IST
MoU: Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan didampingi Sri Wahyuni dan Dedi P Siagian saat melakukan MoU.
IST MoU: Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan didampingi Sri Wahyuni dan Dedi P Siagian saat melakukan MoU.
TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Wali Kota Tebingtinggi Umar Zunaidi Hasibuan atas nama Pemerintah Kota Tebingtinggi melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Senin (15/7).
Nota kesepahaman ini bertujuan untuk mewujudkan kepedulian dan partisipasi Pemerintah Kota Tebingtinggi dan LIPI dalam memberikan sumbangsih pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“MoU ini untuk meningkatkan potensi daerah dan daya saing daerah secara optimal melalui penelitian, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan di Kota Tebingtinggi,”ujar Kadis Kominfo Tebingtinggi Dedi P Siagian, yang mendampingi Wali Kota bersama Kadis PMK, Sri Wahyuni.
Dijelaskan Siagian, ruang lingkup nota kesepahaman ini mencakup penelitian, pengkajian, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk pengembangan dan pemanfaatan produk unggulan desa, serta pemanfaatan sumber daya alam, pengembangan wilayah terpadu, peningkatan kapasitas SDM, pertemuan ilmiah seminar publikasi, tukar menukar dan pemanfaan data dan informasi.
Penandatanganan perjanjian kerja sama antara Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (PMK) Kota Tebingtinggi dengan Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna LIPI perihal Diseminasi hasil pemetaan, penelitian, pengembangan dan pemanfaatan potensi inovasi teknologi tepat guna unggulan di Pemerintah Kota Tebingtinggi.”Perjanjian kerja sama ini juga diharapkan memberikan manfaat bagi Pemerintah Kota Tebingtinggi dalam pemanfaatan dan pengembangan potensi daerah melalui inovasi teknologi tepat guna unggulan,”terang Siagian. (ian/han)
IST
PENGHARGAAN:Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengucapkan selamat saat memberikan penghargaan kepada petani dan nelayan pada kegiatan Pekan Daerah (PEDA) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tingkat Provinsi Sumatera Utara ke IV Tahun 2019, di Desa Melati II Kecamatan Perbaungan.
IST PENGHARGAAN:Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengucapkan selamat saat memberikan penghargaan kepada petani dan nelayan pada kegiatan Pekan Daerah (PEDA) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tingkat Provinsi Sumatera Utara ke IV Tahun 2019, di Desa Melati II Kecamatan Perbaungan.
SERDANG BEDAGAI, SUMUTPOS.CO – Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi membuka Pekan Daerah (PEDA) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tingkat Provinsi Sumut ke IV Tahun 2019, di Desa Melati II Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai), Selasa (16/7).
Acara yang akan berlangsung hingga 19 Juli 2019 ini mengusung tema “Memantapkan Penguatan Potensi dan Posisi Tawar Komoditi Lokal Untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan Berkelanjutan Menuju Sumatera Utara Yang Agraris dan Bermartabat”.
Dihadiri sedikitnya 1.500 peserta yang terdiri atas para petani, nelayan, penyuluh, mahasiswa, peneliti, dari seluruh kabupaten/kota se-Sumut.
PEDA KTNA kali ini juga diisi dengan berbagai acara menarik, di antaranya pameran pertanian yang menyajikan 52 stan produk dari daerah kabupaten/kota Sumut. Ada juga rembuk kelompok KTNA, studi banding, festival seni budaya Sumut, kegiatan olahraga, cerdas cermat dan ramah tamah.
Pada kesempatan itu, Edy Rahmayadi menegaskan, menjadikan Sumut yang agraris akan selalu menjadi prioritas utamanya, termasuk mensejahterakan kehidupan para petani dan nelayan. Untuk itu, berbagai strategi saat ini sedang disusun untuk menggenjot produksi pertanian Sumut.
Salah satunya, kata Edy, dengan memetakan produk-produk unggul tiap daerah kabupaten/kota Sumut. Misalnya dari sektor peternakan, Kabupaten Langkat dan Karo fokus pada ternak sapi, Humbang Hasundutan ternak kerbau, Batubara dan Sergai ternak domba.
“Dari ternak-ternak ini juga nantinya kita kembangkan pabrik kompos. Jadi kotorannya dimanfaatkan untuk pabrik kompos. Nah, hal-hal seperti ini yang saat ini sedang kita kembangkan. Strategi dan manajeman pertanian/peternakan yang sistematis,” ujar Edy yang hadir bersama Ketua TP PKK Sumut, Nawal Edy Rahmayadi.
Gubsu juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh petani dan nelayan yang hadir. “Tanpa kalian, bubar negara kita ini. Kalian adalah garda utama yang memperjuangkan ketersediaan dan ketahanan pangan,” ujarnya.
Namun Edy menyayangkan, saat ini banyak para petani dan nelayan yang memilih beralih pekerjaan. Mulai banyak yang memilih untuk menjual sawah dan kebun untuk membeli kendaraan dan menjadi pengendara ojek online, karena dianggap lebih praktis.
“Negara kita adalah negara agraris dan maritim. Tak boleh kita kehabisan petani dan nelayan, ujung-ujungnya nanti kita impor semua. Kalau sudah impor, kita akan terus bergantung kepada negara lain. Kalau makan saja bergantung, bagaimana kita mau maju?” tegas Edy.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sumut Dahler selaku Ketua Panitia PEDA KTNA menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk menjadi ajang silaturahmi bagi petani dan nelayan se-Sumut sekaligus ajang mempertunjukkan inovasi produk pertanian kabupetan/kota Sumut.
