24 C
Medan
Thursday, January 1, 2026
Home Blog Page 15398

Mahasiswa UMSU Ikuti Lomba Debat Bahasa Inggris

MEDAN- Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) mengirimkan tim Debate Society (UDS) sebanyak 4 orang, Rabu (27/4) sore ke Jakarta untuk mengikuti event English Competition Asian Law School Association (ALSA) tingkat Nasional yang diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) mulai 28 April sampai 3 Mei 2011.

Anggota tim yang berangkat adalah, Ahmad Thanthawi, Muhammad Rafi’i, Selamat Husni Hsb dan Surya Juliandi Siregar. Keberangkatan mereka ke ajang lomba tersebut didampingi Mandra Saragih S.Pd selaku Pembimbing dan Hj Dewi Kesuma SS, MHum selaku Penanggung Jawab.

Demikian ditegaskan Humas UMSU Anwar Bakti kepada wartawan di Kampus Terpadu UMSU Jalan Kapten Mukhtar Basri Medan, Rabu siang usai tim beraudiensi dengan Plt Wakil Rektor III UMSU, HM Arifin Gultom SH, MHum di ruang kerjanya.

Rektor UMSU Drs Agussani MAP yang merupakan Pembina sekaligus Penasehat Tim UDS, terkait keberangkatan Tim ke Jakarta dalam rangka mengikuti event ALSA tingkat Nasional tersebut mengemukakan bahwa UMSU tetap berkomitmen memajukan prestasi mahasiswa bukan hanya di bidang akademik tetapi juga di bidang ekstrakurikuler maupun bidang olah raga.

“Selama ini sudah banyak prestasi yang diraih oleh mahasiswa UMSU, baik di bidang akademik, ekstrakurikuler dan khususnya bidang olah raga yang terukir tidak hanya untuk tingkat Sumut dan Nasional, bahkan hingga tingkat internasional. Semua itu tentunya tidak hanya merupakan kebanggaan bagi UMSU, tapi juga mengharumkan nama Provinsi Sumatera Utara dan Indonesia”, ujarAgussani.

Tercatat prestasi yang diraih tim UDS dalam lomba debat Bhs Inggris antara lain pada tahun 2009 meraih Juara II Lomba NUEDC (National University English Debate Championship) tingkat Kopertis Wilayah I Sumut-NAD dan menjadi delegasi UMSU dan Kopertis Wil. I Sumut-NAD ke event NUEDC tingkat Nasional di Surabaya. Pada tahun 2010 meraih Juara I Lomba IMM Unimed se-Kota Medan dan menjadi delegasi UMSU ke ajang Lomba English Competition ALSA UI 2010 serta Juara Harapan I Lomba NUEDC tingkat Kopertis Wil. I Sumut-NAD dan Juara Harapan I Lomba IMSI Fakultas Sastra USU se-Kota Medan.

Sedangkan pada tahun 2011 meraih Juara II Lomba Debat IMM Sport and Art Competition (IMMSAC) se-Kota Medan di UMSU, Juara Harapan I Lomba Debat IMMSAC se-Kota Medan di UMSU, Juara Harapan I Lomba SPEEDY (Social Politic Environment English Debate for Youth) FISIP USU se-Kota Medan serta Juara I Lomba NUEDC tingkat Kopertis Wil. I Sumut-NAD dan menjadi delegasi UMSU serta Kopertis Wil. I Sumut-NAD di NUEDC tingkat Nasional di Semarang. (ton/smg)

Peluang Kerja Bagi Alumni Terbuka Luas

SEIRING tingginya kebutuhan akan perawat profesional yang dibutuhkan Rumah Sakit Columbia Asia, maka Prof dr Sutomo Kasiman SpPD, SpJP  mendirikan Yayasan Gleni dan mengelola Akademi Perawat Columbia Asia Medan.
Akademi  yang didirikan tahun 2003 itu sebelumnya, merupakan peralihan nama dari Akademi Perawat Gleneagles Medan sesuai dengan nama Rumah Sakit Gleneagles Medan sebagai bagian dari Yayasan Gleni Medan.

Seiring berjalannya waktu, awal 2007 Rumah Sakit Gleneagles diambil alih Columbia Asia Health Services Group, sebuah perusahaan bertaraf Internasional dan bergerak di bidang perawatan dan kesehatan yang mempunyai 27 rumah sakit  yang tersebar di beberapa negara Asia seperti Malaysia, India, Vietnam dan Indonesia.

Hal ini tentunya akan membuka peluang yang lebih besar bagi Alumni Akademi Perawat Columbia Asia Medan untuk bekerja di seluruh rumah sakit di bawah naungan Columbia Asia Health Services Group baik yang berada di Indonesia maupun mancanegara.

Namun tak mudah untuk bisa menjadi seorang mahasiswa di  Akademi Perawat Columbia Asia Medan. Pasalnya dalam setiap tahun, sekolah yang berada di Kawasan Jalan H Abdul Manaf itu memaksimalkan calon peserta didiknya hanya 50 orang per tahunnya.

Ini disampaikan Direktur Akademi Perawat Columbia Asia Medan Rostime Hermayerni Simanullang MKes, saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.

“Langkah ini kita lakukan sesuai dengan kebutuhan perawat rumah sakit Sakit Columbia Asia, sehingga seluruh peserta didik yang mengikuti program pendidikan di Akademi Perawat Columbia Asia Medan memiliki jaminan bekerja pasca menamatkan gelar DIII di sekolah ini,” Sebut Rostime.

Masih menurut Rostime, selama delapan tahun berdirinya Akademi Keperawatan Columbia Asia Medan, sedikitnya 250 tamatan yang telah diwisuda dan mendapatkan gelar Diploma III.

