27 C
Medan
Monday, January 12, 2026
Home Blog Page 165

Penrad Siagian Suarakan Ketimpangan Regulasi, Krisis ASN dan Gagalnya Layanan Publik di Paripurna DPD RI

JAKARTA, SUMUTPOS.CO — Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Sub Wilayah Barat I, Pdt Penrad Siagian, menyampaikan laporan hasil kegiatan reses masa sidang V tahun 2024–2025 dalam rapat paripurna DPD RI di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 24 Juni 2025.

Dalam laporannya, Penrad menyoroti berbagai persoalan krusial yang ditemui di daerah pemilihannya, khususnya di lingkup kerja Komite I, Komite III, dan Badan Urusan Legislasi Daerah (BULD). Diketahui, Sub Wilayah Barat I DPD RI mencakup beberapa provinsi di Sumatera bagian barat, seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Riau, dan Sumatra Selatan.

“Izinkan saya, menyampaikan catatan dan suara dari daerah-daerah yang telah kami kunjungi dalam masa reses ini. Laporan lengkap aspirasi masyarakat dan daerah telah disampaikan kepada Pimpinan Sidang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari laporan ini,” kata Penrad.

Penrad menyampaikan, pelaksanaan Undang-Undang Pemerintahan Daerah masih menyisakan banyak persoalan. Ia menyoroti terjadinya ketegangan antara kebijakan pusat dan daerah, terutama akibat sentralisasi perizinan melalui UU Cipta Kerja, lemahnya koordinasi alokasi sumber daya, serta tumpang tindih kewenangan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

“Aspirasi pemekaran wilayah seperti usulan Daerah Otonomi Baru (DOB) di daerah sudah masuk Prolegnas, namun belum mendapatkan tindak lanjut dari pemerintah pusat. Sementara itu, ketidaksesuaian kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota, khususnya di sektor pendidikan menengah, kehutanan, dan infrastruktur, terus memicu kebingungan dalam pelaksanaan program,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya perjuangan Dana Bagi Hasil (DBH) sektor perkebunan, terutama bagi provinsi Sumatra Utara. “DBH bagi daerah khusus sektor perkebunan harus menjadi perjuangan bersama agar hasil perkebunan memberi manfaat pembangunan bagi daerah, utamanya Sumatra Utara,” tuturnya.

Dalam bidang pelayanan publik, Penrad menilai banyak masyarakat yang memahami keberadaan Mall Pelayanan Publik (MPP). Di berbagai wilayah seperti Aceh dan Sumatra Selatan, pelayanan masih diwarnai ketidakhadiran instansi, SOP yang tidak seragam, dan sistem digital yang belum terintegrasi.

“Terkait UU ASN, sistem dan koordinasi pelaksanaan SIASN masih lemah. Honorer yang telah mengabdi lama merasa terpinggirkan dalam mekanisme PPPK. Sentralisasi pengangkatan pejabat justru mengebiri fleksibilitas daerah dalam membangun tim kerja yang sesuai kebutuhan lokal, begitu juga dengan regulasi terkait mutasi ASN,” ujar Penrad.

Ia juga mengkritisi keberadaan Permen PAN RB Nomor 6 Tahun 2024 yang menurutnya telah melampaui ketentuan PP Nomor 11 Tahun 2017 tentang manajemen PNS

“Ketimpangan distribusi ASN terutama di bidang pendidikan dan kesehatan di daerah terpencil seperti Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Bengkulu adalah bukti nyata lemahnya manajemen sumber daya manusia pemerintahan Indonesia,” ucapnya.

Dalam lingkup Komite III, Penrad menyoroti pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan. Ia menyebutkan bahwa konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) di kalangan remaja terus meningkat, memicu lonjakan obesitas dan diabetes.

Namun, lanjutnya, hingga kini belum ada regulasi yang mengatur iklan MBDK secara ketat. “Integrasi data kesehatan juga masih terbatas. Edukasi tentang kesehatan belum menjadi bagian utuh dalam kurikulum sekolah. Banyak sekolah di daerah bahkan tidak memiliki ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) layak, dispenser air minum, atau poster edukasi dasar,” jelasnya.

Ia juga menyoroti lemahnya koordinasi antara dinas pendidikan dan dinas kesehatan, yang menyebabkan program intervensi gizi dan pemeriksaan siswa tidak berjalan maksimal. “Begitu pula dengan penanganan TBC dan DBD, yang terkendala alat terbatas, deteksi lambat, dan masih rendahnya literasi kesehatan. Sehingga, program seperti pemeriksaan kesehatan siswa dan intervensi gizi sering tidak efektif,” katanya.

