29 C
Medan
Sunday, June 23, 2024

Seimbangkan Medsos dengan Buku dan Aplikasi Pembelajaran

TAPSEL, SUMUTPOS.CO—Banyak cara agar netizen terhindar dari informasi sesat melalui dunia maya atau media sosial. Terutama untuk menghindari kecanduan dalam penggunaan medsos.

WEBINAR: Gubsu Edy Rahmayadi dan pelaku Webinar Literasi Digital di Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara pada 21 Juli 2021. (IST)

“Tips meminimalisir kecanduan medsos ialah, membatasi penggunaan medsos, memanfaatkan medsos sebagai peluang usaha, menyeimbangkan medsos dengan buku, serta mengakses aplikasi pembelajaran,” kata Pegiat Komunikasi, Zulfikar, MPd saat menjadi pemateri dalam Webinar Literasi Digital yang diinisiasi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Provinsi Sumatera Utara pada 21 Juli 2021.

Memberi materi bertajuk “Bijak Sebelum Mengunggah di Media Sosial” pada sesi Budaya Digital, Zulfikar menyebut cara bijak menggunakan medsos antara lain berpikir sebelum mengunggah, tidak sedang emosi saat menggunakan medsos, menjaga etika dengan tidak menyinggung seseorang dan menyinggung SARA, mengenali teman berinteraksi, serta memanfaatkan medsos untuk menjali silaturahmi.

“Perubahan dan perkembangan teknologi di era digitalisasi merupakan sebuah kepastian. Teknologi internet seolah telah menjadi kebutuhan pokok penduduk dunia karena dianggap banyak membantu dan memudahkan segala urusan. Namun, dengan segala kemudahan yang tersedia, tentu masyarakat harus tetap waspada dan perlu bijak dalam bermedia sosial agar tetap aman. Jangan sampai hal yang menguntungkan menjadi menimbulkan masalah dan kerugian yang tidak diharapkan,” katanya.

Di sesi Etika Digital, Witri Mirza Yuhanan
membahas literasi digital merupakan keterampilan mengolaborasi, mengomunikasikan, memahami teknologi digital dalam rangka berkreasi, berpartisipasi, dan berbagi pengalaman.

“Contoh literasi digital di sekolah, seperti komunikasi dengan guru atau teman menggunakan medsos, mengirim tugas lewat e-Mail, pembelajaran secara online, dan mencari bahan ajar dari sumber terpercaya,” kata staf Cabang Pendidikan Tapsel tersebut. “Prinsip dasar literasi digital meliputi masyarakat memiliki kemampuan untuk memahami informasi yang diberikan media, baik secara implisit maupun eksplisit, masyarakat memiliki kemampuan memahami serta menyimpan informasi untuk dibaca di lain hari, dan media saling berbagi pesan atau informasi kepada masyarakat,” lanjutnya.

Sesuai tema materinya mengenai Literasi Digital Bagi Tenaga Pendidik dan Anak Didik di Era Digital, Witri menyebut literasi digital dalam dunia pendidikan meliputi, menganalisis dan mengevaluasi, berkreasi dan berkolaborasi, menggunakan dan membagikan, serta penerapan penilaian etis.

“Adapun tantangan literasi digital mencakup arus informasi yang banyak dan terdapat konten negatif seperti pornografi dan isu SARA. Di era digital saat ini, para guru dan murid dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi, terutama di masa pandemi saat kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah. Literasi digital antar tenaga pendidik dan anak didik harus dikembangkan, karena guru kini harus memiliki kemampuan menyajikan materi yang baru secara digital agar peserta didik tidak cepat bosan,” pungkasnya.

U. Laila Sa’adah, selaku Konselor Parenting dan Pegiat Literasi Pendidikan pada sesi Kecakapan Digital, memaparkan tema “Main Aman Saat Belanja Online”. Laila menjelaskan alasan seseorang berbelanja secara online lantaran waktu yang lebih efisien, harga yang semakin bersaing dan kualitas yang beragam, informasi dan ketersediaan barang lebih beragam, lebih santai dan tidak terburu-buru, serta ada rekam jejak pembelian.