Bahkan dari jumlah itu, 95 persen diantaranya telah terserap dalam perusahaan rumah sakit di bawah naungan Columbia Asia Health Services Group maupun beberapa rumah sakit yang tersebar di Indonesia.
Untuk staf pengajarnya sendiri Akademi Perawat Columbia Asia Medan, diajar dosen berpengalaman sesuai bidang dan profesi yang digelutinya.

“Beberapa dosen yang memberikan pendidikan terhadap siswa didik kami diantaranya lulusan USU, maupun dokter  dari beberapa rumah sakit swasta dan milik pemerintah. Sehingga para lulusan yang telah menamatkan pendidikan di Akademi Perawat Columbia Asia Medan merupakan siswa yang siap pakai dan profesional,” terang Rostime.(uma)

Pemain dan Fans PSMS Diserbu, Satu Kritis

JAKARTA-Seorang pendukung setia PSMS, Usman atau biasa dipanggil Tukul, warga Medan yang tergabung dalam kelompok PSMS Medan Fans Club Jakarta, menjadi korban keberulatan fans Persitara dan lemahnya keamanan Stadion Tugu. Akibatnya, Usman menderita luka sabetan benda tajam di sekujur leher hingga pipinya. Usman langsung dilarikan ke Rumah Sakit PBC Tugu Semper  Jakarta Utara dengan keadaan kritis. Di rumah sakit tersebut, Usman menjalani 27 jahitan

Menurut keterangan dari beberapa rekan korban, sebelumnya Usman telah mendapat serangan yang di antaranya seorang oknum panpel.

“Kami sangat kenal dengan oknum panpel tersebut, dan kami akan mengadukan kepihak yang berwajib atas kejadian ini,” Ujar Toni Nainggolan, pentolan fans PSMS Medan Club Jakarta.

Awal kejadian ketika Vagner Luis memukul pemain depan Persitara Singgih Nurcahyo saat pertandingan berlangsung. Akibat prilaku yang sangat disesalkan oleh kubu PSMS itu, Vagner Luis mendapat kartu merah dan diusir wasit Isham asal Palembang.

“Saya mengaku salah dengan aksi saya. Itu spontan karena saya juga merasa ditipu dengan aksi pemain Persitara yang pura-pura jatuh kesakitan, padahal saya tidak melakukan apa-apa,” terang Vagner kepada Sumut Pos, usai laga.
Anehnya saat Vagner harus meninggalkan lapangan, tak satupun petugas keamanan yang mengawalnya ke ruang ganti. Di perjalanan menuju kamar ganti, dia diserang pendukung Persitara dan juga oknum panpel. Maka itu Vagner jadi bulan-bulanan massa, beruntung dia tak menderita luka.

Penonton lainnya dari arah selatan menyerbu masuk ke lapangan hingga membuat pemain-pemain PSMS berhamburan menyelamatkan diri.

Mereka juga menyerang fans PSMS di ruang VIP dengan melempari benda-benda keras seperti batu sebesar kepalan tangan orang dewasa, hingga membuat fans PSMS bersama penonton lainnya berhamburan.
Menurut keterangan dari kubu Persitara, penonton dari oknum panpel tersebut marah karena melihat prilaku Luis Vagner yang mengacungkan jari tengahnya ke penonton.

Namun sekali lagi disayangkan baik oleh ofisial PSMS maupun suporter PSMS tidak terlihat petugas keamanan untuk berupaya menyelamatkan pemain PSMS dari amukan pendukung Persitara.

Dengan berlindung dibalik dinding batu yang terdapat di VIP, para penonton mencoba menyelamatkan diri dari lemparan-lemparan benda-benda keras. Sementara Luis sendiri diamankan oleh panpel lainnya dengan dibantu beberapa petugas yang segaja disiapkan oleh tim tamu.

Manajer PSMS, Idris mengaku sangat kecewa dengan kinerja panpel. Pihak PSMS juga berencana mengadukan kericuhan dan pemukulan kepada polisi. “Kami sangat kecewa dan mengutuk keras kinerja panpel. Kami tak menyangka akan berakhir begini, kami sudah terima kalah, tapi kami juga dihajar begini,” kata Idris. “Kasus ini harus diusut tuntas, jangan sampai terulang lagi,” tukasnya. (ful)

Kejar Jaringan Pepi, Polisi Sisir Aceh

Tanam Bom Sejak 2010, Lupa Posisinya

JAKARTA- Kelompok Pepi Fernando alias Romi diyakini sudah bergerak sejak awal 2010. Selama berbulan-bulan beroperasi, regu maut sudah memiliki jaringan hingga ke ujung barat Indonesia. Saat ini, tim penyidik Mabes Polri sedang berusaha mengurai jaringan otak bom buku dan bom di Serpong ini dengan menyisir kelompok ini mulai dari Jakarta hingga Naggroe Aceh Darussalam (NAD). Rumah tempat penangkapan Pepi, Hendi alias Joko, F di Aceh disisir untuk mencari kemungkinan adanya bom.

Menurut seorang warga Aceh, Bram, penyisiran di Aceh dilakukan di Jalan Taman Siswa, kawasan Merduati, Kota Banda Aceh, mulai pukul 16.00 WIB. “Mereka menyisir bom, sampai Jalan Taman Siswa ditutup,” kata Bram.
Pemantauan Bram, ada sekitar puluhan anggota kepolisian dari unsur Gegana, Densus 88 Antiteror, dan Samapta bergerak di sekitar rumah, sementara warga hanya bisa melihat dari jarak cukup jauh. “Kita belum lihat ada bomnya apa enggak,” ucapnya.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar mengamini adanya penggeledahan itu. Namun dia belum bisa memastikan barang apa saja yang diperoleh. “Penggeledahan saja, yang ditemukan apa, nanti ya infonya,” imbuh Boyn

Ide jahat kelompok Pepi Fernando ternyata sudah dirancang sejak setahun lalu. Bahkan, Pepi berencana meledakkan tol Cawang, Jakarta Timur. Mereka menanam bom sejak Agustus 2010 tapi gagal meledak hingga tadi malam.
“Sampai jam ini belum ketemu,” kata sumber Jawa Pos (grup Sumut Pos) tadi malam pukul 23.00 WIB. Dia ikut membawa Pepi Fernando ke lokasi penanaman bom di depan Kodam Jaya, Jakarta Timur. Jika sukses, bom itu diharapkan meledak saat iring-iringan pejabat negara yang sering lewat lokasi itu.

