Home Blog Page 15531

Saya Bangga Sebagai Wanita

Tingginya persaingan hidup saat ini, membuat para wanita harus mampu bertahan. Seiiring dengan waktu, peran ibu bagi keluarga kini semakin kompleks, bahkan ibu harus menjadi kepala keluarga.

Begitulah pendapat Lidya Fayrus, pemilik perusahaan PT Data Kreasi Indotama yang bergerak dibidang IT, kontraktor dan telekomunikasi ini. “Di era yang semakin kompetitif, semua orang dituntut untuk mampu bertahan, termasuk para ibu. Kaum ibu bahkan harus mampu bertahan demi mempertahankan perekonomian keluarga” ujar wanita berdarah Arab ini.

Menurut istri dari Andrias SS Depari ini, mayoritas perempuan di Indonesia dinilai masih bergantung secara finansial kepada pasangan. Penyebabnya adalah, karena mereka menganggap peran perempuan hanya menjadi pengikut laki-laki. “Tantangan terbesar yang saat ini harus dihadapi kaum perempuan adalah persoalan ekonomi. Karena faktor ekonomi banyak perempuan yang tidak mendapat pekerjaan layak,” ujar ibu dua anak, Leonia (4 tahun) dan Diva (3 tahun) ini.

Menurutnya, perempuan berhak mandiri, mendapatkan kesempatan untuk berprestasi. Perempuan juga harus mandiri secara ekonomi. Namun, kemandirian perempuan ini semestinya juga diimbangi dengan keharmonisan di rumah tangga.

“Memang, perempuan dan laki-laki dalam rumah tangga perlu lebih bijak menyikapi kemandirian perempuan. Bagaimanapun dalam rumah tangga, hanya diperlukan satu nahkoda. Meski bukan berarti satu pihak tunduk kepada pihak lainnya, tanpa saling membebaskan dan memberikan dukungan mengembangkan potensi diri,” kata dia.
Namun, kata dia, terkadang keinginan perempuan untuk mandiri terhalang karena pemikiran patriarki (laki-laki mendominasi perempuan dalam keputusan) sehingga suami takut tersaingi dan merasa tidak nyaman. “Memang suami sebagai nahkoda rumah tangga. Dan perempuan atau istri, jangan sampai menjadi pesaing nahkoda dalam rumah tangga. Karena rumah tangga tidak boleh memiliki dua nahkoda, jika tidak menghendaki kapal rumah tangga tergelincir,” jelasnya.

Meski istri harus berprestasi, kata dia, harus tetap menghormati peran suami. Begitupula sebagai suami, hendaknya ia mendukung prestasi istri. “Laki-laki bukan justru merasa tidak nyaman dengan prestasi pasangannya. Karena perempuan berkualitas merupakan pilar keluarga berkualitas,” kata dia.

Untungnya, wanita yang hobi Bally Dancer dan travelling ini tak terhalang untuk menjadi ibu rumah tangga yang mandiri. Suaminya selalu mendukung untuk bisa mandiri. “Syukurnya, suamiku sepenuhnya mendukung. Jadi tidak ada masalah dengan pekerjaanku,” kata dia.

Sebagai ibu rumah tangga dan menjadi pengusaha wanita, Lidya pun tak mau lupa perannya sebagai ibu rumah tangga.  “Saya tetap meluangkan waktu untuk anak, terpenting bagi saya adalah kualitas pertemuan bersama anak, bukan banyaknya pertemuan. Buat apa kalau tiap detik bersama anak tapi kita tidak memberikan kualitas terbaik,” kata dia.

Sebagai seorang wirausahawati, seorang istri, juga seorang ibu bagi kedua anaknya, dengan segala aktifitas dan kesibukan yang melelahkan, Lidya mengaku tetap bangga menjadi seorang wanita. “Saya bangga menjadi wanita. Saya juga yakin wanita Indonesia adalah wanita yang tangguh dan mandiri,” serunya.
Ia juga berpesan, bukan saatnya lagi wanita hanya diam berpangku tangan di rumah. Wanita harus berkarya,  harus membawa pengaruh positif di dalam keluarga maupun di dalam lingkungan sosial. Intinya, wanita harus mandiri! (laila azizah)

Dari Trail ke Moge

AKP Achiruddin Hasibuan

Gairah Achiruddin Hasibuan menggeber sepeda motor belum berhenti. Berpetualang dari daerah ke daerah lain di Indonesia kerap ia lakukan dengan menunggangi berbagai jenis sepeda motor. Mulai jenis motor trail hingga motor gede (moge).

“Motor trail dan moge Harley Davidson ini selalu menjadi tunggangan saya untuk mengisi hari senggang,” aku pria berpangkat Ajun Komisari Polisi (AKP) yang sekarang menjabat sebagai Kasat Narkoba Polresta Binjai kepada wartawan koran ini, kemarin.

Kegemaran Achiruddin menunggangi motor-motor keren tersebut memang teruji. Empat  motor trail plus moge Harley Davidson parkir di dalam garasi rumahnya di Jalan Guru Sinumba/Karya Dalam No 168 Kelurahan Helvetia Timur, Medan.

Harley Davidsonnya itu terbungkus plastik dengan rapi, sedangkan satu trail berukuran besar tampak kokoh terpacak di sampingnya. Tiga trail lainnya yang ukuran lebih kecil berada tidak jauh dari moge itu.
“Tiga trail yang kecil ini punya anak saya, kalau yang Harley Davidson dan trail besar itu punya saya,” kata Achiruddin menunjukkan masing-masing trail yang terpacak di dalam garasi rumahnya tersebut.

