29 C
Medan
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 15476

Masyarakat Cuma Butuh Sertifikat…

Komisi A DPRD Sumut Kawal Tanah Sari Rejo

MEDAN- Persoalan sengketa tanah di kawasan Sari Rejo Kecamatan Medan Polonia yang tak kunjung selesai, mengusik nurani sejumlah anggota Komisi A DPRD Sumut.

Menurut mereka, pengalihan penyelesaian tanah seluas 260 Hektar dari TNI AU ke Pemerintah Kota (Pemko) Medan harusnya menjadi langkah awal penyelesaian tanah tersebut, agar tidak berlarut-larut lagi.

“Pengalihan itu adalah langkah yang baik. Nah, seharusnya ini menjadi langkah awal agar penyelesaian sengketa ini semakin cepat dan akhirnya apa yang diminta oleh masyarakat terhadap sertifikat bisa terealisasi,” ungkap anggota Komisi A DPRD Sumut Marasal Hutasoit kepada Sumut Pos, Rabu (30/3)

Lebih lanjut politisi Partai Damai Sejahtera (PDS) ini menyatakan, penanganan serius persoalan Sari Rejo ini bukan hanya Pemko Medan, tapi Pemko Medan juga harus sesegera mungkin menggandeng TNI AU, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Medan dan Sumut.

“Memang selama ini Pemko Medan tidak pernah serius menangani masalah ini. Buktinya, persoalan ini sampai sekarang tak terselesaikan. Apalagi, seharusnya Pemko Medan dan pihak terkait bisa melihat bahwa masyarakat Sari Rejo telah mengantongi payung hukum dengan adanya putusan Mahkamah Agung. Intinya, Komisi A DPRD Sumut akan terus mengawal persoalan ini, hingga masyarakat mendapatkan haknya,” tuntasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Sumut Hasbullah Hadi menyatakan, Pemko Medan jangan bermain api, jikalau pertemuan antara Tim Asset TNI AU dengan Pemko Medan adalah sebuah bentuk konspirasi. Artinya, hanya sebuah pengalihan tugas dalam melakukan penggusuran. Penggusuran yang seharusnya dilakukan TNI AU dialihkan ke Pemko Medan.

“Pemko Medan jangan bermain api. Jangan coba-coba berani-berani seperti itu, karena dampaknya akan menimbulkan konflik horizontal antara Pemko Medan dengan masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut politisi Partai Demokrat tersebut menuturkan, tanah yang ada di kawasan Polonia selama ini adalah bersertifikat hak pakai. Jadi, tanah masyarakat yang tidak ada sertifikat hak pakainya, seharusnya dikembalikan kepada masyarakat.

“Pemko Medan jangan bersikap kolonial. Kalau tanah masyarakat yang tidak ada sertifikat hak pakainya, maka kembalikan ke masyarakat. Pemko Medan juga harus paham, yang dituntut masyarakat itu hanya sertifikat hak tanah mereka. Dan itu memang hak mereka,” tandasnya.

Untuk memperjuangkan itu, baik Hasbullah Hadi dan Marasal Hutasoit tetap akan memperjuangkan hak warga Sari Rejo dan masyarakat lainnya yang berkaitan dengan sengketa tanah di kawasan Medan Polonia itu, hingga ada penyelesaian, dimana masyarakat bisa memiliki hak mereka.

Rencananya, 13 April mendatang, Komisi A DPRD Sumut akan memanggil Tim Asset TNI AU, BPN Medan dan Sumut serta Pemko Medan dan masyarakat untuk melaksanakan Rapat Dengan Pendapat (RDP) membahas persoalan ini.(ari)

Kalau Bersih Kenapa Risih

Pekan Depan, Mahasiswa USU Turun ke Jalan

MEDAN- Menyikapi terus bergulirnya persoalan dana hibah dari APBD Provinsi Sumatera Utara 2010 kepada USU, sejumlah elemen mahasiswa di USU siap melakukan aksi. Dan saat ini, tengah dalam tahap pematangan materi.
Kesiapan elemen mahasiswa yang terdiri dari Badan Koordiantor Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Sumut, Jaringan Aktifis Mahasiswa Sumut (Jamsu), Pemerintahan Mahasiswa USU dan sejumlah elemen mahasiswa lainnya ini tertuang dalam pertemuan yang digelar di pelataran parkir Perpustakaan USU, Senin (29/3) lalu, pukul 14.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Dari pertemuan selama tiga jam tersebut, para elemen mahasiswa USU tersebut menilai, persoalan ini sebenarnya mudah dan sangat sederhana. Artinya, semua pihak yang berkaitan harus berani buka-bukaan dengan keberadaan Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) 2010. Kemudian, dibandingkan dengan pengalokasian anggaran untuk USU. Jika terbukti sisa dana sebesar Rp9,7 miliar yang tidak diberikan kepada USU tersebut tidak termasuk Silpa, maka dugaan korupsi tersebut tidak dipungkiri lagi. Dan lagi, yang menjadi pertanyaan apakah dana hibah terhadap USU tersebut masuk dalam APBD 2010 atau di P APBD 2010.

