25 C
Medan
Sunday, January 18, 2026
Home Blog Page 218

Bupati Batubara Imbau Petani agar Panen Padi lebih Lama

Bupati Batubara
Bupati Batubara

BATUBARA,SUMUTPOS.CO-Bupati Batubara H. Baharuddin Siagian, SH, M.Si mengimbau kepada para petani agar memanen padinya sedikit lebih lama.

“Terkait penetapan harga gabah di tingkat petani sebesar Rp6500 per kg.
diharapkan petani untuk tidak memanen pada 60 hari, tetapi memanen padi pada hari ke-93. Sebab, dengan panen di hari ke-90 lebih lembaga Bulog yang membeli gabah tidak merugi. Karena jika padi di panen dibawah hari ke-90 maka padi memiliki kualitas yang jelek dengan kadar susut di atas 50 persen ,”ungkap Bupati Batubara Baharuddin Siagian pada kegiatan Tanam Padi Serentak di Desa Sukaramai, Kecamatan Air Putih, Sabtu (19/4/2025).

Kedepan, sebut Baharuddin, Pemerintah Kabupaten Batubara akan menghidupkan kembali Bumdes untuk para petani yang terdesak membutuhkan uang.

Lebih lanjut ungkap Baharuddin, Saat ini bendungan pada daerah irigasi Cinta Maju yang mencakup wilayah 1.562,1 Ha sawah kondisinya rusak berat dan sudah 6 musim tidak bertanam.

Mengingat fungsi daerah irigasi Cinta Maju ini sangat krusial yang mengairi sawah di empat desa yaitu Desa Kampung Kelapa, Limau Sundai, Suka Ramai dan Pematang Panjang dengan luas luas ± 900 Ha dan sampai saat ini tidak dapat bertanam.

Bupati Batubara Baharuddin berjanji akan berkoordinasi dengan lembaga terkait dari tingkat Provinsi Sumut hingga ke lembaga kementerian untuk membenahi irigasi, karena semua itu penting untuk ketahanan pangan.

Turut hadir Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Heru Tri Widarto, S.Si, M.Sc,Direktur Perlindungan Perkebunan Ir. Bagus Hudoron, Wakil Bupati Batu Bara Syafrizal, SE, M.AP, Kadis Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sumatera Utara, Dandim 02/08 Asahan, Kapolres Batubara AKBP N Elson Pimpinan Bulog Cabang Kisaran, Perwakilan dari Pupuk Indonesia, PPK Irigasi Rawa II Balai Besar Wilayah Sumatera 2, Kepala UPTD PUPR Tanjung Balai, para Kepala OPD, Camat Air Putih, Kepala Desa se-Kecamatan Air Putih dan para Kelompok Tani.(mag-3/han)

Pimpin AFK Medan, Ingan Pane Bakal Tingkatkan Pembinaan dan Kompetisi

BERSAMA: Ketua AFK Medan terpilih Ingan Pane pose bersama para voters.(dok pribadi)
BERSAMA: Ketua AFK Medan terpilih Ingan Pane pose bersama para voters.(dok pribadi)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ingan H Pane resmi terpilih sebagai Ketua AFK Medan dalam Kongres Asosiasi Futsal Kota (AFK) Medan yang digelar di Aula Karya Futsal dan Cafe, Minggu (20/4/2025).

Dia terpilih secara aklamasi pada kongres yang dihadiri 11 dari 14 voter AFK Medan tersebut. Ingan Pane disetujui oleh peserta kongres AFK Medan menjadi Ketua AFK Medan periode 2025-2029.

Kongres turut dihadiri oleh Ketua AFP Sumut, yang diwakili Wakil Ketua, M. Naviri Syafril. Dan juga Ketua AFK Medan periode 2020-2024, M. Husaini Al Mubayyin.

Dalam sambutannya usai terpilih, Ingan Pane menyampaikan rasa syukur dan komitmennya untuk memajukan futsal di Kota Medan.

“Saya berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Ke depan, saya bertekad untuk meningkatkan pembinaan atlet muda dan memperkuat kompetisi futsal di tingkat kota,” ujar Ingan.

“Sesuai tagline kota Medan yaitu Medan untuk Semua, kita di AFK Medan juga punya tagline baru. Yaitu Futsal Medan Untuk Semua. Ke depannya, apa yg sudah baik kita pertahankan. Yang kurang akan kita perbaiki. Kompetisi futsal di Kota Medan akan terus kita galakkan. Minimal setiap bulan kita akan laksanakan 1 event,” tambah Ingan Pane. (dek)

Aswindy Apresiasi Program PTMSI Medan

Ketua umum KONI Kota Medan, Aswindy Fachrizal SE bersama undangan dan peserta Kejuaraan Tenis Meja antar PTM se-Kota Medan Triwulan I tahun 2025. (Dok KONI Medan)
Ketua umum KONI Kota Medan, Aswindy Fachrizal SE bersama undangan dan peserta Kejuaraan Tenis Meja antar PTM se-Kota Medan Triwulan I tahun 2025. (Dok KONI Medan)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ketua Umum KONI Medan, Aswindy Fachrizal, SE menghadiri pembukaan Kejuaraan Tenis Meja antar PTM se-Kota Medan Triwulan I tahun 2025 di GOR Cikal, Kampus USU, Minggu (20/4/2025).