Harley Davidson tersebut diakui Achiruddin dibelinya dari temannya. Jenisnya, Harley Davidson Electra Glide. Sedangkan trail-trail tersebut keseluruhannya bermerek Honda CRF 230. “Harley Davidson saya ini merupakan nomor satu, masalah harga tidak usahlah dikasih tahu. Untuk apa? yang penting saya punya,” bilangnya sambil tersenyum.

Menurut mantan Kanit Jahtanras Polresta Medan ini, kegemarannya dengan motor trail dan moge tersebut dilandasi kebersamaan. Ayah tiga anak ini memiliki jiwa petualang dengan menunggangi sepeda motor bersama teman-temannya.

“Saya memiliki jiwa petualang dan berkumpul dengan teman-teman sambil mengendari sepeda motor, makanya kami sering pergi dari daerah ke daerah lain di Sumatera Utara dengan motor ini. Dalam waktu dekat ini kami dari bikers Ikatan Motor Besar Indonesia (IMBI-red) Medan, touring keliling Indonesia,” urai pria berbadan atletis ini.
Sejak kapan kegemarannya ini? “Wah sejak saya remaja dulu,” akunya.

Hanya saja, lanjut Achiruddin. sebelum mengenal moge ia lebih dulu mengenal trail. Lama kelamaan ia penasaran dengan moge lalu membeli Harley Davidson. “Untuk trail biasa saya gunakan touring dengan melintasi alam bersama teman-teman, sedangkan moge untuk konvoi di jalan bersama teman-teman,” sambungnya.
Hanya saja bakat perwira polisi ini tidak sampai mengikuti kejuaraan, seperti motor cross. Cuma sekadar melepas hobi saja. “Saya cuma melepas hobi saja, kalau anak saya nomor satu, si Arya Abdul Razaq Hasibuan malah sudah banyak meraih tropi juara dengan mengikuti kejuaraan motor cross. Meski begitu saya tidak ingin dia jadi pembalap. Saya ingin dia sekolah setinggi-tingginya,” pungkasnya sambil menunjukkan anaknya yang berusia 12 tahun itu. (azw)

Sebuah Catatan

Aku akan naik shinkansen pagi ini menuju Bandara Internasional Narita, Tokyo, menjemput Naoto yang mendarat dari Timur Tengah.

Ia  bekerja di salah satu perusahaan swasta di sana, dan aku sebagai teman terdekatnya, berkeinginan bertemu meski pembicaraan kami hanya melalui telepon saja selama dua tahun ini.
Di ruang kedatangan itu, aku melambai-lambaikan tangan pada Naoto yang memakai syal merah muda dan sweater berwarna coklat. Ia buru-buru menarik tasnya dan memelukku tiba-tiba.
“O genki desuka?”

“Baik,” aku sedikit takjub dengan kesempatan ini.  “Waseda University libur seminggu ini,  jadi aku bisa menjemputmu.”

“Aku harap gelar mastermu cepat selesai. Kau bisa mengajar di sekolah. Hmm…  Dingin sekali, sudah lama aku tidak pulang.” Setengah tertawa, Naoto menaikkan penutup kepalanya. Ia tersenyum sumringah saat kuajak naik kereta api menuju Shibuya. Naoto merindukannya, bahkan ia sudah lupa cara menaiki kereta. Ia duduk juga di sampingku dan menceritakan bagaimana perjuangannya untuk pulang dan menghindari pertikaian yang terjadi di sana. Ia ingin bertemu Edo, anak lelaki satu-satunya.

“Aku ingin ke Odaiba bersama Edo, sudah lama sekali aku tidak ke sana.”
“Bersamaku? Kita bisa lihat barang baru di sana. Selalu saja ramai.”

Naoto tertawa lagi dan memukul lenganku tiba-tiba, ia selalu sama saat empat tahun lalu aku menemukan dirinya tengah tertawa melihat pertunjukan badut di daerah Shibuya. Kereta bergerak tanpa terasa, dan saat tiba di Stasiun Shibuya, Naoto sempat mengabadikan foto kami berdua di depan patung Hachiko, patung perlambang kesetiaan. Kemudian ia menarik lenganku ke gedung Tokyo Department Store, memilih sesuatu untuk dibawakan pada anaknya.
“Di sana sedang kacau, aku tak sempat membeli apapun.”

Aku menunggu saja dan setelah selesai, kami pulang berjalan kaki menuju rumahnya yang berjarak lima petak dari rumah Bibi Gin yang aku tempati. Salju tampak turun pelan-pelan dan kami akhirnya sampai  di depan rumah.
“Mama!!” Edo berteriak girang dan memeluk mamanya erat. “Aku rindu,” Edo membawa Naoto masuk dan menemui otoosan yang bernama Tuan Nagami. Akupun menyudut ke jendela, membiarkan Naoto melepas rindu pada anak dan ayah angkatnya. Dari jendela itu, aku mengamati salju yang turun ke badan jalan. Musim dingin datang lebih cepat dari perkiraan, untung saja aku bisa cuti kuliah seminggu ini dan mengurus toko kelontong bersama bibi Gin. Dari jendela itu pula, aku menangkap ekspresi wajah Naoto yang terpantul di kaca jendela, kulitnya kini tampak kuning kecoklatan. Aku rasa ada yang bergetar di dadaku saat ia menangkap pandanganku terhadapnya.
“Bara, kemarilah!” Naoto melepas penutup kepala hingga rambutnya yang halus kehitaman itu bercahaya. Aku terkesiap dan duduk mendekat. “Aku dan Edo akan ke Jakarta bersama.”
“Apa?!! Be… narkah?” dengan keterkejutanku, aku tidak bisa menahan gelisah.