“Selain itu, PEDA ini juga menjadi bentuk persiapan kita untuk mengikuti Pekan Nasional (Penas) XVI tahun 2020 di Padang. Semoga nantinya kontingen Sumut akan menjadi kontingen yang memperoleh penghargaan di acara Penas,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Serdang Bedagai Soekirman mengucapkan selamat datang kepada Gubernur dan rombongan, serta para peserta PEDA. Dirinya mengaku merasa terhormat daerahnya bisa menjadi lokasi pelaksanaan PEDA dan menerima peserta saat ini sebagian besar menetap di rumah warga.
“Serdang Bedagai ini sejak dulu khususnya lokasi pelaksanaan PEDA saat ini dikenal sebagai desa pertanian. Banyak produk pertanian kita Pak, semua ada di sini. Untuk gabah, kita surplus 25 persen,” tuturnya.
Pembukaan PEDA ditandai dengan pemukulan gong oleh Gubernur Edy Rahmayadi. Kemudian dilakukan peninjauan beberapa stan produk pertanian dan pemberian penghargaan pada petani teladan, serta bantuan bagi kelompok tani dan nelayan. (prn/sur)
ADITIA LAOLI/SUMUT POS
LANGKAH: Pupuk bersubsidi menumpuk di gudang CV Deepa Sejahtera yang beralamat di Jalan Yos Sudarso, Desa Moawo, Kecamatan Gunungsitoli.
ADITIA LAOLI/SUMUT POS LANGKAH: Pupuk bersubsidi menumpuk di gudang CV Deepa Sejahtera yang beralamat di Jalan Yos Sudarso, Desa Moawo, Kecamatan Gunungsitoli.
GUNUNGSITOLI, SUMUTPOS.CO – Puluhan petani di Desa Tetehosi Afia, Kecamatan Gunungsitoli Utara, mengeluhkan langkahnya pupuk di pasaran. Kondisi itupun mengakibatkan tanaman mereka gagal panen. Ironisnya, di beberapa pedagang pengecer pupuk bersubsidi dijual dengan harga tinggi.
Salah seorang petani di Desa Tetehosi Afia, Ama Efi Zega, mengungkapkan biasanya pengadaan pupuk bersubsidi di desa mereka dikelola UD Beni. Meski uang diberikan uang, namun pupuk yang mereka pesan tak kunjung datang.
“Bulan Mei lalu kami serahkan uang, namun karena pupuk tak kunjung datang terpaksa kami tarik kembali uangnya. Alasan UD Beni pupuk belum datang, sementara padi kami saat ini sudah berumur 6 minggu, butuh pupuk. Kami juga tak tau apa masalah sehingga pupuk langkah, padahal kami dengar info kalau pupuk banyak di gudang,”beber Ama Efi Zega, yang juga Ketua Kelompok Tani Fajar, Senin (15/7). Diakui Zega, padi yang ditanam oleh petani di desanya tampak kurus dan berwarna kekuningan karena ketiadaan pupuk.
Sementara itu, belum lama ini, saat Sumut Pos menyambangi gudang pupuk milik CV Deepa Sejahtera di Jalan Yos Sudarso, Desa Moawo, Kecamatan Gunungsitoli. Menurut pengakuan salah seorang penjaga gudang, stok pupuk di dalam gudang terdapat 1.400 ton.
“Soal kelangkaan pupuk tidak urusan kami bang, kami hanya penjaga gudang. Urusan distribusi ada yang menangani. Banyak juga warga nanya ke sini untuk beli pupuk, tapi kami tidak bisa melayani mereka,”ujar penjaga gudang yang tak mau menyebutkan namanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Gunungsitoli, Oimonaha Telaumbanua yang ditemui Sumut Pos di kantornya, Kamis (11/7), mengaku jika informasi kelangkaan pupuk tersebut belum diketahuinya.
Namun Telambanua meyakinkan, jika kelangkaan pupuk tersebut disebabkan ulah distributor yang akan dilaporkannya ke Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara.
“Sampai sekarang saya belum dapat pengaduan, bagusnya kelompok tani buat surat kepada saya. Dan dasar itu nanti saya laporkan. Sebab, Kadis Pertanian Provsu yang berhubungan langsung dengan produsen pupuk,”terangnya.
Oimonaha menjelaskan, Sesuai Rencana Defenitif Kebutuhan Pupuk (RDKK) penyeluran pupuk hingga sampai ke tangan petani, merupakan tanggung jawab distributor sampai ke pengecer. Selanjutnya, pengecerlah yang berurusan kepada para kelompok tani.(adl/han)
Foto: Pran Hasibuan/Sumut Pos MAKAN: Peserta program Taiwan Familiarization Tour for Indonesian Media & KOL saat menyantap makanan halal di Restoran Yunus yang terletak di pusat kota Taipei.
SUMUTPOS.CO – Sejak tahun 2016 yang lalu, pemerintah Taiwan sudah mengalakkan wisata halal. Wisata halal dalam hal ini bukan hanya terkait kuliner lho, hotel dan resort juga menyediakan perlengkapan ibadah untuk umat muslim, seperti sajadah, kitab suci, dan tanda kiblat.
Awal Juli 2019, Sumut Pos
berkesempatan menjelajah Taiwan dalam program Taiwan
Familiarization Tour for Indonesian Media & KOL. Selama satu minggu berada
di negara berjuluk The Heart of Asia itu, selain diajak berkeliling ke sejumlah
objek wisata terfavorit, Sumut Pos beserta rombongan dikenalkan dengan
tempat-tempat makan ternikmat khas Taiwan dan tentunya berlabel halal untuk
dikonsumsi para traveller muslim.
Hampir seluruh lokasi makanan
dan minuman yang kami sambangi, baik di restoran ataupun resort, terbukti ada
menyediakan label halal dalam setiap penyajiannya. Bahkan pada resort-resort
tempat kami menginap, terpajang lisensi halal dari Islamic Association of
Taiwan atau kalau di Indonesia seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tak
sekadar halal, cita rasa makanan yang ada di Taiwan juga dapat menggetarkan
lidah alias nikmat sekali.
Pemandu Wisata Taiwan, Adi
Carlo yang memandu peserta tour selama di Taiwan mengungkapkan, beberapa tahun
lalu sangat susah mencari menu makanan halal untuk wisatawan muslim. “Di Taipei
saja hanya ada dua restoran muslim. Sekarang sudah mulai banyak,”
katanya.
Dirinya menjelaskan, kini ada
tiga jenis restoran untuk wisatawan muslim yang mencari makanan halal. Ketiga
jenis tersebut adalah muslim restaurant (MR), muslim friendly restaurant (MFR),
dan halal menu including (HMI). “Tiga-tiganya diakui oleh pemerintah dan
memiliki license dari Islamic Association of Taiwan yang mana harus diperbarui
setiap tahun sekali,” imbuh Adi.
Foto: Pran Hasibuan/Sumut Pos RESTORAN HALAL: Restoran halal di Taipei, Taiwan, yakni Yunus Restaurant Halal dan Halal Bismillah Restaurant. Sangat mudah menemukan restoran berlabel halal di Taiwan.
Untuk MR, makanan yang
disajikan memang dikhususkan untuk umat muslim sehingga tidak ada menu lain
yang tidak halal. Lalu untuk MFR, menu makanan dimasak dalam wadah terpisah dan
koki yang memasaknya berbeda dengan menu lain. Terakhir untuk restoran HMI koki
yang memasak tetap orang lokal, namun bahan-bahan yang digunakan seperti daging
diimpor khusus dan sudah memiliki label halal.
Meski banyak hotel dan
restoran yang ramah terhadap pelancong muslim, Adi Carlo mengingatkan tak semua
tempat makan menyediakan hidangan halal, terutama jajanan pinggir jalan alias
street food yang menjadi salah satu ciri khas jika ingin wisata kuliner di
Taiwan. Pria kelahiran Jakarta yang sudah 21 tahun tinggal di Taiwan itu
berbagi tip untuk Anda yang menghindari makanan haram, terutama babi, ketika
berkunjung ke negara ini.
Menurutnya, hapalkan bahasa
masyarakat setempat ketika menyebut babi. “Di sini babi disebut ‘cu rou’,
‘cu rou ma?’, artinya ‘apakah ini babi?'” katanya, Rabu, 3 Juli 2019.
Kalau pedagang menggelengkan kepala, silakan mencoba makanan tersebut.
Pertanyaan ‘cu rou ma” ini tak hanya untuk hidangan daging. Adi
menyarankan untuk bertanya juga bahan kuah dan saus yang mereka sediakan.
Masyarakat di Taiwan lebih sering menyajikan kuah dari daging babi ketimbang
sapi. “Kalau kuahnya terbuat dari daging sapi biasanya ditulis, kalau dari
babi tak ditulis,” ucap dia.
Begitu juga dengan saus.
Masyarakat Taiwan kerap menggunakan daging babi cincang untuk ditaruh di saus.
Adapun untuk minyak, Adi Carlo mengatakan pelancong muslim tak perlu khawatir.
“Di sini jarang menggunakan minyak babi karena harganya lebih mahal dan
cepat tengik,” ujarnya.
Tak hanya di Taipeii, makanan
halal sangat mudah dijumpai di Taitung, sisi timurnya Taiwan. Kami sempat
mencoba kuliner halal khas suku asli di sana. Salah satu resto yang menyajikan
makanan halal di Taitung adalah Mibaai Restoran yang terletak di Taitung City,
Chuan Guang Road No 470. Jarak tempuhnya pun tak begitu jauh dari Bandara
Taitung. Di resto ini kami sempat mencicipi pinang dan rebung muda yang
disajikan dalam khas masakan aborigin. Pada makanan penutup ada manisan bunga
rosela yang sangat familiar bagi penduduk lokal.
Foto: Pran Hasibuan/Sumut Pos SIAP SAMBUT: Direktur Pengembangan Bisnis Promisedland Resort, Gladys Chan siap menyambut wisatawan muslim di resort mereka yang sudah berlabel wisata halal.
Makanan halal juga banyak
dijumpai di Taiwan Timur lainnya yakni di Kota Hualien. Sebagai kota dengan
jumlah penduduk sekitar 300 ribuan, Hualien sangat siap menyambut wisatawan
muslim. Terlihat, dari sisi penginapan, hotel di Hualien sudah
mengklasifikasikan makanan untuk muslim. Salah satunya, Promisedland Resort
yang terletak di Lembah Rift. Di hotel yang berkonsep Spanyol ini, wisatawan
bisa bersantap kuliner dengan kombinasi antara masakan Cina dan prasmanan gaya
Barat. Hidangan disiapkan menggunakan bahan-bahan produk organik lokal dari 13
kota di Hualien.