Pepi dibawa dengan diborgol dengan kaos ditutupkan ke mukanya. Dia dibawa dengan penjagaan super ketat. “Dia lupa,” katanya. Hal ini cukup mencemaskan karena menurut pengakuan Pepi, ada sekitar 10 rangkaian dengan daya ledak serupa dengan bom di Serpong. “Besok (hari ini) pagi-pagi akan kita lanjutkan penyisiran,” kata perwira ini.
Rangkaian bom untuk tol Cawang diletakkan di sekitar Kodam Jaya dan kantor Asuransi ABRI (Asabri). “Tadi, setelah proses pemeriksaan saudara Pepi, diperoleh info bahwa sekitar Agustus 2010, mereka pernah menempatkan paket bom di bawah flyover, depan UKI Cawang, berseberang dengan kantor ASABRI,” kata Kabagpenum Kombes Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri kemarin.

Pepi Fernando, mengaku lupa lantaran bom ditanam di bulan Ramadan 2010. “Dilaporkan sampai terakhir belum ditemukan bom tersebut. Setelah dilakukan penyisiran di lokasi, tim Jihandak dan bom belum ditemukan paket bom yang disampaikan dia,?katanya.

Saat diperiksa penyidik Selasa siang, Pepi mengaku pernah menanam paket bom berdaya ledak cukup besar di dalam tanah, di bawah flyover tol Cawang bersama Jokaw dan Maulana.

Saat ini tim penyidik Mabes Polri sedang berusaha mencari donaturnya. “Sementara ini, masih diduga patungan. Terutama yang paling besar dari Pepi. Tapi, kita sedang cari kalau ada pihak lain,” ujar Boy Rafli.
Bisnis Pepi di antaranya jasa percetakan, bisnis batu giok, dan rental mobil. “Kalau dari pengakuan sementara dananya dari sana,” katanya. Pepi juga pernah bekerja sebagai pembuat film dokumenter dan wartawan infotainment.

Sejumlah warga di sekitar kediaman mertua Pepi di perumahan Harapan Indah, Bekasi mengaku sering melihat tamu-tamu bermobil mewah masuk ke rumah Pepi. Namun, tamu itu tidak pernah keluar sebelum mobil masuk ke pelataran.

Sumber Jawa Pos (grup Sumut Pos) di kepolisian menjelaskan, untuk mengurai pendanaan kelompok Pepi cukup rumit.  Angka yang diperoleh berdasar pengakuan Pepi, sekitar Rp100 juta. “Ini agak susah, sebab tidak ada donator tunggal per proyek (bom). Tapi modelnya itu iuran,” katanya.

Beberapa tersangka yang ditangkap mengaku tidak tahu menahu dengan rencana pengeboman. Mereka membantu Pepi semata-mata karena Pepi adalah bosnya. “Tapi, bisa saja ini bohong,” katanya.
Dilihat dari  tingkat pendidikan para tersangka, rata-rata lulusan SMA. “Artinya, mereka terdidik dan paham apa yang dilakukan. Bukan karena ikut-ikutan,” tambahnya.

Selain mencari donator, polisi juga mengembangkan penyidikan ke tokoh-tokoh yang pernah ’mendidik’ Pepi dan mengubahnya menjadi radikal. Diantaranya, dengan menelusuri jejak buku-buku yang ditemukan di rumah mertua Pepi.

“Beberapa buku yang ditemukan di rumah mertua Pepi sudah disita dan sedang dianalisa,” kata Boy Rafli Amar. Buku-buku yang disita itu antara lain; Konsepsi Negara Demokrasi Indonesia, Sepak Terjang KW 9 Abu Toto Menyelewengkan NII Pasca Kartosoewiryo, Mega Proyek Kedua Alqaida, Prinsip Jihad Dr Abdullah Azzam, Penggetar Iman di Medan Jihad, 53 Tahun Aceh Merdeka di bawah Pemerintahan Ratu, Membina Angkatan Mujahidin dan Jihad dan Khas Kelompok yang Dijanjikan.

Judul buku ini adalah buku-buku yang menjadi bacaan Pepi. Dan bukan buku yang akan dijadikan bom buku. “Yang saya omongin ini buku betulan,” katanya. Sementara buku yang akan dijadikan bom buku dibuat oleh tersangka berinisial F. “Yang namanya F itu yang buat. Dia yang buat cover buku sebagai casing bom,” katanya.

Kader Tiga Perakit

Kualitas Pepi Fernando di bidang teror meneror memang masih baru. Tapi mengurai jaringan Pepi yang mampu belajar dengan cepat cara merangkai bom, dirasa sangat penting. Walau belum pernah sekalipun pergi ke medan “jihad” nyata, Pepi bisa menciptakan bom buku dan bom pipa.

Dari hasil pemeriksaan sementara, ada empat orang kader perakit kelompok Pepi. Yakni, Pepi, Jakow, Ferdian, dan Faisal. “Mereka bersama-sama merakit, semua belajar sendiri, pengakuan sementara seperti itu,” papar Boy Rafli lagi. Pepi , Jakow, dan Ferdian ditangkap bersamaan di Aceh, Kamis (21/4). Sementara Faisal ditangkap di Kramat Jati, Jakarta Timur, di hari yang sama.