Aswindy Fachrizal memberikan apresiasi kepada PTMSI Medan. “Program PTMSI Kota Medan ini sangat luarbiasa, ada triwulannya. Baru kali ini saya dengar cabor memiliki program triwulan,” ujarnya saat sambutan.

Pria yang akrab disapa Aswindy itu yakin kedepannya PTMSI Medan akan semakin berkembang, jika memiliki kepengurusan yang sangat baik, seperti saat ini. “Saya optimis di kepemimpinan bapak Nanda dan Prof Bustami,tenis meja dua tahun kedepan akan menghasilkan atlet berpotensi untuk Kota Medan dan Sumut,” sebutnya.

Disisi lain, Windy juga menyampaikan akan terus mendukung perkembangan PTMSI Medan. Dengan begitu, dia berkomitmen akan menggelar kejuaraan tenis meja memperebutkan Piala Wali Kota Medan pada September mendatang.

“Saya dari KONI Medan akan menambahkan program. Kalau dari PTMSI ada triwulan, kita dari KONI akan ada program Piala Walikota Medan untuk cabor tenis meja,” katanya.

Selain itu, mantan Sekjen PBSI Medan itu juga menuturkan bahwa KONI Medan akan menggelar program Atlet Binaan pada Mei mendatang. Program ini merupakan langkah awal dalam menciptakan atlet berbakat menuju event tingkat daerah maupun Nasional.

“Di bulan 5 nanti KONI akan menggelar program atlet binaan. Itukan atlet binaan cabor yang memilih, jadi nanti kita akan ada atlet binaan Medan juara. Kita berharap setiap cabor memberikan nama atlet yang memang untuk lapis pertama di Porprovsu dan kalau bisa tampil hingga PON 2028,” sebutnya.

Sementara itu, Ketua PTMSI Sumut, Nanda Berdikar Batubara yang membuka kejuaraan tersebut juga memberikan apresiasi kepada PTMSI Medan yang telah menggelar kejuaraan tersebut.

“Acara ini menurut informasinya akan dilaksanakan secara rutin per triwulan setiap tahunnya. Berarti 4 kali dalam setahun, dengan demikian PTMSI Medan akan menyelenggarakan delapan turnamen dalam setahun. Empat kali turnamen antar PTM se-kota Medan, Porkot, Piala Rektor USU dan USU Games. Tentunya ini merupakan momen yang sangat baik bagi atlet-atlet, khususnya atlet yang bernaung di klub-klub yang ada di Kota Medan untuk menambah jam bertanding maupun mengukir prestasi di turnamen ini,” kata Nanda.

Nanda berharap kegiatan positif tersebut dapat terus dilanjutkan demi membesarkan tenis meja kedepannya.

“Saya juga mendengar bahwa di kota Medan seluruh PTM yang bernaung di bawah PTMSI Medan mengumpulkan iuran setiap bulannya, yang besarnya bervariasi tergantung jumlah anggotanya. Hasil iuran tersebut digunakan untuk penyelenggaraan turnamen antar PTM,” ungkapnya. (dek)

Maknai Semangat Paskah, HKBP UAS Medan Gelar Donor Darah

MEDAN, SUMUTPOS.CO— Dalam semangat pengorbanan dan kasih yang menjadi inti perayaan Paskah, HKBP Ressort Medan Kota Jalan Uskup Agung Sugiopranoto (HKBP UAS) Medan, menggelar kegiatan donor darah, Minggu (20/4/2025). Kegiatan ini menjadi wujud nyata pelayanan kemanusiaan gereja kepada sesama.

Kegiatan donor darah ini diprakarsai Seksi Kesehatan HKBP UAS Medan yang digawangi para profesional di bidangnya: Hilde L. Tobing, MPsi, dr. Dwi Siahaan, dr. Owen Sitompul, dr. Efraim Hutagalung, dr. Marolop Hutapea, dr. Elida Sidabutar, dr. Joslouis Hutagaol, dr. Mahendra, Priyanka Sitorus.

Kegiatan dimulai pukul 12.30 WIB, usai ibadah Minggu, dan berlangsung di Kantor HKBP Distrik X Medan Aceh, tidak jauh dari lokasi gereja. Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Medan turut ambil bagian sebagai mitra utama dalam kegiatan ini, dengan menyediakan peralatan medis, tenaga kesehatan, serta unit mobil donor darah. Sekitar 55 jemaat HKBP UAS Medan tergerak hatinya untuk ikut ambil bagian sebagai pendonor.

Dalam keterangannya, Hilde L. Tobing menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya bentuk tanggung jawab sosial gereja, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam.

“Donor darah ini bagian dari pelayanan kemanusiaan dan dikorelasikan dengan momentum Paskah, selaras dengan pengorbanan dan kebangkitan Kristus untuk menebus dosa-dosa manusia,” ujar Hilde Tobing.