Di sektor pendidikan, kebijakan SPMB 2025 yang menggantikan PPDB dianggap belum menyentuh akar persoalan. Sekolah di daerah 3T masih menghadapi tantangan berat seperti ketiadaan listrik dan internet.

“Banyak sekolah terpaksa melakukan pendaftaran secara manual. Masalah redistribusi guru, kurangnya sekolah inklusif, dan pungli masih menjadi keluhan utama masyarakat,” tukasnya.

Lebih lanjut, Penrad mengingatkan bahwa isu ketahanan pangan tidak bisa lagi hanya menjadi jargon. Oleh sebab itu, sambungnya, ketahanan pangan masih menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan.

Ia menyampaikan bahwa fluktuasi harga komoditas seperti cabai dan bawang di Lampung dipicu oleh cuaca dan biaya logistik yang mahal, terlebih di wilayah pesisir dan pedalaman. “Sistem irigasi yang rusak di Sumatra Utara, serta minimnya infrastruktur transportasi dan logistik, membuat distribusi tidak efisien,” katanya.

“Program Makanan Bergizi pun belum memiliki landasan hukum daerah yang kuat. Kita butuh regulasi yang mendorong inovasi dan optimalisasi pangan lokal, seperti yang tengah diupayakan di Sumatra Selatan, agar ketahanan pangan tidak hanya menjadi slogan, tetapi kebijakan nyata dan berkelanjutan,” sambungnya.

Penrad pun menyampaikan tujuh rekomendasi strategis yang ditujukan kepada pemerintah pusat. Pertama, mendesak pemerintah pusat melakukan sinkronisasi regulasi nasional dan daerah, terutama terhadap Undang-Undang Pemda dan regulasi turunannya, termasuk regulasi Ketahanan Pangan dan program Makan Bergizi guna mendorong inovasi dan optimalisasi pangan lokal.

Kedua, melakukan evaluasi dan pengkajian ulang terkait Dana Bagi Hasil pusat dan daerah yang mengedepankan kepentingan daerah sesuai amanat UU Otonomi Daerah, sehingga daerah tidak hanya menjadi objek eksploitasi SDA bagi pemerintah pusat.

Ketiga, menuntut evaluasi menyeluruh sistem PPPK dan distribusi ASN, termasuk afirmasi bagi honorer berpengalaman dan sistem rotasi ke daerah 3T.

Keempat, menghapus Permen PAN RB No. 6 Tahun 2024 tentang Pengadaan Pegawai ASN Pasal 59 yang menyisakan persoalan-persoalan kemanusiaan bagi PNS kita.

Kelima, memperkuat integrasi pelayanan publik berbasis digital yang mudah diakses masyarakat awam, tidak hanya di kota, tapi hingga pelosok desa.

Keenam, mendesak pengesahan regulasi pengendalian MBDK serta peningkatan anggaran edukasi dan fasilitas UKS di sekolah-sekolah. Dan terakhir, mengawal perubahan Undang-Undang Sisdiknas agar mampu menjawab tantangan kesenjangan mutu guru, kurikulum, dan infrastruktur.

Menutup pidatonya, Penrad menyerukan agar laporan reses ini tidak hanya menjadi dokumen formal, melainkan digunakan sebagai dasar kerja konkret alat kelengkapan DPD RI dalam menjalankan fungsi pengawasan. “Kita tidak sedang mengulang laporan tahunan, tapi sedang menegaskan posisi politik bahwa DPD RI adalah pelindung kepentingan daerah dalam tubuh negara kesatuan,” ujarnya.

Ia menegaskan, perjuangan DPD RI bukan sekadar rutinitas sidang dan kunjungan, tapi bagian dari upaya memulihkan keseimbangan antara pusat dan daerah, agar setiap warga negara — di kota maupun desa — mendapatkan pelayanan, pendidikan, dan kesehatan yang setara.

“DPD RI adalah pelindung kepentingan daerah dalam tubuh negara kesatuan. Perjuangan kita bukan sekadar rutinitas sidang dan kunjungan. Perjuangan memulihkan keseimbangan antara pusat dan daerah, menjamin bahwa setiap warga negara – di kota maupun desa – berhak mendapatkan layanan yang adil, pendidikan yang layak, dan kesehatan yang setara,” tutup Penrad Siagian. (adz)

Nadiem Diperiksa Kejagung Terkait Kasus Pengadaan Laptop Chromebook, Bawa Dokumen dan Obat-obatan

DIPERIKSA: Mendikbudristek) Nadiem Makarim menjalani pemeriksaan dalam kasus pengadaan laptop Chromebook di Kejaksaan Agung, Senin (23/6). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
DIPERIKSA: Mendikbudristek) Nadiem Makarim menjalani pemeriksaan dalam kasus pengadaan laptop Chromebook di Kejaksaan Agung, Senin (23/6). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menjalani pemeriksaan dalam kasus pengadaan laptop Chromebook di Kejaksaan Agung, Senin (23/6). Sampai pukul 21.00 WIB, mantan bos Gojek itu masih diperiksa.

