovsu Saiful Safri, dan Penjabat Bupati Madina, Aspan Sofyan Batubara. Doni, panggilan Reydonnyzar, mengakui memang proses pembahasan calon Sekda Sumut bersamaan dengan calon sekda di tiga provinsi tersebut. Hanya saja, dia tidak mau memberikan keterangan mengapa untuk calon Sekda Sumut belum keluar namanya.

Sementara itu, informasi yang diperoleh Sumut Pos, dalam persoalan ini sebenarnya pihak Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) hanya tinggal menunggu surat resmi dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu, Gatot Pujo Nugroho untuk mengganti ketiga nama calon Sekda Provsu tersebut yakni Nurdin Lubis dan Hasiholan Silaen. (sam/ari)

Kalian Memang Kejam…

Unjuk Rasa di Kantor PTPN IV Ricuh

MEDAN-Kantor PTPN IV di Jalan Suprapto didemo puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Simalungun (Gemasi). Mahasiswa menuntut perusahaan milik BUMN itu mengembalikan tanah seluas kurang lebih 60 hektar yang terletak di Desa Mariah Jambi Kabupaten Simalungun, Kamis (28/4).

Aksi berlangsung ricuh saat pengunjuk rasa mengoyang-goyang pagar kantor. Petugas Satpam yang berusaha menenangkan massa terlibat pertengkaran dengan massa. Buntutnya terjadi saling pukul. Pengunjukrasa kemudian membakar ban di depan pintu gerbang kantor, tapi dibalas satpam dengan menyemprotkan racun api kepada para pengunjuk rasa. Pegawai PTPN juga ikut menyiramkan racun api dan air hingga mengenai wartawan yang melakukan peliputan.

Pengunjuk rasa pun semakin nekat menerobos pagar yang dijaga ratusan satpam dan pegawai PTPN IV dan polisi. “Kalian telah melakukan pembodohan terhadap masyarakat, kalian juga telah merampas tanah masyarakat, kalian lebih kejam dari Jepang,” teriak Rajauli, seorang pengunjuk rasa.

Tak hanya itu, pengunjukrasa juga sempat beradu argumentasi dengan seorang wanita berpakaian hijau yang mengaku sebagai polisi. Wanita paruh baya ini meminta para pendemo tertib dan tenang tidak mengganggu kepentingan sarana umum, namun bukannya tertib pengunjuk rasa malah semakin geram karena wanita paruh baya yang berpakaian hijau ini gagal membawa Dirut PTPN IV untuk bertemu dengan pengunjuk rasa. “Kami tidak percaya lagi, kalian semua sama pembohong dan penipu,” teriak massa.

Setelah gagal masuk, pengunjuk rasa membubarkan diri  dan berjanji akan membawa 10.000 orang untuk melakukan aksi ulangan. Sekadar diketahui aksi itu bermula saat 60 hektar lahan milik petani yang berjumlah 61  KK dikuasai pihak perkebunan di Desa Mariah Jambi Kabupaten Simalungun dibuktikan dengan surat kepemilikan lahan yang masih berlaku. (mag-8)

Orangtua Anak Hilang Datangi Poldasu

MEDAN-Sebelas orang tua yang kehilangan anaknya, Kamis (28/4), mendatangi Polda Sumut. Mereka meminta Kapoldasu, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, untuk mengusut kasus yang sudah lama mengendap di Polda Sumut. Pasalnya, kasus itu sudah sejak lama mereka laporkan ke Poldasu, namun hingga kini tak jelas pengusutannya.

Para orang tua itu mengatakan, kasus itu mereka laporkan pada 5 April 2010. Dalam laporan itu mereka menyatakan, anak mereka pergi meninggalkan rumah dan tak kembali hingga kini. “Kami minta agar Kapoldasu membantu untuk mengusut kasus hilangnya anak kami untuk segera diungkap. Agar kedepannya kasus seperti ini tidak terulang lagi,” ujar Khudri Ahmad, perwakilan orang tua di ruangan Dir Binmas Poldasu, Kamis siang (28/4).