Edo merangkulku dan meraih tanganku dengan manja. “Paman Bara ikut kami saja. Mama libur panjang.” Anak berumur enam tahun itu tampak yakin dengan apa yang ia katakan, sementara ayah angkat Naoto tak bisa ikut dan memilih tinggal bersama saudaranya. Aku jadi bingung sendiri.

“Kupikir kita bisa menghabiskan waktu bersama di sini. Bibi Gin lebih membutuhkanku untuk menjaga tokonya, sayang sekali.” Rasa kecewaku kupendam dalam-dalam. Seharusnya liburan ini aku bisa bersama Naoto dan Edo, namun setidaknya Naoto tak akan kembali ke Timur Tengah dalam jangka panjang. “Sebaiknya aku pulang.”
Naoto bangkit dan mengantarku  sampai ke pintu depan.

“Dua hari esok kau bisa mengantarku ke Odaiba? Mungkin sesudah itu aku baru akan pergi.” Naoto mengatakannya sambil tersenyum. Aku terkejut dan mengangguk perlahan dengan senyum yang  tak kalah tenang.
***
Naoto berseri-seri saat mukanya yang kuning kecoklatan itu melongok keluar pintu. Salju tidak terlalu tebal dan matahari kelihatan dengan lembut. Edo menepuk lenganku, hendak naik ke pundakku seperti biasa.
“Kita naik taksi saja ke Odaiba,” ujarku dengan anggukan persetujuan mereka. Naoto pun merangkul lenganku tiba-tiba. “Senangnya kalau bisa seperti ini terus. Apa kau tak berniat mencari kekasih, Bara? Kau sudah berkorban banyak untuk Edo.”

Mendengarnya bicara seperti itu membuatku diam saja. Rasa sayangku pada Edo tak bisa kusandarkan dengan rasa kagumku pada Naoto. Aku tersenyum sekilas dan berhenti di sebuah kedai dorayaki, menawarkan kue itu pada Naoto, tapi ia hanya menggeleng saja.

“Kau kelihatan cantik.” Entah apa yang membuatku berani mengucapkan kata itu. Naoto tersipu malu dan balik memeluk kepala Edo. Edo merasa jemari mamanya panas seketika.
Kemudian kami main game sebentar lalu Edo menarikku ke toko buku dan memintaku membelikan ia buku baru bergambar. Aku benar-benar terharu saat ia memelukku dan mengatakan kalau aku membuatnya nyaman.
Esoknya pun Naoto datang bersama Edo ke rumah Bibi Gin.  Bibi senang hati dan membuat mie ramen untuk mereka. Uniknya, Edo ingin aku yang menyuapi ia agar hal itu bisa ia kenang dalam hidupnya.
“Hajimemashou. Makanlah wanita yang cantik,” puji Bibi Gin.
“Hai, so shimashou. Ini pasti enak.”

Bibi Gin bercerita banyak dengan Naoto, namun sayang, esok Naoto dan Edo akan pergi jauh, kota di mana nenek Naoto berasal, juga tempat di mana ayah biologis Edo berada. Kota yang tak pernah kujamah, Jakarta.
“Gomen nasai, pria yang baik hati. Aku berharap bisa secepatnya kembali.”
“Ya, Paman. Besok Paman mau mengantar kami?” Edo memelukku erat. Aku tak menggeleng dan berupaya tersenyum juga. Maka, dua hari ini benar-benar membuatku seperti terpesona dengan kebersamaan kami yang kupikir bisa kuwujudkan dalam kenyataan sesungguhnya.

Setelah berpikir keras malam itu, akupun tak bisa tidur tenang. Rasa kehilangan mulai membayang di hati. Apakah Edo bakal mengingatnya lagi, apakah perlindunganku padanya selama tiga tahun ini terkikis begitu saja? Akh… aku takut membayangkan kenyataan yang tengah menghampiriku.
***
Tuan Nagami memintaku mengantarkan Naoto hingga ke bandara, setelah sebelumnya ia kuantarkan ke rumah saudaranya di bagian utara, ia yang tampak menua tak sanggup berdiri lama dan Edo sedikit terisak-isak melihat kakeknya dan aku. Aku menahan gelisah saat jadwal penerbangan sebentar lagi tiba.
“Jangan lupakan Paman.” Aku kembali memeluk anak lelaki itu.
“Kami pasti kembali, kau baik sekali pada Edo.”
“Paman…”

Perasaan seperti inilah yang membuatku tak nyaman, aku tak  akan mengantar bubur ke hadapan Edo, atau mendengar dengkurnya yang selalu riang, bergulat hingga siang dan mengantung boneka di sudut rumah. Tapi Naoto meyakinkanku sekiranya bisa menggunakan telepon atau internet untuk kami memberi informasi. Tentunya hal ini lebih menyakitkan bagiku daripada harus berhadapan dengan dosen di Waseda.
Akhirnya dengan perasaaan sedih, aku kembali naik kereta ke Shibuya, dan mencoba menepis pikiranku terhadap keduanya. Aku pernah dengar tentang Jakarta,  juga tentang ayah Edo yang kini menetap di sana. Jangan-jangan mereka menemui orang itu, dan membodohiku di sini. Ini benar-benar menguasai hariku.
Hingga esok pagi, aku kembali berdiri depan rumah Edo, menatap lama-lama jalan yang menurun ke rumah Bibi Gin, menatap halaman depan yang aku dan Edo pakai untuk berolahraga pagi, juga mengakali sesuatu agar tukang bubur mau memberikan gratis pada kami berdua. Aku tertawa, kenangan itu begitu indah.
Keesokan hari aku tak mendapat dering telepon.
Tiga hari kemudian juga nihil.