Menurut elemen mahasiswa tersebut juga, jika memang tidak adanya penyelewengan, maka tidak ada alasan untuk takut melaksanakan gelar perkara. “Makanya, mari semua buka-bukaan. Gelar perkara, kenapa takut. Nah, kalau bersih kenapa risih,” tegas Ketua Badko HMI Sumut Syamsir Pohan yang didampingi Halomoan Harahap, Jaringan Aktifis Mahasiswa Sumut (Jamsu) Hajrul AS. Helova Gubernur Fakultas Pertanian USU, Sekretaris PEMA MIPA USU Mahdian Nasution Kepada Sumut Pos, Rabu (30/3).

Menanggapi informasi yang muncul, bahwa ternyata jumlah dana hibah sebesar Rp18,5 miliar tersebut sebenarnya telah cair secara keseluruhan, dan USU hanya mendapat Rp8,8 miliar, maka Syamsir dkk menyatakan, seluruh pihak terkait dalam praktik korupsi itu harus segera diperiksa.

“Praktik-praktik pemotongan dana bantuan Pemprovsu harus diberangus. Kami yakin banyak pihak yang terlibat. Masalah ini jangan dibiar-biarkan. Karena semakin menumpuk masalah di Sumut, semakin lama kita bangkit. Kisruh kepemimpinan di Sumut jangan ditambahi dengan polemik ini. Semakin runyam nanti,” ungkapnya.
Lebih lanjut Syamsir menambahkan,  para elemen memiliki rencana untuk melakukan aksi ke Kantor Gubsu pada pekan depan. “Belum tahu pasti aksi kapan akan dijalankan. Rencananya minggu depan,” tegasnya.(ari)

Hanas Jadi Sering Salat Tahajud

MEDAN- Mantan Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota (Pemko) Medan yang saat ini menjabat Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Kadispora) Medan Hanas Hasibuan, mengakui kalau dirinya telah dua kali menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan. Hal ini disampaikannya kepada wartawan Sumut Pos, usai menghadiri rapat Paripurna Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Wali Kota Medan 2010 di gedung DPRD Medan, Rabu (30/3).

“Iya, sudah dua kali diperiksa. Tapi lupa, tanggal berapa saja waktu itu,” akunya. Apakah dirinya sudah menerima surat pemanggilan lagi, guna menjalani pemeriksaan selanjutnya? Hanas mengaku belum menerimanya.

Menurutnya, jika nanti ada surat panggilan lagi dari Kejari Medan terkait
persoalan yang dihadapinya, dirinya selalu siap untuk hadir dan memberi keterangan kepada pihak Kejari Medan. “Sampai saat ini belum. Kalau nanti ada lagi pemanggilan, ya pastilah kita datang. Kita selalu kooperatif,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, Hanas juga menyatakan, sejak dirinya menjalani pemeriksaan di Kejari Medan, dirinya menjadi sering beribadah. Khusus, ibadah malam yakni, Salat Tahajjud. “Abang jadi sering Salat Tahajud sekarang. Ya, memang harus seperti ini mungkin jalannya. Abang pun nggak tahu apa salah abang,” keluhnya.(ari)

Sidang Vonis Ditunda

Hakim Pelajari Kasus Said Ikhsan

MEDAN- Terdakwa kasus narkoba, Said Ihsan harus lebih lama lagi menunggu vonisnya. Persidangan minggu lalu dengan agenda pembacaan vonis oleh majelis hakim ditunda. Kemarin, Rabu (30/3), sidang dengan agenda yang sama kembali ditunda dengan alasan majelis hakim masih mempelajari kasus tersebut.

“ Kami baru menangani kasus ini, dan kami harus mempelajari fakta-fakta persidangan sebelum menjatuhkan vonis. Untuk itu, sidang ditunda hingga 4 April 2011,” ujar ketua majelis hakim Erwin Mangatas Malau. Majelis hakim, sebelumnya yang memimpin persidangan tersebut yakni M Sabir, harus diganti menyusul tertangkapnya panitera Edi Suhaeri yang menangani perkara tersebut dengan tuduhan melakukan pemerasan terhadap keluarga terdakwa.

Kuasa hukum terdakwa, Andi Lumbangaol menyesalkan penundaan persidangan yang kedua kalinya ini. “Tapi guna kepentingan persidangan tidak apalah,” katanya. Diharapkannya, dalam menjatuhkan putusan vonis majelis hakim, harus memperhatikan fakta-fakta persidangan.