Berdasarkan data para orangtua, anak-anak yang hilang itu adalah Deyulanti (25), warga Jalan Salak S-12-17 Tanjung Gading, Batubara, Alumni D3 USU Medan dan Mahasiswi Semester 1 UMN Medan dan hilang sejak 26 Maret 2009, Nurhidayah (23), warga Jalan Pelita IV Gang Madrasah No 5 Medan, Alumni IAIN Medan, hilang sejak 24 Desember 2008. Kemudian, Mawaddah (23), warga Teluk Nibung, Tanjung Balai, Asahan, Alumni IAIN Medan dan hilang sejak 2 Januari 2009, Kiki Amalia (18), penduduk Jalan Datuk Kabu Gang Mushalah, Medan, pelajar SMU Negeri 10 Medan, hilang sejak 11 Agustus 2008, Gusti Khairani Simatupang (22) penduduk Jalan Garu IV Gang Ikhlas No 128 Medan, Mahasiswa UMSU Semester VIII, hilang sejak 25 Januari 2009. Selanjutnya, Dori Israwani Siregar (23), warga Perumnas Mandala Medan, Alumni Polmed, Medan dan hilang sejak 14 Oktober 2009, Harni Purnama Ningsih (23), warga Sei Sikambing, Medan, Alumni USU dan hilang sejak Maret 2009, Yuli Mayasari (24), warga Tanjung Mulia.(adl/jon)

Empat Rumah Disambar Petir

LABUHAN- Warga yang berada di Lingkungan IV, Gang Tanjung, Medan Deli terkejut. Pasalnya, empat rumah warga disambar petir, Kamis (28/4). Keempat rumah masing-masing milik Letti (37), Sri Wahyuni (36), Mando (50) dan Nilawati (28). Akibat perisitiwa itu, peralatan elektronik warga rusak.

Seorang warga, Andi (26) mengatakan, suara ledakan keras seperti bom datang tiba-tiba. Setelah dilihat ternyata petir menyambar rumah, pohon dan tiang jemuran. (mag-11)

Dua Bandar Togel Diringkus

MEDAN-Petugas dari Satuan Unit Vice Control (VC) Dit Reskrim Poldasu berhasil meringkus dua bandar judi jenis toto gelap (togel, red) di dua tempat terpisah, Kamis (28/4) sekitar pukul 16.00 WIB. Keterangan yang diperoleh, kedua tersangka bernama Asiong alias joni (38) Warga Jalan Ternak, Medan Polonia dan Simin Sony (50) Warga Jalan Danau Batur No. 47A Medan.

Saat dilakukan penggerebekan di rumah Asiong, polisi berhasil mengamankan barang bukti tiga buah HP, 3 buku tabungan, dua buah rekap togel dengan omzet per hari Rp10 juta. Kemudian, dari rumah Simin polisi berhasil menemukan barang bukti berupa 2 HP, dua lembar catatan omset togel dan uang senilai Rp2 juta. Bisnis haram tersebut sudah dilakoni pelaku selama delapan bulan. Selanjutnya tersangka bersama barang bukti diboyong ke Poldasu untuk proses lebih lanjut.

Kanit VC Poldasu Kompol Saptono saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya masih melakukan pengembangan dalam kasus tersebut untuk memburu bandar-bandar yang lainnya yang masuk dalam jaringan mereka. “ Tersangka masih diperiksa penyidik dan kasusnya akan kita kembangkan,” ujarnya. (adl)

Mou: Kenapa?

MADRID – Real Madrid harus menerima nasib yang nyaris sama dengan kontestan semifinal Liga Champions 2010-2011 lainnya, Schalke 04. Sama-sama harus takluk di kandang sendiri, juga dengan skor sama-sama menyolok 0-2, di mana kedua gol pun terjadi di paruh akhir babak kedua, serta sama-sama berat sebelah dalam hal ball possession. Well, mungkin, hanya ada beberapa perbedaan tipis saja.

Jika di laga Schalke v Manchester United, pencetak dua gol adalah Ryan Giggs dan Wayne Rooney, maka di laga kemarin (atau Kamis dinihari WIB) kedua gol diborong oleh bintang utama Barcelona, Lionel Messi. Yang pertama dicetak pada menit ke-74, hasil umpan crossing Ibrahim Afellay yang baru saja masuk, sementara gol kedua dicetak beberapa menit jelang bubaran dengan skill khasnya mendribbling bola beberapa meter memasuki kotak penalti.
Yang berbeda dari laga Schalke-United dan Real-Barca, yang pertama tentu saja adalah selisih kelas kedua tim yang saling berhadapan. Secara reputasi dan kekuatan di atas kertas, Schalke dengan United jelas beda, sementara Real dan Barca bisa disebut seimbang – tanpa perlu menyebut sebagai seteru abadi. Lalu, ada faktor kartu merah langsung (direct red card) terhadap gelandang Real, Pepe, dan pengusiran sang pelatih pada laga di Madrid semalam, sementara di Gelsenkirchen (kandang Schalke) tidak. Lantas perbedaan yang mungkin paling menyolok, komentar seusai laga.

