Danau Toba dikenal dengan pesona alam dan keindahannya. ‘Kepingan surga’ ini juga menjadi contoh integrasi hulu-hilir dari budidaya ikan nila melalui Keramba Jaring Apung (KJA) Tambun Raya Kecamatan Pamatangsidamanik di perairan Danau Toba hingga industri pengolahan ikan nila di Janggir Leto Simalungun.
Inilah yang dikembangkan oleh PT. Suri Tani Pemuka, perusahaan grup Japfa yang beroperasi sejak tahun 1987 dan mulai budidaya KJA di Danau Toba pada tahun 2013. Dalam tata kelola perusahaan ini melibatkan Pemerintah Provinsi Sumut, tujuh pemerintah kabupaten di kawasan Danau Toba, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH).
Operasi perusahaan ini pun harus mengantongi sertifikasi keberlanjutan internasional Aquaculture Stewardship Council (ASC), Best Aquaculture Practices (BAP) dan sertifikasi KKP. Kemudian memenuhi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dengan nilai excellent, Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB). Tahun 2017 pernah menerima penghargaan sebagai perusahaan budidaya dan pengolahan ikan terbaik dari Gubsu.
Dari data yang dihimpun Sumut Pos diketahui bahwa rantai pasok terintegrasi dari hulu hingga hilir ini menjadi sumber nafkah bagi 2.214 tenaga kerja termasuk masyarakat setempat. Seluruh bagian ikan nila bisa dimanfaatkan. Tiga puluh persen dari bobot ikan nila diolah menjadi fillet dan loin untuk eksport. Kepala dan daging perut untuk pangan. Kulit dan sisik untuk bahan kolagen dan gelatin. Tulang dan jeroan untuk bahan tepung dan minyak ikan.
Perusahaan ini mengelola rantai nilai dengan merek Toba Tilapia. Yakni pabrik pakan di Medan, budidaya di KJA Danau Toba, pabrik pengolahan di Pematangsiantar yang mampu menembus eksport hingga ke 17 negara termasuk Amerika Serikat (AS) dan Kanada yang dikenal ketat dengan aturan produk pangan premium ramah lingkungan.
Perlu diketahui ikan nila merupakan salah satu komoditi unggulan. Ikan ini sebagai sumber protein, baik untuk konsumsi dalam negeri termasuk mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG), bahan baku industri serta komoditi eksport. Pangan akuatik ini juga menyediakan zat gizi penting seperti omega-3, vitamin A, seng, kalsium dan zat besi.
Nilai eksport ikan nila Indonesia tahun 2023 diketahui U$D 81,77 juta dengan volume 11.166 ton. Sebanyak 98,3 persen ikan nila dieksport dalam bentuk fillet beku. Tahun 2024 mencatat produksi KJA di Danau Toba 64.357 ton dari 13.101 unit KJA.
Untuk melihat aktivitas integrasi hulu-hilir dari
budidaya ikan nila ini, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Dalam Negeri dan UK FCDO dan lembaga terkait dipimpin Deputi Bidang Pangan, SDA, dan LH Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo meninjau operasional PT. Suri Tani Pemuka tersebut di Simalungun dan Danau Toba. Rombongan diterima Government Relations Manager Japfa Andhi Trapsilo.
Bagaimana arah perlindungan ekosistem Danau Toba? Sudah ada Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem (RPPE) Danau Toba tahun 2025-2029 yang disahkan Gubsu. RPPE mengusung visi: Danau Toba: Aek Natio sebagai Air Kehidupan.
Salah satu program prioritasnya adalah pengendalian pencemaran air dari budidaya KJA. Disamping penataan sempadan, rehabilitasi hutan dan lahan, pelestarian keanekaragaman hayati dan upaya mempertahankan green card Toba Caldera Unesco Global Geopark.
Inilah tantangan utama integrasi hulu-hilir untuk menjaga lingkungan terutama kualitas air dan daya dukung Danau Toba. Hal ini penting karena Danau Toba juga adalah danau prioritas nasional, sumber air baku dan kawasan wisata kelas dunia sehingga praktik budidaya menentukan keberlanjutan ekonomi dan ekologi kawasan tersebut. (dmp)

