MEDAN-Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Dinkes Sumut) menyoroti bahaya penggunaan merkuri dalam aktivitas penambangan emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Penggunaan bahan kimia tersebut dikhawatirkan mencemari sumber air yang dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci hingga memasak.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sumut, Heri Valona Ambarita, mengungkapkan, pencemaran air akibat aktivitas penambangan emas ilegal menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian. Terlebih, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai berpotensi terpapar apabila air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari telah tercemar bahan berbahaya.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah kawasan Huta Pungkuy. Aktivitas penambangan emas yang menggunakan merkuri secara bebas dikhawatirkan menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat di sekitar kawasan tersebut.
Menurut Heri, risiko paparan menjadi semakin besar apabila masyarakat terus menggunakan air yang tercemar tanpa mengetahui tingkat kontaminasinya. Kontak langsung dengan air yang mengandung bahan berbahaya, terlebih jika berlangsung dalam waktu lama, perlu diwaspadai.
“Air yang digunakan masyarakat harus menjadi perhatian. Apalagi, jika air tersebut sudah tercemar akibat aktivitas penambangan dan masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya saat memberikan keterangan di Kantor Gubernur Sumut, Kamis (22/10/2026).
Ia menjelaskan, dampak paparan merkuri tidak boleh dianggap sepele karena dapat menimbulkan persoalan kesehatan yang perlu diantisipasi sejak dini. Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dan bergantung pada air sungai untuk berbagai keperluan menjadi kelompok yang patut mendapat perhatian.
Selain dampak terhadap kesehatan, penggunaan merkuri dalam penambangan emas ilegal juga berpotensi memperburuk kondisi lingkungan. Bahan kimia yang digunakan dalam proses pengolahan emas dapat mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Heri menekankan, masyarakat perlu memahami bahwa risiko pencemaran tidak hanya berkaitan dengan aktivitas penambangan, tetapi juga dengan kebiasaan menggunakan air dari sumber yang berpotensi terkontaminasi.
“Kalau masyarakat setiap hari menggunakan air sungai untuk mandi, mencuci, bahkan memasak, tentu kondisi airnya harus dipastikan terlebih dahulu. Jangan sampai air yang digunakan justru menimbulkan risiko bagi kesehatan,” katanya.
Ia juga menyoroti kemungkinan dampak jangka panjang dari paparan merkuri. Sebab, merkuri dapat terakumulasi dalam tubuh, tergantung pada bentuk senyawa, jalur paparan, dosis, dan lamanya seseorang terpapar. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sebelum masyarakat mengalami gangguan kesehatan.
Masyarakat Dihadapkan pada Persoalan Ekonomi
Di sisi lain, penanganan aktivitas penambangan emas ilegal tidak mudah karena berkaitan erat dengan kondisi ekonomi masyarakat. Sebagian warga menggantungkan penghasilan dari kegiatan tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak.
Heri mengungkapkan, sosialisasi mengenai bahaya penggunaan merkuri sebenarnya telah dilakukan. Namun, upaya mengubah kebiasaan masyarakat menghadapi tantangan karena aktivitas pertambangan menjadi salah satu sumber penghidupan bagi warga setempat.
“Masyarakat sudah diberikan sosialisasi mengenai bahaya merkuri. Namun, ketika diajak untuk berhenti, mereka menyampaikan bahwa mereka juga membutuhkan penghidupan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anak,” ungkapnya.
Menurutnya, persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat tetap bertahan dalam aktivitas penambangan tersebut. Ketika penghasilan dari sektor lain tidak mencukupi, pertambangan emas ilegal dianggap sebagai alternatif untuk mendapatkan uang.
Salah satu kondisi yang turut memengaruhi keadaan tersebut adalah rendahnya harga komoditas karet. Ketika penghasilan dari perkebunan karet tidak lagi mencukupi kebutuhan rumah tangga, sebagian masyarakat beralih atau bergantung pada kegiatan penambangan emas.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan pencemaran merkuri tidak cukup hanya melalui penyuluhan kesehatan. Diperlukan upaya yang mempertimbangkan aspek lingkungan, pengawasan aktivitas pertambangan, serta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup pada kegiatan tersebut.
Heri menilai, kesadaran masyarakat mengenai bahaya merkuri perlu terus diperkuat agar risiko kesehatan dapat ditekan. Pada saat yang sama, masyarakat juga membutuhkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga sumber air agar tetap aman digunakan.
Warga di Sepanjang Aliran Sungai Rentan Terdampak
Kelompok masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai menjadi salah satu pihak yang perlu mendapat perhatian dalam persoalan ini. Ketergantungan terhadap air sungai untuk kebutuhan sehari-hari dapat meningkatkan risiko paparan apabila sumber air tersebut benar-benar tercemar.
Perhatian juga perlu diberikan kepada komunitas Iban yang disebut berpotensi terdampak karena permukiman mereka berada di dekat atau di bagian hulu aliran sungai yang berkaitan dengan aktivitas penambangan. Kondisi tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan kualitas air dan pemetaan sumber pencemaran untuk mengetahui tingkat risiko yang sebenarnya.
Pemeriksaan diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai keamanan sumber air yang digunakan. Hasil pengujian juga dapat menjadi dasar bagi instansi terkait untuk menentukan langkah penanganan, termasuk penyediaan sumber air alternatif apabila ditemukan pencemaran yang membahayakan.
Selain pemeriksaan air, edukasi mengenai bahaya merkuri juga perlu dilakukan secara berkelanjutan. Masyarakat harus memahami bahwa air yang terlihat jernih belum tentu bebas dari kontaminasi bahan kimia berbahaya.
Heri menegaskan, perlindungan kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian bersama, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi pertambangan dan menggunakan air sungai dalam aktivitas sehari-hari.
“Yang perlu diperhatikan adalah keselamatan dan kesehatan masyarakat. Jangan sampai karena kebutuhan ekonomi, masyarakat tidak menyadari risiko yang bisa muncul akibat penggunaan bahan berbahaya dan air yang tercemar,” ujarnya.
Dengan demikian, persoalan dugaan pencemaran merkuri di kawasan penambangan emas ilegal di Mandailing Natal membutuhkan penanganan lintas sektor. Pemeriksaan kualitas air, pengawasan aktivitas pertambangan, edukasi kesehatan, serta upaya mencari alternatif mata pencaharian bagi masyarakat menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko pencemaran dan melindungi kesehatan warga.(san/azw)