Aku rindu mie ramen, rindu memeluk wangi anak lelaki itu. Email-ku sudah tak terhitung lagi. Tak ada balasan. Hening. Dengan ragu-ragu aku berangkat ke rumah saudara Naoto di utara, meminta nomor telepon di Jakarta. Tapi Tuan Nagami tak memberiku nomor telepon, hanya alamat saja. Dan aku bingung bagaimana mencari kabarnya.
Sudah sepuluh hari, tetap sepi. Aku sudah tak tahan dengan kesepian ini. Kuliahku sudah berjalan seperti biasa, namun aku ragu karena pikiranku ini terasa buntu. Aku menemui Riska, kenalanku di Universitas Waseda, seorang wanita cantik yang suka dengan fotografi dan dunia tulisan. Ia berasal dari Jakarta dan tentu tahu bagaimana keadaan di sana. Ia kaget ketika kutemui di ruangannya, sungguh tak percaya karena dulu ia pernah menolak cintaku. Dulu sekali.

Tapi itu tak membantu, aku tetap tak bisa menghubungi Naoto dan Edo. Rumah Naoto kini sudah disegel karena katanya akan dilelang oleh kontraktor. Banyak hal yang mereka sembunyikan dariku, dari orang lain sepertiku. Aku lesu saat mataku menangkap siluet rumah itu dari atas tanjakan, semuanya tampak remang. Penantianku ini terasa sia-sia. Tiga tahun yang kulalui bersama Edo membuatku benar-benar berada dalam pusaran perasaan iba.  Kini ia dan ibunya meninggalkanku, meninggalkan diriku yang bukan siapa-siapa.

Bulan berikutnya, Riska datang tiba-tiba dan mengajakku pulang bersamanya ke Jakarta, seperti mendapatkan napas yang baru, aku kembali bersemangat dan memohon cuti dari kuliahku. Rasa penasaranku akan sirna  dan aku benar-benar mengharapkan mereka berdua kembali. Riska melarangku memakai tabungan untuk biaya transportasi ke Jakarta, ia sendiri yang akan membayarnya. Semua karena doa, ucapnya singkat.
“Kau begitu mencintai mereka?” tanya Riska
“Mungkin.”
“Jika ia kembali pada suaminya di sana bagaimana?”
“Setidaknya aku bisa tahu keadaan yang sebenarnya.”
Riska mengeluarkan buku catatan dari  tasnya dan terus saja mencatat apa yang aku katakan, apa yang aku rasakan.
***
Aku terus saja mencatat. Bara benar-benar ada di sampingku memintaku membawanya ke  Jakarta, di mana ada Naoto dan Edo di sana. Aku kalut, tiba-tiba saja aku cemburu padda Naoto dan Edo, pada perhatian dan ketulusan Bara yang mereka dapatkan. Aku masih berada dalam kereta api menuju ibu kota dan sejujurnya lembaran-lembaran kertas ini membuatku gila.

Aku memang hendak pulang ke Jakarta dan Bara memintaku agar mempertemukan mereka. Kertas-kertas yang ada di pangkuanku terasa menertawakan aku. Aku berusaha merubah semuanya dan menuliskan namaku di akhir cerita. Tapi Bara hanya ingin bertemu Naoto dan Edo, hingga buku catatan itu kubanting ke dalam tas.

Entah mengapa aku jadi tak berdaya. Sepanjang perjalanan yang rasanya bisa kuubah, cinta Bara pada mereka tak bisa sirna. Baru kali ini aku menulis seuatu yang bertentangan dengan nuraniku, menulis seuatu yang tak pernah jadi nyata. Bara menguasai pikiranku pelan-pelan dan  aku panik, membuka catatan itu kembali dan pena yang ada di tanganku kupaksa agar ia bergerak dan menuliskan Bara tak akan pernah menemukan Naoto dan Edo. Jakarta begitu panas baginya dan di pangkuanku ia pun menyerah.

Lamat-lamat aku benar-benar kehilangan jati diriku, kemampuan yang diagungkan orang lain dalam menulis sebuah kisah. Nyatanya aku mengalami hal ini juga. Aku kehilangan alur cerita, kehilangan Bara yang hadir sejak beberapa minggu lalu. Aku tergugu menyaksikan kertas dalam catatan  jatuh menyudahi  petualanganku, meski aku menyadari, namaku tak pernah tertulis di cerita itu.***

Cikie Wahab, belajar menulis di Sekolah Menulis Paragraf, Pekanbaru. Cerpen dan puisinya sudah dimuat di banyak media, baik Riau, Sumatera Barat, maupun Jakarta.

Seni Fotografi Kian Digemari

Fotografi

Akhir-akhir ini kita sering melihat fotografer dadakan di Kota Medan. Mulai dari pria dan wanita. Rata-rata usia mereka masih remaja. Kamera jenis SLR pun tak lepas dari gendongan bahu mereka.

Dengan gaya sebagai fotografer pemula, mereka mengabadikan moment yang dianggap bernilai seni tinggi. Kebanyakan dari mereka mengambil moment pada malam hari di kawasan Jalan Jendral Ahmad Yani (depan merdeka walk) yang banyak berdiri bangunan-bangunan tua.

Ini tak terlepas dari trend seni fotografi yang mulai membooming di Kota Medan saat ini. Ini juga dibuktikan menjamurnya berbagai komunitas pecinta foto, seperti Sendal Jepit, Penggila Foto dan PFI (Pewarta Foto Indonesia).

Untuk Kota Medan sendiri, kegiatan seni fotografi sudah mulai digemari sejak tahun 2005 yang lalu dan baru booming pada tahun 2008. Di tahun inilah banyak muncul beberapa komunitas fotografi, walaupun hanya beranggota sedikit. “Tahun 2008 belum banyak yang minat, tetapi saat ini sudah banyak sekali yang ikut ngumpul,” ujar Dudi, Pendiri Komunitas Foto Sendal Jepit.

