26 C
Medan
Saturday, January 17, 2026

Gubernur Deklarasikan Sumut Provinsi Literasi

Pada kesempatan itu, Menristek Dikti Prof Mohammad Nasir, menyambut gembira deklarasi Sumut sebagai provinsi literasi. “Selamat kepada Sumut sebagai provinsi literasi, mudah-mudahan kita bisa mewujudkan Indonesia cerdas, Indonesia maju, melalui perpusatakaan dan gerakan literasi,” harapnya.

Ia mengatakan, melalui gerakan literasi, maka diharapkan tingkat ‘melek huruf’ bisa ditingkatkan, atau tidak ada lagi penduduk usia sekolah maupun dewasa yang buta aksara.

Menurut Nasir, masalah literasi adalah sangat penting, karena pintu gerbang ilmu pengetahuan adalah perpustakaan. “Dengan ilmu pengetahuan, kita menguasai dunia. Barang siapa menguasai bahasa, selamat dari tipu daya,” jelasnya.

Nasir juga menyebutkan, pada 2017, DPR RI telah mensyahkan Undang-undang Perbukuan, yang melindungi para penulis, supaya penulis buku punya hak cipta dihargai. Hal itu merupakaan satu bentuk dukungan dan keseriusan pemerintah dalam mengembangan budaya literasi di Tanah Air.

Sestama Perpustakaan Nasional RI, Dedi Junaedi mengungkapkan kegembiraannya, atas komiten Sumut ingin menjadi provinsi literasi. “Sebelumnya, ketika menjabat seorang bupati di wilayahnya, Pak Erry juga komit menumbuhkembangkan gemar membaca,” ungkapnya.

Seperti diketahui, ketika menjabat Bupati di Serdangbedagai, Erry pernah menerima penghargaan di bidang perpustakaan bersama Wali Kota Surabaya. Serdangbedagai berhasil mendirikan perpustakaan di seluruh sekolah menengah, dan komitmen mengembangkan perpustakaan di daerah dengan merekrut pustakawan pada saat penjaringan CPNS.

Ferlin Nainggolan menjelaskan, pihaknya bersyukur, karena 2 daerah di Sumut, yakni Labuhanbatu dan Sedangbedagai, telah ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai daerah percontohan literasi nasional. Kedua daerah tersebut memiliki komitmen tinggi menggalakkan literasi. Bahkan Serdangbedagai mendapat nilai tertinggi dalam survei indeks pembangunan literasi daerah yang dilakukan Mendikbud. (bal/saz)

Pada kesempatan itu, Menristek Dikti Prof Mohammad Nasir, menyambut gembira deklarasi Sumut sebagai provinsi literasi. “Selamat kepada Sumut sebagai provinsi literasi, mudah-mudahan kita bisa mewujudkan Indonesia cerdas, Indonesia maju, melalui perpusatakaan dan gerakan literasi,” harapnya.

Ia mengatakan, melalui gerakan literasi, maka diharapkan tingkat ‘melek huruf’ bisa ditingkatkan, atau tidak ada lagi penduduk usia sekolah maupun dewasa yang buta aksara.

Menurut Nasir, masalah literasi adalah sangat penting, karena pintu gerbang ilmu pengetahuan adalah perpustakaan. “Dengan ilmu pengetahuan, kita menguasai dunia. Barang siapa menguasai bahasa, selamat dari tipu daya,” jelasnya.

Nasir juga menyebutkan, pada 2017, DPR RI telah mensyahkan Undang-undang Perbukuan, yang melindungi para penulis, supaya penulis buku punya hak cipta dihargai. Hal itu merupakaan satu bentuk dukungan dan keseriusan pemerintah dalam mengembangan budaya literasi di Tanah Air.

Sestama Perpustakaan Nasional RI, Dedi Junaedi mengungkapkan kegembiraannya, atas komiten Sumut ingin menjadi provinsi literasi. “Sebelumnya, ketika menjabat seorang bupati di wilayahnya, Pak Erry juga komit menumbuhkembangkan gemar membaca,” ungkapnya.

Seperti diketahui, ketika menjabat Bupati di Serdangbedagai, Erry pernah menerima penghargaan di bidang perpustakaan bersama Wali Kota Surabaya. Serdangbedagai berhasil mendirikan perpustakaan di seluruh sekolah menengah, dan komitmen mengembangkan perpustakaan di daerah dengan merekrut pustakawan pada saat penjaringan CPNS.

Ferlin Nainggolan menjelaskan, pihaknya bersyukur, karena 2 daerah di Sumut, yakni Labuhanbatu dan Sedangbedagai, telah ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai daerah percontohan literasi nasional. Kedua daerah tersebut memiliki komitmen tinggi menggalakkan literasi. Bahkan Serdangbedagai mendapat nilai tertinggi dalam survei indeks pembangunan literasi daerah yang dilakukan Mendikbud. (bal/saz)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru