JAKARTA – Kabar duka kembali mewarnai penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia melaporkan adanya peningkatan jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci. Hingga Selasa (12/5), total akumulasi jamaah yang meninggal dunia tercatat sebanyak 24 orang, sementara puluhan lainnya masih memerlukan perawatan medis intensif di tengah suhu ekstrem Arab Saudi.
Penambahan data terbaru ini dikonfirmasi setelah seorang jamaah asal Embarkasi Medan, Sumatera Utara, dilaporkan tutup usia pada Minggu (10/5). Identitas jamaah tersebut teridentifikasi sebagai Qasiyani Sigito Tarmidi, anggota kloter KNO-8.
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, pada Ahad 10 Mei 2026 terdapat satu jamaah wafat di Arab Saudi atas nama Qasiyani Sigito Tarmidi dari KNO-8. Dengan demikian, jumlah jamaah wafat hingga saat ini mencapai 24 orang. Kami menyampaikan duka cita yang mendalam,” ujar Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi Kemenhaj.
Kelompok 40-50 Tahun Jadi yang Paling Rentan
Terdapat temuan signifikan dalam statistik kematian jamaah haji tahun ini. Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkapkan sebuah anomali di mana mayoritas jamaah yang wafat justru bukan berasal dari kelompok lanjut usia (lansia), melainkan kelompok usia produktif antara 40 hingga 50 tahun.
Dahnil menjelaskan, fenomena ini diduga kuat berkaitan dengan faktor psikologis dan fisik jamaah di rentang usia tersebut. “Yang wafat itu justru orang-orang yang berusia 40 sampai 50 tahun. Mengapa? Karena rata-rata beliau-beliau ini merasa dalam kondisi sehat, sehingga terlalu memforsir aktivitas ibadah tanpa mengukur kemampuan stamina,” ungkap Dahnil, Selasa (12/5).
Kondisi fisik yang dipacu melampaui batas tanpa jeda istirahat yang cukup menyebabkan imunitas tubuh merosot tajam. “Tanpa sadar tenaga mereka berkurang, penyakit lama kemudian muncul kembali, atau terjadi kelelahan ekstrem yang berakibat fatal hingga wafat,” lanjutnya.
67 Jamaah Jalani Perawatan Intensif
Selain kabar duka, Kemenhaj juga memaparkan data terkini mengenai kondisi kesehatan jamaah secara umum. Berdasarkan laporan berkala, sebanyak 67 jamaah Indonesia saat ini masih menjalani perawatan di berbagai Rumah Sakit di Arab Saudi.
Petugas Kesehatan Haji Indonesia terus melakukan pemantauan aktif di tiga titik utama: hotel penginapan, sektor wilayah, hingga fasilitas kesehatan rujukan. Mengingat fase puncak ibadah haji atau fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) segera tiba, kondisi kesehatan jamaah menjadi perhatian paling krusial. Fase Armuzna dikenal sebagai tahapan paling menguras energi fisik bagi jamaah.
Maria Assegaff menegaskan agar seluruh jamaah disiplin mengikuti pengaturan pergerakan yang telah ditetapkan petugas. “Kedisiplinan adalah kunci. Jangan memaksakan diri melakukan ibadah sunnah berlebihan jika kondisi fisik tidak memungkinkan. Gunakan waktu yang ada untuk menjaga stamina menuju puncak haji,” tegasnya.
Peringatan Cuaca Ekstrem dan Risiko Dehidrasi
Suhu panas ekstrem di Makkah dan Madinah saat ini menjadi tantangan berat bagi jamaah haji. Para ahli medis mengingatkan adanya risiko dehidrasi hingga heatstroke (sengatan panas) yang bisa muncul mendadak.
Dokter spesialis gizi klinik, Dr. dr. A. Yasmin Syauki, M.Sc., Sp.GK(K), mengimbau jamaah untuk waspada terhadap lima tanda utama dehidrasi.
Pertama, tubuh terasa lemas. Salah satu gejala awal dehidrasi adalah tubuh mulai kehilangan tenaga dan terasa lemas saat beraktivitas. “Tanda-tanda dehidrasi itu sebenarnya lemas. Kondisi ini terjadi karena tubuh kekurangan cairan yang dibutuhkan untuk menjaga fungsi organ tetap optimal,” kata Yasmin.
Kedua, warna urine menjadi pekat. Warna urine bisa menjadi indikator paling mudah untuk mengetahui kondisi hidrasi tubuh. Jika urine berubah menjadi kuning pekat, itu bisa menjadi tanda tubuh mulai kekurangan cairan.
“Ketika dia warnanya pekat, maka kemungkinan kita dehidrasi. Jadi sudah tidak terlalu kuning, bukan kuning jernih, jadi kuningnya pekat, maka itu sudah mengalami dehidrasi,” jelas Yasmin. Karena itu, jamaah dianjurkan rutin memantau warna urine selama menjalankan ibadah.
Ketiga, pusing dan kepala terasa ringan. Dokter spesialis gizi klinik dr. Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK menyebut, dehidrasi juga dapat memicu rasa limbung hingga sakit kepala.
Kurangnya cairan membuat aliran darah dan oksigen ke otak terganggu sehingga kepala terasa pusing, terutama saat berada di bawah terik matahari.
Keempat, mual dan pandangan buram. Dehidrasi yang mulai memburuk dapat menyebabkan tubuh terasa mual hingga penglihatan menjadi kabur. Gejala ini perlu segera diwaspadai karena bisa menjadi pertanda tubuh mengalami stres akibat suhu panas ekstrem.
Kelima, sesak napas hingga heatstroke. Selain dehidrasi, jamaah haji juga berisiko mengalami heatstroke atau sengatan panas. Kondisi ini terjadi ketika tubuh sudah tidak mampu mengontrol suhu panas. “Heatstroke itu berarti panas yang tidak bisa dikendalikan oleh tubuh, sehingga kita seperti sesak napas, kemudian pusing,” ujar Yasmin.
Untuk meminimalisir risiko, tim medis menyarankan jamaah rutin mengonsumsi air putih tanpa menunggu rasa haus, menggunakan alat pelindung kepala, serta memanfaatkan kain atau kanebo basah yang diletakkan di kepala untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Instruksi Khusus Gelombang Kedua
Kemenhaj juga mengeluarkan instruksi bagi jamaah gelombang kedua yang mendarat melalui Bandara Jeddah. Mengingat efisiensi waktu, jamaah diwajibkan telah mengenakan kain ihram sejak keberangkatan dari embarkasi di tanah air.
“Jamaah dijadwalkan mengambil miqat di atas pesawat sebelum mendarat. Setibanya di Bandara Jeddah, jamaah akan langsung diarahkan menuju Makkah untuk melaksanakan umrah wajib. Tidak ada waktu luang di bandara, sehingga persiapan sejak dari embarkasi sangat menentukan kelancaran prosesi ibadah,” pungkas Maria.
Pemerintah terus berkomitmen memberikan layanan terbaik dan perlindungan maksimal bagi seluruh jamaah Indonesia agar dapat menjalankan rukun Islam kelima ini dengan aman, sehat, dan meraih predikat haji mabrur. (jpc/bbs/adz)