Menurut Dudi, awalnya mereka menyukai kegiatan fotografi karena ikut-ikutan teman. Tapi, setelah didalami, maka secara naluriah kegiatan ini akan menjadi hobi yang menyenangkan bagi mereka.
Untuk objek fotografi, kata Dudi, biasanya dapat diketahui dari hasil foto yang diambil, baik manusia, alam ataupun benda mati. “Apabila seorang fotografer telah menemukan objek favoritnya untuk foto, maka hal ini akan didalami terus hingga sampai sang fotografer menggantungkan kamera,” bilangnya.

Saddam, salah satu anggota Sendal Jepit justru tidak memiliki kamera, tapi sangat menyukai seni fotografi. “Hingga saat ini saat belum memiliki kamera. Tapi untuk memuaskan rasa haus akan fotografi, saya biasanya menyewa kamera milik teman saya,” ujarnya.

Hilmi, salah satu pecinta fotografi ini mengaku, seni fotografi ditekuninya untuk kepuasaan batin. “Kalau aku untuk kepuasan batin, tetapi kalau alasan finansial aku rasa tidak semua sependapat begitu,” ujarnya.
Menurut Hilmi, untuk mendapatkan hasil foto yang baik tergantung media kamera yang dipakai, semakin mahal kameranya, maka akan semakin bagus hasilnya. Meskipun, teknik juga merupakan alasan mendapatkan hasil foto yang bagus.

“Ini merupakan rumusan yang paling sering digunakan. Dan inilah yang menjadi alasan kenapa fotografer selalu memilih kamera dengan teknologi pendukungnya,” kata dia.

Hilmi tak menampik karena seni fotografi bisa menghasilkan uang. Caranya, dengan rajin mengikuti perlombaan foto yang digelar perusahaan nasional maupun lokal. “Lumayan lho, hadiahnya jutaan. Jadi kalau dapat hadiah, uangnya bisa dimanfaatkan untuk beli lensa kamera yang lebih canggih lagi,” tuturnya.

Kalau Reza, anggota Event Organizer di Kota Medan ini mengaku, harga kamera yang mahal tidak menjadi masalah bagi para pecinta seni fotografi. Untuk harga body kamera SLR saja pada umumnya dapat mencapai Rp3 juta. Lain lagi dengan lensa dan aksesoris pendukung kamera.

“Jadi kalau dirata-ratakan untuk 1 kamera semi profesional dapat mencapai Rp6 jutaan. Namanya juga hobi, jadi harga kamera nggak masalah,” ujarnya. (mag-9)

Dikenal Sejak Tahun 1826

Fotografi berasal dari kata Photos yang berarti cahaya, dan Graphos yang berarti menulis atau melukis. Dengan kata lain pengertian dari fotografi adalah menulis atau melukis dengan menggunakan media.

Dari pengertian inilah kegiatan fotografi menjadi sebuah kegiatan seni, dan dimasukkan dalam bidang seni lukis. Hanya saja perbedaannya terletak pada media yang digunakan.

Bila seni lukis menggunakan kanvas, cat dan lainnya sebagai media, sedangkan dalam fotografi menjadikan kamera sebagai medianya. Seperti pada umumnya seni, bila ditekuni secara mendalam akan menghasilkan karya seni yang mahal.

Fotografi mulai dikenal sejak tahun 1826 oleh Louis jacquis, dimana dia membutuhkan waktu selama 8 jam untuk menghasilkan foto.

Setelah itu dikenal kamera Obcura yang digunakan untuk menggambar kemudian memotret. Untuk Indonesia sendiri, kamera mulai dikenalkan oleh Bangsa Belanda pada tahun 1841, dimana ketika pada tahun itu, pegawai kesehatan belanda, Juriaan Munich datang untuk mengabadikan alam Indonesia.

Tetapi, perkembangan fotografi yang “asli Indonesia” terjadi pada tahun 1945. Saat itu Frans dan Alex Menur mengabadikan moment penting Indonesia, salah satunya ketika detik-detik pembacaan proklamasi. Sedangkan Menur bersaudara tersebut bekerja di kantor berita jepang.

Untuk Indonesia sendiri, fotografi berkembang sesuai dengan perkembangan politik, semakin panas politik, maka semakin panas juga perkembangan fotografi. Di Indonesia sendiri untuk saat ini belum dapat menggantungkan hidup dalam fotografi, berbeda untuk negara di Amerika dan Eropa.

Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia yang beluam dapat menghargai seni sebagaimana mestinya. “Ya, masyarakat kita selalu melihat siapa fotografernya, bukan melihat bagaimana hasil fotonya,” ujar Dudi, Pendiri Komunitas Foto Sendal Jepit. (mag-9)

Dia Datang, Dia yang Dikenang

Ramadhan Batubara

Ruang redaksi Majalah Pandji Pustaka, suatu hari pada 1943, kedatangan seorang muda kurus pucat dan tidak terurus kelihatannya. Matanya merah, agak liar, tetapi selalu seperti berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti orang tak peduli. Ia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah tersebut.

Saat itu, sepertinya tak akan ada yang menduga kalau lelaki muda tersebut di kemudian hari menjadi sosok yang sangat berpengaruh. Apalagi, sajak yang dia bawa yang berjudul ‘Susunan Dunia Baru’ tidak ada harganya. Sajak-sajak individualis lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan prive (privacy) sang pengarang. Kiasan-kiasannya terlalu membarat.

