Duka keluarga Reza Valentino Simamora belum usai. Di tengah kesedihan atas kepergian sang anak yang meninggal saat bekerja di Korea Selatan, keluarga kini dihadapkan pada persoalan hilangnya sejumlah barang pribadi milik korban yang hingga kini belum jelas keberadaannya.
Ayah korban, Saut Tarulitua Simamora, mengaku telah mengikuti pertemuan daring bersama Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan Bea Cukai pada Jumat (17/4). Namun, alih-alih mendapatkan kepastian, ia justru menilai penjelasan yang diberikan belum menjawab kegelisahan keluarga.
“Klarifikasinya terasa hampa. Disebutkan handphone dikirim terpisah sesuai aturan, tapi tidak ada bukti resmi atau surat dari pihak terkait,” ujarnya, Selasa (21/4).
Menurut Saut, dua unit telepon genggam milik Reza disebut telah dikirim menyusul barang lainnya. Namun hingga saat ini, barang tersebut belum juga diterima. Ia bahkan menduga kemunculan informasi terkait pengiriman ponsel itu baru terjadi setelah kasus ini ramai diperbincangkan publik.
Tak hanya ponsel, paspor milik Reza juga menjadi sorotan. Pihak keluarga menerima penjelasan bahwa paspor tersebut ditarik oleh negara sesuai ketentuan. Namun Saut mempertanyakan kebijakan tersebut, mengingat dokumen itu dibuat secara mandiri oleh anaknya untuk bekerja di luar negeri.
“Seharusnya dikembalikan ke keluarga dulu. Itu dibuat dengan biaya pribadi, bukan negara yang membuatkannya,” katanya.
Lebih jauh, keluarga juga menyoroti belum diterimanya hak finansial korban. Asuransi dari perusahaan tempat Reza bekerja disebut belum dibayarkan, begitu pula sisa gaji untuk periode 1 hingga 23 September 2025.
“Asuransi tidak ada sama sekali. Bahkan barang pribadi pun hilang. Anak kami pergi dalam keadaan sehat, pulang sudah tidak bernyawa,” ucap Saut dengan nada pilu.
Diketahui, Reza berangkat ke Korea Selatan pada Maret 2025 untuk bekerja di kapal penangkap ikan milik PT Garamho. Sebelum itu, ia sempat menjalani pelatihan bahasa Korea selama empat bulan di Semarang.
Jenazah Reza ditemukan pada 27 September 2025 dengan luka di bagian dada, sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia pada 5 Oktober 2025.
Kini, keluarga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, untuk membantu mengungkap kejelasan nasib barang pribadi serta hak-hak yang belum diterima. (map/ila)