“Dengan mendonorkan darah, kita ikut ambil bagian dalam menyelamatkan nyawa sesama. Ini adalah bentuk kasih nyata yang bisa kita berikan,” imbuhnya.

Sementara itu, dr. Owen Sitompul mengungkapkan, antusiasme jemaat cukup tinggi, bahkan beberapa pendonor mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan serupa.

“Kami bersyukur karena kegiatan berjalan lancar dan tertib. Ada rasa sukacita ketika melihat banyak jemaat yang bersedia mendonorkan darahnya dengan sukarela. Ini menunjukkan semangat solidaritas yang tinggi di tengah jemaat,” ujarnya.

Kegiatan ini disambut baik para pendonor. Beberapa di antaranya mengaku terdorong oleh semangat Paskah dan ingin berkontribusi membantu sesama yang membutuhkan darah. “Biasanya saya takut jarum, tapi hari ini saya mau coba karena merasa ini bentuk kecil dari pengorbanan, apalagi pas dengan suasana Paskah,” kata St Yohana Simamora, salah satu pendonor yang ditemui di lokasi kegiatan.

Selain menjadi momen berbagi, kegiatan ini juga sekaligus menjadi ajang edukasi tentang pentingnya donor darah secara berkala. Tim Seksi Kesehatan juga memberikan edukasi ringan kepada jemaat terkait manfaat donor darah bagi kesehatan tubuh, baik secara fisik maupun emosional.

HKBP UAS Medan berencana menjadikan kegiatan donor darah ini sebagai agenda rutin tahunan, terutama pada momen-momen penting gerejawi seperti Paskah dan Natal.

“Kami ingin menanamkan nilai pelayanan yang tidak hanya bersifat rohani, tetapi juga sosial. Harapannya, ke depan semakin banyak jemaat yang tergerak untuk berpartisipasi,” tutup Pdt Resna Tiarasi Malau, Pendeta Ressort Medan Kota.

Kegiatan ini menegaskan kembali bahwa gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pelayanan dan kasih yang menyentuh kehidupan nyata umat dan masyarakat sekitarnya. (adz)

Kritisi Capaian Rekrutmen CASN 100%, Penrad Siagian: Daerah Masih Kekurangan Guru dan Dokter

JAKARTA, SUMUTPOS.CO- Anggota DPD RI asal Sumatra Utara (Sumut), Pendeta Penrad Siagian menyampaikan pandangan kritis saat mengikuti rapat dengar pendapat dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPANRB) Rini Widyantini serta Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Zudan Arif di Jakarta, Kamis (17/4/2025).

Rapat tersebut membahas capaian tahapan penerimaan Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) yang disebut telah mencapai 100 persen. Dalam forum resmi itu, Penrad menyatakan apresiasi atas komitmen dan kerja keras MenPANRB dan BKN yang dinilainya tidak pernah lelah menyelesaikan proses rekrutmen ASN, baik untuk formasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Ia menyebut, capaian teknis tersebut sebagai bentuk kinerja yang patut dihargai. Namun demikian, Penrad menegaskan, capaian administratif tidak serta-merta mencerminkan terpenuhinya kebutuhan riil di daerah, terutama pada sektor-sektor pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan.

“Saya salut dan bangga dengan Menteri PANRB dan Kepala BKN yang tidak jemu-jemu menyelesaikan tahapan-tahapan proses penerimaan CASN, baik PNS maupun PPPK, penuh waktu maupun paruh waktu. Tetapi saya ingin bertanya, 100 persen ini dalam pengertian apa?” ujar Penrad.

Penrad menyoroti, laporan capaian 100 persen yang disampaikan tidak menjelaskan secara rinci, apakah formasi yang dibuka benar-benar menjawab kebutuhan nyata masyarakat, khususnya di daerah-daerah yang masih mengalami kekurangan tenaga pendidik dan tenaga kesehatan.

Ia mengungkapkan fakta, hingga saat ini terdapat sekitar 1.856 sekolah negeri tingkat SD, SMP, dan SMA di Sumut yang tidak memiliki guru Agama Kristen. Menurutnya, kekosongan tersebut telah dilaporkan sejak awal pertemuan namun tidak mendapat respons dalam bentuk pembukaan formasi yang sesuai.

“Yang pertama, saya berulang kali menyebut bahwa dari capaian 100 persen itu, sekitar 65 persen sekolah negeri di Sumut — SD, SMP, dan SMA — tidak memiliki guru agama Kristen. Ini masih kita bicarakan di sektor pendidikan formal negeri, belum menyentuh sekolah swasta atau lembaga pendidikan lainnya,” jelasnya.

Situasi serupa, lanjut Penrad, juga terjadi di sektor kesehatan. Ia mencontohkan kondisi di Pulau Nias, di mana di salah satu kabupaten kurang memiliki tenaga kesehatan di rumah sakit daerah (RSUD). Sementara itu, Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tersebar di wilayah tersebut umumnya tidak memiliki dokter.