Hm, cerita di atas disampaikan oleh HB Jassin, cerita yang sudah populer di kalangan pecinta sastra. Tentu ini tentang Chairil Anwar; bapak revolusi puisi Indonesia. Dari kutipan cerita di atas, ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Yakni, perhatikan usaha yang dilakukan oleh Chairil agar sajaknya bisa dibaca orang. Ya, dia datangi kantor majalah itu tanpa malu-malu. Ada sebuah kepercayaan diri yang kental dalam sosok ini. Seakan dia tak pernah merasa takut. Padahal dia tahu, di zaman itu, sajak semacam karyanya bukanlah pilihan media atau juga khalayak. Sajak yang berharga adalah sajak yang berima, berbait, mengandung sampiran dan isi, dan sebagainya. Intinya adalah sajak lama seperti dalam sejarah Sastra Indonesia. Tentu, sajaknya tak layak muat (bagaimana dengan sikap penyair dan calon penyair di zaman sekarang?).

Pertanyaan yang muncul dari kejadian tersebut adalah mental kuat yang dimiliki Chairil sejatinya berasal darimana? Apakah karena dia masih keluarga Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia? Hm, tampaknya terlalu picik melihat dari sisi itu walau sebenarnya bisa saja benar. Nah, setelah berusaha mencari tahu, dari beberapa literatur terungkaplah kenapa Chairil bisa memiliki mental semacam itu.

Begini, teman dekat Chairil Anwar semasa kecil, Sjamsulridwan, pernah menulis di majalah Mimbar Indonesia, edisi Maret-April 1966. Katanya, salah satu sikap Chairil yang menonjol sejak kecil adalah sifatnya yang pantang kalah. “Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap menyala-nyala, dan boleh dikatakan tidak pernah diam.”

Ya, Chairil dilahirkan di sini di Medan, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1922. Ayahnya, Toeloes, berasal dari Payakumbuh (Sumatera Barat). Dia menjadi Pamongpraja di Medan, dan pada zaman revolusi sempat menjadi bupati Indragiri, Karesidenan Riau. Sedang ibunya, Saleha, berasal dari Koto Gadang (Sumatera Barat) dan masih mempunyai pertalian keluarga dengan ayah Sutan Syahrir. Menurut Sjamsulridwan, meski cukup terpandang dan disegani masyarakat sekitarnya, kehidupan kedua orangtua Chairil senantiasa ribut. Mereka sama-sama galak, sama-sama keras hati, dan sama-sama tidak mau mengalah. Hanya dalam satu hal mereka sama: dua-duanya sangat memanjakan Chairil. Segala keinginan Chairil pasti dipenuhi termasuk mainan-mainan terbaru dan terbaik. Mereka pun selalu membenarkan sikap Chairil. Kalau ia berkelahi, ayahnya senantiasa membela.

Bahkan kalau perlu ikut berkelahi. Di luar rumah, Chairil tumbuh menjadi pemuda yang lincah dan penuh percaya diri. Di samping karena kedudukan ayahnya, otak yang tajam dan cerdas serta sifatnya yang terbuka, tidak mengenal takut atau malu-malu, membuat ia dikenal dan menjadi kesayangan banyak pihak, baik di kalangan guru maupun di antara teman-temannya.

Tampaknya latar belakang kehidupan Chairil tersebut bisa dijadikan pembentukan mentalnya. Nah, setelah sajak ‘Susunan Dunia Baru’ dianggap tak layak, apakah dia putus asa atau malah membabi buta marah pada redaksi Pandji Pustaka? Jawabnya tidak  (bagaimana dengan sikap penyair dan calon penyair di zaman sekarang?). Dia malah sering terlihat di kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso), yang didirikan Jepang tahun 1943 di Jakarta, dan diketuai sastrawan Armijn Pane. Di kalangan seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi. Gaya bersajak dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan membarat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe).
Setelah itu, siapa yang tak kenal Chairil Anwar?

Sayangnya, vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisik yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Begitulah Chairil, terlalu banyak yang bisa diceritakan tentang sosok ini, namun saya hanya ingin mengambil semangatnya saja. Setidaknya bagi saya, meskipun bukan berproses menjadi penyair ketika di Medan, dia adalah putera kelahiran Medan. Sayangnya, kenapa peringatan Hari Chairil Anwar yang jatuh pada 28 April tak hingar-bingar di tempat dia lahir? Ah, masih terekam di otak saya ketika masih di Yogyakarta beberapa tahun lalu. Setiap April, kampus dan lembaga kebudayaan lainnya seakan berebut untuk memanfaatkan momen itu. Fiuh.

Ah sudahlah, saya hentikan saja lantun ini. Saya ingin mencerna dengan benar beberapa kalimat yang ditulis Chairil di tahun kematiannya, 1949. Sajak yang berjudul ‘Yang Terampas dan Yang Putus’: Kelam dan angin lalu mempesiang diriku//Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin//Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu//Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin//Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang//Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang//Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku. (*)
28 April 2011

Daging Bisa Bikin Perasaan Tenang

Apakah akhir – akhir ini Anda mudah marah sepulang dari kantor? Bisa jadi disebabkan karena faktor beban kerja yang tinggi. Coba saja menyantap sepotong beefsteak. Bukan hanya rasanya gurih enak, tetapi daging ternyata juga membuat perasaan lebih tenang.

Mitos yang menyatakan makan daging merah membuat manusia bertindak agresif terbukti keliru. Pasalnya penelitian yang dipimpin oleh seorang psikolog bernama Frank Kachanoff menemukan bahwa daging merah memiliki efek menenangkan.

Makan daging merah banyak memberikan kandungan protein dan zat besi serta sejumlah nutrisi lain yang diperlukan oleh tubuh. Daging merah, merupakan sebutan untuk daging dari ternak seperti sapi, kerbau, domba, kambing, kuda, babi, dan lain-lain.

