31 C
Medan
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 62

Desa Sejahtera Astra Dorong Batik Singkawang Naik Kelas

Penggerak Desa Sejahtera Astra Singkawang Priska Yeniriatno yang meninggalkan karier untuk membangun rumah batik. Modal awalnya sederhana, tabungan dan keberanian. Kini ia mengelola tiga kampung wisata batik, memberdayakan ibu rumah tangga, hingga pemuda putus sekolah.
Penggerak Desa Sejahtera Astra Singkawang Priska Yeniriatno yang meninggalkan karier untuk membangun rumah batik. Modal awalnya sederhana, tabungan dan keberanian. Kini ia mengelola tiga kampung wisata batik, memberdayakan ibu rumah tangga, hingga pemuda putus sekolah.

KALIMANTAN BARAT: Astra melalui program Desa Sejahtera Astra memperkuat aktivitas membatik sebagai sumber penghidupan masyarakat desa melalui pendekatan berbasis komunitas dan sistem produksi yang berkelanjutan di Desa Sejahtera Astra Singkawang, Kalimantan Barat. Di Singkawang, keterampilan membatik telah tumbuh dan dijalankan oleh masyarakat sebagai bagian dari aktivitas ekonomi lokal.

Agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas dan berkelanjutan diperlukan penguatan pengelolaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pembangunan sistem produksi yang lebih terstruktur. Sejak 2021, Astra melalui program Desa Sejahtera Astra hadir mendampingi masyarakat di Singkawang untuk memperkuat sumber daya manusia serta membangun fondasi produksi yang lebih mandiri berbasis potensi lokal.

“Pendampingan yang dilakukan oleh Astra melalui Desa Sejahtera Astra bertujuan untuk membangun kapasitas masyarakat serta membangun sistem kerja dan produksi yang dikelola secara bersama, sehingga aktivitas ekonomi desa dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Inisiatif di Desa Sejahtera Astra Singkawang diharapkan dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat sejalan dengan cita-cita Astra untuk Sejahtera Bersama Bangsa,” ujar Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro.

Aktivitas produksi batik masyarakat Desa Sejahtera Astra Singkawang yang hingga saat ini, telah melibatkan lebih dari 240 pelaku batik yang tergabung dalam 18 kelompok produksi aktif.
Aktivitas produksi batik masyarakat Desa Sejahtera Astra Singkawang yang hingga saat ini, telah melibatkan lebih dari 240 pelaku batik yang tergabung dalam 18 kelompok produksi aktif.

Dalam mengembangkan batik di Singkawang, Penggerak Desa Priska Yeniriatno, memiliki peran yang sangat penting. Berangkat dari pengalaman membangun kegiatan membatik secara mandiri, Priska mendorong penguatan sumber daya manusia agar keterampilan membatik tidak berhenti pada individu, melainkan dapat ditransfer, direplikasi, dan dikelola bersama oleh masyarakat. Hingga kini, kegiatan membatik berkontribusi pada peningkatan aktivitas produksi masyarakat sebesar 50% dan membuka peluang penghidupan yang lebih berkelanjutan bagi warga Desa Sejahtera Astra Singkawang.

“Bagi saya, dampak yang paling terasa adalah konsistensi warga untuk tetap produktif dalam membatik. Kini, sebagian dari mereka bahkan telah membuka workshop sendiri serta menerima berbagai kegiatan dari luar untuk berbagi pengetahuan tentang batik yang mereka kembangkan. Menurut saya, inilah dampak yang paling luar biasa,” ujar Priska Yeniriatno.

Hingga saat ini, program telah melibatkan lebih dari 240 pelaku batik yang tergabung dalam 18 kelompok produksi aktif, serta mendorong tumbuhnya workshop mandiri dan kegiatan edukasi membatik di lingkungan sekitar. Kisah lengkap perjalanan Priska Yeniriatno dalam menggerakkan perubahan di Desa Sejahtera Astra Singkawang dapat disaksikan melalui kanal YouTube SATU Indonesia. Semangat Astra untuk terus mendukung penguatan masyarakat berbasis potensi lokal melalui Desa Sejahtera Astra sejalan dengan cita-cita Astra untuk Sejahtera Bersama Bangsa serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. (ila)

36 GraPARI Telkomsel di Aceh dan Sumut Siap Berikan Kemudahan Layanan Pascabencana

Medan, SUMUTPOS.CO – Telkomsel memastikan kesiapan layanan GraPARI untuk mendukung kebutuhan pelanggan pascabencana yang melanda wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Telkomsel untuk terus hadir memberikan kemudahan layanan dan menjaga kualitas pengalaman pelanggan di tengah masa pemulihan.

