28 C
Medan
Tuesday, July 23, 2024

Banyak Teman karena Sepang

Azrul Ananda

Saya ingin tahu, Anda punya berapa nama panggilan? Saya yakin tiap orang punya lebih dari satu nama panggilan. Dan setiap nama menandai siapa temannya, kapan eranya, atau apa bidang pertemanannya.

Saya sendiri mungkin punya lebih dari tiga nama panggilan.

Waktu kecil, terbiasa dipanggil ”Ulik”. Baik oleh orang tua maupun teman-teman bermain masa kecil. Jadi, kalau ada yang memanggil ”Ulik”, dia pasti teman sejak lamaaaaaaa.

Waktu SMA di Amerika, karena nama ”Azrul” sulit dilafalkan, saya banyak dipanggil dengan sebutan ”Rully”. Toh, tanda tangan saya sejak SD memang bertulisan nama itu.

Waktu kuliah, saat kepala saya gundul selama lebih dari setahun, saya sempat dipanggil teman-teman Indonesia ”Botak”. Waktu rambut saya warna-warni dan telinga kiri bertindik, ya dipanggil normal ”Azrul”.

Belakangan, oleh teman-teman bersepeda, banyak dipanggil ”AA” alias inisial dari nama lengkap saya. Walau kadang dipanggil ”Kepsek” karena dianggap kepala sekolah ”Azrul Ananda School of Suffering” (kelompok sepeda saya mungkin memang paling menyiksa rute dan kecepatannya).

Tapi, ada sekelompok lagi yang selama belasan tahun terakhir memanggil saya dengan sebutan ”Aza”. Panggilan itu berdasar kode tiga huruf saya saat menulis di Jawa Pos. Dan pertemanan ini juga terbentuk karena kode ”Aza” itu dulu sering banget digunakan untuk menulis tentang Formula 1.

Mereka yang memanggil saya ”Aza” memang teman-teman yang selama belasan tahun terakhir bertemu atau berkumpulnya ya pas berkaitan dengan F1. Baik itu nonton bareng di kafe/hotel maupun nonton bareng langsung ke sirkuit…

Akhir pekan lalu (29 September–1 Oktober) adalah momen istimewa bagi kami (saya dan komunitas F1 Mania Surabaya alias mereka yang memanggil saya ”Aza”). Kami bertemu lagi di Malaysia, menyaksikan perhelatan terakhir Formula 1 di Sirkuit Sepang.

Bagi kami, sirkuit itu memang bersejarah.

Sejak 2000 atau edisi kedua lomba, berkali-kali kami bersama menonton lomba di sana. Grand Prix Malaysia memang banyak membantu membuka akses bagi penggemar Indonesia untuk menonton langsung. Sebab, itulah lomba yang paling terjangkau untuk dilihat secara langsung di sirkuit.

Kalau sudah berakhir pekan nonton F1, ya sudah, lupa yang lain. Pagi sampai malam di sirkuit, setelah itu di kota kumpul lagi, ngobrol dan makan bersama.

Ada teman yang sudah 16 kali menonton langsung F1 ke Sepang. Saya sendiri lupa berapa kali. Tidak sebanyak itu, tapi yang jelas lebih dari 12 kali. Sekali lagi, karena lomba ini paling terjangkau.

Ada banyak cerita yang sampai sekarang saya kenang.

Terus terang, kelompok ini tergolong koplak. Saya juga bertemu banyak kelompok dari kota lain, tapi banyak yang terkesan jaim. Kalau kelompok F1 Mania Surabaya ini tidak ada malunya.

Pernah, di tahun-tahun awal, mereka seolah berlomba mengoleksi pernak-pernik sirkuit yang paling keren. Maksudnya bukan beli, melainkan melepas/mencopot/mengambil. Misalnya bendera-bendera lomba yang terpasang di tiang lampu. Atau hiasan-hiasan meja berbau F1. Atau yang lain-lain yang seharusnya tidak dilepas/dicopot/diambil.

Wkwkwkwk…

Kebiasaan itu terbawa ke negara lain. Waktu di Tiongkok, di Sirkuit Shanghai, mereka bahkan berani menawar baju yang dipakai petugas lintasan. Karena mereka tahu, seragam petugas itu pasti tidak bisa dibeli di booth merchandise mana pun!

Wkwkwkwk…

Azrul Ananda

Saya ingin tahu, Anda punya berapa nama panggilan? Saya yakin tiap orang punya lebih dari satu nama panggilan. Dan setiap nama menandai siapa temannya, kapan eranya, atau apa bidang pertemanannya.

Saya sendiri mungkin punya lebih dari tiga nama panggilan.

Waktu kecil, terbiasa dipanggil ”Ulik”. Baik oleh orang tua maupun teman-teman bermain masa kecil. Jadi, kalau ada yang memanggil ”Ulik”, dia pasti teman sejak lamaaaaaaa.

Waktu SMA di Amerika, karena nama ”Azrul” sulit dilafalkan, saya banyak dipanggil dengan sebutan ”Rully”. Toh, tanda tangan saya sejak SD memang bertulisan nama itu.

Waktu kuliah, saat kepala saya gundul selama lebih dari setahun, saya sempat dipanggil teman-teman Indonesia ”Botak”. Waktu rambut saya warna-warni dan telinga kiri bertindik, ya dipanggil normal ”Azrul”.

Belakangan, oleh teman-teman bersepeda, banyak dipanggil ”AA” alias inisial dari nama lengkap saya. Walau kadang dipanggil ”Kepsek” karena dianggap kepala sekolah ”Azrul Ananda School of Suffering” (kelompok sepeda saya mungkin memang paling menyiksa rute dan kecepatannya).

Tapi, ada sekelompok lagi yang selama belasan tahun terakhir memanggil saya dengan sebutan ”Aza”. Panggilan itu berdasar kode tiga huruf saya saat menulis di Jawa Pos. Dan pertemanan ini juga terbentuk karena kode ”Aza” itu dulu sering banget digunakan untuk menulis tentang Formula 1.

Mereka yang memanggil saya ”Aza” memang teman-teman yang selama belasan tahun terakhir bertemu atau berkumpulnya ya pas berkaitan dengan F1. Baik itu nonton bareng di kafe/hotel maupun nonton bareng langsung ke sirkuit…

Akhir pekan lalu (29 September–1 Oktober) adalah momen istimewa bagi kami (saya dan komunitas F1 Mania Surabaya alias mereka yang memanggil saya ”Aza”). Kami bertemu lagi di Malaysia, menyaksikan perhelatan terakhir Formula 1 di Sirkuit Sepang.

Bagi kami, sirkuit itu memang bersejarah.

Sejak 2000 atau edisi kedua lomba, berkali-kali kami bersama menonton lomba di sana. Grand Prix Malaysia memang banyak membantu membuka akses bagi penggemar Indonesia untuk menonton langsung. Sebab, itulah lomba yang paling terjangkau untuk dilihat secara langsung di sirkuit.

Kalau sudah berakhir pekan nonton F1, ya sudah, lupa yang lain. Pagi sampai malam di sirkuit, setelah itu di kota kumpul lagi, ngobrol dan makan bersama.

Ada teman yang sudah 16 kali menonton langsung F1 ke Sepang. Saya sendiri lupa berapa kali. Tidak sebanyak itu, tapi yang jelas lebih dari 12 kali. Sekali lagi, karena lomba ini paling terjangkau.

Ada banyak cerita yang sampai sekarang saya kenang.

Terus terang, kelompok ini tergolong koplak. Saya juga bertemu banyak kelompok dari kota lain, tapi banyak yang terkesan jaim. Kalau kelompok F1 Mania Surabaya ini tidak ada malunya.

Pernah, di tahun-tahun awal, mereka seolah berlomba mengoleksi pernak-pernik sirkuit yang paling keren. Maksudnya bukan beli, melainkan melepas/mencopot/mengambil. Misalnya bendera-bendera lomba yang terpasang di tiang lampu. Atau hiasan-hiasan meja berbau F1. Atau yang lain-lain yang seharusnya tidak dilepas/dicopot/diambil.

Wkwkwkwk…

Kebiasaan itu terbawa ke negara lain. Waktu di Tiongkok, di Sirkuit Shanghai, mereka bahkan berani menawar baju yang dipakai petugas lintasan. Karena mereka tahu, seragam petugas itu pasti tidak bisa dibeli di booth merchandise mana pun!

Wkwkwkwk…

Artikel Terkait

Wayan di New York

Trump Kecele Lagi

Terpopuler

Artikel Terbaru

/