JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat mulai menekan dunia usaha nasional. Kalangan industri menilai kondisi tersebut bukan sekadar gejolak sementara, melainkan bagian dari tekanan global yang berpotensi berlangsung lebih panjang.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, pelemahan rupiah perlu direspons secara serius karena terus menciptakan level terendah baru (all time low) terhadap dolar AS. ’’Pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini bahkan telah menyentuh level psikologis baru di Rp17.500 per dolar AS tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha,’’ katanya kepada Jawa Pos, Selasa (12/5).
Menurut dia, tekanan terhadap rupiah dipicu dinamika global yang lebih luas. Mulai dari kenaikan yield US Treasury hingga meningkatnya tensi geopolitik dunia yang mendorong aliran modal global kembali ke aset dolar AS. ’’Kondisi ini berdampak pada hampir seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui tekanan nilai tukar dan meningkatnya capital outflow,” katanya.
Shinta menilai, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlangsung lebih lama selama faktor eksternal belum mereda. Dampaknya mulai dirasakan langsung oleh sektor usaha, terutama industri yang bergantung pada impor bahan baku. ’’Saat ini sekitar 70 persen bahan baku manufaktur berasal dari impor, dengan kontribusi mencapai sekitar 55 persen dalam struktur biaya produksi. Dengan demikian, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah,” jelasnya.
Industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi menjadi sektor paling rentan. Kenaikan harga nafta sebagai bahan baku utama industri plastik, misalnya, telah mendorong kenaikan harga resin hingga puluhan persen. Dampaknya dirasakan industri kemasan hingga sektor hilir lainnya. ’’Ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi yang luas ke seluruh rantai pasok,” ungkap Shinta.
Pelaku Usaha Hati-hati Sesuaikan Harga
Tekanan juga dirasakan korporasi yang memiliki kewajiban dalam valuta asing. Penguatan dolar AS meningkatkan beban pembayaran bunga maupun pokok utang sehingga memengaruhi arus kas perusahaan.
’’Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, ruang untuk melakukan penyesuaian harga juga terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Ini yang kemudian menekan margin dan mempengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” bebernya.
Menghadapi situasi tersebut, dunia usaha mulai menerapkan strategi pertumbuhan yang lebih selektif. Ekspansi tetap dilakukan, namun lebih berhati-hati dengan mempertimbangkan efisiensi dan kepastian permintaan pasar.
Selain itu, perusahaan memperkuat strategi lindung nilai atau hedging, menata struktur utang, melakukan efisiensi belanja modal, hingga mulai melakukan diversifikasi pemasok dan substitusi impor. Dia menambahkan, sinergi kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi faktor penting agar aktivitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Ancaman PHK
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, memanasnya kembali konflik di Timur Tengah menjadi sentimen utama yang mendorong penguatan dolar AS.
Di sisi domestik, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen belum cukup kuat menopang penguatan rupiah. Sebab, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, bukan investasi produktif. “Investasi memang naik, tetapi persentasenya sangat kecil, sehingga belum memberikan dampak signifikan terhadap penguatan rupiah,” ujarnya.
Dia juga menyoroti meningkatnya ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya. Sejak Januari hingga April 2026 atau empat bulan, sekitar 40 ribu pekerja di sektor manufaktur, tekstil, garmen, dan elektronik telah terkena PHK. Jumlah tersebut berpotensi terus bertambah dalam beberapa bulan ke depan seiring tingginya tekanan ekonomi global.
Selain itu, dominasi pekerja informal di Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas ekonomi nasional. Ibrahim menyebut, sekitar 87,74 juta tenaga kerja Indonesia masih berada di sektor informal atau wiraswasta. “Kondisi ini membuat tingkat pengangguran riil terus meningkat dan akhirnya menyulitkan rupiah untuk kembali menguat,” jelasnya.
Sentimen lain adalah penantian pelaku pasar terhadap keputusan MSCI terkait peringkat saham Indonesia. Pasar khawatir penurunan peringkat memicu arus keluar modal asing dari pasar domestik. “Pasar masih menunggu rilis MSCI dalam tiga hari ini. Itu yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” tambah Ibrahim.
Intervensi Kemenkeu di Pasar Obligasi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kementerian keuangan (kemenkeu) akan membantu menjaga stabilitas pasar melalui intervensi di pasar obligasi. Menurut Purbaya, stabilisasi nilai tukar tetap menjadi tugas utama bank sentral. Karena itu, pemerintah menyerahkan pengendalian rupiah kepada otoritas moneter.
“Tanya bank sentral (soal rupiah). Tugas bank sentral menjaga stabilitas dan kita serahkan ke ahlinya di sana, di Bank Sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan dengan baik,” ujarnya.
Purbaya menyampaikan, Kementerian Keuangan akan membantu melalui instrumen yang dimiliki pemerintah, terutama di pasar surat utang negara. Intervensi dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar obligasi dan menahan kenaikan yield surat utang negara.
Menurut dia, lonjakan yield berisiko memicu arus keluar modal asing dari pasar domestik. “Kita akan mulai membantu besok mungkin dengan masuk ke bond market. Kita intervensi supaya yield tidak naik terlalu tinggi,” jelasnya.
Dia menilai, stabilisasi yield obligasi penting agar investor asing tetap bertahan di pasar keuangan domestik. “Kalau yield membaik, asing bisa tetap masuk sehingga rupiah akan menguat,” tambahnya.
Purbaya menilai posisi APBN masih relatif aman. Sebab, pemerintah sebelumnya telah menggunakan asumsi nilai tukar rupiah di atas target APBN saat melakukan perhitungan awal. “Tapi kita akan kendalikan nilai, kita coba membantu nilai tukar. Kita membantu BI sedikit-sedikit kalau bisa,” imbuhnya.
BI Yakin Tekanan Segera Reda
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, selain faktor eksternal, BI mencermati meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang bersifat musiman. Permintaan valas naik untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), dividen perusahaan, hingga kebutuhan ibadah haji.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI tetap aktif di pasar melalui strategi smart intervention, baik di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF). ’’BI akan terus berada di pasar dengan melakukan smart intervention serta mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna mengurangi tekanan terhadap rupiah,” lanjutnya.
Meski rupiah tertekan, BI menilai kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan domestik masih terjaga. Hal itu tercermin dari aliran modal asing (capital inflow) ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai Rp 61,6 triliun sepanjang April 2026.
Likuiditas valas perbankan domestik juga dinilai memadai. Hingga akhir Maret 2026, dana pihak ketiga (DPK) valas tumbuh 10,9 persen secara year to date (ytd). ’’BI memperkirakan tekanan musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah dapat kembali ke level fundamentalnya,” tandas Destry. (bry/mim/oni)