Saat ini, terdapat 27 GraPARI di Provinsi Sumatera Utara dan 9 GraPARI di Provinsi Aceh yang terus beroprasi dan melayani pelanggan, termasuk mendukung kebutuhan layanan pascabencana di wilayah terdampak. Dari jumlah tersebut, tujuh GraPARI yang sempat terdampak bencana telah beroperasi penuh sejak minggu ketiga Desember 2025, yakni GraPARI di Bireuen, Takengon, Sigli, Langsa, Lhokseumawe, Gunung Sitoli, dan Sibolga.

General Manager Mobile Consumer Business Region Sumbagut Telkomsel, Agung E. Setyobudi, menyampaikan bahwa Telkomsel menghadirkan kemudahan layanan bagi pelanggan yang terdampak bencana agar tetap dapat berkomunikasi dengan lancar.
“Pascabencana, pelanggan membutuhkan layanan yang cepat dan mudah diakses. GraPARI kami siapkan untuk memberikan kemudahan layanan, termasuk penggantian kartu yang hilang, agar pelanggan dapat segera kembali terhubung,” ujar Agung.

Melalui operasional GraPARI yang siap melayani, Telkomsel juga memastikan stabilitas layanan tetap terjaga sehingga experience pelanggan dapat dirasakan secara optimal. Berbagai upaya dilakukan untuk memastikan proses layanan berjalan lancar, responsif, dan sesuai kebutuhan pelanggan di wilayah terdampak.

“Kami terus berupaya menjaga kualitas layanan dan kenyamanan pelanggan. Kehadiran GraPARI pascabencana menjadi wujud komitmen Telkomsel untuk selalu mendampingi pelanggan, tidak hanya melalui jaringan yang andal, tetapi juga melalui layanan yang mudah dan solutif,” tambah Agung.

Untuk informasi lebih lanjut serta pengecekan lokasi dan jam operasional GraPARI terdekat, pelanggan dapat mengunjungi halaman resmi Telkomsel di www.telkomsel.com/contact-us/my-grapari.

Apresiasi Keppres Satgas Rehabilitasi, Penrad Siagian Desak Pemulihan Korban Bencana Dipercepat

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Anggota DPD RI Pendeta Penrad Siagian mengapresiasi terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 1 Tahun 2026 tentang pembentukan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Sumatra Utara (Sumut) , Aceh, dan Sumatra Barat (Sumbar). Ia menilai, kebijakan tersebut sebagai bentuk kehadiran dan tanggung jawab negara terhadap masyarakat korban bencana.

“Soal Keppres Satgas Percepatan Rehabilitasi Bencana, pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak boleh membebani kas daerah. Saya mengapresiasi Keppres ini sebagai bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap situasi kebencanaan, khususnya di Sumatra Utara,” ujar Penrad dalam keterangan resminya yang diterima Sumut Pos pada Senin (12/1/2026) malam.

Ia menegaskan, Satgas yang telah dibentuk harus segera bekerja secara cepat dan efektif. Menurutnya, masyarakat tidak boleh dibiarkan terlalu lama tinggal di pengungsian tanpa kepastian pemulihan. “Jangan biarkan masyarakat terlalu lama dalam kondisi sulit akibat bencana. Pemulihan harus dipercepat agar masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti sediakala,” tegasnya.

Senator asal Sumut ini juga mengingatkan pemerintah pusat agar memastikan pembiayaan rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi Sumut, Aceh, dan Sumbar, sepenuhnya menjadi tanggung jawab APBN. Ia menegaskan kondisi keuangan daerah yang terbatas serta kebijakan efisiensi dan pemotongan Transfer ke Daerah tidak boleh menambah beban pemerintah daerah.

“Pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi jangan sampai menambah beban daerah. Negara harus hadir melalui APBN sebagai bentuk tanggung jawab konstitusional,” katanya.

Berdasarkan hasil kunjungan sekaligus menyalurkan bantuan ke lokasi bencana di Sumut, ia menilai kerugian masyarakat tidak hanya berupa kehilangan rumah, tetapi juga rusaknya sumber-sumber pencaharian seperti kebun dan pertanian yang menjadi alat produksi utama warga. Untuk itu, ia mendesak agar rehabilitasi dan rekonstruksi mengakomodasi penggantian kerugian atas sumber pencaharian masyarakat.

Menurutnya, pemulihan harus mencakup bantuan untuk mencetak sawah kembali, rehabilitasi lahan pertanian dan perkebunan, serta pembiayaan permodalan minimal untuk satu periode panen. Selain pemulihan ekonomi, Penrad juga mengingatkan pentingnya pengembalian ruang-ruang publik dan pemulihan kehidupan sosial masyarakat di desa-desa yang terdampak parah akibat bencana.

Ia menekankan, rehabilitasi dan rekonstruksi harus menjadi momentum untuk menata ulang tata ruang wilayah rawan bencana. Penataan tersebut, kata dia, harus disertai evaluasi terhadap pemberian izin-izin konsesi dan Hak Guna Usaha di Sumatra Utara.

“Salah satu penyebab terjadinya bencana adalah kesalahan kebijakan dalam pengelolaan dan tata ruang. Negara jangan sampai menjadi sumber kesalahan kebijakan yang justru menjadikan masyarakat sebagai korban,” tegas Penrad.

Ia menegaskan, hasil serap aspirasi dari masyarakat di Tapanuli Raya akan dibawa dan diperjuangkan di tingkat pusat. Penrad Siagian berharap proses rehabilitasi dan rekonstruksi benar-benar berpihak pada pemulihan kehidupan masyarakat secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Sebelumnya, Penrad Siagian kembali menyalurkan bantuan tahap keempat bagi korban bencana di wilayah Tapanuli Raya pada awal tahun 2026. Penyaluran bantuan tersebut dilakukan sekaligus untuk melihat langsung kondisi masyarakat terdampak serta menyerap aspirasi warga menjelang masuknya fase rehabilitasi dan rekonstruksi.

Bantuan diserahkan kepada masyarakat Tapanuli Tengah yang berada di Bonan Dolok, HKI Daerah V Pantai Barat, Huta Nabolon, dan Sipange, serta Kota Sibolga. Selain itu, bantuan juga diberikan kepada warga Hutagodang yang terdampak bencana Aek Ngadol Garoga di Kabupaten Tapanuli Utara, juha masyarakat Muara Ampolu dan Desa Sangkunur, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Penrad Siagian menyerahkan secara langsung bantuan sembako kepada masyarakat terdampak. Bantuan juga dilengkapi dengan peralatan memasak seperti kuali, piring, cangkir, sendok, dan garpu, serta perlengkapan sekolah berupa tas, buku tulis, pensil, dan kebutuhan belajar lainnya. (adz)

GM PLN UID Sumatera Utara Cek Langsung Kesiapan Kelistrikan Huntara Pascabencana di Batang Toru

GM PLN UID Sumatera Utara saat berkoorsinasi dengan Mandor lapangan pemerataan lahan Hunian Sementara di Batang Toru
GM PLN UID Sumatera Utara saat berkoorsinasi dengan Mandor lapangan pemerataan lahan Hunian Sementara di Batang Toru

TAPSEL- Komitmen PT PLN (Persero) dalam mendukung percepatan pemulihan pascabencana kembali ditegaskan melalui kunjungan langsung General Manager PLN UID Sumatera Utara, Mundhakir, ke lokasi pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi masyarakat terdampak bencana di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Jumat (9/1/2026).

Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan infrastruktur kelistrikan sebagai bagian penting dari fase transisi pemulihan.

Dalam peninjauan tersebut, Mundhakir memastikan bahwa PLN siap mendukung penuh kebutuhan listrik Huntara yang tengah dibangun. Infrastruktur kelistrikan telah disiapkan secara bertahap, ditandai dengan masuknya jaringan dan tiang listrik hingga ke akses jalan menuju kawasan Huntara.

“Hadirnya listrik di kawasan hunian sementara bukan sekadar pemenuhan infrastruktur, tetapi bagian dari proses memulihkan harapan dan rasa aman masyarakat. PLN memastikan kesiapan jaringan agar Huntara dapat segera difungsikan secara optimal,” ujar Mundhakir.

Saat ini, tercatat sebanyak 144 unit hunian dan 4 unit dapur umum tengah dalam proses pembangunan. Pemerintah bersama TNI, Polri, serta instansi terkait lainnya menargetkan pembangunan hingga 267 unit hunian guna menampung masyarakat terdampak bencana secara layak dan aman. Sejalan dengan progres fisik pembangunan tersebut, PLN telah menyatakan kesiapan untuk segera melakukan penyambungan listrik ke seluruh kawasan Huntara.

Lebih lanjut, Mundhakir menegaskan bahwa kehadiran PLN pada fase transisi pascabencana merupakan wujud tanggung jawab sosial dan mandat negara dalam menjamin layanan dasar bagi masyarakat. Energi listrik menjadi enabler utama pemulihan, mendukung aktivitas rumah tangga, layanan kesehatan, pendidikan darurat, hingga penguatan kohesi sosial di lingkungan Huntara.

“Ketika listrik hadir lebih awal, maka proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan bermartabat. PLN akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan agar Huntara ini benar-benar menjadi ruang aman dan layak bagi masyarakat untuk bangkit kembali,” ujarnya.

Kunjungan ini sekaligus menjadi bentuk pengawasan langsung terhadap kesiapan teknis di lapangan, memastikan seluruh aspek keselamatan, keandalan jaringan, serta keberlanjutan layanan kelistrikan terjaga sejak tahap awal pembangunan hingga Huntara dihuni sepenuhnya.

Melalui langkah ini, PLN UID Sumatera Utara menegaskan perannya tidak hanya sebagai penyedia energi, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam membangun ketangguhan pascabencana serta mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi di wilayah terdampak. (ila)

Dari Tapteng hingga Tapsel, Penrad Siagian Kembali Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana

TAPANULI TENGAH, SUMUTPOS.CO- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Pdt Penrad Siagian kembali turun langsung, menyalurkan bantuan tahap keempat bagi korban bencana alam di wilayah Tapanuli Raya pada awal tahun 2026. Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima pada Minggu (11/1/2026), kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Penrad dalam mendampingi masyarakat terdampak bencana.

Penyaluran bantuan dilakukan di sejumlah lokasi terdampak, antara lain masyarakat Tapanuli Tengah yang berada di Bonan Dolok, Pantai Barat, Huta Nabolon, dan Sipange. Kemudian Hutagodang, lokasi yang turut terdampak dari Aek Ngadol Garoga di Kabupaten Tapanuli Utara. Selain itu, bantuan juga disalurkan ke Muara Ampolu serta Desa Sangkunur, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Dalam kesempatan tersebut, Penrad menyerahkan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak. Bantuan juga dilengkapi dengan peralatan memasak seperti kuali, piring, cangkir, sendok, dan garpu, serta perlengkapan sekolah berupa tas, buku tulis, pensil, dan kebutuhan belajar lainnya.

Ia menyampaikan, kehadirannya di lokasi bencana tidak hanya untuk menyalurkan bantuan, tetapi juga melakukan serap aspirasi masyarakat. Lebih lanjut, dia juga melihat langsung kondisi lapangan sekaligus mendengarkan kebutuhan dan keluhan warga pascabencana.

Aspirasi tersebut, kata Penrad, akan menjadi bahan penting dalam memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Seluruh temuan di lapangan akan disampaikan dan diperjuangkan di tingkat pusat agar penanganan pascabencana di Tapanuli Raya dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.