“Mereka ini bisa menggunakan pipa dan korek gas. Itu ciri khas mereka,” kata mantan Kanit Negosiasi Densus 88 Mabes Polri ini. Berdasar pengakuan, mereka tidak pernah berguru pada instruktur. “Tapi, ini mirip dengan rangkaian bom JW Marriot (2009) hanya lebih sederhana. Karena itu kita selidiki ada kaitannya atau tidak,” tambah Boy.

Kemarin, warga Jakarta Timur kembali digemparkan dengan adanya penemuan dua paket mencurigakan, di tempat berbeda yang diduga sebagai bom. Masing-masing adalah satu paket dalam koper merk Polo warna hitam, ditemukan di depan gudang tripleks di Jalan Tanahkoja Dua, Jatinegara Kaum dan sebuah plastik ditemukan di Pintu Air Cililitan. Kasus tersebut ditangani Polsektro Pulogadung dan Kramatjati. Dugaan sementara, paket di Cililitan merupakan bom berdaya ledak rendah.

Informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, menyebutkan, paket pertama ditemukan oleh Muhammad Samsu, 44, pada pukul 17.15, seorang petugas kebersihan Kali Baru Cililitan. Saat sedang membersihkan sampah di pintu air, ia menemukan sebungkus plastik hitam yang di dalamnya terdapat kotak putih. Namun saat diambil terasa berat sehingga curiga.

Kemudian ia melaporkan penemuan benda tersebut pada rekan seprofesinya, Sutisna, 45. Oleh keduanya akhirnya bungkusan plastik hitam itu dipindah ke bantaran kali. “Saya pikir itu sampah biasa tapi kok setelah saya dekati sepertinya ada kotak, yang biasa digunakaan untuk menyimpan nasi anak-anak sekolah. Akhirnya dipindahkan oleh teman saya ke pinggir kali, dekat jembatan,” kata Muhammad Samsul, warga Kampung Bali, Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan.

Selanjutnya keduanya melaporkan penemuan benda tersebut ke Pospol Cililitan yang letaknya hanya berjarak sekitar 50 meter. Laporan tersebut dilanjutkan ke Gegana. Pada pukul 10.30 akhirnya tim Gegana tiba di lokasi kejadian dan langsung menyisir TKP. Kemudian melakukan pemeriksaan dengan metal detektor terhadap benda tersebut. Ternyata metal berbunyi, menunjukkan adanya benda logam dalam kotak tersebut. Agar proses pemeriksaan berjalan aman dan lancar maka Jl Dewi Sartika langsung diblokir sementara.

Benda tersebut akhirnya didisposal atau dicerai beraikan oleh tim Gegana pada pukul 11.45 dengan menggunakan peralatan canggih. Pelda M Safrudin, petugas Babinsa 1 Kelurahan Cililitan, mengatakan, dalam kotak berukuran 20×30 ini berisi empat unit batere, paralon ukuran 1 inc, potongan kabel warna merah dan hitam, jam pengatur waktu. “Penemu pertama adalah petugas kebersihan, yang biasa membersihkan sampah di pintu air Cililitan,” kata Pelda M Syafrudin.

Sedangkan Humas Polres Metro Jakarta Timur, Kompol Didik Haryadi, mengatakan, sebelum didisposal polisi melakukan sterilisasi lingkungan agar masyarakat aman. Garis polisi juga dipasang di sekitar lokasi kejadian. “Ternyata hasil pemeriksaan kami, tidak ditemukan adanya unsur peledak di dalam kotak tersebut. Jadi ini bukan paket bom,” kata Kompol Didik Haryadi.

Paket mencurigakan juga gemparkan warga RT 02/02 Jl Tanah Koja, Jatinegara Kaum, Pulogadung. Bentuknya adalah sebuah koper hitam merk Polo yang digeletakkan begitu saja di depan Gudang Tripleks. Penemu pertama adalah Ahmad Sailuh, 44, seorang tukang ojek di kawasan tersebut pada pukul 07.30. “Tadi pagi ada dua orang mengendarai motor Supra X. Namun tiba-tiba di depan gudang tripleks ini berhenti, dan langsung meletakkan koper hitam di depan gudang. Karena saya curiga maka langsung lapor ke Bimas kelurahan,” katanya.

Laporan tersebut ditindaklanjuti ke tim Gegana. Sehingga pada pukul” 09.30, langsung dilakukan penyisiran dan pemeriksaan di lokasi kejadian. Humas Polsektro Pulogadung, Iptu Abdul Chafid, mengatakan, koper tersebut tidak didisposal oleh tim Gegana, akan tetapi hanya diperiksa menggunakan metal detektor. “Setelah diperiksa dan dibuka ternyata isinya hanya buku agenda dan CD. Seluruh benda itu sudah kita amankan,” katanya.(bbs/rdl/kuh/iro/mos/jpnn)

Jaga Momentum

Real Madrid vs  Barcelona

MADRID-Bila jelang tiga el clasico sebelumnya Barcelona selalu dijagokan di bursa taruhan, maka situasinya akan berbeda pada bentrok keempat, dini hari nanti di first leg semifinal Liga Champions. Hasil dua laga terakhir bikin bimbang.

Ya, setelah kalah 0-5 pada bentrok pertama musim ini, Real kemudian mampu meraih imbang 1-1 pada bentrok kedua di Liga Primera Spanyol (16/4). Berselang empat hari, Real menang atas Barca 1-0 di final Copa del Rey (20/4).
Bila menilik pada hasil bentrok mereka, tampaknya grafik performa Real terus menanjak. Akankah terus menanjak pada el clasico keempat yang terjadi pada first leg semifinal Liga Champions di Santiago Bernabeu, dini hari nanti (siaran langsung RCTI pukul 01.45 WIB).