“Alasan pergantian majelis hakim saya tidak tahu persis. Cuma panitera yang lama tersangkut kasus pidana dan ditangkap Poldasu pada 25 Maret lalu,” katanya.

Pergantian tiga hakim tersebut merupakan realisasi dari janji ketua PN Medan Panusunan Harahap. Bahkan, Panusunan juga telah melakukan pemeriksaan terhadap tiga hakim yang lama yakni M Sabir, Johni Sitohang dan Muhammad.

Menurut panusunan, pergantian majelis hakim itu dilakukan setelah, Polda Sumut menangkap panitera pengganti PN Medan, Edi Suhaeri yang terlibat dalam pemerasan terhadap keluarga terdakwa. Bahkan pihaknya telah melakukan klarifikasi, dengan majelis hakim yang menangani perkara Said Ikhsan.

Dari hasil tersebut, ketiga hakim membantah terlibat dengan kasus pemerasan yang melibatkan panitera pengganti kasus ini. “Namun, akan tetap ada pemeriksaan lebih lanjut terhadap ketiga hakim tersebut. Selain itu, agar tidak menimbulkan polemik berkelanjutan, maka ketiga hakim ini diganti ke hakim yang lain, untuk menjaga independensi hakim,” ujarnya.(rud)

Gratis, Khusus bagi Anak Kurang Gizi

Taburia, Solusi Makanan Sehat untuk Balita

Kasus gizi buruk masih sering terjadi di Kota Medan. Sebagai solusinya, Kementerian Kesehatan membuat terobosan suplemen Taburia, yakni serbuk yang mengandung vitamin dan mineral yang cara pakainya tinggal ditaburkan ke atas makanan.

Bagus Syahputra, Medan

Kemarin (30/3), Departemen Kesehatan (Depkes) RI berkordinasi dengan Dinas kesehatan (Dinkes) Sumut menggelar pelatihan di Kantor PKBI Medan Jalan Multatuli. Pelatihan ini untuk mensosialisasikan program Taburia Depkes RI kepada tenaga medis, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda dengan difasilitasi Dinkes Medan.
Dalam kesempatan itu, Konsultan Depkes RI Poernomo yang hadir dalam kegiatan itu mengungkapkan, taburia, merupakan multivitamin bagi anak yang berbentuk bubuk dan multimineral guna memenuhi kebutuhan dan perkembangan anak seperti perkembangan sel otak, mata, tulang dan gigi. Di dalam bubuk ini terdapat 12 macam vitamin dan 4 macam mineral penting, yakni yodium, selenium, seng dan zat besi. Seluruhnya merupakan nutrisi pokok yang dibutuhkan dalam masa tumbuh kembang anak yang berusia antara 6-24 bulan.
“Di Jakarta, taburia ini sudah diuji coba selama dua tahun dan hasilnya memuaskan,” ujar Konsultan Depkes RI, Poernomo.

Disebutkannya, taburia ini dicampurkan dengan makanan yang dikonsumsi anak. Namun, jangan dicampurkan dengan makanan yang panas. Sebab, di dalam multivitamin taburia ini terdapat zat yang dapat rusak ketika terkena makanan panas. “Multivitamin ini dapat menambah nafsu makan anak dan untuk dampak dari pemberian multivitamin ini yakni selama mengonsumsi multivitamin, feses (kotoran) anak akan terjadi perubahan warna yang sedikit kehitaman. Tapi, ini tidak apa-apa karena dalam kandungan multivitamin itu juga terdapat zat seng,” jelasnya.
Untuk wilayah Sumatera Utara, hanya empat kabupaten/kota saja yang diberikan pelatihan seperti Mandailing Natal (Madina), Tapanuli Tengah (Tapteng), Dairi dan Medan. “Ini merupakan rangsangan awal kita dan nantinya untuk tahun berikutnya, seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota dapat menganggarkan ke APBD masing-masing daerah untuk kebutuhan masyarakatnya. Akhir April 2011, pemberian taburia terhadap anak sudah dapat berjalan,” tandasnya.
Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Kesehatan Dasar (Yankesdas) Dinkes Sumut, Mardohar Tambunan mengatakan, pemberian taburia ini dilakukan dengan cuma-cuma dan dikhususkan kepada anak kurang gizi. “Sasaran kita yakni anak berusia 6 bulan hingga 2 tahun,” sebutnya.

Mardohar juga menjelaskan, 67 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang tersebar di 21 Kecamatan di Kota Medan akan menjalani program ini yang juga termasuk program dari Nutrition Improvement through Community Empowerment (NICE). “Setiap anak per bulannya mendapatkan 15 bungkus dan dicampurkan dengan sarapan pagi,” ujarnya.

Pihaknya juga tengah mengajukan anggaran kepada Pemko Medan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya anak dalam memenuhi kebutuhan perkembangannya. Namun, dirinya tidak mengetahui berapa besarnya pengajuan anggaran untuk taburia ini.(*)

Eldin Kebagian Sampah

MEDAN- Rahudman Harahap berbagi tugas kepada Wakilnya Dzulmi Eldin. Rahudman memberikan tanggungjawab kepada Eldin untuk memonitor pencanangan Medan Bebas Sampah yang dimulai 1 April 2011.

“Mulai 1 April, Kota Medan harus bebas Sampah. Artinya, itu tidak hanya menjadi tanggungjawab Dinas Kebersihan Medan saja tapi semua masyarakat, kepling, lurah, camat, media dan wali kota. Termasuk wartawan yang bisa melaporkan langsung pada wali kota, di sana ada sampah yang tidak diangkut. Ini akan dimonitoring sama Pak Wakil (Eldin, Red),” kata Wali Kota Medan Rahudman Harahap kepada wartawan seusai Rapat Paripurna Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) 2010 Gedung DPRD Medan, Rabu (30/3).

Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan Kota Medan Pardamean yang dikonfirmasi hal tersebut di tempat yang sama menyatakan, pelaksanaan gerakan Medan Bebas Sampah akan berjalan mulai 1 April.

Segala persiapan termasuk armada pengangkut sampah seperti truk dan becak sampah serta bantuan ratusan unit armada pengangkut sampah dari BUMD dan BUMN di Medan sudah mulai diserahkan secara perlahan.

“Ratusan unit armada penangkut sampah yang diberikan BUMD dan BUMN kemarin itu sudah mulai terealisasi penuh. Pelan-pelan semua armada akan kita gunakan dengan penambahan SDM untuk Pekerja Harian Lepas (PHL) sebanyak 518 orang dengan gaji kita berikan sesuai UMR. Kita yakin akan terlaksana, sesuai pencanangan Pak Walikota itu,” ungkapnya. (ari)

BNI Buka Outlet di Pusat Pasar

MEDAN- BNI kembali memperluas jaringan dengan membuka  aoutlet di Pusat Pasar Medan, Senin  (28/3) lalu. Peresmian outlet ke-71 BNI Wilayah Medan ini dilakukan CEO BNI Wilayah Medan, Moh Adil beserta Camat Medan Kota Irfan Siregar dan Danramil Kapten Donald Panjaitan.

Moh Adil menegaskan, peresmian outlet baru ini untuk memenuhi kebutuhan dan melengkapi pelayanan kepada nasabah terutama yang berada di Pasar Pusat Medan.

Dijelaskannya, selama ini memang nasabah BNI di seputaran tersebut sudah mendapat pelayanan outlet BNI di Jalan Sutomo yang merupakan outlet weekend banking (buka juga pada hari Sabtu). Pada pembukaan outlet BNI Pusat Pasar  ini dibarengi dengan pemotongan tumpeng oleh CEO BNI Wilayah Medan Moh Adil. (ton/smg)

Realisasi PAD 2010 Cuma 96,90 Persen

MEDAN- Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Medan 2010 tak sampai 100 persen dari target yang direncanakan, yakni hanya Rp2,04 triliun atau 96,90 persen. Hal ini diungkapkan Wali Kota Medan Rahudman Harahap saat membacakan nota jawaban pengantar LKPJ 2010 pada rapat paripurna DPRD Medan, Rabu (30/3).

“Ruang lingkup maupun materi LKPJ akhir tahun anggaran 2010 ini, pada prinsipnya terbagi atas beberapa subtansi utama antara lain laporan kinerja pengelolaan keuangan daerah dan laporan capaian kinerja pelaksanaan tugas desentralisasi, tugas pembantuan dan tugas umum pemerintahan,” kata.

Lebih lanjut Rahudman menjelaskan, untuk bidang pengelolaan keuangan daerah, terdapat dua kelompok penting kinerja keuangan daerah yakni kinerja pendapatan daerah dan kinerja belanja daerah. Penyelenggaraan pemerintahan daerah selama 2010, khususnya bidang pengelolaan keuangan daerah dinilai cukup berhasil.

“Berdasarkan laporan keuangan, realisasi Pendapatan Daerah tahun 2010 mencapai sebesar 96,90 persen dari yang ditargetkan atau sebanyak Rp2,04 triliun. Realisasi tersebut bersumber dari PAD sebesar Rp555,5 miliar (27,28 persen), Dana Perimbangan sebesar Rp1,29 triliun (63,24 persen) dan lain-lain pendapatan yang sah sebesar Rp193,1 miliar (9,46 persen),” ungkapnya.(ari)

Toke Ikan dan Istri Tewas Diberondong 15 Peluru

Tiga Pelaku Perampokan Kabur, 4 Mobil Dibiarkan

MEDAN- Kapolda Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro sedang ‘ditantang’ pelaku tindak kriminal. Baru 6 hari melaksanakan serah terima jabatan kapolda dari Irjen Pol Oegroseno, sebuah teror terjadi pukul 21.30 WIB tadi malam. Sepasang suami istri pengusaha penangkapan ikan dan garam cap Golven, Suwito (36) dan Dora Halim (32), warga Jalan Akasia I No 50, Bambu III Kelurahan Kampung Durian Medan Timur, tewas ditembak orang tak dikenal di mobilnya, Chevrolet Captiva BK 333 TO. Sedangkan seorang baby sitter bernama Aini terkena tembakan di kaki. Sedangkan dua anak Suwito Christovin (2) dan Latresia (5) selamat.

Setelah menembak korban, pelaku langsung melarikan diri dengan sepeda motor, tanpa sempat masuk ke rumah berlantai tiga itu atau membawa barang berharga. Di lokasi kejadian ditemukan 25 selongsong peluru diduga dari senjata api jenis FN. Sementara mobil empat jenis mobil lainnya yakni, Mitshubishi Kuda BK 1338 FR, BMW B 333 WIE, Inova BK 333 TU dan Toyota Fortuner BK 333 WT, masih terparkir di garasi.

Tadi malam, seluruh korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Colombia Asia Jalan Listrik Medan.
Menurut informasi yang dikumpulkan dari lokasi, peristiwa itu terjadi di malam gerimis, hanya beberapa saat ketika pasangan suami istri, anak dan baby sitternya itu pulang makan malam di Plaza Medan Fair.

Sesampai di depan rumah, pembantu rumah tangga bernama Hana (40) membuka garasi, hendak diparkirkan dengan posisi mundur. “Di mobil ada lima orang, tuan dan nyonya beserta kedua anaknya dan baby sitter,” ungkap Hana di lokasi kejadian.

Wanita asal Kupang yang telah lima tahun bekerja di rumah keluarga Suwito itu menuturkan, saat mobil masuk dan ia hendak menutup garasi, tiba-tiba muncul sesosok orang tak dikenal. Sosok yang diduga pria itu memakai jaket hitam, celana jins hitam dan juga mengenakan helm warna hitam langsung menodongkan pistol ke arahnya. Seketika, Hana lari ke lantai dua rumah tersebut.

“Aku tidak sempat melihat pelakunya, aku saja terkejut saat itu sedang membuka pintu karena Pak Wito baru pulang,” ujar Hana.

Setelah itu, Hana tidak mengetahui kejadian selanjutnya di garasi. Tetapi dia mendengar suara letusan senjata api puluhan kali. Setelah letusan usai, Hana memberanikan diri turun kembali ke garasi. Melihat kedua majikannya terkapar tak bernyawa lagi, Hana meminta tolong kepada warga setempat. Barulah setelah itu, warga berkerumun di Tempat Kejadian Perkara.

Menurut tetangga Suwito, ada 3 orang yang duduk di atas dua sepeda motor dan seorang berdiri menembaki Suwito dan keluarganya. Sedangkan Amat (48), pedagang sate yang mangkal tak jauh dari lokasi kejadian, mengaku sempat melihat 2 pria mondar mandir di sana.

Saksi mata lain yang juga warga setempat, Diky Zulkarnaen, mengaku melihat pelaku menembaki mobil di garasi. “Pertama mendengar suara letusan, saya pikir suara kembang api. Karena kondisi hujan, saya pikir itu tidak mungkin. Makanya saya curiga dan mengecek langsung dari asal suara. Ternyata ada orang bersenjata api menembaki mobil di garasi,” tuturnya di tempat kejadian perkara (TKP).

Saat pelaku menghujani tembakan, mobil tersebut terlihat berupaya keluar garasi. Mungkin karena tidak sanggup lagi dihujani peluru, mobil tersebut menabrak pintu pintu garasi berwarna abu-abu.
“Tadi mungkin yang di dalam mobil mau berusaha keluar, tapi akhirnya menabrak pintu garasi. Setelah itu, para kawanan tersebut pergi meninggalkan rumah tersebut,” ungkapnya.

Bersama seorang penarik becak bermotor yang tengah berada tidak jauh dari lokasi kejadian, Diky sempat mengejar kawanan bersenjata api tersebut yang diduga berjumlah tiga orang tersebut. Menggunakan balok yang ada di dekat mereka, keduanya tersentak ketika seorang dari tiga pelaku menodongkan pistol. “Karena ditodong pistol kami akhirnya menghindar,” katanya lagi.

Tiga orang tak dikenal kemudian melarikan diri dengan sepeda motor. Satu jenia Jupiter MX, satunya lagi belum diketahui jenisnya.

“Ada dua kereta, satunya Jupiter MX warna hitam. Tapi saya tidak sempat lihat plat BK nya. Satu kereta lagi, saya nggak tahu merknya apa. Tapi yang pasti parkir di depan rumah itu,” lanjutnya.

Tak lama kemudian, polisi datang. Dari lokasi kejadian, polisi mengamankan 27 proyektil peluru yang dimuntahkan dari senpi. Menurut sumber di lapangan, pelaku menggunakan pistol jenis colt kaliber 5 mm dan 6 mm.
Dari pantaun Sumut Pos, selongsong peluru yang menembus kaca mobil bagian depan sebanyak 15 lubang. Di kaca bagian samping setir sebanyak lima lubang, kaca dibagian samping tepatnya dibelakang setir sebanyak dua lubang dan di kaca bagian sisi lainnya sebanyak 3 lubang.

Di garasi tersebut masih terdapat empat jenis mobil lainnya yakni, Mitshubishi Kuda BK 1338 FR, BMW B 333 WIE, Inova BK 333 TU dan Toyota Fortuner BK 333 WT.

Menurut para tetangga yang ditemui Sumut Pos dan enggan menyebutkan namanya, keluarga Suwito sangat tertutup. “Kami kurang kenal Bang, setahu kami pengusaha. Namanya pun nggak tahu. Karena nggak pernah bergaul,” ungkapnya.

Sedangkan menurut Aini saat ditemui di rumah sakit, itu dua orang pria masuk ke pagar dan menembaki kedua majikannya.

Kapolresta Medan Tagam Sinaga yang berada di lokasi kejadian menyatakan, sampai sejauh ini masih dalam penyelidikan. “Motif belum diketahui, karena barang-barang tidak ada yang hilang. Untuk proyektil peluru (dari senjata) jenis FN sebanyak 25 selongsong,” katanya.

Kejadian ini memunculkan keprihatinan banyak orang. Praktisi hukum Nuriyono SH menegaskan, peristiwa ini merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi Kapoldasu baru. Apalagi, selama ini peristiwa kejahatan yang menggunakan senjata api tidak pernah terungkap.

Polisi hanya sekadar publikasi atau kamuflase. Polisi sampai saat ini tidak pernah mengetahui kelompok mana yang eksis menggunakan senjata api, dalam aksi-aksi kejahatan yang terjadi,” tegasnya.
Sepengetahuan Nuriyono, sejauh ini memang tingkat kejahatan bisa diminimalisir. Tapi kualitas tindak kejahatan semakin meningkat seperti penggunaan senjata api. Dan inilah yang tidak terdseteksi oleh kepolisian.
“Kenyataan ini menandakan sumber daya mnusia (SDM) khususnya yang dimiliki (Polda) Sumatera Utara dan (Polresta) Medan bukan yang terbaik dan berkualitas. Ini menandakan polisi tidak mampu,” tandasnya.(ari/mag7/mag8)

Kronologis Kejadian Teror di Hujan Gerimis
Selasa, 29 Maret Pukul 21.30 WIB
Lokasi: Jalan Akasia I No 50, Bambu III Kelurahan Kampung Durian Medan Timur.

  • Rombongan Suwito tiba di kediamannya.
  • Mobil Chevrolet Captiva BK 333 TO hendak diparkir dengan posisi mundur
  • Pembantu bernama Hana membukakan pintu garasi
  • Muncul seseorang yang memakai jaket hitam bercelana jins hitam mengenakan helm warna hitam menodongkan pistol ke arah Hana. Hana lari ke lantai dua rumah tersebut.
  • Hana mendengar suara letusan senjata api puluhan kali.
  • Hanna kemudian turun ke garasi dan menemukan kedua majikannya terkapar tak bernyawa lagi lalu menjerit minta tolong.
  • Warga berkerumun di TKP
  • Diky Zulkarnaen bersama seorang penarik becak bermotor sempat mengejar kawan bersenjata api tersebut, karena ditodong pistol mereka lari menghindar.
  • Pelaku diduga 3 orang, mengendarai Jupiter MX warna hitam dan sepeda motor yang belum teridentifikasi jenisnya.
  • Kaca depan mobil Captiva tembus 15 lubang, kaca samping dekat sopir 5 lubang, kaca di jok baris kedua di belakang sopir 2 lubang dan 2 lubang di kaca di sisi lainnya
  • Ditemukan 25 selongsong peluru
  • Polisi menduga pelaku menggunakan senjata FN
  • Mobil di garasi Captiva Bk 333 TO, Mitshubishi Kuda BK 1338 FR, BMW B 333 WIE, Inova BK 333 TU dan Toyota Fortuner BK 333 WT.