Standar halal juga diikuti
dengan cermat mulai dari peralatan dapur, bahan makanan hingga makanan itu siap
untuk disajikan. Staf restoran dan staf dapurnya juga telah menerima berbagai
pelatihan. Dalam kamar resort, mereka turut menyediakan sajadah dan Alquran bagi
wisatawan muslim.
Dibandingkan Taipeii, resto
yang menyediakan makanan halal di Hualien dan Taitung sebenarnya masih lebih
sedikit. Hanya saja bedanya, jika wisatawan hanya berkunjung ke Taipeii, maka
cuma bisa menikmati gedung-gedung tinggi. Sementara di Hualien dan Taitung,
wisatawan bisa menikmati panorama alam, hutan, tebing dan pantai.
Bagi Anda yang berniat mengunjungi Taiwan dalam waktu dekat dan mencari informasi tentang restoran yang menyajikan menu halal, Anda bisa membuka situs http://www.iat.org.tw/index_files/halalrestaurants.htm. Semua informasi menyangkut jenis restoran dan alamatnya tertera di sana. So, bagi traveller muslim terkhusus Indonesia, tunggu apalagi saatnya berkunjung ke Taiwan! (prn/ram)
ist
TEKEN MOU: Kadinkes Asahan, Aris Yudhariansyah dan Dekan FKM UINSU, Azhari Akmal Tarigan bertukar cenderamata usai melakukan MoU untuk menekan kasus penyakit malaria di Kabupaten Asahan, Senin (8/7).
ist TEKEN MOU: Kadinkes Asahan, Aris Yudhariansyah dan Dekan FKM UINSU, Azhari Akmal Tarigan bertukar cenderamata usai melakukan MoU untuk menekan kasus penyakit malaria di Kabupaten Asahan, Senin (8/7).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan semakin mempertegas komitmennya dalam hal pelayanan kesehatan dan menekan angka kasus penyakit malaria. Sebagai wujud komitmen tersebut, Dinkes Asahan menjalin kerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (FKM-UINSU).
Penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dilakukan langsung Kadinkes Asahan, Aris Yudhariansyah dan Dekan FKM UINSU, Azhari Akmal Tarigan, di Kantor Dinkes Asahan pada 8 Juli 2019 lalu.
“MoU ini merupakan bentuk keseriusan Dinkes Asahan untuk membangun Kabupaten Asahan khususnya di bidang kesehatan. Kami berharap melalui kerja sama dengan FKM UINSU di bidang kesehatan, Kabupaten Asahan berkembang cepat,” ujar Kadinkes Asahan, Aris Yudhariansyah kepada wartawan, Selasa (16/7).
Tujuan lain dari kerja sama ini ke depan, ungkap Aris, guna mensinergikan misi FKM UINSU yang menciptakan pembangunan kesehatan masyarakat wilayah pesisir. Menurutnya, visi tersebut saling berkaitan dengan visi Pemkab Asahan, yaitu mewujudkan masyarakat Asahan yang religius, sehat, cerdas dan mandiri.
“Disamping itu kami terus berkomitmen menurunkan kasus malaria di Asahan, dengan konsep health promotion dan pemberdayaan masyarakat. Sebab wilayah Asahan dengan garis pantai 30 km², merupakan endemi malaria,” katanya.
Untuk diketahui, Pemkab Asahan melalui Dinas Kesehatan Asahan pada 2014-2016 meraih penghargaan dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, atas upaya dan komitmen dalam menurunkan kasus malaria hingga 75 persen. Implementasi dari penghargaan ini terus konsisten dilakukan Dinkes Asahan hingga kini.
Aris mengungkapkan, dari tiga tahun belakangan (2016-2018), angka kasus malaria terus menunjukkan tren menurun di Kabupaten Asahan. Sebagai rinciannya, pada 2016 terdapat ada 688 kasus, 2017 menurun jadi 469 kasus dan di 2018 turun lagi menjadi 217 kasus. “Melalui kerja sama dengan FKM UINSU ini, angka kasus malaria di Kabupaten Asahan dalam waktu akan datang juga akan semakin menurun,” pungkasnya.
Terpisah, Dekan FKM UINSU Azhari Akmal Tarigan menyambut baik dari MoU yang terlaksana dengn Dinkes Asahan. Dikatakannya, sesuai dengan visi dan misi pihaknya yakni unggul dalam mewujudkan masyarakat pembelajaran di bidang kesehatan di wilayah masyarakat pesisir.
Ia menyampaikan, bahwa PBL FKM UINSU kali ini fokus pada persoalan masyarakat pesisir yang begitu kompleks, mengingat pesisir merupakan wilayah yang mempunyai kemampuan daya urai yang sangat terbatas. Karena itu, katanya, masyarakat sekitar rentan terkena penyakit. “Kehadiran mahasiswa PBL FKM UIN-SU setidaknya mampu mengurangi persoalan tersebut, disamping menambah khazanah Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya berbasis penelitian di wilayah pesisir,” ujarnya.
Sebagaimana yang telah direncanakan, PBL mahasiswa FKM UIN-SU akan dimulai pada 22 Juli 2019 di Asahan, Batu Bara dan Kota Tanjungbalai. Sebelumnya, MoU yang sama juga sudah dijalin dengan Pemko Tanjungbalai. Itu sebabnya, katanya, Dinkes Asahan menjadi salah satu lembaga yang diajak kerja sama dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Kita merasa terbantu. Ini adalah yang kedua kalinya kerja sama UINSU setelah Dinas Kesehatan Langkat. Kita mengirimkan sekitar 150 mahasiswa untuk melakukan praktek belajar lapangan atau PBL,” ujarnya.
Seperti yang dipaparkan Kadinkes Asahan, Aris Yudhariansyah, Akmal menjelaskan, bahwa problem kesehatan masyarakat pesisir yang menjadi perhatian seperti soal gizi, sanitasi, serta merebaknya penyakit demam berdarah dan malaria. Nantinya, para mahasiswa itu akan ditempatkan di puskesmas. Dari sanalah, katanya, mahasiswa yang mengikuti PBL akan turun ke masyarakat dengan mengikuti program posyandu, 1.000 hari kelahiran dan lainnya.
“Saat ini kita memiliki lebih dari 1.000 mahasiswa. Melalui kerja sama ini, kita sekaligus mendapat masukan, tentunya untuk mewujudkan masyarakat pesisir yang sehat,” pungkasnya. (prn/han)
BINJAI, SUMUTPOS.CO – Kejaksaan Negeri Binjai menggelar sejumlah kegiatan untuk memeriahkan Peringatan HUT ke-59 Bhakti Adhyaksa dan Hut Ikatan Adhyaksa Dharmakar, Selasa (16/7). Sejumlah kegiatan digelar Kejari Binjai. Mulai dari Pekan Olahraga Adhyaksa 2019 yang memperebutkan tropi Kajari Binjai, donor darah dan deteksi dini penyakit kanker serviks melalui metode IVA.
POR yang dipertandingkan empat cabang olahraga. Meliputi tenis meja, domino, catur dan ludo. “Kegiatan bakti sosial terlaksana atas kerja sama Kejari Binjai dengan RSUD Djoelham,” kata Ketua Panitia HUT Bhakti Adhyaksa, Fahmi Jalil.
Selain baksos, Kejari Binjai juga melaksanakan kegiatan penghijauan dan pembuatan lubang resapan air di lingkungan kantornya. Kajari Binjai, Victor Antonius Saragih Sidabutar membeberkan, penyidik Tindak Pidana Korupsi saat ini fokus menangani 3 tiga perkara dugaan korupsi di Kota Binjai.
Seperti dugaan korupsi pengadaan alat peraga untuk Pileg dan Pilpres 2019 oleh KPU Binjai Tahun Anggaran 2018, dugaan pemberian fasilitas kredit dengan jaminan fiktif di Bank Syariah Mandiri Cabang Jalan Ahmad Yani Medan Tahun Anggaran 2018 dan dugaan korupsi penggelembungan anggaran di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Binjai TA 2018.
“Dari penanganan ketiga perkara, satu perkara sudah masuk tahap penyidikan khusus. Dua perkara lagi, statusnya dinaikkan dalam minggu ini,” kata mantan Kajari Kuala Tungkal ini.
Namun hingga kini, perkara yang sudah tahap diksus belum ada ditetapkan tersangka oleh penyidik. Selain beberkan soal penanganan perkara Pidana Khusus, Victor juga mengenalkan penggunaan Aplikasi e-TP4D Kejari Binjai.
Victor menjelaskan, aplikasi itu merupakan layanan publik sistem daring yang sengaja dibuat untuk memudahkan masyarakat mengakses berbagai informasi dan program pelayanan publik pada lingkung Kejari Binjai. Dalam hal ini, kata dia, sub aplikasinya meliputi layanan e-Tilang, e-TP4D, e-Tamu dan e-Simbat (Sistem informasi manajemen birokrasi terintegrasi) yang masih dalam tahap percobaan.
“Peluncuran Aplikasi e-TP4D merupakan jawaban atas kebutuhan masyarakat era digital serta solusi praktis dalam memenuhi kebutuhan informasi layanan kejaksaan melalui media daring,” tandas mantan Kasubdit Tipikor Jampidsus Kejagung ini. (ted)
BAMBANG/SUMUT POS
DIABADIKAN: Sekda Langkat dr Indra Salahudin diabadikan bersama kontingen Peda KTNA Langkat sebelum dilepas mengikuti Peda IV di Sergai.
BAMBANG/SUMUT POS DIABADIKAN: Sekda Langkat dr Indra Salahudin diabadikan bersama kontingen Peda KTNA Langkat sebelum dilepas mengikuti Peda IV di Sergai.
LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Bupati Langkat Terbit Rencana PA melalui Sekdakab Langkat, dr Indra Salahuddin, melepas keberangkatan kontingen peserta lomba Pekan Daerah (PEDA) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pekan ke IV tahun 2019 tingkat Provsu, di Halaman Kantor Bupati Langkat, Stabat, Senin (15/7).
Sekda berpesan, agar para kontingen dapat menjaga nama baik Kabupaten Langkat saat mengikuti PEDA IV.
“Jagalah nama baik negri bertuah ini dengan bersifat santun dan ramah kepada peserta lainnya. Selain itu, upayakan event ini untuk menambah silaturahmi dan persaudaraan,” sarannya.