Seperti dilansir timesofindia, Kachanoff melibatkan sekitar 82 orang dalam penelitian ini. Ke-82 orang tersebut diharuskan untuk melihat berbagai gambar daging merah.

Setelah itu, mereka diberi pertanyaan mengenai perasaan mereka setelah melihat foto-foto daging merah tersebut.
Menurut penelitian ini, daging merah berkaitkan dengan menu makan malam keluarga. Partisipan ingat kehangatan keluarga di saat-saat menyantap daging merah bersama. Ini merupakan alasan mengapa daging merah memiliki efek menenangkan.

Temuan ini tentu saja bertolak belakang dengan mitos bahwa daging merah dapat membuat orang bertindak agresif.
Cobalah mulai sekarang menyajikan menu masakan dari daging dalam menu sehari-hari. Tidak hanya enak tapi juga bisa membuat perasaan santai dan tenang.

Kachanoff menambahkan, “Masuk akal jika daging merah memiliki efek menenangkan, karena sejak dulu nenek moyang selalu dikelilingi keluarga dan temana saat makan malam bermenu daging,’ ujar Kacahnoff dari McGill Unibversity seperti dikutip Daily Express.(net/jpnn)

Khas Sunda, Manis dan Pedas

Restoran Iga Bakeol Hideung

Bagi pencinta masakan daging sapi, bisa datang ke Restoran Iga Bakeol Hideung Jalan Thamrin No 88 Kota Tebing Tinggi. Restoran yang satu ini khusus menyajikanmenu masakan iga sapi bakar.

Masakan khas Sunda ini, memiliki ciri khas tersendiri, dimana daging sapi sengaja didatangkan dari Australia. Restoran yang buka setiap hari, mulai pukul 11.00-23.00 WIB ini juga menyajikan bumbu racikan yang didatangkan dari daerah Sunda, Jawa Barat. Dengan demikian masakan ini, memiliki ciri khas pedas dan manis.

Menejer Restoran Iga Bakeol Hideung, Samsuddin mengungkapan, iga sapi bakar ini adalah menu favorit di restorannya. “Kita tampil beda dengan yang lain. Di sini menu-menu yang disajikan semuanya bahan dasarnya daging sapi,” kata Samsuddin.

Selain iga sapi bakar, ada juga iga sapi kremes, oseng-oseng iga sapi, taucho iga sapi dan lada hitam iga sapi. Tapi yang paling favorit tetap iga sapi bakar .

Lantas bagaimana proses pembuatannya? Ditanya begitu Samsuddin menjawab, iga sapi bakar terlebih dahulu direbus hingga empat jam sampai rasa daging lunak dan lembut.

Kemudian daging ditiriskan agar kandungan air berkurang, selanjutnya iga sapi bakar dipanggang di atas bara api selama sepuluh menit dengan olesan bumbu racikan sepesial ala sunda.

“Untuk bumbunya rahasia, kita meraciknya sendiri dengan bumbu ala khas Sunda. Sementara untuk cita rasa kita tampilkan rasa pedas dan manis agar lidah pengunjung merasa nikmat,” bilangnya.

Biasanya iga sapi bakar ini disajikan dengan menggunakan sambal terasi, sambal kecap dan dihiasi dengan potongan mentimun, tomat serta daun seledri. Ada juga menu tambahan seperti tempa dan tahu goreng serta sepiring nasi putih hangat. “Bukan itu saja, pengunjung juga bisa memesan menu  lainnya seperti sea food serta aneka minuman berupa jus buah segar dan harganya pun tergolong standar untuk lapisan masyarakat menengah ke bawah,” jelas Samsuddin. Iga sapi  bakar ini dipatok dengan harga Rp20.000 per  porsi. Selain itu, menu ini juga bisa dipesan untuk merayakan ulang tahun atau acara keluarga lainnya, karena restoran ini menyediakan tempat untuk kapasitas 250 orang.

Rosminto salah seorang pengunjung, mengaku, hampir tiap Minggu datang ke restoran ini. Menurutnya, cita rasanya  cocok dengan lidahnya. (mag-3)

Perempuan Sukses Bukan karena Emansipasi

Dari Diskusi Peringatan Hari Kartini di Fakultas Ilmu Budaya USU

Emansipasi atau penyetaraan antara derajat wanita dengan laki-laki bukan lagi menjadi isu utama dalam setiap momentum peringatan hari Kartini yang jatuh pada 21 April setiap tahunnya.

INDRA JULI, Medan

Setidaknya hal itu yang coba dibangun Bidang Pemberdayaan Perempuan Himpunan Mahasiswa Islam (PP HMI) Komisariat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) lewat kegiatan peringatan Hari Kartini di taman FIB, Selasa (27/4). Dalam hal ini panitia dilakoni seluruhnya oleh mahasiswi yang mengenakan  kebaya sebagai simbol feminismen

Sebagai kaum hawa, panitia sukses memperlihatkan kreatifitasnya dalam merangkul Pemerintahan Mahasiswa (Pema) FIB USU, Generasi Muda Pencinta Alam FIB USU, dan Teater O USU, yang juga didukung Pemerintah Kota (Pemko) Medan dalam menggelar diskusi memperingati Pahlawan Emansipasi Wanita itu. Pemahaman akan perjuangan Raden Ajeng Kartini akan kesetaraan antara pria dan wanita di muka bumi.