Pantauan Jawa Pos, Nadiem tiba di kantor Kejagung Jakarta sekitar pukul 09.09 WIB didampingi sejumlah kuasa hukumnya. Nadiem sempat melambai dan hanya melemparkan senyum tanpa memberikan komentar.

Kuasa hukum Nadiem, Ricky Saragih menuturkan, dalam tas yang dibawa kliennya terdapat sejumlah dokumen terkait pengadaan laptop dan obat-obatan pribadi. Namun begitu, dia tidak merinci dokumen semacam apa. “Yang dibawa dokumen, makanan, dan obat,” ujarnya sebelum pemeriksaan kliennya.

Ricky juga tidak menjelaskan, apakah Nadiem sedang sakit karena membawa obat-obatan. Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Harli Siregar menuturkan, surat panggilan terhadap Nadiem dilayangkan pada 17 Juni lalu. Nadiem diperiksa dalam kaitan sebagai Mendikbudristek. “Kebijakannya dalam pengadaan laptop Chromebook, hingga akhirnya menjadi obyek dugaan korupsi,” paparnya.

Pemeriksaan berkaitan dengan fungsi-fungsi pengawasan yang dilakukan Nadiem saat masih menjabat Mendikbudristek. Penyidik, lanjutnya, juga akan mendalami terkait peran Nadiem dalam pengadaan proyek senilai Rp 9 triliun tersebut. “Kasus masih didalami,” tuturnya.
Kejagung telah memeriksa sejumlah staf khusus (stafsus) dari Nadiem. Dalam jumpa pers yang dia adakan pekan lalu di Jakarta, Nadiem juga sudah mengomentari kasus tersebut.

Nadiem mengatakan, proyek pengadaan laptop sebanyak 1,1 juta unit itu telah sesuai dengan aturan dan dilakukan dengan transparan. Berbagai pihak dilibatkan dalam proyek pengadaan laptop tersebut. “Ketepatan terhadap regulasi menjadi dasar pengadaan proyek ini. Proses pengadaan menggunakan jalur yang paling mengurangi potensi konflik kepentingan, dengan adanya pendampingan dari berbagai instansi,” paparnya.

Nadiem Makarim menyatakan akan terus kooperatif. Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) itu juga memberikan apresiasi kepada penyidik pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung setelah diperiksa selama 12 jam sebagai saksi kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook.

“Dalam kapasitas saya sebagai saksi, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap jajaran aparat dari kejaksaan,” kata Nadiem di Gedung Jampidsus, Kejagung, Jakarta, Senin malam.
Nadiem menambahkan bahwa penyidik telah menjalankan proses hukum kasusnya dengan baik, mengedepankan asas keadilan, transparansi, dan asas praduga tak bersalah.

Kedatangannya kemarin diperiksa sebagai saksi adalah untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai warga negara Indonesia yang patuh pada proses hukum.

“Saya hadir hari ini di Kejaksaan Agung sebagai warga negara yang percaya bahwa penegakan hukum yang adil dan transparan adalah pilar penting bagi demokrasi dan pemerintahan yang bersih,” ucapnya. (idr/ttg/jpg)

Pekerja Terima Utuh Rp600 Ribu, Menaker Tegaskan BSU tanpa Potongan

SUBSIDI: Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bantuan subsidi upah (BSU) tanpa potongan.(JAWAPOS.COM)
SUBSIDI: Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bantuan subsidi upah (BSU) tanpa potongan.(JAWAPOS.COM)

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Kabar baik bagi para penerima Bantuan Subsidi Upah (BSU) 2025. Pemerintah memastikan tidak ada potongan dalam penyaluran bantuan tersebut. Pekerja akan menerima penuh dana sebesar Rp 600 ribu sesuai alokasi.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa bantuan BSU disalurkan secara utuh. Jumlah yang diterima pekerja sama persis dengan yang dialokasikan oleh Kementerian Keuangan untuk program tersebut.

“Tidak ada potongan, jadi sesuai dengan anggaran yang kami minta kepada Kementerian Keuangan, sebesar itulah yang kemudian diterima oleh para penerima upah,” tuturnya dalam konferensi pers pencairan BSU 2025 Tahap I di Jakarta, Selasa (24/6).
BSU diberikan sebesar Rp300 ribu untuk Bulan Juni dan Juli, yang disalurkan sekaligus. Dengan demikian, setiap pekerja/buruh menerima bantuan sebesar Rp600 ribu.

Pemerintah telah menyiapkan total anggaran sebesar Rp10,72 triliun dari APBN 2025. Bantuan ini ditujukan kepada sekitar 17,3 juta pekerja yang tersebar di seluruh Indonesia.

Yassierli menekankan, penyaluran bantuan dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Oleh sebab itu, proses verifikasi dan validasi data calon penerima dilakukan secara hati-hati dan menyeluruh.
“Dan itulah yang membuat kita membutuhkan waktu untuk melakukan verifikasi, validasi. Lalu untuk kita memastikan regulasinya ada, maka, kami harus buat dulu peraturan Menteri Ketenagakerjaan, aturan turunan, dan semua administrasi itu harus lengkap. Karena kita ingin semua proses ini transparan dan akuntabel,” jelasnya.

Sejak Selasa (24/6), BSU tahap I mulai dicairkan kepada para penerima. Hingga saat ini, sebanyak 2.450.068 pekerja sudah menerima dana bantuan dari total 3.697.836 penerima yang ditetapkan untuk tahap awal.

Penyaluran dilakukan melalui bank-bank Himbara seperti BNI, BRI, BTN, dan Mandiri. Sementara penerima di Provinsi Aceh menerima BSU lewat Bank Syariah Indonesia (BSI). Pekerja yang tidak memiliki rekening bank Himbara akan mendapatkan bantuan melalui PT Pos Indonesia. “Sisanya, yakni 1.247.768 pekerja masih dalam proses penyaluran,” ungkapnya.

Kementerian Ketenagakerjaan saat ini juga sedang melakukan verifikasi lanjutan untuk penyaluran BSU tahap II. Data dari BPJS Ketenagakerjaan telah mencatat sebanyak 4.535.422 calon penerima yang akan diproses dalam tahap berikutnya. (jpc/adz)

Polisi Ciduk Dua Pengedar Sabu di Perkebunan PTPN IV Reg 1 Marsel

DIAMANKAN: Dua pengedar sabu di PTPN IV Reg 1 Marsel diamankan Polres Labuhanbatu. foto: Istimewa/Sumut Pos
DIAMANKAN: Dua pengedar sabu di PTPN IV Reg 1 Marsel diamankan Polres Labuhanbatu. foto: Istimewa/Sumut Pos

LABUHANBATU, SUMUTPOS.CO – Sebanyak dua terduga pengedar sabu di Perkebunan PTPN IV Reg I Marsel, Kecamatan Marbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara ditangkap polisi, di Afdiling I Blok C perkebunan plat merah tersebut, Senin (23/6/2025).

Tim Khusus (Tisus) Polres Labuhanbatu berhasil meringkus keduanya, yakni R (46), warga Dusun Sidodadi, Desa Marbau Selatan, dan S (25), warga Dusun Kampung Jawa, Desa yang sama.

Penangkapan bermula dari laporan masyarakat yang mencurigai adanya aktivitas peredaran sabu di lokasi tersebut. Menindaklanjuti informasi tersebut, Timsus langsung turun ke lapangan dan melakukan penyelidikan. Sekitar pukul 15.26 WIB, seorang anggota tim melakukan penyamaran dengan metode undercover buy.

“Setelah dipastikan barang bukti berada pada target, tim langsung bergerak cepat dan menangkap tersangka R,” kata Kapolres Labuhanbatu AKBP Choky Sentosa Meliala, melalui Kasubsi Humas IPTU Arwin, Selasa (24/6).

Dari tangan R, polisi mengamankan barang bukti berupa, enam bungkus plastik klip diduga berisi sabu seberat 5,83 gram bruto. Uang tunai Rp80.000 yang diduga hasil penjualan sabu. Sebanyak tiga bungkus plastik klip kosong, sebuah skop sabu dari pipet. Satu HP Android merek Redmi, sebuah timbangan elektronik, sekotak kaleng rokok Surya warna merah.

“Tersangka S juga turut diamankan di lokasi kejadian,” jelasnya.

Dalam pemeriksaan awal, tersangka R mengaku memperoleh sabu tersebut dari seseorang berinisial T. Namun, saat dilakukan pencarian, T belum berhasil ditemukan dan kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

“Komitmen kami jelas, tidak ada toleransi terhadap peredaran narkotika di wilayah hukum Polres Labuhanbatu. Kami akan terus memburu pelaku lainnya yang masih berkeliaran,” tegasnya.

Kedua tersangka saat ini telah dibawa ke Mapolres Labuhanbatu untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Polres Labuhanbatu juga mengimbau masyarakat, agar tidak ragu melaporkan aktivitas mencurigakan demi menciptakan lingkungan yang bersih dari narkoba. (fdh/han)

Remaja SMK Dharma Patra Belajar Atur Uang dan Jaga Kesehatan Mental

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Gaya hidup konsumtif di kalangan remaja semakin mengkhawatirkan. Dari mengikuti tren gadget, belanja online impulsif, hingga nongkrong di kafe kekinian

Hal ini pula dialami para siswa SMK Dharma Patra Pangkalan Susu yang kerap terjebak dalam kebiasaan keuangan yang tidak sehat. Tak jarang, kondisi ini berdampak pada stres, utang pribadi, bahkan menurunnya semangat belajar.

Melihat kondisi tersebut, sekelompok dosen dan mahasiswa dari Politeknik Negeri Medan, Universitas Bina Bangsa Getsempena, dan Politeknik Bosowa Makassar turun tangan lewat program edukasi bertajuk “Financial Planning Education”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 16 November 2024, dengan peserta siswa kelas 12 jurusan Manajemen Bisnis SMK Dharma Patra.

Kegiatan edukatif ini bukan hanya membahas soal cara mencatat pengeluaran dan menabung. Lebih dari itu, tim pengabdi membekali siswa dengan pemahaman tentang keterkaitan langsung antara manajemen keuangan dan kesehatan mental.

“Banyak siswa yang malu datang ke sekolah karena terjerat utang dengan teman, bahkan uang SPP pun dipakai untuk keperluan konsumtif,” ujar Desi Irfiani, guru SMK Dharma Patra dalam keterangannya yang diterima Sumut Pos, Rabu (25/6/2025).

Desi juga mengungkapkan, belum ada edukasi formal mengenai perencanaan keuangan di sekolah. “Melalui sesi edukasi yang interaktif, para siswa diajak memahami pentingnya mencatat pengeluaran, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan dana darurat,” kata Desi.

“Tak kalah penting, mereka juga belajar bagaimana stres akibat masalah keuangan bisa memengaruhi konsentrasi belajar dan kepercayaan diri,” imbuhnya.

Dosen pembimbing kegiatan Marlya Fatira AK mengungkapkan, sebelum pelatihan, hanya 52% siswa yang terbiasa mencatat pengeluaran secara detail. Bahkan, lebih dari separuh siswa mengaku pengeluaran mereka sering kali melebihi pendapatan. “Tak heran, 41% siswa mengalami gangguan kesehatan mental seperti gelisah, kurang tidur, atau tidak semangat belajar,” jelasnya.

Namun setelah sesi edukasi, sebut Marlya, hasilnya membaik signifikan. Sebanyak 86% siswa mulai menerapkan kebiasaan keuangan sehat seperti mencatat pengeluaran, menabung, dan berbelanja bijak. Bahkan 94% siswa merasa lebih tenang, termotivasi, dan mampu fokus belajar karena memiliki rencana keuangan yang jelas.

“Perencanaan keuangan itu bukan hanya soal catatan uang masuk dan keluar. Ini adalah dasar untuk membentuk karakter mandiri dan bertanggung jawab sejak dini,” ujar Marlya.

Program ini mendapat respons positif dari pihak sekolah. Kepala Sekolah dan guru berharap kegiatan serupa bisa dilakukan secara rutin dan dijadikan bagian dari kurikulum pelengkap, terutama bagi siswa jurusan bisnis dan akuntansi.

Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian, kegiatan ini menjadi bukti bahwa membangun kebiasaan keuangan yang sehat bisa dimulai dari sekolah dan dampaknya bukan hanya pada dompet, tetapi juga pada kualitas hidup dan pendidikan remaja. (rel/adz)

Sambut Hari Bhayangkara, Polres Siantar dan Pemko Olahraga Bersama

SENAM BERSAMA: Wesly Silalahi gelar senam bersama dengan anggota Polres Siantar. ISTIMEWA/SUMUT POS
SENAM BERSAMA: Wesly Silalahi gelar senam bersama dengan anggota Polres Siantar. ISTIMEWA/SUMUT POS

SIANTAR, SUMUTPOS.CO – Menyambut Hari Bhayangkara ke-79 pada 1 Juli 2025, Polres Pematangsiantar melaksanakan Olahraga Bersama yang dipusatkan di Lapangan Adam Malik, Selasa (24/6/2025) pagi. Kegiatan tersebut turut dihadiri Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn bersama Ketua TP PKK, Liswati Wesly Silalahi.

Olahraga bersama diawali jalan santai yang dilepas Kapolres Pematangsiantar AKBP Sah Udur Togi Marito Sitinjak SH SIK MH didampingi Wesly, Liswati dan Unsur Forkopimda Plus.