Sekda juga mendoakan, agar para peserta lomba KTNA Langkat, dapat meraih prestasi yang membanggakan pada PEDA IV. Sehingga melalui event ini, Kabupaten Langkat menjadi harum namanya sampai ke pelosok daerah yang ada di Sumut.
Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Langkat, Nasaruddin menjelaskan, peserta lomba Peda Langkat yang dikirim sebanyak 60 orang, terdiri dari 40 peserta dan 20 pendamping, untuk pertandingannya digelar mulai 15-19 Juli 2019 di Desa Melati, Kecamatan Pembangunan, Kabupaten Serdang Bedagai.
“Event tersebut memperlombakan 5 bidang perlombaan, dengan 23 jenis kegiatan. Di antaranya bidang pengembangan teknologi dan kualitas produk agribisnis, untuk jenis kegiatan di antaranya gelar dan temu teknologi, temu karya, kunjungan lapangan dan peragaan, unjuk tangkas dan asah terampil,” paparnya.
Turut mendampingi Sekda saat pelepasan, Asisten II Ekbangsos, Kabag Perekonomian Setdakab Langkat, serta sejumlah pejabat Pemkab Langkat lainnya. (bam/han)
teddy/SUMUT POS
DESAK: Petugas kepolisian menghadang sejumlah alumni SMAN 6 Binjai melakukan unjukrasa untuk mendesak Kasek SMAN 6 Binjai berinsial IP dicopot dari jabatannya, Senin (15/7).
Teddy/SUMUT POS DESAK: Petugas kepolisian menghadang sejumlah alumni SMAN 6 Binjai melakukan unjukrasa untuk mendesak Kasek SMAN 6 Binjai berinsial IP dicopot dari jabatannya, Senin (15/7).
BINJAI, SUMUTPOS.CO – Kalangan DPRD Sumut mengaku telah mengeluarkan rekomendasi kepada Gubsu untuk mencopot jabatan Ika Prihatin selaku Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Binjai. Ketua Komisi A DPRD Sumut, Muhri Fauzi membenarkan telah mengeluarkan surat rekomendasi yang dibubuhi tandatangannya.
Diceritakan Muhri Fauzi, awal mulanya aspirasi datang hingga menerbitkan surat rekomendasi tersebut. “Pada Maret, ibu guru dan alumni (SMAN 6 Binjai), datang menghadap saya. Mereka menceritakan semua. Karena itu, saya buat rekomendasi sama Kepala Dinas Pendidikan untuk menghentikan jabatan kepala sekolah,” beber Muhri, Selasa (16/7).
Dia menegaskan, surat rekomendasi dari kalangan legislatif Sumut ini sah. Bukan surat kaleng. “Surat dari Ketua Komisi A agar Pemprovsu melalui Disdik untuk melakukan evaluasi (terhadap Kasek SMAN 6 Binjai),” tegas dia.
Meski demikian, menurut dia, surat rekomendasi yang dikeluarkan hingga kini belum mendapat respon dari Disdik Sumut maupun UPT Disdik Binjai-Langkat, yang akhirnya berujung aksi demo sejumlah alumni SMAN 6 Binjai.
“Gubsu jangan mengabaikan surat itu. Sebab surat keluar menyahuti aspirasi yang datang kepada kita. Gubsu harus perhatikan keadaan ini,” ujarnya. Menanggapi hal ini, Kasek SMAN 6 Binjai, Ika Prihatin yang mulanya sulit dikonfirmasi menampik tudingan para alumni.
Menurutnya, persoalan ini sudah direspon oleh UPT Disdik Binjai-Langkat. Dia menepis semua tudingan yang ditujukan kepadanya. Bahkan, dia menuding alumni memperkeruh dengan melakukan provokasi. “Alumni juga kemampuan integritasnya tidak ada. Merokok mereka di dalam ruangan. Apakah pendidikan yang baik itu. Sore hari, terlihat merokok. Terpantau karena simulasi UNBK,” tandasnya.
Sebelumnya, Kasek SMAN 6 Binjai Ika Prihatin diduga bertindak semena-mena terhadap para guru. Ika diduga melakukan intervensi kepada para guru.
Selain intervensi, Ika juga melakukan hal yang sama kepada pelajar terkait keorganisasian di SMAN 6 Binjai. Karenanya, alumni SMAN 6 Binjai yang masih sayang kepada sekolahnya dulu meluapkan aspirasinya dengan damai. Intervensi yang dilakukan Ika salah satunya dalam pengaturan jam mengajar yang dicabut. Sikap Ika kurang binjak. “Syarat memperoleh sertifikat harus 24 jam dalam seminggu. Jadi sulit guru-guru mendapat sertipikasi,” kata dia. Bahkan, ada juga guru lain yang tidak diizinkan mengikuti seminar nasional. “Padahal diundang dari Ditjen di Kementerian Pendidikan,” tambah dia.
Selain itu, kata dia, Ika juga ogah menandatangani surat pengajuan kenaikan golongan secara berkala yang diajukan guru. Menurut dia, ini merupakan hasil investigasi yang dilakukan para alumni dengan melakukan wawancara sejumlah guru-guru selama 3 bulan.
Atas temuan itu, mereka mengadukan hal tersebut kepada DPRD Sumut. Kalau Ika masih tetap Kasek, ini bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2018. Karena dihalangi, massa berpindah meluapkan aspirasnya ke UPT Disdik Sumut untuk Binjai-Langkat di Stabat.