Seperti yang dinyatakan Elvi Sumanti SS MHum, staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), bahwasanya Kartini masa kini dituntut untuk lebih banyak berbuat sesuai kodrat dan fitrahnya sebagai perempuan, istri atau sebagai ibu. Lebih jauh, mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya itu mengatakan, bahwa kesuksesan wanita bukan karena emansipasi yang di tunjukkannya, tetapi dari kinerja dan kerja kerasnya.

“Suksesnya seorang perempuan itu bukan karena emansipasi, tapi lebih karena kita kerja keras melebihi dari apa yang dikerjakan oleh sesama wanita lainnya bahkan lebih dari laki-laki tanpa menafikan kodrat dan tanggungjawabnya pada keluarga,” ucapnya.

Sementara itu, pengajar senior di FIB USU, DR Pujiati mengakui Kartini termasuk wanita hebat yang yang sejajar dengan perempuan perempuan pengubah dunia lainnya. Sehingga ia mendapat penghormatan dari Negara Keasatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai pahlawan nasional.

“Momentum luar biasa didapat bangsa Indonesia ketika Kartini lahir dan tumbuh, sebab disaat kita sedang dijajah bangsa asing yang notabene bangsa asing itu tak mengakui wanita juga harus mendapat tempat yang sejajar dengan pria dalam berbagai bidang, Kartini lahir dan memengaruhi pandangan wanita di Belanda akan dirinya dan kedudukannya dalam kelas sosial masyarakat,” ungkapnya.

Mantan Ketua Korps HMI-Wati Cabang Medan ini juga menyebut bahwa dalam Islam peranan wanita tidak hanya dijamin kemerdekaannya juga dimuliakan. Ia lalu mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan keberhasilan seorang pria tak lepas dari pendidikan yang ia terima dari ibunya. Lebih tegas ia mengungkapkan, dalam Al-quran tercatat di surat Annisa, Allah SWT telah menempatkan wanita sebagai makhluk yang sangat disayanginya.

Terkait kesuksesan wanita di masa kini, Puji mengajak peserta diskusi yang terdiri dari mahasiswa perempuan dari berbagai organisasi yang ada di USU itu untuk memiliki KSV, yaitu Knowledge, Skill, dan Value. “Kalau di Indonesiakan menjadi, memiliki ilmu pengetahuan, keahlian dan nilai tawar,” ucapnya.

Ketua panitia diskusi tersebut, Sophia Mastura mengakui saat ini apatisme terkait permasalahan lingkungan dan sekitarnya terutama persoalan politik dan sosial, memenjara sebagian besar mahasiswa perempuan yang ada di FIB USU. “Sehingga keterlibatan mereka dalam kegiatan kemahasiswaan sangat minim, maka dengan memperingati harti kartini ini kita ingin lebih jauh mengajak kawan-kawan mahasiswa cewek untuk lebih banyak berbuat,” ucapnya.

Diskusi dengan tema perempuan dalam bingkai kemerdekan ini juga di hadiri Pembantu dekan II FIB USU, Yudi Adrian M.Hum serta sejumlah aktivis mahasiswa perempuan USU (*)

Tertibkan PKL di Pajak Palapa

083199026xxx
Pak kapan pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Mayor pajak palapa ditertibkan, kami penghuni rumah mau masuk dan keluarin mobil saja mesti tiap hari ribut. Terimakasih

085260572xxx
Pak Pemko yang terhormat, tolong PKL palapa ditertibkan soalnya PKL pinggir Jalan Yos Sudarso masuk ke Jalan Mayor. Hal ini berakibat kemacetan.

Pemko Komitmen Menata PKL
Terimakasih informasinya, kami dari Pemko Medan memiliki komitmen untuk melakukan penataan di seluruh wilayah di Kota Medan. Termasuk untuk menata PKL di sejumlah titik di Kota Medan.

Bila ada kejadian pemilik rumah juga tak bisa masuk akibat terhalang PKL, tentunya hal ini tak boleh dibiarkan. Sudah seharusnya segera ditertibkan agar tidak terjadi keributan lainnya.

Penertiban yang kami maksudkan untuk dilakukan penataan yang lebih baik, rapi dan tidak mengganggu pemilik rumah tersebut.

Syaiful Bahri
Sekda Medan

Kami Bersihkan
Kami bersihkan segera, kemudian kami koordinasikan persoalan ini dengan Kasi Trantib Medan Barat. Sebab, setiap pedagang tidak dibenarkan berdagang dan menutupi rumah orang lain. Bila dalam dua hari ini tidak bersih, saya yang akan mimpin anggota untuk menata kawasan tersebut. Terimakasih.

Kriswan
Kepala Sat Pol PP Kota Medan

Tilang Sepeda Motor Knalpot Blong

085262722xxx
Kepada Yth Bapak Kapolresta Medan mohon diambil tindakan kepada pengendara sepeda motor yang memakai knalpot blong. Mereka sangat mengganggu warga yang lagi sholat berjemaah di Masjid pada waktu Mahgrib  dan Isya atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan. Terimakasih semoga harian Sumut Pos jaya

082166198xxx
Kepada Bapak Polri tolong ditertibkan kenderaan yang sengaja knalpotnya di racing-kan sama telah mengganggu lingkungan. Terimakasih

Kami Razia
Terimakasih, kami dari Sat Lantas Polresta Medan memiliki komitmen untuk menertibkan kendaraan yang tidak sesuai dengan aslinya dan tak memiliki dokumen. Kami rutin menggelar razia, kemudian kami ingatkan kepada para pemilik kendaraan untuk melengkapi kendaraannya sebagaimana mestinya.

Bila diketahui ada perubahan bentuk, seperti knalpot blong kami akan lakukan penertiban. Selanjutnya, kepada penjual accesoris agar tidak menjual produk tersebut.

Kompol I Made Ary Perdana
Kepala Sat Lantas Polresta Medan