Menurutnya, fase rehabilitasi dan rekonstruksi membutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat dan daerah. Dukungan kebijakan dan anggaran dinilai sangat penting agar masyarakat terdampak dapat segera bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara normal. Namun, Penrad Siagian mengingatkan agar pendanaan dan pembiayaan tidak membebani anggaran daerah. (adz)

Salurkan Empat Karung Pakaian Lengkap, Laznas AQL Peduli Jangkau Desa Alur Nunang

ACEH TAMIANG, SUMUTPOS.CO— Laznas AQL Peduli menyalurkan bantuan sandang ke Desa Alur Nunang, Kecamatan Banda Mulia, Kabupaten Aceh Tamiang, sebagai bagian dari respons penanganan dampak banjir yang melanda wilayah tersebut.

Bantuan yang disalurkan berupa empat karung pakaian lengkap yang telah dikemas per paket, berisi pakaian layak pakai untuk dewasa dan anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, agar pendistribusian kepada warga terdampak dapat dilakukan secara merata dan tepat sasaran.

Tim Lapangan Laznas AQL Peduli, Zakariyah, menjelaskan, bantuan disiapkan dalam bentuk paket untuk memudahkan pembagian di tingkat desa. “Bantuan ini kami kemas per paket, isinya pakaian lengkap untuk dewasa dan anak-anak. Totalnya empat karung, sehingga bisa langsung dibagikan kepada warga sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Zakariyah.

Salah satu warga Desa Alur Nunang, Indra, menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diterima oleh masyarakat. “Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan pakaian ini. Bantuan ini sangat berarti bagi warga, dan kami mendoakan semoga para donatur serta relawan selalu diberi kesehatan dan kebaikan,” kata Indra.

Relawan Laznas AQL Peduli sekaligus warga lokal Aceh Tamiang, Yus, mengatakan bahwa kebutuhan sandang menjadi persoalan mendesak bagi warga pascabanjir. “Setelah banjir, banyak warga kehilangan pakaian dan belum mampu menggantinya. Bantuan sandang seperti ini memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” ungkap Yus.

Sementara itu, Azmi Habiburrahman, Pimpinan Posko AQL Peduli Aceh Tamiang, menegaskan bahwa penyaluran bantuan dilakukan berdasarkan prioritas kebutuhan lapangan, bukan sekadar pemerataan wilayah.

“Kami tidak hanya menghitung jumlah lokasi, tetapi menimbang tingkat kebutuhan warga. Desa-desa yang masih mengalami kekurangan sandang akan terus kami dampingi agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi selama masa pemulihan pascabanjir,” tegas Azmi. (adz)

Kolaborasi SATGAS DPR RI dan Kementerian (GALAPANA), Telkomsel Pulihkan Seluruh BTS di Aceh Pascabencana

Aceh, Sumutpos.co – Sebagai bagian dari kolaborasi Satuan Tugas (SATGAS) DPR RI bersama Kementerian melalui program GALAPANA, Telkomsel menuntaskan pemulihan seluruh infrastruktur jaringan telekomunikasi di Provinsi Aceh pascabencana banjir yang melanda sejumlah wilayah. Hingga siang hari ini, 100% BTS Telkomsel di Aceh telah berhasil dipulihkan, dengan tingkat kestabilan layanan jaringan mendekati 90%, bergantung pada stabilitas pasokan listrik di masing-masing wilayah.

Keterlibatan Telkomsel dalam upaya pemulihan bencana berskala besar ini mencakup tiga fokus utama, yakni Pemulihan konektivitas dan Jaringan, Dukungan Digitalisasi Data Terpadu, serta Dukungan Logistik dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR).

Ketiga aspek tersebut dijalankan secara terintegrasi untuk mendukung efektivitas koordinasi penanganan bencana bersama SATGAS DPR RI dan Kementerian.

Pemulihan jaringan di Aceh dilakukan secara bertahap dan terukur sejak awal bencana, dengan mengedepankan keselamatan tim serta menyesuaikan kondisi akses dan kesiapan infrastruktur pendukung di lapangan. Tantangan utama yang masih dihadapi hingga saat ini adalah fluktuasi pasokan listrik di sejumlah wilayah, yang memengaruhi optimalisasi kualitas layanan.
Vice President Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho A. Wibowo, menyampaikan bahwa pemulihan jaringan merupakan prioritas utama dalam mendukung aktivitas masyarakat dan koordinasi penanganan bencana.