“Di empat kabupaten dan satu kota di Pulau Nias, fasilitas kesehatan sangat minim. Ada Puskesmas dan Pustu bersebaran tapi tidak ada dokter. Nah, 100 persen itu dalam konteks apa? Terpenuhinya kebutuhan atau apa?” tanyanya.

Ia menekankan, capaian 100 persen seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi administrasi atau teknis pelaksanaan rekrutmen, melainkan dari seberapa jauh rekrutmen tersebut memenuhi kebutuhan pelayanan dasar masyarakat. ”Karena kalau kita melihat dari jumlah kebutuhan layanan publik dari badan-badan atau institusi-institusi pemerintah ini, tidak mungkin itu 100 persen,” sambungnya.

Menurut Penrad, apabila kebutuhan dasar seperti guru agama dan tenaga kesehatan tidak terpenuhi, maka proses rekrutmen ASN belum menjawab persoalan pokok yang dihadapi daerah.

“Kalau kita datang ke daerah-daerah seperti Kabupaten Dairi, Kabupaten Toba, dan wilayah-wilayah lainnya di Sumut, kondisinya sama. Tidak ada tenaga pengajar agama Kristen, tidak ada tenaga medis yang cukup. Lalu bagaimana 100 persen itu dimaknai?” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap proses perencanaan dan pembukaan formasi ASN agar lebih responsif terhadap kondisi nyata di lapangan. Penrad juga menyoroti perlunya koordinasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) agar kebutuhan masyarakat tidak terabaikan.

Penrad berharap agar pemerintah pada rekrutmen ASN tahap berikutnya, yang dijadwalkan selesai pada Oktober 2025, benar-benar memasukkan formasi-formasi penting yang selama ini tidak terakomodasi. “Saya berharap sebagai jadwal akhir penerimaan di tahun 2025 untuk mengatasi kekurangan di tahun 2024, itu bisa dipenuhi,” ucap Penrad Siagian. (adz)

Opname 4 Hari Pasien Disuruh Pulang, Warga Curhat ke Dodi

Anggota DPRD Medan dari Fraksi Partai Demokrat Dodi Robert Simangunsong (tiga kiri) bersama narasumber dan warga usai sosialisasi Perda tentang Sistem Kesehatan Kota Medan di Jalan Stadion Teladan No 24, Kelurahan Teladan Barat, Medan Kota, Sabtu (19/4/2025).
Anggota DPRD Medan dari Fraksi Partai Demokrat Dodi Robert Simangunsong (tiga kiri) bersama narasumber dan warga usai sosialisasi Perda tentang Sistem Kesehatan Kota Medan di Jalan Stadion Teladan No 24, Kelurahan Teladan Barat, Medan Kota, Sabtu (19/4/2025).

MEDAN, SUMUTPOS.CO- Rospita Br Simanjuntak, warga Kelurahan Teladan Barat, Medan Kota, mengeluhkan pelayanan rumah sakit. Pasalnya, cucunya yang sempat dirawat di rumah sakit (opname), disuruh pulang setelah dirawat selama empat hari. Padahal, cucunya masih butuh perawatan.

“Saya mau tanya, apakah memang ada aturan soal rawat inap di rumah sakit, 4 hari harus pulang. Karena baru-baru ini, cucu saya diopname di rumah sakit, empat hari langsung disuruh pulang,” kata Rospita Br Simanjuntak saat sosialisasi peraturan daerah (Sosperda) Kota Medan ke-4 Tahun 2025 soal Perda Nomor 04 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Kota Medan di Jalan Stadion Teladan No 24 Kelurahan Teladan Barat, Medan Kota, Sabtu (19/4/2025).

Rospita menambahkan, jika lewat dari empat hari perawatan di rumah sakit, maka si pasien akan dianggap sebagai pasien umum. “Apakah memang benar seperti itu aturannya? Mohon penjelasannya,” kata Rospita.

Menyikapi hal ini, dr Hesty dari Puskesmas Teladan mewakili Dinas Kesehatan Kota Medan menjelaskan, seorang pasien dirawat di rumah sakit (opname) karena ada indikasi penyakit. “Atas indikasi ini, makanya si pasien harus mendapat perwakilan intensif dari dokter,” terang dr Hesty.

Diterangkan Hesty, untuk melakukan pemeriksaan dan perawatan indikasi penyakit yang diderita si pasien, tidak bisa dilakukan dalam dua atau hari. “Jadi tidak benar ada batasan waktu perawatan di rumah sakit. Pasien akan terus dirawat sampai sembuh,” tegasnya.

