Digitalisasi Tenun Toba: Tim IT Del Siapkan Transformasi Produksi Ulos di Desa Pintu Batu, Silaen

Dalam upaya melestarikan warisan budaya sekaligus mendongkrak ekonomi kerakyatan, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat dari Institut Teknologi Del (PKM IT Del) melakukan langkah nyata lewat digitalisasi tenun tradisional. Berlokasi di Desa Pintu Batu, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, tim yang diketuai Humasak Tommy Argo Simanjuntak, S.T, M.ISD menggelar rangkaian program diseminasi teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) melalui aplikasi DiTenun. Langkah ini ditujukan untuk memodernisasi proses produksi tenun pada Kelompok Tenun Satahi Saoloan.

Sebelum melangkah pada pelatihan inti yang dilaksanakan pada tanggal 19 Juni, tim pengusul yang terdiri atas empat dosen bersama 11 mahasiswa ITDel telah merampungkan fase krusial berupa pendampingan pra-pelatihan. Fase ini berfokus pada pengenalan antar-muka aplikasi digital yang dirancang lebih ramah pengguna agar para perajin dapat dengan mudah menghasilkan lembar kerja motif akhir secara mandiri.

Tidak hanya menyentuh aspek teknis perangkat lunak, tim juga menggelar diskusi mendalam mengenai tata letak (layout) desain kain yang diharapkan oleh penenun seperti struktur pakem Ulos Ragi Hotang yang menjadi produk andalan mereka sehari-hari.

MOTIF ULOS: Hasil kegiatan pelatihan oleh salah satu penenun Kelompok Tenun Satahi Saoloan di Desa Pintu Batu, Silaen hasil dari digitalisasi motif tenun Toba oleh Tim IT Del. (Istimewa/Sumut Pos)
MOTIF ULOS: Hasil kegiatan pelatihan oleh salah satu penenun Kelompok Tenun Satahi Saoloan di Desa Pintu Batu, Silaen hasil dari digitalisasi motif tenun Toba oleh Tim IT Del. (Istimewa/Sumut Pos)

“Tantangan terbesar penenun tradisional selama ini adalah inefisiensi waktu. Untuk merancang satu motif baru secara manual di atas kertas kotak-kotak bisa memakan waktu hingga satu bulan. Akibatnya, mereka terjebak pada motif hafalan dan enggan berinovasi,” ujar Humasak Tommy Argo Simanjuntak saat memberikan keterangan di Laguboti, Senin (26/10).

Melalui visualisasi lembar kerja digital DiTenun, ia berharap kerumitan penentuan lidi pada alat tenun gedogan manual dapat disimulasikan terlebih dahulu di layar komputer, sehingga memangkas waktu kerja dari hitungan bulan menjadi hitungan hari saja.

Modernisasi ini dinilai krusial bagi analisis pasar tenun Batak saat ini. Agar mampu bersaing di industri fashion yang dinamis, produk kain Ulos dituntut untuk bertransformasi menjadi lebih modis (fashionable), layaknya variasi Ulos Tumtuman yang kaya akan warna.

Pemanfaatan model kecerdasan buatan berbasis deep learning Large Language Models (LLMs) dan algoritma optimasi metaheuristik, Non-dominated Sorting Differential Evolution (NSDE) dalam aplikasi DiTenun memungkinkan simulasi pewarnaan otomatis yang harmonis, tajam dan konsisten.

Hal ini memberikan keunggulan kompetitif bagi Kelompok Tenun Satahi Saoloan untuk merespons pesanan khusus (custom) dari pasar nasional maupun global tanpa risiko kesalahan penataan benang fisik.

Pasca-pelatihan Tim IT Del juga telah menyiapkan instrumen evaluasi menyeluruh untuk mengukur kelayakan pasar, tingkat usabilitas antar-muka serta proyeksi peningkatan produktivitas kelompok. Hasil akhir dari pemodelan digital ini tidak akan berhenti di layar komputer, melainkan langsung diimplementasikan ke dalam lembar kerja produksi fisik tenunan oleh 24 perajin setempat.

Hingga pertengahan November 2026 pemantauan proses produksi terus dilakukan guna mengitung waktu produksi sehingga penggunaan aplikasi ini tepat sasaran dan bermanfaat bagi penenun. Program yang didanai melalui skema kemitraan institusi ini diharapkan dapat menjadi role model hilirisasi riset kampus yang berdampak langsung pada kesejahteraan ekonomi komunitas lokal. (dmp)

Dalam upaya melestarikan warisan budaya sekaligus mendongkrak ekonomi kerakyatan, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat dari Institut Teknologi Del (PKM IT Del) melakukan langkah nyata lewat digitalisasi tenun tradisional. Berlokasi di Desa Pintu Batu, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, tim yang diketuai Humasak Tommy Argo Simanjuntak, S.T, M.ISD menggelar rangkaian program diseminasi teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) melalui aplikasi DiTenun. Langkah ini ditujukan untuk memodernisasi proses produksi tenun pada Kelompok Tenun Satahi Saoloan.

Sebelum melangkah pada pelatihan inti yang dilaksanakan pada tanggal 19 Juni, tim pengusul yang terdiri atas empat dosen bersama 11 mahasiswa ITDel telah merampungkan fase krusial berupa pendampingan pra-pelatihan. Fase ini berfokus pada pengenalan antar-muka aplikasi digital yang dirancang lebih ramah pengguna agar para perajin dapat dengan mudah menghasilkan lembar kerja motif akhir secara mandiri.

Tidak hanya menyentuh aspek teknis perangkat lunak, tim juga menggelar diskusi mendalam mengenai tata letak (layout) desain kain yang diharapkan oleh penenun seperti struktur pakem Ulos Ragi Hotang yang menjadi produk andalan mereka sehari-hari.

MOTIF ULOS: Hasil kegiatan pelatihan oleh salah satu penenun Kelompok Tenun Satahi Saoloan di Desa Pintu Batu, Silaen hasil dari digitalisasi motif tenun Toba oleh Tim IT Del. (Istimewa/Sumut Pos)
MOTIF ULOS: Hasil kegiatan pelatihan oleh salah satu penenun Kelompok Tenun Satahi Saoloan di Desa Pintu Batu, Silaen hasil dari digitalisasi motif tenun Toba oleh Tim IT Del. (Istimewa/Sumut Pos)

“Tantangan terbesar penenun tradisional selama ini adalah inefisiensi waktu. Untuk merancang satu motif baru secara manual di atas kertas kotak-kotak bisa memakan waktu hingga satu bulan. Akibatnya, mereka terjebak pada motif hafalan dan enggan berinovasi,” ujar Humasak Tommy Argo Simanjuntak saat memberikan keterangan di Laguboti, Senin (26/10).

Melalui visualisasi lembar kerja digital DiTenun, ia berharap kerumitan penentuan lidi pada alat tenun gedogan manual dapat disimulasikan terlebih dahulu di layar komputer, sehingga memangkas waktu kerja dari hitungan bulan menjadi hitungan hari saja.

Modernisasi ini dinilai krusial bagi analisis pasar tenun Batak saat ini. Agar mampu bersaing di industri fashion yang dinamis, produk kain Ulos dituntut untuk bertransformasi menjadi lebih modis (fashionable), layaknya variasi Ulos Tumtuman yang kaya akan warna.

Pemanfaatan model kecerdasan buatan berbasis deep learning Large Language Models (LLMs) dan algoritma optimasi metaheuristik, Non-dominated Sorting Differential Evolution (NSDE) dalam aplikasi DiTenun memungkinkan simulasi pewarnaan otomatis yang harmonis, tajam dan konsisten.

Hal ini memberikan keunggulan kompetitif bagi Kelompok Tenun Satahi Saoloan untuk merespons pesanan khusus (custom) dari pasar nasional maupun global tanpa risiko kesalahan penataan benang fisik.

Pasca-pelatihan Tim IT Del juga telah menyiapkan instrumen evaluasi menyeluruh untuk mengukur kelayakan pasar, tingkat usabilitas antar-muka serta proyeksi peningkatan produktivitas kelompok. Hasil akhir dari pemodelan digital ini tidak akan berhenti di layar komputer, melainkan langsung diimplementasikan ke dalam lembar kerja produksi fisik tenunan oleh 24 perajin setempat.

Hingga pertengahan November 2026 pemantauan proses produksi terus dilakukan guna mengitung waktu produksi sehingga penggunaan aplikasi ini tepat sasaran dan bermanfaat bagi penenun. Program yang didanai melalui skema kemitraan institusi ini diharapkan dapat menjadi role model hilirisasi riset kampus yang berdampak langsung pada kesejahteraan ekonomi komunitas lokal. (dmp)

Artikel Terkait


Terpopuler

Artikel Terbaru