26.7 C
Medan
Sunday, June 16, 2024

Astaga… Balairong IKB Dikirimi Kepala Babi

Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
Petugas kepolisian berjaga-jaga di pintu masuk gedung Ikatan Keluarga Bayur (IKB) Jalan Utama Medan, Kamis (21/9). OTK meletakkan kepala babi di halaman gedung, sementera pihak kepolisian masih memburu pelaku aksi tersebut.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Warga Jalan Utama, Kelurahan Kota Matsum ll, Medan Area, dihebohkan dengan penemuan kepala babi di depan Gedung Dakwah atau Balairong Ikatan Keluarga Bayur (IKB), Kamis (21/9) pagi. Kepala babi itu ditemukan pengurus gedung sekira pukul 07.00 WIB. Sontak, kejadian ini menyebar dan dianggap sebagai isu teror. Kapoldasu, Irjen Pol Paulus Waterpaw dan juga Wakapolrestabes Medan, AKBP Tatan Dirsan Atmaja, datang ke lokasi kejadian.

Informasi diterima Sumut Pos, awalnya penjaga gedung bernama M Rizal bangun untuk Salat Subuh. Selanjutnya, sekira pukul 06.45 WIB, dia keluar untuk menyapu dan mengepel lantai gedung. Kemudian, Rizal masuk ke rumahnya yang berada di belakang gedung, lalu mandi. Karena merasa lapar, Rizal kemudian bermaksud membeli makanan.

“Saat hendak membuka pagar, saya lihat ada sampah. Siapa lagi yang mengotori teras di depan pintu, piker saya. Saat saya datangi, ternyata kepala babi,” ujar Rizal.

Ketua Harian IKB, Farial yang juga diwawancarai Sumut Pos mengaku mendapat kabar adanya kepala babi di depan gedung dakwah itu setelah dihubungi Rizal via telepon. Kemudian dia langsung datang ke lokasi. Selanjutnya, dia menghubungi Ketua Umum IKB, Ahmad Arif yang lalu meneruskan informasi penemuan itu ke Polisi.

“Tadi kami juga diperiksa di Polsek Medan Area. Ada empat orang yang diperiksa. Saya selaku Ketua Harian, M Rizal selaku penjaga gedung, Amrizal Piliang selaku Ketua Bidang Pelestarian Budaya, dan M Sahril selaku Kepala Lingkungan,” ujar Farial.

Disinggung soal pertanyaan Polisi, Farial mengaku, inti pertanyaan adalah orang yang dicurigai. Begitu juga persoalan dan pertikaian yang sedang terjadi, berkaitan dengan gedung dakwah atau balairong IKB, dipertanyakan Polisi. Namun dia menegaskan, tidak ada yang dicurigai dan tidak ada pertikaian yang sedang terjadi terkait gedung dakwah IKB ini. “Namun saya tetap minta dan berharap kasus ini dapat diungkap agar jelas dan tidak dimanfaatkan untuk memecah belah, mengingat isunya sedang hangat, ” ujar Farial.

Ditanya soal tulisan yang diletakkan bersama kepala babi itu berbunyi “YEN DJAWARNI SARA ANGELIQUE (ENJI) BAYAR HUTANGMU, ITU WARISAN BAPAK SAYA. HUTANG = NYAWA (ASLI) Pesan Ini Hanya Boleh Dicabut Oleh Yang Bersangkutan “, Farial mengaku dirinya tidak mengetahuinya. Dia juga menegaskan, tidak ada pengurus ataupun anggota IKB yang bernama Yen Djawarni Sara Angelique (Enji).

“Tadi juga sudah ditanya sama anggota, tidak ada yang bernama seperti di tulisan itu,” ungkap Farial.