“Siang hari ini seluruh BTS Telkomsel di Aceh telah berhasil kami pulihkan. Fokus kami saat ini adalah menjaga dan meningkatkan kestabilan layanan seiring dengan membaiknya pasokan listrik di wilayah terdampak, agar konektivitas tetap mendukung kebutuhan masyarakat dan proses pemulihan,” ujar Nugroho.

Dalam mendukung percepatan pemulihan jaringan, Telkomsel mengoperasikan berbagai perangkat pendukung, antara lain 5 unit Compact Mobile BTS (Combat) untuk memperkuat cakupan jaringan di lokasi terdampak dan kawasan hunian sementara (Huntara), serta 316 unit genset sebagai sumber listrik cadangan.

Melalui sinergi bersama SATGAS DPR RI dan Kementerian dalam program GALAPANA, Telkomsel akan terus melakukan pemantauan dan optimalisasi jaringan secara berkelanjutan, sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan layanan komunikasi tetap andal selama masa pemulihan pascabencana.(rel)

Laznas AQL Peduli Salurkan Bantuan ke Dusun Lubuk Sidup yang Tersisa 4 Rumah dan 1 Masjid

ACEH TAMIANG, SUMUTPOS.CO— Pascabencana banjir di Aceh Tamiang, Dusun Lubuk Sidup, Kecamatan Sekarak, menjadi potret wilayah yang mengalami kerusakan terparah. Dari lebih 170 rumah warga, hanya empat rumah dan satu masjid tersisa.

Tim Lapangan Laznas AQL Peduli, Gus Rumasisin mengatakan, secara geografis jarak Dusun Lubuk Sidup ke ibukota Aceh Tamiang sekitar 10-an Kilometer. Kondisi wilayahnya mengalami kerusakan infrastrukturnya sangat rusak, baik kerusakan rumah, fasilitas ibadah dan fasilitas jalan umum.

“Sedangkan warga-warganya, korban bencana masih banyak yang tidur di bawah tenda-tenda yang berdiri di tenah warga masing-masing,” kata Gus kepada wartawan, Minggu (11/1/2026).

 

Atas kondisi ini, Gus mengatakan, Laznas AQL Peduli menyalurkan bantuan logistik ke Dusun Lubuk Sidup sebagai bagian dari upaya pendampingan bagi warga terdampak bencana. Bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan sandang serta paket pangan bernutrisi sepeti kurma.

“Penyaluran bantuan kali ini disesuaikan dengan hasil asesmen lapangan yang menunjukkan tingkat kerusakan ekstrem di wilayah tersebut,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia menyatakan, dusun ini termasuk yang paling parah terdampak. “Bayangkan, dari lebih 170 rumah, hanya empat rumah dan satu masjid yang tersisa. Sisanya rusak berat bahkan rata dengan tanah. Itulah mengapa bantuan sandang dan pangan menjadi prioritas kami saat ini,” ungkapnya.

Pimpinan AQL Wilayah Aceh–Sumatera Utara, Affan Lubis menegaskan, penyaluran bantuan ke wilayah terpencil menjadi perhatian utama lembaga dalam merespons bencana.
“Kami berupaya untuk terus hadir dan mendampingi masyarakat terdampak hingga kondisi berangsur pulih. Tidak hanya di pusat wilayah, tetapi juga di dusun-dusun terpencil yang aksesnya sulit,” tutur Affan.

Bantuan logistik tersebut diserahkan kepada warga melalui Arma, istri Datuk (Kepala Dusun) Lubuk Sidup, untuk kemudian didistribusikan kepada warga yang membutuhkan. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan rasa syukur atas kepedulian para donatur di tengah situasi mereka yang kehilangan harta benda.

“Terima kasih banyak atas bantuan pakaian dan makanannya. Kami tidak bisa membalas kebaikan kalian kecuali dengan doa. Semoga kalian dan seluruh penyumbang diberikan kesehatan selalu,” ucap Ibu Arma penuh haru.