Sebelum melepas peserta jalan santai, Sah Udur mengucapkan terima kasih kepada Wesly, Liswati, dan Unsur Forkopimda Plus yang telah bergabung bersama Polres Pematangsiantar untuk Olahraga Bersama dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-79.

Menurut Sah Udur, kegiatan Olahraga Bersama bertujuan untuk menjalin kebersamaan dan kedekatan serta saling membaur.

Setelah melepas peserta jalan santai, Sah Udur, Wesly, Liswati, dan Unsur Forkopimda Plus bergabung dengan para peserta dan ikut jalan santai bersama. Jalan santai mengambil rute: Lapangan Adam Malik Jalan MH Sitorus-Jalan Adam Malik-Jalan Sudirman-Jalan Merdeka-Jalan Diponegoro-Jalan Sutomo-Jalan Sudirman-dan kembali ke Lapangan Adam Malik.

Di Lapangan Adam Malik, Olahraga Bersama dilanjutkan dengan senam sehat. Kembali, Wesly dan Liswati berbaur mengikuti senam yang dipimpin instruktur profesional.

Usai kegiatan, Wesly didampingi Liswati mengaku senang bisa bergabung bersama Polres Pematangsiantar mengikuti Olahraga Bersama menyambut Hari Bhayangkara ke-79 Tahun 2025.

Wesly memberikan apresiasi kepada Polres Pematangsiantar yang telah menggelar berbagai kegiatan menyambut Hari Bhayangkara. Seperti bakti sosial, bakti religi, bakti kesehatan dengan mengadakan pemeriksaan gratis bagi para driver ojek online, olahraga bersama, dan lainnya.

“Semoga kerjasama dan sinergitas Polres Pematangsiantar dan Pemko Pematangsiantar bisa semakin baik ke depannya. Selamat Hari Bhayangkara ke-79. Polri untuk Masyarakat semakin sukses dan jaya,” sebut Wesly. (mag-7/han)

Evaluasi Pelaksanaan Ibadah Haji 2025, Puan Buka Opsi Bentuk Pansus

TIBA DI ASRAMA HAJI: Sejumlah jamaah haji Debarkasi Medan tiba di Asrama Haji, Selasa (24/6).
TIBA DI ASRAMA HAJI: Sejumlah jamaah haji Debarkasi Medan tiba di Asrama Haji, Selasa (24/6).

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Ketua DPR RI Puan Maharani membuka opsi untuk membentuk panitia khusus (Pansus) dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan Ibadah Haji 2025 Ia menyinggung adanya lima poin kritik yang disampaikan Pemerintah Arab Saudi terhadap Indonesia atas penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.

“Lima poin nota tersebut itu sudah lama, sudah diselesaikan oleh Pemerintah, jadi saat pelaksanaan haji sekarang itu sebenarnya semuanya sudah selesai,” kata Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/6).
Adapun, rincian lima poin yang dibahas dalam nota diplomatik dari Arab Saudi itu pertama adalah soal ketidaksesuaian data jamaah antara E-Haj, Siskohat, dan manifest penerbangan. Ia memastikan, permasalahan itu sudah diselesaikan sejak awal Mei 2025.

Kedua, pengangkutan jamaah dari Madinah ke Makkah. Di mana ada perbedaan syarikah pada sebagian kecil jamaah dalam satu kloter, sehingga jamaah sempat menunggu di Madinah karena beda konfigurasi.
Ketiga, penempatan hotel yang tidak sesuai. Keempat, kesehatan jamaah lansia dan risiko tinggi dan kelima adalah soal pembayaran Dam jamaah haji Tamattu.

Meski persoalan yang disinggung Arab Saudi dalam nota diplomatik sudah diselesaikan, tak dipungkiri masih banyak permasalahan dalam penyelenggaraan haji yang harus dibenahi. Karena itu, evaluasi perlu dilakukan agar persoalan yang muncul di penyelenggaraan haji 2025 tidak terjadi lagi di tahun-tahun berikutnya.

“Namun memang dalam pelaksanaan haji kali ini banyak hal yang kita harus evaluasi, banyak hal yang harus kita selesaikan dengan lebih baik sehingga pelaksanaan haji di tahun depan itu tidak akan terulang lain,” ujar Puan.

Ia memastikan, Komisi VIII DPR RI akan segera menggelar rapat untuk mengevaluasi pelaksanaan haji 2025 bersama pemerintah dan pimpinan DPR RI yang turut terlibat dalam Tim Pengawas (Timwas) I Haji DPR di Arab Saudi. “Hari ini baru kita buka masa sidangnya, kita akan mendapatkan laporan, kebetulan ketiga pimpinan DPR ikut dalam haji tahun ini. Kita akan mendapatkan laporannya juga dari teman-teman dan Komisi VIII,” ujar Puan.