“Mengenal jual beli di ranah online meliputi tawar menawar, komunikasi antar penjual dan pembeli, pembayaran, dan sanksi online. Jenis sistem transaksi belanja online diantaranya, cash on delivery atau bayar di tempat dengan memperhatikan metode yang ditawarkan, syarat dan kebijakan dalam COD, transfer antar bank, digital wallet seperti ovo dan DANA, kartu kredit, dan pembayaran melalui minimarket,” urai dia.

Macam-macam media online belanja, sebut Laila, meliputi medsos, website dan blog, serta market place. Tips aman belanja online melalui market place antara lain, waspadai harga yang terlalu murah, gunakan rekening bersama, toko memiliki rating bagus, ada kalanya rawan kebocoran dan pemanfaatan data pelanggan, serta hati-hati dengan social engineering, pengakuan dari karyawan situs belanja online untuk meminta kode tertentu.

“Hal yang harus diperhatikan saat belanja online di luar market place meliputi, website resmi dan dikelola secara profesional, riset melalui mesin pencari mengenai reputasi toko dan ulasan, menyimpan jejak transaksi, tidak menyimpan informasi kartu kredit di toko online, hanya meminta data yang diperlukan, membuat password yang berbeda, serta meminta resi pengiriman,” pungkasnya.

Di sesi Keamanan Digital, Muh. Ridwan Arif selaku RTIK Indonesia, Praktisi Pendidikan, dan Praktisi Digital Parenting, menjelaskan PIN merupakan angka sandi yang hanya diketahui oleh pengguna platform digital dan sistem autentikasi platform digital tersebut.

Tips penggunaan PIN yang baik, kata dia, dengan cara hindari memilih kombinasi angka yang mudah ditebak, tidak menuliskan PIN di kartu identitas, gunakan PIN yang berbeda untuk kepentingan yang berbeda, serta selalu tutupi PIN dengan tangan jika ingin memasukan PIN pada ATM.

“Password merupakan kumpulan karakter yang digunakan oleh pengguna jaringan atau sebuah sistem operasi yang mendukung banyak pengguna untuk memverifikasi identitas dirinya kepasa sistem keamanan yang dimiliki oleh jaringan tersebut,” katanya.

Tips penggunaan password yang aman meliputi, panjang password minimal delapan karakter, tidak mencantumkan informasi pribadi, dan tidak menggunakan kombinasi karakter yang mudah ditebak.

“OTP merupakan penggunaan kode unik yang khas difungsikan satu kali dalam transaksi. Tips perlindungan terhadap OTP meliputi, pahami modus calon pembobol OTP, waspada jika calon pembobol menelpon untuk meminta bantuan atau menawarkan hadiah, tidak berikan kode OTP kesiapapun, serta segara lapor ke pihak terkait jika terlanjur memberikan kode OTP kepada orang lain,” terangnya.

Sedangkan two factor authentication atau 2FA merupakan keamanan penggunaan sistem digital yang membutuhkan dua faktor identifikasi. Fitur keamanan yang digunakan untuk melakukan autentikasi ulang apakah pengguna yang akan login benar pemilik akun tersebut dan terdaftar dalam sistem.

Webinar diakhiri Natasya Esterita, Ketua OKK Sobat Cyber Indonesia dan Influencer dengan Followers 12,6 ribu. Natasya menyimpulkan hasil webinar dari seluruh tema yang sudah dipaparkan para narasumber.

Sebagai keynote speaker, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi sebelumnya memberikan sambutan tujuan Literasi Digital agar masyarakat cakap dalam menggunakan teknologi digital, bermanfaat dalam membangun daerahnya masing-masing oleh putra putri daerah melalui digital platform.

Diketahui, program ini bertujuan mewujudkan masyarakat Indonesia yang paham akan literasi digital lebih dalam dan menyikapi secara bijaksana dalam menggunakan digital platform di 77 kota/kabupaten area Sumatera II, mulai dari Aceh sampai Lampung dengan jumlah peserta sebanyak 600 orang di setiap kegiatan yang ditujukan kepada PNS, TNI/Polri, orangtua, pelajar, penggiat usaha, pendakwah dan sebagainya.