Apalagi, Real juga mampu menjaga euforia kemenangan di Copa del Rey dengan melibas Valencia 6-3 pada pekan ke-33 Liga Primera (23/4). Padahal Mourinho mengistirahatkan sebagian besar pemain utama Los Blancos, julukan Real.

“Kemenangan di Copa del Rey dan atas Valencia memberikan dampak psikologis yang luar biasa kepada para pemain. Kami harus memaksimalkan momentum itu,” bilang Zinedine Zidane, penasihat khusus Real, seperti dikutip Soccernet.

Hanya, yang menjadi masalah bagi entrenador Real Jose Mourinho adalah absennya Ricardo Carvalho yang terkena skorsing dan Sami Khedira yang menderita cedera otot paha. Keduanya selama ini menjadi andalan di lini belakang dan tengah.
Tanpa Carvalho, Sergio Ramos akan ditarik ke tengah menemani Raul Albiol, dan Alvaro Arbeloa kembali mengisi bek kanan. Kemudian di tengah, tanpa Khedira, Mourinho akan memainkan Lassana Diarra, menemani Xabi Alonso dan Pepe dalam skema 4-3-3.

Real dipastikan tetap memainkan gayanya seperti di final Copa del Rey. Lebih ketat melakukan pressing dan mengandalkan serangan balik cepat. “Satu hal yang pasti, pelatih tidak akan mengubah filosofinya,” kata Ramos, seperti dikutip AP.

Barca pun lebih waspada setelah rekor tak terkalahkan entrenador Barca Josep Guardiola di el clasico rontok. “Kami tidak bisa bicara soal siapa yang favorit. Ini laga yang berat. Tapi, tim kami sangat fenomenal,” bilang Andres Iniesta, gelandang Barca, seperti dilansir Reuters.

Apalagi mereka mengalami masalah di benteng pertahanan. Itu menyusul cederanya Maxwell dan Adriano. Padahal, Eric Abidal masih menjalani masa pemulihan paska operasi tumor liver. Jadi, tidak ada opsi di bek kiri.
Makanya, kemungkinan besar Carles Puyol yang baru saja pulih akan dimainkan di bek kiri. Kemudian, di jantung pertahanan Gerard Pique akan ditemani Javier Mascherano atau Sergio Busquets. Di kanan tetap menjadi milik Dani Alves.

“Secara fisik, kami sedang mengalami nasib buruk. Banyak pemain yang cedera,” bilang Iniesta. “Namun, kami tetap akan memainkan cara yang sama. Kami harus fokus, kuat di belakang dan tajam saat menyerang. Itu mental kami,” lanjut Iniesta.

Meski strategi yang diterapkan Guardiola tidak berjalan dengan baik pada final Copa del Rey lalu, tapi mereka tetap akan melakukan cara yang sama. Paling banter hanya perubahan komposisi pemain yang turun lapangan.
“Kami tidak berangkat ke Bernabeu dengan kondisi terbaik. Makanya kami harus menerima bahwa sekarang mereka (Real) lebih favorit. Mereka menujukkannya pekan lalu. Tapi, filosofi bermain tidak akan berubah,” kata Guardiola, seperti dikutip Soccernet. (ham/jpnn)

Cirus Diduga Jual Kebun Sawit Rp6 Miliar

DELI SERDANG-Cirus Sinaga SH belum berhenti memberi kejutan. Jaksa yang kini mendekam di tahanan Mabes Polri ini ditengarai memiliki banyak harta berupa property dan tanah ini sepertinya sedang butuh uang. Indikasinya, beredar kabar Cirus akan menjual kebun sawit miliknya seluas 33,2 hektar yang berada di Dusun Ujung Suka, Desa Renggit Git, Kecamatan STM Hulu. Sejumlah aparat desa setempat mengatakan, kebun tersebut akan dijual seharga Rp6 miliar. Namun sejauh ini belum diketahui apakah sudah laku atau belum.

Informasi akan dujualnya kebun sawit itu diketahui dari staf Kecamatan STM Hulu. Staf tersebut meminta wartawan koran ini untuk ikut mencarikan peminat kebun sawit tersebut. “Mungkin banyak warga Medan yang tertarik membelinya,” katanya beberapa hari lalu.

Dua Staf Kecamatan STM Hulu yang ditemui wartawan koran ini membenarkan informasi itu. “Ya, memang sedang ditawar-tawarkan, Pak Cirus mau jual kebun sawitnya. Kalau ada yang minat, bilang juga Pak, besar juga fee untuk kita,” ujar staf tersebut meminta namanya tak disebut.

Fee penjualan kebun itu memang menggiurkan. Bila kebun laku, perantara penjual kebun mendapat Rp100 juta.
Staf kecamatan yang lain mengatakan, dia mengetahui langsung rencana penjualan itu dari kerabat Cirus Sinaga. Menurutnya, sejak sebulan lalu kebun sawit itu sudah ditawarkan kepada peminat. “Sejauh ini belum ada yang berminat. Tapi kurasa bakal ada yang mau, karena saat ini sebenarnya sedang usia produktif,” tambah staff itu.
Kepala Desa Renggit Git, Kecamatan STM Hulu, Sabar Sembiring, membenarkan kebun sawit itu milik Cirus Sinaga. Namun, Sabar tidak mengetahui secara pasti soal pengelolan perkebunan sawit itu, soalnya setiap panen selalu ada pembelinya. Dia juga mengaku tak mengetahui kalau kebun itu bakal dijual.

Ketika ditanyakan rencana penjualan kebun sawit seharga Rp6 miliar itu kepada Triwono (52), pria yang ditugasi menjaga ladang sawit milik mantan Kepala Kejaksan Negeri Lubukpakam itu kaget dan langsung membantah. “Saya kurang mengetahui informasi itu,” katanya.

Kalaupun kebun sawit milik mantan Kepala Kejaksan Negeri Lubukpakam itu dijual, menurutnya harga Rp6 miliar terlalu mengada-ada. Soalnya, harga kebun sawit di sana masih dibawa harga Rp60 juta per hektar.