Lebih lanjut, Puan menyatakan jika ditemukan banyak masalah dalam penyelenggaraan haji 2025, maka DPR dimungkinkan membentuk pansus guna menginvestigasi hal tersebut. “Setelah itu jika memang harus dilakukan pansus haji untuk pelaksanaan perbaikan ke depan, kita DPR, sesuai dengan mekanismenya akan melaksanakan pansus haji,” pungkasnya.

3.943 Jamaah Haji Sumut Sudah Kembali
Sementara berdasarkan catatan PPIH Debarkasi Medan, sebanyak 3.943 (47,22 %) jamaah haji Sumatera Utara sudah kembali ke tanah air. “Dengan begitu, jamaah haji Sumut yang belum kembali ke tanah air sebanyak 4.399 orang (52,68 %),” kata Ketua PPIH Debarkasi Medan Ahmad Qosbi saat menyambut kedatangan jamaah haji Kloter 11 di Aula 1 Madinatul Hujjaj, Selasa (24/6).

Qosbi mengucapkan selamat datang kembali di tanah air. “Semoga segala amal ibadah yang dilaksanakan diterima Allah Swt dan diampunkan segala dosa serta semoga meraih haji mabrur,” ungkapnya. Atas nama panitia, Qosbi mengucapkan permohonan maaf kepada jamaah haji jika selama pelayanan keberangkatan dan pemulangan ada kesalahan dan kekhilafan.

Sementara itu Kasubbag Humas PPIH Debarkasi Medan Mulia Banurea mengatakan, jamaah haji Kloter 11 berjumlah 360 orang berasal dari Medan, Tanjungbalai, Padangsidimpuan, Deliserdang, Labuhanbatu, Asahan dan Serdang Bedagai. Turut hadir pada acara tersebut Sekretaris PPIH Debarkasi Medan Muhammad Yunus, Kakankemenag Kota Medan serta undangan lainnya. (jpc/mag-2/adz)

Tekan Over Kapasitas, 13 Lapas Baru Segera Dibangun, 900 Napi Sumut Bakal Dipindah ke Nusakambangan

temu pers: Menteri Imipas Agus Andrianto, menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela peresmian Lounge Autogate Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Kualanamu, Selasa (24/6).
temu pers: Menteri Imipas Agus Andrianto, menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela peresmian Lounge Autogate Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Kualanamu, Selasa (24/6).

SUMUTPOS.CO – Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto, membuka wacana pemindahan narapidana kasus narkoba ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dengan tingkat pengamanan lebih tinggi, seperti Nusakambangan. Langkah ini dipertimbangkan sebagai upaya memutus mata rantai peredaran narkoba yang masih dikendalikan dari dalam Lapas.

Pernyataan itu ia sampaikan ketika menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela peresmian Lounge Autogate Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Kuala Namu, Deliserdang, Selasa (24/6). Menurut Agus, dalam waktu dekat, Kementerian Imipas juga berencana memindahkan 900 orang warga binaan yang beresiko tinggi dari lapas-lapas di Sumatera Utara (Sumut) ke Lapas Nusakambangan di Jawa Tengah.

“Dari Sumatera Utara kemarin kita pindahkan 100 orang. Secara keseluruhan 900 warga binaan yang hukuman mati, seumur hidup yang masuk dalam jaringan peredaran narkoba nanti kita pindahkan ke Nusakambangan,” papar pria yang pernah menjadi Kapolda Sumut itu.

Pemindahan warga binaan yang terlibat jaringan narkoba itu demi melindungi hak asasi warga masyarakat agar tidak menjadi korban penyalahgunaan narkoba. “Kami pindahkan demi melindungi hak asasi warga masyarakat, jangan sampai mereka menjadi korban. (Pemindahan) ini bisa membuat keluarga (warga binaan) mereka sulit menjenguk, tetapi demi kepentingan yang lebih luas, kebijakan harus diambil,” ucap Agus.

Saat yang bersamaan, Agus juga menyebut, pemerintah menyiapkan sejumlah solusi untuk menekan kelebihan kapasitas, salah satunya memberi remisi tambahan kepada warga binaan berprestasi. “Kalau mereka membuat karya bermanfaat untuk warga pindahan lain, remisi tambahan bisa diberikan di samping remisi yang sudah diatur undang-undang,” kata mantan Wakapolri itu.