Empat kerangka digital yang diberikan dalam kegiatan tersebut, antara lain Digital Skill, Digital Safety, Digital Ethic dan Digital Culture di mana masing-masing kerangka mempunyai beragam tema. (rel/dek)

TAPSEL, SUMUTPOS.CO—Banyak cara agar netizen terhindar dari informasi sesat melalui dunia maya atau media sosial. Terutama untuk menghindari kecanduan dalam penggunaan medsos.

WEBINAR: Gubsu Edy Rahmayadi dan pelaku Webinar Literasi Digital di Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara pada 21 Juli 2021. (IST)

“Tips meminimalisir kecanduan medsos ialah, membatasi penggunaan medsos, memanfaatkan medsos sebagai peluang usaha, menyeimbangkan medsos dengan buku, serta mengakses aplikasi pembelajaran,” kata Pegiat Komunikasi, Zulfikar, MPd saat menjadi pemateri dalam Webinar Literasi Digital yang diinisiasi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Provinsi Sumatera Utara pada 21 Juli 2021.

Memberi materi bertajuk “Bijak Sebelum Mengunggah di Media Sosial” pada sesi Budaya Digital, Zulfikar menyebut cara bijak menggunakan medsos antara lain berpikir sebelum mengunggah, tidak sedang emosi saat menggunakan medsos, menjaga etika dengan tidak menyinggung seseorang dan menyinggung SARA, mengenali teman berinteraksi, serta memanfaatkan medsos untuk menjali silaturahmi.

“Perubahan dan perkembangan teknologi di era digitalisasi merupakan sebuah kepastian. Teknologi internet seolah telah menjadi kebutuhan pokok penduduk dunia karena dianggap banyak membantu dan memudahkan segala urusan. Namun, dengan segala kemudahan yang tersedia, tentu masyarakat harus tetap waspada dan perlu bijak dalam bermedia sosial agar tetap aman. Jangan sampai hal yang menguntungkan menjadi menimbulkan masalah dan kerugian yang tidak diharapkan,” katanya.

Di sesi Etika Digital, Witri Mirza Yuhanan
membahas literasi digital merupakan keterampilan mengolaborasi, mengomunikasikan, memahami teknologi digital dalam rangka berkreasi, berpartisipasi, dan berbagi pengalaman.

“Contoh literasi digital di sekolah, seperti komunikasi dengan guru atau teman menggunakan medsos, mengirim tugas lewat e-Mail, pembelajaran secara online, dan mencari bahan ajar dari sumber terpercaya,” kata staf Cabang Pendidikan Tapsel tersebut. “Prinsip dasar literasi digital meliputi masyarakat memiliki kemampuan untuk memahami informasi yang diberikan media, baik secara implisit maupun eksplisit, masyarakat memiliki kemampuan memahami serta menyimpan informasi untuk dibaca di lain hari, dan media saling berbagi pesan atau informasi kepada masyarakat,” lanjutnya.

Sesuai tema materinya mengenai Literasi Digital Bagi Tenaga Pendidik dan Anak Didik di Era Digital, Witri menyebut literasi digital dalam dunia pendidikan meliputi, menganalisis dan mengevaluasi, berkreasi dan berkolaborasi, menggunakan dan membagikan, serta penerapan penilaian etis.

“Adapun tantangan literasi digital mencakup arus informasi yang banyak dan terdapat konten negatif seperti pornografi dan isu SARA. Di era digital saat ini, para guru dan murid dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi, terutama di masa pandemi saat kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah. Literasi digital antar tenaga pendidik dan anak didik harus dikembangkan, karena guru kini harus memiliki kemampuan menyajikan materi yang baru secara digital agar peserta didik tidak cepat bosan,” pungkasnya.

U. Laila Sa’adah, selaku Konselor Parenting dan Pegiat Literasi Pendidikan pada sesi Kecakapan Digital, memaparkan tema “Main Aman Saat Belanja Online”. Laila menjelaskan alasan seseorang berbelanja secara online lantaran waktu yang lebih efisien, harga yang semakin bersaing dan kualitas yang beragam, informasi dan ketersediaan barang lebih beragam, lebih santai dan tidak terburu-buru, serta ada rekam jejak pembelian.

“Mengenal jual beli di ranah online meliputi tawar menawar, komunikasi antar penjual dan pembeli, pembayaran, dan sanksi online. Jenis sistem transaksi belanja online diantaranya, cash on delivery atau bayar di tempat dengan memperhatikan metode yang ditawarkan, syarat dan kebijakan dalam COD, transfer antar bank, digital wallet seperti ovo dan DANA, kartu kredit, dan pembayaran melalui minimarket,” urai dia.

Macam-macam media online belanja, sebut Laila, meliputi medsos, website dan blog, serta market place. Tips aman belanja online melalui market place antara lain, waspadai harga yang terlalu murah, gunakan rekening bersama, toko memiliki rating bagus, ada kalanya rawan kebocoran dan pemanfaatan data pelanggan, serta hati-hati dengan social engineering, pengakuan dari karyawan situs belanja online untuk meminta kode tertentu.

“Hal yang harus diperhatikan saat belanja online di luar market place meliputi, website resmi dan dikelola secara profesional, riset melalui mesin pencari mengenai reputasi toko dan ulasan, menyimpan jejak transaksi, tidak menyimpan informasi kartu kredit di toko online, hanya meminta data yang diperlukan, membuat password yang berbeda, serta meminta resi pengiriman,” pungkasnya.

Di sesi Keamanan Digital, Muh. Ridwan Arif selaku RTIK Indonesia, Praktisi Pendidikan, dan Praktisi Digital Parenting, menjelaskan PIN merupakan angka sandi yang hanya diketahui oleh pengguna platform digital dan sistem autentikasi platform digital tersebut.

Tips penggunaan PIN yang baik, kata dia, dengan cara hindari memilih kombinasi angka yang mudah ditebak, tidak menuliskan PIN di kartu identitas, gunakan PIN yang berbeda untuk kepentingan yang berbeda, serta selalu tutupi PIN dengan tangan jika ingin memasukan PIN pada ATM.

“Password merupakan kumpulan karakter yang digunakan oleh pengguna jaringan atau sebuah sistem operasi yang mendukung banyak pengguna untuk memverifikasi identitas dirinya kepasa sistem keamanan yang dimiliki oleh jaringan tersebut,” katanya.

Tips penggunaan password yang aman meliputi, panjang password minimal delapan karakter, tidak mencantumkan informasi pribadi, dan tidak menggunakan kombinasi karakter yang mudah ditebak.

“OTP merupakan penggunaan kode unik yang khas difungsikan satu kali dalam transaksi. Tips perlindungan terhadap OTP meliputi, pahami modus calon pembobol OTP, waspada jika calon pembobol menelpon untuk meminta bantuan atau menawarkan hadiah, tidak berikan kode OTP kesiapapun, serta segara lapor ke pihak terkait jika terlanjur memberikan kode OTP kepada orang lain,” terangnya.

Sedangkan two factor authentication atau 2FA merupakan keamanan penggunaan sistem digital yang membutuhkan dua faktor identifikasi. Fitur keamanan yang digunakan untuk melakukan autentikasi ulang apakah pengguna yang akan login benar pemilik akun tersebut dan terdaftar dalam sistem.

Webinar diakhiri Natasya Esterita, Ketua OKK Sobat Cyber Indonesia dan Influencer dengan Followers 12,6 ribu. Natasya menyimpulkan hasil webinar dari seluruh tema yang sudah dipaparkan para narasumber.

Sebagai keynote speaker, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi sebelumnya memberikan sambutan tujuan Literasi Digital agar masyarakat cakap dalam menggunakan teknologi digital, bermanfaat dalam membangun daerahnya masing-masing oleh putra putri daerah melalui digital platform.

Diketahui, program ini bertujuan mewujudkan masyarakat Indonesia yang paham akan literasi digital lebih dalam dan menyikapi secara bijaksana dalam menggunakan digital platform di 77 kota/kabupaten area Sumatera II, mulai dari Aceh sampai Lampung dengan jumlah peserta sebanyak 600 orang di setiap kegiatan yang ditujukan kepada PNS, TNI/Polri, orangtua, pelajar, penggiat usaha, pendakwah dan sebagainya.

Empat kerangka digital yang diberikan dalam kegiatan tersebut, antara lain Digital Skill, Digital Safety, Digital Ethic dan Digital Culture di mana masing-masing kerangka mempunyai beragam tema. (rel/dek)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/