Kelangkaan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) selama sekitar 10 hari terakhir di Kota Medan mulai dikhawatirkan berdampak terhadap harga beras dan stabilitas pangan masyarakat.
Hilangnya beras murah yang selama ini menjadi salah satu pilihan masyarakat berpenghasilan rendah disebut turut mendorong harga beras medium komersial. Di pasaran, harga beras medium dilaporkan mencapai Rp78.000 hingga Rp85.000 per karung ukuran 5 kilogram.
Kondisi tersebut mendapat sorotan Ketua Koperasi Produsen Gas Terus Indonesia (KP-GTI) Kota Medan, Suwarno SE MM. Ia menilai kelangkaan SPHP perlu segera diatasi agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
“Kosongnya stok beras SPHP selama sepuluh hari ini adalah pukulan telak buat warga berpenghasilan rendah di Medan. Begitu instrumen pengendali harga dari pemerintah ini hilang di pasar, tidak ada lagi penahan bagi beras komersial untuk naik secara liar,” ujar Suwarno dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menimbulkan efek domino terhadap stabilitas pangan. Beras SPHP yang selama ini menjadi salah satu pilihan dengan harga lebih terjangkau tidak tersedia, sehingga masyarakat beralih membeli beras komersial.
Dampaknya, kata Suwarno, semakin dirasakan warga lapisan bawah yang belum menerima bantuan pangan. Mereka terpaksa membeli beras komersial dengan harga yang lebih tinggi.“Akibatnya, masyarakat terpaksa memotong anggaran kebutuhan lain hanya demi bisa membeli beras,” katanya.
Suwarno juga menyoroti dampak kelangkaan SPHP terhadap pelaksanaan program Gerakan Pangan Murah (GPM) dan pasar pangan keliling. Menurutnya, keterbatasan stok beras dapat membuat program tersebut tidak berjalan optimal.
Ia mengingatkan, gangguan pasokan beras dalam waktu yang berkepanjangan berpotensi memberikan tekanan terhadap harga pangan dan inflasi daerah.
“Kondisi ini mengancam inflasi di sektor pangan. Kota Medan sebagai pusat perdagangan Sumut, tetapi mengalami kemacetan pasokan beras SPHP dalam 10 hari berturut-turut, sehingga berpotensi menaikkan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan memicu kenaikan harga bahan pokok lainnya,” ujarnya.
Karena itu, Suwarno mendesak Perum Bulog Kanwil Sumut bersama Pemerintah Kota Medan segera menelusuri persoalan distribusi SPHP di lapangan.
Ia meminta pasokan beras SPHP segera kembali digelontorkan ke pasar tradisional maupun jaringan ritel di Kota Medan untuk menjaga ketersediaan sekaligus meredam tekanan harga.
“Jika dalam beberapa hari ke depan pasokan SPHP tidak kunjung diguyur ke pasar-pasar tradisional dan retail di Medan, risiko lonjakan inflasi daerah sektor bahan makanan akan sulit dihindari,” tegas Suwarno. (map/ila)