Selain itu, Kementerian Imipas juga berencana membangun 13 Lapas baru demi mengurangi overkapasitas di sejumlah lapas di Indonesia. Menurut Agus, 13 lapas ini akan dibangun di Nusakambangan dan Solo (Jawa Tengah), hingga Jawa Timur.

Dia mengatakan, pembangunan lapas-lapas baru ini bukan hanya untuk mengurangi overkapasitas, termasuk juga untuk mengantisipasi peredaran narkoba. “Di seluruh Indonesia kami sedang menyelesaikan pembangunan 13 lapas. Tentunya dalam kaitan untuk mengurangi overkapasitas. Lokasinya di Nusakambangan ada, di Solo ada, di Jawa Timur ada,” ungkapnya. Agus menambahkan, pembangunan lapas baru itu masih dalam progres.

Sebelumnya, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Medan melakukan demonstrasi di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Utara di Tanjunggusta, Medan. Para mahasiswa tersebut menyoroti masalah serius terkait peredaran narkoba yang diduga masih dikendalikan oleh narapidana dari dalam lembaga pemasyarakatan. (cnni/adz)

Implementasikan MoU, UnHar Medan dan UniMAP Malaysia Gelar Program VL, Student Mobility, dan CSR

Rektor Universitas Harapan Medan Prof Drs Sriadhi ST MPd MKom PhD menyerahkan CSR kepada masyarakat di Desa Mekar Jaya, Langkat.
Rektor Universitas Harapan Medan Prof Drs Sriadhi ST MPd MKom PhD menyerahkan CSR kepada masyarakat di Desa Mekar Jaya, Langkat.

LANGKAT, SUMUTPOS.CO– Universitas Harapan (UnHar) Medan bersama University Malaysia Perlis (UniMAP) mengimplementasikan nota kesepahaman (MoU) melalui pelaksanaan program Visiting Lecturer (VL), Student Mobility, dan Corporate Social Responsibility (CSR) di Sumatera Utara pada 15–19 Mei 2025. Kegiatan ini berlangsung di Kampus 3 UnHar Medan serta di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, sebagai bagian dari penguatan kerja sama internasional kedua institusi.

Sebanyak 18 delegasi dari UniMAP yang terdiri dari 13 mahasiswa dan 5 dosen, dipimpin Dekan Fakulti Kejuruteraan dan Teknologi Elektronik UniMAP, PM Ir Ts Dr. Razaidi Husin, disambut hangat oleh Rektor UnHar Medan, Prof. Drs. Sriadhi, S.T., M.Pd., M.Kom., Ph.D. di Kampus 3 UnHar Medan.

Agenda utama kegiatan ini, pelaksanaan program Student Mobility yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari kedua universitas untuk bertukar wawasan akademik dan budaya. Selain itu, dosen-dosen dari UniMAP juga memberikan kuliah sebagai Visiting Lecturer, yang memperkaya pengalaman belajar mahasiswa dan dosen UnHar Medan dengan perspektif global.

Selain itu, UnHar Medan dan UniMAP juga melaksanakan program CSR sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat di Kampung Kolam Dusun Jandi Mulia, Desa Mekar Jaya, yang kini ditetapkan sebagai desa binaan bersama. Kegiatan CSR ini melibatkan civitas akademika UnHar dari berbagai fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Bahasa dan Komunikasi, Fakultas Teknik dan Komputer, serta Fakultas Hukum.

Kontribusi nyata dari program ini, antara lain pemasangan 10 unit lampu jalan bertenaga surya (solar cell) untuk penerangan desa. Kemudian kegiatan sosial dan edukatif di Kampung Penghapal Al-Qur’an, dan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan peningkatan akses terhadap pendidikan.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Harapan (UnHar) Medan Prof. Drs. Sriadhi, S.T., M.Pd., M.Kom., Ph.D menyampaikan, kerja sama ini sangat penting bukan hanya untuk kemajuan akademik, tetapi juga untuk penguatan nilai-nilai sosial melalui pengabdian kepada masyarakat. “Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut dan berkembang,” katanya.

Sementara, PM Ir Ts Dr. Razaidi Husin menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat dan kolaborasi produktif yang diberikan oleh UnHar Medan. “Ini adalah momen penting bagi kami untuk mempererat hubungan antarnegara sekaligus memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat,” ungkapnya.

Kegiatan ini menandai komitmen bersama UnHar Medan dan UniMAP dalam menjadikan pendidikan tinggi sebagai jembatan pertukaran ilmu, budaya, dan kontribusi sosial. Kedua pihak sepakat untuk memperluas program kerja sama di masa mendatang dalam bentuk penelitian kolaboratif, pengembangan kurikulum, serta ekspansi kegiatan CSR di wilayah lain. (rel/adz)