Sementara Dodi Robert Simangunsong menyayangkan jika ada rumah sakit yang membatasi rawat inap pasien BPJS kesehatan. Menurutnya, pasien BPJS Kesehatan harus dirawat sampai sembuh karena biayanya sudah ditanggulangi oleh Pemko Medan melalui program UHC “Jadi tidak bisa ada aturan-aturan yang memberatkan pasien karena orang berobat ke pelayanan kesehatan itu ingin sembuh. Tidak bisa dibatasi garis 1 hari, 2 hari, 3 hari,” tandasnya. (adz)

Penutupan Median Jalan Bikin Stres, Dodi: Jangan Sampai Warga Demo ke Balai Kota

Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi Partai Demokrat Dodi Robert Simangunsong (tengah) saat sosialisasi Perda tentang Sistem Kesehatan Kota Medan di Jalan Pintu Air Gang Selamat Kelurahan Sitirejo 1 Medan Kota, Sabtu (19/4/2025).
Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi Partai Demokrat Dodi Robert Simangunsong (tengah) saat sosialisasi Perda tentang Sistem Kesehatan Kota Medan di Jalan Pintu Air Gang Selamat Kelurahan Sitirejo 1 Medan Kota, Sabtu (19/4/2025).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Masyarakat Kelurahan Sitirejo 1, Medan Kota, kembali mendesak Pemerintah Kota (Pemko) Medan membuka median jalan di Jalan Sisingamangaraja, khususnya mulai dari Simpang Jalan Pelangi hingga persimpangan Jalan Saudara atau tepatnya di depan Hotel Grand Antares. Pasalnya, masyarakat di sana merasa kesulitan untuk beraktivitas.

Hal ini disuarakan masyarakat saat Anggota DPRD Medan dari Fraksi Partai Demokrat, Dodi Robert Simangunsong menggelar sosialisasi peraturan hukum daerah (Sosperda) ke-4 Tahun 2025 soal Perda Nomor 04 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Kota Medan di Jalan Pintu Air, Gang Selamat, Kelurahan Sitirejo 1, Medan Kota, Sabtu (19/4/2025). Mereka meminta Dodi untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada Pemko Medan, khususnya dinas perhubungan.

“Beberapa kali reses sudah kami sampaikan. Mohon agar median jalan di Jalan Sisingamangaraja segera dibuka. Sulit sekali kami untuk pergi dan pulang ke rumah kami,” ujar R Matondang, warga Pintu Air Gang Selamat.

Anggota DPRD Kota Medan Dodi Robert Simangunsong (tengah) bersama warga dan narasumber saat sosialisasi Perda tentang Sistem Kesehatan Kota Medan di Jalan Pintu Air Gang Selamat Kelurahan Sitirejo 1 Medan Kota
Anggota DPRD Kota Medan Dodi Robert Simangunsong (tengah) bersama warga dan narasumber saat sosialisasi Perda tentang Sistem Kesehatan Kota Medan di Jalan Pintu Air Gang Selamat Kelurahan Sitirejo 1 Medan Kota

Hal senada disampaikan Boru Simorangkir, warga yang sama. Menurut Boru Simorangkir, masyarakat di Kelurahan Sitirejo 1 ini sudah tidak ada masalah dengan Perda Kesehatan yang akan disosialisasikan. Namun yang menjadi persoalan utama yang mereka hadapi adalah, tertutupnya median jalan di Jalan Sisingamangaraja sehingga mereka harus jauh memutar untuk pergi dan pulang ke rumah.

“Kalau masalah kesehatan, semua kami sudah sehat. Kami hanya minta, segera buka median jalan itu. Karena kalau kami mau kemana-mana harus memutar dulu. Kami mau belanja, mau berobat, mau bekerja, mau antar anak sekolah, semua harus memutar. Apa perlu kami demo ke kantor wali kota baru median jalan itu dibuka?” tegasnya.

Demikian juga disampaikan A Hutabarat. Menurutnya , pelayanan kesehatan saat ini sudah mulai baik. Cuma, kesehatan mereka menjadi terganggu karena median jalan di Jala. Sisingamangaraja itu ditutup. “Kami tidak sehat karena harus memutar jauh hingga ke Jalan Selamat. Untuk memutar itu, sudah berapa liter BBM kami habis?” katanya.

Dia mengungkapkan, setiap pagi dia harus mengantar enam orang anaknya ke sekolah. “Bayangkan betapa repotnya saya pulang pergi harus memutar begitu jauh. Kami siap mendukung Pak Dodi agar jalan kami bisa segera dibuka. Tolong, Pemko jangan hanya janji-janji saja. Kami sudah stres dengan kondisi ini,” tegasnya.

Menyikapi persoalan ini, Dodi Robert Simangunsong mengatakan, masalah median jalan ini, sudah ia sampaikan ke Pemko Medan melalui rapat paripurna dewan. Dia juga menegaskan, dirinya pun merasakan apa yang dirasakan warga saat ini, karena dia berdomisili di Jalan Pulau Harapan, Kelurahan Sitirejo 1 Medan Kota.

“Saya akan terus perjuangkan. Karena saya juga menjadi korban dari penutupan median jalan itu. Makanya saya akan mendesak Pemko Medan untuk segera merealisasikannya, jangan cuma janji. Ini jadi prioritas saja,” tegas Dodi.

Dia pun berharap, Pemko Medan melalui Dinas Perhubungan segera menindaklanjuti permintaan warga ini. “Kita tidak ingin, warga Sitirejo 1 beramai-ramai demo ke kantor Wali Kota Medan hanya untuk membuka median jalan ini. Tapi jika sampai itu terjadi, saya tidak bisa mencegahnya,” tegasnya lagi.