Saat wartawan koran mengunjungi kebun itu Selasa (26/4) kemarin, banyak yang berubah dibandingkan kunjungan terakhir, tahun lalu. Pantauan wartawan koran ini, kebun sawit tersebut kurang terawat. Sejak dibeli sekitar dua setengah tahun silam, tidak ada tindakan pemupukan rutin yang seharusnya rutin dilakukan sebulan sekali.  “Pemupukannya sekali setahun dilakukan,” bilang Triwono.

Di areal perkebunan, Cirus membangun rumah permanen dengan ukuran panjang sekitar 15 meter dan lebar 8 meter, bercat krem lengkap dengan fasilitas listrik dari PT PLN serta air bersih. Triwono mengatakan, kebun itu dibeli Cirus saat sudah berumur 14 tahun, saat produksi lagi banjir-banjirnya. “Dulunya ini kebun kopi milik warga Galang, lalu ditanam sawit dan dibeli oleh bapak (Cirus, Red),” katanya.

Pemilik pertama kebun sawit itu bernama Keneng, pengusaha asal Petumbukan Kecamatan Galang. Pertengahan 2009, Cirus Sinaga membeli kebun sawit yang telah berusia 14 tahun itu, dengan harga Rp2,8 miliar. Sebelum dibeli Cirus Sinaga, Triwono pernah ketemu dengan Cirus Sinaga di ladang sawit itu. “Saya tanyakan saat itu, mau kemana Pak? Lantas jawabnya mau jalan-jalan. Beberapa bulan kemudian kebun sawitnya sudah dibeli Pak Cirus,” cerita Triwono mengkisahkan awal pertama pertemuanya dengan Cirus Sinaga.

Menurut Triono, harga Rp2,8 miliar tersebut tergolong mahal untuk ukuran kebun sawit dengan luas 33,2 Ha. Padahal, sampai saat ini harga kebun sawit di sana sekitar Rp60 juta per hektar. Dengan harga Rp 2,8 miliar, berarti Cirus Sinaga membeli kebun itu, dengan harga Rp100 juta per ha. “Lahan kebun sawit yang ada disini, masih mengunakan surat dari Kecamatan,” katanya.

Bila benar akan dijual dengan harga Rp6 miliar, berarti kebun sawit itu berharga Rp180 juta per hektar.
Triwono mengungkapkan, saat ini kebun sawit milik Cirus Sinaga masuk masa terek, sehingga hanya mampu memproduksi 20 ton per dua pekan. Padahal, bila masuk masa produksi full, kebun itu mampu menghasilkan 34 ton per dua pekan. Triwono yang dipercaya mengurus kebun itu, mengatakan perhatian Cirus Sinaga terhadap kebun sawitnya kurang. Terlebih ketika Cirus Sinaga ditimpa masalah. “Pak Cirus kan sudah sibuk. Sering masuk televisi lagi,” ucap pria yang memiliki tubuh kurus itu dengan lugunya.

Untuk proses panen sawit, Triwono tidak mengetahui dengan pasti proses pembayaran Tandan Buah Segar (TBS). “Semua diurus ibu (istrinya Cirus Sinaga). Bahkan saat penimbangan buah saya gak tahu,” katanya. (btr)

Cepat Besar Ya, Biar Nanti Jadi Polisi

Gabriel Simanjuntak, Anak Korban Rampok CIMB Niaga Brigadir Manuel Simanjuntak

Gabriel Simanjuntak, bayi berusia 6 bulan, kini sedang lincah-lincahnya. Apa kabar anak sulung Brigadir Anumerta Manuel Simanjuntak yang gugur dalam peristiwa perampok Bank CIMB Niaga, 18 Agustus 2010 lalu itu?

Rudyansah, Medan

Rabu (27/4) kemarin, Pengadilan Negeri (PN) Medan kembali menyidangkan kasus perampok Bank CIMB Cabang Jalan Aksara Medan. Agenda sidang mendengarkan keterangan saksi dengan terdakwa seorang anggota kawanan rampok, Marwan alias Wak Geng alias Nano. Jaksa penuntut umum (JPU) Iwan Ginting menghadirkan saksi istri anggota Brimob Poldasu Brigadir Anumerta Manuel Simanjuntak, Fristi Marthaulina Hasibuan, dan pekerja harian lepas (PHL) Satuan Reskrim Polresta Medan unit identifikasi lapangan, Jonson Sibuea dan Staf Kecamatan Medan Tembung, Asmilan STP.

Mengenakan baju terusan motif bunga-bunga dan selendang coklat dengan corak senada plus celana panjang hitam, Fristi menggendong Gabriel Simanjuntak (6 bulan). Wanita 29 tahun itu didampingi kedua orangtuanya, Saut Satahi Hasibuan (58) dan istrinya.

Ketika namanya dipanggil untuk memberikan kesaksian, Gabriel Simanjuntak segera diserahkan kepadanya untuk digendong sang nenek. Duduk di kursi saksi di hadapan majelis hakim yang merenggut nyawa suami saksi. Setelah mendengar penjelasan itu, Fristi lebih tegar dan tidak menangis lagi saat menjawab pertanyaan Majelis Hakim.

Fristi sadar, peristiwa perampokan sering terjadi menjelang puasa dan lebaran. Hal itu diketahuinya dari cerita Manuel sendiri, beberapa hari sebelum kejadian. “Biasanya hari Jumat dan Rabu,” terang almarhum ketika itu, seperti ditirukan Fristi.

Dalam perbincangan mereka, Fristi mencoba menganalisa, kalau perampokan terjadi di hari Jumat, kemungkinan pelaku memanfaatkan momen Salat Jumat. “Lantas saya bilang kalau hari jumat karena orang Salat Jumat. Jadi kalau hari Rabu? Suami saya tidak menjawab,” ujar Fristi.

