Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara terus memperkuat sektor peternakan agar semakin produktif, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bersamaan dengan itu, upaya pengendalian rabies juga digencarkan sebagai bagian dari dukungan terhadap target Indonesia bebas rabies pada 2030.
Komitmen tersebut ditegaskan Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut, Timur Tumanggor, saat membuka Bulan Bakti Peternakan dan World Rabies Day (WRD) tingkat Sumut di Lapangan Astaka Medan Sport Center, Jalan William Iskandar, Kabupaten Deliserdang, Sabtu (26/9/2026).
Timur mengatakan, kegiatan Bulan Bakti Peternakan dan WRD tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Momentum tersebut menjadi sarana memperkuat kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan hewan, peternak, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat dalam membangun peternakan sekaligus meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja sama, berkolaborasi, dan mencurahkan tenaga serta pikirannya sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik,” ujar Timur.
Menurutnya, peternakan memiliki posisi strategis dalam pembangunan Sumut. Selain menyediakan sumber pangan bergizi berupa daging, telur, dan susu, sektor ini juga menjadi sumber mata pencaharian, membuka lapangan kerja, serta menggerakkan perekonomian masyarakat.
Karena itu, pembangunan peternakan harus diarahkan agar semakin produktif, berdaya saing dan ramah lingkungan. Peningkatan produksi juga perlu dibarengi penguatan kesehatan hewan, keamanan pangan asal hewan serta kesejahteraan hewan.
“Peternakan yang maju, masyarakat sehat. Kita ingin mendorong peternakan di Sumatera Utara naik kelas melalui peningkatan kualitas bibit, pakan yang sehat, hilirisasi, serta penguatan kesehatan hewan dan masyarakat,” katanya.
Timur menegaskan, pengendalian rabies membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga tenaga kesehatan hewan, organisasi profesi, pemerintah kabupaten/kota, komunitas pecinta hewan dan pemilik hewan peliharaan.
Menurutnya, penguatan pelayanan kesehatan hewan dan perluasan vaksinasi rabies menjadi bagian penting dalam mendukung target Indonesia bebas rabies pada 2030. Edukasi kepada masyarakat juga harus terus dilakukan agar kesadaran terhadap pencegahan dan penanganan rabies semakin meningkat.
Di sektor peternakan, Pemprov Sumut juga akan mendorong peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi, penguatan hilirisasi produk dan peningkatan kesejahteraan peternak.
“Sinergi antara pemerintah, organisasi profesi, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat harus terus diperkuat, karena tantangan di sektor peternakan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja,” tegasnya.
Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Sumut, Chalikul Bahri, mengapresiasi dukungan berbagai pihak terhadap pelaksanaan Bulan Bakti Peternakan dan WRD 2026.
Ia mengatakan, rangkaian kegiatan tersebut diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan rabies sekaligus memperhatikan kesejahteraan hewan.
“Rabies adalah penyakit yang dapat dicegah, tetapi tetap memerlukan kewaspadaan, kedisiplinan, dan kerja sama dari semua pihak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut, Fariz Haholongan Hutagalung, mengatakan Bulan Bakti Peternakan digelar selama dua hari, 26-27 September 2026.
Sejumlah kegiatan digelar dalam agenda tersebut. Di antaranya kontes hewan kesayangan, khususnya anjing dan kucing, yang memperebutkan Piala Gubernur Sumatera Utara.
Pemprov Sumut juga menyediakan pelayanan pengobatan dan vaksinasi hewan secara gratis. Selain itu, dilakukan pengendalian populasi hewan melalui kastrasi dan sterilisasi kucing maupun anjing.
Khusus memperingati World Rabies Day 2026, vaksinasi rabies massal ditargetkan menyasar 15.000 ekor hewan. Program ini diharapkan memperluas perlindungan terhadap hewan sekaligus mengurangi risiko penularan rabies kepada manusia.
Tak hanya kesehatan hewan, kegiatan juga diisi dengan pembagian 50 ribu butir telur kepada masyarakat. Sebanyak 10 ribu telur di antaranya dikonsumsi bersama dalam kegiatan makan telur gratis.
“Selain vaksinasi, Bulan Bakti Peternakan juga diisi dengan pembagian 50 ribu butir telur serta kegiatan makan telur bersama sebanyak 10 ribu telur secara gratis kepada masyarakat,” pungkas Fariz. (san/ila)