“Kami unjuk rasa di Kantor UPT Disdik agar (UPT) menjalankan rekomendasi dari DPRD Sumut. Selain membebastugasksan Kasek, Pembantu Kepala Sekolah juga harus diganti agar terciptanya sistem manejemen sekolah baru yang lebih dinamis dan kondusif,” ujarnya. (ted)
SOLIDEO/SUMUT POS
BERSAMA: Wagubsu H Musa Rajeksah diabadikan bersama Ceremony Kelulusan Program Pengembangan Ekspor kopi ITFC, di Hotel Grand Mutiara Berastagi, Selasa (16/7) siang.
SOLIDEO/SUMUT POS BERSAMA: Wagubsu H Musa Rajeksah diabadikan bersama Ceremony Kelulusan Program Pengembangan Ekspor kopi ITFC, di Hotel Grand Mutiara Berastagi, Selasa (16/7) siang.
KARO, SUMUTPOS.CO – Wagubsu H Musa Rajeksah mengapresiasi kebijakan Graduation Ceremony Coffee Export Development Program dari Trade Finance Copiration (ITFC), melakukan kegiatan pelatihan, penyuluhan dan pengembangan kopi di Sumatera Utara, terutama Tanah Karo.
Kegiatan ini dinilai tepat karena saat ini kopi menjadi komoditi andalan di Bumi Turang. “Pengembangan kopi sangat tepat, sebab Tanah Karo sangat subur. Saat ini tinggal bagaimana petani mengelola dan memanfaatkannya,” kata Wagubsu saat menghadiri Ceremony Kelulusan Program Pengembangan Ekspor kopi ITFC, Selasa (16/7) siang di Hotel Grand Mutiara Berastagi.
Ditambahkan Musa, para petani dan pengekspor kopi sudah sepatutnya bersyukur karena Tanah Karo jadi primadona ITFC sebagai tempat pelatihan dan penyuluhan pengembangan kopi. “Seingat saya selama ini Karo bukanlah penghasil kopi, tapi jeruk. Namun berjalannya waktu jeruk tinggal kenangan, sekarang saatnya para petani kopi. Jadikanlah pelatihan ini betul-betul momentum diapliksikan dalam bercocok tanam dengan menggunakan ilmu yang diajarkan nantinya, jangan hanya berpedoman ke pengetahuan alam saja,” pintanya.
Musa berharap acara ini dilakukan secara berkelanjutan. “Apabila petani kita sukses mengikuti program ITFC ini, dapat kita lihat seperti negara Thailand, mereka biasa ke ladang menggunakan kendaraan doubel cabin, sedangkan para petani kita naik sepeda motor saja sulit,” jelasnya.
Hal senada dikemukakan bupati Karo Terkelin Brahmana saat menyampaikan sambutannya. Pada prinsipnya Pemda Karo sangat mendukung penuh program dan pelatihan budidaya ekspor kopi ITFC untuk meningkatkan keterampilan penggiat para petani kopi di Karo.
Menurut Terkelin, saat ini tanaman kopi di Karo sudah mulai berkembang. Tahun 2018 saja luasnya sudah mencapai 9.178,44 Hektare dengan luas panen 6.875 ha, produksi 13.279.74 ton produktifitas 1.931,60 kg per tahun.
Ada beberapa faktor di Karo petani kopi belum signifikan melakukan budidaya kopi, karena belum tercapai produktifitas kopi di atas 2.500 kg/ha per tahun. Tanaman kopi tidak bertahan lama atau berproduktif, belum melakukan budidaya yang benar dan masih rendahnya rendemen gabah kopi yang dihasilkan.
Untuk itu dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para penggiat petani kopi akan merubah cara berpikir sesuatunya dalam pengembangan kopi. Sehingga petani tidak lagi dikuasai oleh pengusaha maupun orang tertentu yang menguntungkan segelintir orang saja.
Sementara itu, CEO Of ITFC Eng. Hani Salem Sonbol memaparkan, ITFC merupakan anggota dari Kslamic Development Bank (IsDB) Group dan memiliki tujuan untuk memajukan perdagangan diantara negara-negara anggota OKI. Sehingga pada akhirnya dapat berkontribusi pada tujuan secara menyeluruh dalam meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
ITFC memfokuskan kegiatannya pada pembiayaan dan juga pengembangan, salah satu di implemintasikan melalui program pengembangan ekspor kopi, serangkaian kegiatan pelatihan yang diberikan kepada 300 petani kopi khususnya di Sumatera Utara, guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kopi.
Selesai acara , Hani Slem Sonbol memberikan piagam penghargaan kepada penggiat petani kopi sebanyak 10 orang dari Karo dan Dairi. Kemudian acara dilanjutkan dengan penandatangan perjanjian oleh ITFC dengan tiga eksportir kopi dan koperasi kopi Indonesia yakni Boemi Coffee, Arvis Sanada Sanni dan Ujang Jaya Internasional dengan menyerahkan dana dengan nilai total USD 6 juta.
Acara ini juga dihadiri Kasdi Subagyoni selaku Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Aditya Perdana selaku utusan khusus Presiden untuk timur tengah.(deo/han)
ISTIMEWA BESIPA: Penyerahan cendera mata kepada para pembicara dan moderator yang diserahkan oleh Wakil Rektor II USM Indonesia Idawati Purba SE MSi )3 kiri) dan penyerahan hadiah kepada para best paper.