Sebelum mengakhiri, Farial menyebut, gedung dakwah atau Balairong IKB ini dibangun pada 1996. Gedung itu digunakan untuk kegiatan dakwah berupa pengajian rutin, halal bi halal, kegiatan sosial dan pelestarian budaya. Namun disebutnya, gedung itu juga disewa-sewakan untuk umum yang biasa digunakan untuk tempat pesta pernikahan. Dikatakannya, hasil sewa itu, digunakan untuk operasional gedung. (ain/dvs/adz)

Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
Petugas kepolisian berjaga-jaga di pintu masuk gedung Ikatan Keluarga Bayur (IKB) Jalan Utama Medan, Kamis (21/9). OTK meletakkan kepala babi di halaman gedung, sementera pihak kepolisian masih memburu pelaku aksi tersebut.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Warga Jalan Utama, Kelurahan Kota Matsum ll, Medan Area, dihebohkan dengan penemuan kepala babi di depan Gedung Dakwah atau Balairong Ikatan Keluarga Bayur (IKB), Kamis (21/9) pagi. Kepala babi itu ditemukan pengurus gedung sekira pukul 07.00 WIB. Sontak, kejadian ini menyebar dan dianggap sebagai isu teror. Kapoldasu, Irjen Pol Paulus Waterpaw dan juga Wakapolrestabes Medan, AKBP Tatan Dirsan Atmaja, datang ke lokasi kejadian.

Informasi diterima Sumut Pos, awalnya penjaga gedung bernama M Rizal bangun untuk Salat Subuh. Selanjutnya, sekira pukul 06.45 WIB, dia keluar untuk menyapu dan mengepel lantai gedung. Kemudian, Rizal masuk ke rumahnya yang berada di belakang gedung, lalu mandi. Karena merasa lapar, Rizal kemudian bermaksud membeli makanan.

“Saat hendak membuka pagar, saya lihat ada sampah. Siapa lagi yang mengotori teras di depan pintu, piker saya. Saat saya datangi, ternyata kepala babi,” ujar Rizal.

Ketua Harian IKB, Farial yang juga diwawancarai Sumut Pos mengaku mendapat kabar adanya kepala babi di depan gedung dakwah itu setelah dihubungi Rizal via telepon. Kemudian dia langsung datang ke lokasi. Selanjutnya, dia menghubungi Ketua Umum IKB, Ahmad Arif yang lalu meneruskan informasi penemuan itu ke Polisi.

“Tadi kami juga diperiksa di Polsek Medan Area. Ada empat orang yang diperiksa. Saya selaku Ketua Harian, M Rizal selaku penjaga gedung, Amrizal Piliang selaku Ketua Bidang Pelestarian Budaya, dan M Sahril selaku Kepala Lingkungan,” ujar Farial.

Disinggung soal pertanyaan Polisi, Farial mengaku, inti pertanyaan adalah orang yang dicurigai. Begitu juga persoalan dan pertikaian yang sedang terjadi, berkaitan dengan gedung dakwah atau balairong IKB, dipertanyakan Polisi. Namun dia menegaskan, tidak ada yang dicurigai dan tidak ada pertikaian yang sedang terjadi terkait gedung dakwah IKB ini. “Namun saya tetap minta dan berharap kasus ini dapat diungkap agar jelas dan tidak dimanfaatkan untuk memecah belah, mengingat isunya sedang hangat, ” ujar Farial.

Ditanya soal tulisan yang diletakkan bersama kepala babi itu berbunyi “YEN DJAWARNI SARA ANGELIQUE (ENJI) BAYAR HUTANGMU, ITU WARISAN BAPAK SAYA. HUTANG = NYAWA (ASLI) Pesan Ini Hanya Boleh Dicabut Oleh Yang Bersangkutan “, Farial mengaku dirinya tidak mengetahuinya. Dia juga menegaskan, tidak ada pengurus ataupun anggota IKB yang bernama Yen Djawarni Sara Angelique (Enji).

“Tadi juga sudah ditanya sama anggota, tidak ada yang bernama seperti di tulisan itu,” ungkap Farial.

Sebelum mengakhiri, Farial menyebut, gedung dakwah atau Balairong IKB ini dibangun pada 1996. Gedung itu digunakan untuk kegiatan dakwah berupa pengajian rutin, halal bi halal, kegiatan sosial dan pelestarian budaya. Namun disebutnya, gedung itu juga disewa-sewakan untuk umum yang biasa digunakan untuk tempat pesta pernikahan. Dikatakannya, hasil sewa itu, digunakan untuk operasional gedung. (ain/dvs/adz)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/