Namun, kata Dodi, informasi yang dia terima, saat ini Dinas Perhubungan Kota Medan sedang melakukan kajian, di bagian mana bisa dibuat perputarannya. “Dishub Medan juga harus berkordinasi dengan Sat Lantas, karena selama ini perputaran yang ada di simpang Jalan Saudara sering bikin macet,” pungkasnya. (adz)

Dosen Prodi Farmasi IKH Gelar PkM Manfaatkan Tapakdara Jadi Tabir Surya

DIABADIKAN: Sejumlah dosen dan mahasiswa Prodi Farmasi Institut Kesehatan Helvetia, diabadikan bersama saat menggelar Program Pengabdian kepada Masyarakat di Dusun Pasar 1, Desa Padang Cermin, Kabupaten Langkat, Kamis (17/4).
DIABADIKAN: Sejumlah dosen dan mahasiswa Prodi Farmasi Institut Kesehatan Helvetia, diabadikan bersama saat menggelar Program Pengabdian kepada Masyarakat di Dusun Pasar 1, Desa Padang Cermin, Kabupaten Langkat, Kamis (17/4).

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Sejumlah dosen Program Studi (Prodi) Farmasi Institut Kesehatan Helvetia (IKH), menggelar Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Dusun Pasar 1, Desa Padang Cermin, Kabupaten Langkat, Kamis (17/4) lalu. Adapun fokus kegiatan ini, yakni tentang pemanfaatan bunga tapakdara untuk kosmetika kulit, sebagai krim tabir surya.

Para dosen yang mengikuti program ini, yakni Ruth Mayana Rumanti selaku ketua, didampingi anggota Mayang Sari dan Denny Akbar Tanjung, serta tim mahasiswa IKH.
Perlu diketahui, kulit memiliki melanin (pigmen) yang terdapat pada epidermis, dan protein di lapisan terluar kulit, yang bekerja dengan cara menyerap radiasi ultra violet (UV), sehingga mengurangi jumlah sinar yang masuk ke dalam kulit. Namun, paparan sinar matahari yang berlebihan dalam jangka waktu panjang, dapat menimbulkan efek negatif pada kulit, baik yang bersifat akut maupun kronik.

Hal tersebut dapat dihindari dengan penggunaan tabir surya, karena dapat melindungi kulit dari radiasi sinar matahari, dan menjaga kesehatan kulit yang cenderung terpapar sinar matahari. Tabir surya berfungsi seperti melanin di dalam kulit, dengan mengubah energi sinar matahari yang berbahaya menjadi panas, bukan radiasi sinar yang dapat menyebabkan kerusakan kulit.

Satu bahan alam yang dapat digunakan sebagai tabir surya adalah bunga tapakdara (catharanthus roseus l). Tapakdara dikenal sebagai tanaman hias yang banyak ditemui di halaman rumah. Dari hasil pengujian metabolit sekunder ekstrak metanol, tapakdara memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, fenolik, tanin, dan terpenoid, sedangkan fraksi n-heksan mengandung tanin. Senyawa dari bahan alami seperti senyawa fenolik dan terutama flavonoid, yang ditemukan, memiliki aktivitas antioksidan, dan dapat digunakan sebagai tabir surya.

Karena pentingnya pengembangan ilmu kefarmasian tersebut, maka para dosen Prodi Farmasi IKH, pun memiliki peran penting, menerapkan tri dharma perguruan tinggi, dengan melakukan pengabdian diri kepada masyarakat dalam bentuk kegiatan sosial.

“Kegiatan PkM ini, telah memberikan pengetahuan bagi masyarakat untuk lebih memiliki wawasan dalam hal pemanfaatan tapakdara untuk menjadi sediaan kosmetika kulit, yakni krim tabir surya. Sehingga informasi ini dapat disebarluaskan kepada teman, saudara, keluarga ataupun masyarakat sekitar mereka,” ungkap Ruth.

Ruth juga mengatakan, masyarakat sangat antusias menghadiri kegiatan ini.
“Mereka datang sekaligus untuk memeriksakan kesehatan. Seperti cek tekanan darah, gula darah, dan asam urat, yang memang kami sediakan di lokasi kegiatan,” pungkasnya. (rel/saz)

Dukung Layanan Listrik Andal dan Pembangunan Daerah, PLN UP3 Rantauprapat Perkuat Sinergi dengan Pemko Tanjungbalai

PLN dan Pemerintah kota Tanjung Balai berkomitmen untuk terus memberikan layanan terbaik bagi masyarakat dan mendukung pembangunan daerah.
PLN dan Pemerintah kota Tanjung Balai berkomitmen untuk terus memberikan layanan terbaik bagi masyarakat dan mendukung pembangunan daerah.

TANJUNGBALAI, SUMUTPOS.CO – Dalam upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dan meningkatkan kualitas pelayanan kelistrikan, PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Rantauprapat melakukan audiensi bersama Pemerintah Kota Tanjungbalai pada Rabu (16/4/2024).

Pertemuan berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota Tanjung Balai, dihadiri langsung oleh Manager PLN UP3 Rantauprapat, Dwita Aswiyanti Syafitri beserta jajaran manajemen, yang disambut hangat oleh Wali Kota Tanjungbalai, H. Mahyaruddin Salim B., bersama jajaran Pemerintah Kota.

Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis PLN untuk menjalin sinergi yang solid dengan pemerintah daerah, sekaligus sebagai bentuk komitmen PLN dalam menyediakan listrik yang andal dan mendukung pembangunan daerah.

Dalam pertemuan tersebut dilakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PLN UP3 Rantau Prapat dan Pemerintah Kota Tanjung Balai, serta juga membahas sejumlah isu penting terkait pelayanan kelistrikan di Kota Tanjungbalai, di antaranya: Implementasi Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT), Program metering (meterisasi), Evaluasi waktu pemeliharaan dan layanan gangguan kelistrikan, serta kelancaran pembayaran listrik tepat waktu.

Dwita Aswiyanti Syafitri menyampaikan bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara PLN dan Pemerintah Kota demi mendukung kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan pembangunan daerah.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan seluruh jajaran atas sambutan serta dukungannya kepada PLN. Kolaborasi yang baik dengan pemerintah daerah akan sangat membantu PLN dalam mewujudkan layanan kelistrikan yang andal dan berkelanjutan, khususnya di wilayah Kota Tanjung Balai,” ujar Dwita.

Sementara itu, Wali Kota Tanjungbalai, H. Mahyaruddin Salim B, turut menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan kontribusi PLN dalam menjaga kualitas pelayanan listrik di daerahnya.

Ia juga menyampaikan gambaran tentang kondisi wilayah dan fokus pembangunan Kota Tanjungbalai yang tertuang dalam visi Tanjung Balai EMAS (Elok, Maju, Agamis, dan Sejahtera).

“Kami mengapresiasi upaya PLN dalam meningkatkan pelayanan kelistrikan. Alhamdulillah, durasi pemadaman di kota kami sudah mulai menurun. Listrik adalah kebutuhan dasar dan menjadi faktor penting dalam mendukung roda ekonomi serta kesejahteraan masyarakat. Sinergi ini sangat dibutuhkan dan harus terus dijaga,” ungkap Mahyaruddin.

Sebagai bentuk dukungan terhadap inisiatif ini, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Utara, Agus Kuswardoyo, menyampaikan komitmennya untuk terus mendorong sinergi antara PLN dan pemerintah daerah demi terciptanya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

“PLN hadir tidak hanya sebagai penyedia energi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah. Kami sangat mengapresiasi langkah PLN UP3 Rantauprapat dan dukungan penuh dari Pemerintah Kota Tanjungbalai. Sinergi ini menjadi kunci dalam mewujudkan layanan listrik yang semakin baik dan mendukung tercapainya visi pembangunan daerah,” ujar Agus Kuswardoyo.

Pertemuan tersebut ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen bersama dalam membangun kerja sama yang kuat dan berkelanjutan. Melalui sinergi ini, PLN optimis dapat terus menghadirkan terang bagi masyarakat sekaligus mendorong kemajuan Kota Tanjung Balai secara menyeluruh. (ila)

Puji Sihoda, Penrad Siagian Desak Pemerintah Beri Dukungan Nyata untuk Sanggar Budaya

JAKARTA, SUMUTPOS.CO- Pendiri Sanggar Tari Simalungun Home Dancer (Sihoda), Laura Tias Avionita Sinaga, menemui Anggota DPD RI Pendeta Penrad Siagian di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (17/4/2025). Sihoda dinobatkan sebagai penerima penghargaan kategori Puspa Pesona dari Kompas TV atas kiprah dalam pelestarian budaya Simalungun di tingkat nasional hingga internasional, sehari sebelumnya, Rabu (16/4/2025).

Dalam pertemuan tersebut, Laura turut didampingi Staf Ahli Anggota DPD dari NTT yang juga putra Simalungun. Laura memaparkan sejarah berdirinya sanggar yang dirintis sejak 2014 ketika ia masih berkuliah.

Menurutnya, Sihoda dibentuk dengan niat kuat untuk mengembangkan seni tari tradisional Simalungun agar dapat menjangkau khalayak lebih luas. “Itu bisa kita kembangkan agar yang menyaksikan dan menyukai juga tidak hanya orang-orang Simalungun, kalau bisa pasarnya kena ke tingkat nasional bahkan internasional. Itu tujuan utamanya,” kata Laura.

Laura menyebut sanggarnya aktif mengikuti berbagai festival dalam dan luar negeri. “Kita memang membawa nama Indonesia, tetapi tarian yang kita bawa itu tarian Simalungun dan budaya,” ujar Laura.

Kendati telah tampil di panggung internasional, Laura mengaku sanggarnya masih kekurangan dukungan fasilitas dari pemerintah daerah. Ia berharap ada kebijakan konkret dari Pemkot Pematangsiantar dan Pemkab Simalungun untuk menyediakan wadah kesenian yang lebih layak bagi sanggar-sanggar budaya.