Pada kesempatan terpisah, Azmi Habiburrahman selaku pimpinan posko AQL Peduli Aceh Tamiang menyampaikan bahwa penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari komitmen Laznas AQL Peduli yang hingga saat ini masih membuka posko bantuan di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, untuk terus mendampingi masyarakat terdampak bencana, khususnya di wilayah dengan tingkat kerusakan tinggi, agar warga dapat kembali beraktivitas secara bertahap dalam masa pemulihan pascabanjir. (adz)

Penyalahgunaan AI dan Keresahan Publik: Ketika Teknologi Berlari Lebih Cepat dari Etika

Oleh: Annisa Zain Rofifah, Fenny Risnanda Aulia Rahmi
(Mahasiswa Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi UNISKA Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin)

Maraknya pemberitaan tentang penyalahgunaan Grok AI untuk menghasilkan konten manipulative dan asusila menunjukan bahwa perkembangan kecerdasan buatan tidak selalu sejalan dengan kesiapan etika dan perlindungan publik. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara, sehingga jelas bersifat global. Namun bagi Masyarakat, dampaknya terasa sangat personal dan nyata.

Kasus-kasus ini memunculkan rasa resah dan tidak aman di ruang digital. Foto, identitas, dan citra diri yang seharusnya bersifat pribadi, kini dapat dengan mudah disalahgunakan melalui bantuan teknologi.

Ketika AI mampu memanipulasi wajah dan tubuh seseorang tanpa izin, batas antara kenyataan dan rekayasa menjadi kabur. Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap ruang digital perlahan terkikis.

Di sisi lain, respons pemerintah melalui penyelidikan, peringatan, hingga ancaman pemblokiran menunjukan bahwa negara tidak sepenuhnya berdiam. Namun, dari sudut pandang khalayak, langkah ini masih terasa reaktif.

Kebijakan baru muncul setelah kasus viral dan tekanan publik meningkat. Pola seperti ini menimbulkan Kesan bahwa perlindungan masyarakat baru diberikan setelah kerugian terjadi, bukan dicegah sejak awal.

Masalah ini juga memperlihatkan lemahnya posisi masyarakat dalam ekosistem komunikasi digital. Ketika konten bermasalah beredar, publik seringkali kebingungan harus mengadu kemana dan siapa yang bertanggung jawab.

Dalam konteks ini, penyalahgunaan AI seharusnya dipandang bukan sekedar pelanggaran teknologi, tetapi sebagai masalah komunikasi publik. Konten yang dihasilkan AI tetap merupakan pesan yang memiliki makna , dampak dan konsekuensi sosial. Jika pesan tersebut merendahkan martabat manusia, maka yang terjadi adalah kekerasan simbolik yang merugikan masyarakat luas.

Solusi yang ditawarkan tidak bisa hanya berhenti pada pemblokiran atau sanksi sesaat. Pemerintah perlu membangun pendekatan yang lebih menyeluruh.

Pertama, regulasi harus secara tegas mengatur batas penggunaan AI, terutama yang berkaitan dengan manipulasi identitas dan konten asusila. Aturan ini perlu disosialisasikan secara luas agar Masyarakat memahami hak dan perlindungannya.

Kedua, penyedia teknologi dan platform digital diwajibkan memperkuat sistem pengamanan dan bertanggung jawab atas dampak produknya. Keuntungan ekonomi dari teknologi tidak boleh mengalahkan keselamatan publik.

Ketiga, literasi digital masyarakat harus ditingkatkan, bukan hanya soal cara menggunakan teknologinya, tetapi juga tentang etika, tanggung jawab, dan dampak sosial dari setiap konten yang diproduksi dan dibagikan.

Terakhir, masyarakat perlu dilibatkan sebagai subjek yang dilindungi, bukan sekedar objek kebijakan. Saluran pelaporan yang mudah diakses, pendampingan korban, serta komunikasi public yang transparan akan membantu memulihkan rasa aman di ruang digital.

Penyalahgunaan Grok AI menjadi peringatan bahwa kecanggihan teknologi tanpa kendali etika hanya akan memperluas ketimpangan kuasa antara sistem dan manusia. Jika tidak ditangani dengan serius dan berkelanjutan, public akan terus hidup dalam keresahan di ruang yang seharusnya memberi manfaat. AI seharusnya mempermudah kehidupan manusia, bukan membuat manusia merasa terancam oleh ciptaannya sendiri.(rel)