Rabu, 18 Agustus, Fristi yang kala itu sedang hamil 7 bulan, mendapat kabar Bank CIMB diserang perampok. Kabar itu diketahuinya sekira pukul 13.30 WIB dari Parlin Nainggolan, teman Manuel sesama anggota Brimobda yang  bertugas di Padangsidimpuan. “Suami saya terkena dua tembakan,” kata Fristi.

Ia tidak percaya suaminya yang baru dua hari berulang tahun ke-28 tersebut menjadi korban. Fristi mencoba mencari informasi dari teman suaminya yang lain tapi tidak ada yang tahu. “Tiba-tiba bang Parlin nelpon lagi mengabarkan jenazah suaminya sudah di Rumah Sakit Bhayangkara Medan,” katanya lagi.

Ibu muda ini juga mengatakan bahwa jenazah suaminya Brigadir Manuel Simanjuntak dibawa ke rumah mertuanya di Jalan Luku III Simpang Kuala Medan. “Suami saya tidak ada musuh pak hakim. Kalau dia (Manuel) tidak pernah mengeluh,” jelasnya dengan suara parau.

Sebelum dimakamkan, Kapoldasu Irjen Pol Oegroseno memimpin acara penyerahan jenazah Brigadir Anumerta Manuel Simanjuntak kepada Brimobdasu, Jumat (20/8) di rumah duka. Jenazah Manuel Simanjuntak kemudian dimakamkan di TPU Simalingkar B, sekitar pukul 16.00 WIB, diawali upacara kepolisian dipimpin Irup Kasat Brimob Poldasu Kombes Pol Drs Verdianto I Biticaca MHum. Pemakaman dihadiri Kapoltabes Medan Kombes Pol Imam Margono, para petinggi Polri di lingkungan Poldasu, tokoh masyarakat serta sejumlah tokoh politik Indonesia asal Sumatera Utara.

Selama Fristi memberikan kesaksian, Gabriel Simanjuntak tenang berada dalam dekapan opung borunya (neneknya). Sekali-kali Gabriel memainkan jari jemarinya di mulut. Bila digoda, Gabriel tertawa, berulang kali menyemburkan air liurnya. Menurut opung borunya, Gabriel saat ini sudah bisa telungkup.

“Cepat besar ya, biar nanti jadi polisi,” kata opung boru Gabriel Simanjuntak sembari meninabobokkan putra tunggal Brigadir anumerta Manuel Simanjuntak, yang sedang lasak-lasaknya.

Sedangkan kesaksian Johnson Sibuea, dia bertugas menangani identifikasi dan olah TKP (tempat kejadian perkara) perampokan Bank CIMB Niaga Bank 18 Agustus 2010 lalu. “Saya bersama komandan tim (katim) mengetahui adanya perampokan di Bank CIMB Niaga Jalan Aksara Medan, karena termonitor di radio HT (handy talky) milik kepolisian,” tegas Johnson.

Lantas ia dan beberapa temannya langsung balik arah dan langsung menuju TKP. “Situasi lokasi begitu berantakan. Dari hasil penyelidikan, kami tidak menemukan adanya sidik jari pelaku, untuk mengetahui pelaku maka kami mengamankan CCTV,” tegas Jonson.

Ketika hakim Erwin Malau menanyakan dari mana mendapatkan foto-foto pelaku, Jonson mengatakan, diberikan orang tak dikenal dalam bentuk flashdisk. “Malam itu, kami kembali lagi mendatangi TKP, tiba-tiba ada seorang pengendara sepeda motor memanggil saya dengan mengatakan ada info penting sembari menyerahkan flasdisk berisikan foto-foto pelaku perampokan. Dari info itulah pak hakim,” tegas Jonson.

Jonson juga mengatakan, hasil pra rekontruksi, penembak Manuel Simanjuntak adalah M Taufik dan Wak Geng alias Nano. Saksi juga mengatakan bahwa berdasarkan penyidikan dan data-data yang ditemukan, maka disimpulkan pelaku adalah orang-orang terlatih. (*)

Grogi Dilamar Ibas

Aliya Rajasa

Pendiri Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa kian tak terbantahkan. Selain berkoalisi di kabinet, Presiden dan Menko Perekonomian itu akan segera
menjadi besan.

Aliya Rajasa, putri Hatta Rajasa akan segera dipinang Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Aliya mengaku deg-degan menjelang acara pertunangannya, tadi malam Namun, Aliya mengaku sangat antusias.

Juru rias Aliya, Marlen Hariman, mengungkapkan hal itu saat akan meninggalkan kediaman Hatta di komplek Fatmawati Golf Mansion, Jalan RS Fatmawati, Jakarta Selatan, tadi malam. Menuru Marlen, Aliya terlihat cantik dengan balutan kebaya berawarna hijau.

“Tadi saya dandanin Mba Aliya, teman-temannya dan Ibu Hatta. Mba Aliya malam ini pakai kebaya biasa dengan atasan brokat warna hijau dan sanggulnya sanggul modern,” kata Marlen.

Menurut cerita Marlen, Aliya meminta agar diberi make up dengan paduan warna yang lembut. Sedangkan istri Hatta tidak didandani macam-macam karena mengenakan jilbab. “Eye shadownya coklat soft,” ujarnya.
Marlen menambahkan, Aliya tidak bertemu Ibas karena dipingit. Meski begitu, Aliya sangat antusias mengikuti acara tersebut.

“Karena ini pertama dia excited, dia juga grogi,” ucap bidan rias yang pernah mendandani artis Dian Sastro ini.
Ibas sendiri kata Marlen mengenakan batik hitam. Saat ini, sedang ada pengajian di dalam rumah itu. Marlen mengaku senang bisa mendandani putri seorang menteri. “Ya senanglah bisa dandanin Mba Aliya,” tandasnya. (bbs/net)

Syamsul Gemar Sewa Selebriti

Punya Tangan Kanan Khusus dan Koordinator Artis

JAKARTA-Publik di Sumut sudah mahfum jika Gubernur Sumut nonaktif Syamsul Arifin tak sungkan naik panggung dan ikut goyang di pentas musik. Ternyata, pria tambun yang kini mendekam di rutan Salemba Jakarta ini punya orang kepercayaan yang tugasnya memanggil artis.

Dalam sidang dugaan korupsi APBD Langkat di pengadilan tipikor, Senin (25/4), tangan kanan Syamsul yang bertugas khusus menyediakan artis itu dimintai keterangan sebagai saksi. Namanya Rizal Sinaga.

Ketua jaksa penuntut umum (JPU) Chaterina Girsang bertanya, apa benar saksi sering diperintahkan Syamsul menyewa artis? Rizal dengan cepat menjawab, “benar”.  Rizal mendapatkan upah Rp55 juta setiap kali usai memanggilkan artis sesuai perintah Syamsul. Upah itu langsung masuk ke rekening Rizal.

Dia juga tidak menyebutkan siapa saja artis yang pernah ditanggap Syamsul. Berdasarkan cacatan koran ini, setidaknya ada dua artis yang pernah berurusan dengan KPK terkait perkara Langkat ini, yakni artis kocak Dorce Gamalama dan pedangdut Fitria Elvie Sukaesih. Dorce malah sudah mengembalikan uang sawer Rp3 juta dari Syamsul ke penyidik KPK, karena diduga uang sawer itu bukan dari kantong pribadi, melainkan dari APBD Langkat.
Pengacara Syamsul, Samsul Huda, juga sempat mengajukan pertanyaan ke Rizal. “Apakah pemanggilan artis itu ada untuk acara syukuran seperti ulang tahun Kota?” tanya Samsul Huda. Rizal tegas menjawab, “Tidak ada.”

Rizal mengatakan, pemanggilan artis adalah untuk kepentingan pribadi Syamsul. “Yang pribadi-pribadi saja,” cetus Rizal, tanpa membeberkan lebih lanjut kalimatnya itu

Fitria Elvie Sukaesih sebenarnya juga dipanggil untuk memberikan kesaksian di persidangan Senin (25/4) lalu. Hanya saja, menurut suaminya, Syekh Bin Muhammad Al Hamid yang juga hadir sebagai saksi karena sudah lama berteman dengan Syamsul, Fitria tidak bisa memenuhi panggilan.

Dalam persidangan itu, Syekh Al Hamid sempat menyebutkan bahwa uang yang pernah diterima istrinya (Fitria Elvie Sukaesih) dari Syamsul, merupakan uang sebagai koordinator artis. Sebagian lagi honor untuk istrinya sebagai artis. “Itu artis dan untuk koordinator artis,” ulasnya, tanpa menyebutkan berapa nomimal uang yang pernah masuk ke kantong istrinya dari Syamsul.

Saat diberi kesempatan memberikan tanggapan atas keterangan saksi-saksi, yang jumlahnya 13 orang, Syamsul Arifin sama sekali tidak menyinggung mengenai masalah artis ini. (sam)

Sikap Anti Suap Tuai Dukungan

MEDAN-Sikap Pelaksana tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho yang tidak mau menerima pemberian berbentuk apapun, mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Sikap yang ditunjukkan orang nomor satu di Sumut tersebut diharapkan akan memberi warna baru birokrasi di Sumut. Di sisi lain, sikap ini pantas ditiru para kepala daerah di Sumut.

“Kita mengapresiasi sikap gubernur, dan ini menunjukkan niat untuk membenahi birokrasi kita,” ungkap analis politik asal Universitas Sumatera Utara (USU) Warjio SS MA kepada Sumut Pos, Selasa (26/4).
Sikap itu sedikit banyaknya akan mampu menepis paradigma Sumut sebagai salah satu provinsi terkorup di Indonesia. “Ini adalah awal, mudah-mudahan bisa terus berjalan,” terangnya.

Dukungan juga diungkapkan Wakil Ketua DPRD Sumut Chaidir Ritonga. “Kita gembira dengan sikap itu, guna mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih,” katanya. Sayangnya, Gatot yang berupaya untuk dikonfirmasi usai menerima kunjungan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kajatisu) dan jajarannya, di Lantai 9 Kantor Gubsu, enggan berkomentar. Gatot hanya tersenyum dan menepuk pundak wartawan koran ini.

Kedatangan rombongan kejatisu kemarin terkait rencana penyusunan nota kesepahaman atau Memorandum Of Understnading (MoU), dalam bidang pengawasan pengadaan barang dan jasa.

Hal itu, guna mensinergitaskan kerja Kejatisu dengan Pemprovsu dan penyelamatan asset dengan cara preventif. “Sinergitas bukan dalam arti kolusi. Dan penegakan hokum bukan untuk mencari popularitas, melainkan untuk penegakan hokum yang sebenar-benarnya,” ungkap Kajati, Abdul Karim Basuni Masyarif SH.

Dengan adanya MoU tersebut, diharapkan meminimalisir peluang terjadinya penyelewengan. “Administrasi yang amburadul, bisa dilacak oleh Asintel atau Aaspidsus. Jadi, kalau ada kecenderungan atau indikasi seperti ini bisa langsung diketahui oleh gubernur,” ungkap Abdul Karim.

Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho berharap kerjasama mampu memacu kinerja para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), khususnya pada proses pengadan barang dan jasa. “Dengan adanya kerjasama ini, pada proses pengadaan barang dan jasa bisa membuat SKPD tidak was-was. Karena berjalan dengan cara fair. Jadi SKPD bisa tidur nyenyak,” ungkapnya.(ari)