Laura juga mengusulkan pembentukan lembaga khusus untuk menaungi sanggar-sanggar seni agar tidak saling berebut ruang tampil. “Mungkin harapannya ke depan, ini bukan untuk kami sendiri tapi semua sanggar yang ada di Siantar-Simalungun. Bila perlu dibuat saja seperti lembaga kesenian yang memang khusus untuk menangani sanggar-sanggar,” ujarnya.

Ia juga menanggapi pertanyaan publik yang mempertanyakan alasan Sihoda mengikuti festival di luar negeri. Menurutnya, keikutsertaan dalam ajang internasional bukan sekadar tampil, tapi juga menjadi sarana edukasi budaya Simalungun. “Bahkan sewaktu di Turki tahun 2022, rumah adat miniatur Simalungun dan pakaian adat diletakkan di museum yang ada di sana,” ujarnya.

Terkait pendanaan, Laura menyebut mereka mengandalkan dana swadaya dan cara-cara kreatif seperti pertunjukan jalanan.

Menanggapi paparan tersebut, Anggota DPD RI, Pendeta Penrad Siagian menyatakan apresiasinya terhadap perjuangan Laura dan Sihoda dalam menjaga budaya Simalungun. “Saya bangga ada generasi muda seperti Laura, yang terus memikirkan budaya dan adat istiadat secara khusus Simalungun. Laura tidak ingin kultur adat istiadat, budaya secara khusus berhenti begitu saja,” kata Penrad.

Ia menyebut, konsistensi Laura dalam menghidupkan Sihoda menjadi alasan utama Kompas memberikan penghargaan Anugerah Puspa Pesona tersebut. “Laura adalah salah satu pejuang kebudayaan. Konsistensi Laura bersama Sihoda inilah yang membuat Kompas memberikan penghargaan Anugerah Puspa Pesona,” lanjutnya.

Penrad menilai, peran Sihoda sangat penting di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi budaya asing yang kian masif di kalangan generasi muda. “Di tengah era globalisasi ini, di mana pertukaran budaya sangat cepat, tidak jarang banyak budaya-budaya bangsa ini akhirnya tergerus kemudian lambat laun hilang apalagi generasi sekarang sudah hidup di tengah era digital ini dicekoki dengan budaya-budaya asing melalui media sosial,” ujarnya.

Ia menyebut keberadaan Sihoda sebagai “penjaga gawang kebudayaan” yang strategis dan perlu mendapat perhatian dari pemerintah. “Posisi Sihoda ini adalah posisi yang sangat strategis sekali menjadi penjaga gawang kebudayaan Indonesia secara khusus Simalungun. Saya pikir pemerintah termasuk pemerintah Provinsi Sumatra Utara (Sumut), Pemkot Siantar, dan Pemkab Simalungun harus melihat posisi strategis ini, sehingga kelompok-kelompok komunitas seperti Sihoda ini dapat dijadikan suatu prioritas dalam membangun karakter Siantar-Simalungun,” kata Penrad.

Ia pun mendesak agar Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Sumut serta para kepala daerah memberi dukungan konkret terhadap Sihoda. “Saya berharap Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (DISBUDPAREKRAF) Provinsi Sumut, Bupati Simalungun, dan Wali Kota Pematangsiantar memberikan perhatian serius ke depan baik secara materiel maupun imateriel. Hal ini untuk memajukan kebudayaan sehingga karakter Siantar-Simalungun tetap memiliki nuansa-nuansa kearifan lokal dan budaya, di mana Simalungun adalah salah satu bagian dari daerah ini,” tuturnya.

Penrad juga menyatakan komitmennya untuk mengajak Sihoda dalam agenda resmi bersama kepala daerah. “Ke depan saya akan bertemu Bupati Simalungun dan Wali Kota Siantar. Saya akan membawa Sihoda ini bersama saya, sehingga Sihoda lebih diberikan ruang dan peran sebagai pionir dalam menjaga kebudayaan Simalungun,” ujarnya.

Lebih lanjut, Senator asal Sumut ini turut mengapresiasi semangat generasi muda seperti Laura yang masih mau menghidupi nilai-nilai budaya lokal. “Saya sangat mendukung ini karena sudah tidak banyak lagi anak-anak muda yang mau menghidupi, menggeluti, menjaga, dan mengembangkan nilai-nilai budaya mereka. Ini harus dilihat sebagai bagian potensi besar bagi kebudayaan Simalungun, Suku Simalungun, Kabupaten Simalungun, dan Kota Siantar,” ucap Penrad.

“‘Dari Simalungun untuk Indonesia’, saya pikir inilah salah satu jalannya melalui pentas-pentas budaya dan seni memperkenalkan Simalungun. Sihoda harus dijadikan jalan atau strategi untuk memperkenalkan Simalungun, tidak hanya di panggung nasional tapi sampai ke panggung internasional. Kita akan terus mendukung Sihoda untuk terus maju dan bertahan di tengah gempuran era globalisasi ini,” pungkas Penrad. (adz)