Pengaduan

Datok Yan Djuna Minta Peningkatan Layanan pada Kegiatan Batubara Bertanjak VII

Tokoh pemuda Melayu Sumut Datok Yan Djuna meminta peningkatan layanan pada kegiatan Batubara Bertanjak VII dalam melayani undangan pembukaan acara di Istana Niat Lima Laras, Kecamatan Tanjungtiram, Sabtu (10/10).

Permintaan ini didasari atas kekecewaan Datok Yan Djuna dengan penempatan kursi VIP yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Menurut Datok Yan Djuna, kemeriahan acara seharusnya diimbangi pelayanan yang baik kepada tamu undangan.

“Saya sangat antusias menerima undangan Batubara Bertanjak yang kini memasuki tahun ketujuh. Apalagi kegiatan ini disebut mendapat dukungan Kementerian Pariwisata dan masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN). Bagi saya, ini suatu kehormatan, apalagi ini kali perdana saya hadir,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung hingga 16 Oktober 2026 itu dibuka Dr. Ngatemin, S.Pd, M.Si selaku direktur Politeknik Pariwisata Negeri Medan mewakili Kementerian Pariwisata RI. Turut hadir Ketua DPRD Batubara Safi’i, S.H yang juga ketua MABMI Batubara, perwakilan bupati, unsur Muspika dan sejumlah tokoh pemuda dan budaya Melayu.

Pembukaan berlangsung meriah dengan penampilan tari persembahan Melayu secara kolosal. Sejumlah kegiatan seni dan budaya turut memeriahkan perhelatan yang mengangkat tanjak atau tengkulok sebagai identitas Melayu tersebut.

Datok Yan Djuna yang datang dari Medan bersama tokoh pemuda Melayu Kota Medan Muhammad Fadly Nasution, S.T antusias menghadiri kegiatan itu setelah menerima undangan resmi panitia. Yan Djuna yang menyandang gelar Datok Setia Nara Seni Diraja sebagai perangkat Kerajaan Kejeruan Metar Bilad Deli dikenal sebagai penyiar program Resam Melayu di RRI Pro 4 FM Medan Suara Budaya Sumut.

Datok Yan Djuna meminta panitia mengevaluasi sistem penerimaan dan penempatan tamu, terutama di area VIP. Menurutnya, protokoler harus diatur secara jelas agar tidak menimbulkan kesan adanya perlakuan berbeda terhadap tamu. “Kalau memang ada ketentuan tempat duduk VIP, terapkan secara konsisten. Semua harus diatur dengan baik, beretika dan bermartabat,” katanya.

Dibagian lain, Datok Yan Djuna mengingatkan pentingnya pelestarian Istana Niat Lima Laras sebagai warisan sejarah Melayu,” sebutnya. Ia menambahkan bahwa istana tersebut dibangun pada 1907 dan selesai pada 1912 oleh Datuk Matyoeda Sri Diraja atau Datuk Muhammad Yuda, Raja Kerajaan Lima Laras ke-XII. Bangunan bersejarah ini perlu mendapat perhatian serius oleh pemerintah dan berbagai pihak untuk pelestarian warisan sejarah secara berkelanjutan ke generasi berikutnya.

Datok Yan Djuna berharap Batubara Bertanjak terus berkembang menjadi agenda budaya yang membanggakan masyarakat sekaligus memperkuat promosi pariwisata daerah. “Keberhasilan acara bukan hanya diukur dari kemeriahan panggung, penampilan artis atau banyaknya pengunjung. Tetapi juga harus diperhatikan pelayanan kepada tamu, ketertiban protokoler dan penghormatan terhadap tamu. Budaya Melayu mengajarkan kita untuk memuliakan tamu,” harapnya. (dmp)

Tokoh pemuda Melayu Sumut Datok Yan Djuna meminta peningkatan layanan pada kegiatan Batubara Bertanjak VII dalam melayani undangan pembukaan acara di Istana Niat Lima Laras, Kecamatan Tanjungtiram, Sabtu (10/10).

Permintaan ini didasari atas kekecewaan Datok Yan Djuna dengan penempatan kursi VIP yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Menurut Datok Yan Djuna, kemeriahan acara seharusnya diimbangi pelayanan yang baik kepada tamu undangan.

“Saya sangat antusias menerima undangan Batubara Bertanjak yang kini memasuki tahun ketujuh. Apalagi kegiatan ini disebut mendapat dukungan Kementerian Pariwisata dan masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN). Bagi saya, ini suatu kehormatan, apalagi ini kali perdana saya hadir,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung hingga 16 Oktober 2026 itu dibuka Dr. Ngatemin, S.Pd, M.Si selaku direktur Politeknik Pariwisata Negeri Medan mewakili Kementerian Pariwisata RI. Turut hadir Ketua DPRD Batubara Safi’i, S.H yang juga ketua MABMI Batubara, perwakilan bupati, unsur Muspika dan sejumlah tokoh pemuda dan budaya Melayu.

Pembukaan berlangsung meriah dengan penampilan tari persembahan Melayu secara kolosal. Sejumlah kegiatan seni dan budaya turut memeriahkan perhelatan yang mengangkat tanjak atau tengkulok sebagai identitas Melayu tersebut.

Datok Yan Djuna yang datang dari Medan bersama tokoh pemuda Melayu Kota Medan Muhammad Fadly Nasution, S.T antusias menghadiri kegiatan itu setelah menerima undangan resmi panitia. Yan Djuna yang menyandang gelar Datok Setia Nara Seni Diraja sebagai perangkat Kerajaan Kejeruan Metar Bilad Deli dikenal sebagai penyiar program Resam Melayu di RRI Pro 4 FM Medan Suara Budaya Sumut.

Datok Yan Djuna meminta panitia mengevaluasi sistem penerimaan dan penempatan tamu, terutama di area VIP. Menurutnya, protokoler harus diatur secara jelas agar tidak menimbulkan kesan adanya perlakuan berbeda terhadap tamu. “Kalau memang ada ketentuan tempat duduk VIP, terapkan secara konsisten. Semua harus diatur dengan baik, beretika dan bermartabat,” katanya.

Dibagian lain, Datok Yan Djuna mengingatkan pentingnya pelestarian Istana Niat Lima Laras sebagai warisan sejarah Melayu,” sebutnya. Ia menambahkan bahwa istana tersebut dibangun pada 1907 dan selesai pada 1912 oleh Datuk Matyoeda Sri Diraja atau Datuk Muhammad Yuda, Raja Kerajaan Lima Laras ke-XII. Bangunan bersejarah ini perlu mendapat perhatian serius oleh pemerintah dan berbagai pihak untuk pelestarian warisan sejarah secara berkelanjutan ke generasi berikutnya.

Datok Yan Djuna berharap Batubara Bertanjak terus berkembang menjadi agenda budaya yang membanggakan masyarakat sekaligus memperkuat promosi pariwisata daerah. “Keberhasilan acara bukan hanya diukur dari kemeriahan panggung, penampilan artis atau banyaknya pengunjung. Tetapi juga harus diperhatikan pelayanan kepada tamu, ketertiban protokoler dan penghormatan terhadap tamu. Budaya Melayu mengajarkan kita untuk memuliakan tamu,” harapnya. (dmp)

Artikel Terkait

Pengaduan

Terpopuler

Artikel Terbaru