BUSINESS and Economic Asia Pacific(Besipa) menggelar seminar nasional The 2nd Besipa Conference bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Sari Mutiara (USM) Indonesia di Medan, pekan lalu. The 1st Besipa Conference diadakan di Universitas Gajayana Malang pada tahun 2018.
Seminar bertema Business and Economic in Industry 4.0 Era ini diadakan tiga hari di Hall Ign Washington Purba Kampus USM Indonesia ini untuk menginternalisasikan revolusi di era industri 4.0 dalam bisnis dan ekonomi. Akademisi mampu menjadi role model pendidik dan peneliti di era digitalisasi dan membangun jejaring yang dapat membentuk lingkungan yang mendorong tumbuhnya inovasi dan kreativitas.
Seminar nasional menghadirkan pembicara Prof Dr Dyah Sawitri MM (Universitas Gajayana Malang), Prof Dr Rahmawati MSi Ak CA (Universitas Sebelas Maret Surakarta) dan Dr Rini Indahwati SE Ak MSi CA (Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik Sumut).
Sedangkan peserta seminar berasal dari UniversitasGorontalo, Universitas Hasanuddin Makasar, STIE Indonesia Banjarmasin, Universitas Gajayana Malang, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Muria Kudus, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Islam Batik Surakarta, Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas PGRI Yogyakarta dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang.
Peserta dari Pulau Sumatera berasal dari STIE Purna Graha Pekanbaru, Universitas Negeri Medan, Universitas Methodist Indonesia, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Universitas Harapan, Universitas Prima, Universitas Quality, STIE Sultan Agung dan USM Indonesia. Semua kampus ini juga melaksanakan penandatanganan MoU dengan Besipa.
Selain dari kalangan akademisi, peserta seminar ada juga yang berasal dari kalangan praktisi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkunham) Banten beserta dengan sejumlah mahasiswa.
Acara dibuka dan ditutup Suwarno SE MAk Ak CA CIBA, selaku ketua Besipa. Acara diwanai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya besama Mutiara Choir USM Indonesia), doa bersama dan penampilan tari Melayu oleh UKM Tari USM Indonesia.
Suwarno bersyukur atas terselenggaranya acara denganbaik dan berharap agar The 3rd Besipa Conference yang akan dilaksanakan di Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2020 juga akan terlaksana dengan baik. Ia berterima kasih kepada USM-Indonesia selaku panitia penyelenggara Besipa tahun 2019 yang juga melaksanakan city tour untuk menikmati suasana Medan dan Danau Toba.
Prof Dr Dyah Sawitri MM dalam paparannya membahas strategi diversifikasi produk makanan ringan khas Trenggalek guna meningkatkan daya saing di era SDGs dengan menggunakan bisnis model canvas. Ia mengatakan bahwa tantangan UMKM produsen makanan khas Trenggalek terkait dengan permodalan, bahan baku, perbaikan kualitas, bentuk, rasa, kemasan makanan, pemasaran, sumber daya amanusia dan akses informasi
Kemudian, lanjut dia, menyangkut masalah kemampuan menyusun strategi dan model bisnis yang akan berpengaruh terhadap orientasi pasar dan daya saing di tingkat global. Beliau menawarkan model bisnis canvas yang sesuai dengan kebutuhan UMKM di Trenggalek.
Prof Dr Rahmawati MSi AkCA selaku pembicara memaparkan mengenai dampak revolusi industri 4.0 dalam pendidikan akuntansi. Menurut dia, industri akan terus berkembang sehingga membutuhkan inovasi yang berasal dari kualitas manusia yang tentu sangat tergantung pada lembaga pendidikannya.
Dijelaskannya, era revolusi akan memberikan dampak terdapatnya revitalisasi dalam sistem pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran mandiri yaitu pembelajaran yang tidak berpusat pada dosen lagi karena dosen hanya sebagai fasilitator dan menerapkan konsep outcome based education.
Sedangkan Dr RiniIndahwati SEAk MSi CA membahas tentang peranan Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik dalam meningkatkan kualitas pendidikan akuntansi di era revolusi industri 4.0. “Pada saat ini terdapat beberapa jenis model bisnis dan pekerjaan yang sudah terkena dampak dari arus era digitalisasi. Oleh karena itu, lulusan akuntansi harus memiliki keunggulan kompetitif yaitu cognitive abilities, system skills, complex problem solving, content skills dan process skills,” kata Rini.
Selain kegiatan seminar, juga dilaksanakan presentasi paper dari submit paper pemakalah. Dari hasil penilaian dari para reviewer maka ditetapkan tiga best paper yang diraih oleh Dr Hj Deswita Herlina SE MM dan Dr Hj Iis Ismawati, SE MSi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Best Paper 1), Prof Dr Rahmawati MSi Ak CA dkk dari Universitas Sebelas Maret dan Universitas PGRI Yogyakarta (Best Paper 2) dan Andriani Kusumawati SSos MSi DBA dari Universitas Brawijaya (Best Paper 3).
Ketua Panitia Rosanna Purba SE MSi menjelaskan bahwa seminar merupakan kerja sama Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial USM Indonesia dengan Besipa. Disebutkan dia, peserta datang dari Gorontalo, Makasar, Banjarmasin, Malang, Kudus, Surakarta,Yogyakarta dan Serang. (dmp)