25 C
Medan
Sunday, September 29, 2024

“Penghulu” Buah-buahan yang Sukar Lawan Rasa Penasaran

Foto: Fathur Rozi/Jawa Pos/JPNN Lutfi Bansir menunjukkan salah satu varian semangka tanpa biji hasil kawin silang. Semangka itu berbentuk gambar ’’love’’.
Foto: Fathur Rozi/Jawa Pos/JPNN
Lutfi Bansir menunjukkan salah satu varian semangka tanpa biji hasil kawin silang. Semangka itu berbentuk gambar ’’love’’.

Laporan Fathur Rozi

Lepas salat Asar pertengahan Maret lalu, Lutfi Bansir berjalan cepat masuk ke kebun buahnya di belakang Pasar Induk Bulungan, Kalimantan Utara. Di kebun seluas sekitar 2,7 hektare itu, tiga ekor anjing menyambut. Mereka mengitar kaki sang pemilik kebun dengan manja.

“Ini bapak ada tamu. Ayo masuk sana dulu,” kata Lutfi kepada tiga hewan peliharaannya tersebut.

Anjing-anjing itu pun menurut, bergegas menuju teras rumah kayu di kebun tersebut. Selain anjing penjaga, Lutfi mempekerjakan seorang pegawai khusus yang salah satu tugasnya menjaga ketebalan rumput agar sinar matahari tidak terlalu terik menghunjamkan sinarnya ke tanah. Air segar selalu mengalir di kebun tersebut.

Lutfi biasa menjamu tamu-tamunya di gazebo di bagian depan kebun. Untuk suguhan, dia tinggal memetik buah-buahan kawin silang hasil eksperimennya. Misalnya, ketika menjamu Jawa Pos (induk JPNN.com), dia menyuguhkan kelapa rasa pandan dan persilangan nangka dengan cempedak. Rasanya supermanis. Teksturnya lembut.

Doktor pertanian lulusan Universitas Brawijaya Malang itu menyatakan, sudah tidak terhitung berapa kali dirinya melakukan eksperimentasi terhadap buah-buahan. Baik secara generatif (kawin) maupun vegetatif (tanpa kawin). Meski banyak yang gagal, sejumlah percobaannya melahirkan varietas baru. Di antaranya, 14 jenis semangka tanpa biji, 170 jenis nangka, 30 macam jambu, dan 40 jenis durian.

Pria kelahiran 12 Juli 1969 itu secara khusus pernah meneliti karakteristik morfologi durian merah di Banyuwangi. Tapi, sampai saat ini belum diperoleh jawaban finalnya, mengapa durian Banyuwangi bisa berwarna merah total. Rasanya pun legit.

Foto: Fathur Rozi/Jawa Pos/JPNN Lutfi Bansir menunjukkan salah satu varian semangka tanpa biji hasil kawin silang. Semangka itu berbentuk gambar ’’love’’.
Foto: Fathur Rozi/Jawa Pos/JPNN
Lutfi Bansir menunjukkan salah satu varian semangka tanpa biji hasil kawin silang. Semangka itu berbentuk gambar ’’love’’.

Laporan Fathur Rozi

Lepas salat Asar pertengahan Maret lalu, Lutfi Bansir berjalan cepat masuk ke kebun buahnya di belakang Pasar Induk Bulungan, Kalimantan Utara. Di kebun seluas sekitar 2,7 hektare itu, tiga ekor anjing menyambut. Mereka mengitar kaki sang pemilik kebun dengan manja.

“Ini bapak ada tamu. Ayo masuk sana dulu,” kata Lutfi kepada tiga hewan peliharaannya tersebut.

Anjing-anjing itu pun menurut, bergegas menuju teras rumah kayu di kebun tersebut. Selain anjing penjaga, Lutfi mempekerjakan seorang pegawai khusus yang salah satu tugasnya menjaga ketebalan rumput agar sinar matahari tidak terlalu terik menghunjamkan sinarnya ke tanah. Air segar selalu mengalir di kebun tersebut.

Lutfi biasa menjamu tamu-tamunya di gazebo di bagian depan kebun. Untuk suguhan, dia tinggal memetik buah-buahan kawin silang hasil eksperimennya. Misalnya, ketika menjamu Jawa Pos (induk JPNN.com), dia menyuguhkan kelapa rasa pandan dan persilangan nangka dengan cempedak. Rasanya supermanis. Teksturnya lembut.

Doktor pertanian lulusan Universitas Brawijaya Malang itu menyatakan, sudah tidak terhitung berapa kali dirinya melakukan eksperimentasi terhadap buah-buahan. Baik secara generatif (kawin) maupun vegetatif (tanpa kawin). Meski banyak yang gagal, sejumlah percobaannya melahirkan varietas baru. Di antaranya, 14 jenis semangka tanpa biji, 170 jenis nangka, 30 macam jambu, dan 40 jenis durian.

Pria kelahiran 12 Juli 1969 itu secara khusus pernah meneliti karakteristik morfologi durian merah di Banyuwangi. Tapi, sampai saat ini belum diperoleh jawaban finalnya, mengapa durian Banyuwangi bisa berwarna merah total. Rasanya pun legit.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/