28 C
Medan
Tuesday, July 23, 2024

Toleransi Lubang Jalan

Oleh AZRUL ANANDA

 Waktu kecil, saya pernah diajari guru ngaji saya: Kalau menemukan paku di jalan, ambillah. Ada pahalanya karena mencegah bencana bagi orang lain. Lha kalau jalan rusak dibiarkan? Dosanya seperti apa ya?

 Paragraf di atas sederhana, bukan? Sangat sederhana. Sangat sederhana sekali. Amat sangat sederhana sekali.

Ada paku di jalan, ambillah, ada pahalanya.

Ada batu di tengah jalan, ambillah, ada pahalanya.

Demi keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Sekarang kita balik.

Ini habis (atau masih) musim hujan. Banyak jalan rusak. Ada yang sekadar kasar. Ada yang berlubang kecil-kecil. Ada yang berlubang lebar tapi tidak dalam. Ada lubang-lubang ukuran medium tapi dalam.

Banyak jalanan begitu parah sehingga pergi ke kantor dari rumah rasanya seperti balapan Paris-Dakar.

Kebetulan, saya orang yang lima hari setiap minggu bersepeda jauh. Sehari minimal 80 km, minimal kalau sedang santai tetap keliling 45 km (rahasia tetap kurus dan fresh).

Entah berapa motor saya lihat terjatuh karena lubang. Mereka ngebut (salah sendiri), tidak melihat lubang (karena ngebut), lalu gubrak!

Pernah suatu hari gerimis, saya dan teman-teman berhenti di pinggir karena kebetulan ada yang harus ganti ban gara-gara bocor (kena lubang). Tempat berhentinya dekat rel kereta api, yang sekelilingnya lubang-lubang.

Gubrak! Satu motor jatuh.

Gedubrak! Satu lagi motor jatuh.

Brakkk! Lagi-lagi ada motor jatuh.

Dalam waktu tak sampai sepuluh menit, kami melihat lima motor jatuh.

Untung (ini Indonesia banget, selalu ada ”untung”), kecepatan tidak tinggi, jadi tidak ada yang cedera berat.

Eh, begitu kami kembali bersepeda melewati rel itu, brakkkk, saya dan satu teman jatuh. Untung pelan. Tidak ada luka atau apa-apa.

Oleh AZRUL ANANDA

 Waktu kecil, saya pernah diajari guru ngaji saya: Kalau menemukan paku di jalan, ambillah. Ada pahalanya karena mencegah bencana bagi orang lain. Lha kalau jalan rusak dibiarkan? Dosanya seperti apa ya?

 Paragraf di atas sederhana, bukan? Sangat sederhana. Sangat sederhana sekali. Amat sangat sederhana sekali.

Ada paku di jalan, ambillah, ada pahalanya.

Ada batu di tengah jalan, ambillah, ada pahalanya.

Demi keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Sekarang kita balik.

Ini habis (atau masih) musim hujan. Banyak jalan rusak. Ada yang sekadar kasar. Ada yang berlubang kecil-kecil. Ada yang berlubang lebar tapi tidak dalam. Ada lubang-lubang ukuran medium tapi dalam.

Banyak jalanan begitu parah sehingga pergi ke kantor dari rumah rasanya seperti balapan Paris-Dakar.

Kebetulan, saya orang yang lima hari setiap minggu bersepeda jauh. Sehari minimal 80 km, minimal kalau sedang santai tetap keliling 45 km (rahasia tetap kurus dan fresh).

Entah berapa motor saya lihat terjatuh karena lubang. Mereka ngebut (salah sendiri), tidak melihat lubang (karena ngebut), lalu gubrak!

Pernah suatu hari gerimis, saya dan teman-teman berhenti di pinggir karena kebetulan ada yang harus ganti ban gara-gara bocor (kena lubang). Tempat berhentinya dekat rel kereta api, yang sekelilingnya lubang-lubang.

Gubrak! Satu motor jatuh.

Gedubrak! Satu lagi motor jatuh.

Brakkk! Lagi-lagi ada motor jatuh.

Dalam waktu tak sampai sepuluh menit, kami melihat lima motor jatuh.

Untung (ini Indonesia banget, selalu ada ”untung”), kecepatan tidak tinggi, jadi tidak ada yang cedera berat.

Eh, begitu kami kembali bersepeda melewati rel itu, brakkkk, saya dan satu teman jatuh. Untung pelan. Tidak ada luka atau apa-apa.

Artikel Terkait

Wayan di New York

Trump Kecele Lagi

Terpopuler

Artikel Terbaru

/