Sehari sebelumnya, Schalke relatif bisa menerima kekalahan, setidaknya dengan kapten Manuel Neuer yang mengaku performa timnya memang tak sebaik di perempat final. Namun mereka juga tidak putus asa begitu saja, minimal lewat ungkapan pelatih Ralf Rangnick yang optimis menyebut segala sesuatu masih bisa terjadi di leg kedua (laga tandang) di mana mereka akan bermain tanpa beban. Sementara dari kubu Real, menerima kekalahan (dengan lapang dada) tampaknya tidak termasuk sesuatu yang mereka tunjukkan.

Adalah pelatih penuh kontroversi juga prestasi, Jose Mourinho, yang paling menunjukkan ketidakpuasannya terhadap laga itu, langsung dalam jumpa pers seusai laga. Bukan ketidakpuasan pada penampilan timnya, namun lebih pada kepemimpinan wasit dan official lainnya, serta lebih jauh, terhadap UEFA. Mou – sapaan Mourinho – bahkan mengungkapkan tudingan adanya konspirasi, terutama terkait perjalanan dan sukses Barca.
“Jika saya sebutkan (pada) UEFA apa yang benar-benar saya pikirkan dan rasakan (saat ini), karir saya akan berakhir sekarang,” ujar pelatih berjulukan The Special One itu, seusai pertandingan, seperti dikutip The New York Times, Kamis (28/4).

Pernyataan itu bukan berarti Mourinho akan bermain ‘rahasia-rahasiaan’. Malah sebaliknya, sejumlah kalimat bernada tudingan pun segera dibeberkannya di depan media. Antara lain yang intinya bahwa ada konspirasi selama ini antara Barcelona dengan UEFA. “Saya tak tahu apakah ini karena (sponsorship) dari Unicef yang mereka miliki, atau karena mereka adalah ‘orang-orang baik’. Saya tak mengerti. Selamat kepada Barcelona karena menjadi tim yang hebat, dan selamat atas ‘hal-hal lain’ yang mereka miliki,” ujarnya sarkastis.

Lebih jauh, Mourinho pun berkomentar soal faktor wasit yang ia sebut sebagai salah satu kebaikan UEFA pada Barcelona. “Saya hanya akan menanyakan satu pertanyaan yang saya harap suatu hari mendapatkan penjelasan: Kenapa? Kenapa Ovrebo? Kenapa Busacca? Kenapa De Bleeckere? Kenapa Stark? Kenapa?” ujar Mou lagi. (ito/jpnn)

Lima Kartu Kuning, Tiga Langsung Diusir

SETIAP laga El Clasico dilangsungkan, wasit dipaksa bekerja keras. Itu juga terjadi pada first leg semifinal Liga Champions antara Real Madrid bersus Barcelona, kemarin dini hari. Terjadi banyak insiden yang membuat wasit Wolfgang Stark harus mengeluarkan banyak kartu.

Ya, dua kartu merah langsung, lima kartu kuning, plus diusirnya Jose Mourinho dari bench pemain menunjukkan betapa panasnya tensi sepanjang laga kemarin dini hari. Sempat terjadi beberapa bentrokan yang melibatnya banyak anggota kedua tim.

Kartu merah pertama dijatuhkan kepada kiper cadangan Barca Jose Manuel Pinto. Dia menjadi penyebab pertengkaran sejumlah pemain sesaat setelah peluit tanda jeda pertandingan ditiup. Pinto sempat menampar wajah bek Real Alvaro Arbeloa.

Kemudian, disusul kartu merah langsung kepada Pepe setelah dinilai melanggar bek kanan Barca Danil Alves pada menit ke-61. Mourinho pun menyusul satu menit kemudian lantaran memprotes keras keputusan tersebut kepada ofisial keempat.

“Saya tidak mengerti, mengapa setiap tim yang bermain melawan mereka (Barcelona) di Liga Champions selalu berakhir dengan sepuluh pemain. Lihat saja Arsenal, Chelsea, dan lainnya,”ketus Cristiano Ronaldo, seperti dilansir Telegraph.

Dia menambahkan, bukannya mencari alasan, tapi dengan sepuluh orang di lapangan, situasinya lebih sulit. “Saya yakin kalau kami bermain dengan 11 orang, situasi dan hasilnya akan berbeda,” bilang mantan winger Manchester United itu.

Sindiran yang sama juga disampaikan striker Real Emmanuel Adebayor. “Kami selalu saja mendapat kartu merah melawan mereka. Sepak bola itu olahraga untuk lelaki. Tapi, kalau bermain melawan Barca, mereka baru disentuh sudah jatuh. Mereka terlalu cengeng,” kata Adebayor.
Dari kubu Barca, gelandang kreatif Xavi Hernandez menyatakan bahwa kartu merah untuk Pepe memang layak.  (ham/jpnn)