Rektor USU Pilih Kabur

Saat Ditanya Kasus Alkes Rp38 M

MEDAN-Pihak USU melalui humasnya, Bisru Hafi, telah mengakui empat profesornya diperiksa Kejatisu terkait dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) Fakultas Kedokteran (FK) tahun 2010 senilai Rp38 miliar. Meski demikian, pihak lembaga pendidikan ternama itu masih belum bersedia memberikan penjelasan detail tentang kasus yang diduga melibatkan Prof SYP, Prof DDM, Prof GLN dan Prof CHY tersebut.

Rektor USU, Prof Syharil Pasaribu, berulang kali berusaha ditemui di kampus itu, selalu dihalangi pihak USU. Dihubungi via ponselnya, rektor mengarahkan untuk menemui pihak humas. Hingga tadi malam, saat ditemui wartawan koran ini di tempat praktiknya di RSU Columbia Asia (dulu RSU Glenni Hospital, Red), Jalan Listrik No 2A, ahli penyakit anak dan konsultan infeksi tropis ini berlari menghindar, mengambil langkah seribu. Padahal wartawan koran ini sudah memintanya dengan santun untuk memberikan klarifikasi.

Sebenarnya, upaya meminta klarifikasi dari Prof Syahril Pasaribu telah dilakukan sejak berita tentang kasus Alkes ini diturunkan, lima hari lalu. Namun yang bersangkutan tetap menolak, dan mengaku tidak mengetahui kasus tersebut. Upaya konfirmasi juga telah diupayakan melalui jalur resmi.

elalui humas USU, Bisru Hafi. Namun pejabat humas ini mengaku tidak mengetahui kasus tersebut. Setelah wartawan koran ini mendesak, pejabat humas ini tetap tak memberi akses konfirmasi kepada Prof Syahril.
Setelah beberapa kali didesak, Bisru malah mengarahkan kepada PR II, Prof Armansyah Ginting. Namun saat pertanyaan seputar dugaan korupsi Alkes FK USU yang kini ditangani Kejatisu, Armansyah mengaku tidak bisa menjawab. Dia beralasan sama sekali tidak mengetahui kasus tersebut, karena memang tidak terlibat dalam prosesnya.
Meski telah berkali-kali ditolak oleh Rektor USU, Selasa siang (29/3), wartawan koran ini tetap berupaya meminta penjelasan soal tentang kasus tersebut. Namun saat wartawan koran ini tiba di Biro Rektor, semua pejabat USU tak memberikan akses. Sekitar pukul 11.00 WIB, wartawan koran ini kemudian menelepon Prof Syahril. Namun jawaban yang diberikan tak sesuai harapan. Saat mengetahui inti pertanyaan, Syahril langsung memotong. “Kalau untuk itu, langsung tanyakan saja ke Humas USU ya…,” ujarnya dengan nada terburu-buru.

Tak puas sampai di situ, sekira pukul 17.50 WIB wartawan koran ini kemudian meluncur ke tempat praktiknya di RS Columbia Asia, Jalan Listrik. Informasi yang diterima wartawan koran ini, Prof Syahril berpraktik di rumah sakit ini mulai pukul 18.00 WIB-21.00 WIB. Malam sebelumnya (28/3), sebenarnya wartawan koran ini juga telah mendatangi rumah sakit ini. Namun keburu Syahril yang telah meninggalkan tempat praktiknya. Sekitar 30 menit atau pukul 18.20 WIB wartawan koran ini tiba di RS Columbia Asia.

Setelah bertanya kepada beberapa orang, ternyata Prof Syahril sedang melayani pasien di ruangan praktiknya di Lantai II Ruang 5. Wartawan koran inipun bisa masuk di ruangan yang berada di depan tempat praktiknya. Saat itu seorang petugas mengatakan, baru 13 pasien yang telah dilayani Prof Syahril. Beberapa pasien lainnya masih terlihat antre menunggu panggilan.

Tak ingin mengganggu aktivitasnya melayani pasien, wartawan koran inipun mengirimkan SMS yang isinya meminta izin wawancara terkait dugaan korupsi Alkes FK USU yang beberapa jam sebelumnya telah ditanyakan via telepon. Namun SMS tersebut hingga satu jam kemudian tak dibalasnya juga. Bahkan hingga selesai praktik, Prof Syahril tak juga membalasnya.  Wartawan koran ini yang hanya terpisah satu dinding, sempat melihat Prof Syahril sibuk melayani pasien dari celah pintu. Saat itu Prof Syahril mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda bergaris vertikal warna biru tua, celana keper hitam dan memakai sepatu kulit hitam.

Karena lama menunggu, sesekali wartawan berkeliling di lokasi praktik dan beberapa kali keluar-masuk toilet untuk buang air kecil, karena suhu di Lantai II rumah sakit tersebut memang sangat dingin. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya pukul 20.35 WIB, Prof Syahril selesai praktik. Saat keluar dari ruang praktik, Syahril langsung terburu-buru begitu melihat wartawan koran ini. Setengah berlari dia keluar menuju parkir mobil yang ada di halaman depan rumah sakit. Wartawan koran inipun ikut berlari, mengejar Prof Syahril yang berupaya kabur.

Saat berlari itu, wartawan koran ini menyampaikan maksud yang telah diutarakan via SMS sebelumnya. Dengan nada membentak, Prof Syahril mengatakan, “Tidak, tidak… tidak ada konfirmasi dari saya. Tadi siang kamu telepon, dan sudah saya bilang konfirmasi ke Humas USU saja,” tuturnya sambil menuju mobilnya. Setibanya di parkiran, saat itu hujan gerimis, Prof Syahril langsung masuk ke mobilnya jenis Honda Civic dengan plat polisi BK 110 SP, kemudian tancap gas meninggal wartawan koran ini. Saat itu wajah Prof Syahril terlihat sangat tegang.

Sementara itu, sebelumnya di kesempatan beda, Kabag Promosi, Humas dan Protokoler USU Bisru Hafi mengatakan, tidak benar adanya dugaan korupsi di tubuh USU mengenai pengadaan alat kesehatan di FK USU 2010 lalu. “Dalam hal ini, kami telah menelaah dan merasa tak melakukan penyimpangan,” katanya. Bisru juga mengatakan, dalam menghormati proses hukum yang sedang berjalan, yang telah dilakukan oleh pihak kejaksaan, pihak USU masih tetap mempertahankan mosi untuk menunggu perkembangan proses selanjutnya.

Sementara itu, mengenai adanya pihak internal USU yang mengadukan kasus ini ke media, Bisru juga mengatakan hal tersebut tidak benar. Karena menurutnya pihak rektorat telah menggelar rapat koordinasi untuk menanggapi hal tersebut. “Sejauh ini, hasil rapat koordinasi tersebut belum menemukan kebenaran tentang adanya keterlibatan pihak internal USU yang mengadukan kasus ini,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kajatisu, Sution Usman Adji juga mengakui pihaknya melakukan pengusutan dugaan korupsi pengadaan alat-alat kesehatan (alkes) di Fakultas Kedoktera (FK) USU, untuk anggaran tahun 2010 senilai Rp38 miliar. Namun kasus tersebut belum dilimpahkan intel ke bagian tindak pidana khusus (Pidsus) Kejatisu. “Tim sudah bekerja, namun kasus itu belum dinaikkan statusnya dari penyelidikan ke penyidikan. Saat ini tim intelejen sedang berusaha mencari bukti tentang adanya penyimpangan anggaran,” kata Kepala Sution Usman Adji kepada wartawan, Kamis (25/3).

Ketika disinggung adanya beberapa pejabat di USU yang sudah diperiksa, Sution Usman Adji tidak menampik. Namun Sution belum mau menjabarkan lebih lanjut, karena kasus tersebut masik lidik. “Kasus itu masih penyelidikan, jadi kita belum bisa jabarkan siapa saja yang diperiksa dalam perkara tersebut, baik pejabat yang berkepentingan ataupun perusahaan rekanan,” tegas Sution.

Sution juga mengatakan, bahwa kasus itu masih dipegang bagian intelejen, karena status penyelidikan belum dinaikkan. “Tidak ada kasus yang kita tutupi, kita akan buka dan tuntaskan semuanya. Namun tunggu dululah biar anggota saya bekerja semaksimal mungkin untuk membongkar kasus itu, kalau pun nanti sudah lengkap semuanya maka akan kita ekspos,” tegas Sution.

Sebelumnya, Kasi Penyidikan Pidsus Kejatisu, Jufri Nasution SH juga mengatakan, kasus dugaan korupsi Alkes FK USU itu masih tahap penyelidikan. Jufri juga mengatakan bahwa kasus ini belum sampai ke tangan pidsus. Dia mengaku, masih melakukan beberapa pemeriksaan materi, apakah ada terkait penyelewengan anggaran ataupun di mark up. Diduga, dalam proyek senilai Rp38 miliar itu, terdapat kerugian negara sebesar Rp8M-Rp10 M. (saz)