27 C
Medan
Thursday, February 19, 2026

Cegah Radikalisme Online, Ini Usulan DPRD Sumut

MEDAN – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara, Viktor Silaen, mendesak pemerintah daerah segera membentuk Gugus Tugas Literasi Digital dan Ketahanan Ideologi di Sumatera Utara.

Desakan ini disampaikan menyusul peringatan Kapolri Listyo Sigit Prabowo terkait munculnya ideologi radikal baru seperti supremasi kulit putih dan neo-Nazi yang menyasar generasi muda melalui ruang digital.

Menurut Viktor, pola penyebaran radikalisme kini telah berubah. Jika sebelumnya menyebar secara konvensional, kini infiltrasi ideologi ekstrem lebih banyak terjadi lewat media sosial, forum permainan daring, hingga komunitas online tertutup yang sulit terdeteksi.

“Gaya radikalisme baru ini masuk secara halus. Anak-anak bisa terpapar tanpa disadari orang tua. Karena itu, Sumatera Utara tidak boleh menunggu. Gugus tugas harus segera dibentuk sebagai langkah pencegahan,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).

Viktor yang juga Ketua Kosgoro 1957 Sumut menilai peringatan Kapolri saat membuka retret Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) di Bogor menjadi alarm serius bagi seluruh daerah.

Ia mengusulkan agar gugus tugas melibatkan berbagai unsur, mulai dari Dinas Pendidikan, tokoh agama, psikolog anak, akademisi, hingga aparat keamanan. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk menghadirkan edukasi berkelanjutan di sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

“Sumatera Utara adalah daerah yang beragam. Ideologi supremasi ras jelas bertentangan dengan nilai kebhinekaan dan ideologi bangsa. Kita harus melindungi generasi muda dari infiltrasi paham kebencian,” tegasnya.

Selain peran pemerintah, Viktor juga menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam mendeteksi gejala awal paparan radikalisme digital. Orangtua diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti kecenderungan menarik diri, tertutup, atau menunjukkan simbol-simbol ekstrem di media sosial.

“Pendekatannya bukan marah, tetapi dialog. Bangun komunikasi terbuka di rumah agar anak merasa aman untuk bercerita. Pencegahan jauh lebih efektif daripada penindakan hukum,” katanya.

Ia menambahkan, sistem peringatan dini berbasis keluarga, sekolah, dan masyarakat harus diperkuat agar seluruh elemen di Sumatera Utara mampu bekerja sama menjaga ketahanan ideologis generasi muda di tengah derasnya arus informasi global.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah kewaspadaan kolektif. Kita harus memastikan generasi muda tetap berakar pada nilai persatuan, toleransi, dan kebangsaan,” pungkas Viktor. (map/ila)

MEDAN – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara, Viktor Silaen, mendesak pemerintah daerah segera membentuk Gugus Tugas Literasi Digital dan Ketahanan Ideologi di Sumatera Utara.

Desakan ini disampaikan menyusul peringatan Kapolri Listyo Sigit Prabowo terkait munculnya ideologi radikal baru seperti supremasi kulit putih dan neo-Nazi yang menyasar generasi muda melalui ruang digital.

Menurut Viktor, pola penyebaran radikalisme kini telah berubah. Jika sebelumnya menyebar secara konvensional, kini infiltrasi ideologi ekstrem lebih banyak terjadi lewat media sosial, forum permainan daring, hingga komunitas online tertutup yang sulit terdeteksi.

“Gaya radikalisme baru ini masuk secara halus. Anak-anak bisa terpapar tanpa disadari orang tua. Karena itu, Sumatera Utara tidak boleh menunggu. Gugus tugas harus segera dibentuk sebagai langkah pencegahan,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).

Viktor yang juga Ketua Kosgoro 1957 Sumut menilai peringatan Kapolri saat membuka retret Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) di Bogor menjadi alarm serius bagi seluruh daerah.

Ia mengusulkan agar gugus tugas melibatkan berbagai unsur, mulai dari Dinas Pendidikan, tokoh agama, psikolog anak, akademisi, hingga aparat keamanan. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk menghadirkan edukasi berkelanjutan di sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

“Sumatera Utara adalah daerah yang beragam. Ideologi supremasi ras jelas bertentangan dengan nilai kebhinekaan dan ideologi bangsa. Kita harus melindungi generasi muda dari infiltrasi paham kebencian,” tegasnya.

Selain peran pemerintah, Viktor juga menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam mendeteksi gejala awal paparan radikalisme digital. Orangtua diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti kecenderungan menarik diri, tertutup, atau menunjukkan simbol-simbol ekstrem di media sosial.

“Pendekatannya bukan marah, tetapi dialog. Bangun komunikasi terbuka di rumah agar anak merasa aman untuk bercerita. Pencegahan jauh lebih efektif daripada penindakan hukum,” katanya.

Ia menambahkan, sistem peringatan dini berbasis keluarga, sekolah, dan masyarakat harus diperkuat agar seluruh elemen di Sumatera Utara mampu bekerja sama menjaga ketahanan ideologis generasi muda di tengah derasnya arus informasi global.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah kewaspadaan kolektif. Kita harus memastikan generasi muda tetap berakar pada nilai persatuan, toleransi, dan kebangsaan,” pungkas Viktor. (map/ila)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru